Keselamatan dan Kesehatan Kerja

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Lingkungan Kerja. Dosen Pengampu : Ratih Setyaningrum,MT.

KONDISI LINGKUNGAN KERJA YANG MEMPENGARUHI KEGIATAN MANUSIA

Kesehatan Lingkungan Kerja

BAB IITINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA. A. Manajemen Sumberdaya Manusia Manajemen Sumberdaya Manusia adalah penarikan seleksi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Tujuan Dari Sistem Manajemen K3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia berusaha mengambil manfaat materi yang tersedia. depan dan perubahan dalam arti pembaharuan.

URGENSI DAN PRINSIP K3 PERTEMUAN #2 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

landasan tempat kerja dan lingkungannya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TIN211 - Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri. Tujuan Pembelajaran

Tabel 2.1 Tangga Intensitas dari Kebisingan Skala Intensitas Desibels Batas Dengar Tertinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan masih dilaksanakan Indonesia pada segala bidang guna

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH KESELAMATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. SRIWIJAYA UTAMA BANDAR LAMPUNG

Tujuan Pembelajaran Taufiqur Rachman 1

KESEHATAN KERJA. oleh; Syamsul Rizal Sinulingga, MPH

TEKNIK TATA CARA KERJA MODUL KONDISI LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KEGIATAN MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. 2007). Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis,

MODUL 10 SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. (Prinsip Keselamatan Kerja)

BAB I PENDAHULUAN B. Latar Belakang

bagian atau disebut juga aspek pembentuk lingkungan kerja. Adapun beberapa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. landasan kerja dan lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan dan proses

RESUME PENGAWASAN K3 LINGKUNGAN KERJA MATA KULIAH: STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. Ditulis oleh: Yudy Surya Irawan

Kebisingan Kereta Api dan Kesehatan

Penyakit Akibat Kerja Disebabkan Faktor Fisik. Occupational Diseases Caused by Physical Factors

BAB II LANDASAN TEORI. dan proses produksi (Tarwaka, 2008: 4). 1. Mencegah dan Mengurangi kecelakaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang memfokuskan perhatian pada masyarakat pekerja baik yang berada di

BAB I PENDAHULUAN. fisik yang ada di tempat kerja yaitu penerangan. berkurangnya daya efisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan-keluhan pegal

I. PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 Tahun 2009 tentang

commit to user 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Tempat Kerja Didalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan

Ergonomics. Human. Machine. Work Environment

SEJARAH & PERKEMBANGAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. regional, nasional maupun internasional, dilakukan oleh setiap perusahaan secara

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KARYAWAN TERHADAP PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1970 TENTANG KESELAMATAN KERJA BAB I TENTANG ISTILAH-ISTILAH. Pasal 1

TUGAS INDIVIDU HIGIENE LINGKUNGAN KERJA ANALISIS HIGIENE LINGKUNGAN KERJA DI BATIK EL-DYNA. Oleh : ELVI DINA YUNIATI D

BAB I PENDAHULUAN. industrialisasi di Indonesia maka sejak awal disadari tentang kemungkinan

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. secara langsung terhadap sistem pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat

Jurnal Keperawatan, Volume X, No. 2, Oktober 2014 ISSN ANALISIS KARAKTERISTIK PEKERJA DENGAN GANGGUAN KETULIAN PEKERJA PABRIK KELAPA SAWIT

BAB I PENDAHULUAN. Menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 mengenai kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. mencakup syarat-syarat keselamatan kerja yang berkaitan dengan suhu,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja. subkontraktor, serta safety professionals.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan

KONSEP DASAR KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

BAB I PENDAHULUAN. paling utama dalam kerja dimana manusia berperan sebagai perencana dan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kedokteran beserta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. umumnya, hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur. Sedangkan secara

URGENSI DAN PRINSIP KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA. Keselamatan & Kesehatan Kerja

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan pasar bebas (World Trade Organization/WTO) dan

Nilai Ambang Batas iklim kerja (panas), kebisingan, getaran tangan-lengan dan radiasi sinar ultra ungu di tempat kerja

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.51/MEN/1999 T E N T A N G NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DI TEMPAT KERJA

