PERLINDUNGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

dokumen-dokumen yang mirip
PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN IV

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati

SUAKA ELANG: PUSAT PENDIDIKAN BERBASIS KONSERVASI BURUNG PEMANGSA

Perjanjian Kerjasama Tentang Pengembangan dan Pemasaran Produk Ekowisata Taman Nasional Ujung Kulon.

BAB I PENDAHULUAN. daya alam non hayati/abiotik. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI

BAB I PENDAHULUAN. perubahan iklim (Dudley, 2008). International Union for Conservation of Nature

I. PENDAHULUAN. liar di alam, termasuk jenis primata. Antara tahun 1995 sampai dengan tahun

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

KRITERIA KAWASAN KONSERVASI. Fredinan Yulianda, 2010

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 6. PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGANLatihan Soal 6.2

Tugas Portofolio Pelestarian Hewan Langka. Burung Jalak Bali

Suhartini Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

3. Pelestarian makhluk hidup dapat memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat berupa

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

ANCAMAN KELESTARIAN DAN STRATEGI KONSERVASI OWA-JAWA (Hylobates moloch)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SMP NEGERI 3 MENGGALA

Contoh Makalah Penelitian Geografi MAKALAH PENELITIAN GEOGRAFI TENTANG LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA

mencintai, melestarikan dan merawat alam untuk kualitas hidup lebih baik Talaud Lestari

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 26 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN HUTAN HAK MENTERI KEHUTANAN,

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.26/Menhut-II/2005

INOVASI PEMANFAATAN BRINE UNTUK PENGERINGAN HASIL PERTANIAN. PT Pertamina Geothermal Energi Area Lahendong

KEANEKARAGAMAN HAYATI (BIODIVERSITY) SEBAGAI ELEMEN KUNCI EKOSISTEM KOTA HIJAU

Sidang Pendadaran, 24 Desember 2016 Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ~VK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENJUALAN HEWAN YANG DILINDUNGI MELALUI MEDIA INTERNET DIHUBUNGKAN DENGAN

RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI TAHUN

I. PENDAHULUAN. mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu laju kerusakan hutan tercatat

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISIS. pengelola real estat terpadu dalam bidang ritel, komersial dan pemukiman real

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada usia dini anak mengalami masa keemasan yang merupakan masa dimana

Konservasi Tingkat Komunitas OLEH V. B. SILAHOOY, S.SI., M.SI

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA BAB II. PELESTARIAN LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN. ekosistemnya sebagai modal dasar pembangunan nasional dengan. Menurut Dangler (1930) dalam Hardiwinoto (2005), hutan adalah suatu

Deskripsi KHDTK Aek Nauli Sumatera Utara

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

C. Model-model Konseptual

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA DAN LAPORAN... PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN...

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

Gubernur Jawa Barat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT,

i:.l'11, SAMBUTAN PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR KOTAK... GLOSARI viii xii DAFTAR SINGKATAN ...

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA NGARGOYOSO SEBAGAI OBYEK WISATA ALAM BERDASARKAN POTENSI DAN PRIORITAS PENGEMBANGANNYA TUGAS AKHIR

Ikhtisar Eksekutif TUJUAN PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB I PENDAHULUAN. dan fauna yang tersebar diberbagai wilayah di DIY. Banyak tempat tempat

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMANFAATAN BIOGAS UNTUK USAHA KEMANDIRIAN ENERGI RUMAH TANGGA SEKALIGUS IKUT SERTA DALAM UPAYA MENDUKUNG GERAKAN KONSERVASI LINGKUNGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Kawasan Gunung Merapi adalah sebuah kawasan yang sangat unik karena

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. termasuk ekosistem terkaya di dunia sehubungan dengan keanekaan hidupan

SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 10. PELESTARIAN LINGKUNGANLatihan soal 10.1

Lampiran 3. Interpretasi dari Korelasi Peraturan Perundangan dengan Nilai Konservasi Tinggi

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 87 TAHUN 2008 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 NOMOR 2

BAB I PENDAHULUAN. plasma nutfah serta fungsi sosial budaya bagi masyarakat di sekitarnya dengan

