Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 3 TAHUN 1967 (3/1967) Tanggal: 6 MEI 1967 (JAKARTA)

dokumen-dokumen yang mirip
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1967 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1967 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERUBAHAN DAN PENYEMPURNAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1967 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN UMUM.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 2 TAHUN 1985 (2/1985) Tanggal: 7 JANUARI 1985 (JAKARTA)

PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1959 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG SEMENTARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Membaca: Surat Menteri Penerangan tanggal 14 April 1967 No. 69/SM/67 perihal Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Dewan Pers;

UU 16/1969, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 5 TAHUN 1969 (5/1969) Tanggal: 5 JULI 1969 (JAKARTA)

PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1959 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Bentuk: UNDANG-UNDANG. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 5 TAHUN 1973 (5/1973) Tanggal: 16 JULI 1973 (JAKARTA)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

UU 10/1966, KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG ROYONG MENJELANG PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 8 TAHUN 1974 (8/1974) Tanggal: 6 NOPEMBER 1974 (JAKARTA)

NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1969 TENTANG PERNYATAAN BERBAGAI PENETAPAN PRESIDEN DAN PERATURAN PRESIDEN SEBAGAI UNDANG- UNDANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1973 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UU 5/1969, PERNYATAAN BERBAGAI PENETAPAN PRESIDEN DAN PERATURAN PRESIDEN SEBAGAI UNDANG UNDANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK POKOK KEPEGAWAIAN;

UNDANG-UNDANG (UU) Nomor: 17 TAHUN 1968 (17/1968) Tanggal: 18 DESEMBER 1968 (JAKARTA) Sumber: LN 1968/70; TLN NO. 2870

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1969 TENTANG KONSTITUSI PERHIMPUNAN POS SEDUNIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1960 TENTANG DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG ROYONG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG Nomor: 7 TAHUN 1989 Tentang PERADILAN AGAMA Tanggal: 29 DESEMBER 1989 (JAKARTA) LN 1989/49; TLN NO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1985 TENTANG REFERENDUM. Presiden Republik Indonesia,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Undang Undang No. 14 Tahun 1985 Tentang : Mahkamah Agung

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN HAKIM AD HOC PENGADILAN PERIKANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Indeks: MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG ROYONG. ANGGOTA- ANNGOTA/PIMPINAN. TINDAKAN KEPOLISIAN. TATA CARA.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

UNDANG UNDANG NO. 5 TAHUN 1979 TENTANG PEMERINTAHAN DESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG (UU) Nomor: 20 TAHUN 1968 (20/1968) Tanggal: 18 DESEMBER 1968 (JAKARTA) Sumber: LN 1968/73; TLN NO Tentang: BANK TABUNGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1968 TENTANG BANK DAGANG NEGARA DENGAN RACHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1997 TENTANG BADAN PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERUBAHAN KEDUA UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 4 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1973 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1964 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN HAKIM AD HOC PENGADILAN PERIKANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1997 TENTANG BADAN PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1964 TENTANG PERATURAN TATA TERTIB DPR-GR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN

NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA. Presiden Republik Indonesia,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

Transkripsi:

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 3 TAHUN 1967 (3/1967) Tanggal: 6 MEI 1967 (JAKARTA) Sumber: LN 1967/6; TLN NO. 2821 Tentang: DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG Indeks: PERTIMBANGAN AGUNG. DEWAN. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. KAMI,PEJABAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa perlu segera dibentuk Undang-undang yang mengatur kedudukan, tugas dan susunan Dewan Pertimbangan Agung sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945; b. bahwa perlu meninjau kembali Penetapan Presiden REFR DOCNM="59pnp003">No. 3 tahun 1959 juncto Penetapan Presiden REFR DOCNM="66pnp003">No. 3 tahun 1966 untuk disesuaikan dengan ketentuan dalam ayat a. Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), pasal 16 dan pasal 20 ayat (1) Undang-undang Dasar; 2. Ketetapan M.P.R.S. No. X/MPRS/1966; 3. Ketetapan M.P.R.S. No. XIX/MPRS/1966; 4. Ketetapan M.P.R.S. No. XXXIII/MPRS/1967; Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong; Memutuskan : Menetapkan: Undang-undang tentang Dewan Pertimbangan Agung. BAB I. KEDUDUKAN. Pasal 1. Dewan Pertimbangan Agung berkedudukan di tempat kedudukan Pemerintah Pusat dan apabila perlu dapat bersidang di luar tempat kedudukannya. BAB II.

