Scanned by CamScanner

dokumen-dokumen yang mirip
Scanned by CamScanner

Please refer as: M. Fani Indarto dan Bondan T. Sofyan, Pengaruh Temperatur dan Waktu Tahan Perlakuan Pelarutan Terhadap Pengerasan Penuaan Paduan

Please refer as: Nike Lestari, Suryadi, Bondan T. Sofyan, Pengaruh Kombinasi Penambahan 0.1 wt. % Ti dan Variasi 0.003, 0.018, dan wt.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENGUJIAN KOMPOSISI

PENGARUH UNSUR Mn PADA PADUAN Al-12wt%Si TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK LAPISAN INTERMETALIK PADA FENOMENA DIE SOLDERING SKRIPSI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PERANAN MODIFIER STRONTIUM TERHADAP FLUIDITAS DAN PERUBAHAN MORFOLOGI STRUKTUR SILIKON PADA MASTER ALLOY Al-7%Si DAN Al-11%Si

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Please refer as: Mashudi Darta, Bondan T. Sofyan, Pengaruh Kombinasi Komposisi 0.02 wt. % Sr dan 0.055, 0.078, dan wt.% Ti terhadap Ketahanan

VARIASI PENAMBAHAN FLUK UNTUK MENGURANGI CACAT LUBANG JARUM DAN PENINGKATAN KEKUATAN MEKANIK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISA STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADUAN ALUMINIUM HASIL PENGECORAN CETAKAN PASIR

PEMBENTUKAN FASA INTERMETALIK α-al 8 Fe 2 Si DAN β-al 5 FeSi PADA PADUAN Al-7wt%Si DENGAN PENAMBAHAN UNSUR BESI DAN STRONSIUM SKRIPSI

Pengaruh Waktu Penahanan Artificial Aging Terhadap Sifat Mekanis dan Struktur Mikro Coran Paduan Al-7%Si

Scanned by CamScanner

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN UNSUR MANGAN PADA PADUAN ALUMINIUM 7wt% SILIKON TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK LAPISAN INTERMETALIK PADA FENOMENA DIE SOLDERING

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Peleburan AC4B GBF. Holding Furnace LPDC. Inject: 0 jam 1 jam 2 jam 3 jam 4 jam. Chipping Cutting Blasting

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KARAKTERISASI SIFAT MEKANIK PADUAN ALUMINIUM AA.319-T6 AKIBAT PENGARUH VARIASI TEMPERATUR AGING PADA PROSES PRECIPITATION HARDENING

Pengaruh Solution treatment Singkat pada Paduan Al-Si-Mg : Sebuah Studi Awal

Pengaruh Tekanan dan Temperatur Die Proses Squeeze Casting Terhadap Kekerasan dan Struktur Mikro Pada Material Piston Komersial Lokal

PENGARUH TEKANAN INJEKSI PADA PENGECORAN CETAK TEKANAN TINGGI TERHADAP KEKERASAN MATERIAL ADC 12

ANALISIS SIFAT FISIS DAN MEKANIS ALUMINIUM (Al) PADUAN DAUR ULANG DENGAN MENGGUNAKAN CETAKAN LOGAM DAN CETAKAN PASIR

Pengaruh Tekanan, Temperatur Die Pada Proses Squeeze Casting Terhadap Kekerasan dan Struktur Mikro Pada Material Piston Berbasis Material Piston Bekas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR. Penelitian

PENGARUH TEKANAN, TEMPERATUR DIE PADA PROSES SQUEEZE CASTING TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PISTON BERBASIS MATERIAL BEKAS

BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN KANDUNGAN SILICON TERHADAP NILAI KEKERASAN PADUAN Al-Si

PENAMBAHAN AlTiB SEBAGAI PENGHALUS BUTIR PADA PROSES RAPID SOLIDIFICATION ALUMINIUM

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH Cu PADA PADUAN Al-Si-Cu TERHADAP PEMBENTUKAN STRUKTUR KOLUMNAR PADA PEMBEKUAN SEARAH

Jl. Prof. Sudharto, SH., Tembalang-Semarang 50275, Telp * Abstrak. Abstract

BAB II DASAR TEORI AAXXX.X

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN ANALISA. pengujian komposisi material piston bekas disajikan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Hasil Uji Komposisi Material Piston Bekas

