BAB I. PENDAHULUAN. 1 P a g e

dokumen-dokumen yang mirip
DESA MENATA KOTA DALAM SEBUAH KAWASAN STRATEGI PEMBANGUNAN ROKAN HULU.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I - 1 BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

RENCANA STRATEGIS BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 06 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN

RENCANA STRATEGIS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil di

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG

RENSTRA BADAN KETAHANAN PANGAN BAB I PENDAHULUAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2011 NOMOR 15 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KERINCI NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAMPIRAN KEPUTUSAN GUBERNUR JAMBI NOMOR : 462/KEP/GUB/BAPPEDA-2/2012 TANGGAL : 13 JULI 2012

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Ngawi Tahun BAB I - 1

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kota Jambi RPJMD KOTA JAMBI TAHUN

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN DAERAH NOMOR 3 TAHUN 2011 TANGGAL 6 JUNI LATAR BELAKANG

Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN,

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR: 9 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN REMBANG TAHUN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.42/Menhut-II/2010 TENTANG SISTEM PERENCANAAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIAMIS,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BANJAR NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Blitar

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN CILACAP TAHUN

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2008 NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2008 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR : 03 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KATINGAN TAHUN

MAJU, MANDIRI, ADIL DAN SEJAHTERA. RPJMD

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR BALI TANGGAL 25 MEI 2015 NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI BALI TAHUN 2016

BAB. I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STRATEGIS DAN KEBIJAKAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. DPU Bina Marga Provinsi Jawa Timur Renstra BAB I - 1 -

PEMERINTAH KOTA BATU

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

Strategi. Arah Kebijakan. RPJP Nasional. RPJM Daerah. RPJP Daerah. Program. Indikator. Visi Misi Tujuan Sasaran Kebijakan Program/ Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BUPATI PESISIR SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISIR SELATAN

RENCANA STRATEGIS TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun I-1

efektivitas dan efisiensi. Dengan modal tersebut diharapkan pemerintahan

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN NOMOR TANGGAL TENTANG

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 28/Menhut-II/2006

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 56 TAHUN 2015

BAB I P E N D A H U L U A N

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR LAMPIRAN NOMOR : 40 TAHUN 2012 LAMPIRAN TANGGAL : 30 MEI 2012

1.1. Latar Belakang. Proses penyusunan dan penetapan Renstra SKPD tersebut dilaksanakan dengan mengacu pada mekanisme perencanaan

Bab I Pendahuluan. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

Rencana Strategis (RENSTRA)

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN

PERATURAN BUPATI CIREBON NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TRANSISI KABUPATEN CIREBON TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun I Latar Belakang

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BUPATI KEPULAUAN ANAMBAS

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang

L E M B A R A N D A E R A H KABUPATEN BALANGAN NOMOR 06 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Keberadaan kawasan hutan di Jawa Timur, sampai dengan saat ini masih belum dapat mencapai ketentuan minimal luas kawasan sebagaimana amanat Undang-Undang nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yaitu 30% dari luas daratan. Sampai dengan saat ini, luas kawasan hutan di Jawa Timur yaitu seluas + 1.361.146 ha atau sebesar + 28,47% %. Untuk dapat mencapai fungsi luas kawasan hutan dimaksud, maka disamping pemanfaatan hasil hutan, diperlukan pula upaya perlindungan dan pengamanan hutan secara intensif serta perencanaan yang baik ke arah sinergisitas pengelolaan hutan yang optimal. Hutan sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat diperbarui (renewable), wajib dikelola secara profesional, terencana dan terpadu. Sumber dayanya yang merupakan salah satu modal dasar pembangunan harus dikelola secara optimal, lestari dan berkelanjutan, sehingga pada akhirnya mampu memberikan kontribusi bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, upaya-upaya pengurusan hutan bukannya tanpa hambatan dan tantangan. Kerusakan hutan yang terjadi selama ini disebabkan oleh adanya gangguan keamanan terhadap pengelolaan hutan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, yang telah mengakibatkan kaidah pengelolaan hutan lestari (PHL) tidak dapat terlaksana dengan baik. Ilegal logging, kebakaran hutan, serta pemanfaatan kawasan hutan bagi kepentingan pembangunan non kehutanan sampai dengan saat ini masih terus terjadi dengan intensitas yang terus meningkat. Kerusakan hutan semakin lama semakin merugikan kelangsungan hidup masyarakat serta lingkungan ekosistem penunjang kehidupan. 1 P a g e

