Abstract. Keywords : Thynnichthys thynnoides, Pinang Luar Oxbow Lake, morphometric, meristic, growth patterns

dokumen-dokumen yang mirip
Abstract Keywords : Osteochilus wandersii, Rokan Kiri River, morphometric, meristic, growth patterns


Keywords: Kampar rivers, Ompok sp, relative growth, Siak rivers

MERISTIK, MORFOMETRIK DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN SEPAT MUTIARA (Trichogaster leeri) DI RAWA BANJIRAN SUNGAI TAPUNG RIAU

Meristik, morphometric, FISH GROWTH PATTERNS AND PEARL Sepat (Trichogaster leeri). Abstract

KARAKTERISTIK MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN LAIS DANAU (Ompok hypophthalmus Bleeker, 1846) DI SUNGAI TAPUNG DAN SUNGAI SIAK

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2014.

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

PENGAMATAN FEKUNDITAS IKAN MOTAN (Thynnichthys polylepis) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DARI WADUK KOTO PANJANG, PROVINSI RIAU

By Siti Muryati 1, Ridwan Manda Putra 2, Deni Efizon 2 Faculty of Fisheries and Marine Science, University of Riau

MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN BUNTAL HIJAU (Tetraodon nigroviridis, Marion de Procé (1822)) DI MUARA PERAIRAN BENGKALIS PROVINSI RIAU

Abstrak. notopterus, Sungai Sail, morfometrik, meristik, pola. Abstract

I. PENDAHULUAN. sumber daya perairan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Perikanan adalah

MORFOMETRIK IKAN TAPAH (Wallago leeri Bleeker, 1851) DARI SUNGAI SIAK DAN SUNGAI KANDIS PROVINSI RIAU

MORFOMETRIK IKAN SELAIS PANJANG LAMPUNG (Kryptopterus apogon) DI SUNGAI KAMPAR KIRI DAN SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Sungai Tabir merupakan sungai yang berada di Kecamatan Tabir Kabupaten

IDENTIFIKASI IKAN. Ani Rahmawati Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UNTIRTA. Mata Kuliah Iktiologi

MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN BUNTAL PISANG (Tetraodon lunaris) DI PERAIRAN LAUT DAN PAYAU KABUPATEN BENGKALIS. Mahasiswa Program Studi S1 Biologi

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Cuvier (1829), Ikan tembakang atau lebih dikenal kissing gouramy,

- Keterkaitan faktor fisika-kimia perairan terhadap karakter morfometrik tubuh. spp. dari bebcrapa lokasi penelitian di sungai Kampar dan sungai

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan Belida (Chitala lopis) (Dokumentasi BRPPU Palembang, 2009)

Studi Morfometrik dan Meristik Ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) di Sungai Belumai Kabupaten Deli Serdang

3. METODE PENELITIAN

bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek

Gambar 3. Karakter morfometrik dan meristik Kryptopterus spp. yang diukur

KEPADATAN POPULASI IKAN JURUNG (Tor sp.) DI SUNGAI BAHOROK KABUPATEN LANGKAT

JUPE, Volume 1 ISSN Desember 2016 IDENTIFIKASI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN DI PANTAI JERANJANG

BAB III METODE PENELITIAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.66/MEN/2011 TENTANG

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)

STUDI MORFOLOGI BEBERAPA JENIS IKAN LALAWAK (Barbodes spp) DI SUNGAI CIKANDUNG DAN KOLAM BUDIDAYA KECAMATAN BUAHDUA KABUPATEN SUMEDANG

TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh

1b. Bibir bagian atas terpisah dari moncongnya oleh suatu lekukan yangjelas;pangkal bibir atas tertutup oleh lipatan kulit moncong 5

KAJIAN BIOLOGI IKAN TEMBAKANG (Helostoma temminckii) DI RAWA BAWANG JUYEUW KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT ABSTRAK

SWAMP EELS (Synbranchus sp.) JENIS YANG BARU TERCATAT (NEW RECORD SPECIES) DI DANAU MATANO SULAWESI SELATAN *)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)

II. TINJAUAN PUSTAKA. : Octinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Osteochilus vittatus ( Valenciennes, 1842)

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan dimulai dari bulan Agustus 2011

DESKRIPSI IKAN FAMILI MUGILIDAE DI LIMA MUARA SUNGAI DI SULAWESI UTARA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

EFEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE GAP) PADA ALAT TANGKAP PENGILAR UNTUK MENUNJANG KELESTARIAN SUMBERDAYA IKAN

Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

Aquatic Plant and Fish Assosiation in the Parit Belanda River, Meranti Pandak Village, Rumbai Pesisir District, Pekanbaru Regency, Riau Province By:

Reproductive Biology of Featherback Fish (Notopterus notopterus Pallas, 1769) from the Sail River, Pekanbaru Regency, Riau Province

CONCENTRATION OF CHLOROPHYL-a IN THE SOLOK PULAU LAKE, TANJUNG BALAM VILLAGE, SIAK HULU SUB DISTRICT, KAMPAR DISTRICT, RIAU PROVINCE ABSTRACT

MORFOMETRIK DAN MERISTIK IKAN IKAN PARANG PARANG (Chirocentrus dorab Forsskal, 1775) DI PERAIRAN BENGKALIS

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

IKAN HARUAN DI PERAIRAN RAWA KALIMANTAN SELATAN. Untung Bijaksana C / AIR

III. METODE PENELITIAN

INVENTARISASI JENIS-JENIS IKAN CYPRINIFORMES DI SUNGAI ROKAN KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

Ichtyofauna in the Sok-sok Holbung, Aek Isa small river, Simarpinggan Village, Sipoholon District, North Tapanuli Regency, North Sumatera Province.

TINJAUAN PUSTAKA. : Actinopterygii. : Cypriniformes. Spesies : Barbichthys laevis (Froese and Pauly, 2012)

JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman Online di :

The Vertical Profile Of Nitrate and Orthophosphate in Pinang Luar Oxbow Lake Buluh China Village Siak Hulu Sub District Kampar District Riau Province

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan karena lingkungan air tawar memiliki beberapa kondisi, antara lain:

Ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch 1790) Bagian 1: Induk

HUBUNGAN PANJANG-BERAT DAN FAKTOR KONDISI WADER PARI (Rasbora lateristriata) DI SUNGAI NGRANCAH, KABUPATEN KULONPROGO

3 METODE PENELITIAN. Gambar 4 Peta lokasi penelitian.

ANALISIS KELEMBAGAAN PEMASARAN DAN MARGIN TATANIAGA HASIL PERIKANAN TANGKAP DIDESA BULUH CINA KECAMATAN SIAK HULU KABUPATEN KAMPAR PROVINSI RIAU By

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi

Status taksonomi ikan laut lokal Tarakan, Kalimantan Utara sebagai langkah awal upaya konservasi

Pengenalan Jenis Ikan, Identifikasi dan Pengamatan Ciri-Ciri Seksual Sekunder Pada Ikan Cupang (Betta sp.)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan Lumo (Labiobarbus ocellatus) menurut Froese R, Pauly D

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SENGARAT (Belodontichtys dinema, Bleeker 1851) DI SUNGAI TAPUNG, PROVINSI RIAU ABSTRACT

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

JENIS - JENIS IKAN SELAIS (Pisces: Siluridae) DI SUNGAI KUMU KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

SIKLUS REPRODUKSI TAHUNAN IKAN RINGAN, TIGER FISH (Datnioides quadrifasciatus) DI LINGKUNGAN BUDIDAYA AKUARIUM DAN BAK

3. METODE PENELITIAN

ANALISIS MORFOMETRIK IKAN NILA ( Oreochromis niloticus L.) DI KELURAHAN SAYANG-SAYANG KOTA MATARAM SEBAGAI BAHAN AJAR MATA KULIAH TAKSONOMI HEWAN II

BAB I PENDAHULUAN UMUM

TINGKAT KEMATANGAN KELAMIN DAN FREKUENSI PANJANG PARI GITAR (Rhinobatus sp.1 dan Rhinobatus sp. 2)

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari April hingga September

TEKNIK PENGUKURAN MORFOLOGI LABI LABI (Amyda cartilaginea) DI SUMATERA SELATAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Desember 2013 di Sungai

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda

TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.48/MEN/2012 TENTANG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

J. Aquawarman. Vol. 3 (1) : April ISSN : AQUAWARMAN

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

Hubungan Panjang Berat,...Mirna Dwirastina dan Makri,...Sainmatika,...Volume 10,...No.2,...Desember 2013,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan lentik. Jadi daerah aliran sungai adalah semakin ke hulu daerahnya pada

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 26/MEN/2004 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN LELE SEBAGAI VARIETAS UNGGUL

Keyword: Osteochilus wandersii, Rokan Kiri River, GSI, fecundity, and eggs diameter

Jenis Jenis Ikan Arus Deras di Hulu Sungai Mentuka Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013

STUDY ON THE PVC TRAP FOR ELL (Monopterus albus)

3. METODE PENELITIAN

Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan) Vol.25 (1) April 2015: ISSN:

Morfologi Ikan BENTUK TUBUH

Transkripsi:

