BAB III ANALISA PERHITUNGAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISA PERHITUNGAN

Perancangan Belt Conveyor Pengangkut Bubuk Detergent Dengan Kapasitas 25 Ton/Jam BAB III PERHITUNGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA CONVEYOR

SKRIPSI ANALISIS KEMBALI BELT CONVEYOR BARGE LOADING DENGAN KAPASITAS 1000 TON PER JAM

SKRIPSI PERANCANGAN BELT CONVEYOR PENGANGKUT BUBUK DETERGENT DENGAN KAPASITAS 25 TON/JAM

LAPORAN TUGAS AKHIR ANALISA CONVEYOR BELT SYSTEM PADA PROJECT PENGEMBANGAN PRASARANA PERTAMBANGAN BATUBARA TAHAP 1 PT. SUPRABARI MAPANINDO MINERAL

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN BAGIAN BAGIAN CONVEYOR

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB III TEORI PERHITUNGAN. Data data ini diambil dari eskalator Line ( lampiran ) Adapun data data eskalator tersebut adalah sebagai berikut :

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Lampiran 1 Analisis aliran massa serasah

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

PERANCANGAN SISTEM KONVEYOR KAPASITAS 1500 TPH DAN ANALISA KEKUATAN PIN PADA RANTAI RECLAIM FEEDER

MESIN PEMINDAH BAHAN

IV. ANALISIS TEKNIK. Pd n. Besarnya tegangan geser yang diijinkan (τ a ) dapat dihitung dengan persamaan :

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB III PEMBAHASAN, PERHITUNGAN DAN ANALISA

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB III PERANCANGAN ULANG BELT CONVEYOR B-W600-6M DENGAN KAPASITAS 9 TON / JAM

Perancangan Belt Conveyor Pengangkut Bubuk Detergent Dengan Kapasitas 25 Ton/Jam BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PERHITUNGAN DIMENSI UTAMA ESKALATOR. Dari gambar 3.1 terlihat bahwa daerah kerja atau working point dalam arah

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB II LANDASAN TEORI

POROS dengan BEBAN PUNTIR

BAB IV PERHITUNGAN PERANCANGAN

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV PERHITUNGAN RANCANGAN

BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Transmisi 2.2 Motor Listrik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PERENCAAN DAN GAMBAR

BAB II PEMBAHASAN MATERI. industri, tempat penyimpanan dan pembongkaran muatan dan sebagainya. Jumlah

Jumlah serasah di lapangan

BAB II PEMBAHASAN MATERI

BAB IV ANALISA & PERHITUNGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN. = 280 mm = 50,8 mm. = 100 mm mm. = 400 gram gram

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Perencanaan Sistem Transmisi Motor

BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Perencanaan 2.2 Motor 2.3 Reducer

BAB IV DATA DAN ANALISA

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

BAB III PERHITUNGAN PERANCANGAN

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN. Mulai

BAB II LANDASAN TEORI. Mesin pemindahan bahan (material handling equipment) adalah peralatan

BAB II DASAR TEORI. rokok dengan alasan kesehatan, tetapi tidak menyurutkan pihak industri maupun

BAB IV PROSES, HASIL, DAN PEMBAHASAN. panjang 750x lebar 750x tinggi 800 mm. mempermudah proses perbaikan mesin.

BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

BAB II DASAR TEORI 2.1. Sistem Transmisi Motor Listrik

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

Perancangan Continuous Barge Unloader Kapasitas 800 Ton/Jam Bermuatan Batu Bara

BAB IV PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN TRANSMISI PADA MESIN PERAJANG TEMBAKAU DENGAN PENGGERAK KONVEYOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Umum Mesin Pemipil Jagung. 2.2 Prinsip Kerja Mesin Pemipil Jagung BAB II DASAR TEORI

Belt Datar. Dhimas Satria. Phone :

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

PERANCANGAN CAKE BREAKER SCREW CONVEYOR PADA PENGOLAHAN KELAPA SAWIT DENGAN KAPASITAS PABRIK 60 TON TBS PER JAM

BAB II PEMBAHASAN MATERI. digunakan untuk memindahkan muatan di lokasi atau area pabrik, lokasi

RANCANG BANGUN MESIN PENGHANCUR BONGGOL JAGUNG UNTUK CAMPURAN PAKAN TERNAK SAPI KAPASITAS PRODUKSI 30 kg/jam

BAB III PERANCANGAN SISTEM TRANSMISI RODA GIGI DAN PERHITUNGAN. penelitian lapangan, dimana tujuan dari penelitian ini adalah :

