Drs. Dadang Solihin, MA



dokumen-dokumen yang mirip
dadang-solihin.blogspot.com 2

PP No 39/2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan

Manajemen Pembangunan

ANALISIS PENGATURAN KRITERIA FASILITAS PENANAMAN MODAL DIKAITKAN DENGAN PRINSIP MOST FAVORED NATION (MFN)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daya saing daerah menurut definisi yang dibuat UK-DTI adalah

Lingkungan Pemasaran Internasional-Global

KEDUDUKAN GUBERNUR SUMATERA-UTARA SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

ABSTRACT. Keywords: internal and international migration, labor market, Indonesian economy

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang

KADIN INDONESIA. Bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi & Media

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL DALAM RANGKA MENINGKATKAN IKLIM INVESTASI DI KOTA SURAKARTA

DAMPAK INVESTASI TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN: STUDI KOMPARASI PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI DAN PENANAMAN MODAL ASING DI JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai sebuah negara yang sedang berkembang, pembangunan ekonomi

DAFTAR PUSTAKA. ASEAN. (2007). ASEAN Economic Community Blueprint. Singapura: National University of Singapore.

LD NO.14 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENANAMAN MODAL I. UMUM

KONVERSI LAHAN SAWAH KE NON PERTANIAN DALAM PERKEMBANGAN KOTA NGANJUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN DAN PENDAPATAN PETANI

S U T A R T O NIM : Program Studi Teknik dan Manajemen industri

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Infrastructure Outlook 2016, 10 Februari 2016 Profil Pembicara/Speaker s profile

ABSTRAK. Kata Kunci: Obligasi Daerah, Kewenangan, Pemerintahan Daerah. viii

PERAN KEPALA DAERAH DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. daerah, masalah pertumbuhan ekonomi masih menjadi perhatian yang penting. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, nilai serta norma masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. dari negara-negara maju, baik di kawasan regional maupun kawasan global.

SCALING SOLUTION OF LAND USE CHALLENGES. Musdhalifah Machmud Deputy to Coordinating Minister for Food and Agriculture

Pekerjaan yang Layak untuk Ketahanan Pangan

KEDUDUKAN BILATERAL INVESTMENT TREATIES (BITs) DALAM PERKEMBANGAN HUKUM INVESTASI DI INDONESIA

Improving Education Research in the Light of Global Labor Mobility

SKRIPSI ANALISIS DAYA SAING INVESTASI DI KOTA PEMATANG SIANTAR OLEH AHMAD PAPIN HERDIAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan semakin berkembangnya dunia usaha. Perkembangan dunia usaha

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

KURIKULUM MAGISTER MANAJEMEN

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN akan segera diberlakukan pada tahun 2015.

Daya Saing Industri Indonesia di Tengah Gempuran Liberalisasi Perdagangan

STRATEGIC HUMAN CAPITAL DEALING IN THE UNCERTAIN TIME

DAMPAK OPEN DOOR POLICY YANG DITERAPKAN DENG XIAOPING TERKAIT PENINGKATAN SEKTOR INDUSTRI CINA PASCA RERORMASI Ida Bagus Gde Restu Adhi

BAB I PENDAHULUAN. yang berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan

PENGARUH DANA MONETER INTERNASIONAL (IMF) DALAM KEBIJAKAN EKONOMI POLITIK INDONESIA PADA ERA ORDE BARU. Oleh : Astri Natalia Manurung

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013

Strategi Peningkatan Peran dan Kontribusi Iptek dalam Kerangka SINas untuk Mendukung Keberhasilan MP3EI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diterapkan pada level nasional adalah produktivitas yang didefinisikannya

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN SEKTOR PROPERTI TERHADAP PERKEMBANGAN PARIWISATA DI BERASTAGI

6. ANALISIS DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kebijakan di dalam pengembangan UKM

BAB I PENDAHULUAN. Penanaman modal yang sering disebut juga investasi merupakan langkah

PENGARUH PROGRAM KEMITRAAN, LINGKUNGAN KERJA DAN MOTIVASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN UMKM DI KECAMATAN BANGIL

BAB 7 PERDAGANGAN BEBAS

INTERNASIONAL DEFFERENCES IN THE INCOME DISTRIBUTION

Pengantar Diskusi: Ideologi, Rasionalisme Pragmatisme dalam penetapan agenda kebijakan pembiayaan kesehatan di Indonesia