TUGAS. Pasal 2. Tugas Dewan Pertimbangan Agung ialah: a. memberi jawaban atas pertanyaan Presiden; b. memajukan usul kepada Pemerintah. BAB III. SUSUNAN. Pasal 3. (1) Susunan anggota Dewan Pertimbangan Agung meliputi unsur-unsur dari kehidupan masyarakat dan terdiri dari: a. tokoh-tokoh politik; b. tokoh-tokoh karya; c. tokoh-tokoh daerah; d. tokoh-tokoh nasional. (2) Jumlah anggota Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan sebanyak-banyaknya 27 (dua puluh tujuh) orang termasuk Pimpinan Dewan Pertimbangan Agung. BAB IV. KEANGGOTAAN. Pasal 4. Untuk dapat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung harus dipenuhi syarat-syarat: a. warga-negara Republik Indonesia; b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; c. cakap/ahli/berpengalaman; d. berwibawa, jujur, adil dan dapat mencerminkan kehendak dan isi hati nurani rakyat; e. tidak terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam gerakan kontra revolusi "Gerakan 30 September"/P.K.I. dan atau organisasi terlarang lainnya; f. menerima, menyetujui dan mempertahankan Undang-undang Dasar Republik Indonesia; g. menerima, menyetujui dan mempertahankan Panca Sila sebagai dasar dan ideologi negara; h. setia pada Nusa, Bangsa dan Negara Republik Indonesia; i. taat dan tunduk kepada segala Undang-undang dan peraturan-peraturan Negara Republik Indonesia. Pasal 5. Pengangkatan anggota-anggota Dewan Pertimbangan Agung dilakukan dengan Keputusan Presiden. Pasal 6.

Masa jabatan anggota Dewan Pertimbangan Agung adalah 5 (lima) tahun, anggota Dewan Pertimbangan Agung berhenti bersama-sama. Pasal 7. (1) Pemberhentian anggota Dewan Pertimbangan Agung dilakukan dengan Keputusan Presiden. (2) Anggota Dewan Pertimbangan Agung berhenti antar-waktu sebagai anggota karena: a. meninggal dunia; b. permintaan sendiri; c. bertempat tinggal di luar wilayah Republik Indonesia; d. alasan-alasan lain yang memerlukan diberhentikannya anggota Dewan Pertimbangan Agung. (3) a. Anggota yang menggantikan antar-waktu anggota lama, diangkat menurut ketentuan pasal 5; b. Anggota tersebut pada ayat (3) sub a di atas berhenti sebagai anggota pada saat masa jabatan anggota yang digantikannya berakhir. Pasal 8. Keanggotaan Dewan Pertimbangan Agung tidak dapat dirangkap dengan jabatan: a. Presiden; b. Wakil Presiden; c. Menteri; d. Jaksa Agung; e. Ketua/Hakim Mahkamah Agung; f. Ketua/Anggota Badan Pemeriksa Keuangan; g. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat; h. Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat; i. Jabatan-jabatan lain yang tidak mungkin dirangkap menurut peraturan perundang-undangan. Pasal 9. Sebelum memangku jabatannya, anggota-anggota Dewan Pertimbangan Agung baik masing-masing maupun bersama-sama, diambil sumpah/keterangan dan janjinya oleh Ketua Mahkamah Agung, menurut agamanya masing-masing sebagai berikut: "Saya bersumpah (menerangkan dengan sungguh-sungguh) bahwa saya, untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, langsung atau tidak langsung, dengan nama atau dalih apa pun, tiada memberikan atau menjanjikan ataupun akan memberikan sesuatu kepada siapa pun juga. Saya bersumpah (berjanji) bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini, tidak sekali-kali akan menerima, langsung atau tidak langsung dari siapapun juga sesuatu janji atau pemberian. Saya bersumpah (berjanji) bahwa saya, senantiasa akan menjunjung tinggi Amanat Penderitaan Rakyat, bahwa saya akan taat dan akan mempertahankan Panca Sila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-undang Dasar 1945, dan segala Undang-undang serta peraturan-peraturan lain yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia, dan bahwa saya akan berusaha sekuat tenaga memajukan

