Keanekaragaman dan struktur komunitas semut pada perkebunan lada di Lampung

dokumen-dokumen yang mirip
Keanekaragaman Semut pada Persawahan di Daerah Urban: Investigasi Pengaruh Habitat Sekitar dan Perbedaan Umur Tanaman Padi

Keanekaragaman semut dan pola keberadaannya pada daerah urban di Palu, Sulawesi Tengah

KEANEKARAGAMAN SEMUT (Hymenoptera: Formicidae) DI SEKITAR KAMPUS PINANG MASAK UNIVERSITAS JAMBI

BAB IV POLA DISTRIBUSI DAN KEBERADAAN SPESIES SEMUT DI KEPULAUAN SERIBU

EKSPLORASI KERAGAMAN SPESIES SEMUT DI EKOSISTEM TERGANGGU KAWASAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA JAWA BARAT

BAB III KERAGAMAN SPECIES SEMUT PADA EKOSISTEM TERGANGGU DI KAWASAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA JAWA BARAT

PENYEBARAN SEMUT PADA HUTAN LINDUNG SIRIMAU KOTA AMBON

Pengaruh Habitat Sekitar Lahan Persawahan dan Umur Tanaman Padi terhadap Keanekaragaman Hymenoptera Parasitika

Jenis-Jenis Semut (Hymenoptera: Formicidae) di Bangunan Kampus Universitas Andalas Limau Manis Padang

KOMPOSISI SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA PULAU TANGAH KECAMATAN PARIAMAN TENGAH KOTA PARIAMAN

I. PENDAHULUAN. Perkebunan memiliki peran yang penting dalam pembangunan nasional,

PENGARUH TRANSFORMASI HABITAT TERHADAP KEANEKARAGAMAN DAN STRUKTUR KOMUNITAS SEMUT DI JAMBI RATNA RUBIANA

KEANEKARAGAMAN SEMUT DI KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA AKHMAD RIZALI

DIVERSITAS SEMUT (HYMENOPTERA, FORMICIDAE) DI BEBERAPA KETINGGIAN VERTIKAL DI KAWASAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA JAWA BARAT MEIRY FADILAH NOOR

KERAGAMAN SEMUT PADA AREAL PEMUKIMAN DALAM HUTAN LINDUNG SIRIMAU KOTA AMBON

Kelimpahan dan Keragaman Semut dalam Hutan Lindung Sirimau Ambon Abudance and diversity of ants at Sirimau Forest In Ambon

PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN SEMUT ALAM HUTAN LINDUNG GUNUNG NONA-AMBON. Fransina S. Latumahina ABSTRACT

C028 PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN SEMUT DALAM HUTAN LINDUNG GUNUNG NONA-AMBON.

Jurnal Kajian Veteriner Desember 2015 Vol. 3 No. 2 : ISSN : KERAGAMAN JENIS SEMUT PENGGANGGU DI PERMUKIMAN BOGOR

DAFTAR PUSTAKA. Bolton, B Identification Guide to the Ant Genera of the World. Harvard University Press. London. 222p.

Oleh: Oki Kobayasi Susanto 1, Henny Herwina 2, Armein Lusi Z. 1

MENGELOLA LEDAKAN HAMA DAN PENYAKIT PADI SAWAH PADA AGROEKOSISTEM YANG FRAGIL DENGAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU BIOINTENSIF

Keanekaragaman Parasitoid dan Parasitisasinya pada Pertanaman Padi di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun

Gambar 2.1. Peta Lokasi Penelitian

Ragam Jenis Semut (Hymenoptera: Formicidae) di Lahan Ga mbut Alami dan Perkebunan Sawit di Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya

Keanekaragaman dan Kelimpahan Semut sebagai Predator Hama Tanaman Padi di Lahan Sawah Organik dan Anorganik Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten

PERBANDINGAN KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA EMPAT TIPE EKOSISTEM YANG BERBEDA NISFI YUNIAR

III. METODOLOGI PENELITIAN. tiga tipe kebun kakao di Desa Cipadang. Secara administratif, Desa Cipadang

KOMPOSISI HYMENOPTERA PERMUKAAN TANAH DI DUA AGROEKOSISTEM DAN HUTAN DI KANAGARIAN SUNGAI DUO KECAMATAN PAUAH DUO KABUPATEN SOLOK SELATAN JURNAL

KOMUNITAS SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA EMPAT TIPE EKOSISTEM YANG BERBEDA DI DESA BUNGKU PROVINSI JAMBI

KEANEKARAGAMAN SERANGGA PREDATOR PADA BERBAGAI TINGKATAN UMUR KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KABUPATEN SAROLANGUN, JAMBI AZRU AZHAR

KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA KAWASAN PENYANGGA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KILIRAN JAO KECAMATAN KAMANG BARU KABUPATEN SIJUNJUNG