I. PENDAHULUAN. semakin penting sejak tahun 1990-an. Hal tersebut ditandai dengan. meningkatnya jumlah kesepakatan integrasi ekonomi, bersamaan dengan

TESIS MAGISTER. Oleh : SETA KARTIKA NIM

ANTI DUMPING DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL: SINKRONISASI PERATURAN ANTI DUMPING INDONESIA TERHADAP WTO ANTI DUMPING AGREEMENT

Tantangan dan Peluang UKM Jelang MEA 2015

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

BAB I PENDAHULUAN. oleh United Nations Security Council yang menyebabkan berkembangnya

DAFTAR PUSTAKA. Universitas Indonesia. Perizinan penanaman..., Putri wulandari, FHUI, 2009

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

Template : For Better FITB

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

POKOK-POKOK PERUBAHAN PAJAK PENGHASILAN MENURUT UU NO 36 TAHUN 2008

Inovasi Teknologi untuk Mewujudkan Ketahanan & Kedaulatan Pangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. standar proses, mendefenisikan daya saing adalah kemampuan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Aliran masuk remitansi (remittance inflow) global telah mengalami pertumbuhan pesat

Michael Porter (1990, dalam PPSK-BI dan LP3E FE UNPAD 2008) input yang dicapai oleh perusahaan. Akan tetapi, baik Bank Dunia, Porter, serta

CAPAIAN KINERJA PERDAGANGAN 2015 & PROYEKSI 2016

BAB VI PENDANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

SKRIPSI PENGARUH KREDIT PERTANIAN TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI KELAPA SAWIT DI KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA OLEH. Mardiana Lumbanraja

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional tersebut agar terlaksananya tujuan dan cita-cita bangsa

UPAYA PENANGANAN GANGGUAN JARINGAN TELEPON DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN. (Studi Kasus : PT. TELKOM Kandatel Bandung)

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses multidimensional yang

Perumusan Strategi dan Posisi Indonesia Menghadapi G20 Turki Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI Jakarta, 3 Maret 2015

TUGAS DAN FUNGSI KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH ADAT DI KABUPATEN PASAMAN (SUMATERA BARAT)

ASPEK EKONOMI IKAN CAKALANG DI KOTA BITUNG. Oleh : VALENCIA ANGELI KARUNDENG NIM : KERTAS KERJA

Transkripsi:

BAPPENAS Strategi Menarik Investor dalam rangka Peningkatan PAD Drs. Dadang Solihin, MA Dialog Bisnis Interaktif Wilayah Jakarta Pusat Jakarta, 15 Juni 2004

Dadang Solihin s Profile Dadang holds a MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and Information at DPD Secretariat General as well as Deputy Director for Information of Spatial Planning and Land Use Management at Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas). Beside working as Assistant Professor at Graduate School of Asia- Pacific Studies, Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University of Darma Persada, Jakarta, Indonesia. He got various training around the globe, included Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur, Malaysia (2003); Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002); Local Government Administration i ti Training i Course, Hiroshima, Japan (2001); and Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan (1999). He published more than five books regarding local autonomous. You can reach Dadang Solihin by email at dadangsol@yahoo.com or by his mobile at +62812 932 2202 dadang-solihin.blogspot.com 2

Materi Tantangan ke Depan Faktor-Faktor Peningkatan Investasi Tinjauan Internal Faktor-Faktor F Dominan yang Menentukan Daya Tarik Investasi Daerah Berdasarkan Persepsi Dunia Usaha Tinjauan Eksternal Ketidakpastian Investasi di Era Otonomi Daerah Kriteria Perda yang Kondusif terhadap Iklim Usaha dan Investasi Strategi Daerah dalam Menarik Investasi dadang-solihin.blogspot.com 3

Tantangan ke Depan Indonesia lepas dari IMF, Tidak ada Paris Club (tidak ada penjadwalan hutang LN) Membayar hutang LN yang jatuh tempo Rp.44,891T Event besar pada tahun 2004 PEMILU, Ujian kedewasaan bagi para elite politik Liberalisasi perdagangan dan investasi Keadaan lain Pengangguran masih sekitar 40 juta, Pengangguran terbuka sekitar 9-10 juta, Penduduk miskin 36 juta orang (16%) sudah turun dari tahun 1999 (27%) dadang-solihin.blogspot.com 4

