OLEH: Yulazri M.Ak. CPA

dokumen-dokumen yang mirip
PAJAK PENGHASILAN (PPh)

MATERI PENYULUHAN PAJAK DI SMKN PENGASIH KULON PROGO

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UU 10/1994, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991

PPh Pasal 26. Pengantar

PERTEMUAN KE-5 PAJAK PENGHASILAN UMUM

22/06/2013. Materi Kuliah SUBJEK PAJAK. Definisi Subjek Pajak. Subjek Pajak (Ps 2 UU No 36 Th 2008)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pajak. Pajak adalah suatu kewajiban kenegaraan dan pengapdiaan peran aktif

PAJAK PENGHASILAN UMUM DAN NORMA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Definisi Pajak menurut undang-undang No.16 tahun 2009 tentang. perubahan keempat atas undang undang No. 6 tahun 1983 tentang

BAB II LANDASAN TEORITIS. 2.1 Pengertian dan Fungsi Pajak Penghasilan. 1. Pengertian Pajak Penghasilan (PPh)

PAJAK PENGHASILAN. Saiful Rahman Yuniarto, S.Sos, MAB

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian Pajak sesuai dengan Undang-Undang Ketentuan Umum

Kelompok 3. Karina Elminingtias Ni Putu Ayu A.W M. Syaiful Mizan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PAJAK PENGHASILAN UMUM DAN NORMA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1) Pengertian Pajak Penghasilan. 2) Subjek Pajak Penghasilan. Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2008, yaitu.

2/26/2015. PPh. Pajak yang dikenakan : Terhadap subjek pajak Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak.

BAB III PAJAK PENGHASILAN

Materi E-Learning Perpajakan

Amir Hidayatulloh, S.E., M.Sc Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahlan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Definisi koperasi yang terdapat dalam Peraturan Undang-Undang. Koperasi No.25Tahun 1992 yang berbunyi:

PAJAK PAJAK DEPARTEMEN IKK - IPB

PENGHASILAN. Oleh Iwan Sidharta, MM.

PAJAK PENGHASILAN. Tujuan Instruksional :

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat

Sistem/Cara Pemungutan Pajak ada 3, yaitu:

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

MINGGU PERTAMA KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

PAJAK PENGHASILAN UMUM. Amanita Novi Yushita, M.Si

BAB II URAIAN TEORITIS

Perpustakaan LAFAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II LANDASAN TEORI PAJAK PENGHASILAN. II.1.1. Pengertian dan Pelaksanaan Pajak Penghasilan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI Pengertian Pajak Menurut Undang Undang Pasal 1 angka 1 Ketentuan Umum

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Pemahaman akan pengertian pajak merupakan hal penting untuk dapat

KULIAH PERPAJAKAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) Oleh : Mustofa, S.Pd., M.Sc. Dosen Pendidikan Ekonomi FE UNY. PPh UMUM 1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

BAB II TELAAH PUSTAKA Pengertian Pajak Ada beberapa pengertian atau definisi pajak yang dikemukakan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1983 Tanggal 31 Desember Presiden Republik Indonesia,

BENTUK USAHA TETAP BUT. Nur ain Isqodrin, SE., Ak., M.Acc Isqodrin.wordpress.com

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Penghitungan PPh Akhir Tahun

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1983 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984

Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 TARIF DAN PENERAPANNYA

PAJAK PENGHASILAN. Pembagian Subjek Pajak. Subjek Pajak Dalam Negeri Subjek Pajak Luar Negeri SIAPA SUBJEK PAJAK?

a. Rp ,00 d. Rp ,00 b. Rp ,00 e. Rp ,00.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pajak Penghasilan (PPh) Umum

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak Kewajiban Perpajakan bagi Dokter

Modul Perpajakan PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26 DEFINISI

A. Pengertian Laporan Keuangan

BAB II LANDASAN TEORI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN.

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

Mengenal Lebih Dekat Pajak Pertambahan Nilai

PETUNJUK PENGISIAN SPT TAHUNAN WP ORANG PRIBADI SEDERHANA (FORMULIR 1770 S DAN LAMPIRANNYA) (Sesuai PER-34/PJ./2009 dan PER-66/PJ.

Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tidak tetap adalah:

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK INDONESIA TENTANG PAJAK PENGHASILAN BAB I KETENTUAN UMUM

BAB II LANDASAN TEORI. pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian, kewajiban dan peran serta

ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) PASAL 21 UNTUK PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA KANTOR DIREKTORAT JENDERAL KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN. 1. Bagian-bagian dalam proses perhitungan pajak penghasilan PPh

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI (PKLM)

Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Terhadap Dosen Tetap Pada Universitas Krisnadwipayana. Meitri Megawati DA03

PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM ) bebas yang menyeluruh (global). Negara Indonesia berusaha segiat-giatnya

BAB II LANDASAN TEORI. diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Yang dimaksud dengan tahun

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Objek PPh. Penghasilan. Tambahan kemampuan ekonomis, baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR. kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri (Waluyo,

BAB II KAJIAN PUSTAKA tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah. badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 31/PJ/2012

Penghasilan dari usaha di luar profesi dokter *) Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1983 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

OLEH: Yulazri M.Ak. CPA

Pajak Penghasilan (PPh) Dasar Hukum : No. Tahun Undang-Undang 7 1983 Perubahan 7 1991 10 1994 17 2000 36 2008

SUBJEK PAJAK DAN WAJIB PAJAK PENGHASILAN 1. a. Orang Pribadi b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak 2. Badan 3. Bentuk Usaha Tetap

SUBJEK PAJAK Dalam negeri & luar negeri Dalam negeri Luar negeri Orang pribadi > 183 hari >183 hari Badan Warisan Kedudukan Di dalam negeri Belum dibagi Kedudukan da usaha Di Luar negeri

Bentuk Usaha Tetap Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa: a. tempat kedudukan manajemen; b. cabang perusahaan; c. kantor perwakilan; d. gedung kantor; e. pabrik; f. bengkel; g. gudang; h. ruang untuk promosi dan penjualan; i. pertambangan dan penggalian sumber alam; j. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi; k. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan; l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan; m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan; n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas; o. agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia; dan p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

OBJEK PPh Objek PPH adalah penghasilan. Penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan WP ybs, dengan nama dan bentuk apapun

Termasuk dalam pengertian penghasilan adalah: 1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh (Gaji,Upah, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dlm bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain oleh UU) 2. Hadiah dan penghargaan 3. Laba usaha 4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta (hibah, bantuan atau sumbangan) 5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya 6. Bunga 7. Deviden 8. Royalti 9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta 10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala 11. Keuntungan karena pembebasan utang 12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing 13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva 14. Premi asuransi 15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari WP yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas 16. Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak

DASAR PENGENAAN PAJAK Penghasilan Kena Pajak (WP Orang Pribadi) = Penghasilan Netto PTKP Penghasilan Kena Pajak (WP badan) = Penghasilan Netto

Tarif PPh untuk WP orang pribadi dalam negeri, pasal 17 UU PPh, Lapisan Penghasilan Kena Pajak (no. 17 / 2000) Tarif Pajak Lapisan Penghasilan Kena Pajak (no.36 /2008) Sampai dengan Rp25 juta Di atas Rp25 juta s.d. Rp50 juta 5 % (lima persen) Sampai dengan Rp50 juta 10 % (sepuluh persen) Di atas Rp50 Juta s.d. Rp100 juta Di atas Rp100 juta s.d. Rp200 juta Di atas Rp200 Juta 15 % (lima belas persen) 25 % (dua puluh lima persen) 35 % (tiga puluh lima persen) 30% Di atas Rp50 Juta s.d. Rp250 juta Di atas Rp250 juta s.d. Rp500 juta Di atas Rp500 Juta

Tarif PPh WP badan dalam negeri dan Badan Usaha Tetap (BUT) pasal 17 UU PPh Lapisan Penghasilan Kena Pajak (no. 17 / 2000) Sampai dengan Rp50 juta Tarif Pajak 10 % (sepuluh persen) Lapisan Penghasilan Kena Pajak (no.36 /2008) - Di atas Rp50 juta s.d. Rp100 Juta Diatas Rp100 juta 15 % (lima belas persen) - 30 % (tiga puluh persen) - 28% (Dua puluh delapan persen) Seluruh lapisan penghasilan kena pajak

PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP) Besarnya PTKP setahun yang berlaku saat ini adalah: 1. Rp2.880.000,00 untuk diri WP orang pribadi 2. Rp1.440.000,00 tambahan untuk WP yang kawin 3. Rp2.880.000,00 tanbahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami, dengan syarat: - Penghasilan istri tidak semata-mata diterima atau diperoleh dari satu pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan dalam UU PPh pasal 21, dan - Pekerjaan istri tidak asda hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lain 4. Rp1.440.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya (maksimal 3 orang)

Penghasilan tidak kena Pajak PTKP (ps 7) <2005 (th 2000) 2005 2006 2009 WP OP 2,880,000 12,000,000 13,200,000 15,840,000 Tambahan Wp kawin Tambahan istri kerja Tambahan tanggungan (max 3orang) 1,440,00 1,200,000 1,200,000 1,320,000 2,880,000 12,000,000 13,200,000 15,840,000 1,440,000 1,200,000 1,200,000 1,320,000