Oleh : Riski Ramadanu, Nurhadi, dan Elza Safitri

Keanekaragaman dan Parasitasi Parasitoid Telur Walang Sangit pada Lanskap Pertanian Berbeda di Lombok Timur

Keragaman Serangga Musuh Alami Kutu Sisik Lepidosaphes beckii Pada Jeruk Keprok Dan Jeruk Manis

KERAGAMAN SEMUT PADA EKOSISTEM TANAMAN KAKAO DI DESA BANJAROYA KECAMATAN KALIBAWANG YOGYAKARTA

DIVERSITAS SEMUT (HYMENOPTERA, FORMICIDAE) DI BEBERAPA KETINGGIAN VERTIKAL DI KAWASAN CAGAR ALAM TELAGA WARNA JAWA BARAT MEIRY FADILAH NOOR

BAB I PENDAHULUAN. Anggapan ini terbentuk berdasarkan observasi para ahli akan keanekaragamannya

DESAIN KONSERVASI PREDATOR DAN PARASITOID UNTUK PENGENDALIAN HAMA PADA PERTANAMAN PADI

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan sumberdaya hutan dalam dasawarsa terakhir dihadapkan pada

Jumlah Jenis dan Jumlah Individu Semut di Tanah Gambut Alami dan Tanah Gambut Perkebunan Sawit di Sungai Pagar, Riau

Sistem Populasi Hama. Sistem Kehidupan (Life System)

JENIS-JENIS SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI SEKITAR KAMPUS UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN

I. TINJAUAN PUSTAKA. dalam tanah atau sarang-sarang lainnya. Terbangnya semut ini diikuti karena

KOlONISASI DAN SUKSESILABA-LABA (Araneae) PADA PERTANAMAN PADI 1)

BAB I PENDAHULUAN. lainnnya yang tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Menurut Ummi (2007)

BAB I PENDAHULUAN. kelembaban. Perbedaan ph, kelembaban, ukuran pori-pori, dan jenis makanan

PENGELOLAAN HAMA TERPADU (PHT)

BAB VII PEMBAHASAN UMUM. Komunitas laba-laba pada ekosistem padi sangat penting untuk

DAFTAR PUSTAKA. BKSDA Sumatera Barat Buku Informasi Kawasan Konservasi. BKSDA Sumatera Barat.

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes SPP) DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SEMAHUNG DESA SAHAM KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

SKRIPSI. Oleh Okky Ekawati H

BAB I PENDAHULUAN. Semut (Hymenoptera: Formicidae) memiliki jumlah jenis dan

Environmental Degradation and Natural Resources Conservation

ANALISIS BIODIVERSITAS SERANGGA DI HUTAN KOTA MALABAR SEBAGAI URBAN ECOSYSTEM SERVICES KOTA MALANG PADA MUSIM PANCAROBA

KEANEKARAGAMAN SERANGGA DAN LABA-LABA PADA PERTANAMAN PADI ORGANIK DAN KONVENSIONAL

BAB I PENDAHULUAN. jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini disebabkan

KOLONISASI SEMUT HITAM ( Dolichoderus thoracicus Smith ) PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DENGAN PEMBERIAN PAKAN ALTERNATIF.

AGRIPLUS, Volume 22 Nomor : 02 Mei 2012, ISSN

PRAKATA. Purwokerto, Februari Penulis

Insects Pollinators Communities In Distinct Habitats and Distances from Margin Forest of Gunung Halimun-Salak National Park

Keanekaragaman Serangga Hama dan Musuh Alami pada Lahan Pertanaman Kedelai di Kecamatan Balong-Ponorogo

ABSTRAK DIVERSITAS SERANGGA HUTAN TANAH GAMBUT DI PALANGKARAYA KALIMANTAN TENGAH

KOMPOSISI SEMUT (HYMENOPTERA: FORMICIDAE) PADA PERTANAMAN KAKAO

BAB I PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura buah apel (Malus sylvestris (L.) Mill) merupakan

Upaya-upaya Restorasi Ekosistem Dalam Rangka Pengembalian dan Peningkatan Produktivitas Hutan Konservasi

Autekologi Begonia Liar di Kawasan Remnant Forest Kebun Raya Cibodas NUR AZIZAH Abstrak

INDEKS KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA PADA PERTANAMAN PADI (Oryza Sativa L.) DI LAPANGAN SKRIPSI OLEH :

AKILMAD RIZALI. Keragaman Serangga dan Peranannya pada Daerah Persawahan

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi sebagai ecosystem engineer (Keller & Gordon, 2009) atau juga soil

KEANEKARAGAMAN KOMUNITAS RAYAP PADA TIPE PENGGUNAAN LAHAN YANG BERBEDA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN TEGUH PRIBADI