KARAKTERISTIK PENGECORAN LOST FOAM PADA BESI COR KELABU DENGAN VARIASI KETEBALAN BENDA

BAB II STUDI LITERATUR

Peningkatan Sifat Mekanik Paduan Aluminium A356.2 dengan Penambahan Manganese (Mn) dan Perlakuan Panas T6

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN PADUAN Co-Cr-Mo-C-N PADA PERLAKUAN AGING

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakterisasi Sifat Mekanik Paduan Aluminium AA. 319-T 6 Akibat Pengaruh Waktu Tahan Pada Proses Precipitation Hardening

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH NITROGEN TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADUAN IMPLAN Co-28Cr-6Mo-0,4Fe-0,2Ni YANG MENGANDUNG KARBON HASIL PROSES HOT ROLLING

PENGEMBANGAN MEKANISME DAN KUALITAS PRODUKSI SEPATU KAMPAS REM BERBAHAN ALUMUNIUM DAUR ULANG DENGAN METODE PENGECORAN SQUEEZE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Simposium Nasional RAPI XI FT UMS 2012 ISSN :

HEAT TREATMENT PADA ALUMINIUM PADUAN

PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN KETEBALAN BENDA TERHADAP KEKERASAN BESI COR KELABU DENGAN PENGECORAN LOST FOAM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II STUDI LITERATUR

STUDI PENGARUH TEMPERATUR DAN GETARAN MEKANIK VERTIKAL TERHADAP PEMBENTUKAN SEGREGASI MAKRO PADA PADUAN EUTEKTIK Sn Bi

STUDI PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU AGING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN MIKROSTRUKTUR KOMPOSIT

Please refer as: Bondan T. Sofyan, Nararia Askarningsih, Vina Nanda Garjati, Pengaruh Penambahan Seng terhadap Respons Pengerasan Penuaan Komposit

ANALISA DESAIN GATING SYSTEM SUDU TURBIN RADIAL INFLOW PADUAN AL-7SI-4MG-0.38CU PADA PROSES INVESTMENT CASTING

Prosiding Seminar Nasional Perkembangan Riset dan Teknologi di Bidang Industri ke-20 BAHAN TEKNIK MEKANIKA BAHAN

PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN KETEBALAN BENDA TERHADAP KEKERASAN BESI COR KELABU DENGAN PENGECORAN LOST FOAM

PENGARUH UNSUR SILIKON PADA ALUMINIUM ALLOY (Al Si) TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

Momentum, Vol. 10, No. 2, Oktober 2014, Hal ISSN

Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

STUDI EKSPERIMEN PENGARUH WAKTU PENIUPAN PADA METODA DEGASSING JENIS LANCE PIPE, DAN POROUS PLUG TERHADAP KUALITAS CORAN PADUAN ALUMINIUM A356.

KAJIAN KOMPREHENSIF STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN TERHADAP PADUAN Al-7,1Si-1,5Cu HASIL PENGECORAN DENGAN METODE EVAPORATIVE

BAB IV PROSES PERLAKUAN PANAS PADA ALUMINIUM

BESI COR. 4.1 Struktur besi cor

PERBAIKAN SIFAT MEKANIK PADUAN ALUMINIUM A356.0 DENGAN CARA MENAMBAHKAN Cu DAN PERLAKUAN PANAS T5

ANALISIS HASIL PENGECORAN SENTRIFUGAL DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL ALUMINIUM

Pengaruh Temperatur Bahan Terhadap Struktur Mikro

Momentum, Vol. 10, No. 2, Oktober 2014, Hal ISSN

ANALISIS KEGAGALAN PISTON SEPEDA MOTOR BENSIN 110 cc

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS MATERIAL MODEL CHASSIS BERBASIS Al-Si-Mg HASIL PENGECORAN HIGH PRESSURE DIE CASTING

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only. BAB 2 DASAR TEORI

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Pembuatan spesimen dilakukan dengan proses pengecoran metode die

PENGARUH TEMPERATUR DAN NITROGEN HASIL HOT ROLLING TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADUAN Co-Cr- Mo UNTUK APLIKASI BIOMEDIS

ANALISIS PROSES TEMPERING PADA BAJA DENGAN KANDUNGAN KARBON 0,46% HASILSPRAY QUENCH

Momentum, Vol. 12, No. 1, April 2016, Hal ISSN , e-issn

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN TEMPERATUR CETAKAN PADA HIGH PRESSURE DIE CASTING (HPDC) BERBENTUK PISTON PADUAN ALUMINIUM- SILIKON

