R. Indreswari, A. Ratriyanto dan R. Dewanti

dokumen-dokumen yang mirip
EVALUASI PENYULUHAN DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN PETERNAK TENTANG PEMBUATAN SILASE RUMPUT GAJAH

Oleh : Choirotunnisa*, Ir. Sutarto**, Ir. Supanggyo, MP** ABSTRACT. This research aims to study the farmers social-economic

Sutrisno Hadi Purnomo*, Zaini Rohmad**

Penggunaan Tenaga Kerja Keluarga Petani Peternak Itik pada Pola Usahatani Tanaman Padi Sawah di Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci

KETEPATAN ADOPSI INOVASI PETERNAK TERHADAP TEKNOLOGI FERMENTASI JERAMI PADI DI KABUPATEN BULUKUMBA. Agustina Abdullah ABSTRAK

Pepi Rospina Pertiwi, Rinda Noviyanti, Dewi Juliah Ratnaningsih 1. ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. bagian integral dari pembangunan nasional mempunyai peranan strategis dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KAPASITAS PETERNAK PADA TEKNOLOGI PENGOLAHAN JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN DALAM MENDUKUNG INTEGRATED FARMING SYSTEM POLA SAPI POTONG DAN PADI

I PENDAHULUAN. Aman, dan Halal. [20 Pebruari 2009]

EFISIENSI USAHATANI PADI BERAS HITAM DI KABUPATEN KARANGANYAR

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 2 September 2012

DAMPAK PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DENGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH

PERANAN PENYULUH PERTANIAN HUBUNGANNYA DENGAN ADOPSI TEKNOLOGI PADI POLA PTT

ANALISIS FAKTOR EKSTERNAL DAN INTERNAL PELAKSANAAN MINAPADI DI DESA PAYAMAN NGANJUK

Analisis Risiko Usahatani Kedelai Di Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas. Abstract

Istiko Agus Wicaksono Dosen Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Purworejo ABSTRACT. was smaller than t table (t t

TINGKAT ADOPSI PETANI TERHADAP TEKNOLOGI PERTANIAN TERPADU USAHATANI PADI ORGANIK

Animal Agricultural Journal, Vol. 2. No. 2, 2013, p 1-7 Online at :

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia di samping kebutuhan

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian. Menurut Rogers (1983),

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar, Definisi Operasional dan Pengukuran. variabel- variabel yang digunakan dalam penelitian ini akan diukur dan

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KARAWANA KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI DESA LABUAN TOPOSO KECAMATAN LABUAN KABUPATEN DONGGALA

(PERFORMANCE ANALYSIS OF FARMER GROUP AND ITS RELATIONSHIP WITH HOUSEHOLD FOOD SECURITY LEVEL (CASE STUDY IN RASANAE TIMUR SUBDISTRICT BIMA CITY)

ANALISIS USAHATANI TERPADU TANAMAN PADI

PERANAN KELOMPOK TANI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI PADI SAWAH

Analisis Pendapatan Peternak Kambing di Kota Malang. (Income Analyzing Of Goat Farmer at Malang)

dwijenagro Vol. 4 No. 2 ISSN :

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. Penelitian menyimpulkan sebagai berikut:

PENGENALAN TEKNIK USAHATANI TERPADU DI KAWASAN EKONOMI MASYARAKAT DESA PUDAK

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN ANGGERAJA KABUPATEN ENREKANG

PENYULUHAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SAPI POTONG DI GAPOKTAN MAKMUR JAYA KECAMATAN LEMBAH SEGAR KOTA SAWAH LUNTO PROVINSI SUMATERA BARAT

BUDIDAYA ITIK SECARA TERPADU HULU-HILIR KELOMPOK PETERNAK NGUDI LESTARI SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Usaha sektor peternakan merupakan bidang usaha yang memberikan