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. finishing yang terdiri dari inspecting dan folding. Pengoperasian mesinmesin

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan disektor industri dengan berbagai proses produksi yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. Dalam keadaan demikian, penggunaan mesin-mesin, pesawat, instalasi dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan teknologi yang semakin meningkat mendorong Indonesia

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Beehr and Newman ( 1978)

Hiperkes dan Filosofi K3

SUMBER DAYA MANUSIA DAN DESAIN KERJA

FRUSTRASI & STRESS LIA AULIA FACHRIAL, M.SI

agar pekerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik,

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan dan kesehatan yang datang dari pekerjaan mereka tersebut. Dalam


PENGARUH KESELAMATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. SRIWIJAYA UTAMA DI BANDAR LAMPUNG. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. Temperature merupakan keadaan udara pada waktu dan tempat. pertukaran panas diantara tubuh dan lingkungan sekitar.

Undang-undang Nomor I Tahun 1970

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. pencegahan dan pengawasan dalam melakukan berbagai hal. berkaitan dengan pekerjaan. Mangkunegara (2011:161), Keselamatan kerja

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman globalisasi dan pasar bebas WTO (World Trade Organization)

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan rumah sakit. menimbulkan dampak negatif dan mempengaruhi derajat kesehatan mereka.

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan Materi #9 Genap 2014/2015. TIN206 - Pengetahuan Lingkungan

Kebisingan KEBISINGAN. Dedy Try Yuliando Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas Padang

BAB VII PEMBAHASAN. 7.1 Prosedur Kerja perusahaan dan prosedur kerja yang diterapkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia telah ditetapkan lamanya waktu bekerja sehari maksimum

BAB I PENDAHULUAN. yang bekerja mengalami peningkatan sebanyak 5,4 juta orang dibanding keadaan

BAB I PENDAHULUAN. warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi. memenuhi kebutuhan hidup layak sehari-hari sehingga tingkat

BAB I PENDAHULUAN. dijadikan tanaman perkebunan secara besar-besaran, maka ikut berkembang pula

BAB I PENDAHULUAN. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak direncanakan dan tidak

Transkripsi:

Keselamatan dan Kesehatan Kerja www.salmanisaleh.wordpress.com Keselamatan Kerja Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Suma mur, 1989). Penerapan keselamatan kerja ditujukan tidak hanya di satu tempat kerja saja tetapi di segala tempat kerja baik berada di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara. Keselamatan kerja juga diterapkan diberbagai bidang kegiatan seperti pertanian, industri, pertambangan, perhubungan, pekerjaan umum, jasa dan lain-lain 1

Keselamatan kerja juga berarti kondisi yang terlindungi terhadap bahaya, kecelakaan, gangguan, kerusakan pada kegiatan kerja. Keselamatan kerja sangat penting dalam perusahaan, karena keselamatan tersebut menyangkut seluruh aspek dalam perusahaan, mulai dari keselamatan dalam penggunaan mesin-mesin industri, keselamatan dalam penggunaan alatalat kerja seperti soldier, gergaji, juga termasuk keselamatan lingkungan tempat kerja dimana proses produksi itu dilaksanakan. Tujuan Keselamatan Kerja Tujuan utama dari keselamatan kerja, yaitu (Suma mur, 1989): Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. 2

Hubungan antara Keselamatan Kerja dan Peningkatan Produksi dan Produktivitas Dengan tingkat keselamatan kerja yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi dan ditekan sekecilkecilnya, sehingga pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari. Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan pemeliharaan dan penggunaan peralatan kerja dan mesin yang produktif dan efisien dan bertalian dengan tingkat produksi dan produktivitas yang tinggi. Pada berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan kondisikondisi yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja, sehingga faktor manusia dapat diserasikan dengan tingkat efisiensi yang tinggi pula. Praktek keselamatan tidak bisa dipisah-pisahkan dari ketrampilan, keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur-unsur essensial bagi kelangsungan proses produksi. Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan partisipasi pengusaha dan buruh akan membawa iklim keamanan dan ketenangan kerja, sehingga sangat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi. Kesehatan Kerja Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam Ilmu Kesehatan/Kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, atu mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum (Suma mur, 1967). 3