Kekuatan Tarik Dan Porositas Silinder Al-Mg-Si Hasil Die Casting Dengan Variasi Tekanan

BAB IV HASIL DAN ANALISA. Gajah Mada, penulis mendapatkan hasil-hasil terukur dan terbaca dari penelitian

ANALISA PENGARUH PENGECORAN ULANG TERHADAP SIFAT MEKANIK PADUAN ALUMUNIUM ADC 12

ANALISIS STRUKTUR MIKRO CORAN PENGENCANG MEMBRAN PADA ALAT MUSIK DRUM PADUAN ALUMINIUM DENGAN CETAKAN LOGAM

BAB II DASAR TEORI 2.1 PISTON

BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH PUTARAN TERHADAP LAJU KEAUSAN Al-Si ALLOY MENGGUNAKAN METODE PIN ON DISK TEST

BAB III PERCOBAAN DAN HASIL PERCOBAAN

Transkripsi:

Scanned by CamScanner

Scanned by CamScanner

Scanned by CamScanner

Respon Laku Panas Paduan Aluminium AC4B dengan Penambahan 0,0 % berat Sr melalui Proses Low Pressure Die Casting (Bondan T. Sofyan) Akreditasi LIPI Nomor: 536/D/007 Tanggal 6 Juni 007 RESPON LAKU PANAS PADUAN ALUMINIUM AC4B DENGAN PENAMBAHAN 0,0 % BERAT Sr MELALUI PROSES LOW PRESSURE DIE CASTING Bondan T. Sofyan, Andry Soetiawan dan Ragil E. Susanto ) Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kampus UI Depok 644 ) PT. Astra Honda Motor Jl. Laksda Yos Sudarso, Sunter I, Jakarta 4350, Indonesia email: bondan@metal.ui.ac.id ABSTRAK RESPON LAKU PANAS PADUAN ALUMINIUM AC4B DENGAN PENAMBAHAN 0,0 % BERAT Sr MELALUI PROSES LOW PRESSURE DIE CASTING. Salah satu masalah yang sering timbul pada produk paduan aluminium hasil proses Low Pressure Die Casting (LPDC) adalah porositas dan pengerutan akibat pola pendinginan yang tidak seragam, serta kekerasan yang tidak optimal. Modifikasi paduan menggunakan Sr serta proses laku panas merupakan alternatif pemecahan masalah tersebut. Penelitian ini mempelajari pengaruh modifikasi paduan AC4B dengan penambahan 0.0 % berat Sr serta responsnya terhadap perlakuan panas ageing. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan 0.0 % berat Sr memodifikasi struktur silikon dari acicular menjadi halus dan berserat. Struktur ini diyakini dapat menambah kekerasan dari paduan AC4B. Akan tetapi penambahan Sr ini juga akan meningkatkan jumlah porositas sehingga perlu penanganan yang baik dalam aplikasinya. Proses laku panas meningkatkan kekerasan, dimana semakin tinggi temperatur ageing, menyebabkan semakin cepatnya dicapai puncak kekerasan, namun menurunkan nilai puncak. Kata kunci : Paduan AC4B, modifikasi, Sr, ageing, Low Pressure Die Casting, acicular ABSTRACT AGEING RESPONSE OF AC4B ALUMINIUM ALLOYS WITH 0.0 wt. % Sr ADDITION PROCESSED THROUGH LOW PRESSURE DIE CASTING. Common problems found in aluminium components produced through Low Pressure Die Casting (LPDC) process are low hardness with porosity and shrinkage due to different cooling rate. Modification of microstructure by addition of Sr and heat treatment processes are alternatives to solve the problems. This research studies the effects of modification through addition of 0.0 wt. % Sr and ageing processes on the microstructure and mechanical properties of AC4B aluminium alloy. The results show that addition of 0.0 wt. % Sr modifies silicon structure from acicular into fine and fibrous. This structure is believed to slightly increase the hardness of AC4B aluminium alloy. However, addition of Sr increases porosity that should be carefully handled. Ageing processes increase the hardness of the alloy, in which the higher the ageing temperature, the shorter the time needed to achieve peak hardness, but the lower the peak hardness of the alloy. Keywords: AC4B alloy, modification, Sr, ageing, Low Pressure Die Casting, acicular PENDAHULUAN Salah satu material paduan aluminium tuang yang diaplikasikan secara luas dalam industri otomotif adalah AC4B (Al-Si-Cu), karena sifat mekanik, mampu cor, ketahanan korosi yang unggul serta biaya daur ulang yang rendah. Paduan aluminium AC4B merupakan paduan Al-Si hipoeutektik dengan dua tahap pembekuan yang utama, yaitu pembekuan dendrit kaya aluminium yang diikuti dengan pembentukan fasa kedua kaya silikon. Namun demikian, kelemahan dari material ini adalah bahwa fasa kedua silikon berbentuk acicular memiliki tepi yang tajam yang berpotensi menginisiasi dan mempromosi perambatan retak sehingga berkontribusi pada kegetasan yang tinggi. Selain itu kisaran temperatur pembekuan yang cukup besar menyebabkan sulitnya mengisi daerah antar dendrit yang menyebabkan porositas pada produk cor []. Penambahan strontium ke dalam paduan aluminium-silikon hipoteutektik menyebabkan transformasi morfologi fasa silikon dari serpihan 67

