BAB II KAJIAN TEORITIS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi

BAB I PENDAHULUAN. didik untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran peserta didik secara aktif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Meskipun sebenarnya setiap kurikulum pasti ada kekurangan dan perlu dievaluasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kehidupan dalam era global menuntut berbagai perubahan pendidikan yang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia terus

BAB I PENDAHULUAN. orang bisa menjadi apa yang dia inginkan serta dengan pendidikan pula

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya masing-masing. Pendidikan di Indonesia di mulai dari pendidikan

BAB I PENDAHULUAN sangat banyak sekali perubahan setiap pergantian Menteri Pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. pergaulan Pasar Bebas seperti GATT, WTO, AFTA dan pergaulan dunia yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan, manusia dapat mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Astrid Sutrianing Tria, 2014

I. PENDAHULUAN. kehidupan lainnya seperti keluarga, sosial kemasyarakatan, pemerintahan,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 OLEH GURU MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMA NEGERI 1 TENGARAN KABUPATEN SEMARANG

I. PENDAHULUAN. berpengaruh dalam kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga awal dari. terbentuknya karakter bangsa. Salah satu karakteristik bangsa yang

BAB I PENDAHULUAN. karena belajar merupakan kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tanpa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbagai pihak dan pendekatan. Upaya-upaya tersebut dilandasi suatu kesadaran

BAB I PENDAHULUAN. berkreasi serta melakukan inovasi secara optimal yaitu mewujudkan gagasangagasan

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan pendidikan yang terus-menerus dan bersifat fleksibel, yaitu pendidikan harus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan pondasi kemajuan suatu negara, maju tidaknya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dapat dirasakan oleh setiap warga negara. Dengan adanya pendidikan terjadi

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pegangan untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dan watak siswa agar memiliki sikap dan kepribadian yang baik.

BAB I PENDAHULUAN. yang berlaku. Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan. diluncurkan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013.

BAB I PENDAHULUAN. yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sangat dibutuhkan dalam kelangsungan dan kesejahteraan hidup

BAB I PENDAHULUAN. sikap, perilaku, intelektual serta karakter manusia. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kehidupan dalam era global menuntut berbagai perubahan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya manusia dan masyarakat berkualitas yang memiliki kecerdasan

BAB I PENDAHULUAN. mencapai suatu tujuan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang diselenggarakan di negara tersebut. Oleh karena itu, pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. karena pada dasarnya setiap orang membutuhkan pendidikan. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter.

I. PENDAHULUAN. positif dan negatif pada suatu negara. Orang-orang dari berbagai negara

BAB I PENDAHULUAN. pendidikannya. Dalam pengembangan pendidikan di Indonesia pihak

BAB I PENDAHULUAN. baik. Oleh sebab itulah perkembangan teknologi ini harus diimbangi dengan. adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan. berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang

I. PENDAHULUAN. dan dapat menyesuaikan secara aktif dalam kehidupannya. melalui pendidikan yang baik akan dihasilkan sumber daya manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di era globalisasi sekarang ini menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. melalui pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah merupakan kewajiban bagi seluruh. pendidikan Nasional pasal 3 yang menyatakan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi dan informasi dituntut kemampuan ilmu. pengetahuan dan teknologi yang memadai. Untuk menuju pada kemajuan

I. PENDAHULUAN. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Bangsa Indonesia dengan jumlah

ANALISIS KURIKULUM DAN MODEL PEMBELAJARAN GEOGRAFI PERTEMUAN PERTAMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan model utama untuk meningkatkan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama pada era

I. PENDAHULUAN. sesuai dengan penegasan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi,

BAB I PENDAHULUAN. berbasis karakter (competency and character based curriculum), yang dirancang

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Berbagai penemuan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan pondasi dasar dari kemajuan suatu bangsa, tidak ada

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Setiap manusia memerlukan berbagai macam pengetahuan dan nilai. Terkait

BAB I PENDAHULUAN. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1:

BAB I PENDAHULUAN. lebih besar, karena kedudukannya sebagai orang yang lebih dewasa, lebih

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi

2015 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI TERHADAP KREATIVITAS SISWA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dampak globalisasi yang bersifat multidimensional dapat mendorong

