Geo Image (Spatial-Ecological-Regional)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. cara operasional dan dampaknya terhadap pencegahan kelahiran.tahap

Volume 3 / Nomor 1 / April 2016 ISSN :

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN KB VASEKTOMI TERHADAP PENGETAHUAN SUAMI DI DESA SOCOKANGSI KECAMATAN JATINOM KABUPATEN KLATEN

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan telah, sedang dan akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah

BAB I PENDAHULUAN. Keluarga Berencana (KB). Progam KB yang baru didalam paradigma ini

I. PENDAHULUAN. tinggi. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk pada bulan Agustus 2010 jumlah

GASTER, Vol. 8, No. 1 Februari 2011 ( )

ABSTRACT PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN USIA KAWIN PERTAMA PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI TERHADAP JUMLAH ANAK

PENGETAHUAN DAN SIKAP SUAMI PASANGAN USIA SUBUR DENGAN KEIKUTSERTAAN MENJADI AKSEPTOR KB PRIA. Darwel, Popi Triningsih (Poltekkes Kemenkes Padang )

PARTISIPASI PRIA DALAM PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB) DI DESA KEDEN KECAMATAN PEDAN KABUPATEN KLATEN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI DESA KARANGJATI KABUPATEN SEMARANG

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI

HUBUNGAN INFORMASI DENGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI METODE OPERASI PRIA (MOP) PADA PRIA PASANGAN USIA SUBUR DI KECAMATAN PAKUALAMAN YOGYAKARTA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. 2010) dan laju pertumbuhan penduduk antara tahun sebesar 1,49% yang

Associated Factors With Contraceptive Type Selection In Bidan Praktek Swasta Midwife Norma Gunung Sugih Village

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI DENGAN JUMLAH ANAK YANG DILAHIRKAN WANITA PUS. (Jurnal) Oleh AYU FITRI

PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR USE OF CONTRACEPTION BY COUPLES OF CHILDBEARING AGE

BAB I PENDAHULUAN. 248,8 juta jiwa dengan pertambahan penduduk 1,49%. Lajunya tingkat

Kesesuaian Sikap Pasangan Usia 1

BAB I PENDAHULUAN. pula bersifat permanen (Prawirohardjo, 2007).

Edu Geography

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang dengan berbagai. masalah. Masalah utama yang dihadapi di Indonesia adalah dibidang

BAB I PENDAHULUAN. India, Pakistan, Brazil, dan Nigeria yang memberikan kontribusi besar pada

BAB I PENDAHULUAN. penduduk terbesar. Indonesia masuk dalam peringkat ke empat di dunia

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

: LULUK ERDIKA GRESTASARI J

NASKAH PUBLIKASI. Disusun oleh: ASFARIZA YUDHI PRABOWO

HUBUNGAN PENDIDIKAN, PENGETAHUAN, USIA DAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMILIHAN KONTRASEPSI IUD DI DESA TANGGAN GESI SRAGEN NASKAH PUBLIKASI

I. PENDAHULUAN. Penduduk adalah salah satu aspek terpenting dalam suatu Negara. Penduduk

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi

Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Kontrasepsi Pasangan Usia Subur Di Puskesmas Damau Kabupaten Talaud

NASKAH PUBLIKASI. Disusun Oleh : AHMAD NASRULLOH J

BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 yaitu sebanyak 248 juta jiwa. akan terjadinya ledakan penduduk (Kemenkes RI, 2013).

Kata Kunci: Pasangan Usia Subur,Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang

BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan pembangunan nasional (Prawirohardjo, 2007). Berdasarkan data

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ledakan penduduk merupakan masalah yang belum terselesaikan sampai

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI DI DESA PASIRANGIN KECAMATAN CILEUNGSI KABUPATEN BOGOR

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PARTISIPASI PRIA DALAM KELUARGA BERENCANA DI LINGKUNGAN IV KELURAHAN TELING ATAS KOTA MANADO

ABSTRACT HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TENTANG NILAI ANAK PROGRAM KELUARGA BERENCANA DENGAN JUMLAH ANAK

BAB I PENDAHULUAN. tidak disertai peningkatan kualitas hidupnya. Laporan BKKBN (2008)

BAB I PENDAHULUAN. besar dan berkualitas serta dikelola dengan baik, akan menjadi aset yang besar dan

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI INTRA UTERINE DEVICE

BAB I PENDAHULUAN. miliar jiwa. Cina menempati urutan pertama dengan jumlah populasi 1,357 miliar

BAB I PENDAHULUAN. kependudukan salah satunya adalah keluarga berencana. Visi program

I. PENDAHULUAN. penduduk Indonesia sebanyak jiwa dan diproyeksikan bahwa jumlah ini

BAB I PENDAHULUAN. jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Kontrasepsi

PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG ALAT KONTRASEPSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANGKRAH KOTA SURAKARTA

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTISIPASI PRIA DALAM PROGRAM KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI

BAB I PENDAHULUAN. mulai dari penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan

ANALISA DAMPAK PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI TERHADAP TOTAL ANGKA KELAHIRAN DI PROVINSI MALUKU

Edu Geography 3 (1) (2014) Edu Geography.

BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan wanita untuk merencanakan kehamilan sedemikian rupa sebagai

GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN JUMLAH ANAK DENGAN PEMILIHAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PADA AKSEPTOR KB (Di RW 03 Kelurahan Kedung Cowek Surabaya)

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IUD DENGAN MINAT KB IUD DI DESA MOJODOYONG KEDAWUNG SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan Negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada

Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Alat Kontrasepsi IUD di BPRB Bina Sehat Kasihan Bantul

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Program keluarga berencana merupakan salah satu program pembangunan

PETA WILAYAH KECAMATAN BERGAS

Kustriyanti 1),Priharyanti Wulandari 2)

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan jumlah penduduk merupakan salah satu masalah besar. berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN KEPATUHAN IBU MELAKUKAN KUNJUNGAN ULANG DI SIDOHARJO

FAKTOR IBU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAN IMPLANT (Studi pada akseptor KB Desa Arjasari, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya 2014)

1. BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. atau pasangan suami istri untuk mendapatkan tujuan tertentu, seperti

Edu Geography 3 (4) (2015) Edu Geography.