Jurnal Sains Materi Indonesia Edisi Khusus Desember 008, hal: 67-7 Indonesian Journal of Materials Science ISSN: 4-098 acicular menjadi batangan berserat, sehingga memperbaiki sifat mekanik, terutama meningkatkan ketangguhan retak dan keuletan []. Pada laju pembekuan tertentu, keberadaan Sr menurunkan temperatur nukleasi dan pertumbuhan fasa eutektik (Al)-Si, dan pengaruh ini semakin dominan dengan laju pembekuan yang semakin tinggi [3]. Penambahan Sr tidak mempengaruhi pembekuan primer dari aluminium, namun memodifikasi reaksi pembentukan fasa kedua. Hasil analisis DTA mengkonfirmasi bahwa penambahan Sr memiliki pengaruh langsung terhadap mekanisme pertumbuhan fasa eutektik (Al)-Si. Perubahan kecil pada kinetika pembentukan eutektik akibat penambahan Sr juga menyebabkan modifikasi pada tahap akhir pembekuan serta pembentukan fasa kaya besi dan mangan. Namun demikian, penambahan Sr selalu terkait dengan pembentukan porositas. Dalam hal ini, Dahle et al. [4] menyampaikan sebuah postulat bahwa penambahan Sr menyebabkan perubahan mode nukleasi fasa eutektik, yang semula pada paduan bebas Sr terjadi di sekitar dendrit α-al, menjadi pada cairan eutektik itu sendiri pada paduan dengan kandungan Sr. Mode nukleasi tersebut mengontrol distribusi cairan sisa pada tahap akhir pembekuan ketika aliran logam cair sangat sulit terjadi. Distribusi cairan ini akan sangat menentukan konektivitas antar celah pengisi, sehingga menentukan morfologi akhir porositas pada produk coran. Penelitian ini mempelajari pengaruh penambahan Sr sebesar 0,0 % berat pada paduan AC4B melalui proses Low Pressure Die Casting (LPDC), serta pengaruh proses laku panas terhadap karakteristik paduan. Pengerasan selama proses ageing diamati dengan pengujian kekerasan, sementara evolusi mikrostruktur diamati menggunakan mikroskop optik dan Scanning Electron Microscope / Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM/EDXS). METODE PENELITIAN Paduan dasar AC4B dicor menggunakan dapur skala industri dengan penghilangan gas terperangkap dilakukan dengan menginjeksikan gas Argon, melalui proses Gas Bubble Floatation (GBF). Penambahan Sr sebanyak 0,0 % berat dilakukan pada temperatur 70 ± 5 C dengan menambahkan batangan paduan Al-0Sr (% berat). Paduan diinjeksikan dari mesin LPDC ke dalam cetakan logam dengan inti pasir resin. Untuk pengujian kekerasan dan proses perlakuan panas, sampel diambil berukuran 0x0x0 mm 3 pada daerah tebal dari komponen cylinder head. Pengujian kekerasan dilakukan dengan metode Vickers berdasarkan standard ASTM E0 dengan indentor piramid intan dengan sudut antara permukaannya (α) sebesar 36 o dan beban 00 gf selama 5 detik. Lima kali penjejakan dilakukan untuk setiap pengukuran. Proses perlakukan panas diawali dengan proses solution treatment pada temperatur 55 o C selama jam, diikuti dengan pencelupan ke dalam air (quench). Proses ageing dilakukan di dalam dapur muffle pada temperatur 50, 75 dan 00 o C, selain itu, sebagian sampel di ageing pada temperatur kamar. Struktur mikro diamati menggunakan mikroskop optik dan SEM (Scanning Electron Microscope) LEO 40, yang dilengkapi dengan EDXS (Electron Dispersive X-ray Spectroscopy) untuk analisis komposisi mikro. Sampel pengamatan mikrostruktur dipreparasi sesuai standar menggunakan etsa 0.5 % Hidrogen Fluoride (HF). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Penambahan 0,0 % berat Sr terhadap Karakteristik Paduan AC4B pada Kondisi Tuang Perbedaan kekerasan paduan AC4B pada kondisi tuang tidak signifikan dengan penambahan 0.0 % berat Sr, yaitu 95 VHN dan 94 VHN untuk paduan AC4B tanpa dan dengan penambahan Sr. Penurunan nilai kekerasan yang terjadi diakibatkan oleh adanya porositas yang hadir dalam skala mikro (microporosity) sehingga tidak dapat terlihat pada saat pengujian. Selain itu, literatur juga menyebutkan bahwa dengan penambahan Sr akan meningkatkan porositas dan juga membuat porositas tersebut lebih tersebar [5]. Pengaruh penambahan 0.0 % berat Sr terhadap mikrostruktur paduan AC4B pada kondisi tuang dapat dilihat pada Gambar. Terlihat bahwa keberadaan Sr menyebabkan modifikasi mikrostruktur, khususnya fasa kedua, seperti ditunjukkan oleh panah,, dan 3 pada Gambar. Karakterisasi masing-masing fasa kedua dilakukan menggunakan EDXS, yang secara rinci dibahas di bagian terakhir sub hasil dan pembahasan ini. Panah menunjukkan struktur silikon, dimana tanpa kehadiran Sr, fasa silikon hadir dengan morfologi accicular yang panjang dan tajam. Sedangkan penambahan 0.0 % berat Sr mengubah morfologi silikon menjadi halus dan berserat. Penambahan Sr juga menyebabkan perubahan morfologi fasa CuAl dari tulang ikan menjadi bentuk irregular (Gambar, panah ). Sementara pada fasa α AlFeSi (Gambar, panah 3) mengalami perubahan morfologi dari chinese script menjadi accicular. Panah 4 adalah daerah eutektik silikon yang kaya Cu, dimana pada paduan tanpa Sr, daerah eutektik silikon kaya Cu ini kurang jelas sebab morfologinya hampir tidak memiliki perbedaan. Sedangkan pada paduan dengan penambahan Sr, fasa ini memiliki warna lebih gelap. Pengaruh Penambahan 0.0 % berat Sr terhadap Karakteristik Paduan AC4B setelah Proses Ageing Perbandingan kekerasan paduan AC4B pada kondisi tuang dengan kondisi setelah quench dapat dilihat pada Gambar. Terlihat jelas bahwa proses solution treatment dan quench menyebabkan penurunan nilai kekerasan secara signifikan. Hal ini disebabkan karena dilakukannya proses solution treatment melarutkan fasa CuAl yang memberikan kontribusi pada nilai kekerasan dan kekuatan. Selain itu, terjadi spheroidisasi dari kristal silikon seperti yang terlihat pada Gambar. Struktur spheroid ini akan menurunkan nilai kekerasan sebab kemampuan menghalangi pergerakan dislokasi menurun akibat mengecilnya area permukaan antara batas butir dari silikon dan aluminium [6]. Respons paduan AC4B tanpa dan dengan penambahan 0.0 % berat Sr terhadap proses ageing pada temperatur 5, 50, 75 dan 00 o C dapat dilihat pada Gambar 3. Terlihat jelas bahwa pada proses ageing di temperatur kamar (5 o C), nilai kekerasan 68