EFEKTIVITAS KOMPOSISI PESTISIDA NABATI TERHADAP HAMA WALANG SANGIT (Leptocorisa acuta Thunberg) PADA TANAMAN PADI DI LAPANG

TEKNIK PENGAMATAN POPULASI ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN DAN MUSUH ALAMI SERTA ANALISIS KERUSAKAN

KOMUNITAS COLLEMBOLA PERMUKAAN TANAH PADA LIMA TIPE HABITAT DI KAWASAN TELAGA WARNA KABUPATEN BOGOR DAN CIANJUR INA TIANA WIDYAWATI

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN

ABSTRACT STRUCTURE AND COMPOSITION OF THE VEGETATION IN HEPANGAN AGROFORESTRY SYSTEM AT GUMAY ULU AREA LAHAT DISTRICT SOUTH SUMATERA

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KUBU KABUPATEN KUBU RAYA

KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA DI GUDANG BERAS

J. HPT Tropika. ISSN Afifah et al. Pengaruh Perbedaan Pengelolaan Agroekosistem 53 Vol. 15, No. 1: 53 64, Maret 2015

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

DAFTAR PUSTAKA. Bengtsson, J Disturbance and resilience in soil animal communities. European Journal of Soil Biology 387:

EKOLOGI KUANTITATIF KOMUNITAS AMFIBI DI BEBERAPA SUNGAI PADA SUAKA MARGASATWA NANTU PROVINSI GORONTALO. Disusun oleh : RIZKI KURNIA TOHIR E

I. TINJAUAN PUSTAKA. Tebu (Saccharum officinarum L.) termasuk dalam suku Poaceae, yaitu jenis

Analisis Indeks Kekompakan Bentuk Wilayah Terhadap Laju Pertumbuhan Studi Kasus: Daerah Kabupaten/Kota Pesisir di Jawa Barat Abstrak Kata kunci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Primak et al, tahun 1998 bahwa Indonesia merupakan daerah yang

HEWAN BENTOS SEBAGAI INDIKATOR EKOLOGI DI SUNGAI CIKAPUNDUNG, BANDUNG

ABSTRACT. PENDAHULUAN Apel merupakan salah satu komoditas pertanian yang berpotensi secara ekonomi dan. Jurnal Biotropika Vol. 1 No.

Jurnal yang tersedia/yang diterima secara teratur (lengkap), terbitan 3 tahun terakhir di DITSL. Rincian Tahun dan Nomor (1) (2) (3) (4) (5)

TEKNIK PENGAMATAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN (PNH 3162, SKS 2/1) A. SILABUS

Keanekaragaman dan peran fungsional serangga Ordo Coleoptera di area reklamasi pascatambang batubara di Berau, Kalimantan Timur

BIRD PREFERENCE HABITATS AROUND SERAYU DAM BANYUMAS CENTRAL JAVA

Keragaman Semut di Kampus IPB, Darmaga dan di Kawasan Cagar Alam Telaga Warna (CATW) Taruni Sri Prawasti, Ruth Martha Winnie, Jazirotul Fitriati

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif, yang merupakan suatu

Kelimpahan dan Keanekaragaman Spesies Serangga Predator Selama Satu Musim Tanam Padi Ratun di Sawah Pasang Surut

I. PENDAHULUAN. Indonesia di pasaran dunia. Kopi robusta (Coffea robusta) adalah jenis kopi

IDENTIFIKASI SERANGGA YANG TERPERANGKAP PADA KANTONGSEMAR(Nepenthes spp.) Di KAWASAN KAMPUS UIN SUSKA RIAU

Zulkaidhah 1), Abdul Hapid 1) dan Ariyanti 1) Staf Pengajar Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako Palu,

KEANEKARAGAMAN SERANGGA HYMENOPTERA (KHUSUSNYA PARASITOID) PADA AREAL PERSAWAHAN, KEBUN SAYUR DAN HUTAN DI DAERAH BOGOR TJUT AHMAD PERDANA R.

I. PENDAHULUAN. tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan

Transkripsi:

Jurnal Entomologi Indonesia Indonesian Journal of Entomology ISSN: 1829-7722 September 2014, Vol. 11 No. 2, 65 71 Online version: http://journal.ipb.ac.id/index.php/entomologi DOI: 10.5994/jei.11.2.65 Keanekaragaman dan struktur komunitas semut pada perkebunan lada di Lampung Diversity and community structure of ants in pepper plantation, Lampung Province Yudiyanto 1,2*, Ibnul Qayim 3, Abdul Munif 4, Dede Setiadi 3, Akhmad Rizali 5 1 Program Studi Biologi Tumbuhan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 2 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jurai Siwo, Metro Jalan Ki Hajar Dewantara 15A, Kota Metro, Lampung 34111 3 Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 4 Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor Jalan Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 5 Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Malang 65145 (diterima Juli 2013, disetujui Mei 2014) ABSTRAK Keberadaan semut pada habitat pertanian dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kesesuaian kondisi lingkungan untuk tempat bersarang. Semut yang umumnya sebagai predator, memiliki peranan yang penting dalam mengendalikan populasi hama di habitat pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk memelajari keanekaragaman semut pada perkebunan lada. Hasil yang diperoleh dapat menjadi informasi awal dalam memanfaatkan semut dalam sistem budi daya tanaman lada. Penelitian dilaksanakan pada empat kabupaten di Provinsi Lampung, pada setiap kabupaten dipilih dua plot pengamatan di dalam satu desa. Di setiap plot, semut dikoleksi dengan menggunakan perangkap pitfall. Sebanyak 28 spesies semut dikoleksi dari lahan perkebunan lada di empat kabupaten di Lampung. Dua diantaranya, yaitu Anoplolepis gracilipes dan Solenopsis geminata merupakan spesies semut tramp dan bersifat invasif. Terdapat perbedaan komposisi spesies semut antara kabupaten yang berbeda. Keberadaan semut pada perkebunan lada diduga lebih dipengaruhi oleh habitat sekitar dan curah hujan. Kata kunci: perkebunan, Anoplolepis gracilipes, Solenopsis geminata, perangkap pitfall ABSTRACT The occurrence of ants in agricultural habitat is related to the availability of food resources as well as environmental condition for its nesting site. As predator, ants play an important role on controlling pest population in agricultural habitat. The objective of this research was to study the diversity of ants in pepper plantation. The research outcome can be used as basic information for cultivation management of pepper. Ecological observation was conducted in four regencies in Lampung Province with two selected plots on each regency. On each plot, ants were sampled using pitfall traps. In total, 28 ant species were recorded from pepper field in four regencies. Two species i.e. Anoplolepis gracilipes and Solenopsis geminataare well-known as tramp and invasive species. There is significantly different of ant species composition among regencies. The occurrence of ants in pepper plantationis probably affected by habitat condition surrounding pepper plantation and precipitation. Key words: plantation, Anoplolepis gracilipes, Solenopsis geminata, pitfall trap *Penulis korespondensi: Yudiyanto. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jurai Siwo, Metro Jalan Ki Hajar Dewantara 15A, Kota Metro, Lampung 34111 Tel:0725-41507, Faks: 0725-42796, Email: yudiyudi0222@gmail.com 65

Yudiyanto et al.: Semut pada perkebunan lada PENDAHULUAN Keberadaan serangga pada suatu habitat tidak terlepas dari ketersediaan makanan dan kesesuaian kondisi lingkungan (Schowalter 2011). Pada habitat pertanian seperti persawahan, serangga-serangga herbivora cenderung lebih mendominasi karena ketersediaan tanaman padi sebagai sumber makanan (Settle et al. 1996). Walaupun demikian, serangga-serangga lain baik yang memiliki hubungan tropik dengan serangga herbivor (kelompok predator dan parasitoid) maupun yang tidak memiliki hubungan tropik secara langsung, seperti kelompok pengurai dan polinator, juga ditemukan melimpah pada habitat pertanian (Settle et al. 1996). Keanekaragaman serangga-serangga tersebut bervariasi bergantung pada cara budi daya yang digunakan dan kondisi lahan pertanian (Altieri 1999). Kawasan pertanian di sekitar habitat alami, seperti hutan cenderung memiliki keanekaragaman serangga yang tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian yang monokultur dan dengan sistem budi daya intensif. Lahan persawahan di sekitar hutan alami sebagai contoh, memiliki keanekaragaman serangga termasuk musuh alami yang tinggi sehingga tidak menimbulkan ledakan (outbreak) hama (Rizali et al. 2002). Kondisi habitat dan lingkungan yang mendukung menciptakan keseimbangan dalam hubungan tropik antara tanaman pertanian, serangga herbivor dan musuh alaminya (Tylianakis et al. 2007). Perubahan yang terjadi pada lahan pertanian, seperti perubahan umur tanaman akan diikuti oleh perubahan keanekaragaman serangga yang ada di dalamnya. Peningkatan umur tanaman akan memengaruhi keberadaan relung (niche) dan ketersediaan makanan. Sebagai contoh, peningkatan umur tanaman perkebunan, seperti kakao memengaruhi peningkatan keanekaragaman semut yang ada pada habitat tersebut (Rizali et al. 2012). Berbeda dengan kakao, pada habitat persawahan menunjukkan bahwa peningkatan umur padi tidak menyebabkan perubahan keanekaragaman semut (Setiani et al. 2010) walaupun untuk kelompok serangga lain menunjukkan perubahan. Sebagai kelompok serangga terestrial paling dominan, semut mudah dijumpai pada berbagai ekosistem daratan (Wilson 1990). Semut memiliki 66 peranan penting sebagai predator, pengurai dan penyebar biji (Hölldobler & Wilson 1990). Selain itu, semut juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap gangguan habitat sehingga semut dapat digunakan sebagai bioindikator perubahan kondisi lahan (Andersen et al. 2002). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman dan struktur komunitas semut pada tanaman lada. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai semut yang berasosiasi dengan tanaman lada untuk dapat digunakan sebagai data dasar dalam pemanfaatannya sebagai indikator kondisi habitat tanaman lada. BAHAN DAN METODE Lokasi penelitian Lokasi penelitian terletak pada empat kabupaten di Provinsi Lampung yang merupakan sentra produksi tanaman lada (Gambar 1). Di setiap kabupaten dipilih dua lahan perkebunan lada di dalam satu desa (Tabel 1) dengan umur tanaman yang sama, yaitu 6 tahun untuk digunakan sebagai plot penelitian meliputi Desa Sekincau (Lampung Barat), Cahaya Negeri (Lampung Utara), Sukadana Baru (Lampung Timur) dan Negara Ratu (Lampung Selatan). Desa Sekincau merupakan daerah dataran tinggi, sedangkan ketiga desa yang lain masuk ke dalam kategori dataran rendah (Tabel 1). Di seluruh lokasi, tanaman lada ditanam dengan menggunakan tanaman hidup sebagai penegak, yaitu gamal (Gliricidia sepium) dan dadap (Erythrina subumbram). Gambar 1. Lokasi penelitian pada perkebunan lada di empat kabupaten di Provinsi Lampung.