1 Morphometric, meristic and growth patterns of (Thynnichthys thynnoides Bleeker, 1852) from the Pinang Luar Oxbow Lake, Buluhcina Village, Kampar Regency, Riau Province By Nofika Srijayanti 1), Ridwan Manda Putra 2), Deni Efizon 3) Faculty of Fisheries and Marine Science, university of Riau Email : Nofikasrijayanti@yahoo.co.id Abstract Thynnichthys thynnoides or motan fish is freshwater fish that inhabit the Pinang Luar Oxbow Lake. This fish has high economical value, around Rp. 25.000-35.000 /kg. To understand the morphometrical, meristical characteristics and growth pattern of this fish, a research had been conducted from March-May 2016. There were 149 fishes (75.04-181.57 mm TL and 3,78-53,77 gr BW) were captured from the lake. There were 26 morphological characteristics measured and 9 meristical characteristics counted. General body form of the fish is not changing as the fish growing. The meristical characteristics of the fish were as follow : D.I.27-29, P.10.5, V.II.5-8, A.5-7.2, C.10-12.9, the number of scale in the pre-dorsal fin 45-50, around the body was 46-48, the caudal peduncle was 12-14 and the lateral line was 58-60. The length-weight relationship shown that the growth of male is negative allometric (b= 2.975), but that of the female was positif allometric (b= 3.092). The water quality parameters shown that temperature 26-28 0 C, transparency 22-49 cm, ph 6, DO 4.6-6.2 mg/l, CO 2 5.8-8.5 mg/l and depth 108-520 cm. Data on water quality parameters indicate that water quality in the Pinang Luar Oxbow Lake is able to support the life of the motan fish. Keywords : Thynnichthys thynnoides, Pinang Luar Oxbow Lake, morphometric, meristic, growth patterns 1). Student of the Fisheries and Marine Science Faculity, Riau University 2). Lecture of the Fisheries and Marine Science Faculity, Riau University PENDAHULUAN Provinsi Riau memiliki potensi sumberdaya perairan yang tinggi, dimana terdapat empat sungai besar yang ada di Riau, yaitu Sungai Kampar, Sungai Siak, Sungai Indragiri dan Sungai Rokan. Keempat sungai ini mempunyai peranan penting dalam mendukung kehidupan organisme perairan yang hidup diperairan tersebut. Selain itu juga terdapat danau, rawa dan oxbow yang terletak disekitar aliran sungai dan anak sungai. Perairan tersebut juga mempunyai potensi untuk pemba-ngunan di bidang perikanan, yaitu sumberdaya hayati ikan, udang dan biota lainnya. Jika sumberdaya alam tersebut dikelola dengan baik dan bijaksana serta tidak melebihi potensi lestarinya tentulah akan tetap

2 memberikan keuntungan yang besar untuk menambah devisa negara. Kabupaten Kampar adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Riau yang memiliki perairan yang cukup luas, seperti sungai, waduk, danau tapal kuda (oxbow) dan rawa. Salah satu kecamatan di Kabupaten Kampar yang memiliki potensi perairan khususnya oxbow adalah Kecamatan Siak Hulu. Di Desa Buluhcina terdapat 7 (tujuh) oxbow yang cukup luas, yaitu Danau Tuok Tongah, Danau Tanjung Putus, Danau Baru, Danau Pinang Dalam, Danau Pinang Luar, Danau Tanjung Balam dan Danau Tangun (Kantor Kepala Desa Buluhcina, 2016). Danau Pinang Luar berada di bagian hilir Sungai Kampar. Danau ini mendapatkan air dari Sungai Kampar, pada saat musim hujan danau tersebut akan penuh karena dibanjiri oleh luapan dari Sungai Kampar, sedangkan pada saat musim kemarau air danau tersebut akan berkurang. Dampak pasang surutnya air di danau membuat kondisi perairan danau menjadi tidak stabil serta kualitas perairan juga berubah-ubah, terutama kedalaman, kekeruhan, oksigen terlarut, suhu, dan ph. Perubahan kualitas air tersebut berpengaruh pada biota yang hidup di danau tersebut. Danau Pinang Luar yang berada di Desa Buluhcina memiliki suatu model pengelolaan yang akan menjaga kelestarian danau tersebut. Model yang dibuat, yaitu mengontrakkan danau kepada penduduk selama 2 tahun, dimana kelompok yang mengontrak danau tersebut saja yang boleh mengelola danau. Sewa kontrak danau dipergunakan untuk dana pembangunan Desa Buluhcina. Bagi yang tidak masuk dalam kelompok yang mengontrak danau tersebut maka hanya diperkenankan menggunakan pancing untuk menangkap ikan. Ikan genus Thynnichthys terdiri dari 3 spesies, yaitu Thynnichthys thynnoides, T. polylepis dan T. vaillanti. Di danau oxbow Pinang Luar hanya dijumpai 2 spesies diantaranya T. thynnoides dan T. vaillanti. Ikan Motan yang paling dominan dijumpai adalah spesies Thynnichthys thynnoides. Ikan tersebut merupakan ikan air tawar yang hidup di sungai besar, kanal, danau tapal kuda dan rawa banjiran. Ikan ini bersifat potamodromus, yaitu melakukan migrasi dari sungai ke rawa banjiran untuk melakukan pemijahan saat volume air di rawa banjiran meningkat (Tutupoho, 2008). Populasi ikan motan di Danau Oxbow Pinang Luar cukup banyak. Hal ini ditandai dengan banyaknya hasil tangkapan nelayan setiap hari (Ulva, 2014). Saat ini ikan motan merupakan ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis dan paling banyak diminati dan dicari nelayan di daerah Kampar (Simanjuntak et al., 2009). Harga ikan motan pada saat ini mencapai harga Rp. 25.000-35.000/kg. Dikhawatirkan pada saat ini dan yang akan datang ikan motan ditangkap dalam jumlah yang banyak, namun tidak dipikirkan bagaimana kelangsungan hidupnya. Eksploitasi yang berlebihan akan menyebabkan ikan motan terganggu regenerasinya. Untuk itu diperlukan berbagai upaya sebelum potensi ikan ini terancam. Penelitian ini perlu dilakukan untuk mendeskripsikan parameter pertumbuhan ikan motan yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Informasi mengenai pertumbuhan

