Pasal 38 Statuta MI, sumber-sumber HI:

dokumen-dokumen yang mirip
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

3. Menurut Psl 38 ayat I Statuta Mahkamah Internasional: Perjanjian internasional adalah sumber utama dari sumber hukum internasional lainnya.

2. Perundingan: Merupakan tahap awal yang dilakukan oleh kedua pihak yang berunding mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Permasalahan C. Tujuan

Sarana utama memulai & mengembangkan hubungan internasional. Bentuk semua perbuatan hukum dan transaksi masyarakat internasional

NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-2 Perjanjian Internasional yang dilakukan Indonesia

Keywords: Perjanjian Internasional, Pembuatan, Ratifikasi.

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

BAB III SUMBER HUKUM INTERNASIONAL TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

TEORI / AJARAN TTG HUBUNGAN H.I. DGN. H.N.: TEORI DUALISME, MONISME DAN PRIMAT HI

URGENSI PENGGANTIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL

Volume 12 Nomor 1 Maret 2015

BAB III PERSPEKTIF HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL TERHADAP MLA DI INDONESIA. dampak, yaitu yang memaksa unsur-unsur pendukung dalam hubungan

MATERI PERKULIAHAN HUKUM INTERNASIONAL MATCH DAY 6 PERJANJIAN INTERNASIONAL

Chapter Three. Pembuatan Perjanjian Internasional. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 11 (1)

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan

KEKUASAAN HUBUNGAN LUAR NEGERI PRESIDEN (FOREIGN POWER OF THE PRESIDENT) Jumat, 16 April 2004

BAB XIII PERJANJIAN INTERNASIONAL

BAB IV PENUTUP. sebelumnya, penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

UU 9/1997, PENGESAHAN TREATY ON THE SOUTHEAST ASIA NUCLEAR WEAPON FREE ZONE (TRAKTAT KAWASAN BEBAS SENJATA NUKLIR DI ASIA TENGGARA)

HUKUM PERJANJIAN. Aspek Hukum dalam Ekonomi Hal. 1

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

VIENNA CONVENTION ON THE LAW OF TREATIES 1969

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 4 TAHUN 1988 (4/1988) TENTANG

I. UMUM. 1. Latar Belakang Pengesahan

Chapter One. Pendahuluan. Article 2 (1)(a) Vienna Convention on Treaty

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Bola Panas Putusan Pengujian Undang-Undang Pengesahan Piagam ASEAN oleh: Ade Irawan Taufik *

Konvensi Munisi Tandan (CCM) tahun 2008

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lex Administratum, Vol.I/No.3/Jul-Sept/2013

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

I.PENDAHULUAN. Perkembangan kehidupan bersama bangsa-bangsa dewasa ini semakin tidak mengenal batas

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING

SUMBER HUKUM INTERNASIONAL ARIE AFRIANSYAH

K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN

KEPPRES 74/2004, PENGESAHAN WIPO PERFORMANCES AND PHONOGRAMS TREATY, 1996 (TRAKTAT; WIPO MENGENAI PERTUNJUKAN DAN REKAMAN SUARA, 1996)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 1999 TENTANG HUBUNGAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KONVENSI ROMA 1961 KONVENSI INTERNASIONAL UNTUK PERLINDUNGAN PELAKU, PRODUSER REKAMAN DAN BADAN-BADAN PENYIARAN

DAFTAR ISI UNDANG-UNDANG ARBITRASE TAHUN Undang-undang Arbitrase Tahun (Direvisi tahun 2011)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 1999 TENTANG HUBUNGAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SUMBER HUKUM INTERNASIONAL

NASKAH PENJELASAN PROTOCOL TO THE ASEAN CHARTER ON DISPUTE SETTLEMENT MECHANISM (PROTOKOL PIAGAM ASEAN MENGENAI MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL SECARA DAMAI. Dewi Triwahyuni

JURNAL PERJANJIAN INTERNATIONAL

KEPPRES 55/1999, PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FEDERAL JERMAN DI BIDANG PELAYARAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN INDIVIDU TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Sejarah Konvensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia telah diadopsi ole

K131. Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 1999 TENTANG HUBUNGAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1999 TENTANG

UMUM. 1. Latar Belakang Pengesahan

PERJANJIAN INTERNASIONAL DI ERA GLOBALISASI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2 b. bahwa Persetujuan dimaksudkan untuk menetapkan prosedur penyelesaian sengketa dan mekanisme formal untuk Persetujuan Kerangka Kerja dan Perjanjia

Lex Privatum, Vol. IV/No. 4/Apr/2016. KEKUATAN MENGIKAT PERJANJIAN INTERNASIONAL MENURUT KONVENSI WINA TAHUN Oleh: Gerald E.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN INTERNASIONAL. yang berkembang dalam pembentukan perjanjian internasional oleh negara-negara di dunia telah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Transkripsi:

Pasal 38 Statuta MI, sumber-sumber HI: 1. International Conventions 2. International Customs 3. General Principles of Law 4. Judicial Decisions and Teachings of the most Highly Qualified Publicist

Pasal 2 Konvensi Wina 1969, Suatu persetujuan yang dibuat antara negara dlam bentuk tertulis dan diatur oleh HI, apakah dalam instrumen tunggal atau dua atau lebih instrumen yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan padanya

Pasal 1 ayat (3) UU No. 37/1999 tentang Hubungan LN, Perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun, yang diatur oleh HI dan dibuat secara tertulis oleh Pemerintah RI dengan satu atau lebih negara, OI, atau subjek HI lainnya serta menimbulkan hak dan kewajiban pada Pemerintah RI yang bersifat hukum publik

Adanya Subjek HI, 1. Negara (kapasitas penuh) 2. OI (Tidak asli dan parsial) 3. Gerakan-gerakan Pembebasan Nasional (selektif dan terbatas) Diatur oleh Rejim HI, 1. Tidak tunduk dan diatur oleh Hukum Nasional suatu negara 2. Subjeknya harus subjek HI

Treaty Convention Agreement Charter Protocol Declaration Final Act Agreed Minutes and Summary Records Memorandum of Understanding Arrangement Exchange of Notes Process Verbal Modus Vivendi

Dalam pengertian umum, treaty mencakup semua jenis persetujuan Internasional. Dalam pengertian khusus, treaty merupakan perjanjian yang paling penting dan sangat formal dalam urutan perjanjian (traktat)

Traktat umumnya memuat materi hal-hal yang prinsipil dan memerlukan pengesahan. Misal mengatur tentang masalah perdamaian, perbatasan negara, keamanan, ekstradisi, persahabatan, dsb. Prosedur pembuatan melalui tahap perundingan, penandatanganan, pengesahan.

Misal: Perjanjian perdamaian dan persahabatan antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ) 1995 (berlaku 1997)

Disamakan dengan terminologi treaty (pasal 38 Statuta MI disebutkan International Convention sebagai salah satu sumber HI). Digunakan untuk perjanjian multilateral memberikan kesempatan bagi masyarakat internasional untuk berpartisipasi.

Biasanya bersifal Law Making, yaitu merumuskan kaidah hukum bagi masyarakat internasional. Selain itu, digunakan sebagai perangkat internasional yang diprakarsai oleh OI. Misal: Konvensi Jenewa 1949 tentang perlindungan korban perang; Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut; Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik.

Perangkat internasional yang tidak memenuhi definisi treaty yang kedudukannya lebih rendah dari treaty dan convention, serta mengatur materi yang cakupannya lebih kecil daripada materi treaty. Digunakan pada perjanjian di bidang ekonomi, kebudayaan, teknologi, ilmu pengetahuan, keuangan (penceghan pajak ganda, perlindungan investasi, bantuan keuangan).

Digunakan untuk perangkat Internasional seperti dalam pembentukan OI. Misal: Piagam PBB tahun 1945

Digunakan untuk PI yang materinya lebih sempit dibanding treaty atau convention.

Ada beberapa macam Protocol: 1. Protocol of Signature 2. Optional Protocol 3. Protocol Based on a framework treaty 4. Protokol untuk mengubah beberapa PI 5. Protokol pelengkap PI.

Suatu perjanjian yang berisikan ketentuanketentuan umum dimana pihak-pihak dalam deklaras tersebut berjanji untuk melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu di masa yang akan datang. Isi materi ringkas, padat, dan biasanya mengesampingkan ketentuan yang bersifat formal seperti adanya full power, ratifikasi, dll.

Misal: Declaration of Zone of Peace, Freedom and Neutrality 1971 mengikat seperti PI lainnya. Universal Declaration of Human Rights 1948 himbauan, tanpa ikatan hukum.

Dokumen yang berisikan ringkasan laporan sidang dari suatu konferensi dan juga menyebutkan perjanjian-perjanjian atau konvensi-konvensi yang dihasilkan oleh konferensi tersebut. Penandatanganan final act tidak berarti penerimaan terhadap PI atau konvensi yang dihasilkan (hanya kesaksian berakhirnya tahapan proses pembuatan PI saja)

Misal: Final Act General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1994 Final Act Embodying the Results of the Urruguay Round of Multilateral Trade Negotiating 1994

Catatan mengenai hasil perundingan yang telah disepakati pihak-pihak dalam perjanjian. Digunakan sebagai rujukan dalam perundingan-perundingan selanjutnya.

