1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. besar sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil, disisi lain masyarakat yang sebagian

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. dan juga nursery ground. Mangrove juga berfungsi sebagai tempat penampung

7. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KOTA MAKASSAR

PENDAHULUAN. lebih pulau dan memiliki panjang garis pantai km yang merupakan

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS DAYA DUKUNG MINAWISATA DI KELURAHAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU

3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II DISKIRPSI PERUSAHAAN

I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tourism Center adalah 10,1%. Jumlah tersebut setara dengan US$ 67 miliar,

BAB V. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN ALOR

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya

PENGELOLAAN PULAU KECIL UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI (STUDI KASUS PULAU LIUKANG LOE, KABUPATEN BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN)

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

BAB I PENDAHULUAN. positif yang cukup tinggi terhadap pendapatan negara dan daerah (Taslim. 2013).

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai kekayaan alam dan keragaman yang tinggi dalam

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. negara Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi seperti sekarang ini, pembangunan kepariwisataan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT

BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS PELUANG BISNIS PARIWISATA DI KARIMUNJAWA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedangkan kegiatan koleksi dan penangkaran satwa liar di daerah diatur dalam PP

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sumberdaya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Data menunjukkan bahwa sektor pariwisata di Indonesia telah. Olehkarenanya, sektor ini menjadi sangat potensial untuk dikembangkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia Timur. Salah satu obyek wisata yang terkenal sampai mancanegara di

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481)

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. negara yang memiliki kawasan pesisir yang sangat luas, karena Indonesia

MENGAPA ASPEK RUANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA? 1. PERENCANAAN EKONOMI SERINGKALI BERSIFAT TAK TERBATAS 2. SETIAP AKTIVITAS SELAL

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1999 Tentang : Pengendalian Pencemaran Dan/Atau Perusakan Laut

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. lakukan, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan wisata untuk

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sektor kelautan memiliki peluang yang sangat besar untuk dijadikan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. diantaranya banyak yang dihuni oleh manusia, salah satunya adalah Pulau Maratua

Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, 2000). 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri

VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Sumatera. Lampung memiliki banyak keindahan, baik seni budaya maupun

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu kaya, indah dan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem unik dengan fungsi yang unik dalam

Kimparswil Propinsi Bengkulu,1998). Penyebab terjadinya abrasi pantai selain disebabkan faktor alamiah, dikarenakan adanya kegiatan penambangan pasir

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulaunya yang

Transkripsi:

1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau-pulau kecil memiliki potensi pembangunan yang besar karena didukung oleh letaknya yang strategis dari aspek ekonomi, pertahanan dan keamanan serta adanya ekosistem khas tropis dengan produktivitas hayati tinggi. Selain potensi terbarukan pulau-pulau kecil juga memiliki potensi yang tak terbarukan seperti pertambangan dan energi kelautan serta jasa-jasa lingkungan yang tinggi nilai ekonomisnya. Dari sekian ribu konfigurasi pulau-pulau di Indonesia, sebagian besar merupakan pulau-pulau kecil yang jumlahnya diperkirakan lebih dari ± 10 000 pulau. Dalam perkembangannya bahwa keberadaan pulau-pulau kecil di Indonesia belum mendapat perhatian serius sehingga dalam pengelolaannya belum optimal. Berawal dari munculnya Peraturan Presiden No. 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar hingga lahirnya UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil menunjukan betapa pentingnya wilayah pesisir dan keberadaan pulau-pulau kecil yang perlu dijaga kelestariannya dan dimanfaatkan untuk kemakmuran seluruh masyarakat baik bagi generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang sehingga dibutuhkan aturan khusus dalam pengelolaannya. Pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar ditandai dengan adanya keanekaragaman ekosistem seperti pada ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang beserta biota yang hidup di sekitar wilayah pulaupulau kecil. Keberadaan potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk peningkatan produksi perikanan, ekowisata bahari, konservasi dan jenis pemanfaatan lainnya. Pulau-pulau kecil rentan terhadap perubahan, oleh sebab itu diperlukan kebijakan dalam pengelolaan yang dapat menyeimbangkan tingkat pemanfaatan pulau-pulau kecil untuk kepentingan ekonomi tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang. Kabupaten Bulukumba sebagai salah satu kabupaten pesisir di Sulawesi Selatan memiliki sejarah dan budaya masyarakat yang kaya dengan khazanah kehidupan pesisir dan laut. Secara antropologis, pola pikir, ekonomi dan perilaku sosial budaya masyarakat di Kabupaten Bulukumba tidak dapat dipisahkan dari lingkungan kelautan dan perikanan. Sebagai daerah pesisir, corak budaya dan kegiatan perekonomian Kabupaten Bulukumba banyak dipengaruhi oleh kondisi pesisir, baik dalam bentuk mata pencaharian maupun adat istiadat. Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah pesisir di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 153 km dari Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan). Kabupaten Bulukumba memiliki panjang garis pantai 128 km yang memungkinkan mayarakat melakukan aktivitas pada sektor kelautan dan perikanan (DKP Provinsi Sulawesi Selatan, 2012). Kecamatan Bontobahari merupakan salah satu kecamatan yang terletak di wilayah pesisir Kabupaten Bulukumba dan sangat berpotensi untuk pengembangan aktivitas pesisir dan lautan termasuk ekowisata bahari. Kabupaten