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TEORI DASAR. BAB II. Teori Dasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

MAKALAH ELEMEN MESIN RANTAI. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Elemen Mesin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

TUGAS SKRIPSI MESIN PEMINDAH BAHAN

PERANCANGAN DAN ANALISIS KOMPONEN PROTOTIPE ALAT PEMISAH SAMPAH LOGAM DAN NON LOGAM OTOMATIS

Bahan poros S45C, kekuatan tarik B Faktor keamanan Sf 1 diambil 6,0 dan Sf 2 diambil 2,0. Maka tegangan geser adalah:

PERANCANGAN KOMPRESOR TORAK UNTUK SISTEM PNEUMATIK PADA GUN BURNER

IV. PENDEKATAN DESAIN A. KRITERIA DESAIN B. DESAIN FUNGSIONAL

Flat Belt Drives ELEMEN MESIN II

BAB IV PERENCANAAN PERANCANGAN

BAB II DASAR TEORI. 1. Roda Gigi Dengan Poros Sejajar.

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SIMULASI MESIN PEMBERSIH SAMPAH BOX CULVERT

PERANCANGAN MESIN R. AAM HAMDANI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN MESIN BENDING HEAT EXCHANGER VERTICAL PIPA TEMBAGA 3/8 IN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DESAIN SABUK PEMINDAH (CONVEYOR) PADA SIMULASI MESIN PRESS GERAM KERTAS

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB IV PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ALAT. Data motor yang digunakan pada mesin pelipat kertas adalah:

BAB III ANALISA PERHITUNGAN. 3.1 Putaran yang dibutuhkan dan waktu yang diperlukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Dasar-dasar Pemilihan Bahan

PERANCANGAN MOTORCYCLE LIFT DENGAN SISTEM MEKANIK

BAB IV PERHITUNGAN DAN HASIL PEMBAHASAN

Jurnal Teknik Mesin, Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016

TRANSMISI RANTAI ROL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VI POROS DAN PASAK

PENDEKATAN RANCANGAN Kriteria Perancangan Rancangan Fungsional Fungsi Penyaluran Daya

SABUK ELEMEN MESIN FLEKSIBEL 10/20/2011. Keuntungan Trasmisi sabuk

Kelompok 6. Pesawat Kerja. Belt Conveyor. Ahmad Fikri Muhamad Nashrulloh

Perhitungan Kapasitas Screw Conveyor perjam Menghitung Daya Screw Conveyor Menghitung Torsi Screw

BAB III PERANCANGAN Perencanaan Kapasitas Penghancuran. Diameter Gerinda (D3) Diameter Puli Motor (D1) Tebal Permukaan (t)

BAB II LANDASAN TEORI. khususnya permesinan pengolahan makanan ringan seperti mesin pengiris ubi sangat

BAB IV PERHITUNGAN KOMPONEN UTAMA ELEVATOR BARANG

PERANCANGAN MESIN PENEPUNG RUMPUT LAUT SKALA LABORATORIUM. Jl. PKH. Mustapha No. 23. Bandung, 40124

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MESIN PEMINDAH BAHAN PERANCANGAN HOISTING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK PENGECORAN LOGAM

Transkripsi:

BAB III ANALISA PERHITUNGAN 3.1 Data Informasi Awal Perancangan Gambar 3.1 Belt Conveyor Barge Loading Capasitas 1000 Ton/Jam Fakultas Teknoligi Industri Page 60

Data-data umum dalam perencanaan sebuah Belt Conveyor Belt Barge Loading didapat dari lapangan sebagai berikut yaitu : 1. Lokasi : Outdoor 2. Spesifikasi material angkut a. Material : Batubara (coal) b. Bulk Density ( ) : 0,78 (t/m 3 ) c. Lump size : 50 (mm) 3. Spesifikasi Belt Conveyor Barge Loading a. Kapasitas : 1000 (ton/jam) b. Kecepatan : 2,4 (m/dtk) d. Panjang lintasan : 46 (m) center to center e. Inklinasi (kemiringan) : 12 ( ) 4. Data Belt a. Lebar Belt : 1200 mm, 3 roller, 30 trough b. Type Belt : EP-500/ 5P x 5.0 x 1.5 5. Drive Pulley : Tipe Single Drive a. Diameter Drive Pulley : 500 (mm) b. Shaft/ As Bearing : 100 (mm) 6. Tail Pulley a. Diameter Tail Pulley : 400 (mm) b. Shaft/ As Bearig : 80 (mm) Fakultas Teknoligi Industri Page 61