Kesehatan kerja menurut UU No. 14 Tahun 1969 adalah lapangan kesehatan yang ditunjukkan kepada pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan tenaga kerja yang sakit, mengatur persediaan tempat, cara-cara dan syarat yang memenuhi norma-norma hygiene perusahaan dan kesehatan kerja untuk mencegah penyakit, baik sebagai akibat pekerjaan, maupun penyakit umum serta menetapkan syaratsyarat kesehatan bagi perumahan tenaga kerja Tujuan Kesehatan Kerja Tujuan utama dari kesehatan kerja adalah: Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, atau pekerja-pekerja bebas, dengan demikian dimaksudkan untuk kesejahteraan tenaga kerja. Sebagai alat untuk meningkatkan produksi, yang berlandaskan kepada meningginya efisiensi dan daya produktivitas faktor manusia dalam produksi. 4

Tujuan utama tersebut dapat diperinci lebih lanjut sebagai berikut: pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakan-kecelakaan akibat kerja, pemeliharaaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja, perawatan dan mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas tenaga manusia, pemberantasan kelelahan kerja dan penglipatgandaan kegairahan serta kenikmatan kerja, perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari bahaya-bahaya pengotoran oleh bahan-bahan dari perusahaan yang bersangkutan, dan perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk industri Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja Definisi Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja menurut Permen Naker Nomor: PER/05/MEN/1996 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif 5

Tujuan dan Sasaran Tujuan dan sasaran Sistem K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif Proses Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja Proses keselamatan dan kesehatan kerja seperti proses manajemen pada umumnya adalah penerapan berbagai fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan (Sahab, 1997). 6

Fungsi Perencanaan, meliputi Perkiraan/peramalan (forecasting) Penetapan tujuan dan sasaran Menganalisa data, fakta dan informasi Merumuskan masalah Menyusun program Fungsi Pengawasan, meliputi : Pemantauan Evaluasi hasil kegiatan Pengendalian 7

Fungsi Pelaksanaan, meliputi : Pengorganisasian Penempatan staf Pendanaan Implementasi program Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Kesehatan Kerja Faktor Fisik Kebisingan Kebisingan adalah suara-suara yang tidak dikehendaki. Pengaruh utama kepada kesehatan adalah kerusakan kepada indera-indera pendengar, yang menyebabkan ketulian progresif. Pengaruh kebisingan bagi pekerja yaitu mengganggu konsentrasi para pekerja yang sedang melakukan pengamatan dan pengawasan terhadap satu proses produksi atau hasil sehingga dapat membuat kesalahan-kesalahan. 8

Alat untuk mengukur tingkat kebisingan adalah soundlevel meter. Alat ini digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan di antara 30-130 db dan dari frekwensi-frekwensi 20-20.000 Hz. Tujuan dari pengukuran kebisingan adalah untuk memperoleh data kebisingan di perusahaan atau dimana saja dan untuk mengurangi tingkat kebisingan tersebut, sehingga tidak menimbulkan gangguan (Suma mur, 1989). Gambar.Sound Level Meter Pedoman pemaparan terhadap kebisingan (Nilai Ambang Kebisingan) berdasarkan Lampiran II Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep- 51/MEN/1999: Waktu Pemajanan per Hari 8 4 2 1 30 15 7,5 3,75 1,88 0,94 28,12 14,06 7,03 3,52 1,76 0,88 0,44 0,22 0,11 Intensitas Kebisingan dalam dba Jam 85 88 91 94 Menit 97 100 103 106 109 112 Detik 115 118 121 124 127 130 133 136 139 9