2 Bulukumba memiliki ikon wisata yaitu Tanjung Bira, akan tetapi seiring dengan meningkatnya tekanan menyebabkan degradasi sumberdaya, belum lagi ditambah dalam pengelolaannya yang belum maksimal dan berkelanjutan. Pulau Liukang Loe merupakan pulau yang terletak di Kabupaten Bulukumba yang telah ditetapkan Pemerintah Daerah sebagai destinasi wisata. Pulau Liukang Loe sangat unik dengan karakteristik budaya masyarakat lokal yang khas dan secara fisik wilayah pulau hampir dikelilingi pasir putih dan rataan terumbu karang yang tentu dapat mendukung kegiatan wisata bahari di Pulau Liukang Loe seperti aktivitas wisata pantai (rekreasi/bersantai), snorkling dan menyelam. Sampai saat ini, belum ada perhatian serius dalam hal pengelolaan Pulau Liukang Loe sehingga kontribusinya bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba juga terbilang masih minim. Oleh karena itu diperlukan instrumen tepat dalam pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk lebih memberdayakan wilayah kepulauan menjadi kawasan yang menguntungkan secara ekologi, sosial dan ekonomi (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bulukumba, 2012). Salah satu tipologi kegiatan wisata yang menjadi alternatif kegiatan wisata bahari saat ini adalah ekowisata bahari yang mengedepankan keaslian alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi, ekologis dan sosial budaya (Bookbinder et al. 2000; Bjork, 2000). Pengembangan kawasan pulau-pulau kecil sebagai lokasi ekowisata bahari memerlukan koordinasi dan integrasi dari beberapa unsur dengan mengacu pada kondisi internal lokasi yang menyangkut aspek ekologi, kesesuaian, daya dukung dan sosial budaya masyarakat. Oleh karena itu perlu dirancang desain pengelolaan yang terpadu. Selain itu juga pulau-pulau kecil sangat rentan karena sifatnya yang khas akibat kecilnya ukuran dibanding daratan (smallness) serta terisolasi dari pulau besar/induk (remotness) serta akibat tekanan dari aktivitas manusia yang sifatnya destruktif (Dahuri, 2003; Bengen, 2003). Wisata beresiko menjadi tidak berkelanjutan jika sistem ekologi dan kapasitas kultur sosial ekonomi masyarakat lokal tidak dihargai (Wall 1997 in Teh dan Cabanban, 2007). Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara aktivitas ekowisata bahari wisatawan dengan kualitas lingkungan perairan, ekosistem dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dimana kualitas lingkungan perairan dan ekosistem yang baik akan mendukung pengembangan aktivitas ekowisata bahari dan secara tidak langsung akan mendukung peningkatan kapasitas sosial ekonomi masyarakat lokal. Saat ini kegiatan wisata yang telah berlangsung di Pulau Liukang Loe adalah wisata pantai (rekreasi pantai), snorkling dan diving yang dilakukan oleh wisatawan lokal yang umumnya berasal dari Kota Makassar dan sekitarnya maupun wisatawan mancanegara. Berbagai kelompok masyarakat baik dalam rombongan keluarga, kelompok mahasiswa dan instansi pemerintah biasanya memanfaatkan hari libur untuk berwisata di kawasan Pulau Liukang Loe. Untuk sampai ke kawasan Pulau Liukang Loe, wisatawan dapat menggunakan sarana transportasi berupa motor laut milik masyarakat, sarana transportasi pribadi berupa speed boat atau yang disewa selama kurang lebih 30 menit dari Pantai Pasir Putih Tanjung Bira. Kunjungan wisatawan ke obyek wisata Pulau Liukang Loe berlangsung setiap tahunnya. Akan tetapi, kunjungan mencapai puncak pada bulan Juni hingga