Jurnal Entomologi Indonesia, September 2014, Vol. 11, No. 2, 65 71 Tabel 1. Lokasi penelitian dan jumlah perangkap pitfall yang dipasang pada setiap plot di empat kabupaten di Provinsi Lampung Desa/Kabupaten Plot Latitude Longitude Sekincau/ Lampung Barat Negara Ratu/ Lampung Selatan Sukadana Baru/ Lampung Timur Cahaya Negeri/ Lampung Utara Altitude (m dpl) Curah hujan (mm/th) Budi daya P1-5.054167 104.309233 1191 1850 Pengendalian P2-5.042367 104.330517 1191 P1-5.318167 105.172833 72 1230 Pengendalian P2-5.310750 105.188350 72 P1-5.167600 105.575150 113 2170 Pengendalian P2-5.167500 105.567817 113 P1-4.865100 104.643567 170 2160 Pengendalian P2-4.866883 104.662783 170 Kondisi habitat Lahan banyak serasah dan dekat Lahan tanpa gulma dan dekat Lahan tanpa gulma dan jauh dari Lahan ditutupi olehlegume cover crop (LCC) dan jauh dari Pengambilan contoh serangga Metode yang digunakan untuk melakukan pengambilan contoh serangga adalah dengan menggunakan perangkap pitfall (perangkap jebak). Perangkap ini merupakan perangkap yang umum digunakan untuk mengkoleksi serangga permukaan tanah khususnya semut (Bestelmeyer et al. 2000). Pengambilan contoh serangga dilakukan di bulan Maret 2012, pada saat tanaman lada dalam kondisi awal berbuah yang merupakan salah satu fase yang sangat diperhatikan petani dalam mengendalikan hama. Kondisi permukaan tanah tidak banyak ditutupi oleh gulma karena sering dilakukan penyiangan. Pada seluruh lokasi tidak dilakukan penyemprotan maupun pemupukan. Pada setiap plot dipilih 10 pohon lada untuk dilakukan pemasangan perangkap pitfall. Perangkap dipasang selama tiga hari untuk kemudian serangga yang terperangkap diawetkan dengan alkohol 70% dan dibawa ke laboratorium untuk proses sortasi dan identifikasi. Identifikasi Keseluruhan semut yang diperoleh diidentifikasi hingga genus (Bolton 1994) untuk kemudian pembedaan spesies (morfospesies) dilakukan berdasarkan perbedaan karakter morfologinya (Lattke 2000). Apabila memungkinkan, beberapa genus dilakukan identifikasi hingga tingkat spesies. Spesies kemudian diidentifikasi apakah termasuk semut tramp (semut yang berasosiasi dengan keberadaan manusia) atau semut invasif menurut McGlynn (1999). Analisis data Kurva akumulasi spesies (Colwell & Coddington 1994) digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai keanekaragaman semut pada setiap lokasi, sedangkan Chao estimator (Colwell & Coddington 1994) digunakan untuk mengetahui keefektifan metode yang digunakan. Kemiripan komposisi spesies dilakukan analisis dengan menggunakan analisis multi dimensional scaling (MDS) berdasarkan indeks kemiripan Bray-Curtis (Legendre & Legendre 1998). Untuk mengetahui perbedaan komposisi dilakukan analisis lanjut dengan menggunakan analisis kemiripan (ANOSIM). Seluruh analisis dilakukan menggunakan perangkap lunak R statistik (R Development Core Team 2012) dengan package vegan (Oksanen et al. 2013). 67