Merupakan perjanjian yang mengatur pelaksanaan teknis operasional suatu perjanjian induk.

Suatu perjanjian yang mengatur pelaksanaan teknis operasional suatu perjanjian induk. Misal: Studi kelayakan Proyek Tenaga Uap 1979 antara Departemen Pertambangan RI dengan Canadian International Development Agency.

Pertukaran nota merupakan PI yang bersifat umum dan memiliki banyak persamaan dengan perjanjian hukum perdata. Dilakukan dengan mempertukarkan dua dokumen yang ditanda tangani kedua pihak pada masing-masing dokumen.

Misalnya digunakan dalam pemberian hibah, penyediaan alat-alat teknik, peningkatan studi, dsb.

Catatan pertukaran atau penyimpanan piagam pengesahan atau untuk mencatat kesepakatanhal-hal yang bersifat teknis administratif atau perubahan-perubahan kecil dalam suatu persetujuan.

Suatu perjanjian yang bersifat sementara dengan maksud akan digati dengan pengaturan yang tetap dan terperinci. Dibuat secara tidak resmi dan tidak memerlukan pengesahan.

Perundingan (negotiation) Penandatanganan (Signature) Pengesahan (Ratification)

Dilakukan oleh utusan yang ditunjuk oleh Presiden atau MenLu. Utusan tersebut dilengkapi dengan surat kuasa (full powers), yaitu suatu dokumen resmi yang dikeluarkan pejabat berwenang dari suatu negara yang menunjuk satu atau beberapa utusan untuk mewakili negaranya dalam perundingan, menerima atau membuktikan keaslian naskah perjanjian, menyatakan persetujuan suatu negara untuk diikat atau melaksanakan perbuatan lain sehubungan dengan suatu perjanjian.

Full powers saat ini tidak sepenting dahulu. Utusan akan mengkomunikasikan perkembangan perundingan pada negaranya untuk meminta instruksi baru. Setelah konferensi berakhir, utusan juga tidak langsung menandatangani perjanjian yang dihasilkan.

Delegasi yang dikirim juga dilengkapi dengan CREDENTIALS atau surat kepercayaan mutlak untuk mengetahui atau dapat juga untuk memutuskan delegasi mana yang betulbetul mewakili suatu negara (terutama bila ada pemerintah tandingan). Indonesia membedakan kegunaan full powers dan credentials.

Penandatanganan dimaksudkan sebagai otentikasi naskah keputusan hasil perundingan. Akibat atau pengaruh tanda tangan tergantung dari apakah perjanjian itu tunduk pada ratifikasi atau tidak.

Perbuatan negara yang dalam taraf internasional menetapkan persetujuannya untuk terikat pada suatu PI yang sudah ditandatangani. Saat ini ratifikasi menjadi praktik yang berlaku secara umum.

Pentingnya ratifikasi: 1. Perjanjian umumnya menyangkut kepentingan dan mengikat masa depan negara dalam hal-hal tertentu, karena itu harus di sahkan oleh kekuasaan negara tertinggi. 2. Untuk menghindarkan kontroversi antara utusan-utusan yang berunding dengan pemerintah yang mengutus.

3. Perlu adanya waktu agar instansi yang bersangkutan dapat mempelajari naskah yang diterima. 4. Pengaruh rezim parlementer yang mempunyai wewenang untuk mengawasi kegiatan-kegiatan eksekutif.

AKSEPTASI AKSESI RESERVASI

Tidak ada perbedaan dengan ratifikasi. Ada pula konstitusi negara yang menyebut dengan istilah APROBASI.

Perbuatan hukum dimana suatu negara yang bukan merupakan peserta asli perjanjian multilateral menyatakan persetujuannya untuk diikat perjanjian tersebut. Negara tersebut mengirimkan piagam aksesi ke negara penyimpan dan kemudian memberitahukan kepada seluruh peserta.

Suatu sistem dimana suatu negara yang merupakan pihak dalam perjanjian dapat menyatakan persyaratan terhadap pasal-pasal tertentu, dibuat secara tertulis, dan kemudian diumumkan. Dilakukan oleh negara yang bersedia terikat pada perjanjian namun tidak untuk seluruh ketentuan didalamnya.

Bagi perjanjian bilateral yang materinya tidak begitu penting yang biasanya merupakan perjanjian pelaksanaan umumnya berlaku sejak penandatanganan untuk PM jarang sekali. Notifikasi telah dipenuhinya persyaratan konstitusional pada klausula penutup dicantumkan bahwa perjanjian mulai berlaku tiga puluh hari setelah nota berakhir.

