BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG BERWAWASAN BUDAYA

dokumen-dokumen yang mirip
WALIKOTA PALANGKA RAYA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAKATOBI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN (Berita Resmi Kabupaten Sleman) Nomor: 1 Tahun 2011 Seri: D PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 5 TAHUN 2011

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 110 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017

Syarat Bangunan Gedung

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENGELOLAAN TEMPAT PELELANGAN IKAN TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 1 TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN. Denpasar terhadap tata bangunannya. Bangunan-bangunan tersebut banyak yang

No Indonesia. Selain itu, hasil karya Arsitektur dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Dalam melakukan kegiat

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana diatur dalam pasal 10 ayat 2 Undang Undang Nomor 32 tahun 2004

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 1 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

GUBERNUR MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TELUK DI PROVINSI MALUKU

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

WALIKOTA SERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN NAMA NAMA JALAN DI WILAYAH KOTA SERANG


MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN KAWASAN PERDESAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG ARSITEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG POLA PENGEMBANGAN TRANSPORTASI WILAYAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No di bidang arsitektur, dan peningkatan mutu karya arsitektur untuk menghadapi tantangan global; d. bahwa saat ini belum ada pengaturan

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN JALAN KHUSUS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ALOR TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA LINGKUNGAN HIDUP KAWASAN PESISIR DAN LAUT DI KABUPATEN ALOR

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG:

PERATURAN DAERAH KOTA SOLOK NOMOR : 1 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SOLOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SOLOK,

- 1 - WALIKOTA SERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG IZIN TEMPAT USAHA DAN GANGGUAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO,

CUPLIKAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 02/PRT/M/2014 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN RUANG DI DALAM BUMI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM Nomor : 11 /PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN JALAN KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No Pemajuan Kebudayaan Nasional Indonesia secara menyeluruh dan terpadu; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam hur

BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

IV. GAMBARAN UMUM. A. Gambaran Umum Polresta Bandar Lampung. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) meru pakan merupakan alat

WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG KAWASAN INDUSTRI KOTA KENDARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN

HIRARKI IV ZONASI. sub zona suaka dan pelestarian alam L.1. sub zona sempadan lindung L.2. sub zona inti konservasi pulau L.3

WALIKOTA MALANG, 5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembara n Negara Republik Indonesia

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG RUMAH SUSUN

PERDA KABUPATEN KAYONG UTARA NO.1, LD.2011/NO.1 SETDA KABUPATEN KAYONG UTARA : 22 HLM

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI DAN IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN

BUPATI BANDUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPAEN BANDUNG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

WALIKOTA DEPOK. PROVINSI JAWA BARAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HALMAHERA TENGAH NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ARSITEKTUR BANGUNAN GEDUNG BERWAWASAN BUDAYA 2.1 Pengertian Bangunan Gedung Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung Dewasa ini fungsi bangunan gedung dalam kehidupan masayarakat kian semakin kompleks, mengingat bangunan gedung merupakan suatu wadah yang menunjang dimana manusia itu sendiri melakukan aktifitas rumah tangga, kerohanian, pemerintahan dan, fungsi usaha. Pada dasarnya setiap orang, badan, atau institusi bebas untuk membangun bengunan gedung sesuai dengan kebutuhan, ketersediaan dana, bentuk, konstruksi, dan bahan yang digunakan. Hanya saja mengingat mungkin saja pembangunan suatu bangunan dapat menggangu orang lain maupun mungkin membahayakan kepentingan umum, tentunya pembangunan bangunan gedung harus diatur dan diawasi oleh pemerintah, untuk itu diperlukan suatu aturan hukum yang dapat mengatur agar bangunan gedung dapat dibangun secara benar. Di Indonesia telah diatar dalam dasar hukum yang kuat, yaitu dalam bentuk undangundang yang memiliki aturan pelaksanaan berupa peraturan pemerintah. Undang-undang yangh dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangun Gedung yang diundangkan dan mulai berlaku pada tanggal 16 Desember 2002. Sebagai aturan pelaksananya pemerintah telah menerbitkan Peraturan pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung yang di tetapkan dan mulai berlaku pada tanggal 10 september 2005. Berikut ialah pengeritianpengertian Bangunan Gedung yang berkaitan dengan arsitektur: 1) Pada Pasal 1 ayat (1) bangunan gedung diartikan dengan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada 20