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurikulum memainkan peran yang sangat penting dalam Sistem Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa: kecerdasan peserta didik semata, tetapi juga untuk mengembangkan semua

BAB I PENDAHULUHUAN. A. Latar Belakang Masalah. UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. Ketatnya persaingan dalam lapangan kerja menuntut lembaga pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan suatu negara. Tanpa pendidikan suatu negara akan tertinggal jauh

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang dinamis dan syarat akan perkembangan, oleh karena itu

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS X DI SMAN 2 BUNGO. Irma Suryani, Aripudin dan Zulena Fertika

BAB I PENDAHULUAN. berpikir yang melibatkan berpikir konkret (faktual) hingga berpikir abstrak tingkat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada awal abad 21 ini, dunia pendidikan di indonesia menghadapi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalampembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Bab I pendahuluan ini akan dijelaskan mengenai : (A) latar belakang, (B)

BAB I PENDAHULUAN. yang memang harus terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 9. tentang Perlindungan Anak mmenyatakan bahwa setiap anak berhak

Transkripsi:

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Kajian Teori 1. Kurikulum Kurikulum di pandang sebagai suatu rencana menurut S. Nasution, (2014, h. 5) yang di susun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang di rencanakan melainkan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kurikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. Kurikuler yang formal meliputi: a. Tujuan pelajaran, umum dan spesifik b. Bahan pelajaran yang tersusun sistematis c. Strategi belajar-mengajar serta kegiatan-kegiatannya d. Sistem evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai Kurikulum yang tak formal antara lain: pertunjukan sandiwara, pertandingan antar kelas atau antarsekolah, perkumpulan berbagai kegemaran, pramuka, dan lain-lain. 17

18 Penerapan kurikulum merupakan suatu proses yang direncanakan dan menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penelitian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang lebih baik, adapun pengertian kajian kurikulum merujuk pada kegiatan menghasilkan kurikulum. 2. Fungsi kurikulum Kurikulum memiliki berbagai fungsi, Hendyat Soetopo dan Soemanto (2007, h. 84) : membagi kurikulum menjadi 7 bagian yaitu : a. Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Maksudnya bahwa kurikulum merupakan suatu alat atau usaha untuk mencapai tujuan tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sekolah yang dianggap cukup tepat dan penting untuk di capai. b. Fungsi kurikuluum bagi anak. Maksudnya adalah kurikulum sebagai organisasi belajar tersusun yang disiapkan untuk siswa sebagai salah satu konsumsi bagi pendidikan mereka. c. Fungsi kurikulum bagi guru. Dalam kurikulum guru ini fungsi kurikulum dibagi menjadi 3 yaitu : 1) Sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengasosiasikan, pengalaman belajar bagi anak didik. 2) Sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan pengajaran d. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan Pembina sekolah. Dalam arti : 1) Sebagai pedoman melaksanakan fungsi supervisi yaitu meperbaiki situasi belajar. 2) Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi belajar anak kearah yang lebih baik. 3) Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki situasi belajar. 4) Sebagai pedoman untuk mengembangkan kurikulum lebih lanjut.

19 5) Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi kemajuan nelajar mengajar. e. Fungsi kurikulum bagi orang tua murid. Maksudnya adalah orangtua dapat turut serta mebantu usaha dalam kemajuan putera putirinya. f. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah pada tingkat diatasnya. Ada dua jenis yang berkaitan dengan fungsi ini yaitu pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan dan penyiapan tenaga guru. g. Fungsi kurikulum bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah.sekurang kurangnya ada dua hal yang bisadilakukan dalam fungsi ini yaitu pemakai lulusan ikut membantu meberi bantuan guna memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerjasama dengan pihak orang tua atau masyarakat. 3. Asas kurikulum Penerapan kurikulum pada hakikatnya sangat kompleks karena banyak faktor yang terlibat didalamnya. Tiap kutikulum harus mempunyai asas- asas yang mendasarinya, dalam hal ini S. Nasution menetapkan (2014, h. 11 ) empat dasar pokok kurikulum yaitu : a. Asas filosofis yang pada hakikatnya menentukan tujuan umum pendidikan. b. Asas sosiologis, yang memberikan dasar untuk menentukan apa yang akan di pelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. c. Asas organisatoris, yang memberikan dasar dasar dalam bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disuse, bagaimana luas dan urutannya. d. Asas pisikologis, yang memberikan prinsip-prinsip tentang penerapan anak dalam berbagai aspek serta caranya belajar agar bahan yang disediakan dapat direncanakan dan dikuasai oleh anak sesuai dengan taraf perkembangannya.