3 tersebut dapat dijadikan dasar pengelolaan sumberdaya ikan motan, terutama di Oxbow Pinang Luar. Pengelolaan yang sesuai ditujukan agar sumberdaya ikan motan dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengurangi atau bahkan memusnahkan sumberdaya ikan motan di alam. Terbatasnya informasi mengenai ikan motan juga merupakan dasar pemikiran untuk melakukan penelitian ini. Informasi ikan motan yang ada pada saat ini baru biologi METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2016 di Oxbow Pinang Luar Desa Buluhcina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Pengamatan dan pengukuran sampel ikan dilakukan di Laboratorium Biologi Perairan dan di Laboratorium Terpadu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Sedangkan pengukuran kualitas air seperti suhu, kedalaman, kecerahan, DO dan CO 2 dilakukan langsung di lapangan di lokasi tempat pengambilan sampel. Bahan yang digunakan untuk pengamatan dan pengukuran ikan adalah ikan motan yang diperoleh dari nelayan di Oxbow Pinang Luar Desa Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Alat yang digunakan dalam penelitian meristik, morfometrik dan pola pertumbuhan ikan motan adalah Timbangan O Haus ketelitian 0,1 (gr), Cool box, Pengaris atau jangka sorong, Mikroskop dissecting merk Olympus SZ 51, Pena dan Pensil, Camera digital, Peralatan secio, Kertas label, Jaring (gill net), Sempirai dan Jala. reproduksi ikan motan (Thynnichthys polylepis) secara histologi di Waduk PLTA Koto Panjang (Murtini, 2007). Sedangkan informasi tentang pola pertumbuhan ikan motan di Oxbow Pinang Luar sampai saat ini belum ada penelitian yang dilakukan. Berdasarkan hal itulah penelitian ini perlu dilakukan untuk melihat morfometrik, meristik dan pola pertumbuhan ikan Motan di Danau Oxbow Pinang Luar desa Buluhcina Kabupaten Kampar Provinsi Riau Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dimana data yang dikumpulkan sesuai dengan fakta yang terdapat dilapangan dan pengamatan secara langsung, metode tersebut mengacu pada Saebani (2008). Oxbow Pinang Luar Desa Buluh Cina dijadikan lokasi survei sedangkan ikan motan dan lingkungan perairannya dijadikan sebagai objek penelitian. Untuk mendapatkan data mengenai morfometrik dan meristik, maka data yang dikumpulkan berupa data primer yang didapat dari pengukuran terhadap ikan sampel di laboratorium, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur yang berhubungan dengan moerometrik, meristik dan pola pertumbuhan ikan tersebut. Metode Perhitungan Morfometrik dan Meristik Ikan Sampel yang dapat didapat dari lapangan dibawa ke Laboratorium Biologi Perairan untuk dilakukan pengukuran Morfometrik. Ikan sampel yang di ukur sebelumnya dibekukan dalam Freezer. Adapun bagian tubuh yang diukur dapat pada Gambar 1.