HUBUNGAN KARAKTERISTIK INOVASI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PETERNAK PADA PENYULUHAN PEMBUATAN SILASE UNTUK TERNAK DOMBA

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PETERNAKAN TRADISIONAL ITIK PETELUR DI KABUPATEN JEMBER.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya

Pedaging di Kabupaten Majalengka

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERBEDAAN PENDAPATAN USAHATANI PADI (Oryza Sativa L) KULTIVAR PADI HITAM LOKAL CIBEUSI DENGAN PADI CIHERANG

ANALISIS TITIK IMPAS DAN RESIKO PENDAPATAN USAHA TERNAK ITIK PETELUR DI DESA SUGIH WARAS KECAMATAN BELITANG MULYA KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR

TINGKAT PARTISIPASI PETANI DALAM KELOMPOK TANI PADI SAWAH TERHADAP PROGRAM SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (SL-PTT)

Herman Subagio dan Conny N. Manoppo Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

VI. ANALISIS USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Peternakan sapi potong merupakan salah satu sektor penyedia bahan

Analisis Break Even Point (BEP) Usahatani Pembibitan Sapi Potong di Kabupaten Sleman

TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI PADA USAHATANI PADI SAWAH SYSTEM

ANALISIS PEMASARAN JAGUNG PULUT (WAXY CORN) DI DESA PAKATTO KECAMATAN BONTOMARANNU KABUPATEN GOWA

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk

Pengembangan Minapadi Kolam Dalam di Kabupaten Sleman

PENETAPAN KINERJA ( PK ) TAHUN 2013 (REVISI) DINAS PERTANIAN PROVINSI JAWA TIMUR

Perilaku Petani Terhadap Program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis Peternakan

KAJIAN TINGKAT INTEGRASI PADI-SAPI PERAH DI NGANTANG KABUPATEN MALANG

PERAN WANITA DALAM USAHATANI PADI SAWAH DI DESA LAWADA KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT. Oleh : Nur Rahmah dan Erni Wati ABSTRAK PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. untuk meningkatkan produktivitas ayam buras agar lebih baik. Perkembangan

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Kerangka Pemikiran

PENGENALAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA TANI PADI SAWAH DI DESA KEBUN KELAPA KECAMATAN SECANGGANG KABUPATEN LANGKAT

AGRISTA : Vol. 4 No. 3 September 2016 : Hal ISSN SIKAP PETANI TERHADAP KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK DI KECAMATAN CAWAS KABUPATEN KLATEN

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA. Berikut ini merupakan gambaran umum pencapaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur :

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani

HUBUNGAN SEJUMLAH KARAKTERISTIK PETANI METE DENGAN PENGETAHUAN MEREKA DALAM USAHATANI METE DI KABUPATEN BOMBANA, SULAWESI TENGGARA

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

PENINGKATAN EFEKTIVITAS HUBUNGAN PENELITI PENYULUH PETANI. Warsana, SP. MSi

I. PENDAHULUAN. Pembangunan peternakan dari tahun ke tahun semakin pesat dengan

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DALAM MENERAPKAN USAHA TANI PADI ORGANIK

EFEKTIVITAS PROGRAM SRI

POTENSI KOMODITAS PETERNAKAN DALAM PEMENUHAN KETERSEDIAAN PANGAN ASAL TERNAK DI KOTA TARAKAN

ADOPSI TEKNOLOGI M-BIO

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan

dwijenagro Vol. 5 No. 2 ISSN :

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha di Indonesia Tahun (Persentase)

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENYULUH DAN ADOPSI TEKNOLOGI OLEH PETANI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN TASIKMALAYA

PERAN SERTA TERNAK SEBAGAI KOMPONEN USAHATANI PADI UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI

PENGARUH KARAKTERISTIK INOVASI TERHADAP PENERIMAAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PADA PESERTA PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA

Analisa ekonomi usaha peternakan broiler yang menggunakan dua tipe kandang berbeda