Respon Laku Panas Paduan Aluminiumm AC4B dengan Penambahan 0,0 % berat Sr melalui Proses Low Pressure Die Casting (Bondan T. Sofyan) a 0 % berat Sr b 0.0 % berat Sr 3 4 as-cast 3 c d as-quenched 3 Gambar. Mikrostruktur paduan AC4B tanpa dan dengan penambahan 0.0 wt % Sr pada kondisi (a-b) as-cast, dan (c-d) as-quenched, dengan etsa HF 0. 3 %. Panah adalah fasa Si, panah adalah CuAl, panah 3 adalah α AlFeSi, dan panah 4 adalah fasa Si kaya Cu. Kekerasan (VHN) 0 0 00 90 80 70 60 50 As-cast As-quenched 0 wt. % Sr 0.0 wt. % Sr Kandungan Sr (wt. %) Gambar. Pengaruh penambahan 0.0 % berat Sr terhadap kekerasan paduan AC4B pada kondisi tuang dan kondisi as quenched. paduan AC4B terus meningkat seiring berjalannya waktu. Hingga 883 jam, kekerasan yang dicapai adalah 0.3 VHN dan 0.8 VHN untuk paduan AC4B tanpa dan dengan penambahan 0.0 % berat Sr. Nilai puncak kekerasan belum dicapai karena lambatnya kinetika reaksi pengendapan. Diperkirakan pada kondisi ini, endapan yang terbentuk masih koheren dengan jumlah sedikit dan berukuran kecil sehingga tidak menghasilkan lattice strain yang besar di dalam matriks. Sementara proses ageing pada temperatur tinggi, terjadi peningkatan nilai kekerasan hingga waktu tertentu lalu turun kembali. Hal ini menunjukkan bahwa temperatur tinggi mempercepat proses difusi sehingga pengendapan, pertumbuhan dan transformasi fasa endapan terjadi dengan relatif lebih cepat. Kekerasan puncak pada 50 o C dicapai setelah 64 jam dengan nilai kekerasan 6.4 VHN untuk paduan tanpa Sr, dan dicapai setelah 48 jam dengan nilai kekerasan 40.6 VHN untuk paduan dengan Sr. Dari Gambar 3 juga terlihat kecenderungan yang sama bahwa dengan semakin tinggi temperatur ageing maka semakin cepat pula kekerasan maksimum dapat dicapai, namun nilai kekerasan maksimum yang diperoleh akan semakin rendah. Misal, untuk paduan dengan Sr pada temperaturr 00 o C, puncak kekerasan dicapai setelah jam dengan nilai 3. VHN, sementara pada temperaturr 75 o C puncak kekerasan dicapai setelah 4 jam dengan nilai 33.5 VHN. Pada proses ageing dengan temperatur yang lebih tinggi, fenomena yang terjadi adalah laju nukleasi endapan lebih lambat tetapi laju pertumbuhan butirnya menjadi lebih cepat, maka proses nukleasi yang terjadi adalah heterogenous nucleation [7]. Hal ini menyebabkan pada proses ageing ini ukuran endapan yang dihasilkan menjadi lebih besar yang berakibat pada lebih rendahnya kekerasan maksimum yang dihasilkan. Pada proses ageing pada temperatur yang lebih rendah, fenomena yang terjadi adalah laju nukleasi endapan lebih cepat tetapi laju pertumbuhannya lebih lambat. Satu hal yang patut diperhatikan pada Gambar 3 adalah bahwa perbedaan nilai kekerasan antara paduan AC4B tanpa dan dengann penambahan Sr selama proses ageing relatif konstan. Perbedaan nilai kekerasan secara umum tidak melebihi ± 5 VHN. Hal 69