4 Gambar 1. Pengukuran Morfometrik ikan Motan (T. thynnoides) Keterangan Gambar 2: 1) Panjang total (PT) 2) Panjang baku (PB) 3) Panjang kepala (PK) 4) Tinggi kepala (TK) 5) Tinggi badan (TB) 6) Tinggi batang ekor (TBE) 7) Jarak mulut ke sirip punggung (JMSD) 8) Jarak mulut ke mata (JMM) 9) Jarak mulut ke pangkal sirip dada (JMSP) 10) Jarak mulut ke pangkal sirip perut (JMSV) 11) Jarak sirip dorsal ke pangkal sirip ekor (JSDSC) 12) Jarak sirip perut ke pangkal sirip anus (JSVSA) Tabel 1. Perhitungan Meristik Bagian Tubuh Ikan Motan No. Pengukuran 1. Jumlah jari-jari sirip punggung 2. Jumlah jari-jari sirip dada 3. Jumlah jari-jari sirip perut 4. Jumlah jari-jari sirip anus 5. Jumlah jari-jari sirip ekor 6. Jumlah sisik di depan sirip punggung 7. Jumlah sisik dikeliling badan 8. Jumlah sisik di batang ekor 9. Jumlah sisik di gurat sisi 13) Jarak sirip anus ke pangkal sirip ekor (JSASC) 14) Diameter mata (DM) 15) Jarak mata ke tutup insang (JMTI) 16) Panjang dasar sirip dada (PDSP) 17) Tinggi sirip dada (TSP) 18) Panjang dasar sirip punggung (PDSD) 19) Tinggi sirip punggung (TSD) 20) Panjang dasar sirip ekor (PDSC) 21) Tinggi sirip ekor (TSC) 22) Panjang dasar sirip anus (PDSA) 23) Tinggi sirip anus (TSA) 24) Panjang dasar sirip perut (PDSV) 25) Tinggi sirip perut (TSV) 26) Lebar Badan HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi Penelitian Oxbow Pinang Luar merupakan salah satu dari tujuh danau oxbow yang terdapat di Desa Buluhcina. Secara geografis Oxbow Pinang Luar terletak pada posisi 00 0 21 24,5-00 0 21 28,4 LU dan 101 0 32 16,1-101 0 32 29,9 BT Pada bagian Utara Oxbow ini berbatasan dengan sungai Kampar Kanan. Sebelah Tenggara dengan Danau Pinang Dalam. Oxbow Pinang Luar dengan sungai Kampar dan antara Oxbow Pinang luar dengan Oxbow Pinang Dalam saling berhubungan, sehingga Oxbow Pinang Lur memiliki saluran air masuk dari sungai Kampar dan air keluar ke Oxbow Pinang Dalam.

5 Pada saat musim hujan permukaan air Sungai Kampar akan naik (banjir), maka permukaan air di Oxbow Pinang Luar juga ikut naik. Sedangkan pada musim kemarau, permukaan air di Oxbow Pinang Luar akan turun. Warna air Oxbow Pinang Luar berwarna coklat kehitaman disebabkan oleh sejumlah bahan organik yang mengendap didalamnya. Oxbow Pinang Luar dikelilingi hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar seperti Rengas dan Rotan, sedangkan vegetasi tumbuhan air pada danau ini berupa eceng gondok, kangkung air, pandan air. Morfologi Ikan Motan (T. thynnoides) Jumlah Ikan yang tertangkap pada penelitian ini adalah 149 ekor yang terdiri dari 49 ekor betina dan 100 ekor jantan. Ikan ini memiliki kisaran pnjang total (PT) yaitu 75,04-181,57 mm dan berat 3,78-53,77 gr. Ciri morfologi ikan motan adalah mempunyai kepala yang meruncing, mulut terletak di anterior atau ujung depan kepala atau agak kebawah dan kecil, dan moncongnya dapat disembulkan ke depan (Protactil). ikan motan mempunyai lipatan bibir yang kecil pada sudut rahang, operculum mempunyai kelopak yang besar dan tidak memiliki sungut sisik berwarana putih keperakan, panjang tubuhnya lebih panjang daripada tinggi tubuhnya, bentuk tubuhnya pipih memanjang seperti anak panah (Sagitiform) dan bilateral simetris. Garis rusuk lurus dan memanjang ke tengah-tengah ekor, sirip punggung memanjang sampai ke batang ekor, sirip punggug terpisah dengan sirip ekor. Posisi dasar sirip dada miring 45 0 hampir horizontal (obligue), terletak di bawah gurat sisi persis di bawah tutup insang. Posisi sirip perut abdominal dan memiliki ekor yang bercagak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Saanin (1968) yang menyatakan bahwa ikan motan memiliki sisik garis rusuk 58-60, tidak bersungut, sirip punggung dengan 8-10 jari-jari lemah bercabang. mata tidak berkelopak seperti agar-agar yang lebar dan seperti cincin. Jari keras sirip dubur tidak bergigi sebelah ke belakang. Berlipatan hidung yang mendatar dan dasarnya membungkus tulang rahang atas dan menutupi dasar bibir atas, mulut di muka atau sedikit kebawah. Permulaan sirip punggung di muka, di atas atau sedikit di belakang permulaan sirip perut. Garis rusuk terbentang pada pertengahan ekor. Secara morfologi terdapat perbedaan ikan motan jantan dan betina, pada ikan jantan warna tubuh lebih cerah dengan sisik berwarana abu-abu keperakan, sedangkan pada ikan betina warna tubuh atau sisiknya tidak terlalu cerah. Bentuk kepala ikan jantan lebih kecil dan lebih tajam, sedangkan pada ikan betina lebih panjang dan tumpul. Bentuk tubuh ikan betina lebih bulat daripada bentuk tubuh ikan jantan. Ikan motan memiliki bentuk sisik cycloid. Pada sisik ini terdapat garis-garis yang merupakan sirkuli. Putra et al., (2016) menyatakan bahwa sisik cycloid biasanya ovoid/bulat lingkaran. Garis-gris yang terdapat pada sisik itu ada yang merupakan sirculi dan ada juga berupa annuli. Hal ini sesuai dengan pendapat Lagler (1977) yang menyatakan bahwa jenis sisik cycloid merupakan jenis sisik yang terdapat pada family Cyprinidae.