Pertukaran Piagam Pengesahan Biasanya disebutkan dalam klausul penutup bahwa perjanjian akan mulai berlaku pada tanggal pertukaran piagam pengesahan. Penyimpanan Piagam Pengesahan, Biasanya terjadi pada PM, dimana piagam pengesahan disimpan atau didepositkan di suatu negara tertentu. Aksesi, Perjanjian mulai berlaku saat piagam aksesi didepositkan ke negara penyimpan.

Batalnya perjanjian: 1. bentuk perjanjian salah atau bertentangan dengan ketentuan Hukum Nasional (IREGULARITAS FORMAL) misal: kepala negara meratifikasi tidak sesuai prosedur 2. kekeliruan mengenai unsur pokok/dasar perjanjian (IREGULARITAS SUBSTANSIAL) misal: ada kekeliruan penyebutan nama tempat, ada penipuan, ada korupsi wakil negara, ada kekerasan.

Akibat Batalnya Suatu Perjanjian: 1. PI dianggap batal ada saat penerimaan pemberitahuan pembatalan. Negaranegara harus mengembalikan pada kondisi semula. Kembali pada status quo secara integral. 2. Bila batalnya PI disebabkan karena pelanggaran terhadap norma imperatif, negara-negara diharuskan menyesuaikan dengan norma tersebut.

Atas persetujuan para pihak (sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian, klausula pembubaran diri, penarikan diri, penangguhan berlakunya konvensi). Atas persetujuan kemudian (abrogasi perjanjian). Akibat terjadi peristiwa tertentu (tidak dilaksanakannya perjanjian, perubahan keadaan secara mendasar, timbulnya norma imperatif HI, perang).

PRAKTIK PEMBUATAN PI DI INDONESIA Landasan hukum Pasal 11 UUD 1945 Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain Sumir apa yang dimaksud dengan membuat, apa saja yang meliputi perjanjian, dsb.

Surat Presiden RI No. 2826/HK/60 tentang Pembuatan Perjanjian degan Negara Lain: Hanya perjanjian-perjanjian terpenting yang dapat mempengaruhi haluan politik LN (perjanjian persahabatan, perubahan wilayah, kerjasama ekonomi, teknik, dsb harus disetujui DPR sebelum disahkan Presiden UU Perjanjian dengan materi lain yang biasanya dalam bentuk persetujuan hanya disampaikan ke DPR untuk diketahui setelah disahkan Presiden Keppres.

Ada penafsiran perjanjian yang penting diatur dengan traktat dan perjanjian yang kurang penting diatur dengan agreements. Diatur dengan traktat: 1. Soal politik atau soal-soal yang dapat mempengaruhi haluan politik LN 2. Ikatan-ikatan yang sedemikian rupa sifatnya sehingga mempengaruhi haluan politik LN 3. Soal-soal yang menurut UUD atau menurut perundang-undangan harus diatur dengan UU (soalsoal kehakiman). Pada praktiknya, banyak penyimpangan dan ketidakseragaman diberbagai tahap (Boer Mauna)

Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Cara mengikatkan diri pada perjanjian (Pasal 3): melalui 3 tahap, yaitu penandatangan, pengesahan, pertukaran dokumen perjanjian atau nota diplomatik, cara lain yang disepakati para pihak.

Tahap Pembuatan PI (Pasal 5): Konsultasi dan koordinasi dengan MenLu dan posisi pemerintah harus dituangkan dalam suatu pedoman delegasi. Proses (Pasal 6): Penjajagan, perundingan, perumusan naskah, penerimaan dan penandatanganan. Surat kuasa diperlukan bagi seseorang yang mewakili pemerintah untuk menerima dan menandatangani suatu naskah (Pasal 7).

Pengesahan dilakukan dengan UU (Pasal 10): 1. Masalah politik, perdamaian, pertahanan keamanan negara. 2. Perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah negara. 3. Kedaulatan atau hak berdaulat negara. 4. HAM dan lingkungan hidup. 5. Pembentukan kaidah hukum baru. 6. Pinjaman dan/hibah LN.

Pemberlakuan PI yang tidak dengan UU atau Keppres (Pasal 15-16): langsung setelah penandatanganan, pertukaran dokumen perjanjian, atau nota diplomatik (perjanjian teknis yang mengatur kerjasama bidang pendidikan, sosbud, pariwisata, penerangan, kesehatan, KB, pertanian, dsb).

Berakhirnya PI (Pasal 18): 1. Ada kesepakatan para pihak melalui prosedur yang telah ditetapkan dalam perjanjian, 2. Tujuan tercapai, 3. Ada perubahan mendasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian, 4. Salah stau pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan dalam perjanjian, 5. Dibuatnya perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama, 6. Muncul norma baru dalam HI, 7. Objek perjanjian hilang, 8. Terdapat hal-hal yag merugikan kepentingan nasional.