Banjir dan tanah longsor di musim hujan sangat merugikan pemerintah dan masyarakat. Bencana tersebut menyebabkan sarana dan prasarana hasil pembangunan rusak, hasil panen petani menurun, wabah penyakit bermunculan bahkan yang sering kali menelan korban jiwa. Kekeringan di musim kemarau, juga tidak jarang menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, baik secara materiil maupun imateriil, biasanya berupa panenan puso dan kebakaran hutan. Kerusakan hutan dan lahan yang terjadi akibat hal-hal yang tersebut diatas harus menjadi perhatian kita bersama. Diperlukan respon positif yang cepat dan tepat untuk menyikapi fenomena tersebut. Pemerintah dan masyarakat harus bergerak bersama untuk mempercepat upaya rehabilitasi hutan dan lahan, reboisasi serta konservasi tanah. Dengan sistem pengelolaan yang profesional, diharapkan sumber daya hutan yang akhirakhir ini sangat rentan terhadap degradasi, erosi dan sedimentasi, dapat direhabilitasi dan dilestarikan keberadaannya. Pengelolaan hutan dan lahan yang berkesinambungan, optimal dan lestari dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial merupakan sikap dan langkah yang sangat bijaksana yang harus segera ditempuh. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut diperlukan suatu instrumen perencanaan pengelolaan hutan dan lahan yang terpadu, sinergis dan didukung oleh perbagai pihak/ stakeholder. Perencanaan sebagai acuan dalam pengelolaan hutan bagi para pelaksana di lapangan dan sekaligus alat pengawasan yang cukup efektif. Karena itu dalam penyusunan rencana pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan, perlu didukung dengan ketersediaan data dan informasi yang akurat, sebagai bahan-bahan dalam penentuan rumusan kebijaksanaan, sasaran, program dan kegiatan. Dengan ketersediaan data dan informasi yangn akurat diharapkan nantinya dapat disusun perencanaan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan secara menyeluruh, efektif dan efisien, yang memuat tujuan dan atau terget yang jelas, faktual dan realistis, dengan tetap mengacu pada 2 P a g e

kebijaksanaan nasional dan kebijaksanaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sebagai acuan dalam pelaksanaan di lapangan, maka perencanaan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan/ kehutanan harus memuat hal-hal yang bersifat prinsipil, strategik, dengan sasaran dan tujuan yang jelas, dilengkapi dengan jadwal/tata waktu pelaksanaan dan sumber dana untuk pembiayaannya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor: 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan yo Peraturan Pemerintah Nomor: 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan pasal 13, rencana pengelolaan hutan dilakukan dengan: a. Mengacu pada rencana kehutanan nasional, provinsi maupun kabupaten/ kota, dan b. Memperhatikan aspirasi, nilai budaya masyarakat setempat, serta kondisi lingkungan. Rencana pengelolaan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal 13 PP nomor 3 Tahun 2008 meliputi: a. Rencana pengelolaan hutan jangka panjang; b. Rencana pengelolaan hutan jangka pendek. Identik dengan ketentuan yang tercantum dalam pasal 13 PP nomor 3 Tahun 2008 tersebut, maka perencanaan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan dapat mengacu pada ketentuan dimaksud, sehingga dapat dibedakan menjadi perencanaan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan jangka panjang, dan jangka pendek. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.28/Menhut-II/2006 pada Bab II Azas, Maksud, Tujuan dan Ruang Lingkup, Bagian Kedua Ruang Lingkup Pasal 6 huruf (d, e, f) disebutkan bahwa Rencana Kehutanan Provinsi terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Panjang, Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Rencana Pembangunan Tahunan. Oleh karena itu, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dalam menyusun Rencana Strategis Pembangunan dan 3 P a g e