7. Drive Unit a. Motor drive : Type YUEMA TR 147 Frame Y2-200L-4 30 kw/ 380 V/ 4 Pole/ 3 Phase/ 50 Hz, Ratio 1/20 3.2 Perhitungan Lebar Sabuk Belt dengan penyangga yang digunakan adalah jenis carrier idler 3 roller troughing. Lebar belt dapat dihitung dengan menggunakan persamaan dibawah ini, yaitu : Btr = (Q/324.v..C 1 ) 1/2 Diketahui : - C 1 = Faktor koreksi untuk troughing ( > 20, C 1 = 0,85) (hal. 36) Sehingga lebar sabuk yang digunakan adalah : Btr = (Q/324.v..C 1 ) 1/2 = 1000/ (324 x 2,4 x 0,78 x 0,85) 1/2 = (1000/515,54) 1/2 = 1,392 (m) = 1392 (mm) Fakultas Teknoligi Industri Page 62

Jadi lebar sabuk standar yang dipilih adalah B = 1200 (mm) dengan melihat (Tabel 2.13) dengan kapasitas 1000 TPH maka didapatkan lebar sabuk yang digunakan. 3.3 Perhitungan Kecepatan Sabuk Untuk menghitung kecepatan konveyor, kita harus tahu terlebih dulu besar beban yang ada diatas konveyor. Dan untuk itu kita harus mengetahui luasan dari jatuhan beban curah. 3.3.1 Perhitungan Luas Penampang Beban (Cross-Section Load) Luas penampang beban pada belt yang dibentuk oleh idler 3 roller trough dengan sudut troughing ( ) 30 dan surcharge ( ) 20. A = K (0,9.B 0.05) 2 Diketahui : - Koefisien luas penampang (K) = 0,1488 (Tabel 2.15) A = K (0,9.B 0.05) 2 = 0,1488 (0.9 x 1.2 0.05) 2 = 0,1488 x 1,0609 = 0,1578 (m 2 ) Fakultas Teknoligi Industri Page 63

Dibandingkan dengan (Tabel 2.17), Diketahui 0,1579 (m 2 ) dengan menggunakan persamaan rumus luas penampang diatas dihasilkan perhtiungan A = 0,1578 (m 2 ) dengan hasil yang sama. 3.3.2 Kecepatan Sabuk Kecepatan konveyor dapat dicari dengan menggunakan rumus kapasitas setelah diketahui lebar sabuk, karakteristik material. Perhitungan kecepatan sabuk dapat digunakan rumus persamaan : Q = 60.A.v..s v = Q/(A..60.s) Diketahui : - Inklinasi/kemiringan ( ) = 12 - Coefficient by angle of inlcine (s) = 0.93 (Tabel 2.12) Sehingga kecepatan yang dibutuhkan adalah : v = Q/(A..60.s) = 1000/(0,1578x0,78x60x0,93) = 1000/6,868 = 145,6 (m/menit) = 2,42 (m/dtk) Fakultas Teknoligi Industri Page 64

Dari hasil perhitungan diatas didapatkan kecepatan 2,42 (m/dtk). Dibandingkan dengan (Tabel 2.14), diketahui kecepatan maksimal v = 4 (m/dtk), maka desain aman karena 2,42 (m/dtk) < 4 (m/dtk). 3.4 Perhitungan Berat Material Dan Sabuk 3.4.1 Berat beban muatan curah (material) Rumus yang digunakan untuk menghitung berat muatan curah : q = 1000.A. = 1000 x 0,1578 x 0,78 = 123,08 (kg/m) 3.4.2 Perhitungan Berat Sabuk (q b ) Rumus yang digunakan untuk menghitung berat sabuk : q b = 1,1 x B ( I.i+ 1 + 2 ) Diketahui : - Lebar sabuk (B) = 1,2 (m) - Jumlah lapisan (i) = 5 (ply) - Bahan jenis digunakan ( I ) = Ordinary cotton belt - Tebal cover pada sisi beban ( 1 ) = 5 (mm) - Tebal cover pada sisi roll pembawa ( 2 ) = 1,5 (mm) Fakultas Teknoligi Industri Page 65