21 di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. 2) Pada Pasal 5 ayat (4) Bangunan Gedung Fungsi Usaha diartikan dengan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi bangunan gedung untuk perkantoran, perdagangan, perindustrian, perhotelan, wisata dan rekreasi, terminal, dan penyimpanan. 3) Pada Pasal 9 ayat (1) mengenai persyaratan tata bangunan di atur sebagai berikut: Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan. 4) Pada Pasal 14 ayat (1) di atur mengenai persyaratan arsitektur yang yang menyesuaikan lingkungan setempat sebagai berikut: Persyaratan arsitektur bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya. Dalam hal pembangunan bangunan gedung peril diperhatikan asas, tujuan, dan ruang lingkup bangunan gedung yaitu; 1 1) asas bangunan gedung diselenggarakan berlandaskan asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya. Asas kemanfaatan dipergunakan sebagai landasan agar bangunan gedung dapat diwujudkan dan diselenggarakan sesuai fungsi yang ditetapkan, serta sebagai wadah kegiatan manusia yang memenuhi nilai-nilai kemanusiaan yang berkeadilan, termasuk aspek kepatutan dan kepantasan. Asas keselamatan dipergunakan sebagai landasan agar bangunan gedung 1 Mariot Pahala Siahaan, op.cit, h. 57

22 memenuhi persyaratan bangunan gedung, yaitu persyaratan keandalan teknis untuk menjamain keselamatan pemilik dan bangunan gedung, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, disamping persyaratan yang bersifat administratif. Asas keseimbangan dipergunakan sebagai landasan agar keberadaan bangunan gedung berkelanjutan tidak mengganggu kesimbangan ekosistem dan lingkungan di sekitar bangunan gedung. Asas keserasian dipergunakan sebagai landasan agar penyelengaraan bangunan gedung dapat mewujudkan keserasian dan keselarasan bangunan gedung dan lingkungan di sekitarnya. 2) Tujuan pengaturan bangunan bertujuan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya, kemudian bertujuan untuk mewujudkan tertib penyelengaraan dan kepastian hukum bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan gedung dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan. 3) Undang-undang No. 28 Tahun 2002 mengatur ketentuan tentang bangunan gedung yang meliputi fungsi persyartan, penyelenggaraan, peran masyarakat, dan pembinaan. Dalam tiap tahapan penyelengaraan bangunan gedung termasuk dengan pertimbangan aspek sosial dan ekologis bangunan gedung. Pengertian tentang lingkup pembinaan termasuk kegiatan pengaturan, pemberdayaan, dan pengawasan. Beberapa ketentuan dalam peraturan pemerintah No. 36 Tahun 2005 memerlukan adanya suatu pedoman dan standar teknis yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penyelengaraan bangunan gedung. Untuk melaksanakan ketentuan ini, menteri pekerjaan umum sebagai menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang pekerjaan umum, sebagaimana dimaksud maka menteri pekerjaan umum mengeluarkan Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor

23 29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. 2 Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung dimaksudkan sebagai acuan dalam pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsi, andal, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. 2.2 Pengertian Aristektur Bangunan Gedung Menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali No.5 Tahun 2005 Tentang Persyaratan Arsitektur Bangungan Gedung Sesuai bunyi pada ketentuan Pasal 14 Undang-undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan yang mengatur tentang bentuk arsitektur bangunan gedung harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Pemerintah Daerah Provinsi Bali atas dasar kewenangan yang diberikan Undang-Undang atau kewenangan atribusi maka, Pemerintah provinsi bali menerbitkan Perautran Daerah Provinsi Bali no. 5 Tahun 2005 Tentang Persyartan Arsitektur Gedung. Dengan diterbitkannya aturan ini maka berimplikasi pada setiap Badan Pemrintah atau Badan Hukum yang hendak mendirikan banguan gedung hendaknya memperhatikan ketentuanketentuan yang belaku pada perda tersebut, agar adanya kesesuaian dan keserasian antara bangunan yang hendak dibangun dengan lingkungan di sekitar. Berikut merupakan beberapa bunyi dari pasal-pasal yang terkandung dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 5 tahun 2005 Tentang Persyartan Arsitektur Bangunan Gedung: 1) Pada Pasal 1 angka 7 dalam peraturan daerah ini yang dimaksud dengan arsitektur tradisional Bali adalah tata ruang dan tata bentuk yang pembangunannya didasarkan atas nilai dan norma-norma baik tertulis maupun tidak tertulis yang diwariskan secara turuntemurun. 2 Ibid, h.12