6 Secara ekomorfologi diperkirakan bentuk tubuh ikan motan menunjang gerakan berenang di permukaan atau sedikit di bawah permukaan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Kottelat et al., (1993) yang menyatakan bahwa ikan-ikan yang memiliki bentuk mulut superior, bentuk punggung memipih dan perut meruncing biasanya ikan-ikan yang berenang di permukaan atau sedikit di bawah permukaan. Morfometrik Ikan Motan (T. thynnoides) Karakter morfometrik yang diukur pada penelitian ini ada 26 karakter. Hasil pengukuran berbagai karakter ini dibandingkan dengan panjang total (panjang total sebagai acuan/refrensi). Seluruh hasil pengukuran karakter morfometrik ikan motan dapat dilihat pada Lampiran 9. Sedangkan ukuran minimum dan maksimum dari karakter morfometrik lainnya yang diukur dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Ukuran Minimum dan Maksimum Ikan Motan (mm) (T. thynnoides) No. Karakter Morfometrik Ikan Betina Ikan Jantan Kode Max Min Max Min 1 Panjang Total PT 143.81 77.23 181.57 75.04 2 Panjang Baku PB 119.45 57.73 144.03 56.81 3 Panjang Kepala PK 35.81 12.57 34.44 12.99 4 Tinggi Kepala TK 26.97 10.86 26.90 10.91 5 Tinggi Badan TB 34.87 16.51 37.54 15.37 6 Tinggi Batang ekor TBE 14.54 5.42 13.00 5.39 7 Jarak Mulut sirip punggung JMSD 54.94 23.37 53.87 22.23 8 Jarak Mulut ke Mata JMM 11.47 3.77 9.96 3.11 9 Jarak Mulut sirip Dada JMSP 38.12 10.95 32.95 14.02 10 Jarak Mulut sirip Perut JMSV 56.11 29.89 71.82 28.44 11 Diameter Mata DM 9.87 4.80 10.68 4.72 12 Jarak sirip anal sirip Ekor JSASC 27.29 8.17 21.82 7.27 13 Jarak Mata tutup insang JMTI 17.69 2.26 18.62 3.58 14 Panjang Dasar Sirip Dada PDSP 6.26 2.15 6.59 2.00 15 Tinggi sirip Dada TSP 21.93 10.67 30.31 10.76 16 Panjang Dasar Sirip Punggung PDSD 49.62 24.98 65.25 24.10 17 Tinggi sirip Punggung TSD 28.50 14.36 31.65 13.34 18 Panjang Dasar sirip Ekor PDSC 14.54 5.42 13.00 5.39 19 Jarak sirip dorsal sirip Ekor JSDSC 18.24 8.77 20.65 7.78 20 Jarak sirip Perut sirip Anus JSVSA 22.69 8.77 33.54 9.29 21 Tinggi sirip Ekor TSC 40.25 19.57 45.54 19.51 22 Panjang Dasar Sirip Anus PDSA 10.96 3.58 10.66 3.96 23 Tinggi sirip Anus TSA 16.40 8.33 21.40 6.23 24 Panjang Dasar Sirip Perut PDSV 7.21 2.23 7.58 2.22 25 Tinggi sirip Perut TSV 23.00 10.50 26.96 10.54 26 Lebar Badan LB 18.63 7.23 19.90 7.23

