EVALUASI PELAKSANAAN MP3EI

dokumen-dokumen yang mirip
FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)

MP3EI Pertanian : Realisasi dan Tantangan

Gambar 3.A.1 Peta Koridor Ekonomi Indonesia

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian POKOK-POKOK MASTER PLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI) TAHUN

KERJASAMA PEMERINTAH SWASTA. Rencana Proyek Infrastruktur di Indonesia BUKU PPP 2011 PROYEK SIAP UNTUK DITAWARKAN. Angkutan Udara

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

Jakarta, 7 Februari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian PPN/BAPPENAS

I. PENDAHULUAN. utama ekonomi, pengembangan konektivitas nasional, dan peningkatan. dalam menunjang kegiatan ekonomi di setiap koridor ekonomi.

BAB 5: INDIKASI INVESTASI INFRASTRUKTUR

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

KORIDOR EKONOMI INDONESIA DALAM PENATAAN RUANG SUATU PERSPEKTIF

BAB I PENDAHULUAN. pendapatan masyarakat. Sektor pertanian di Indonesia terdiri dari beberapa sub

KEBIJAKAN PERGUDANGAN DI INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI KEMENTERIAN PERDAGANGAN

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA

Analisis Indikator Pembangunan Ekonomi Inklusif dalam Sektor Pertanian dan Perkebunan di Indonesia

2017, No tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 12 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyiapan Infrastrukt

Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang

BAB 7. POTENSI SUMBERDAYA MANUSIA DAN ALAM INDONESIA SERTA KEBIJAKAN NASIONAL. Oleh: Herien Puspitawati Tin Herawati

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

RANGKUMAN HASIL RAKOR PANGAN NASIONAL, FEED INDONESIA FEED THE WORLD II JAKARTA, 26 JULI 2011

PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH

PROGRAM KERJA DITJEN PPI TA 2012 DAN IMPLEMENTASI MP3EI DI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

I. PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan merupakan persoalan yang kompleks, karena

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model

6 Semua negara di Oceania, kecuali Australia dan Selandia Baru (New Zealand).

PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS

TATA KELOLA INDUSTRI KELAPA SAWIT DAN PEMBIAYAAN: Kasus Indonesia v.s. Malaysia

I. PENDAHULUAN. tani, juga merupakan salah satu faktor penting yang mengkondisikan. oleh pendapatan rumah tangga yang dimiliki, terutama bagi yang

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

Disampaikan oleh: Kepala Bappeda provinsi Jambi. Jambi, 31 Mei 2016

Rehabilitasi dan Reklamasi Pasca Tambang

IV. GAMBARAN UMUM Letak Wilayah, Iklim dan Penggunaan Lahan Provinsi Sumatera Barat

BAB I PENDAHULUAN. Kelangkaan pangan telah menjadi ancaman setiap negara, semenjak

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. utama perekonomian nasional. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih

Sosialisasi Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau/Kepulauan dan Kawasan Strategis Nasional (KSN)

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA DALAM KUNJUNGAN KEIDANREN JEPANG. Jakarta, 9 April Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

KEBIJAKAN DAN STRATEGI OPERASIONAL PENGEMBANGAN BIOINDUSTRI KELAPA NASIONAL

PANDUAN WORKSHOP MASTER PLAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI)

Dr. Prasetijono Widjojo MJ, MA Deputi Bidang Ekonomi Bappenas. Penutupan Pra-Musrenbangnas 2013 Jakarta, 29 April 2013

REPOSISI KAPET 2014 BAHAN INFORMASI MENTERI PEKERJAAN UMUM

PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2015

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010

I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sektor non pertanian merupakan suatu proses perubahan struktur ekonomi.

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Perkumpulan Prakarsa. Penulis : Wiko Saputra Editor : Victoria Fanggidae Penata letak : Claudia Thiorida Desain sampul : Iyot ISBN :

V. GAMBARAN UMUM. sebagai produsen utama dalam perkakaoan dunia. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab

Rencana Strategis Perindustrian di Bidang Energi

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN I-2016

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

VI. ARAH PENGEMBANGAN PERTANIAN BEDASARKAN KESESUAIAN LAHAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, dan (4) keberlanjutan pembangunan dari masyarakat agraris menjadi

BAB I PENDAHULUAN. pengembangan, yaitu : konsep pengembangan wilayah berdasarkan Daerah

Gambar 1.1 Persentase konsumsi pangan di Indonesia

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk

I. PENDAHULUAN 41,91 (42,43) 42,01 (41,60) 1,07 (1,06) 12,49 (12,37) 0,21 (0,21) 5,07 (5,02) 20,93 (20,73) 6,10 (6,04) 0,15 (0,15) (5,84) 1,33 (1,35)

PEMETAAN DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA. Saktyanu K. Dermoredjo

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG

Energy Conservation in the Industry by Utilizing Renewable Energy or Energy Efficiency and Technology Development. Jakarta, 19 Agustus 2015

PENDAHULUAN. Latar Belakang

VALUE CHAIN ANALYSIS (ANALISIS RANTAI PASOK) UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KOPI PADA INDUSTRI KOPI BIJI RAKYAT DI KABUPATEN JEMBER ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang

BAB I PENDAHULUAN. kelapa sawit dan karet dan berperan dalam mendorong pengembangan. wilayah serta pengembangan agroindustry.

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS

DAFTAR ISI. Kata Pengantar..

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan bidang pertambangan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN. negara (Krugman dan Obstfeld, 2009). Hampir seluruh negara di dunia melakukan

IV. DINAMIKA DISPARITAS WILAYAH DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

INFRASTRUKTUR SEBAGAI PILAR PEMBANGUNAN PERTANIAN YANG EFISIEN

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan suatu hal yang cukup penting dalam mewujudkan

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2014

Pengembangan Pusat Pertumbuhan Industri 1. Sumatera 2. Kalimantan 3. Jawa

Transkripsi:

EVALUASI PELAKSANAAN MP3EI Pengaruh MP3EI terhadap Mata Pencaharian dan Hak Hak Dasar Masyarakat FGD ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL (OMS) Hotel Bidakara, 16 Januari 2014

PENDAHULUAN Pada tanggal 27 Mei 2011, pemerintah melaunching Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Not Business as Usual? MP3EI berbasis pada pembangunan enam koridor ekonomi (regional based development) Muncul efek MP3EI terhadap masyarakat dan pemerintahan di daerah seperti sinkronisasi kebijakan, konflik lahan, ketahanan pangan, penguasaan ekonomi oleh kelompok kapitalis melalui skema PPP, ketenagakerjaan dan lain lain.

KONSEP DAN DESAIN MP3EI

KORIDOR EKONOMI 1. Koridor Ekonomi Sumatera memiliki tema pembangunan sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energy nasional. 2. Koridor Ekonomi Jawa memiliki tema pembangunan sebagai pendorong industry dan jasa nasional. 3. Koridor Ekonomi Kalimantan memiliki tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energy nasional. 4. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional. 5. Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara memiliki tema pembangunan sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional. 6. Koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku memiliki tema pembangunan sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energy dan pertambangan nasional

AKTIVITAS EKONOMI UTAMA SRTIAP KORIDOR Aktivitas Ekonomi Koridor Ekonomi Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali Nusa Tenggara Steel Food and beverages Textiles Transportation equipment Shipping Nickel Copper Bauxite Palm oil Rubber Food agriculture Tourism ICT Coal Oil and gas Jabodetabek area Sunda SNS area Defense equipment Animal husbandry Timber Cocoa Fishery Papua Kep. Maluku

KEBUTUHAN INVESTASI (AWAL) Koridor Ekonomi Nilai Investasi (Rp. Triliun) Persentase (%) Koridor Ekonomi Nilai Investasi (Rp. Triliun) Persentase (%) Sumatera 714 18 Jawa 1.290 32 Kalimantan 945 24 Sulawesi 309 8 Bali Nusa 133 3 Tenggara Papua Kep. 622 15 Maluku Total 4.012 100 Pemerintah 401 10 BUMN 722 18 Sektor Swasta 2.046 51 PPP 843 21 Total 4.012 100 Steel 100 2.49 Food and beverages 25 0.62 Textiles 9 0.22 Transportation 32 equipment 0.80 Shipping 16 0.40 Nickel 183 4.56 Copper 197 4.91 Bauxite 137 3.41 Palm oil 92 2.29 Rubber 3 0.07 Food agriculture 108 2.69 Tourism 58 1.45 ICT 4 0.10 Coal 213 5.31 Oil and gas 463 11.54 Jabodetabek area 352 8.77 Sunda SNS area 150 3.74 Defense equipment 2 0.05 Animal husbandry 7 0.17 Timber 32 0.80 Cocoa 1 0.02 Fishery 41 1.02 Total Main Activities 2.226 55.48 Infrastructure 1.786 44.52 Total Investment 4.012 100.00

TAHAPAN PELAKSANAAN PROGRAM

PROYEK MP3EI DI GROUNDBREAKING, PER 2013 Sumber: Menko Perekonomian, 2013

AGENDA RISET Ketahanan pangan Keterbukaan Pasar Kerja EFEK MP3EI TERHADAP MATA PENCAHARIAN DAN HAK DASAR Konflik Lahan Kapitalisme - PPP

TAHAPAN PELAKSANAAN RISET 1 Literature Review 2 FGD Pemda, OMS, dan Komunitas di Sulawesi Selatan 3 FGD dan Indepth Interview Pemda, OMS dan Komunitas di NTT 4 Forum Konsultasi Publik (FKP) Evaluasi MP3EI dengan Bappenas dan OMS 5 Indepth Interview Kemenko Perekonomian dan Bappenas 6 FGD OMS 7 Diskusi dengan Komunitas Buruh

MP3EI DAN KETAHANAN PANGAN

LATAR BELAKANG Tiga koridor utama dalam system ketahanan pangan dalam MP3EI; KE Sulawesi, KE Bali Nusa Tenggara dan KE Papua Maluku Dua koridor untuk mendukung ketahanan energy berbasis bahan bakar nabati; KE Sumatera dan KE Kalimantan MP3EI dan dukungan terhadap kapitalisme pertanian Hilangnya hak hak petani dan cengkraman korporasi Eksploitasi terhadap lingkungan dan tenaga kerja Mempesersempit akses wanita pada komunitas petani terhadap sumber sumber mata pencaharian Krisis terhadap pangan dan ancaman kelaparan

PRASYARAT MENCAPAI KETAHANAN PANGAN MENURUT MP3EI 1. Ketahanan pangan memperhatikan dimensi konsumsi dan produksi; 2. Pangan tersedia secara mencukupi dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat dan produktif; 3. Upaya diversifikasi konsumsi pangan terjadi jika pendapatan masyarakat meningkat dan produk pangan dihargai sesuai dengan nilai ekonominya; 4. Diversifikasi produksi pangan terutama tepung-tepungan, disesuaikan dengan potensi produksi pangan daerah; 5. Pembangunan sentra produksi pangan baru berskala ekonomi luas di Luar Jawa; 6. Peningkatan produktivitas melalui peningkatan kegiatan penelitan dan pengembangan khususnya untuk bibit maupun teknologi pasca panen

TAHAPAN PELAKSANAAN PROGRAM Komoditi Pertanian Koridor Ekonomi Sumatera Kalimantan Sulawesi Bali Nusa Tenggara Papua Maluku Kelapa sawit Karet Tanaman pangan Peternakan Kakao Perikanan Sumber: Menko Perekonomian, 2011

MP3EI DAN KESALAHAN DESAIN KETAHAN PANGAN Koridor Jawa merupakan koridor yang paling potensi sebagai sentra pangan nasional, tapi justru koridor ekonomi Jawa tidak ditetapkan sebagai koridor yang focus pada sector pangan. Distribusi konsumen (penduduk) berada pada Pulau Jawa dan Pulau Suamtera, hampir 70% penduduk Indonesia berada di dua pulau ini. Artinya, kebutuhan pangan terkosentrasi pada dua pulau ini. Ketika produksi jauh dari konsumen (penduduk) maka resiko terjadinya kerawanan pangan semakin besar. Pilihan komoditi pangan dalam tiga koridor tersebut justru berorientasi pada ekspor dan bukan memenuhi konsumsi pangan masyarakat local. Ini akan menimbulkan masalah terhadap system keseimbangan pangan masyarakat. Pengembangan sentra pangan di tiga koridor tersebut lebih diarahkan pada industrialisasi pangan, dimana pemerintah mendorong korporasi atau pemilik modal besar untuk terlibat dalam industry ini. Kebijakan ini akan menciptakan dominasi korporasi sehingga cenderung akan menciptakan liberalisasi pangan yang beresiko terhadap kerawanan pangan.

SEMAKIN MENURUNNYA KONTRIBUSI PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN Sumber: BPS (diolah)

TRANSFORMASI STRUKTURAL YANG SALAH Rumah Tangga Usaha Pertanian (000) Perubahan No Sub Sektor ST 2003 ST 2013 Absolut % Sektor Pertanian 31,232.18 26,135.47 (5,096.72) (16.32) Sub Sektor: 1 Tanaman Pangan 18,708.05 17,728.16 (979.89) (5.24) Padi 14,206.36 14,147.86 (58.49) (0.41) Palawija 10,941.92 8,624.23 (2,317.69) (21.18) 2 Holtikultura 16,937.62 10,602.14 (6,335.48) (37.40) 3 Perkebunan 14,128.54 12,770.57 (1,357.97) (9.61) 4 Peternakan 18,595.82 12,969.21 (5,626.62) (30.26) 5 Perikanan 2,489.68 1,975.25 (514.43) (20.66) Budidaya Ikan 985.42 1,187.60 202.19 20.52 Penangkapan Ikan 1,569.05 864.51 (704.54) (44.90) 6 Kehutanan 6,827.94 6,782.96 (44.98) (0.66) Sumber: 7 Jasa Sensus Pertanian 2003 & 2013 (diolah) 1,846.14 1,078.31 (767.83) (41.59)

BESARNYA PETANI GUREM Sumber: Sensus Pertanian 2013 (diolah)

FAKTOR KONSUMSI PANGAN MASYARAKAT Variabel Model 1 (Makanan + Non Makanan) Model 2 (Makanan) Konstanta 11.471 (8.618) 7.375 (5.894) PDRB Perkapita (X1) 0.083 (1.185) 0.199 (3.070) MYS (X2) 0.249 (0.610) 0.835 (2.240) Kemiskinan (X3) -0.278 (-3.080) -0.013 (-0.154) Produksi beras (X4) - -0.018 (-0.794) R-Square 0.436 0.448 Durbin Watson 1.463 1.467 F 6.706 4.865 InY 1 InX 1 InX 2 InX 3 InY 2 InX 1 InX 2 InX 3 InX 4 Sumber: Susenas & BPS (diolah)

DAERAH RAWAN PANGAN Sumber: Dewan Ketahanan Pangan Nasional, 2013

KETERGANTUNGAN TERHADAP IMPOR Komoditi Volume (Ton) 2012 Per September 2013 Nilai (US$. Juta) Volume (Ton) Nilai (US$. Juta) Pangan 13,345,737 6,297 9,058,766 3,897 Holtikultura 2,138,764 1,813 1,296,374 1,261 Perkebunan 1,571,363 3,112 1,049,136 1,951 Peternakan 1,201,742 2,698 857,696 2,068 Total 18,257,606 13,920 12,261,971 9,177 Sumber: Kementerian Perdagangan, 2013 (diolah)

IMPOR BEBERAPA KOMODITI Sumber: Kementerian Perdagangan 2013 (diolah)

MP3EI DAN KONFLIK LAHAN

LATAR BELAKANG Pembangunan Mega Proyek selalu menimbulkan konflik terhadap lahan. Ex. Pembangunan KE di Malaysia; di Brasil; Thailand; Sungai Mekong dan lainnya. Studi Sophie Chao (2013) menunjukan banyak konflik lahan di Indonesia merupakan konsekwensi dari banyaknya akuisisi lahan oleh pihak swasta dan lemahnya pengaturan lahan karena maraknya praktek praktek korupsi di system birokrasi terutama di institusi pertanahan. Desain MP3EI adalah membuka peluang bagi swasta untuk akuisisi lahan masyarakat. Pembangunan infrastruktur dipacu dengan mengeluarkan UU No. 2/2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. MP3EI diarahkan untuk mendorong pengembangan industry kelapa sawit, sector ini merupakan penyumbang konflik lahan terbesar di Indonesia. MP3EI membingkai regulasi regulasi yang selama ini menjadi penyebab munculnya konflik lahan di Indonesia seperti UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, UU No. 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara, UU No. 18 tahun 2004 tentang Perkebunan, UU No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, UU. No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau pulau Kecil, dan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang

PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI, INFRASTRUKTU DAN PEMBEBASAN LAHAN No Nama Proyek Jumlah Lahan Dibebaskan (Ha) Status Proyek Nilai Proyek (US$. Juta) 1 Pembangunan Rel Kereta Api Soekarno Hatta Int Airport Manggarai 845 PPP 2.570 2 Pembangunan Terminal Gedebage 30 PPP 133 3 Revitalisasi Stasiun Kereta Api Yogyakarta 62,6 PPP 828,6 4 Pembangunan Jembatan Selat Sunda 1.740 PPP 25.000 5 Pembangunan Jalan Tol Manado Bitung 975 PPP 353 6 Pembangunan Jalan Tol Tanjung Priuk 89,6 PPP 612,5 7 Pembangunan Jalan Tol Balikpapan - Samarinda 792 PPP 1.200 8 Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung Palembang - Betung 893 PPP 836,1 9 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bekasi 0,8 PPP 20 10 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bali 8 PPP 218 11 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Bogor Depok 56 PPP 40 12 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Surakarta 17 PPP 30 13 Pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy Kalimantan Timur 200 PPP 1.780 14 Perluasan Pelabuhan International Tanjung Priuk di Cilamaya, Kerawang 150 PPP 1.135 15 Perluasan Pelabuhan Internasional Tanjung Sauh Batam 150 PPP 805 16 Pembangunan Bandara Internasional Baru di Bali 1.120 PPP 510 17 Pembangunan Bandara Internasional Kulonprogo 637 PPP 500 18 Pembangunan Rel Kereta Api Pulau Baai Muara Enim 1.840 PPP 3.000 19 Pembangunan MRT Surabaya 392,8 PPP 1.170 20 Pembangunan Monorail Bandung 412,8 PPP 2.868 21 Pembangunan Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan 482,2 PPP 1.015 22 Pembangunan Jalan Tol Pandaan Malang 300,9 PPP 420 23 Pembangunan Jalan Tol Pasir Koja Soreang 120 PPP 47,2 24 Pembangunan Jakarta Sewage Treatment Plant 6,9 PPP 173,5 Sumber: Bappenas, 2013

KONFLIK LAHAN DI INDONESIA (STUDI KPA, 2013) Sumber: KPA 2013

PENGUASAAN KORPORASI TERHADAP PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Luas Area Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Sumber: Dirjen Perkebunan & Sawit Watch (diolah)