kesejahteraan Rakyat Indonesia dan bahwa saya akan setia pada Nusa, Bangsa dan Negara Republik Indonesia." BAB V. PIMPINAN. Pasal 10. (1) Pimpinan Dewan Pertimbangan Agung terdiri dari seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua. (2) Ketua dan Wakil Ketua tersebut pada ayat (1) diangkat oleh Presiden atas usul Dewan Pertimbangan Agung. Pasal 11. Atas permintaan Dewan Pertimbangan Agung, Presiden dapat memimpin rapat Dewan Pertimbangan Agung. BAB VI. TATA-TERTIB. Pasal 12. (1) Dewan Pertimbangan Agung mengatur tata tertibnya sendiri. (2) Dalam tata-tertib tersebut pada ayat (1) dicantumkan tentang: a. persidangan dan rapat Dewan Pertimbangan Agung; b. tata-kerja Dewan Pertimbangan Agung; c. hal-hal yang tersebut dalam pasal 13 ayat (2). BAB VII. BADAN PERLENGKAPAN. Pasal 13. (1) Dewan Pertimbangan Agung mempunyai sebuah Sekretariat. (2) Susunan tugas dan tata-kerja Sekretariat diatur dalam tata-tertib Dewan Pertimbangan Agung. BAB VIII. HAL-HAL LAIN. Pasal 14. Kedudukan protokoler dan keuangan Pimpinan dan anggota Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

BAB IX. PENUTUP. Pasal 15. Penetapan Presiden No. 3 tahun 1959 juncto Penetapan Presiden No. 3 tahun 1966, serta semua peraturan-peraturan yang telah ada yang mengatur tentang Dewan Pertimbangan Agung (Sementara) dengan Undang-undang ini dinyatakan tidak berlaku. Pasal 16. Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 6 Mei 1967. Pd. Presiden Republik Indonesia, SOEHARTO. Jenderal TNI. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 6 Mei 1967. A.n. Sekretaris Negara Sekretaris Presidium Kabinet, SUDHARMONO S.H. Brig. Jen. TNI. PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG No. 3 TAHUN 1967 tentang DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG. I. UMUM. Dengan Dekrit Presiden tertanggal 5 Juli 1959, Undang- undang Dasar 1945 berlaku bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kecuali itu, Dekrit tersebut antara lain memerintahkan penyelenggaraan pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Untuk memenuhi perintah tersebut, pada tanggal 22 Juli 1959 ditetapkan dan diundangkanlah Penetapan Presiden No. 3 tahun 1959 tentang, Dewan Pertimbangan Agung Sementara. Jelaslah bahwa Penetapan Presiden No. 3 tahun 1959 yang didasarkan pada Dekrit Presiden tertanggal 5 Juli 1959, merupakan suatu produk dari hukum tata-negara darurat (staatsnoodrecht). Kemudian Penetapan Presiden tersebut disusul dengan Penetapan Presiden No. 3 tahun 1966 yang membuat perubahan-perubahan yang tidak merupakan perubahan fundamentil dari Penetapan Presiden No. 3 tahun 1959. Dalam pasal 16 Undang-undang Dasar 1945 ditentukan adanya Dewan Pertimbangan Agung.,Menurut pasal tersebut ayat (1), susunan Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dengan Undang- undang. Dengan demikian untuk memenuhi ketentuan itu dibentuklah Undang-undang yang mengatur tentang Dewan Pertimbangan Agung yang posisi dan fungsinya sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945.