Yudiyanto et al.: Semut pada perkebunan lada HASIL Keanekaragaman semut pada habitat tanaman lada Berdasarkan pemasangan perangkap pitfall yang dilakukan pada empat kabupaten di Lampung, sebanyak 28 spesies dari 5 subfamili semut teridentifikasi berasosiasi dengan tanaman lada (Tabel 2). Kabupaten Lampung Selatan yang memiliki ketinggian paling rendah dibandingkan dengan tiga kabupaten yang lain, memiliki keanekaragaman semut paling tinggi (Gambar 2, Tabel 2).Walaupun demikian, hasil estimasi dengan menggunakan Chao menunjukkan bahwa Lampung Barat yang merupakan dataran tinggi dan dengan sistem pertanian tidak intensif (Tabel Tabel 2. Keanekaragaman semut pada empat lokasi penelitian, dengan masing-masing dua plot (P1 dan P2) untuk setiap lokasi 68 No Spesies Dolichoderinae Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2 1. Dolichoderus sp.01 1 1 2. Tapinoma sp.01 2 3 7 2 3. Technomyrmex sp.01 1 2 Formicinae 4. Acropyga sp.01 1 2 5. Anoplolepis gracilipes * 1 6 2 10 27 6. Camponotus sp.01 4 5 4 2 6 5 7. Nylanderia sp.01 2 5 3 1 1 8. Nylanderia sp.02 3 3 1 3 1 1 3 1 Myrmicinae 9. Aphaenogaster sp.01 41 46 1 9 10. Crematogaster sp.01 2 4 1 1 7 11. Crematogaster sp.02 1 20 12. Crematogaster sp.03 3 13. Mayriella sp.01 1 1 14. Mayriella sp.02 38 3 15. Monomorium sp.01 14 3 42 32 6 16. Monomorium sp.02 1 5 6 17. Monomorium sp.03 1 3 6 1 1 18. Pheidole sp.01 8 211 59 45 152 2 1 19. Pheidole sp.02 5 1 20. Pheidole sp.03 41 21. Pheidole sp.04 13 22. Rhoptromyrmex sp.01 2 1 1 3 4 23. Solenopsis geminata * 111 54 Ponerinae 24. Hypoponera sp.01 2 4 5 25. Leptogenys sp.01 1 2 26. Odontoponera sp.01 19 40 23 13 11 4 17 6 27. Ponera sp.01 1 Pseudomyrmecinae 28. Tetraponera sp.01 1 1 *: spesies semut tramp dan invasif

Jurnal Entomologi Indonesia, September 2014, Vol. 11, No. 2, 65 71 1) memiliki keanekaragaman semut paling tinggi karena baru sekitar 52% spesies semut berhasil dikoleksi di lokasi tersebut dibandingkan dengan Lampung Selatan yang telah mencapai 68% spesies semut terkoleksi (Gambar 2). Perbedaan komposisi semut antar lahan tanaman lada Hasil analisis MDS menunjukkan bahwa komposisi spesies semut berbeda untuk setiap lahannya (Gambar 3). Keempat kabupaten di Lampung secara signifikan tidak memiliki kemiripan spesies semut berdasarkan ANOSIM (R = 0,563; P = 0,024). Spesies yang ditemukan di seluruh lokasi, yaitu Nylanderia sp.02, Pheidole sp.01 dan Odontoponera sp.01. Spesies yang lain hanya ditemukan pada lokasi tertentu, seperti spesies semut tramp dan invasif, yaitu Anoplolepis gracilipes dan Solenopsis geminata hanya ditemukan pada daerah dataran rendah (Tabel 2). PEMBAHASAN Jumlah spesies Jumlah perangkap Gambar 2. Kurva akumulasi spesies semut yang ditemukan pada empat daerah penelitian. LS: Desa Negara Ratu, Lampung Selatan; LB: Desa Sekincau, Lampung Barat; LU: Desa Cahaya Negeri, Lampung Utara; LT: Desa Sukadana Baru, Lampung Timur. Proporsi spesies hasil observasi/estimasi Chao: LB = 17/33 (52%); LS = 19/28 (68%); LT = 14/17 (85%); dan LU = 15/21 (71%). Keanekaragaman semut pada perkebunan lada khususnya semut-semut permukaan tanah lebih dipengaruhi oleh kondisi habitat yang ada di dalamnya. Lampung Barat dan Lampung Selatan memiliki keanekaragaman yang tinggi mengingat lokasi kebun yang relatif dekat dengan lokasi permukinan penduduk. Sistem budi daya ternyata tidak memengaruhi keanekaragaman semut pada perkebunan lada. Kondisi habitat yang berdekatan cenderung memfasilitasi keberadaan semut-semut tramp atau semut yang biasa berasosiasi dengan manusia (McGlynn 1999). Berdasarkan metode yang digunakan, keempat wilayah memiliki keanekaragaman dan komposisi spesies yang berbeda. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbedaan kondisi lahan sangat memengaruhi keanekaragaman semut yang ada pada suatu daerah. Setiani et al. (2010) menemukan bahwa perbedaan kondisi habitat sekitar lahan persawahan memengaruhi keanekaragaman semut yang ada pada lahan persawahan Sebagai sentra produksi lada, keempat kabupaten yang dijadikan sebagai lokasi penelitian memiliki perbedaan iklim, seperti curah hujan. Perbedaan curah hujan disinyalir memengaruhi Gambar 3. Analisis MDS dari kemiripan spesies semut antar lokasi penelitian berdasarkan indeks kemiripan Braycurtis (stress = 0,013). LB: Lampung Barat; LT: Lampung Timur; LS: Lampung Selatan; LU: Lampung Utara. P1: Plot 1; P2: Plot 2. 69