20 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum Menurut Umar Hamalik (2007, h. 237 ) yang dinamakan dengan implementasi adalah proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga memberikan dampak. Sebelum kurikulum itu diterapkan atau dilaksanakan, ada beberapa faktor sehingga kurikulum perlu di evaluasi. Faktor faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu: a. Karakteristik kurikulum Karakteristik ini dapat mencangkup ruang lingkup bahan ajar, tujuan, fungsi, sifat dan sebagainya. b. Startegi implementasi Strategi implementasi ini yang digunakan dalam implementasi kurikulum, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya, penyediaan buku, kurikulum dan berbagai kegiatan lain sehingga dapat mendorong. c. Karakteristik karakter pengguna kurikulum Karakteristik seperti ini meliputi pengetahuan, keterampilan serta nilai nilai dan sikap terhadap kurikulum dalam pembelajaran.

21 5. Konsep dasar kurikulum 2013 Tema kurikulum 2013 ( E. Mulyasa, kurikulum 2013, h. 99 ) adalah menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif; melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam implementasi kurikulum 2013 guru dituntut untuk secara professional merancang pembelajaran efektif dan bermakna (menyenangkan), mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan kriteria keberhasilan. Implementasi kurikulum 2013 merupakan aktualisasi kurikulum dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta karakter peserta didik. Hal tersebut menuntut keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan dalam berbagai kegiatan sesuai dengan rencana yang telah di program. Pembelajaran yang menyenangkan, efektif dan bermakna dapat dirancang oleh setiap guru, dengan prosedur sebagai berikut : a. Pemanasan dan apresiasi Pemanasan dan apresiasi perlu dilakukan untuk menjajaki pengetahuan peserta didik, memotivasi peserta didik dengan

22 menyajikan materi yang menarik, dan mendorong mereka untuk mengetahui berbagai hal baru. b. Eksplorasi Eksplorasi merupakan tahapan kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan bahan mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. c. Konsolidasi pembelajaran Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaitkan peserta didik dalam pembentukan kompentensi dan karakter. Serta menghubungkannya dengan kehidupan peserta didik. d. Pembentukan sikap, Kompetensi, dan Karakter Pembentukan sikap, kompetensi, dan karakter peserta didik dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut. 1. Mendorong peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian kompetensi, dan karakter yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari hari. 2. Praktekan pembelajaran secara langsung, agar peserta didik dapat membangun sikap, kompetensi, dan karakter baru dalam kehidupan sehari hari berdasarkan pengertian yang dipelajari. 3. Gunakan metode yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap, kompentensi, dan karakter peserta didik secara nyata.

23 e. Penilaian formatif 1. Penilaian formatif perlu dilakukan untuk perbaikan yang pelaksanaannya dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut. 2. Kembangkan cara cara untu menilai hasil pembelajaran peserta didik; 3. Gunakan hasil penilaian tersebut untuk menganalisis kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah masalah yang dihadapi guru dalam membentuk karakter dan kompetensi peserta didik; 4. Pilihan metodologi yang paling tepat sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 6. Tujuan kurikulum 2013 Pendidikan karakter kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui implementasi kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter, dengan pendekatan tematik dan konstektual diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan mengimplementasikan serta merasinalisasi

24 nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Kurikulum 2013 dapat diterapkan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan dan pada berbagai ranah pendidikan. Meskipun demikian, kurikulum ini tidak dapat digunakan untuk memecahkan seluruh permasalahan pendidikan, namun member makna yang lebih signifikan kepada perbaikan pendidikan ( E. Mulyasa, h. 9 ) Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum dikatakan, bahwa: Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang meliputi:. 2. Pengembangan dan pelaksanakan kuriikulum berbasis kompetensi. Dan pada penjelasan Pasal 35, bahwa Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencangkup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.. maka diadakan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk melanjutkan pengembangan kurikulum berbasis komptensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencangkup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta terpadu. Memahami tujuan diatas ( E. Mulyasa, h. 11) bahwa keberhasilan implementasi kurikulum 2013 juga dapat dilihat dari indikator-indikator perubahan sebagai berikut:

25 1. Adanya lulusan yang berkualitas, produktif, kreatif, dan mandiri 2. Adanya peningkatan mutu pembelajaran 3. Adanya peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan dan sumber belajar 4. Adanya peningkatan perhatian serta partisipasi masyarakat 5. Adanya peningkatan tanggung jawab sekolah. 7. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 Pembangunan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, dan konseptual sebagai berikut. 1) Landasan filosofis a) Filosofis pancasila yang memberikan sebagai perinsip dasar dalam pembangunan pendidikan b) Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat 2) Landasan yuridis a) RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang perubahan Metodologi pembelajaran dan penatan kurikulum. b) PP No. 19 Tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan.

26 c) INPRES Nomor 1 Tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan Nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa 3) Landasan konseptual a) Relevansi pendidikan ( link and match ) b) Kurikulum berbasis kompentensi dan karakter c) Pembelajaran kontekstual ( contextual teaching and learning ) d) Pembelajaran aktif ( student active learning ) e) Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh 8. Pengertian Ekonomi Menurut Sigit Winarno, dan Sujana Ismaya ( 2007, h. 177 ) dalam kamus besar Ekonomi, economics diartikan sebagai ilmu ekonomi merupakan yang mempelajari asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan, seperti keuangan, perindustrian, dan perdagangan ilmu yang mempelajari usaha-usaha manusia utuk memenuhi kebutuhannya

27 Berdasarkan pendapat diatas, maka mata pelajaran ekonomi dapat diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah yang mempelajari usaha manusia memenuhi kebutuhan. B. Hasil Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu Nama Peneliti Tahun Judul peneliti Hasil penelitian AJENG DYNA 2012 Penerapan Hasil penelitian Kurikulum Tingkat menunjukan pada Satuan Pendidikan nilai ujian akhir Pada Pelajaran Mata smester siswa kelas XI Program IPS Akuntansi yang mengalami Berkaitan Dengan peningkatan hanya Prestasi Belajar saja belum Siswa Di SMA 1 Pasundan Bandung mencapai peneliti KKM, menyimpulkan bahwa penerapan kurikulum tingkat

28 satuan pendidikan ( KTSP ) pada mata pelajaran ekonomi gagal karena dilakukan meskipun setiap smester nillai siswa mengalami peningkatan, para siswa tida bisa melebihi bahkan atau mencapai WAHYU RISHANDI 2015 Pengaruh Penerapan nilai sesuai KKM. Kurikulum belajar benar-benar Kurikulum diterapkan di Terhadap Pendidikan Daarul Bandung Mutu SMA Qur an Sekolah menengah atas Daarul Qur;an Bandung. Penerapan kurikulum dilakukan ini untuk

29 mempermudah dan memperlancar jalannya proses belajar mengajar di sekolah. Kurikulum pendidikan yang diterapkan kepada siswa di sekolah menengah Daarul atas Qur an adalah yang kurikulum dapat menciptakan siswa yang berkualitas, disiplin, kreatif dan aktif. sehingga ARYA DIMITRI HARDJOJO 2014 Implementasi Kurikulum 2013 dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kurikulum 2013 yang sangat ideal

30 Pada Pelajaran Mata yang menggunakan pendektan seintifik Pendidikan Agama Islam Di SMA dan autentik penilaian Negeri 26 (mencangkup Bandung Tahun potensi berimbang Ajaran 2014-2015 antara pengetahuan sikap, dan keterampilan). C. Kerangka Pemikiran Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan penuh dengan ketidak pastian, diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk kepentingan tersebut Pemerintah melakukan penataan kurikulum. Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi ( KBK ) yang pernah diuji cobakan pada tahun 2004. Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum dikatakan, bahwa: Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang meliputi:. 2. Pengembangan dan pelaksanakan