7 Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa ukuran ikan T. thynnoides yang terkecil dan terbesar adalah 75,04-181,57 mm. setiap karakter morfometrik terhadap panjang total (PT) dapat dilihat, pada Tabel 3. Tabel 3. Proporsi Karakter Morfometrik (%) Terhadap Panjang Total (%) No Morfometrik Kode Betina Betina Jantan Jantan Ratio Ratio 1 Panjang Baku PB 76% 3/4 77% 3/4 2 Panjang Kepala PK 22% 1/5 17% 1/6 3 Tinggi Kepala TK 17% 1/6 14% 1/7 4 Tinggi Badan TB 21% 1/5 21% 1/5 5 Tinggi Batang ekor TBE 8% 1/13 7% 1/13 6 Jarak Mulut sirip punggung JMSD 35% 1/3 31% 1/3 7 Jarak Mulut ke Mata JMM 6% 1/17 5% 1/17 8 Jarak Mulut sirip Dada JMSP 21% 1/5 19% 1/5 9 Jarak Mulut sirip Perut JMSV 38% 1/3 40% 2/5 10 Diameter Mata DM 6% 1/17 6% 1/17 11 Jarak sirip anal sirip Ekor JSASC 14% 1/7 11% 1/9 12 Jarak Mata tutup insang JMTI 10% 1/10 7% 1/17 13 Panjang Dasar Sirip Dada PDSP 4% 1/25 3% 1/26 14 Tinggi sirip Dada TSP 14% 1/7 15% 1/7 15 Panjang Dasar Sirip Punggung PDSD 35% 1/3 35% 1/3 16 Tinggi sirip Punggung TSD 19% 1/5 18% 1/6 17 Panjang Dasar sirip Ekor PDSC 8% 1/13 7% 1/14 18 Jarak sirip dorsal sirip Ekor JSDSC 11% 1/9 11% 1/9 19 Jarak sirip Perut sirip Anus JSVSA 16% 1/6 18% 1/6 20 Tinggi sirip Ekor TSC 26% 1/4 25% 1/4 21 Panjang Dasar Sirip Anus PDSA 7% 1/14 6% 1/17 22 Tinggi sirip Anus TSA 12% 1/8 12% 1/8 23 Panjang Dasar Sirip Perut PDSV 4% 1/25 4% 1/25 24 Tinggi sirip Perut TSV 14% 1/7 14% 1/7 25 Lebar Badan LB 11% 1/9 11% 1/11 sementara yang berkisar antara 3% Proporsi dari ke 25 karakter morfometrik terhadap PT bervariasi. Proporsi JMSD, JMSV, PDSD, TSC berkisar antara 26% sampai 40%. sampai 25 % atau kurang dari seperempat panjang total adalah PK, TK, TB, TBE, JMM, JMSP, DM, JSASC, JMTI, PDSP, TSP, TSD, Artinya karakter morfometrik tersebut lebih dari seperempat PT.

8 PDSC, JSDSC, JSVSA, PDSA, TSA, PDSV, TSV dan LB. Meristik Ikan Motan (T. thynnoides) Berdasarkan pengamatan karakter meiristik ikan motan diketahui bahwa pada ikan tesebut terdapat jari-jari lemah dan jari-jari keras. Didapatkan jari-jari sirip masingmasing berjumlah D.I.27-29, P.10.5, V.II.5-8, A.5-7.2, C.10-12.9.sisik didepan sirip punggung sisik depan sirip punggung Sisik didepan sirip punggung 45-50, sisik di keliling badan 46-48 baris, sisik di batang ekor 12-14 baris dan jumlah sisik di gurat sisi 58-60. Pola Pertumbuhan Ikan Motan (T. thynnoides) Berdasarkan panjang total dan berat badan ikan selama penelitian ini, diremukan kisaran panjang total 75,04-181,57 mm dan berat 3,78-53,77 gr. Untuk melihat hubungan panjang total dengan berat ikan motan dapat dilihat pada gambar 12 di bawah ini Ikan Jantan Ikan Betina Ikan Jantan dan Betina Gambar 2. Grafik Hubungan Antara Panjang Total Dan Berat Badan Ikan Motan.