Yudiyanto et al.: Semut pada perkebunan lada perbedaan komunitas semut, seperti yang terjadi pada perkebunan kakao (Rizali et al. 2013). Curah hujan dalam hal ini memengaruhi ketersediaan iklim mikro dan sekaligus menyebabkan pembatasan niche pada spesies tertentu yang menjadikan perbedaan komposisi semut antar habitat yang berbeda (MacArthur & Levins 1967; Andersen 2000). Faktor iklim juga disinyalir memberikan pengaruh terhadap keberadaan spesies semut invasif. Walaupun demikian, keberadaan spesies semut invasif yang ada pada perkebunan lada berpotensi sebagai predator untuk pengendali hama (Way et al. 1998) disamping memiliki dampak negatif terhadap keberadaan semut yang lain (Holway et al. 2002). Semut invasif, seperti A. gracilipes dan S. geminata yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan ekstrim (Holway et al. 2002) menyebabkan semut ini lebih dapat bertahan dibandingkan dengan kelompok semut yang lain. Di sisi lain, hubungan mutualisme antara semut invasif dan hama khususnya dari kelompok Hemiptera menjadi permasalahan sendiri di dalam pemanfaatan semut dalam pengelolaan hama tanaman lada. Semut invasif dalam hal ini memanfaatkan sekresi gula yang dikeluarkan oleh hama, sedangkan hama mendapatkan perlindungan semut dari serangan predator lain. 70 KESIMPULAN Keanekaragaman semut yang ditemukan di perkebunan lada di empat kabupaten di Lampung berjumlah 28 spesies, dua spesies diantaranya merupakan spesies semut invasif. Berdasarkan struktur komunitas semut, tidak terdapat kemiripan komposisi spesies antar keempat wilayah perkebunan lada. Perbedaan keanekaragaman semut antara lokasi lebih dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar perkebunan lada. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucap terima kasih kepada Widilisanto, Sutomo, dan Rizki yang telah membantu dalam penelitian. Penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui program beasiswa BPPS. DAFTAR PUSTAKA Altieri MA. 1999. The ecological role of biodiversity in agroecosystems. Agriculture, Ecosystems & Environment 74:19 31. doi: http://dx.doi. org/10.1016/s0167-8809(99)00028-6. Andersen AN. 2000. Global ecology of rainforest ants: functional groups in relation to environmental stress and disturbance. In: Agosti D, Majer JD, Alonso LE, Schultz TR (Eds.), Ants: Standard Methods for Measuring and Monitoring Biodiversity. pp. 25 34. Washington: Smithsonian Institution Press. Andersen AN, Hoffmann BD, Müller WJ, Griffiths AD. 2002. Using ants as bioindicators in land management: simplifying assessment of ant community responses. Journal of Applied Ecology 39:8 17. doi: http://dx.doi.org/10.1046/ j.1365-2664.2002.00704.x. Bestelmeyer BT, Agosti D, Alonso LE, Brandão CRF, Brown WL Jr., Delabie JHC, Silvestre R. 2000. Field techniques for the study of grounddwelling ants: an overview, description, and evaluation. In: Agosti D, Majer JD, Alonso LE, Schultz TR (Eds.), Ants: Standard Methods for Measuring and Monitoring Biodiversity. pp. 122 144. Washington: Smithsonian Institution Press. Bolton B. 1994. Identification Guide to the Ant Genera of the World. Cambridge: Harvard University Press. Colwell RK, Coddington JA. 1994. Estimating terrestrial biodiversity through extrapolation. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences 345:101 118. doi: http:// dx.doi.org/10.1098/rstb.1994.0091. Hölldobler B, Wilson EO. 1990. The Ants. Cambridge: Harvard University Press. doi: http://dx.doi.org/10.1007/978-3-662-10306-7. Holway DA, Lach L, Suarez AV, Tsutsui ND, Case TJ. 2002. The causes and consequences of ant invasions. Annual Review of Ecology and Systematics 33:181 233. doi: http://dx.doi. org/10.1146/annurev.ecolsys.33.010802.150444. Lattke JE. 2000. Specimen processing: building and curating an ant collection. In: Agosti D, Majer JD, Alonso LE, Schultz TR (Eds.), Ants: Standard Methods for Measuring and Monitoring