24 2) Pada Pasal 1 angka 11 diatur mengenai pengertian persyaratan arsitektur adalah persyaratan yang berkaitan dengan bentuk dan karakter penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, dan kesimbangan/keselarasanya dengan lingkungannya. 3) Pada Pasal 1 angka 14 dijelaskan pengertian bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, kegiatan budaya, kegiatan campuran, maupun kegiatan khusus. 4) Pada Pasal 7 angka 1 disebutkan mengenai persyaratan arsitektur bangunan gedung harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. penampilan luar dan penampilan ruang dalam; b. keseimbangan, keselarasan, dan keterpaduan bangunan gedung dengan lingkungan dan ; c. nilai-nilai luhur dan identitas budaya setempat 5) Pada Pasal 7 angka 2 dijelaskan bahwa persyaratan penampilan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menerapkan norma-norma pembangunan tradisional Bali dan/atau memperhatikan bentuk dan karakteristik Arsitektur Tradisional Bali yang berlaku umum atau arsitektur dan lingkungan setempat yang khas dimasingmasing kabupaten/kota. Bangunan Fungsi Usaha merupakan bangunan gedung yang digunakan sebagai fungsi usaha. Bila melihat pada dewasa ini, bentuk usaha yang ada kian berkembang bentuk dan jenisjenisnya, maka dari itu Dalam penjelasan atas

25 Peraturan Daerah peraturan Daerah Provinsi Bali No.5 Tahun 2005, penjelaskan Pasal 4 menggolongkan bangungan gedung fungsi usaha dengan peruntukan sebagai berikut: a. Perkantoran, termasuk kantor yang disewakan: b. Perdangan, seperti warung, toko, pasar, dan mall; c. Perindustrian; seperti pabrik, laboratirium, dan perbengkelaan; d. Perhotelan, seperti wisma, losmen, hotel, dan motel; e. Wisata dan rekreasi, seperti gudang pertemuan, olahraga, anjungan, bioskop, dan gedung pertunjukan f. Terminal, seperti terminal angkutan darat, stasiun kereta api, bandara dan pelabuhan laut; dan g. Penyimpangan, seperti gudang, tempat pendingin, gedung, dan parkir. 2.3 Kaitan Arsitektur Bangunan Gedung Dengan Visi Misi Kota Denpasar Yang Berwawasan Budaya Identitas sebuah kota dapat dilihat dari beberapa hal, bangunan bersejarah yang menyimpan sejarah yang menjadi kebanggaan suatu daerah. Bisa juga berupa letak atau posisi kota, tata guna lahan, tata guna kawasan, keteraturan kota dan arsitektur kota. Identitas juga dapat diidentifikasi dari ciri khas tertentu yang dimiliki suatu tempat atau daerah. Identitas pun dapat terbentuk tanpa kesengajaan dan dapat pula direncanakan secara sistemik dan terkoordinasi. Arsitektur tradisional merupakan salah satu bentuk kekayaan kebudayaan bangsa. Keragaman Arsitektur tradisional yang tersebar di bentang kawasan Nusantara menjadi sumber ilmu pengetahuan yang tiada habis-habisnya.

26 Arsitektur tradisional di setiap daerah menjadi lambang kekhasan budaya masyarakat setempat. Sebagai suatu bentuk kebudayaan arsitektur tradisional dihasilkan dari satu aturan atau kesepakatan yang tetap dipegang dan dipelihara dari generasi ke generasi. Aturan tersebut akan tetap ditaati selama masih dianggap dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat setempat. Denpasar merupakan ibu kota Provinsi Bali dengan misi mewujudkan Denpasar menjadi kota berwawasan budaya, maka misi Kota Denpasar yang berwawasan budaya adalah mewujudkan tata keloka kota yang berdasarkan pada kearifan lokal serta berbasis budaya. Salah satu hasil dari kebudayaan ialah peradaban, peradaban arsitektur tradisional inilah yang menggambarkan kebudayaan dimasa lampau. 3 Pimpinan daerah sudah lama memiliki visi dan misi yang berbasis kearifan lokal dengan tata kota yang berbasis budaya. Suatu hal yang sangat positif sekali yang harus mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat luas. Mempunyai kebudayaan yang adi luhung yang diwariskan oleh generasi penerusnya, dikagumi oleh orang-orang asing yang sudah pernah melihat kebudayaan yang memiliki jati diri yang khas, salah satunya arsitektur Bangunan Gedungnya. walaupun dalam transisi perubahan jaman yang selalu berubah-ubah namun dalam penerapanya tidak ketinggalan jaman. Hal-hal seperti inilah akan diterapkan oleh Denpasar agar bisa menyesuaikan diri ditengah kemajuan tekhnologi namun tidak kehilangan roh dan jati dirinya. Denpasar sebagai kota berwawasan budaya, paling tidak secara fisik sebuah bangunan mencerminkan arsitektur Bali. Sesuai asas otonomi daerah yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurur daerahnya sendiri dan sepanjang itu tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi, maka setiap daerah otonom diberikan kesempatan untuk mengatur daerahnya memalui produk-produk hukum daerah yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai 3 Admin, 2011, Sarasehan Arsitektur Bangunan Bali Penguatan Visi Denpassar, https://denpasarkota.go.id, diakses pada tanggal 4 april