KAJIAN PERSEPSI DAN ADOPSI PETERNAK SAPI TERHADAP TEKNOLOGI BUDIDAYA SAPI UNGGUL DI KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU

PEMANFAATAN MEDIA INTERNET SEBAGAI MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBERDAYAAN PETANI DI DESA PONCOKUSUMO KECAMATAN PONCOKUSUMO

III KERANGKA PEMIKIRAN

I. PENDAHULUAN. yang cocok untuk kegiatan pertanian. Disamping itu pertanian merupakan mata

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

AGRITECH : Vol. XVII No. 2 Desember 2015 : ISSN :

Transkripsi:

Sains Peternakan Vol. 12 (1), Maret 2014: 56-60 ISSN 1693-8828 Evaluasi Penyuluhan Pemeliharaan Itik Lokal Jantan Berbasis Metode Inditik Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Petani di Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar R. Indreswari, A. Ratriyanto dan R. Dewanti Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126 Email: rysca1103@uns.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil penyuluhan model pemeliharaan itik lokal jantan berbasis metode intensifikasi padi dan itik (Inditik) pada Kelompok Tani Sabar Subur Dusun Kwarasan, Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan menggunakan kuesioner. Data pretest dan posttest diolah dengan Uji Wilcoxon untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah diberi penyuluhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyuluhan cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan petani dalam hal pemahaman terhadap manajemen pemeliharaan itik berbasis metode inditik. Kata kunci: Inditik, pemeliharaan, itik lokal jantan, penyuluhan Evaluation of Extension in Male Local Ducks Maintenance Based Duck and Rice Intensification Method on the Level of Knowledge and Attitude of Farmers ABSTRACT The aimed of this study was to evaluate the results of extension in local ducks maintenance based on duck and rice intensification method at Farmers Group Sabar Subur Kwarasan, Gaum, Tasikmadu, Karanganyar. The data was collected by using questionnaires. Pretest and posttest data were analyzed by the Wilcoxon test to determine the differences in the level of knowledge and attitudes before and after extension. The results showed that extension quite effective in improving farmers' knowledge in terms of understanding the duckling maintenance management based duck and rice intensification method. Keywords: duck and rice intensification method, maintenance, male local ducks, extension PENDAHULUAN Itik merupakan jenis ternak unggas yang umum dipelihara di Indonesia untuk menghasilkan telur. Masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi telur itik. Namun, daging itik belum banyak dikonsumsi. Hal ini dikarenakan daging itik yang dijual umumnya berasal dari itik afkir. Anak itik jantan belum banyak dimanfaatkan. Selain harganya murah, pertumbuhannya juga relatif lebih cepat daripada anak itik betina 56