CENGKRAMAN KORPORASI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Perusahaan Status Perusahaan (Pemilik) Luas Lahan (Ha) Astra Agro Lestari Indonesia 272,994 Sinar Mas Group Indonesia 278,400 IndoAgri Indonesia 230,919 Wilmar Group Singapura 186,623 PP London Sumatera Plantation Indonesia 106,407 PTPN III BUMN Indonesia 105,290 PTPN IV BUMN Indonesia 136,737 PTPN V BUMN Indonesia 77,064 Bakrie Sumatera Plantation Indonesia 103,288 Sampoerna Agro Indonesia 114,827 Bumitama Agri Singapura 113,383 Guthrie Berhad Malaysia 221,685 Sime Darby Malaysia 289,422 Tabung Haji Plantation Malaysia 82,147 Kuala Lumpur Kepong Malaysia 98,792 Golden Hope Plantation Malaysia 12,883 Sumber: Total Prakarsa, 2013 2,430,861

PETA KONFLIK LAHAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (STUDI SAWIT WATCH) Sumber: Sawit Watch, 2013

MP3EI DAN CENGKRAMAN KAPITALISME MELALUI SKEMA PPP

LATAR BELAKANG Rendahnya daya saing usaha di Indonesia diakibatkan oleh minimnya infrastruktur (WEF, 2013). Keterbatasan APBN/APBD untuk membangun infrastruktur. Skema PPP bisa mengatasi persoalan pendanaan? PPP versi Indonesia v.s. PPP versi Malaysia. Bias pada sector swasta peluang bagi swasta mengeksploitasi sumberdaya alam. Rakyat dan lingkungan penerima efek terbesar. Maros Water Supply menjadi beban bagi konsumen karena kenaikan biaya/tariff sedangkan Pemda tidak menerima bagi hasil yang memadai.

PROYEK MP3EI DENGAN SKEMA PPP (FINAL) 1. Pembangunan Jalan Tol Tanjung Benoa Bali : Kerusakan lingkungan 2. Maros Water Supply : Kenaikan tariff dan memperkuat cengkraman korporasi terhadap penyedian air bersih yang sebenarnya kewajiban negara. Pemda tidak mendapatkan penerimaan bagi hasil yang sesuai. 3. Lampung Water Supply : hilangnya hak hak masyarakat terhadap sumber air bersih di Lampung. 4. Umbulan Water Supply : beresiko terhadap penurunan debit air dari sumber mata air Umbulan, kenaikan tariff, keuntungan bagi penerimaan daerah

PROYEK PRIORITAS DAN STRATEGIS MP3EI DENGAN SKEMA PPP No Nama Proyek Status Proyek Nilai Proyek (US$. Juta) 1 Pembangunan Rel Kereta Api Soekarno Hatta Int Airport Manggarai PPP 2.570 2 Pembangunan Terminal Gedebage PPP 133 3 Revitalisasi Stasiun Kereta Api Yogyakarta PPP 828,6 4 Pembangunan Jembatan Selat Sunda PPP 25.000 5 Pembangunan Jalan Tol Manado Bitung PPP 353 6 Pembangunan Jalan Tol Tanjung Priuk PPP 612,5 7 Pembangunan Jalan Tol Balikpapan - Samarinda PPP 1.200 8 Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung Palembang - Betung PPP 836,1 9 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bekasi PPP 20 10 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bali PPP 218 11 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Bogor Depok PPP 40 12 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Surakarta PPP 30 13 Pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy Kalimantan Timur PPP 1.780 14 Perluasan Pelabuhan International Tanjung Priuk di Cilamaya, Kerawang PPP 1.135 15 Perluasan Pelabuhan Internasional Tanjung Sauh Batam PPP 805 16 Pembangunan Bandara Internasional Baru di Bali PPP 510 17 Pembangunan Bandara Internasional Kulonprogo PPP 500 18 Pembangunan Rel Kereta Api Pulau Baai Muara Enim PPP 3.000 19 Pembangunan MRT Surabaya PPP 1.170 20 Pembangunan Monorail Bandung PPP 2.868 21 Pembangunan Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan PPP 1.015 22 Pembangunan Jalan Tol Pandaan Malang PPP 420 23 Pembangunan Jalan Tol Pasir Koja Soreang PPP 47,2 24 Pembangunan Jakarta Sewage Treatment Plant PPP 173,5 Sumber: Bappenas, 2013

TERIMA KASIH SELAMAT BERDISKUSI