9 Nilai dari persamaan panjang berat adalah 2.975 untuk ikan jantan dan 3.092 untuk ikan betina serta 2.972 untuk ikan jantan dan betina yang digabungkan. Dimana nilai b yang didapatkan untuk ikan betina lebih besar dari 3, atau disebut juga allometrik positif yang berarti pertambahan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan panjang. Sedangkan ikan jantan dan ikan gabungan nilai b lebih kecil dari 3, atau disebut juga allometrik negatif yang berarti pertambahan panjangnya lebih cepat daripada pertambahan beratnya. Hasil pengukuran kualitas air di Oxbow Pinang Luar Desa Buluhcina dapat dilihat pada Tabel 4, sebagai berikut: Tabel 4. Data Pengukuran Kualitas Air Oxbow Pinang Luar No Parameter Satuan St 1 St 2 St 3 Rata-rata Baku Mutu (*) 1 Fisika Suhu o C 26 28 26 27 26-27 26-28 Kecerahan Cm 28 42 40 49 22-46 22-49 Kedalaman Cm 108 315 287 520 111-330 108-520 2 Kimia ph - 6 6 6 6 *6-9 DO mg/l 4,6-6,2 4,8-5,8 4,8-5,8 4,6-6,2 *4 CO 2 mg/l 5,8-8,8 6,8-8,5 6,2-8,4 5,8-8,5 *25 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Jumlah ikan yang tertangkap selama penilitian yaitu 149 ekor yang terdiri dari 100 ekor ikan jantan dan 49 ekor ikan betina. Proporsi dari ke 25 karakter morfometrik terhadap PT bervariasi. Proporsi JMSD, JMSV, PDSD, TSC berkisar antara 26% sampai 40%. Artinya karakter morfometrik tersebut lebih dari seperempat PT. sementara yang berkisar antara 3% sampai 25 % atau kurang dari seperempat panjang total adalah PK, TK, TB, TBE, JMM, JMSP, DM, JSASC, JMTI, PDSP, TSP, TSD, PDSC, JSDSC, JSVSA, PDSA, TSA, PDSV, TSV dan LB. Hubungan karakter morfometrik seiring dengan pertambahan panjang total (PT) ikan motan memiliki 2 kelompok, kelompok pertama memiliki nilai korelasi (0.50 r 1.00 ), nilai ini dikatakan berkorelasi kuat secara positif. Nilai tersebut terdapat pada semua karakter morfometrik ikan motan, kecuali pada JMTI ikan motan. Sehingga terdapat kelompok kedua, yaitu karakter morfometrik JMTI pada ikan motan jantan tetap atau tidak berubah dan menunjukan nilai korelasi rendah (-0.49 r 0.49) dan pada ikan motan betina mengalami peningkatan seiring pertambahan panjang total (PT). Ciri meristik pada ikan T.thynnoides D.I.27-29, P.10.5, V.11.5-8, A.5-7.2,C.10-12.9. sedangkan jumlah sisik di depan sirip punggung 45-50, sisik di keliling badan 46-48 baris, sisik dibatang ekor 12-14 baris dan jumlah di gurat sisi 58-60. Sisik ikan motan adalah sisik cycloid. Pola Pertumbuhan ikan motan adalah allometrik positif untuk ikan betina, sedangkan untuk ikan jantan, gabungan ikan betia dan jantan adalah allometrik negatif. Berdasarkan pengukuran kualitas air di lokasi

10 penelitian masih cukup baik dan dapat mendukung kehidupan ikan. Saran Perlu dilakukan penelitian lanjutan ikan motan, seperti aspek biologi reproduksi, kebiasaan makan dan genetika. Serta penelitian lanjutan terhadap ikan motan spesies T. polylepis dan T. vaillanti tentang studi morfometrik, meristik dan pola pertumbuhan. DAFTAR PUSTAKA Kantor Kepala Desa Buluhcina. 2016. Monografi Desa Buluhcina Kottelat, M; Whitten, A. J; Kartikasari, S. N. dan S. Wirjoatodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition Limited. Singapore. 293 hlm. Lagler,K.F; J.E. Bardach, R.R. Miller and D.R.M. Passino. 1997. Ichtiology. Jhon Willey & Sons. New York. 506p. Murtini, S. 2007. Biologi Reproduksi Ikan Motan (Thynnichthys polylepis) secara histology di Waduk Kotopanjang, Kabupaten Kampar, Riau. Manajemen Sumberdaya Perairan. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Putra, R.M.; C.P.Pulungan; Windarti; Budijono; S. Neli. 2016. Penuntun Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru. Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi I dan II. Penerbit Bina Cipta. Bogor. 508 hal. Saebani, B.A.2008. Metodologi Penelitian. Bandung : Cv. Pustaka Setia. 220 hlm. Simanjuntak, CPH, MF Rahardjo, S Sukimin. 2011. Iktiofauna Rawa Banjiran Sungai Kampar Kiri. Jurnal Iktiologi Indonesia 6(2):99-109. Tutupoho, S. N. E. 2008. Pertumbuha Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides Bleeker, 1852) di Rawa Banjiran sungai Kampar Kiri, Riau. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Ulva, R. 2014. Identifikasi Ikan di Desa Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru.