BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
PERTEMUAN MINGGU KE 5

KEBUDAYAAN & MASYARAKAT

GEOGRAFI BUDAYA Materi : 7

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN

KEBUDAYAAN DALAM ILMU ANTROPOLOGI

KEBUDAYAAN. Sosped Fapet UHN

Pertemuan6 Peradaban; Wujud kebudayaan danunsur-unsur kebudayaan MATA KULIAH ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB I PENDAHULUAN. beraneka ragam. Begitupun negara Indonesia. Dengan banyak pulau dan suku

TINJAUAN PUSTAKA. Hubungan Masyarakat Lokal dengan Kearifan Lokal. Kearifan lokal dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk budaya mengandung pengertian bahwa

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan, dan dari kebiasaan itu yang nantinya akan menjadi kebudayaan.

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual

LOKAL GENIUS DALAM KAJIAN MANAJEMEN Oleh Drs. I Made Madiarsa, M.M.A. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah

BAB IV SISTEM SOSIAL 4.1 Pengantar 4.2 Sistem Sosial

Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia Masyarakat : ( - مشاركة -(شارك kaum/komunitas Budaya : Pola pikir/tradisi/kebiasaan Kebudayaan : Wujud material

II. TINJAUAN PUSTAKA

KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT Y E S I M A R I N C E, S. I P

MANUSIA DAN BUDAYA. A. MANUSIA 1. Pengertian Manusia. Ringkasan Tugas Ilmu Budaya Dasar:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kebudayaan Indonesia sangat beragam. Pengaruh-pengaruh

TEKS DESKRIPSI BUDAYA INDONESIA

Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 3 dan 4 ) KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2

KONSEP-KONSEP POKOK DALAM ANTROPOLIGI: KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yuvenalis Anggi Aditya, 2013

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

Human Relations. Kebudayaan dan Human Relations. Amin Shabana. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Hubungan Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian

PENGERTIAN DASAR SEJARAH KEBUDAYAAN

BAB I PENDAHULUAN. besar di dalam suatu ekosistem. Hutan mampu menghasilkan oksigen yang dapat

Makalah dengan judul PROGRAM PEMBELAJARAN DI TK PERSPEKTIF BUDAYA LOKAL. Oleh : Joko Pamungkas.M.Pd.

Dampak Perubahan Sosial Budaya

MASYARAKAT DAN KESADARAN BUDAYA. Oleh: Resti Nur Laila, Atika Widayanti, Krissanto Kurniawan

MODUL PERKULIAHAN Kapita Selekta Ilmu Sosial Masyarakat & Budaya

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan nasional (national pride) bangsa Indonesia adalah

- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) - organisasi kekuatan (politik)

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

Kebudayaan (2) Pengantar Antropologi. Dian Kurnia Anggreta, S.Sos, M.Si 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Senakin kabupaten Landak Kalimantan Barat. Teori-teori tersebut dalah sebagai

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Baik keberagaman hayati

Antropologi Psikologi

MATA KULIAH : ILMU BUDAYA DASAR PERAN KEBUDAYAAN DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, REKOMENDASI

PERTEMUAN 5 Pengertian Kebudayaan MK ANTROPOLOGI BUDAYA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB I PENDAHULUAN. buddayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahkluk sosial yang berbudaya mempunyai peran

BUPATI ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENREKANG NOMOR 1 TAHUN 2016

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan.

BAB I PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan

BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. Arti budaya

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan mencakup

BAB IV RESEPSI MASYARAKAT DESA ASEMDOYONG TERHADAP TRADISI BARITAN. Secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception

BAB II KAJIAN TEORI. "Adat" berasal dari bahasa Arab,عادات bentuk jamak dari عاد ة (adah), yang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

a. Hakekat peradaban manusia Koentjaraningrat berpendapat bahwa kata peradaban diistilahkan dengan civilization, yang biasanya dipakai untuk menyebut

TARI KREASI NANGGOK DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SUMATERA SELATAN

KEBUDAYAAN. 1. Pengertian

BAB I PENDAHULUAN. dikaruniai berbagai kelebihan dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Karunia itu

Menurut E. B. Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat

BAB I PENDAHULUAN. yang termasuk dalam aspek kebudayaan, sudah dapat dirasakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara

2013 POLA PEWARISAN NILAI-NILAI SOSIAL D AN BUD AYA D ALAM UPACARA AD AT SEREN TAUN

BAB I PENDAHULUAN. Moses, 2014 Keraton Ismahayana Landak Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. (1968) disebut sebagai tragedi barang milik bersama. Menurutnya, barang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. objeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. keduanya. Sastra tumbuh dan berkembang karena eksistensi manusia dan sastra

BAB I PENDAHULUAN. Menurut sejarah, sesudah Kerajaan Pajajaran pecah, mahkota birokrasi

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangsa. Studi etnobotani

KURIKULUM 2013 KOMPETENSI DASAR GEOGRAFI

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Darma Persada

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik serta ciri khas masyarakatnya berdasarkan etnografisnya. Perbedaanperbedaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

NILAI-NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MITOS KIAI KALADETE TENTANG ANAK BERAMBUT GEMBEL DI DATARAN TINGGI DIENG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI

BAB II KAJIAN TEORITIK

-2- lain dari luar Indonesia dalam proses dinamika perubahan dunia. Dalam konteks tersebut, bangsa Indonesia menghadapi berbagai masalah, tantangan, d

Budaya. Oleh: Holy Greata. Modul ke: Fakultas Psikologi. Program Studi Psikologi

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk hidup dalam melangsungkan kehidupannya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Bab 1. Pendahuluan. Candrasengkala sebagai..., Meirissa Ramadhani, FIB UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. animisme dan dinamisme. Masyarakat tersebut masih mempercayai adanya rohroh

BAB I PENDAHULUAN. yang pada umumnya mempunyai nilai budaya yang tersendiri. Dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya kebudayaan. Kebudayaan tersebut

BAB II KAJIAN TEORI. Kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR

Budaya Budaya = pikiran; akal budi (KBBI, 2002:169) Berasal dari kata Buddayah(Sansekerta), yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi, artinya budi

BAB I PENDAHULUAN. akan dapat diterima orang lain, sehingga tercipta interaksi sosial sesama

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka mempunyai arti peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait, sesuai dengan arti tersebut suatu tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan penelitian,dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan. Tidak selalu harus tepat identik dengan bidang permasalahan yang dihadapi,tetapi termasuk pula yang seiring dan berkaitan (http://bahankuliah.wordpress.com/2009/05/14) 2.1 Kebudayaan Kebudayaan mendominasi pembicaran sepanjang abad. Bukan saja dalam ilmu sosial humaniora tetapi juga ilmu kealaman. Definisi yang paling luas menganggap kebudayaan sebagai semua hasil aktivitas manusia, baik konkret maupun abstrak, baik dengan tujuan positif maupun negatif. Definisi ini pertama kali dikemukakan oleh E. B. Taylor dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (1871). Untuk mengetahui persepsi masyarakat intelektual terhadap keberagaman pengertian tersebut Kroeber dan Kluckhohn, 1952 berhasil mengumpulkan sebanyak 160 definisi kebudayaan. Secara etimologis, menurut (Koentjaraningrat, 1974;80) kebudayaan berasal dari kata buddhayah (Sansekerta) berarti budi, akal. Dalam bahasa Inggris disebut culture, dari akar kata colere (mengolah, mengerjakan), cult (memuja). Istilah yang sangat dekat hubungannya dengan kebudayaan adalah peradaban, yang secara etimologis berasal dari kata adab (Arab). Dalam bahasa inggris disebut civilization, dari kata civilisatie (Latin). Baik adat maupun civilisatie berarti sopan santun, halus. Sebagai bagian kebudayaan, peradaban dengan demikian adalah puncak-puncak kebudayaan itu sendiri, seperti karya seni dan karya-karya ilmu pengetahuan lainnya, khususnya yang digunakan untuk tujuantujuan positif. Kebudayaan sangat luas sehingga disebut memiliki nilai-nilai universal. Sebagai semesta budaya dunia (Koentjaraningrat 1974; 82-83) membedakannya menjadi tujuh jenis, yaitu: a. Mata pencaharian (pertanian, peternakan, sistem produksi) b. Peralatan (pakaian, rumah, senjata, alat-alat produksi) c. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik) d. Bahasa (lisan dan tulisan) 10

11 e. Kesenian (seni lukis, seni suara, seni sastra) f. Sistem pengetahuan (kealaman, sosial, humaniora) g. Religi (agama, kepercayaan, mitos). Kebudayaan universal dapat dibedakan menjadi aktivitas, kompleks, dan unsur-unsur. Mata pencaharian sebagai kebudayaan universal, misalnya, dapat dibedakan menjadi bentuk-bentuk yang lebih khusus sesuai dengan kondisi setempat, seperti: pertanian, industri, perdagangan. Pertanian itu sendiri dibedakan menjadi pengairan (irigasi), perladangan, perkebunan. Dikaitkan dengan alat-alat yang digunakan, pengairan dapat dibedakan menjadi pengairan dengan menggunakan bajak, cangkul, sabit. Sebagai sarana, bajak pun dapat dibedakan menjadi mata bajak dan organ bajak lainnya, kerbau atau sapi sebagai penarik, dan seterusnya. Secara akademis kebudayaan merupakan wilayah penelitian antropologi, dari akar kata antropos (manusia) + logos (ilmu), berarti ilmu tentang manusia. Secara luas antropologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari asal-usul dan penyebaran, bentuk fisik dan adat istiadat, sifat dan kelakuan manusia. Dengan luasnya wilayah penelitian, maka kebudayaan secara khusus dianggap sebagai bidang penelitian antropologi budaya dengan mengacu pada antropologi Amerika seperti dikembangkan oleh Franz Boas (1940-an). Menurut Boas (Kuper dan Kuper, 2000: 33) perbedaan kebudayaan tidak diakibatkan oleh perbedaan ras. 2.2 Wujud Kebudayaan Menurut J. J. Hoenigman (Musnawati, 2012), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak. a. Gagasan (Wujud ideal) adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. b. Aktivitas (tindakan) adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas

12 manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret,terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan di dokumentasikan. c. Artefak (karya) adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia. 7 6 1 2 4 5 Keterangan: = sistem budaya = sistem social = kebudayaan fisik 1= religi 2= kesenian 3= bahasa 4= system teknologi 5= system ekonomi 6= organisasi social 7= system pengetahuan Dalam kebudayaan juga terdapat pola-pola perilaku (pattern of Behavior) yang merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut, adapun substansi atau isi utama budaya adalah sebagai berikut: 3 Gambar 2.1 Kerangka Kebudayaan Sumber: persepsi masyarakat tentang kebudayaan nasional, Koentjaraningrat, 1985 a. Sistem pengetahuan: berisi pengetahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna sekitar tempat tinggal, zat-zat bahan mentah dan benda-benda dalam lingkungannya, tubuh manusia, sifat-sifat tingkah laku sesama manusia serta ruang dan waktu b. Sistem nilai budaya, sesuatu yang dianggap bernilai dalam hidup

13 c. Kepercayaan, inti kepercayaan adalah usaha untuk tetap memelihara hubungan dengan mereka yang sudah meninggal d. Persepsi, cara pandang dari individu atau kelompok masyarakat tentang suatu permasalahan e. Pandangan hidup, nilai-nilai yang dipilih secara selektif oleh masyarakat, pandangan hidup dapat berasal dari norma agama, ideologi negara atau falsafah hidup individu f. Etos budaya, watak khas suatu budaya yang tampak dari luar 2.3 Pengertian Dan Tipologi Kearifan Lokal Pandangan hidup pada masyarakat tradisional, manusia dan alam adalah satu kesatuan karena keduanya sama-sama ciptaan Yang Maha Kuasa. Alam dan manusia diyakini sama-sama memiliki roh, alam bisa menjadi marah jika kita merusaknya sehingga muncul bencana alam berupa banjir, tanah longsor, gunung meletus. Maka masyarakat tradisional umumnya juga memiliki pengetahuan lokal dan kearifan ekologi dalam memprediksi dan melakukan mitigasi bencana alam di daerahnya. 2.3.1 Pengertian Kearifan Lokal Perilaku yang bersifat umum dan berlaku di masyarakat secara meluas, turun temurun, akan berkembang menjadi nilai-nilai yang dipegang teguh, yang selanjutnya disebut sebagai kebudayaan. Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek atau pristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Kearifan (wisdom) secara etimologi berarti kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya untuk menyikapi suatu kejadian, objek atau situasi. Sedangkan lokal menunjukkan ruang interaksi di mana peristiwa atau situasi tersebut terjadi. Kearifan atau kebijaksanaan berpadanan dengan kata wisdom (Saraswati, 2009), yang mengandung arti perhimpunan kefilsafatan atau pembelajaran ilmiah (accumulated philosophic or scientific learning), yang juga diartikan sebagai a wise attitude or course of action (bullock and trombley,1988) yaitu suatu tingkah laku yang bijaksana atau jalan tindakan yang benar. Dijelaskan dalam kata wisdom terkandung suatu pengetahuan ilmiah, yaitu suatu

14 pengetahuan yang benar secara metodologis dan sistematis. Pengetahuan yang demikian dapat diterima oleh akal sehat dan dapat diuji secara empiris. Tingkah laku bijaksana merupakan suatu wujud atau bentuk yan berasal dari pemikiran-pemikiran mendalam atau pertimbangan-pertimbangan yang sangat hati-hati, artinya suatu tingkah laku itu terjadi menurut keputusan akal pikiran, tetapi yang pertama kali muncul adalah dorongan kemauan lalu disesuaikan dengan perasaan.tingkah laku bijaksana mengandung tiga nilai inti yaitu (Saraswati, 2009): a. Kebenaran, sebagai tuntutan akal pikiran b. Kebaikan, sebagai tuntutan kemauan c. Keindahan, sebagai tuntutan perasaan Kearifan budaya lokal dapat juga diuraikan berdasarkan makna kata secara harfiah, yaitu berasal dari tiga kata yaitu:arif, budaya dan local.masingmasing diartikan sebagai berikut: a. Arif adalah bijaksana, berilmu, mengerti, tahu, mengetahui, memahami, cerdik, pandai (Sarawati, 2009) b. Budaya adalah pikiran, akal budi, adab, beradab, cerdas, maju c. Lokal adalah setempat Dari ke tiga pengertian di atas maka kearifan budaya lokal adalah suatu karya budaya pada suatu lokasi tertentu yang memiliki nilai-nilai baik dan bijaksana. Kearifan budaya lokal secara konseptual juga merupakan bagian dari suatu sistem pengetahuan lokal, yang secara sederhana dijelaskan sebagai: suatu pengetahuan yang tumbuh dan berkembang secara lokal, diketahui dan dijalankan dalam waktu yang panjang secara turun menurun dan merupakan bentuk dari bagian keseluruhan tradisi asli masyarakat lokal, termasuk di dalamnya kepercayaan, nilai-nilai dan kegiatan praktis (Adimihardja, 2004, Saraswati, 2009). Di kalangan dunia barat, sistem pengetahuan lokal ini dikenal dengan istilah indigenous knowledge, native knowledge, local wisdom, local knowledge, local genius. Sedangkan di Indonesia ditemukan beberapa istilah lain yaitu: sistem pengetahuan asli, sistem pengetahuan adat, sstem pengetahuan lokal, budaya lokal, budaya tradisional dan lain-lain. Kearifan lokal atau istilah lainnya yaitu pengetahuan lokal, pegetahuan tradisional, local knowledge atau local wisdom pengertiannya (Thresya Jurenzy, 2011), Adalah segala sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya

15 tertentu dan mencerminkan gaya hidup suatu masyarakat tertentu, dalam hal pelestaraian lingkungan, terdapat aturan tertentu dalam pengeksploitasian lingkungan biofisik, dengan hukum sosial tertentu berdasarkan pengalaman empirik manusia dan pelanggaran terhadap aturan tersebut memberikan sanksi kepada pelanggarnya, sehingga kelestarian alam dapat terjaga. Menurut (Ahmad Suaedy, 2008), kearifan lokal dapat diartikan sebagai cara untuk memecahkan persoalan di dalam lingkungan. Dalam kearifan lokal ada karya atau tindakan manusia yang sifatnya bersejarah, yang masih diwariskan masyarakat tertentu dengan cara mereka sendiri dengan mengunakan akal budi, pengalaman dan pengetahuan yang di miliki masyarakat dalam suatu wilayah geografis tertentu. Perilaku bijak ini pada umumnya adalah tindakan, kebiasaan atau tradisi dan cara-cara yang menuntun untuk hidup tentram, damai dan sejahtera. Konsep sistem kearifan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan masyarakat adat. Hal ini dikarenakan kedekatan hubungan mereka dengan lingkungan dan sumberdaya alam, melalui proses interaksi dan adaptasi dengan lingkungan dan sumberdaya alam yang panjang. Masyarakat adat mampu mengembangkan cara untuk mempertahankan hidup dengan menciptakan sistem nilai, pola hidup, sistem kelembagaan dan hukum yang selaras dengan kondisi dan ketersediaan sumberdaya alam disekitar daerah yang ditinggalinya. Pada awalnya, masyarakat adat tidak selalu hidup harmoni dengan alam, mereka juga menyebabkan kerusakan lingkungan. Pada saat yang sama, karena kehidupan mereka tergantung pada dipertahankannya integritas ekosistem tempat mereka mendapat makanan dan rumah, kesalahan besarnya biasanya tidak akan terulang. Pemahaman mereka tentang sistem alam yang terakumulasi biasanya diwariskan secara lisan, serta tidak dapat dijelaskan melalui istilahistilah ilmiah. Pengalaman berinteraksi dan beradaptasi secara erat dengan alam telah memberikan pengetahuan yang mendalam bagi kelompok-kelompok masyarakat adat dalam pengelolaan sumberdaya alam lokalnya. Mereka telah memiliki pengetahuan lokal untuk mengelola tanah, tumbuhan dan binatang baik di hutan maupun di laut untuk memenuhi segala kebutuhan hidup mereka. Harus diakui bahwa masyarakat adat yang hidup puluhan tahun merupakan ilmuwan-ilmuwan yang paling tahu tentang alam lingkungan mereka, sayangnya sistem

16 pengetahuan lokal mereka belum banyak dipublikasi dan disosialisasikan bahkan dalam percepatan pembangunan keberadaan mereka cenderung terpinggirkan (Syafa at, 2000). 2.3.2 Tipologi Kearifan Lokal Secara umum tipologi karifan lokal dapat dikelompokkan terhadap jenis dan bentuknya, yaitu: 1. Jenis Kearifan Lokal Jenis kearifan lokal meliputi tata kelola, nilai-nilai adat, serta tata cara dan prosedur, termasuk dalam pemanfaatan ruang (tanah ulayat) a. Tata kelola b. Disetiap daerah pada umumnya terdapat suatu sistem kemasyarakatan yang mengatur tentang struktur sosial dan keterkaitan antara kelompok komunitas yang ada c. Sistem nilai d. Sistem nilai merupakan tata nilai yang dikembangkan oleh suatu komunitas masyarakat tradisional yang mengatur tentang etika penilaian baik buruk serta benar atau salah. Ketentuan tersebut mengatur hal-hal adat yang harus ditaati, mengenai mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh, yang jika hal tersebut dilanggar maka ada sanksi adat yang mengaturnya e. Tata cara atau prosedur Beberapa aturan adat di daerah memiliki ketentuan mengenai waktu yang tepat untuk bercocok tanam serta sistem penanggalan tradisional yang dapat memperkirakan kesesuaian musim untuk berbagai kegiatan pertanian f. Ketentuan khusus Mengenai pelestarian dan perlindungan terhadap kawasan sensitif, misalnya terkait dengan bentuk adaptasi dan mitigasi tempat tinggal terhadap iklim, bencana atau ancaman lainnya, masyarakat tradisional juga telah mengembangkan berbagai bentuk arsitektur rumah tradisional seperti rumah joglo, rumah toraja dan rumah adat lainnya yang dapat memberikan prlindungan dan ramah terhadap lingkungan.

17 2. Bentuk Kearifan Lokal Bentuk kearifan lokal dapat dikategorikan ke dalam dua aspek, yaitu kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) dan yang tidak berwujud (intangible) A. Kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible) Bentuk kearifan lokal yeng berwujud nyata meliputi beberapa aspek berikut: a. Tekstual, beberapa jenis kearifan lokal seperti system nilai, tata cara, ketentuan khusus yang dituangkan ke dalam bentuk catatan tertulis seperti yang ditemui dalam kitab tradisional primbon, kalender dan prasi (budaya tulis di atas lembaran daun lontar) b. Bangunan, banyak bangunan-bangunan tradisional yang mrupakan cerminan dari bntuk kearifan lokal, seperti bangunan rumah rakyat di Bengkulu. Bangunan vernakular ini mempunyai keunikan karena proses pembangunan yang mengikuti para leluhur, baik dari segi pengetahuan maupun metodenya. c. Benda cagar budaya B. Kearifan lokal yang tidak berwujud (intangible) Selain bentuk kearifan lokal yang berwujud, ada juga bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud seperti petuah yang disampaikan secara verbal dan turun temurun yang dapat berupa nyanyian dan kidung yang mengandung nilai-nilai ajaran tradisional. Melalui petuah atau bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud lainnya, nilai sosial disampaikan secara verbal dari generasi ke generasi. 2.4 Makna Kearifan Lokal Kearifan lokal dalam bahasa asing sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecedasan setempat (local genius). Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebagai sebuah pemikiran tentang hidup. Pemikiran tersebut dilandasi nalar jernih, budi yang baik dan memuat hal-hal positif. Naritoom dalam wagiran (2010) merumuskan local wisdom dengan definisi, local wisdom is th knowledge that discovered or acquired by local people through the accumulation of experiences in trials and integrated with the understanding of surrounding nature and culture. Local wisdom is dynamic b

