Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan

dokumen-dokumen yang mirip
KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

EVALUASI ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN TAMBAK DI KABUPATEN SAMPANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

BAB VII KAWASAN LINDUNG DAN KAWASAN BUDIDAYA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEADAAN UMUM WILAYAH

BAB III METODE PENELITIAN. Secara astronomi Kecamatan Cipanas terletak antara 6 o LS-6 o LS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG

KATA PENGANTAR. Meureudu, 28 Mei 2013 Bupati Pidie Jaya AIYUB ABBAS

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 21 TAHUN 2001 SERI D.3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG

STUDI PEMANTAUAN LINGKUNGAN EKSPLORASI GEOTHERMAL di KECAMATAN SEMPOL KABUPATEN BONDOWOSO dengan SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

BAB 5 RTRW KABUPATEN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Gambar 7. Peta Lokasi Penelitian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011)

PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH

ANALISIS KESESUAIAN UNTUK LAHAN PERMUKIMAN KOTA MALANG

SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN Nomor : 837/Kpts/Um/11/1980 TENTANG KRITERIA DAN TATA CARA PENETAPAN HUTAN LINDUNG

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Survei adalah

TINJAUAN PUSTAKA. misalnya hutan lahan pertanian, pedesaan dan jalan. Dengan demikian DAS

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1

PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI KABUPATEN SINJAI

PEDOMAN KRITERIA TEKNIS KAWASAN BUDI DAYA DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN

BAB I. PENDAHULUAN. sebagai sebuah pulau yang mungil, cantik dan penuh pesona. Namun demikian, perlu

KATA PENGANTAR RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PACITAN

HASIL PENILAIAN ECO-DEGREE (Studi Kasus: Banten Waterfront City)

10. PEMBOBOTAN (WEIGHTING)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Cindy P. Welang¹, Windy Mononimbar², Hanny Poli³

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 30 TAHUN 2008 TENTANG

SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

III. METODOLOGI 3.1 Ruang Lingkup dan Batasan Kajian

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

BAB II FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Dalam rangka mendukung penelitian ini, dikemukakan beberapa teori menurut

Pemanfaatan Peta Geologi dalam Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengembangan RTH Kota Berbasis Infrastruktur Hijau dan Tata Ruang

Peta Rencana Lanskap (Zonasi) Kawasan Situ Gintung

TAHAPAN PENELITIAN & ALUR PIKIR

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vii

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

Rencana Tata Ruang Wilayah kota yang mengatur Rencana Struktur dan

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Analisis DAS Sambong Dengan Menggunakan Aplikasi GIS

BAB I PENDAHULUAN. Kepadatan penduduk di Kabupaten Garut telah mencapai 2,4 juta jiwa

RENCANA TATA RUANG WI LAYAH KABUPATEN MAGELANG

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah (pasal 6 huruf d).

Gambar 3 Peta lokasi penelitian

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA CIREBON

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2011 NOMOR : 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL.

PENJELASAN A T A S PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN WONOSOBO TAHUN

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN KECAMATAN BUNGKU TENGAH KABUPATEMOROWALI MENGGUNAKAN METODE GIS

19 Oktober Ema Umilia

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN TRENGGALEK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2011 NOMOR 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG

Gambar 3.16 Peta RTRW Kota Bogor

PROFIL DINAS PERUMAHAN RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN KOTA PEKANBARU TA.2017 BIDANG KAWASAN PERMUKIMAN

ANALISIS DAN PEMETAAN DAERAH KRITIS RAWAN BENCANA WILAYAH UPTD SDA TUREN KABUPATEN MALANG

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berbasis Masyarakat untuk Hutan Aceh Berkelanjutan Banda Aceh, 19 Maret 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan

3 Nilai Tanah : a. Ricardian Rent (mencakup sifat kualitas dr tanah) b. Locational Rent (mencakup lokasi relatif dr tanah) c. Environmental Rent (mencakup sifat tanah sbg suatu komponen utama ekosistem) PENATAGUNAAN LAHAN Sumber : Sarwono Hardjowigeno & Widiatmika, 2007

Pemanfaatan lahan terkoordinasi Tetap memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan Mencegah penggunaan lahan yang merugikan

KESESUAIAN VERTIKAL : KESESUAIAN ANTARA JENIS DAN VOLUME/INTENSITAS KEGIATAN DENGAN KETERSEDIAAN (KAPASITAS) SUMBERDAYA RUANG (LUAS, SIFAT SIFAT FISIK, PRASARANA). KESESUAIAN HORIZONTAL : KESESUAIAN ANTAR KEGIATAN DAN ANTARA KEGIATAN DENGAN MASYARAKAT (GANGGUAN, DAMPAK, KONFLIK DSB). KETIDAKSESUAIN MIS-ALOKASI LAHAN