Faktor-Faktor F Peningkatan Investasi Internal 1. Stabilitas Sospolkam 2. Penegakan dan kepastian hukum 3. Kualitas pelayanan baik Sistem maupun SDM 4. Insentif belum kompetitif 5. Tingkat suku bunga pinjaman 6. Kondisi infrastruktur 7. Kondisi perburuhan 8. Peraturan terkait investasi belum saling mendukung 9. Tingkat penyelundupan 10. Dampak otonomi daerah 11. Daya saing global rendah Eksternal Liberalisasi perdagangan dan investasi (AFTA, AIA,APEC dan WTO) dadang-solihin.blogspot.com 5

Tinjauan Internal Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah, pada 2002 melakukan studi pemeringkatan daya tarik investasi Kabupaten/Kota dalam persepsi dunia usaha Mencakup 134 daerah dari 97 Kabupaten dan 37 Kota dari 26 Propinsi di Indonesia Menggunakan 5 variabel pemeringkatan, yaitu: Kelembagaan, Sosial Politik, Ekonomi Daerah, Tenaga Kerja dan Produktivitas, dan Infrastruktur Fisik. ik dadang-solihin.blogspot.com 6

Faktor-Faktor Dominan yang Menentukan Daya Tarik Investasi Daerah Berdasarkan Persepsi Dunia Usaha 31% 26% 17% 13% 13% dadang-solihin.blogspot.com 7

Kelembagaan (31%) Terdiri dari empat variabel, yaitu: 1. Aparatur dan Pelayanan (22%) 2. Kepastian Hukum (39%) 3. Keuangan Daerah (14%) 4. Peraturan Daerah ( 25%) Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam melakukan investasi para pelaku usaha sangat mengharapkan adanya kepastian hukum dalam menanamkan modalnya di suatu daerah. dadang-solihin.blogspot.com 8

Sosial Politik (26%) Terdiri dari tiga variabel, yaitu: 1. Keamanan (60%) 2. Sosial Politik (27%) 3. Budaya (13%) Terlihat bahwa hingga saat ini kondisi keamanan di sejumlah daerah di Indonesia perlu mendapat perhatian yang serius karena sangat signifikan mempengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. dadang-solihin.blogspot.com 9

Ekonomi Daerah (17%) Terdiri dari dua variabel, yaitu: 1. Potensi ekonomi (71%) 2. Struktur ekonomi (29%) Faktor Ekonomi Daerah merupakan endowment variable, yaitu faktor yang perubahannya tidak dapat dengan segera terjadi dengan kebijakan-kebijakan j yang dibuat oleh pemerintah daerah. Dalam melakukan investasi para pelaku usaha lebih banyak menekankan pada potensi ekonomi dari daerah yang akan dituju sebagai tempat melakukan kegiatan usaha dibandingkan dengan struktur ekonomi yang sudah berkembang di daerah tersebut. dadang-solihin.blogspot.com 10

Tenaga Kerja (13%) Terdiri dari tiga variabel, yakni: 1. Ketersediaan Tenaga Kerja (35%) 2. Biaya Tenaga Kerja (24%) 3. Produktivitas Tenaga Kerja (41%) Pentingnya variabel produktivitas tenaga kerja menunjukkan bahwa dalam memilih lokasi usaha, para pelaku usaha lebih tertarik pada daerah-daerah yang dapat menyediakan tenaga kerja dengan kualitas yang baik yaitu dilihat dari produktivitasnya. dadang-solihin.blogspot.com 11

Infrastruktur Fisik ik (13%) Terdiri dari dua variabel yaitu: 1.Ketersediaan Infrastruktur Fisik (54%) 2.Kualitas Infrastruktur Fisik (46%) Tampak bahwa kedua variabel ini mendapat bobot yang cukup seimbang. dadang-solihin.blogspot.com 12

Tinjauan Eksternal Prof. Kinoshita: FDIs, export-oriented ones in particular, are strongly required for Indonesia. Why? 1. To create jobs 2. To increase economic growth 3. To transfer technology higher productivity international competitiveness 4. To improve Balance of payment position 5. To replace ODA which is not expected to increase much (on net basis) from now. dadang-solihin.blogspot.com 13

Challenges to Enhance FDI for Indonesia Before the financial crisis, foreigners regarded Indonesia as a good candidate place for their FDIs. However, investment climate of Indonesia has deteriorated to one of the worst in the world. To recover the situation, political leadership is imperative. Foreigners consider that potentials of Indonesia are still big and AFTA effect is sizable, but its investment climate is apparently inferior. Main problems: Policy/legal uncertainty. High cost economy e.g. taxation, customs, various licensing, deteriorating social infrastructure dadang-solihin.blogspot.com 14