Penghasilan tidak kena Pajak Tidak Kawin (TK) PTKP (ps 7/2009) Kawin (Ko) Kawin (K1) Kawin (K2) Kawin (K3) WP OP 15,840,000 15,840,000 15,840,000 15,840,000 15,840,000 Tambahan Wp kawin Tambahan tanggungan (max 3orang) Jumlah tambahan istri tidak kerja Tambahan istri kerja Jumlah tambahan istri kerja 0 1,320,000 1,320,000 1,320,000 1,320,000 0 1,320,000 2,640,000 3,960,000 15,840,000 17,160,000 18,480,000 19,800,000 21,120,000 0 15,840,000 15,840,000 15,840,000 15,840,000 15,840,000 33,000,000 34,320,000 35,640,000 36,960,000

CARA MENGHITUNG PAJAK PENGHASILAN (PPh): Pajak Penghasilan (Wajib Pajak badan): = Penghasilan Kena Pajak x tarif pasal 17 = Penghasilan netto x tarif pasal 17 = (Penghasilan bruto biaya yang diperkenankan UU PPh) x tarif pasal 17 Pajak Penghasilan (WP orang pribadi): = Penghasilan Kena Pajak x tarif pasal 17 = (Penghasilan netto PTKP) x tarif pasal 17 = [ (Penghasilan bruto biaya yang diperkenankan UU PPh) PTKP ] x tarif pasal 17

CONTOH PENGHITUNGAN: 1. Kuple masih bujangan pada tahun 2009 mempunyai Penghasilan setahun sebesar Rp. 60,000,000. Besarnya PPh yang harus dibayar atau terutang oleh Gunawan adalah. 2. Kuple kawin, belum punya anak, penghasilan sebulan Rp. 15,000,000. 3. Kuple kawin, punya anak 3, penghasilan Rp. 25,000,000 sebulan Keterangan Rp Rp? Penghasilan setahun 60,000,000 180,000,000 PTKP Wajib pajak sendiri Tambahan kawin 15,840,000 15,840,000 1,320,000 17,160,000 PKP 44,160,000 162,840,000 Pajak Penghasilan 5% x Rp. 44,160,000 5% x Rp. 50,000,000 15% x Rp. 112,840,000 2,208,000 2,500,000 16,926,000 Jumlah pajak terhutang 2,208,000 19,426,000

CONTOH PENGHITUNGAN: PT Doyan duit, sepanjang tahun 2009 mempunyai penghasilan kena pajak sebesar Rp154.168.900,00. besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar atau terutang Oleh PT Duit adalah: Keterangan Rp (<2009) Rp (2009) Penghasilan 154,168,900 154,168,900 PKP 154,168,000 154,168,000 Pajak Penghasilan 10% x Rp50 Juta 15% x Rp50 juta 30% x Rp54.168.000,00 Jumlah 5.000.000,00 7.000.000,00 16.250.000,00 28.750.000,00 28% x 154,168,000 43,167,040 Jumlah pajak terhutang 28,750,000 43,167,040

PENGELOMPOKAN PPh 17

Pengelompokan PPh dalam UU PPh PPh Pasal 21 Mengatur tentang pembayaran pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak orang pribadi sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan. Pajak yang terutang selanjutnya disebut PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 Merupakan pembayaran pajak tahun berjalan yang dipungut oleh : Bendaharawan pemerintah baik pusat maupun daerah, badan-badan tertentu baik pemerintah maupun swasta berkenaan dengan bidang impor Pajak yang terutang selanjutnya disebut PPh Pasal 22 18

Pengelompokan PPh dalam UU PPh PPh Pasal 23 Pajak atas dividen, bunga, royalty, hadiah, bunga simpanan, imbalan dan sewa Pajak yang terutang selanjutnya disebut PPh Pasal 23 Pasal 24 Batas maksimum pajak yang dapat dikreditkan dari pajak yang dibayarkan di luar negeri diatur dalam pasal 24 Pajak yang dikreditkan selanjutnya disebut PPh Pasal 24 19

Pengelompokan PPh dalam UU PPh PPh Pasal 25 Mengatur tentang besarnya angsuran pajak bulanan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak. Pajak yang terutang selanjutnya disebut PPh Pasal 25 PPh Pasal 26 Pengenaan pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari Indonesia Pajak yang terutang selanjutnya disebut PPh Pasal 26 20

Pajak penghasilan PPh ps 24 PPh ps 26 Pajak dipotong diluar negeri Pajak dapat dikreditkan Luar negeri Pajak dipotong Di Dalam negeri PPH ps 21 PPh ps 23 Dalam negeri 21