Jenis-jenis kebisingan : Kebisingan yang kontinyu dengan spektrum frekwensi yang luas (=steady state, wide band noise), misalnya mesin-mesin, kipas angin, dapur pijar, dan lain-lain. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekwensi sempit (steady state, narrow band noise), misalnya gergaji sirkuler, katup gas, dan lain-lain. Kebisingan terputus-putus (=intermittent), misalnya lalu lintas, suara kapal terbang di lapangan udara. Kebisingan impulsive (=impact or impulsive noise), seperti pukulan tukul, tembakan bedil atau meriam, ledakan. Kebisingan impulsive berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kebisingan : Pengurangan kebisingan pada sumbernya dapat dilakukan misalnya dengan menempatkan peredam pada sumber getaran, tetapi umumnya hal itu dilakukan dengan penelitian dan perencanaan mesin baru. Penempatan penghalang pada jalan transmisi. Isolasi tenaga kerja atau mesin adalah usaha segera dan baik bagi usaha mengurangi kebisingan. Untuk ini perencanaan harus sempurna dan bahan-bahan yang dipakai harus mampu menyerap suara. Bahan-bahan penutup harus dibuat cukup berat dan lapisan dalam terbuat dari bahan yang menyerap sinar, agar tidak terjadi getaran yang lebih hebat. Proteksi dengan sumbat atau tutup telinga Tutup telinga biasanya lebih efektif dari penyumbat telinga. Alatalat ini dapat mengurangi intensitas kebisingan sekitar 20-25 db. Harus diusahakan perbaikan komunikasi, sebagai akibat pemakaian alat-alat ini. Problematika utama pemakaian alat proteksi pendengar adalah mendidik tenaga kerja, agar kontinyu menggunakannya. 10

Radiasi Radiasi yang ada di tempat kerja dan mempunyai pengaruh kepada tenaga kerja dan pekerjaannya terdiri dari : Radiasi elektromagnetis, yaitu gelombang-gelombang mikro, (= micro waves), radiasi laser, radiasi panas, sinar infra merah, sinar ultraviolet, sinar x dan sinar gamma. Radiasi radioaktif, yaitu sinar-sinar dari bahan radioaktif. Contoh pekerjaan yang menimbulkan radiasi yaitu pekerjaan mengelas dan memotong yang menggunakan sinar laser, penanggulangannya dengan menggunakan kacamata pelindung/google (Suma mur, 1989). Getaran Mekanis Proses industrialisasi dan moderinisasi teknologi selalu disertai mesin-mesin atau alat-alat mekanis lainnya yang dijalankan dengan suatu motor. Sebagian dari kekuatan mekanis ini disalurkan kepada tubuh pekerja atau lainnya dalam bentuk getaran mekanis. Getaran mekanis dibedakan menjadi dua, yaitu getaran seluruh badan dan getaran alat-lengan. Gejala akibat getaran adalah: Efek mekanis kepada jaringan» Pada efek mekanis, sel-sel jaringan mungkin rusak atau metabolismenya terganggu. Rangsangan reseptor syaraf di dalam jaringan» Pada rangsangan reseptor, gangguan terjadi mungkin melalui syaraf sentral atau langsung pada sistem autonom. 11

Cuaca Kerja Cuaca kerja adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerak dan suhu radiasi. Kombinasi keempat faktor itu dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh disebut tekanan panas. Suhu udara dapat diukur dengan termometer dan disebut suhu kering. Kelembaban udara diukur dengan menggunakan hygrometer. Sedangkan suhu dan kelembaban dapat diukur bersama-sama dengan sling psychrometer atau arsman psychrometer yang menunjukkan suhu basah sekaligus. Suhu radiasi diukur dengan termometer bola (=globe thermometer). Nilai Ambang Batas untuk cuaca (iklim) kerja adalah 21-30 o C suhu basah, NAB ini akan dievaluasi terus menerus mengenai kecocokannya Hygrometer Globe Thermometer Sling Psychrometer 12

Tekanan Udara Tinggi dan Rendah Gejala sakit yang diakibatkan oleh rendahnya tekanan udara didasarkan atas kurangnya oksigen dalam udara pernafasan. Tekanan udara tinggi dihadapi, misalnya oleh penyelam-penyelam laut, dalam aktivitas pengambilan hasil laut seperti mutiara dan dihadapi pula oleh pekerja-pekerja ditambang sangat dalam (Suma mur, 1989). Penerangan Tempat Kerja Penerangan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat obyekobyek yang dikerjakan secara jelas dan cepat, selain itu penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan seorang tenaga kerja melihat pekerjaannya dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu, serta membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan. Alat yang digunakan untuk mengukur penerangan adalah luksmeter dan untuk mengukur kekuatan sumber cahaya ialah fotometer 13