atau ayam sehingga bisa dimanfaatkan sebagai penghasil daging (Mahfudz et al., 2001). Sebagai unggas air, itik cocok dikembangkan di agroekosistem sawah (Guntoro, 2011). Teknologi intensifikasi padi dengan itik (Inditik) adalah suatu sistem mix farming yang merupakan suatu terobosan intensifikasi padi dengan menggunakan ternak itik. Ternak itik difungsikan sebagai fertilizer, pestisider, herbisider dan tenaga untuk menyiangi padi. Di lain pihak ternak itik mendapatkan area umbaran. Dewasa ini area umbaran semakin sempit karena beralihnya fungsi tanah pertanian. Hasil penelitian Mahfudz et al. (2001) menyatakan teknologi Inditik dapat menekan pakan itik sampai 50% dan produksi padi dapat meningkat 35% dibanding intensifikasi padi biasa. Teknologi Inditik selain menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil juga meningkatkan efisiensi, karena pada lahan yang sama dan dalam waktu yang bersamaan dapat diproduksi dua komoditas sekaligus yaitu padi dan itik. Produknya merupakan bahan pangan organik yang sangat aman dan sehat, karena tidak menggunakan pupuk buatan, pestisida, dan herbisida. Selain itu juga menghemat tenaga menyiangi padi yang akhir-akhir ini semakin langka. Para petani di Dusun Kwarasan, Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu bergabung dalam sebuah kelompok tani yang bernama Sabar Subur. Kegiatan rutin kelompok tani berhubungan dengan pengelolaan pertanian tetapi sistem pertanian yang dikelola masih konvensional. Selain itu banyak petani bermodal kecil yang berharap banyak kepada bantuan pemerintah. Ketersediaan lahan yang masih luas serta berbagai komoditas pertanian yang ada belum mampu dimanfaatkan oleh kelompok tani sebagai sumber ekonomi yang produktif. Oleh karena itu diperlukan kegiatan penyuluhan untuk memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat (dimensi komunikatif) dan kemudian membantu masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperlukan untuk menggunakan informasi dan teknologi secara efektif (dimensi pendidikan) (Leeuwis, 2009). Untuk itu, diperlukan strategi penyuluhan yang tepat agar peserta penyuluhan secara aktif mengikuti kegiatan penyuluhan, sehingga mampu meningkatkan penerimaan dan pengetahuan mereka. Dikaitkan dengan upaya pemberdayaan petani, pengetahuan ini pada akhirnya akan memengaruhi perilaku dalam pengelolaan usahatani ke arah yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil penyuluhan model pemeliharaan itik lokal jantan berbasis metode intensifikasi padi dan itik (Inditik). MATERI DAN METODE Materi yang digunakan adalah lima belas anggota kelompok tani Sabar Subur Dusun Kwarasan, Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. Dalam penelitian ini semua anggota kelompok tani dijadikan sebagai sampel, karena jumlah anggota kurang dari 30, sehingga disebut sampel jenuh (Sugiyono, 2005). Sampel lokasi penelitian ditentukan secara purposive menurut Arikunto (2010). Pemilihan lokasi didasarkan pada tingkat pengetahuan anggota tentang materi pemeliharaan itik berbasis Inditik yang masih relatif rendah. Hal ini dikarenakan belum pernah dilakukan penyuluhan dengan materi tersebut. Responden diberi pretest untuk menentukan pengetahuan dan sikap responden sebelum diberi penyuluhan. Kemudian responden diberi materi penyuluhan tentang manajemen pemeliharaan itik berbasis metode Inditik. Penyuluhan diberikan dengan media power point. Setelah itu responden diberi posttest untuk menentukan pengetahuan dan sikap mereka setelah menerima materi Evaluasi Penyuluhan Pemeliharaan Itik Lokal (Indreswari et al.) 57