18 function of created local wisdom and connected to the global situation. Definisi kearifan lokal tersebut, paling tidak menyiratkan beberapa beberapa konsep yaitu: a. Kearifan lokal adalah sebuah pengalaman panjang, yang dieendapkan sebagai petunjuk perilaku seseorang b. Kearifan lokal tidak lepas dari lingkungan pemiliknya c. Kearifan lokal bersifat lentur, terbuka dan senantiasa menyesuaikan dengan zamannya Konsep demikian juga sekaligus memberikan gambaran bahwa kearifan lokal selalu terkait dengan kehidupan manusia dan lingkungannya, kearifan lokal muncul sebagai penjaga atau filter iklim global yang melanda kehidupan manusia 2.5 Konsep Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu sintesa budaya yang diciptakan oleh aktor-aktor lokal melalui proses yang berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretaasi ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk norma-norma dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Kearifan lokal merupakan tata aturan yang tak tertulis yang menjadi acuan masyarakat, yang mliputi seluruh aspek kehidupan. Berupa : 1. Tata aturan yang menyangkut hubungan antar sesama manusia, misalnya dalam interaksi sosial baik antar individu maupun kelompok yang berkaitan dengan hirarki dalam kepemerintahan dan adat, aturan perkawinan, tata karma dalam kehidupan sehari-hari 2. Tata aturan menyangkut hubungan manusia dengan alam, binatang, tumbuh-tumbuhan yang lebih bertujuan pada upaya konservasi alam 3. Tata aturan yang menyangkut hubungan manusia dengan gaib, misalnya Tuhan dan oh-roh gaib. Kearifan lokal dapat brupa adat istiadat, institusi, kata-kata bijak, dan pepatah. Sebagai produk kebudayaan, kearifan lokal lahir karena kebutuhan akan nilai, norma dan aturan yang menjadi model untuk melakukan suatu tindakan. Kearifan lokal merupakan salah satu sumber pengetahuan (kebudayaan) masyarakat, ada dalam tradisi dan sejarah, dalam pendidikan formal dan informal, seni, agama dan intrpretasi kreatif lainnya (Harmoni, jurnal multicultural dan multireligius, volume IX nomor 34, 2010)

19 2.6 Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang terjai dalam ruang tertentu. Pengertian di atas disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan. Lokal secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula, sebagai ruang interaksi yang sudah didesain sedemikian rupa yang di dalamnya melibatkan pola-pola hubungan antara manusia dengan lingkungan fisiknya. Pola interaksi yang sudah terdesain disebut setting. Setting adalah sebuah ruang interaksi tempat seseorang dapat menyususn hubungan-hubungan face to face dalam lingkungannya. Sebuah setting kehidupan yang sudah terbentuk secara langsung akan memperoduksi nilai-nilai, nilai tersebut yang akan menjadi landasan atau acuan tingkah laku manusia Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari priode panjang yang berevolusi bersama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yan sudah dialami bersama. Proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan kearifan lokal sebagai sumber potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara damai dan dinamis. Sejarah peradaban telah menunjukkan betapa usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya telah menimbulkan kesengsaraan berupa bencana alam yang disebabkan karena manusia tidak mampu mengendalikan ketamakan. Mengalami hal tersebut manusia mulai berfikir dan bekerja secara aktif untuk memahami lingkungannya yang memberikan tantangan dan mengembangkan cara-cara yang paling menguntungkan dalam upaya mememnuhi kebutuhan hidup yang terus cenderung meningkat dalam jumlahnya, ragam dan mutunya. Keanekaragaman pola-pola adaptasi manusia terhadap lingkungan, terkadang tidak mudah dimengerti oleh pihak ketiga yang mempunyai latar