3 akhir tahun. Hal ini terkait dengan periode musim yang terjadi pada bulan tersebut yakni musim kemarau dimana kondisi pantai cenderung bersih. Permasalahannya adalah peningkatan kunjungan pada musim puncak juga meningkatkan seluruh aktivitas wisata baik aktivitas wisata maupun aktivitas transportasi antar pulau, perdagangan souvenir dan kegiatan perikanan lainnya. Keragaman jenis bahan pencemar pun bertambah salah satunya pencemaran oleh bahan organik. Adanya peningkatan kegiatan tersebut menyebabkan tekanan terhadap ekosistem semakin meningkat, sehingga berpengaruh terhadap kondisi ekologi sumberdaya laut di Pulau Liukang Loe yaitu terumbu karang serta penurunan kualitas perairan laut. Kondisi perairan tersebut jika terus berlanjut dan nilai parameter perairan melebihi batas baku mutu peruntukkan wisata bahari yang telah ditetapkan, maka perairan laut tersebut telah tercemar baik secara fisik, kimia maupun biologi. Oleh karena itu diperlukan penelitian strategi pengembangan ekowisata bahari di Pulau Liukang Loe dengan mengacu pada daya dukung kawasan untuk keberlanjutan sumberdaya dan ekosistem Pulau Liukang Loe. 1.2 Perumusan Masalah Sebagai kawasan pesisir dan pulau kecil, Pulau Liukang Loe memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata bahari. Selain itu, adanya keragaman budaya dan sejarah yang ada di pulau ini menjadikan Pulau Liukang Loe menjadi sangat prospektif untuk pengembangan lebih lanjut. Kegiatan wisata yang telah ada di Pulau Liukang Loe adalah wisata pantai (rekreasi), snorkling dan diving menikmati panorama alam sehingga dapat dikatakan Pulau Liukang Loe memiliki potensi wisata yang lengkap dan beragam. Pulau Liukang Loe dengan kondisi potensi sumberdaya yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal. Belum optimalnya kegiatan wisata ini disebabkan karena kurangnya dukungan pemerintah karena dalam pengelolaan belum dilakukan secara serius dan professional dalam mengembangkan Pulau Liukang Loe menjadi suatu kawasan wisata bahari. Kurangnya dukungan pemerintah ini yaitu dalam hal ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung perjalanan wisata bahari relatif kurang tersedia dan tidak memadai sehingga belum dapat memberikan kesejahteraan pada masyarakat lokal. Keberadaan potensi sumberdaya yang beranekaragam dapat memberikan manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi. Manfaat tersebut akan dapat diterima jika dikelola secara baik dan benar berdasarkan konsep pengelolaan yang komprehensif dengan mempertimbangkan daya dukung yang dimiliki baik biofisik maupun sosial ekonomi. Jika melebihi batas tersebut dan pembangunan yang tidak terencana akan mengalami degradasi lingkungan dan konflik sosial (Wong, 1991). Selain itu, dalam pengelolaan Pulau Liukang Loe perlu juga diperhatikan aktivitas wisatawan dan keberadaan masyarakat lokal yang telah ada. Berbagai aktivitas masyarakat kemudian ditambah dengan adanya kunjungan wisatawan akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas ekosistem. Tekanan terhadap sumberdaya ekosistem akan terus berlanjut jika persepsi masyarakat lokal dan