penyuluhan. Alokasi waktu penelitian ini ialah sebagai berikut : 1) 15 menit pertama digunakan untuk memberikan penjelasan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan penelitian; 2) 20 menit untuk pretest; 3) 60 menit untuk menyampaikan materi penyuluhan dan diskusi dan 4) 20 menit untuk posttest. Peningkatan pengetahuan dan sikap diukur dengan membandingkan nilai pretest dan posttest dengan uji Wilcoxon. Pertanyaan untuk mengukur nilai pengetahuan dan sikap berbentuk soal obyektif telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Morissan, 2012), terdiri dari sebanyak 20 soal untuk pengetahuan dan sebanyak 10 soal sikap. Aspek pengetahuan yang diukur meliputi bibit, perkandangan, pakan, penyakit dan Inditik. Pertanyaan mengenai sikap diuraikan untuk mengetahui pola pikir petani dalam mengadopsi model pemeliharaan Inditik sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak dan pendapatan. Hasil pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabulasi. Perbedaan nilai pretest dan posttest merupakan perubahan tingkat pengetahuan dan sikap. Untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan sikap digunakan kriteria persentase efektivitas dengan rumus= ((PS PR)/(N2Q PR)) 100%, dimana PS= posttest, PR= pretest, N= jumlah responden, 2= nilai tertinggi, Q= jumlah pertanyaan, 100%= pengetahuan yang ingin dicapai. PS PR merupakan peningkatan pengetahuan dan N2Q PR merupakan nilai kesenjangan. Persentase efektivitas tingkat pengetahuan dibagi atas tiga kriteria (Ginting, 1991) yaitu: kurang efektif (< 32%), cukup efektif ( 32 64%) dan efektif ( 64%). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengetahuan Petani Berdasarkan uji Wilcoxon terdapat perbedaan antara nilai pretest dan posttest. Kegiatan penyuluhan cukup efektif meningkatkan pengetahuan petani dengan efektivitas penyuluhan sebesar 51,25% (Tabel 1). Menurut Sudarta (2002) pengetahuan petani sangat membantu dan menunjang kemampuan untuk mengadopsi teknologi dalam usahatani dan kelanggengan usaha taninya. Semakin tinggi tingkat pengetahuan petani maka kemampuan dalam mengadopsi teknologi di bidang pertanian juga tinggi, demikian pula sebaliknya. Hasil uji Wilcoxon menyatakan terdapat perbedaan yang nyata antara skor pretest dan posttest pada pengetahuan petani di bidang seleksi bibit, perkandangan, pakan, penyakit dan model pemeliharaan inditik (Tabel 2). Penyuluhan cukup efektif meningkatkan pengetahuan petani pada bidang-bidang tersebut. Peningkatan pengetahuan merupakan salah satu indikasi efektifnya penyuluhan yang dilakukan (Kartasaputra 1991). Menurut Kartasaputra (1991) efektivitas penyuluhan dapat mencapai efisiensi dalam mewujudkan perubahanperubahan pada sikap dan tingkat pengetahuan bagi peserta penyuluhan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Efektivitas penyuluhan yang telah dilakukan didukung oleh beberapa faktor, antara lain metode penyuluhan, media penyuluhan, materi penyuluhan serta tempat dan waktu penyuluhan (Setiana, 2005). Metode penyuluhan yang digunakan adalah metode berdasarkan pendekatan massal yang dapat menjangkau sasaran dengan jumlah yang cukup banyak. Metode ini sangat efektif digunakan dalam menimbulkan keingintahuan dan kesadaran peserta penyuluhan terhadap materi yang disampaikan. Media LCD digunakan dalam membantu memperjelas materi yang disampaikan pada peserta penyuluhan. Materi yang disampaikan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan peserta 58 Sains Peternakan Vol. 12 (1), 2014