UU Pokok Agraria No.5 Tahun 1960 UU No. 5 Tahun 1967 ttg Kehutanan UU No. 11 Tahun 1967 ttg Pertambangan UU No. 3 Tahun 1972 ttg Transmigrasi UU No. 11 Tahun 1974 ttg Pengairan UU No. 4 Tahun 1972 ttg Lingkungan Hidup UU No. 5 Tahun 1984 ttg Perindustrian UU No. 5 Tahun 1990 ttg Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistem UU No. 26 Tahun 2007 ttg Penataan Ruang

SESUAI Atau TIDAK SESUAI Peta Guna Lahan Eksisting Sumber Peta: tegalkab.go.id Peta Kesesuaian Lahan Hasil Analisis

Kesesuaian Lindung Perkotaan Lahan Budidaya Pedesaan Pertanian Lahan Basah Pertanian Pertanian Lahan Kering Pertanian Semusim

VARIABEL NILAI RENTANG VARIABEL KATEGORI BOBOT 1. KELERENGAN KELAS LERENG DERAJAD LERENG (%) 1 0-8 Datar 20 2 8-15 landai 40 3 15-25 Agak curam 60 4 25-40 curam 80 > 40 Sangat curam 100 VARIABEL NILAI RENTANG VARIABEL KATEGORI BOBOT 2. KEPEKAAN THD EROSI KELAS TANAH JENIS TANAH 1 Aluvial, Clay, Planosol, hidromorf kelabu, laterite air tanah Tdk peka 15 2 Latosol Agak peka 30 3 Brown forest Soil, Non Calsit Brown, Mediteran Kurang peka 45 4 Andosol, Laterite, Grumosol, Podsolik, Podsol. 5 Regosol, Litosol, Organosol, Renzina peka 60 Sangat peka 75

VARIABEL NILAI RENTANG VARIABEL KATEGORI BOBOT 3. INTENSITAS HUJAN KLS. INT. HUJAN INTENSITAS HUJAN (mm/hari hujan) 1 =< 13,5 Sngt rendah 10 2 13,6 20,7 rendah 20 3 20,7 27,7 Sedang 30 4 27,7 34,8 tinggi 40 5 > 34,8 Sangat tinggi 50 Contoh : suatu wilayah memiliki karakteristik : lereng 30%, jenis tanah andosol, intensitas hujan 30 mm/hr hujan. Tentukan berapa skor lokasi dan peruntukannya untuk apa. VARIABEL NILAI BOBOT SKOR PERUNTUKAN Derajad lereng 30% 80 > 175 kawasan lindung Jenis tanah Andosol 60 125 124 kawasan penyangga Intensitas hujan 30 mm/hh 40 < 125 budidaya tanaman tahunan (lereng < 15%) Indeks lokasi : 180 (arahan eruntukan kawasan lindung). < 125 budidaya tanaman semusim dan permukiman (lereng < 8%).

Berdasarkan Permen PU No 41/ 2007 Kesesuaian Lahan Permukiman Kesesuaian Lahan Pertanian Kesesuaian Lahan Industri Kesesuaian Lahan Pertambangan Kesesuaian Lahan Pariwisata

Permukiman Topografi datar sampai bergelombang (kelerengan lahan 0-25%) Tersedia sumber air tanah maupun PDAM Tidak berada pada daerah rawan bencana Drainase baik sampai sedang Tidak berada pada wilayah sempadan sungai/pantai/waduk/dan au/mata air/saluran pengairan/rel kereta api dan daerah aman penerbangan Tidak berada pada kawasan lindung Tidak terletak pada kawasan budi daya pertanian/penyangga Menghindari sawah irigasi teknis Industri Hidrologi : bebas genangan, dekat dengan sumber air, drainase baik sampai sedang Kemiringan lereng : berkisar 0% - 25% Klimatologi : lokasi berada pada kecenderungan minimum arah angin yang menuju permukiman penduduk Geologi : tidak berada di daerah rawan bencana longsor lahan : area cukup luas minimal 20 ha; karakteristik tanah bertekstur sedang sampai kasar, berada pada tanah marginal untuk pertanian. Pertambangan Bahan galian terletak pada kelerengan antara (0-17 ), curam (17-36 ) hingga sangat curam (> 36 )} Tidak berada di kawasan hutan lindung Tidak terletak pada bagian hulu dari alur-alur sungai Lokasi penggalian di dalam sungai harus seimbang dengan kecepatan sedimentasi Jenis dan besarnya cadangan/deposit bahan tambang secara ekonomis menguntungkan untuk dieksplorasi Tidak terletak di daerah rawan bencana alam seperti gerakan tanah, jalur gempa, bahaya letusan gunung api, dan sebagainya

a. Ketidaksesuaian lahan untuk permukiman b. Ketidaksesuaian lahan untuk pembangunan jalan c. Ketidaksesuaian lahan dalam penggunaan ruang ( misalnya pedestrian ) d. Penyalahgunaan kawasan lindung e. Konversi lahan pertanian tanpa izin