4 wisatawan dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada cenderung eksploitatif dan mengesampingkan aspek pelestarian terhadap sumberdaya yang ada. Hal ini terkait dengan tingkat pembangunan yang secara keseluruhan tidak boleh melebihi daya dukung (carrying capacity) sesuai dengan kaidah-kaidah ekologis sehingga dampak negatif dapat ditekan seminimal mungkin sesuai dengan kemampuan ekosistem pesisir dan pulaunya. Selain itu, kontribusi limbah yang dihasilkan dapat dilakukan prediksi status pencemaran di Pulau Liukang Loe. Dimana pengaruh yang ditimbulkan bukan hanya pada penurunan daya dukung tapi dapat mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut. Upaya meminimalkan dampak negatif dengan adanya aktivitas wisata bahari dapat ditempuh dengan pengalokasian aktivitas wisata bahari dengan mempertimbangkan kesesuaian kawasan untuk peruntukkan wisata bahari dan daya dukung dalam menyediakan lahan dan sumberdaya bagi setiap kegiatan. Oleh karena itu, pemanfaatan Pulau Liukang Loe untuk pengembangan wisata bahari harus memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan secara lestari dan berkelanjutan. Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi sumberdaya untuk mendukung aktivitas ekowisata bahari di Pulau Liukang Loe. 2. Bagaimana kesesuaian lahan dan daya dukung kawasan Pulau Liukang Loe untuk pengembangan ekowisata bahari. 3. Bagaimana strategi dalam pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan : 1.3 Tujuan 1. Mengkaji kondisi sumberdaya perairan untuk mendukung aktivitas ekowisata di Pulau Liukang Loe. 2. Mengukur kesesuaian lahan dan daya dukung kawasan untuk aktivitas ekowisata di Pulau Liukang Loe. 3. Menentukan strategi pengelolaan untuk pengembangan Pulau Liukang Loe berbasis ekowisata bahari. 1.4 Manfaat Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi dasar dalam perumusan perencanaan pembangunan pulau-pulau kecil (PPK) terutama untuk pengelolaan untuk mengatasi/meminimalisir beban limbah akibat aktivitas wisatawan dan masyarakat lokal di Pulau Liukang Loe. Selain itu, dapat menjadi bahan informasi bagi pihak swasta ataupun stakeholder yang ingin terlibat dalam kegiatan ekowisata bahari Pulau Liukang Loe dan menjadi acuan atau pedoman ilmiah bagi pengembangan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan.

5 1.5 Kerangka Pemikiran Pulau Liukang Loe merupakan sumberdaya pulau kecil yang memiliki potensi yang cukup besar. Variabel penelitian dengan inventarisasi sumberdaya berupa ekosistem alami yang tersedia di Pulau Liukang Loe antara lain terumbu karang dan pantai berpasir, analisis kesesuaian wisata, analisis daya dukung di tinjau dari aspek ekologi dengan pendekatan ruang/ketersediaan ruang serta kualitas air sehingga diperoleh rekomendasi pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari berkelanjutan. Sebagai pulau kecil, Pulau Liukang Loe rentan terhadap berbagai tekanan baik dari masyarakat lokal dengan segala aktifitas pemanfaatan sumberdaya alam untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, selain itu juga dari aktivitas wisatawan yang mengunjungi dan memanfaatkan sumberdaya dan jasa lingkungan di kawasan tersebut untuk kebutuhan wisata. Oleh karena itu sangat penting untuk mempertimbangkan aspek ekologi dalam pengembangan kawasan ini. Pengembangan Pulau Liukang Loe untuk kegiatan ekowisata bahari tentu perlu dikaji terlebih dahulu potensi dan informasi terkait mengenai sumberdaya dan kondisi masyarakat lokal yang berada di sekitar kawasan pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil dengan maksud mengidentifikasi karakteristik sumberdaya dan kesesuaian lahan pemanfaatan agar dalam pemanfaatannya secara optimal. Dalam penelitian ini, penentuan zona pengembangan wisata bahari dilakukan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang didasarkan pada kriteria kesesuaian untuk setiap aktivitas wisata bahari dimana melaui pendekatan ini akan diperoleh kawasan mana saja yang sesuai dan tidak sesuai untuk berbagai jenis wisata. Selanjutnya, dilakukan penentuan daya dukung kawasan untuk menampung wisatawan yang masuk tanpa mengganggu keseimbangan ekologis. Perhitungan daya dukung dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan ruang/spasial untuk mengetahui jumlah wisatawan yang dapat ditampung ditiap sub zona kegiatan wisata berdasarkan luas kawasan yang sesuai dan pendekatan kualitas air terkait dengan limbah yang dihasilkan oleh masyarakat dan wisatawan selama melakukan aktivitas di Pulau Liukang Loe. Informasi tersebut sangat diperlukan dalam pengelolaan dan pengembangan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari untuk keberlanjutan system sumberdaya dan aktivitas wisata itu sendiri. Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.1 sebagai berikut.

6 Pengelolaan Sumberdaya Pulau Liukang Loe Identifikasi Potensi Sumberdaya PPK Identifikasi Pemanfaatan Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) Analisis Kesesuaian Ekowisata Bahari Wisata Pantai Snorkling Selam Daya Dukung Ruang Limbah Masyarakat Limbah Wisata Lingkungan Pesisir Pengelolaan Pulau Liukang Loe Untuk Ekowisata Bahari Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penelitian