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

PENDAHULUAN Latar Belakang

Laporan Evaluasi Program

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UPAYA PENANGANAN FAKIR MISKIN MELALUI PENDEKATAN WILAYAH

Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015

Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 10. PELESTARIAN LINGKUNGANLaihan soal 10.3

BAB I PENDAHULUAN. Hutan Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang

MATERI 1. Pendahuluan. I. Ruang Lingkup MSDA Kema hubungan antara sistem ekonomi dan sistem lingkungan (Tietenberg, 1992)

Green Corridor Initiative Project (Prakarsa Lintasan Hijau)

Geografi PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUN BERKELANJUTAN I. K e l a s. xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013. A. Kerusakan Lingkungan Hidup

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 Tentang : Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa

TINJAUAN ILMIAH KONSERVASI ALAM. Oleh M. Jakfar ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. hutan hujan tropis yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Luasan hutan

TENTANG HUTAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

MEMBANGUN MODEL DESA KONSERVASI SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENYELAMATAN KAWASAN KONSERVASI. Oleh : Kusumoantono Widyaiswara Madya BDK Bogor ABSTRACT

tertuang dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kehutanan Tahun , implementasi kebijakan prioritas pembangunan yang

PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Pemilihan Studi. Permainan menurut Joan Freeman dan Utami Munandar (dalam Andang

I. PENDAHULUAN. Alam Hayati dan Ekosistemnya dijelaskan bahwa suaka margasatwa, adalah

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KOTA CIMAHI TAHUN ANGGARAN 2015

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Wisata

BAB I PENDAHULUAN. Kawasan suaka alam sesuai Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 adalah sebuah

PENDAHULUAN. Gambar 1 Bange (Macaca tonkeana) (Sumber: Rowe 1996)

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

Transkripsi:

PERLINDUNGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI PT. PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY AREA KAMOJANG, JAWA BARAT A. GAMBARAN UMUM

PT. Pertamina Geothermal Energy (PT. PGE) Area Kamojang mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya perlindungan Keanekaragaman Hayati. Hal ini dapat dilihat dari salah satu item pada kebijakan perusahaan, dibentuknya Tim Perlindungan Keanekaragaman Hayati serta tersedianya dana yang mencukupi untuk kegiatan ini. Pada Item nomer 5 dari Kebijakan PT. PGE Area Kamojang berisikan Komitmen untuk melaksanakan konservasi sumberdaya, efisiensi energi, konservasi air, pengurangan emisi, pengurangan serta pemanfaatan limbah dan sampah, perlindungan keanekaragaman hayati, pencegahan kerugian dan senantiasa melakukan upaya peningkatan berkelanjutan terhadap sistem manajemen mutu, kesehatan & keselamatan kerja dan lingkungan di setiap aspek. Tekad yang kuat untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati ini mendapat dukungan penuh dari PT Pert amina Geot he rmal Energy (P T P GE) dan PT. Pertamina Persero, yang tertuang dalam Kebijakan Manajemen Pertamina tentang Penerapan Perbaikan Berkelanjutan Untuk Kualitas Lingkungan Hidup Yang Lebih Baik yang berisi tentang dampak perubahan iklim, pengelolaan udara bersih, manajemen energi, pengelolaan limbah B3 dan padat, pengelolaan air serta Perlindungan Keanekaragaman Hayati. Tim Perlindungan Keanekaragaman Hayati terdiri dari fungsi HSSE dan fungsi G o v e r n m e n d a n P u b l i c R e l a t i o n dengan dibantu anggota-anggota dari fungsi Operation dan fungsi Engineering. Tim Perlindungan keanekaragaman Hayati ini mempunyai tugas untuk menyusun Rencana dan strategi Program perlindungan keanekaragaman hayati jangka panjang (5 Tahun) yang kemudian di perjelas dalam program tahuanan, serta melakukan kerjasama dengan stakeholder dan melakukan publikasi tentang perlindungan keanekaragaman Hayati yang sudah dilakukan di Wilayah Kerja Pengusahaan (WKP) Kamojang.

B. PROGRAM PERLINDUNGAN FLORA DAN REALISASINYA Langkah pertama dalam perlindungan keanekaragaman hayati ini adalah dengan melakukan kerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar sebagai pemilik lahan WKP Kamojang. Kerjasama ini dituangkan dalam rencana pengelolaan kawasan hutan konservasi program lima tahunan (RKL 2010-2014) dan saat ini sedang diperbaharui lebih lanjut. PT. PGE Area Kamojang juga menggandeng masyarakat sekitar dalam melakukan kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati berupa: P u s a t k o n s e r v a s i e l a n g K a m o j a n g, penanganan kebakaran hutan, pelatihan masyarakat peduli kebakaran hutan, penanaman kayu alam endemik kamojang, pembibitan tanaman hutan kayu alam endemik Kamojang dan tanaman anggrek hutan, sosialisasi dan koordinasi kepada stakeholder terkait mengenai perlindungan kawasan hutan beserta tumbuhan dan hewan asli yang dilindungi. Prioritas utama Program-program yang dilakukan oleh PT. PGE Area Kamojang dalam upaya menjaga flora dan fauna di PGE Area Kamojang ini adalah dengan menjaga lingkungan tempat habibat satwa yang ada, sehingga mereka nyaman menghuni hutan Kamojang dan bisa berkembang biak secara baik. Dengan regenerasi yang baik ini diharapakan keberlangsungan keanekaragaman hayati bisa terjaga.

Untuk menjaga lingkungan ini, program reboisasi dengan menanam pohon endemik Kamojang menjadi pilihan utama. Adapun program reboisasi ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Pembibitan (Nursery), Program nursery mulai dilakukan di PT. PGE Area Kamojang pada tahun 2011 dan berlangsung sampai saat ini, dengan pertimbangan bahwa kebutuhan bibit pohon endemik Kamojang sangat banyak, sedangkan ketersediaan bibit pohon sangat sulit didapatkan dipasaran. Kalaupun ada dipasaran, biasanya ukurannya tidak sesuai yang kita inginkan dan dengan harga sangat tinggi. Sementara dengan pembibitan sendiri, kita bisa mengatur jumlah bibit pohon yang akan ditanam serta ukuran bibit pohon tersebut. Pada pertengahan tahun 2015, Perusahaan telah berhasil melakukan pembibitan kayu alam rimba dan kayu produksi sebanyak 20.600 bibit pohon. total produksi nursery meningkat menjadi 233.476 pohon. Keuntungan lain program pembibitan sendiri ini

adalah dengan pemberdayaan masyarakat sekitar. Sebanyak 10-15 warga masyarakat sekitar diperdayakan setiap bulannya untuk pemeliharaan bibit pohon. Adapun jenis-jenis bibit pohon yang dikembangkan adalah Suren (Toona Sureni), Kiendog (Xanthopyllum Excelsum), Kiamis (Cinnamomum Burmanii), Kibeureum (Saurauian Cauliflora), Huru (Litsea Glomerata), Kisalam (Eugenia Cuprea), Ekaliptus (Melaleuca Leucadendron), Kihonje (Pittosporum Ferrugineum), Kibeusi (Rhodamnia Cinerea), Ki Ara (Ficus Sp.), Ki Hujan (Engelhardia spicata). Di antara banyak jenis bibit yang ditumbuhkembangkan di nursery ini, terdapat 2 jenis tumbuhan langka lokal yang menurut verifikasi tim UGM tahun 2013 harus dilestarikan, yaitu Ki Hujan dan Ki Ara. Menurut laporan, pohon Ki Ara yang merupakan endemik di Kamojang sudah sangat sulit ditemui, meskipun ditemui jumlahnya sangat sedikit dan sangat tua, bahkan tim UGM sudah menyatakan bahwa pohon jenis ini hampir punah secara lokal (hal 17). Sedangkan pohon Ki Hujan dikatakan sangat sulit berkembang meskipun bibitnya tersebar di banyak tempat di Kamojang. Sehingga PT. PGE Area Kamojang berinisiatif untuk memperbanyak bibit Ki Ara dan Ki Hujan. Selain itu, sebagian jenis pohon merupakan tumbuhan yang bisa digunakan sebagai tanaman obat, misalnya: Kiamis untuk obat encok dan cacingan, Kibeureum mengandung politenol dan steroid, Suren sebagai obat astringen, demam dan ginjal membesar 2. Pembuatan Kompos Pupuk merupakan hal yang sangat penting dalam proses reboisasi, baik sejak penyemaian hingga sampai pemeliharaan pohon. Jenis pupuk ini tidak selalu sama antara jenis pohon satu dengan yang lainnya. Akan tetapi khusus untuk jenis pupuk kompos, cocok untuk semua jenis pohon. Di PT. PGE Area Kamojang, pemanfaatan pupuk kompos ini sangat dominan, terutama untuk pemeliharaan bibit pohon. Pupuk Kompos ini dibuat dengan memanfaatkan sampah-sampah domestik yang dihasilkan. Selain itu, sampah-sampah hasil dari babat rumput di area sumur-sumur diolah menjadi kompos. Semenjak tahun 2011 hingga 2015, sudah ada 2.880 Kg sampah domestik kantor yang dijadikan kompos. Sampah domestik yang dijadikan kompos sebesar 42% dari seluruh sampah yang dimanfaatkan di tahun 2015 (September).

Proses Pembuatan Kompos 3. Penanaman Bibit Pohon Setelah bibit pohon di area pembibitan (Nursery) berumur berumur 8-10 bulan dengan tinggi sekitar 50-100 cm, bibit pohon sudah siap untuk ditanam di Hutan Kamojang. Penanaman pohon di Kamojang mulai aktif dilakukan sejak tahun 1996. Adapun data penanaman pohon dari tahun 1996 sampai dengan 2015 seperti tabel 1 dibawah ini. Tabel Rekapitulasi Penanaman Pohon tahun 1996-2015 (Jumi) No. Tahun Jumlah Tanaman Monitoring Penyula Total % man Hidup Keberhasilan Hidup Mati 1 1996 350 225 125 0 225 64,3% 2 1999 300 200 100 0 200 66,7% 3 2002 1.000 848 152 0 848 84,8% 4 2003 4.500 4.130 370 1.378 5.508 122,4% 5 2004 13.000 10.685 2.315 0 10.685 82,2% 6 2006 605 442 163 0 442 73,1% 7 2007 3.796 2.419 1.881 0 2.419 63,7% 8 2008 12.200 10.709 1.491 450 11.159 91,5% 9 2009 4.035 3.507 528 24 3.166 78,5% 10 2010 36.441 35.341 1.100 913 30.847 84,6% 11 2011 63.650 51.431 12.219 9.000 60.389 94,9% 12 2012 41.010 38.300 2.710 300 37.675 91,9% 13 2013 24.000 23.987 13 0 23.987 99,9% 14 2014 27.000 24.975 2.025 350 25.325 93,8% 15 2015 20.600 19.800 800 800 20.600 100,0% Jumlah 252.487 226.999 25.992 13.215 233.475 92,5%

Penanaman bibit pohon ini selalu melibatkan masyarakat sekitar area operasi Kamojang. Semenjak tahun 2013 hingga sekarang, pihak Karang Taruna Kamojang selalu dilibatkan dalam proses penghijauan di sekitar area. Selain itu, PT. PGE Area Kamojang juga mengedukasi pelajar-pelajar di sekitar area operasi akan perlunya menjaga lingkungan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan penanaman ini. Penanaman bibit pohon melibatkan Pekerja, masyarakat serta pelajar Selain menanam pohon di area operasi, PT. PGE Area Kamojang juga memberikan sumbangan bibit pohon ke instansi-instansi pemerintah dan masyarakat sekitar yang membutuhkannya. Hingga akhir tahun 2015, terdapat 233.476 pohon. bibit pohon yang dibagikan untuk ditanam. 4. Pemeliharaan Reboisasi Pemeliharaan penghijauan merupakan kegiatan yang rutin dilakukan. Kegiatan ini dilakukan rata-rata 3-4 kali setahun dengan melibatkan masyarakat sekitar. Adapun kegiatan pemeliharaan ini diantaranya dengan membersihkan rumput-rumput disekitar pohon, kemudian memberikan pupuk yang sesuai. Kegiatan pemeliharaan pohon Sejak tahun 2013, metode pemeliharaan reboisasi di Kamojang akan dirubah dengan lebih mengaktifkan peran serta warga sekitar, diharapkan warga akan merasa memiliki pohon-pohon tersebut sehingga akan merawat dengan sebaik-baiknya dan apabila

ditemukan ada bibit pohon yang mati, warga akan menyulami dengan bibit pohon yang baru. Dengan program ini presentase keberhasilan penanaman pohon meningkat per September 2015 Grafik Presentase Keberhasilan Penanaman Pohon

5. Kultur Jaringan Anggrek Salah satu inovasi yang dikembangkan tahun 2015 adalah program sterilisasi media kultur jaringan anggrek dengan uap buangan dari jalur pipa blow down. Kegiatan ini mensubstitusikan penggunaan LPG sebagai bahan bakar untuk proses sterilisasi media tanam dengan uap geothermal yang lebih ramah lingkungan. PGE mengembangkan alat sterilisasi yang dapat dimanfaatkan oleh petani anggrek menggantikan alat konvensional yang biasa mereka gunakan. Anggrek yang dibudidayakan adalah anggrek hutan khas Kamojang. Kegiatan ini selain mampu memberikan nilai tambah ekonomis bagi petani juga mampu menjaga keanekaragaman hayati di sekitar daerah operasi PGE Area Kamojang.

C. PROGRAM PERLINDUNGAN FAUNA DAN MONITORINGNYA 1. Program Perlindungan Fauna PT. PGE Area Kamojang telah melakukan identifikasi status fauna semenjak tahun 2007 melalui laporan rutin mengenai Keanekaragaman Hayati. Pada tahun 2015, dilakukan audit verifikasi keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh tim ahli biologi independen dari Pihak Ketiga Source Laporan Benchmark 2015

Program Perlindungan fauna yang dilakukan di PT. PGE Area Kamojang selain dengan menciptakan habitat bagi tempat hunian satwa, juga dengan melakukan sosialisasi ke warga sekitar agar tidak melakukan aktifitas di dalam hutan yang mengancam keanekaragaman hayati. Sosialisasi tersebut dengan melibatkan instansi dari BBKSDA dan pihak expert. Selain itu, juga diberikan tulisan larangan-larangan berburu di beberapa titik. Papan Larangan berburu PUSAT REHABILITASI ELANG KAMOJANG PT. PGE Area Kamojang juga bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Raptor Indonesia untuk membangun Pusat Rehabilitasi Elang Kamojang yang terletak tidak jauh dari lokasi operasional PT. PGE Area Kamojang. Pusat rehabilitasi elang ini merupakan pusat rehabilitasi terbesar yang dibangun dengan fasilitas terlengkap yang pernah dibangun di Indonesia. Selain itu, Pusat Rehabilitasi Elang Kamojang akan menjadi pusat rehabilitasi elang pertama di Indonesia yang menggunakan standar internasional terbaru dari IUCN, yaitu Guidelines for Reintroduction and Other Conservation Translocation yang baru dirilis pada tahun 2013, dimana translokasi satwa dianggap sebagai salah satu cara yang efektif dalam usaha konservasi. Ditambah lagi, desain klinik dan kandang di dalamnya menggunakan standar yang dikeluarkan oleh International Wildlife Rehabilitation Council dan Global Federation of Animal Sanctuary. Perlakuan yang akan diterapkan terhadap berbagai jenis elang tersebut juga mengacu pada standar IUCN Guidelines for The Placement and Confiscated Animals, dimana standar ini diberlakukan dengan tujuan memaksimalkan nilai konservasi dari satwa tanpa membahayakan kondisi dari satwa tersebut, mencegah adanya

perdagangan illegal satwa langka, dan menyediakan berbagai alternatif perlakuan yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Direncanakan akan ada beberapa jenis elang yang akan direhabilitasi di Kamojang antara lain Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Elang brontok (Nisaetus cirrhatus), dan Elang Ular (Spilornis cheela). Skema Konservasi Elang ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi) Status: IUCN (ENDANGERED) IUCN menyatakan bahwa populasi Elang Jawa ini sangat sedikit dan kemungkinan akan terus berkurang akibat gangguan yang ada di habitat aslinya. Selain kerusakan habitat, perdagangan juga menjadi ancaman bagi Elang Jawa, dilaporkan 30 hingga 40 ekor diperdagangkan dalam setahun. Diharapkan dengan adanya program Pusat Rehabilitasi Elang Kamojang ini, Elang Jawa memiliki tempat tinggal sementara untuk memulihkan diri hingga dinyatakan dapat dilepasliarkan. Beberapa burung yang dianggap dapat dikembangbiakkan akan melalui proses breeding yang diharapkan dapat menambah jumlah spesies langka ini. Elang-elang yang disita dari kepemilikan illegal juga akan

dirawat di dalamnya, dilengkapi dengan sosialisasi terhadap masyarakat diharapkan angka perdagangan akan berkurang. PETA PERSEBARAN ELANG JAWA KAMOJANG (http://www.iucnredlist.org/details/22696165/0-10 September 2014) PETA PERSEBARAN ELANG BIDO KAMOJANG (http://www.iucnredlist.org/details/22695293/0-10 September 2010)

PETA PERSEBARAN ELANG BRONTOK KAMOJANG (http://www.iucnredlist.org/details/22732090/0-10 September 2014) Program Perlindungan Keanekaragaman Hayati Bersama Warga PGE Area Kamojang juga aktif mendorong masyarakat agar ikut menjaga keanekaragaman hayati mulai dari rumah masing-masing. Seperti diketahui, Kamojang kaya akan tumbuhantumbuhan obat. Oleh karena itu Pertamina aktif memberikan edukasi guna meningkatkan pengetahuan sehingga masyarakat dapat mengembangkan dan memanfaatkan tanaman obat keluarga melalui produk herbal. Program ini sudah berjalan dengan baik dan produk-produk herbal masyarakat Kamojang sudah bisa dipasarkan. Perlindungan Fauna juga dilakukan melalui program budidaya domba, yang secara intensif dilakukan dengan pendampingan, monitoring populasi dan kesehatan ternak. Dari program ini diharapkan terbentuknya sentra peternakan berbasis komunitas dengan pembibitan dan penggemukan domba yang dapat meningkatkan perekonomian dan kemandirian sehingga usaha peternakan dapat berkembang. Selain itu, PGE Area Kamojang juga aktif mendorong SDN Kamojang menjadi SD Pelopor Green School di Kabupaten Bandung. Dengan program pelatihan dan pendampingan yang aktif dilakukan, siswa-siswi SDN Kamojang sudah mulai menghijaukan sekolahnya dengan budidaya tanaman-tanaman obat dan tanaman-tanaman produksi. Satu lagi yang tidak kalah menarik, program pengembangan budidaya jamur geothermal. Dimana jamur tiram ditumbuhkan dengan menggunakan uap geothermal yang dihasilkan oleh sumur geothermal milik PT. PGE Area Kamojang. Program ini sangat unik karena selain sebagai program community development, budidaya jamur geothermal ini juga termasuk dalam program

perlindungan keanekaragaman hayati dan efisiensi energi. Program Geo-Tagging satu tamu satu pohon Semenjak tahun 2013, PGE Kamojang memulai program untuk mengedukasi setiap tamu yang datang akan pentingnya menjaga lingkungan hidup dengan menghimbau setiap tamu perusahaan untuk menanam satu setiap tamu di area operasi PGE Area Kamojang dan pohon yang ditanam dapat di kenali secara on line dengan geo-tagging. Hingga Juni 2015 sudah terdapat 233.476 bibit pohon yang ditanam untuk program ini. PGE Area Kamojang September, 2015