Lahan pertanian menurun harga pokok meningkat banyak impor pangan Penyempitan luasan banjir dan longsor ( waduk Situ Gintung ) RTH semakin sempit karena adanya pembangunan yang tidak sesuai dengan UU tata ruang

Berkurangnya hutan kerusakan lingkungan Konflik tata ruang wilayah usaha yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik terhenti Pembangunan tidak terarah

Lahan terbatas kebutuhan akan lahan terus meningkat Penetapan RTRW molor kewajiban pembuatan RTRW tersandung dalam UU 26/2007 Mencari keuntungan baik perseorangan maupun kelompok

Penyalahgunaan kewenangan karena jabatan Terkait penerbitan izin pemanfaatan ruang Spekulasi lahan Dorongan faktor ekonomi

Di bangun oleh pemerintah Belanda tahun 1932 Fungsi Situ Gintung Awal : 1. Tempat untuk menampung air hujan. 2. Untuk irigasi daerah sekitarnya. Area sekitar Situ Gintung yang awalnya area pertanian terjadi perubahan fungsi menjadi area permukiman maka perubahan fungsi waduk berubah Fungsi tahun terakhir sejak tahun 1970: 1. Sebagai tempat menampung limpasan air hujan. 2. Tempat wisata alam. Sumber : Artikel deddy Damopolii, ST. MT http://id.wikipedia.org/wiki/situ_gint ung

Latar Belakang Area Permukiman dan Tempat Wisata: 1. Kerusakan bangunan waduk 2. Kerusakan lingkungan Banjir dan Longsor (2009) *Perubahan fungsi area sekitar waduk menjadi area permukiman dan wisata mendapat izin dari pemerintah. Padahal menurut uu no.26 tahun 2007 tentang penataan ruang pasal 37 ayat 2 bahwa, Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan Menurut UU no.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pasal 25: 1. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, daerah tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai. 2. Pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan. 3. Ketentuan mengenai pelaksanaan konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Permasalahan : Berkurangnya alokasi lahan kota untuk ruang terbuka hijau (RTH) pada setiap Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta Perubahan luasan RTH: 1. Rencana Induk Djakarta 1865 1985 : 37,2 % 2. RUTR 1985 2005 : 26,1 % 3. RTRW 2000 2010 :13,94 % Sumber : Alexey, Emilius Caesar. 2009. Jangan Legalkan Pelanggaran Tata Ruang dalam http://megapolitan.compas.com/read/2009/08/31/20 31336/jangan.legalkan.pelanggaran.tata.ruang

Alih Fungsi Lahan peruntukan RTH : 1. Dibangun bangunan komersil dan perumahan. 2. Lahan hutan bakau menjadi permukiman skala besar. Akibat: 1. Minimnya daerah resapan air dan minimnya daya serap tanah terhadap air yang mengakibtkan terjadinya banjir. 2. Berkurang dan tercemarnya air tanah.

Pemanfaatan ruang / lahan beserta SDA yang terkandung di dalamnya harus didasarkan pada Rencana Tata Ruang yang telah ditetapkan. Penegakkan hukum pemanfaatan ruang yang tidak sesuai RTR diancam sanksi administratif dan pidana, termasuk masalah perizinan Peran aktif pemerintah dan pengembang dalam koordinasi peraturan penggunaan lahan Sosialisasi RTRW dan peraturan terkait penggunaan lahan lainnya.

Penyalahgunaan lahan yang saat ini banyak terjadi di dalam masyarakat terjadi karena beberapa hal: Kondisi keterbatasan ruang yang belum dapat diatasi Kurangnya akses masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan penggunaan ruang dengan benar. Di sisi pemerintahan, terkadang terdapat pemyalahgunaan wewenang untuk mencapai keinginan sepihak oleh beberapa kelompok kepentingan. Peraturan yang ada selama ini belum dapat mengendalikan penggunaan ruang yang sesuai dengan ketentuan yang ada.

Berdasarkan Permen PU No 41/ 2007 Kesesuaian Lahan Permukiman Kesesuaian Lahan Pertanian Kesesuaian Lahan Industri Kesesuaian Lahan Pertambangan Kesesuaian Lahan Pariwisata Tugas : download Permen tsb!!!!