EVALUASI PELAKSANAAN MP3EI Pengaruh MP3EI terhadap Mata Pencaharian dan Hak Hak Dasar Masyarakat FGD ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL (OMS) Hotel Bidakara, 16 Januari 2014
PENDAHULUAN Pada tanggal 27 Mei 2011, pemerintah melaunching Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Not Business as Usual? MP3EI berbasis pada pembangunan enam koridor ekonomi (regional based development) Muncul efek MP3EI terhadap masyarakat dan pemerintahan di daerah seperti sinkronisasi kebijakan, konflik lahan, ketahanan pangan, penguasaan ekonomi oleh kelompok kapitalis melalui skema PPP, ketenagakerjaan dan lain lain.
KONSEP DAN DESAIN MP3EI
KORIDOR EKONOMI 1. Koridor Ekonomi Sumatera memiliki tema pembangunan sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energy nasional. 2. Koridor Ekonomi Jawa memiliki tema pembangunan sebagai pendorong industry dan jasa nasional. 3. Koridor Ekonomi Kalimantan memiliki tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energy nasional. 4. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional. 5. Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara memiliki tema pembangunan sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional. 6. Koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku memiliki tema pembangunan sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energy dan pertambangan nasional
AKTIVITAS EKONOMI UTAMA SRTIAP KORIDOR Aktivitas Ekonomi Koridor Ekonomi Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali Nusa Tenggara Steel Food and beverages Textiles Transportation equipment Shipping Nickel Copper Bauxite Palm oil Rubber Food agriculture Tourism ICT Coal Oil and gas Jabodetabek area Sunda SNS area Defense equipment Animal husbandry Timber Cocoa Fishery Papua Kep. Maluku
KEBUTUHAN INVESTASI (AWAL) Koridor Ekonomi Nilai Investasi (Rp. Triliun) Persentase (%) Koridor Ekonomi Nilai Investasi (Rp. Triliun) Persentase (%) Sumatera 714 18 Jawa 1.290 32 Kalimantan 945 24 Sulawesi 309 8 Bali Nusa 133 3 Tenggara Papua Kep. 622 15 Maluku Total 4.012 100 Pemerintah 401 10 BUMN 722 18 Sektor Swasta 2.046 51 PPP 843 21 Total 4.012 100 Steel 100 2.49 Food and beverages 25 0.62 Textiles 9 0.22 Transportation 32 equipment 0.80 Shipping 16 0.40 Nickel 183 4.56 Copper 197 4.91 Bauxite 137 3.41 Palm oil 92 2.29 Rubber 3 0.07 Food agriculture 108 2.69 Tourism 58 1.45 ICT 4 0.10 Coal 213 5.31 Oil and gas 463 11.54 Jabodetabek area 352 8.77 Sunda SNS area 150 3.74 Defense equipment 2 0.05 Animal husbandry 7 0.17 Timber 32 0.80 Cocoa 1 0.02 Fishery 41 1.02 Total Main Activities 2.226 55.48 Infrastructure 1.786 44.52 Total Investment 4.012 100.00
TAHAPAN PELAKSANAAN PROGRAM
PROYEK MP3EI DI GROUNDBREAKING, PER 2013 Sumber: Menko Perekonomian, 2013
AGENDA RISET Ketahanan pangan Keterbukaan Pasar Kerja EFEK MP3EI TERHADAP MATA PENCAHARIAN DAN HAK DASAR Konflik Lahan Kapitalisme - PPP
TAHAPAN PELAKSANAAN RISET 1 Literature Review 2 FGD Pemda, OMS, dan Komunitas di Sulawesi Selatan 3 FGD dan Indepth Interview Pemda, OMS dan Komunitas di NTT 4 Forum Konsultasi Publik (FKP) Evaluasi MP3EI dengan Bappenas dan OMS 5 Indepth Interview Kemenko Perekonomian dan Bappenas 6 FGD OMS 7 Diskusi dengan Komunitas Buruh
MP3EI DAN KETAHANAN PANGAN
LATAR BELAKANG Tiga koridor utama dalam system ketahanan pangan dalam MP3EI; KE Sulawesi, KE Bali Nusa Tenggara dan KE Papua Maluku Dua koridor untuk mendukung ketahanan energy berbasis bahan bakar nabati; KE Sumatera dan KE Kalimantan MP3EI dan dukungan terhadap kapitalisme pertanian Hilangnya hak hak petani dan cengkraman korporasi Eksploitasi terhadap lingkungan dan tenaga kerja Mempesersempit akses wanita pada komunitas petani terhadap sumber sumber mata pencaharian Krisis terhadap pangan dan ancaman kelaparan
PRASYARAT MENCAPAI KETAHANAN PANGAN MENURUT MP3EI 1. Ketahanan pangan memperhatikan dimensi konsumsi dan produksi; 2. Pangan tersedia secara mencukupi dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sehat dan produktif; 3. Upaya diversifikasi konsumsi pangan terjadi jika pendapatan masyarakat meningkat dan produk pangan dihargai sesuai dengan nilai ekonominya; 4. Diversifikasi produksi pangan terutama tepung-tepungan, disesuaikan dengan potensi produksi pangan daerah; 5. Pembangunan sentra produksi pangan baru berskala ekonomi luas di Luar Jawa; 6. Peningkatan produktivitas melalui peningkatan kegiatan penelitan dan pengembangan khususnya untuk bibit maupun teknologi pasca panen
TAHAPAN PELAKSANAAN PROGRAM Komoditi Pertanian Koridor Ekonomi Sumatera Kalimantan Sulawesi Bali Nusa Tenggara Papua Maluku Kelapa sawit Karet Tanaman pangan Peternakan Kakao Perikanan Sumber: Menko Perekonomian, 2011
MP3EI DAN KESALAHAN DESAIN KETAHAN PANGAN Koridor Jawa merupakan koridor yang paling potensi sebagai sentra pangan nasional, tapi justru koridor ekonomi Jawa tidak ditetapkan sebagai koridor yang focus pada sector pangan. Distribusi konsumen (penduduk) berada pada Pulau Jawa dan Pulau Suamtera, hampir 70% penduduk Indonesia berada di dua pulau ini. Artinya, kebutuhan pangan terkosentrasi pada dua pulau ini. Ketika produksi jauh dari konsumen (penduduk) maka resiko terjadinya kerawanan pangan semakin besar. Pilihan komoditi pangan dalam tiga koridor tersebut justru berorientasi pada ekspor dan bukan memenuhi konsumsi pangan masyarakat local. Ini akan menimbulkan masalah terhadap system keseimbangan pangan masyarakat. Pengembangan sentra pangan di tiga koridor tersebut lebih diarahkan pada industrialisasi pangan, dimana pemerintah mendorong korporasi atau pemilik modal besar untuk terlibat dalam industry ini. Kebijakan ini akan menciptakan dominasi korporasi sehingga cenderung akan menciptakan liberalisasi pangan yang beresiko terhadap kerawanan pangan.
SEMAKIN MENURUNNYA KONTRIBUSI PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN Sumber: BPS (diolah)
TRANSFORMASI STRUKTURAL YANG SALAH Rumah Tangga Usaha Pertanian (000) Perubahan No Sub Sektor ST 2003 ST 2013 Absolut % Sektor Pertanian 31,232.18 26,135.47 (5,096.72) (16.32) Sub Sektor: 1 Tanaman Pangan 18,708.05 17,728.16 (979.89) (5.24) Padi 14,206.36 14,147.86 (58.49) (0.41) Palawija 10,941.92 8,624.23 (2,317.69) (21.18) 2 Holtikultura 16,937.62 10,602.14 (6,335.48) (37.40) 3 Perkebunan 14,128.54 12,770.57 (1,357.97) (9.61) 4 Peternakan 18,595.82 12,969.21 (5,626.62) (30.26) 5 Perikanan 2,489.68 1,975.25 (514.43) (20.66) Budidaya Ikan 985.42 1,187.60 202.19 20.52 Penangkapan Ikan 1,569.05 864.51 (704.54) (44.90) 6 Kehutanan 6,827.94 6,782.96 (44.98) (0.66) Sumber: 7 Jasa Sensus Pertanian 2003 & 2013 (diolah) 1,846.14 1,078.31 (767.83) (41.59)
BESARNYA PETANI GUREM Sumber: Sensus Pertanian 2013 (diolah)
FAKTOR KONSUMSI PANGAN MASYARAKAT Variabel Model 1 (Makanan + Non Makanan) Model 2 (Makanan) Konstanta 11.471 (8.618) 7.375 (5.894) PDRB Perkapita (X1) 0.083 (1.185) 0.199 (3.070) MYS (X2) 0.249 (0.610) 0.835 (2.240) Kemiskinan (X3) -0.278 (-3.080) -0.013 (-0.154) Produksi beras (X4) - -0.018 (-0.794) R-Square 0.436 0.448 Durbin Watson 1.463 1.467 F 6.706 4.865 InY 1 InX 1 InX 2 InX 3 InY 2 InX 1 InX 2 InX 3 InX 4 Sumber: Susenas & BPS (diolah)
DAERAH RAWAN PANGAN Sumber: Dewan Ketahanan Pangan Nasional, 2013
KETERGANTUNGAN TERHADAP IMPOR Komoditi Volume (Ton) 2012 Per September 2013 Nilai (US$. Juta) Volume (Ton) Nilai (US$. Juta) Pangan 13,345,737 6,297 9,058,766 3,897 Holtikultura 2,138,764 1,813 1,296,374 1,261 Perkebunan 1,571,363 3,112 1,049,136 1,951 Peternakan 1,201,742 2,698 857,696 2,068 Total 18,257,606 13,920 12,261,971 9,177 Sumber: Kementerian Perdagangan, 2013 (diolah)
IMPOR BEBERAPA KOMODITI Sumber: Kementerian Perdagangan 2013 (diolah)
MP3EI DAN KONFLIK LAHAN
LATAR BELAKANG Pembangunan Mega Proyek selalu menimbulkan konflik terhadap lahan. Ex. Pembangunan KE di Malaysia; di Brasil; Thailand; Sungai Mekong dan lainnya. Studi Sophie Chao (2013) menunjukan banyak konflik lahan di Indonesia merupakan konsekwensi dari banyaknya akuisisi lahan oleh pihak swasta dan lemahnya pengaturan lahan karena maraknya praktek praktek korupsi di system birokrasi terutama di institusi pertanahan. Desain MP3EI adalah membuka peluang bagi swasta untuk akuisisi lahan masyarakat. Pembangunan infrastruktur dipacu dengan mengeluarkan UU No. 2/2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. MP3EI diarahkan untuk mendorong pengembangan industry kelapa sawit, sector ini merupakan penyumbang konflik lahan terbesar di Indonesia. MP3EI membingkai regulasi regulasi yang selama ini menjadi penyebab munculnya konflik lahan di Indonesia seperti UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, UU No. 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara, UU No. 18 tahun 2004 tentang Perkebunan, UU No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, UU. No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau pulau Kecil, dan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang
PEMBANGUNAN KORIDOR EKONOMI, INFRASTRUKTU DAN PEMBEBASAN LAHAN No Nama Proyek Jumlah Lahan Dibebaskan (Ha) Status Proyek Nilai Proyek (US$. Juta) 1 Pembangunan Rel Kereta Api Soekarno Hatta Int Airport Manggarai 845 PPP 2.570 2 Pembangunan Terminal Gedebage 30 PPP 133 3 Revitalisasi Stasiun Kereta Api Yogyakarta 62,6 PPP 828,6 4 Pembangunan Jembatan Selat Sunda 1.740 PPP 25.000 5 Pembangunan Jalan Tol Manado Bitung 975 PPP 353 6 Pembangunan Jalan Tol Tanjung Priuk 89,6 PPP 612,5 7 Pembangunan Jalan Tol Balikpapan - Samarinda 792 PPP 1.200 8 Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung Palembang - Betung 893 PPP 836,1 9 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bekasi 0,8 PPP 20 10 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bali 8 PPP 218 11 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Bogor Depok 56 PPP 40 12 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Surakarta 17 PPP 30 13 Pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy Kalimantan Timur 200 PPP 1.780 14 Perluasan Pelabuhan International Tanjung Priuk di Cilamaya, Kerawang 150 PPP 1.135 15 Perluasan Pelabuhan Internasional Tanjung Sauh Batam 150 PPP 805 16 Pembangunan Bandara Internasional Baru di Bali 1.120 PPP 510 17 Pembangunan Bandara Internasional Kulonprogo 637 PPP 500 18 Pembangunan Rel Kereta Api Pulau Baai Muara Enim 1.840 PPP 3.000 19 Pembangunan MRT Surabaya 392,8 PPP 1.170 20 Pembangunan Monorail Bandung 412,8 PPP 2.868 21 Pembangunan Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan 482,2 PPP 1.015 22 Pembangunan Jalan Tol Pandaan Malang 300,9 PPP 420 23 Pembangunan Jalan Tol Pasir Koja Soreang 120 PPP 47,2 24 Pembangunan Jakarta Sewage Treatment Plant 6,9 PPP 173,5 Sumber: Bappenas, 2013
KONFLIK LAHAN DI INDONESIA (STUDI KPA, 2013) Sumber: KPA 2013
PENGUASAAN KORPORASI TERHADAP PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Luas Area Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Sumber: Dirjen Perkebunan & Sawit Watch (diolah)
CENGKRAMAN KORPORASI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Perusahaan Status Perusahaan (Pemilik) Luas Lahan (Ha) Astra Agro Lestari Indonesia 272,994 Sinar Mas Group Indonesia 278,400 IndoAgri Indonesia 230,919 Wilmar Group Singapura 186,623 PP London Sumatera Plantation Indonesia 106,407 PTPN III BUMN Indonesia 105,290 PTPN IV BUMN Indonesia 136,737 PTPN V BUMN Indonesia 77,064 Bakrie Sumatera Plantation Indonesia 103,288 Sampoerna Agro Indonesia 114,827 Bumitama Agri Singapura 113,383 Guthrie Berhad Malaysia 221,685 Sime Darby Malaysia 289,422 Tabung Haji Plantation Malaysia 82,147 Kuala Lumpur Kepong Malaysia 98,792 Golden Hope Plantation Malaysia 12,883 Sumber: Total Prakarsa, 2013 2,430,861
PETA KONFLIK LAHAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (STUDI SAWIT WATCH) Sumber: Sawit Watch, 2013
MP3EI DAN CENGKRAMAN KAPITALISME MELALUI SKEMA PPP
LATAR BELAKANG Rendahnya daya saing usaha di Indonesia diakibatkan oleh minimnya infrastruktur (WEF, 2013). Keterbatasan APBN/APBD untuk membangun infrastruktur. Skema PPP bisa mengatasi persoalan pendanaan? PPP versi Indonesia v.s. PPP versi Malaysia. Bias pada sector swasta peluang bagi swasta mengeksploitasi sumberdaya alam. Rakyat dan lingkungan penerima efek terbesar. Maros Water Supply menjadi beban bagi konsumen karena kenaikan biaya/tariff sedangkan Pemda tidak menerima bagi hasil yang memadai.
PROYEK MP3EI DENGAN SKEMA PPP (FINAL) 1. Pembangunan Jalan Tol Tanjung Benoa Bali : Kerusakan lingkungan 2. Maros Water Supply : Kenaikan tariff dan memperkuat cengkraman korporasi terhadap penyedian air bersih yang sebenarnya kewajiban negara. Pemda tidak mendapatkan penerimaan bagi hasil yang sesuai. 3. Lampung Water Supply : hilangnya hak hak masyarakat terhadap sumber air bersih di Lampung. 4. Umbulan Water Supply : beresiko terhadap penurunan debit air dari sumber mata air Umbulan, kenaikan tariff, keuntungan bagi penerimaan daerah
PROYEK PRIORITAS DAN STRATEGIS MP3EI DENGAN SKEMA PPP No Nama Proyek Status Proyek Nilai Proyek (US$. Juta) 1 Pembangunan Rel Kereta Api Soekarno Hatta Int Airport Manggarai PPP 2.570 2 Pembangunan Terminal Gedebage PPP 133 3 Revitalisasi Stasiun Kereta Api Yogyakarta PPP 828,6 4 Pembangunan Jembatan Selat Sunda PPP 25.000 5 Pembangunan Jalan Tol Manado Bitung PPP 353 6 Pembangunan Jalan Tol Tanjung Priuk PPP 612,5 7 Pembangunan Jalan Tol Balikpapan - Samarinda PPP 1.200 8 Pembangunan Jalan Tol Kayu Agung Palembang - Betung PPP 836,1 9 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bekasi PPP 20 10 Pembangunan Jaringan Penyedian Air Bersih Bali PPP 218 11 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Bogor Depok PPP 40 12 Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir dan Pengolahan Sampah Surakarta PPP 30 13 Pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy Kalimantan Timur PPP 1.780 14 Perluasan Pelabuhan International Tanjung Priuk di Cilamaya, Kerawang PPP 1.135 15 Perluasan Pelabuhan Internasional Tanjung Sauh Batam PPP 805 16 Pembangunan Bandara Internasional Baru di Bali PPP 510 17 Pembangunan Bandara Internasional Kulonprogo PPP 500 18 Pembangunan Rel Kereta Api Pulau Baai Muara Enim PPP 3.000 19 Pembangunan MRT Surabaya PPP 1.170 20 Pembangunan Monorail Bandung PPP 2.868 21 Pembangunan Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan PPP 1.015 22 Pembangunan Jalan Tol Pandaan Malang PPP 420 23 Pembangunan Jalan Tol Pasir Koja Soreang PPP 47,2 24 Pembangunan Jakarta Sewage Treatment Plant PPP 173,5 Sumber: Bappenas, 2013
TERIMA KASIH SELAMAT BERDISKUSI