Maka berat pada sabuk permeter adalah : q b = 1,1 x B (1.25.i + 1 + 2 ) = 1,1x1,2 [(1,25 x 5)+( 5 + 1,5)] = 1,32 x 12,75 = 16,83 (kg/m) 3.5 Perhitungan Berat Komponen Idler 3.5.1 Berat Carrier Idler Troughing/ Idler Atas Rumus yang digunakan yaitu : G p = (10 x B) + 7 Sehingga berat idler atas adalah : G p = (10 x B)+7 = (10x1,2)+7 = 12+7 = 19 (kg) 3.5.2 Berat Return Idler Flat / Idler Bawah Rumus yang digunakan yaitu : G p = (10xB)+3 Fakultas Teknoligi Industri Page 66

Sehingga berat idler atas adalah : G p = (10xB)+3 = (10x1,2)+3 = 12+3 = 15 (kg) 3.5.3 Berat Idler Rotating Diketahui : - Jika jarak carrier troughing l 1 = 850 (mm) = 0,8 (m) - Jika jarak carrier troughing l 2 = 1200 (mm) = 1,2 (m) Berat Idler Rotating Pada Bagian Atas q p = G p / l 1 = 19/0,85 = 22,35 (kg/m) Berat Idler Rotating Pada Bagian Bawah q p = G p / l 2 = 15/1,2 Fakultas Teknoligi Industri Page 67

= 12,5 (kg/m) 3.6 Perhitungan Tarikan Sabuk Dan Daya Motor Profil perancangan Conveyor Barge Loading seperti ditunjukkan pada gambar 3.2 dibawah ini : Gambar 3.2 Profil Perancangan Belt Conveyor Barge Loading 3.6.1 Perhitungan Tahanan Gerak Sabuk Beban-beban yang diterima oleh sabuk terdiri dari beban yang diangkut, berat sabut sendiri dan tahanan-tahanan yang terjadi disepanjang sistem sabuk konveyor. Tahanan-tahanan yang terjadi pada bagian sisi tahanan pengencang (tight tension) dan bagian sisi tahanan pembalik atau sisi kendor (slack tension), pda sabuk. Diketahui : - Inklinasi/ kemiringan ( ) = 12 - Panjang lintasan = 46 (m) Fakultas Teknoligi Industri Page 68

- Koefisien tahanan sabuk terhadap bantalan roll (w ) = 0,025 (Tabel 2.6) Sehingga tarikan-tarikan yang terjadi di sabuk adalah : 1. Tarikan S 1 terletak pada titik 1, dimana belt meninggalkan pulli penggerak = S 1 2. Tarikan S 2 pada titik 2 : S 2 = S 1 + W 1,2 = S 1 + [(q b + q p )x(l. w. cos ) - (qb. L. sin )] = S 1 + [(16,83 + 12,5)x(46x0,025xcos12 ) - (16,83x46xsin12 )] = S 1 + (29,33x1,124) 160,96 = S 1 + 32,966 160,96 = S 1 127,99 Jadi S 2 = S 1-127,99 (kg) 3. Tarikan S 3 pada titik 3 : Tahanan gesek pada pulli (sprocket atau drum) antara 5 7 % sehingga : S 3 = 1,07. S 2 = 1,07. (S 1 127,99) = 1,07. S 1-136,94 S 3 = 1,07.S 1 136,94 (kg) Fakultas Teknoligi Industri Page 69

4. Tarikan pada titik 4, dihitung untuk material langsung dijatuhkan pada ujung tail pulley (S 4 ), sehingga : S 4 = S 3 + W 3,4 = S 3 + [( q + q b + q p )x( L. w. cos ) + ( q + q b )x( L. sin )] = S 3 + [( 123,08 + 16,83 + 22,35 )x(46x0,025xcos12 ) + (123,08 + 16,83)x(46xsin 12 )] = S 3 + [( 162,26x 1,124 ) + ( 139,91 x 9,563 )] = S 3 + 182,38 + 1337,956 = S 3 + 1520,36 = (1,07.S 1 )-(127,99+ 1520,36) S 4 = 1,07.S 1 + 1383,42 (kg)......(*) Persamaan 1 5. Tarikan sabuk teoritis (S t ) S t S sl. e µα S t = S 4. S sl. e µα 0,2. 3,7 = S sl. 2,718 = S sl. 2,09 = 2,09. S 1 = 2,09.S 1 (kg)...(**) Persamaan 2 6. Dari dua rumusan yang didapatkan diatas yaitu (*) dan (**) sehingga : 2,09.S 1 1,07 S 1 +1383,42 2,09 1,07.S 1 S 1 +1383,42 1,02.S 1 S 1 +1383,42 Fakultas Teknoligi Industri Page 70