Pengelolaan Hutan dan Lahan yang merupakan rencana jangka menengah, mengacu pada: 1. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: 27 /Menhut-II/Tahun 2006, tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kehutanan Tahun 2006-2025. 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014 yang telah disusun dalam dokumen RPJMD Provinsi Jawa Timur Nomor : 38 Tahun 2009 tanggal 20 Mei 2009 3. Renstra Kementerian Negara / Kementerian Kehutanan. Dengan demikian, Rencana Strategis Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014 nantinya diharapkan dapat dipedomani dan diimplementasikan oleh para pengelola kawasan dan stakeholder lainnya dalam pengelolaan hutan dan lahan secara berkelanjutan. Terwujudnya upaya pengelolaan hutan secara lestari, merupakan tanggungjawab bersama antara Pemerintah (Pusat dan Daerah) dan masyarakat serta mitra usaha lainnya. Di era reformasi, semangat otonomi yang dimiliki masing-masing pemerintah Kabupaten/ Kota untuk membangun daerahnya hendaknya tetap memperhatikan dan mempertimbangkan potensi sumber daya hutan dan lahan yang ada di Kab/ Kota masing-masing sehingga keberhasilan pembangunannya dapat optimal. Dengan demikian keberadaan sumber daya hutan dan lahannya dapat dimanfaatkan secara optimal, lestari, berkeadilan dan berkelanjutan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Disamping itu, pemanfaatan sumber daya hutan dan lahan juga harus diarahkan pada upaya pemberdayaan dan pengembangan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan hutan yang selama ini hanya tergantung pada eksploitasi potensi sumber daya hutan yang kurang memperhatikan kelestariannya. Lokus yang perlu diperhatikan dalam pembangunan dan pengelolaan hutan dikenal dengan Unit Pengelolaan Hutan yang wilayah pengelolaannya 4 P a g e

ditekankan pada Satuan Daerah Aliran Sungai (DAS). Oleh karena itu, untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya hutan dan lahan di Jawa Timur, maka pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan harus dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif, dan mengacu pada satuan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Solo, DAS Brantas, DAS Sampean dan DAS Blega Saroka. Hal ini disebabkan karena, didalam pengelolaan DAS terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara masyarakat di wilayah hulu/ catchment area dan masyarakat di wilayah hilir DAS, antara pemerintah Kabupaten/ Kota yang satu dengan pemerintah Kabupaten/ Kota lainnya dalam wilayah DAS. Dengan demikian keberhasilan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan di hulu DAS, akan sangat berpengaruh terhadap kondisi di hilir DAS yang bersangkutan, demikian juga kondisi sebaliknya. Karenanya diperlukan suatu komitmen yang tinggi antara Pemerintah (Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota), stakeholder dan masyarakat, dalam pengelolaan hutan secara lestari. 1.2. Landasan Hukum Landasan hukum yang mendasari penyusunan Rencana Strategis Dinas Kehutanan mengacu pada : 1. Undang Undang No. 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur Juncto Undang Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Mengadakan Perubahan dalam Undang Undang Tahun 1950 Nomor 2 dari hal Pembentukan Provinsi Jawa Timur (Lembaran Negara tahun 1950); 2. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara tahun 1990 No. 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); 3. Undang Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3843); 5 P a g e

4. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, tentang: Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888). Sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4412); 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ( Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2324); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Repulik Indonesia tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 8. Undang-Undang nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Repulik Indnesia Nomor 4725); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Repulik Indnesia Nomor 3838 ); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2003 tentang Perum Perhutani (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2003 nomor 67); 6 P a g e

11. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 146, Tamb ahan Lembaran Negara Nomor 4452); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4453 ); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2004 tentang Hutan Kota (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4814 ); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4207) jo Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4814 ); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan, pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Tahun 2007, Nomor 96, Tambahan Lembaran negara Nomor 4737 ); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indo nesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 7 P a g e

18. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 20. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4814 ); 21. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1989 tentang Penetapan Kawasan Lindung di Daerah Tingkat I Jawa Timur (Lembaran Daerah Provinsi Tahun 1991 Nomor 1 Seri C); 22. Peraturan Daerah Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Hutan di Provinsi Jawa Timur; 23. Peraturan Daerah Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2005 tentang Penertiban dan Pengendalian Hutan Produksi di Jawa Timur; 24. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, (Lembaran Daerah Provinsi Tahun 2006 Nomor 3 Seri E); 25. Peraturan Daerah Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2006 tentang Pembentukan Peraturan Daerah; 26. Peraturan Daerah Jawa Timur Nomor 12 Tahun 2007 tentang Rehabiltasi Hutan dan Lahan Kritis di Provinsi Jawa Timur; 27. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; 8 P a g e