What are problems in Indonesia for foreign investors? Business-unfriendly fi labor disputes Relatively bad socio-political image Sharp increase of wages in the past years with labor productivity ty kept low. Rampant KKN including non-transparent legal/ judicial system Confusion related to the decentralization policies Deteriorating social infrastructure dadang-solihin.blogspot.com 15

Why more FDI in China and other Asian nations and less in Indonesia? Better Socio-Economic Situation and Less Labor Disputes---China, Thailand, Malaysia Bigger Market Potential by entrance to WTO---China Good Social Infrastructure--- Singapore, Malaysia, China, Thailand Better Rule of Law: Singapore, Malaysia, Thailand Quickly Expanding Industrial Clusters ---China, Thailand (esp. auto-related industries), Malaysia Qualified Human Capital ---China, India, Singapore, Vietnam dadang-solihin.blogspot.com 16

All measures should be done at the same time To call for Indonesian people to change mindset to really welcome FDI. To improve labor issues and taxation. To improve social security To strengthen law and order including judicial reform. To avoid illegal taxation/ charges taken by many provinces To improve and set up social infrastructure To make ministers a good single team Most important thing: Political leadership or a strong will of the government to realize the above dadang-solihin.blogspot.com 17

Ketidakpastian Investasi di Era Otonomi Daerah Daerah dengan potensi PAD rendah cenderung menerapkan Perda distortif tif Penyusunan Perda tidak partisipatif Ketidakpastian pengelolaan daerah otorita, dan kawasan industri Perebutan aset usaha di daerah Perbedaan mencolok kebijakan antar daerah Konflik pada usaha berbasis lahan luas Kebimbangan tentang level pemerintahan yang harus diikuti dalam pengelolaan aktivitas perekonomian (ketenagakerjaan, perijinan, pungutan, dll.) Dll. dadang-solihin.blogspot.com 18

Kriteria Perda yang Kondusif terhadap Iklim Usaha dan Investasi 1) Memiliki kesesuaian dengan Peraturan-Peraturan yang lebih tinggi yang berlaku (UU, PP, Kepres, Kepmen, dll) 2) Tidak mengakibatkan hambatan lalu-lintas distribusi barang dan atau jasa yang bersifat tarif maupun non tarif (tidak bertentangan dengan free internal trade principle). 3) Tidak mengakibatkan pungutan berganda (Double Taxation) dengan Pajak Pusat (PPh, PPN, PBB, dll)) atau dengan Pajak/ Retribusi Daerah lainnya. 4) Besaran tarifnya berada dalam batas kewajaran sehingga tidak mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. dadang-solihin.blogspot.com 19

Kriteria Perda Yang Kondusif Terhadap Iklim Usaha dan Investasi... 5) Tidak diskriminatif. Perda yang tidak mengakibatkan penguasaan ekonomi pada kelompok-kelompok k k l k orang (tidak berpotensi menciptakan struktur pasar yang monopolis dan oligopolis). 6) Menjamin kepastian standar pelayanan (Perda-Perda yang berkaitan dengan perizinan), meliputi: kesederhanaan prosedur, kepastian atau batasan waktu pelayanan, tarif, dan institusi yang berwenang. 7) Tidak mengharuskan atau mewajibkan investor untuk menjalin kemitraan dengan mitra lokal dari daerah yang bersangkutan. dadang-solihin.blogspot.com 20

Strategi Daerah dalam Menarik Investasi 1. Identifikasi potensi ekonomi daerah 2. Restrukturisasi organisasi pemerintah daerah 3. Pelayanan investasi satu atap 4. Pengembangan situs potensi daerah 5. Keikutsertaan dalam pameran investasi 6. Studi banding pelayanan investasi i 7. Pelibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan 8. Menggali peluang dan menetapkan unggulan daerah 9. Mensinergikan peluang dan kebijakan antar daerah 10. Membangun prasarana dasar dan SDM 11. Mengefektifkan promosi, pelayanan dan bimbingan pelaksanaan penanaman modal 12. Mensinkronisasikan kebijakan antara Pusat dan Daerah 13. Kesediaan meninjau ulang Perda yang bermasalah dadang-solihin.blogspot.com 21

Terima Kasih dadang-solihin.blogspot.com 22