Tabel 1. Evaluasi hasil penyuluhan Nilai Pretest Nilai Posttest Efektivitas Penyuluhan (%) Pengetahuan 67 354 51,25 Sikap 271 274 1,43 Tabel 2. Evaluasi hasil penyuluhan berdasarkan materi penyuluhan Materi Penyuluhan Efektivitas Penyuluhan (%) Pretest-Posttest Bibit 53,57 Berbeda nyata Perkandangan 48,81 Berbeda nyata Pakan 44,64 Berbeda nyata Penyakit 54,46 Berbeda nyata Inditik 53,57 Berbeda nyata Tabel 3. Pendapat responden terhadap sikapnya dalam melakukan model pemeliharaan berbasis Metode Inditik Klasifikasi Persentase (%) Pretest Posttest Negatif 1,43 0,00 Netral 3,57 3,57 Positif 95,00 96,43 Jumlah 100,00 100,00 penyuluhan sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan sesuai tingkat pendidikan responden. Selain itu, efektivitas penyuluhan juga disebabkan adanya kesesuaian materi dengan kebutuhan peserta. Menurut Umstot (1988), kebutuhan akan memotivasi seseorang untuk berperilaku ke arah pemenuhan kebutuhan tersebut. Semua faktor tersebut mendukung terwujudnya efektivitas penyuluhan yang dilakukan. Hal ini terlihat dengan jelas pada terjadinya peningkatan pengetahuan responden setelah mengikuti penyuluhan dibandingkan sebelum mengikuti penyuluhan. Penyuluhan budidaya ternak itik dapat diterima oleh peserta karena : (1) didasarkan pada analisis sistuasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat, (2) berlandaskan pada kebutuhan untuk mengembangkan ternak itik serta (3) menunjukkan tujuan, solusi permasalahan dan manfaat bagi peternak (Martinez dalam Valera et al., 1987). Selain itu, dari aspek inovasi, pesan penyuluhan juga mampu meningkatkan penerimaan peserta terhadap pesan, karena atribut inovasi berupa relative advantage, compatibility, complexity, triability dan observability memenuhi atribut inovasi yang baik (Rogers, 2003). Atribut inovasi tersebut diantaranya adalah: (1) beternak itik memberi keuntungan baik dari peningkatan sisi pendapatan maupun pemenuhan gizi keluarga; (2) sesuai dengan ketersediaan sumberdaya tenaga kerja, alam dan lingkungan pedesaan; (3) beternak itik relatif sederhana dan mudah dipelajari serta diaplikasikan; (4) mudah dicoba dalam skala rumah tangga dan (5) hasilnya mudah diamati. Sikap Petani Penyuluhan kurang efektif memengaruhi sikap petani dengan efektivitas Evaluasi Penyuluhan Pemeliharaan Itik Lokal (Indreswari et al.) 59

penyuluhan sebesar 1,07% (Tabel 1). Adanya penyuluhan tidak memengaruhi secara nyata sikap petani untuk mau beternak itik dengan metode inditik. Petani sejak awal sebelum penyuluhan sudah mempunyai antusiasme yang tinggi dalam program ini, hal ini dapat dibuktikan nilai pretest pada penilaian sikap sudah sangat tinggi. Sikap positif petani mengapresiasi model pemeliharaan Inditik pada awal program sudah sangat baik (Tabel 3). SIMPULAN Simpulan dari penelitian ini adalah penyuluhan cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan petani dalam hal pemahaman terhadap manajemen pemeliharaan itik berbasis metode Inditik. Penyuluhan tidak cukup efektif memengaruhi sikap petani dikarenakan pada awal program sudah mengapresiasi program Inditik dengan sangat baik. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta, Jakarta. Ginting, E. 1991. Metode Kuliah Kerja Lapang. Universitas Brawijaya, Malang. Guntoro, S. Saatnya Menerapkan Pertanian Tekno-Ekologis, Sebuah Model Pertanian Masa Depan untuk Menyikapi Perubahan Iklim. AgroMedia Pustaka. Jakarta. Kartasaputra, A.G. 1991. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta. Leeuwis, C. 2009. Komunikasi Untuk Inovasi Pedesaan. Diterjemahkan oleh B. E. Sumarah. Kanisius, Yogyakarta. Mahfudz, L.D., U. Atmomarsono, W. Sarengat dan N.S. Yuningsih. 2001. Pengaruh luas lahan pada sistem intensifikasi padi dengan itik (Inditik) terhadap performance itik lokal jantan. Animal Production. Edisi Khusus: 6-12. Morissan, M.A., 2012. Metode Penelitian Survei. Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Rogers, E. M., 2003. Diffusion of Innovations. Fifth Edition. Free Press. New York. Sudarta, W. 2002. Pengetahuan dan Sikap Petani Terhadap Pengendalian Hama Terpadu. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis. SOCA. 2 : 31 34. Sugiyono.2005. Statistika untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung. Umstot, D. D. 1988. Understanding Organizational Bahavior. West Publishing Company. New York. Valera, J. B, V.A. Martines and R. F. Plopino, 1987. An Introduction to Extension Delivery Systems. Island Publishing House, Inc. Manila. 60 Sains Peternakan Vol. 12 (1), 2014