Jurnal Sains Materi Indonesia Edisi Khusus Desember 008, hal: 67-7 Indonesian Journal of Materials Science ISSN: 4-098 a ini membuktikan bahwa dengan penambahan Sr tidak mengubah respon paduan AC4B terhadap proses perlakuan panas. Kekerasan (VHN) 70 60 50 40 30 0 0 00 90 5 C 00 C 75 C 50 C pada mikrostruktur termodifikasi pada umumnya berada dekat dengan fasa AlFeSi karena kecenderungannya untuk bernukleasi disana sangat tinggi [9]yang dapat dilihat pada Gambar 4. Fasa ini pada umumnya berbentuk flake. Si termodifikasi CuAl 80 b Kekerasan (VHN) 70 0.0 0. 0 00 000 Waktu (jam) 70 5 C 60 00 C 50 75 C 40 50 C 30 0 0 00 90 80 70 0.0 0. 0 00 000 Waktu (jam) Gambar 3. Respons paduan AC4B dengan penambahan (a) 0 % berat, dan (b) 0.0 % berat Sr terhadap proses ageing pada temperatur 5, 50, 75 dan 00 o C. Proses solution treatment dan quenching menyebabkan perubahan mikrostruktur seperti tampak pada Gambar. Partikel silikon mengalami spheroidisasi sehingga menjadi lebih bulat. Hal ini disebabkan proses difusi yang lebih cepat akibat fasilitasi temperatur tinggi. Penambahan Sr yang menyebabkan morfologi partikel silikon menjadi halus dan berserat pada kondisi as-cast. Setelah proses solution treatment dan quenching, partikel silikon tersebut menjadi menggumpal dan membulat. Akibatnya, fasa β AlFeSi yang ditunjukkan oleh panah 3 pada Gambar menjadi dominan pada paduan yang termodifikasi Sr. Hal ini disebabkan karena pembekuan logam cair menjadi sedikit lebih lambat bila dibandingkan dengan paduan tanpa modifikasi [8]. Penambahan Sr ini akan menurunkan temperatur solidifikasi eutektik dari paduan Al Si. Perlakuan panas natural ageing, tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan mikrostruktur jika dibandingkan dengan as quenched. Perubahan sifat mekanik yang terjadi pada proses natural ageing tidak melalui perubahan fasa secara mikrostruktural, tetapi melalui perubahan zona yang tidak dapat dilihat melalui mikroskop optik. Transformasi zona berjalan sangat lambat, sehingga peningkatan kekerasan memerlukan waktu yang lama. Hasil evolusi mikrostruktur paduan AC4B dengan penambahan 0.0 % berat Sr selama proses ageing pada temperatur 75 o C dapat dilihat pada Gambar 4. Terlihat bahwa proses ageing tidak menyebabkan perubahan morfologi partikel silikon. Pada paduan tanpa penambahan Sr, fasa β AlFeSi juga tidak mengalami perubahan morfologi, sementara pada paduan dengan penambahan Sr, fasa tersebut menjadi semakin runcing selama proses ageing. Fasa CuAl 70 β AlFeSi Gambar 4. Mikrostruktur paduan AC4B dengan penambahan 0.0 % berat Sr setelah mengalami ageing pada temperatur 75 C selama 50 jam (overaged). Karakterisasi fasa yang terbentuk setelah proses ageing pada temperatur 75 o C selama 0 jam juga dilakukan menggunakan SEM seperti tampak pada Gambar 5. Hasil analisis komposisi mikro dari setiap titik pada Gambar 5 tersebut disajikan pada Tabel. Terlihat adanya enam buah fasa yang berbeda. Fasa adalah matriks aluminium yang berwarna abu abu gelap, sementara fasa adalah kristal silikon. Kedua fasa ini mudah untuk diidentifikasi karena komposisinya menunjukkan lebih dari 90% unsur tersebut. Fasa 3 mengandung Fe, Mn, dan Si dalam jumlah cukup signifikan, serta sedikit kromium. Keberadaan kromium dimungkinkan akibat penggunaan kowi stainless steel sebagai wadah untuk melebur Al 0 % berat Sr master alloy. Morfologi fasa ini adalah chinese script, yang merupakan karakteristik dari fasa α-al(fe, Mn)Si. Fasa 4 memiliki cukup banyak unsur, tetapi jika dilihat dari komposisinya yang memiliki jumlah Al sebesar dua kali jumlah Cu, maka kemungkinan besar fasa ini adalah CuAl. Fasa 5 hadir dalam bentuk jarum dan memiliki komposisi unsur yang mirip dengan fasa 3, sehingga dapat disimpulkan bahwa fasa ini adalah β- Al(Fe, Mn)Si. Fasa 6 memiliki kadar Pb yang cukup tinggi dan berdiri sendiri di dalam matriks. Literatur tidak menyebutkan tentang adanya Pb, tetapi keberadaannya dimungkinkan karena penggunaan scrap pada proses peleburan yang menyebabkan masuknya senyawa intermetalik Pb. Terdapat dua perbedaan utama antara mikrostruktur termodifikasi dan tidak termodifikasi. Yang pertama adalah morfologi kristal silikon yang berubah menjadi lebih halus dan berserat. Yang kedua adalah banyaknya fasa β -Al(Fe, Mn)Si pada paduan yang dimodifikasi oleh Sr dan berubahnya morfologi chinese - script menjadi lebih menggumpal. Semua ini merupakan akibat dari pengaruh stronsium yang menurunkan temperatur solidifikasi. Tetapi secara umum evolusi mikrostruktur akibat proses ageing tidak terlihat dengan signifikan.