27 penopang dari kesuksesan terselenggaranya pemerintahan daerah itu sendiri. Berdasarkan pada asas otonomi daerah tersebut maka lahirlah Peraturan kebijkan yang mengatur tentang Arsitektur Bangunan Gedung di Kota Denpasar yaitu Peraturan Walikota Denpasar Nomor 25 Tahun 2010 Tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung sebagai suatu produk hukum daerah Kota Denpasar guna tetap menjaga dan melestarikan Arsitektur Bangunan Gedung Warisan Bali. Sebagai kota berwawasan budaya, Denpasar kiranya akan lebih baik jika memiliki karakteristik sendiri yang mana guna mempertegas jati diri kota Denpasar maka lahir pula aturan Regulasi yang mengadopsi Peraturan Daerah Provinsi Bali No.5 tahun 2005 Tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung yaitu Peraturan Walikota Denpasar No. 25 Tahun 2010 tentang Persyaratan Arsitektur bangunan Gedung guna menekan lajunya arus moderenisasi terhadap perkembangan pembangunan di kota Denpasar yang akan terus mengikuti arus modern. Denpasar sebagai salah satu etalase Bali sebenarnya memiliki karakter arsitektur yang bagus untuk ditampilkan. Hal ini perlu ditonjolkan, terutama di jalan-jalan protokol, kantor, bangunan fasilitas umum, hotel dan sebagainya. Sebagai bentuk adaptasi, perubahan-perubahan bentuk arsitektur tersebut akan mewakili kondisi kebudayaan pada saat itu, yang apabila dirangkaikan akan dapat bercerita tentang sejarah suatu kebudayaan. 4 Pada kebudayaan yang bertahan karena nilai-nilainya tetap dipegang dan diturunkan antar generasi, akan tercermin pada tampilan arsitektur lingkungan binaannya. Wujud fisik kebudayaannya dikenal sebagai arsitektur tadisional. Melihat dari pentingnya penataan kota dari segi arsitektur bangunan, maka dengan adanya regulasi atau peraturan kebijakan di kota Denpasar yang mengatur tentang arsitektur bangunan gedung merupakan satu langkah inprisif dalam membantu mewujudkan Denpasar Sebagai Kota Yang Berwawasan Budaya. 4 Otto Gusti Madung, Op.cit, h. 39

28 luasnya kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurur daerahnya sendiri dan sepanjang itu tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, maka setiap daerah otonom diberikan kesempatan untuk mengatur daerahnya memalui produk-produk hukum daerah yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai penopang dari kesuksesan terselenggaranya pemerintahan daerah itu sendiri. Berdasarkan pada asas otonomi daerah tersebut maka lahirlah Peraturan kebijkan yang mengatur tentang Arsitektur Bangunan Gedung di Kota Denpasar yaitu Peraturan Walikota Denpasar Nomor 25 Tahun 2010 Tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung sebagai suatu produk hukum daerah Kota Denpasar guna tetap menjaga dan melestarikan Arsitektur Bangunan Gedung Warisan Bali. Sebagai kota berwawasan budaya, Denpasar kiranya akan lebih baik jika memiliki karakteristik sendiri yang mana guna mempertegas jati diri kota Denpasar maka lahir pula aturan Regulasi yang mengadopsi Peraturan Daerah Provinsi Bali No.5 tahun 2005 Tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung yaitu Peraturan Walikota Denpasar No. 25 Tahun 2010 tentang Persyaratan Arsitektur bangunan Gedung guna menekan lajunya arus moderenisasi terhadap perkembangan pembangunan di kota Denpasar yang akan terus mengikuti arus modern. Denpasar sebagai salah satu etalase Bali sebenarnya memiliki karakter arsitektur yang bagus untuk ditampilkan. Hal ini perlu ditonjolkan, terutama di jalan-jalan protokol, kantor, bangunan fasilitas umum, hotel dan sebagainya. Sebagai bentuk adaptasi, perubahan-perubahan bentuk arsitektur tersebut akan mewakili kondisi kebudayaan pada saat itu, yang apabila dirangkaikan akan dapat bercerita tentang sejarah suatu kebudayaan. 5 Pada kebudayaan yang bertahan karena nilai-nilainya tetap dipegang dan diturunkan antar generasi, akan tercermin pada tampilan arsitektur lingkungan binaannya. Wujud fisik kebudayaannya dikenal sebagai arsitektur tadisional. Melihat dari pentingnya penataan kota 5 Otto Gusti Madung, Op.cit, h. 39

29 dari segi arsitektur bangunan, maka dengan adanya regulasi atau peraturan kebijakan di kota Denpasar yang mengatur tentang arsitektur bangunan gedung merupakan satu langkah inprisif dalam membantu mewujudkan Denpasar Sebagai Kota Yang Berwawasan Budaya.