31 kuriikulum berbasis kompetensi. Dan pada penjelasan Pasal 35, bahwa Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencangkup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.. maka diadakan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk melanjutkan pengembangan kurikulum berbasis komptensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencangkup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta terpadu. Pengembangan kurikulum 2013 dimaksudkan untuk menghasilkan insan Indonesia yang : produktif, kreatif, inovatif, afektif; melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam hal ini pengembangan kurikulum di fokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa paduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara kontekstual. Pendidikan adalah bagian dari proses kebudayaan, karena pendidikan ini merupakan alat untuk meningkatkan kebudayaan melalui proses enkulturasi. Menurut Koentjaraningrat (2006, h. 186) bahwa proses enkulturasi adalah proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sifat terhadap adaptasi, sistem norma dan semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan seseorang atau dapat disebut juga pembudayaan. Menurut beliau ada tiga wujud kebudayaan yaitu :

32 1. Wujud kebudayaan sebagai kompleks, ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. 2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola manusia dalam masyarakat. 3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Komponen pendidikan juga memegang peranan yang sangat penting, oleh karena itu kandungan utama dalam kurikulum yang terdiri dari tujuan pendidikan materi yang akan diberikan, metode mengajar dan cara penilaian. Sedangkan menurut S. Nasution (2014, h. 9 ) komponen kurikulum yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum ialah, menentukan latar belakang kurikulum, bahan ajar atau materi, tujuan, hasil belajar, dan penilaian atau evaluasi. Adapun faktor penunjang dan penghambat akan selalu menyertai kurikulum disekolah. Faktor penunjang keberhasilan penyelnggaraan pendidikan dapat meliputi faktor intern dan ekstern. Faktor penghambat penyelnggara pendidikan juga terdapat dalam intern dan ekstern. Untuk mengetahui factor penghambat perlu diadakan evaluasi secara berjenjang dan berkesinambungan. Usaha ini dilakukan supaya mutu pendidikan semakin meningkat, sehingga prestasi belajar siswa sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

33 Menurut Sigit Winarno, dan Sujana Ismaya ( 2007, h. 177 ) dalam kamus besar Ekonomi, economics diartikan sebagai ilmu ekonomi merupakan yang mempelajari asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan, seperti keuangan, perindustrian, dan perdagangan ilmu yang mempelajari usaha-usaha manusia utuk memenuhi kebutuhannya. Kendala Kurikulum 2013 dalam proses belajar mengajar Faktor Internal meliputi: 1. Kesehatan 2. Intelegensi 3. Perhatian 4. Minat dan Bakat 5. Kematangan 6. Kesiapan 7. Kelelahan Faktor Eksternal Meliputi : 1. Metode Mengajar 2. Struktur Kurikulum 3. Fasilitas Pembelajaran 4. Keadaan Ekonomi Keluarga Gambar 2.1. Paradigma Penelitian Kajian Kurikulum 201

34 D. Asumsi Asumsi adalah titik tolak penelitian yang digunakan sebagai dasar penelitian secara umum. Arikunto (2010, h. 58) mengemukakan bahwa dalam penelitian perlu perumusan anggapan dasar, tujuan anggapan dasar: 1. Agar ada dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti. 2. Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatiannya 3. Guna menentukan dan merumuskan hipotesis Asumsi merupakan sesuatu yang dianggap konstan atau tidak mempengaruhi, asumsi dapat berhubungan dengan syarat-syarat, kondisi-kondisi dan tujan, asumsi member petunjuk dan arah argumentasi. Berdasarkan penegertian diatas maka penulis merumuskan asumsi sebagai berikut : a. Kurikulum 2013 yang digunakan untuk dapat meningkatkan proses belajar mengajar dan membentuk sikap dan moral yang lebih baik terhadap peserta didik b. Hasil belajar yang dicapai siswa yang belum maksimal, ditandai dengan nilai rata rata kelas untuk mata pelajaran ekonomi yang masih rendah dan penilaian yang tidak objektif disetiap penilaian masing masing peserta didiknya.

35 Penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa kurikulum 2013 berhasil dalam meningkatkan proses belajar mengajar terutama pada mata pelajaran ekonomi. Atau dengan kata lain, jika aktivitas-aktivitas peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar dikelas melalui tahap-tahap pengembangan. 1. Bagaimana pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 22 Bandung? 2. Apakah ada peningkatan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran ekonomi saat penggunaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran kurikulum 2013?