Sifat-sifat dari penerangan yang baik ditentukan oleh: Pembagian luminensi dalam lapangan penglihatan Pencegahan kesilauan Arah sinar Warna Panas penerangan terhadap keadaan lingkungan Akibat-akibat penerangan buruk adalah: Kelelahan mata dengan berkurangnya daya dan efisiensi kerja Kelelahan mental Keluhan-keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata Kerusakan alat penglihatan Meningkatnya kecelakaan Contoh penerangan yang buruk dapat menimbulkan kecelakaan adalah seorang tenaga kerja yang menuruni tangga salah menginjak dan terjatuh sebagai akibat adanya bayangan yang mengenai tangga oleh keadaan penerangan yang buruk, untuk itu lampu penerangan harus benar-benar di tempatkan di daerah yang benar jangan sampai salah(dr.suma mur, 1989). 14

Luksmeter Fotometer Bau-Bauan di Tempat Kerja Bau-bauan adalah suatu jenis pencemaran udara, yang tidak hanya penting ditinjau dari penciuman, tetapi juga higiene pada umumnya. Cara pengukuran bau dewasa ini masih tetap menggunakan cara subyektif yaitu dengan alat penciuman, walaupun telah dicoba beberapa cara untuk pengambilan contoh udara dan pemeriksaannya, baik terhadap bahan-bahan kimia, biologis dan radioaktif. Keadaan mental psikologis sewaktu-waktu (tegang, emosi, ingatan, dan lain-lain) berpengaruh kepada penciuman, mungkin positf (menguatkan) atau negatif (melemahkan). Ketajaman penciuman juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban udara, sedangkan kelembaban sendiri (40-70%) tidak begitu menunjukkan pengaruh kepada tajamnya saraf penciuman (Dr.Suma mur, 1989). 15

Faktor Kimia Debu Debu ini menyebabkan pneumoconiosis, diantaranya silicosis, asbestosis, dan lain-lain. Uap Uap ini dapat menyebabkan metal fume fever, dermatis, atau keracunan. Gas Gas dapat menyebabkan keracunan dan pedih di mata. Larutan Larutan ini dapat menyebabkan dermatitis Awan atau kabut Awan dan kabut ini dapat menyebabkan keracunan dan mengganggu penglihatan. Gizi Kerja Gizi kerja adalah gizi yang diterapkan pada masyarakat pekerja (karyawan) untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan jenis dan tempat kerja, dengan tujuan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas yang setinggitingginya. Sebagai suatu aspek dari ilmu gizi pada umumnya, maka gizi kerja ditunjukan untuk kesehatan dan daya kerja tenaga kerja yang setinggi-tingginya. Kesehatan dan daya kerja sangat erat hubungannya dengan tingkat gizi seseorang. Tubuh memerlukan zat-zat dari makanan untuk pemeliharaan tubuh, perbaikan kerusakan-kerusakan dari sel dan jaringan dan untuk pertumbuhan yang banyak sedikitnya keperluan ini sangat tergantung kepada usia, jenis kelamin, lingkungan dan beban yang diderita oleh seseorang. 16

Audit K3 Audit K3 adalah suatu sistem pengujian terhadap kegiatan operasi yang dilakukan secara kritis dan sistematis untuk menentukan kelemahan unsur sistem (manusia, sarana, lingkungan kerja dan perangkat lunak) sehingga dapat dilakukan langkah perbaikan sebelum timbul kecelakaan/kerugian (Payaman, 1993). Audit K3 memiliki tiga tujuan utama, yaitu : Menilai secara kritis dan sistematis semua potensi bahaya dalam sistem di kegiatan operasi. Memastikan bahwa pengelolaan K3 di perusahaan telah dilaksanakan sesuai ketentuan pemerintah, standar teknis, standar K3 yang handal dan kebijaksanaan yang ditentukan manajemen. Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial sebelum timbul gangguan atau kerugian, serta untuk pengembangan mutu/prestasi K3. 17