S 1 = 1356,29 (N) Dan S 2 = S 1-127,99 (N) = 1356,29 127,99 = 1228,3 (kg) S 3 = (1,07.S 1 ) 136,94 = (1,07x1356,29) - 136,94 = 1451,23 136,94 = 1314,29 (N) S 4 = (1,07.S 1 )+ 1383,42 = (1,07x1356,29) + 1383,42 = 2834,65 (kg) Dari hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa gaya tarik yang terjadi pada titik 4 (S 4 ), dimana sabuk diputar oleh pulley penggerak yaitu sebesar S 4 = 2834,65 (kg) 3.6.2 Perhitungan Tarikan Pulley (W dr ) Jika pulley berfungsi sebagai roda gigi pengencang dan penggerak konveyor, maka tahanan 3 5, dari jumlah tegangan, sehingga : W dr = 0,03(S 4 + S 1 ) = 0,03(2834,65+ 1356,29) = 0,03x4190,94 = 125,72 (kg) Fakultas Teknoligi Industri Page 71

3.6.3 Perhitungan Tarikan Efektif (W o ) Besarnya tarikan efektif dapat dihitung dengan menggunakan persamaan dibawah ini, yaitu : Wo = S 4 -S 1 + W dr. g = [2834,65 (kg) 1356,29 (kg) + 125,72 (kg)].9,81 (m/s 2 ) = 15736,02 (N) 3.6.4 Perhitungan Daya Motor Daya motor merupakan daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan sabuk untuk melakukan perpindahan material yang diangkut. Daya yang dibutuhkan belt conveyor yang memiliki tahanan atau tarikan efektif W o pada Drive Pulley adalah : N = Wo. v = 15736,02 N x 2,42 m/s = 38081,18 (N.m/s) (Watt) = 38 (kw) Berdasarkan perhitungan diatas daya motor yang diperlukan adalah sebesar 38 (kw), sehingga motor yang dipilih adalah 45 (kw) berdasarkan daya motor standar (Tabel 2.8) yang ada dipasaran. Fakultas Teknoligi Industri Page 72

3.6.5 Perhitungan Momen Start Motor Penggerak Pada saat start, motor harus mampu menghasilkan torsi yang lebih besar untuk mengatasi beban statis dan beban dinamis dari perlengkapan yang digunakan. 1. Besarnya momen tahanan statis pada poros motor : Dimana : n 1 = Putaran motor = 1500 (rpm) N = Daya motor yang dihasilkan pada gerak konstan = 45 (kw) GD 2 Rotor = 0,1172 (kg.m 2 ) Maka : M = 974 N n = 974 45 1500 = 29,22 (N.m) 2. Besarnya momen gaya dinamis pada waktu percepatan : Dimana : t s = Waktu start 3 (detik) = Koefisien karena pengaruh mekanisme transmisi (harga = 1,1 sampai 1,25) harga yang diambil 1,25 Fakultas Teknoligi Industri Page 73

= Efisiensi total mekanisme = 80 Maka : M =. GD n + 0,975. G v 375. t n. t. = 1,25.0,1172.1500 0,975.15736,02. (2,42) + 375.3 1500.3.0,8 = 219,75 1125 + 89852,5 3600 = 0,195 + 24,95 = 25,15 (N.m) 3. Momen gaya start motor yang diperlukan adalah : M start = M statis + M dinamis = 29,22 + 24,95 = 54,37 (N.m) 4. Pemeriksaan terhadap beban lebih motor selama start adalah : M = 54,37 M 29,22 = 1,8 Jadi, kesimpulan dari perhitungan diatas adalah motor listrik dengan daya 45 (kw), memiliki M start /M rtatis = 1,8 < M start /M rtatis = 2,4 (Aman). Fakultas Teknoligi Industri Page 74