Hal-hal tersebut merupakan pula perintah dari Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. X/MPRS/1966 dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XIX/MPRS/1966. II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Dewan Pertimbangan Agung berkedudukan di tempat kedudukan Pemerintah Pusat, karena Dewan ini merupakan Badan Pertimbangan bagi Pemerintah Pusat. Sidang di luar tempat kedudukannya dilakukan jika tidak mungkin diadakan di tempat kedudukan tersebut, misalnya dalam keadaan darurat. Pasal 2. Dewan Pertimbangan Agung memberikan pertimbangan/nasehat/usul mengenai masalah-masalah kenegaraan dan kemasyarakatan terutama masalah-masalah nasional, kepada Pemerintah baik atas permintaan Pemerintah maupun atas inisiatif sendiri. Dasar pokok dari tugas Dewan ini telah ditentukan oleh Undang-undang Dasar. Pasal 3. (1) Dewan Pertimbangan Agung tidak merupakan suatu badan Perwakilan kenegaraan seperti halnya dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Berhubung dengan tugas Dewan Pertimbangan Agung yang telah ditentukan daam Undang-undang Dasar, maka sewajarnyalah jika Dewan ini mempunyai susunan yang meliputi unsur-unsur dari seluruh kehidupan masyarakat dan titik beratnya terletak pada kebijaksanaan dan pengalaman anggotanya. Dengan demikian maka anggota-anggota Dewan Pertimbangan Agung terdiri dari tokoh-tokoh ahli pada bidang-bidang kenegaraan, politik, kemasyarakatan dan kekaryaan. Dari tokoh-tokoh karya yang terutama mendapat perhatian adalah antara lain; cendekiawan dan alim ulama. Yang dimaksud dengan tokoh-tokoh daerah yaitu orang-orang terkemuka dari daerah-daerah atau orang-orang yang dapat mengemukakan dan turut menyelesaikan persoalan-persoalan daerah. (2) Untuk menjamin kelancaran Dewan Pertimbangan Agung, maka anggota-anggota (termasuk Ketua dan Wakil Ketua) Dewan ini ditetapkan dalam jumlah yang tidak besar. Pasal 4. Yang dimaksud dengan organisasi terlarang dalam pasal ini huruf e, ialah organisasi yang tegas-tegas dinyatakan sebagai organisasi terlarang dengan suatu peraturan perundang-undangan. Kecuali anggota dari organisasi terlarang P.K.I. juga orang- orang yang bukan anggota organisasi terlarang tetapi terlibat langsung maupun tidak langsung dalam "Gerakan 30 September/ P.K.I." tidak memenuhi syarat untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Dianggap terlibat secara langsung dalam "Gerakan 30 September/PKI" ialah mereka yang: 1. merencanakan, turut merencanakan atau mengetahui adanya perencanaan gerakan kontra revolusi itu, tetapi tidak melaporkan kepada pejabat yang berwajib. 2. dengan kesadaran akan tujuannya, melakukan kegiatan- kegiatan dalam pelaksanaan gerakan kontra revolusi tersebut. Dianggap terlibat secara tidak langsung dalam "Gerakan 30 September/PKI" ialah mereka yang: 1. menunjukkan sikap, baik dalam perbuatan atau dalam ucapan-ucapan yang bersifat menyetujui gerakan kontra revolusi tersebut; 2. secara sadar menunjukkan sikap baik dalam perbuatan atau dalam ucapan, yang menentang usaha/gerakan penumpasan "Gerakan 30 September/P.K.I." Ketentuan tersebut dalam pasal 4 huruf e tidak berlaku bagi mereka yang berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan telah mendapat grasi atau amnesti atau abolisi. Pasal 5. Agar supaya susunan anggota Dewan Pertimbangan Agung dapat dilakukan dengan seksama seperti dimaksud dalam pasal 3, maka dalam pengangkatan anggota Dewan Pertimbangan Agung ini, terlebih dahulu Presiden mendengar serta memperhatikan pertimbangan dan saran-saran Pimpinan Majelis

Permusyawaratan Rakyat, Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, Pimpinan Partai-partai politik, Pimpinan Organisasi-organisasi Karya dan atau Pimpinan Organisasi lainnya Pasal 6. Masa jabatan anggota Dewan Pertimbangan Agung berakhir dengan berakhirnya masa jabatan Presiden. Anggota-anggota Dewan Pertimbangan Agung yang diangkat untuk pertama kali berdasarkan Undangundang ini masa jabatannya berakhir pada saat Presiden yang dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil pemilihan umum mulai memangku jabatannya. Pasal 7. Anggota yang bertempat tinggal di luar wilayah Republik Indonesia, berhenti sebagai anggota, karena ia tidak dapat terusmenerus aktif melakukan tugasnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pemberhentian dalam pasal ini ayat (2) huruf d dilakukan setelah lebih dulu Presiden mendengar serta memperhatikan pertimbangan dan saran-saran dari Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, Pimpinan Partai-partai Politik, Pimpinan Organisasi-organisasi Karya dan atau Pimpinan Organisasi lainnya. Alasan pemberhentian tersebut antara lain karena: a. perubahan konstelasi politik yang memerlukan diberhentikannya, anggota Dewan tersebut. b. tidak dapat aktif menjalakan tugasnya karena sedang menjalani hukuman penjara atau kurungan, berdasarkan keputusan pengadilan yang tidak dapat diubah lagi, karena tindak pidana yang dikenakan ancaman hukuman sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. Pasal 8. Pasal 9. Pasal 10. Ketua dan Wakil Ketua diangkat dari anggota Dewan Pertimbangan Agung oleh Presiden atas usul Dewan Pertimbangan Agung. Pasal 11. Atas permintaan Dewan Pertimbangan Agung, Presiden dapat memimpin rapat Dewan Pertimbangan Agung. Dalam rapat-rapat demikian, jalannya pembicaraan dapat diarahkan sedemikian rupa sehingga memudahkan Dewan Pertimbangan Agung untuk merumuskan keputusannya sesuai dengan jiwa persoalan yang diajukan, Pasal 12. Pasal 13. Dewan Pertimbangan Agung mempunyai sebuah Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal yang mengurus soal- soal administrasi Dewan ini. Pasal 14. Pasal 15. Pasal 16.

-------------------------------- CATATAN Kutipan: LEMBARAN NEGARA DAN TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA TAHUN 1967 YANG TELAH DICETAK ULANG