Jurnal Entomologi Indonesia, September 2014, Vol. 11, No. 2, 65 71 Biodiversity. pp. 155 171. Washington: Smithsonian Institution Press. Legendre P, Legendre L. 1998. Numerical ecology 2nd English Edition. Dordrecht: Elsevier. MacArthur R, Levins R. 1967. The limiting similarity, convergence, and divergence of coexisting species. American Naturalist 101:377 385. doi: http://dx.doi.org/10.1086/282505. McGlynn TP. 1999. The worldwide transfer of ants: geographical distribution and ecological invasions. Journal of Biogeography 26:535 548. doi: http://dx.doi.org/10.1046/j.1365-2699.1999.00310.x. Oksanen J, Blanchet FG, Kindt R, Legendre P, Minchin PR, O Hara RB, Simpson GL, Solymos P, Stevens MHH, Wagner H. 2013. Vegan: Community Ecology Package. R package version 2.0 6: Available at: http://cran.r-project.org/ package=vegan. [accessed Juli 2013]. R Development Core Team. 2012. R: A language and environment for statistical computing. Vienna: R Foundation for Statistical Computing. Rizali A, Buchori D, Triwidodo H. 2002. Insect diversity at the forest margin-rice field interface: indicator for a healthy ecosystem. HAYATI Journal of Biosciences 9:41 48. doi: http:// dx.doi.org/10.3390/d5010026. Rizali A, Clough Y, Buchori D, Tscharntke T. 2013. Dissimilarity of ant communities increases with precipitation, but not reduced land-use intensity, in Indonesian cacao agroforestry. Diversity 5:26 38. doi: http://dx.doi.org/10.3390/d5010026. Rizali A, Clough Y, Buchori D, Hosang MLA, Bos MM, Tscharntke T. 2012. Long-term change of ant community structure in cacao agroforestry landscapes in Indonesia. Insect Conservation and Diversity 6:328 338. doi: http://dx.doi. org/10.1111/j.1752-4598.2012.00219.x. Rizali A, Lohman DJ, Buchori D, Prasetyo LB, Triwidodo H, Bos MM, Yamane S, Schulze CH. 2010. Ant communities on small tropical islands: effects of island size and isolation are obscured by habitat disturbance and tramp ant species. Journal of Biogeography 37:229 236. doi: http:// dx.doi.org/10.1111/j.1365-2699.2009.02194.x. Schowalter TD. 2011. Insect Ecology: An Ecosystem Approach, 3 edn. Oxford: Elsevier. Setiani EA, Rizali A, Moerfiah, Sahari B, Buchori D. 2010. Ant diversity in rice field in urban landscape: investigation on the effect of habitat condition and age of rice plant. Jurnal Entomologi Indonesia 7:88 99. Settle WH, Ariawan H, Astuti ET, Cahyana W, Hakim AL, Hindayana D, Lestari AS, Pajarningsih, Sartanto. 1996. Managing tropical rice pests through conservation of generalist natural enemies and alternative prey. Ecology 77:1975 1988. doi: http://dx.doi.org/10.2307/2265694. Tylianakis JM, Tscharntke T, Lewis OT. 2007. Habitat modification alters the structure of tropical host parasitoid food webs. Nature 445:202 205. doi: http://dx.doi.org/10.1038/nature05429. Way MJ, Islam Z, Heong KL, Joshi RC. 1998. Ants in tropical irrigated rice: distribution and abundance, especially of Solenopsis geminata (Hymenoptera: Formicidae). Bulletin of Entomological Research 88:467 476. doi: http:// dx.doi.org/10.1017/s0007485300042218. Wilson EO. 1990. Success and Dominance in Ecosystems: The Case of Social Insects. Olderdorf/Luhe: Ecology Institut. 71