3.7 Pemeriksaan Kekuatan Lapisan (carcass) Sabuk Kekuatan lapisan sabuk dapat dicari dengan menggunakan rumus persamaan dibawah ini, yaitu : Textile fabric carcass strength =. Sehingga kekuatan lapisannya adalah Textile fabric carcass strength =. =, = 23 (kg/mm) 230 (kg/cm) Jadi hasil dari perhitungan diatas bahwa kekuatan lapisan (carcass belt) adalah 230 (kg/cm) < 500 (kg/cm), maka sabuk digunakan untuk memindahkan material curah aman. 3.8 Pemeriksaan Jumlah Lapisan Sabuk Jumlah lapisan sabuk (i) minimum yang dapat dicari dengan menggunakan rumus persamaan sebagai berikut : i >.. Dimana k adalah faktor kemanan yang besarnya tergantung dari jumlah lapisan sabuk. (Tabel 2.11) dengan nilai k = 9,5 Fakultas Teknoligi Industri Page 75

Sehingga jumlah lapisan sabuk minimum adalah : i =,, =, = 2,24 (Lapisan) Dari perhitungan diatas bahwa minimal jumlah lapisan sabuk 2,24 lapisan sedangkan yang dipergunakan menggunakan jumlah lapisan 5. Sehingga lapisan yang dipilih aman dipergunakan. 3.9 Pemeriksaan Kekuatan Sabuk Untuk mengetahui kemampuan belt dalam mengangkut beban, kekuatan belt perlu diperiksa dengan cara menghitung besarnya factor keamanan, menurut persamaan dibawah ini : S f =. Sehingga faktor keamanan adalah : S f =. S f =, S f = 4,7 Dari perhitungan diatas diketahui bahwa faktor keamanan yang digunakan sabuk cukup dan aman untuk dipergunakan. Fakultas Teknoligi Industri Page 76

3.10 Perhitungan Drive Pulley Pulley digunakan untuk memindahkan daya darisatu poros ke poros lainnya dengan komponen pemindah daya yang menggunakan rantai. Pulley harus direncanakan dengan sebagaimana mestinya sehingga sabuk dapat berjalan dalam garis normal pada permukaan pulley. a. Diameter pulley dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut : D p K. i Dp = 125 x 5 = 625 (mm) Dari hasil perhitungan didapatkan diameter pulley = 625 (mm), jadi diameter yang akan dipilih adalah diameter pulley = 630 (Tabel 2.3) b. Lebar Pulley Bp = B + 100 = 1200 + 100 = 1300 (mm) 3.11 Perhitungan Poros Drive Pulley Pada poros yang terkena beban puntir dan beban lentur sekaligus, maka pada permukaan poros akan terjadi tegangan geser karena momen puntir dan tegangan lentur. Poros digunakan untuk meneruskan daya sebesar 45 (kw) pada putaran 1500 (rpm). Fakultas Teknoligi Industri Page 77

a. Daya yang akan ditransmisikan P = 45 (kw) n 1 = 1500 (rpm) b. Faktor koreksi fc = 1,3 (Tabel 2.18) c. Daya yang direncanakan Pd = fc.p = 1,3 x 45 = 58,5 (kw) d. Momen Puntir T = 9,74x10 P n 58,5 = 9,74x10 1500 = 974000x0,039 = 37986 (N.mm) e. Bahan Poros Bahan poros S45C, σ B = 58 (N/mm 2 ) Sf 1 = 6 Sf 2 = 2 Tegangan geser yang diizinkan : τ a = Fakultas Teknoligi Industri Page 78

τ a = τ a = 4,83 (N/mm 2 ) f. Faktor koreksi untuk momen puntir K t = 1,5 (jika terjadi sedikit kejutan), Faktor lenturan C b = 2 (karena diperkirakan akan terjadi beban lentur) g. Diameter poros : d = 5,1 K τ C T = 5,1 4,83 x1,5x2x37986 = (1,055 x113958) 1/3 = 49,35 (mm) = 49 (mm) Dari hasil perhitungan diameter poros untuk shaft drive pulley = 49 (mm). Sedangkan dari perancangan yang sudah ada diameter shaft yang digunakan adalah 100 (mm). Maka keamanan design cukup besar terhadap momen torsi dan konsentrasi tegangan-tegangan yang terjadi. h. Tegangan geser yang terjadi : τ a = =,, = 1,64 (N/mm 2 ) Fakultas Teknoligi Industri Page 79

Karena tegangan geser yang terjadi 1,64 (N/mm 2 ) lebih kecil dari pada tegangan geser yang diijinkan yaitu 4,83 (N/mm 2 ). Sehingga shaft yang digunakan aman untuk digunakan. Fakultas Teknoligi Industri Page 80