28. Peraturan Daerah Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2008 Nomor 2 seri D); 29. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2005-2025; 30. Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2009 tanggal 20 Mei 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur; 31. Peraturan Gubernur Provnsi Jawa Timur Nomor 95 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang, Sub bagian dan Seksi Dinas Kehutanan Provnsi Jawa Timur (Lembaran daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 Nomor 2 seri D); 32. Peraturan Gubernur Nomor 53 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. 1.3. Maksud dan Tujuan Dokumen Rencana Strategis SKPD Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur 2009-2014 ini pada dasarnya merupakan penjabaran suatu perencanaan strategis mengenai arah pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan di daerah Jawa Timur yang hendak dicapai dalam lima tahun mendatang, bagaimana mencapainya, dan merumuskan program/ kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai visi, misi, dan program kepala daerah terpilih. Dengan perencanaan strategis ini diharapkan dapat dirumuskan tujuan dan sasaran pembangunan kehutanan daerah Jawa Timur yang specific, measurable, acceptable, realistic, time bound (SMART) yang konsisten dengan visi, misi program kepala daerah terpilih, dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan, sasaran pembangunan kehutanan secara regional dan nasional, kerangka waktu, kemampuan daerah untuk 9 P a g e

mengimplementasikannya, sehingga dapat dibangun kesepahaman dari seluruh pemangku kepentingan secara partisipatif untuk memadukan semua sumber daya dan dana dalam mencapai tujuan, demi pembangunan daerah Jawa Timur yang lebih produktif, efisien dan efektif, berkeadilan, serta berkelanjutan. Perencanaan strategis memastikan bahwa sumber daya dan dana daerah diarahkan untuk menangani isu dan permasalahan prioritas, sekaligus menyediakan basis untuk mengukur sejauh mana perkembangan kemajuan dalam mencapai tujuan, serta memberikan mekanisme untuk menginformasikan perubahan apabila diperlukan. Kecuali itu, melalui perencanaan strategis yang tertuang dalam RPJMD, arah pembangunan daerah Jawa Timur dapat lebih dipahami masyarakat dan kalangan usahawan swasta, sehingga melahirkan rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab atas rencana strategis yang disepakati bersama. Rencana Strategis SKPD Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur memuat visi, misi, dan arah kebijakan pembangunan kehutanan dalam lima tahun mendatang, strategi pembangunan kehutanan, kebijakan pembangunan nasional dan regional, dan program/ kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, beserta sumber pendanaan yang bersifat indikatif. Penyusunan Rencana Strategis SKPD Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur 2009-2014 ini secara lebih spesifik ditujukan untuk menjamin terciptanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi, transparansi, partisipasi dan sinergitas pembangunan, baik antar-daerah, antar-ruang, antar-waktu, antar-fungsi pemerintahan maupun antara pusat dan daerah, untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan pembangunan, serta untuk menjaga kesinambungan arah pembangunan daerah Jawa Timur. Rencana Strategis SKPD Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur ini pada tahap berikutnya akan dijabarkan ke dalam Rencana Kinerja Tahunan 10 P a g e

(RKT) maupaun Rencana Kerja (Renja) SKPD yang memuat rencana kinerja dalam satu tahun, rancangan anggaran, program dan kegiatan pembangunan kehutanan, jadwal pelaksanaan kegiatan, serta penanggung jawab program/ kegiatan pembanguan kehutanan. Maksud Penyusunan Rencana Strategis Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014 adalah sebagai arah dan pedoman bagi upaya penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan di Provinsi Jawa Timur, sehingga para pelaksana pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan dapat melaksanakan kegiatan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan sesuai dengan rencana dan tujuan serta kebijakan pembangunan Provinsi Jawa Timur yang telah ditetapkan. Adapun tujuannya adalah, agar pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan hutan dan lahan di Provinsi Jawa Timur dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, serta dapat berhasil sesuai dengan visi pembangunan dan kriteria indikator kinerja yang telah ditentukan. 1.4. Sistematika Penulisan Dalam penulisan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur tahun 2009-2014, terbagi dalam 7 BAB, dengan sistematika sebagai berikut : 1. BAB I. Pendahuluan yang berisikan Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan, dan Sistematika Penulisan. 2. BAB II. Gambaran Pelayanan SKPD yang berisikan Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi SKPD, Sumberdaya SKPD, dan Kinerja Pelayanan SKPD. 3. BAB III. Isu-Isu Strategis Berdasarkan Tugas dan Fungsi yang berisikan Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD, Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih, Telaahan Renstra K/L dan Renstra 11 P a g e

Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis, serta Penentuan Isu-Isu Strategis. 4. BAB IV. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, Strategi dan Kebijakan yang berisikan Visi dan Misi SKPD, Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah SKPD, serta Strategi dan Kebijakan SKPD. 5. BAB V. Rencana Program dan Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif. 6. BAB VI. Indikator Kinerja SKPD yang mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD. 7. BAB VII. Penutup. 12 P a g e