Manfaat Audit K3 adalah : Manajemen/pengurus mengetahui kelemahan unsur sistem operasi sebelum timbul gangguan operasi, insiden, atau kecelakaan yang merugikan sehingga kerugian dapat ditekan dan kehandalan serta efisiensi dapat ditingkatkan. Diperoleh gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan K3 yang ada saat ini, sasaran apa yang ingin dicapai di masa mendatang dan tingkat pemenuhan terhadap peraturan/perundang-undangan K3 yang berlaku. Diperoleh peningkatan pengetahuan, kematangan dan kesadaran tentang K3 bagi karyawan yang terlibat dalam pelaksanaan audit K3. Peningkatan citra pengurus perusahaan. PENGARUH KONDISI FISIK THD K3 PENGARUH KONDISI FISIK TERHADAP KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA Kondisi fisik cenderung mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pekerja secara langsung, baik dalam jangka waktu singkat maupun jangka waktu yang lama. Beberapa kondisi fisik: Penyakit Menular Perulangan Gerak Kebisingan Kondisi Fisik Suhu Ekstrem Serangan Fisik Zat-zat berbahaya Bahan Pelatihan Mandor Perkerasan Jalan, 18

JADWAL KERJA (WORK SCHEDULE) JADWAL KERJA Jadwal Kerja Jam Kerja Effek Night Shift Long Shift Flexible Work Schedule Adanya jam malam, biasanya pada perusahaan yang menggunakan sistem 2 atau 3 shift jam kerja. Umumnya selama 8 jam, untuk 10-12 jam membutuhkan kemampuan fisik dan mental yang lebih. Jam kerja fleksibel, diserahkan kepada pekerja. Menggangu siklus tidur pekerja, yang mengakibatkan gangguan pada sistem hormon dan pencernaan. Merangsang penggunan alkohol, obat perangsang, serta gangguan pada siklus tidur. Minimnya absensi dan keterlambatan. Memberikan kepuasan untuk pekerja bukan meningkatkan peformansi kinerja pada sistem. Bahan Pelatihan Mandor Perkerasan Jalan, JOB STRESS (1) JENIS KETEGANGAN / STRAIN (Jex and Beehr, 1991) : Job Strain Psychological reactions Physical reactions Behavioral reactions Contoh Spesifik Marah Gelisah Frustasi Ketidaksenangan kerja Ganguan hati Pusing Kejang perut Kanker Merokok Kecelakaan Berhenti bekerja Bahan Pelatihan Mandor Perkerasan Jalan, 19

JOB STRESS (2) MODEL PROSES TERJADINYA STRESS KERJA Objective Stressor Persepsi Pemberitahuan Ketegangan Jangka Pendek Ketegangan Jangka Panjang Api terjadi tiba-tiba Karyawan melihat api Karyawan mengabarkan adanya ancaman kebakaran Karyawan mengalami ketakutan dan melompat dari jendela Karyawan mengalami trauma, stress, kekacauan Bahan Pelatihan Mandor Perkerasan Jalan, ACCIDENTS Masalah kecelakaan menjadi perhatian utama perusahaan karena berhubungan dengan biaya organisasional dan pekerja. Untuk mencegah kecelakaan, maka harus dimengerti penyebab dan bagaimana mengeliminasinya. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kecelakaan Dalam Bekerja Faktor Individu Faktor Organisasi Penggunaan Alkohol dan Miras dalam bekerja Trauma insiden hidup Karakteristik individu Merokok Seleksi Karyawan Design Peralatan Absensi dan Turnover Komitmen Manajemen Keselamatan Pelatihan Keselamatan Work Accidents Bahan Pelatihan Mandor Perkerasan Jalan, 20

BURNOUT Yaitu suatu pernyataan psikologis yang sulit bahwa seorang pekerja akan memiliki pengalaman setelah bekerja dalam periode waktu tertentu. Burnout mengakibatkan kelelahan emosional dan penurunan motivasi kerja pada pekerja. Emotional Exhaustion Komponen Burnout Depersonalization Reduced Personal Accomplishment Job stressors Beban Kerja Berat Kontrol Rendah Ambiguitas Peran Konflik Peran Burnout Job Strain Absen Ketidakpuasan Gejala Sakit Performansi Buruk Turnover Bahan Pelatihan Mandor Perkerasan Jalan, 21