Respon Laku Panas Paduan Aluminium AC4B dengan Penambahan 0,0 % berat Sr melalui Proses Low Pressure Die Casting (Bondan T. Sofyan) 5 3 0 μm 4 6 Gambar 5. Mikrostruktur paduan AC4B yang dimodifikasi dengan 0.0 % berat Sr setelah proses ageing pada 75 o C selama 0 jam, diambil menggunakan SEM. Tabel. Hasil analisis komposisi mikro pada posisi seperti tampak di Gambar 5. No Kandungan (% berat) Al Si Cu Fe Mn C Pb Lain Warnaa 99.47 - - - - 0.53 - - Abu-abu gelap.55 97.09 - - - 0.36 - - Abu-abu 3 45.46 6.98 7.7 8.5 8.3.57 -.7 Cr Abu-abu terang 4 45.4 8.4.7 8. -.5-8.83 Ni Putih 5 53.93.95-9.0.9. - - Abu-abu terang 6 0.96 8.75 - - -.7 74.09 4.94 Ti Putih kecil Indikasi Fasa Matriks Al Kristal Si α-al(fe, Mn)Si CuAl β-al(fe, Mn)Si Intermetalik Pb KESIMPULAN. Fasa fasa yang terdapat di dalam paduan AC4B hasil proses LPDC adalah kristal silikon, intermetalik CuAl, intermetalik α AlFeSi, dan intermetalik β AlFeSi yang tersebar dalam matriks aluminium.. Penambahan 0.0 % berat Sr pada paduan AC4B hasil LPDC akan mengubah morfologi kristal silikon dari accicular menjadi halus dan berserat dan mengubah sebagian besar fasa α AlFeSi menjadi β AlFeSi tetapi terjadi peningkatan porositas yang menurunkann sifat mekanik, dalam hal ini kekerasan. 3. Paduan AC4B hasil LPDC dapat dilakukan proses age hardening karena senyawa CuAl larut sempurna pada matriks setelah proses solution treatment sehingga dapat membentuk presipitat. 4. Penambahan 0.0 % berat Sr pada paduan AC4B hasil LPDC tidak mempengaruhi respons dari age hardening sebab perbedaan nilai kekerasan antara kedua paduan tetap bertahan ± 5 VHN selama proses age hardening T4 dan T6. UCAPAN TERIMA KASIH Sebagian dari penelitian ini dibiayai oleh Hibah Bersaing XIII Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. REFERENSI [] W. LaOrchan, J.E. Gruzleski, Grain Refinement, Modification and Melt Hydrogen Their Effects on Microporosity, Shrinkage and Impact Properties in A356 Alloy, AFS Transaction, Vol. 39, pp. 45-44, 99. [] C.M. Dinnis, M.O.Otte, A.K.Dahle and J.A.Taylor, The Influence of Strontium on Porosity Formation in Al-Si Alloys, Met. Mat. Trans. A, Vol. 35A, pp. 353-354, November 004. [3] E.J.Martinez D., M.A. Cisneros G., S. Valtierra, and J. Lacaze, Effect of strontium and cooling rate upon eutectic temperature of A39 alloy, Scripta Mat., Vol. 5, pp. 439 443, 005. [4] A.K. Dahle, J. Hjelen and L. Arnberg, Proc. 4th. Decennal Int. Conf. on Solidification Processing 997, University of Sheffield, UK, 997, p. 57. [5] Gruzleski, John E. dan Bernard M. Closset. The Treatment of Liquid Aluminum-Silicon Alloys. American Foundrymen s Society, Inc. Illinois.990. [6] M.M. Haque dan M.A. Maleque. "Effect of process variables on structure and properties of aluminum silicon piston alloy". J. Mat. Processing Tech., 77. 998 [7] M. Kanno, H. Suzuki, and O. Kanoh, J. Japan Inst. Light Metals, 44 (0) (980), 39. [8] Stuart D. McDonald. "Eutectic nucleation in Al Si alloys". Acta Materialia, 5. 004. [9] AFS, Aluminum Casting Technology nd Ed.. AFS Inc. USA. 00 7