PETA WILAYAH KECAMATAN BERGAS

PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI DAN DEMOGRAFI TERHADAP KEIKUTSERTAAN PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI KECAMATAN GENENG KABUPATEN NGAWI

ABSTRAK. Kata Kunci : Peran suami, Akspektor Mantap (MOW).

BAB 1 PENDAHULUAN. dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan,

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organisation) expert Committe 1970 :

BAB 1 PENDAHULUAN. (1969) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

AKSEPTOR KB SUNTIK DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI KELURAHAN KARAMAT WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANG TENGAH KOTA SUKABUMI

BAB I PENDAHULUAN. Visi Keluarga Berencana Nasional adalah Keluarga Berkualitas. Keluarga yang

*Fakultas Kesehatan Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. (International Conference on Population and Development) tanggal 5 sampai

Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi IUD pada Wanita PUS di Desa Pasekan Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP SUAMI DALAM BER-KB DI DESA WONOREJO WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDAWUNG I SRAGEN SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN. berdasarkan sensus penduduk mencapai 237,6 juta jiwa. keluarga kecil yang sehat dan sejahtera yaitu melalui konsep pengaturan jarak

GAMBARAN PENGETAHUAN SUAMI TERHADAP KONTRASEPSI KB PRIA DI LINGKUNGAN XVIII KELURAHAN TERJUN MEDAN MARELAN

Transkripsi:

Geo Image 4 (1) (2015) Geo Image (Spatial-Ecological-Regional) http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/geoimage FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PARTISIPASI PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KB DI KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG Budi Sulistyo Puji Hardati, Ariyani Indrayati Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel Abstrak Sejarah Artikel: Diterima Januari 2015 Disetujui Februari 2015 Dipublikasikan Maret 2015 Keywords: Couple Factor Eligible, Participation Eligible, Spouse, Family Planning Pelaksanaan pelayanan Keluarga Berencana yang berkualitas dilandasai oleh Undang- Undang Nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan Kependudukan dan Pembangunan keluarga sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran tingkat partisipasi Pasangan Usia Subur dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana di Kecamatan Bergas dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berkontribusi terhadap partisipasi Pasangan Usia Subur dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana di Kecamatan Bergas. Metode penelitian ini adalah deskriptif-kuantitatif, teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, distribusi frekuensi, dan uji korelasi kontijensi. Faktor usia pernikahan terbukti memiliki hubungan dengan tingkat partisipasi PUS di Desa Wujil dengan nilai koefisien phi 0,44, Desa Gebugan dengan nilai koefisien phi 0,55, Desa Bergas Kidul dengan nilai koefisien phi 0,40, dan Desa Wringinputih 0,48. Mengacu pada pedoman interpretasi koefisien korelasi maka nilai koefisien korelasi faktor usia pernikahan pada seluruh desa sampel termasuk dalam kriteria hubungan sedang, artinya usia terdapat hubungan antara faktor usia pernikahan dengan partisipasi PUS di 4 desa sampel. Abstract Implementation of quality family planning services based on the Act No. 10 of 1992 on the development of a prosperous family Population and Development. This study aims to determine the distribution of the level of participation in the implementation of Eligible Couple family planning program in the District Bergas and to determine what factors are contributing to the couple's participation in the implementation of the program Eligible Family Planning in Sub Bergas. This research method is descriptivequantitative, analytical techniques used are descriptive analysis, frequency distribution, and correlation test contingency. Marriage age factor proved to have a relationship with the level of participation in the Village EFA Wujil the phi coefficient value of 0.44, the Village Gebugan the phi coefficient value of 0.55, the Village Bergas Kidul with phi coefficient value of 0.40, and 0.48 Wringinputih village. Referring to the interpretation of the guidelines, the correlation coefficient correlation coefficient marriage age factor in all sample villages included in the criteria for moderate relationship, meaning that there is a relationship between the age of marriage at the age factor EFA participation in 4 villages. Alamat korespondensi: Gedung C1 Lantai 1 FIS Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 E-mail: geografiunnes@gmail.com 2015 Universitas Negeri Semarang ISSN 2252-6285 1

PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tidak luput dari permasalahan kependudukan. Berbagai program pembangunan telah, sedang dan akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah kependudukan tersebut, antara lain melalui program keluarga berencana dan pembangunan keluarga sejahtera, yang mulai Oktober 1996 diperluas dan dipadukan menjadi gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ekonomi keluarga sejahtera, dan gerakan ketahanan keluarga sejahtera, (BKKBN:1997-1). Pelaksanaan pelayanan Keluarga Berencana yang berkualitas dilandasai oleh Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan Kependudukan dan Pembangunan keluarga sejahtera. Sejalan dengan itu kebijaksanaan pelayanan Keluarga Berencana (KB) tidak hanya berorientasi pada angka kelahiran tetapi juga terfokus pada upayaupaya pemenuhan permintaan kualitas pelayanan.tantangan terbesar dalam peningkatan upaya penggalakkan kembali program Keluarga Berencana ini adalah dari tingkat kesadaran masyarakat itu sendiri.program keluarga berencana di Indonesia sudah dilaksanakan sejak tahun 1970 dengan dibentuknya Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),(http://kependudukan.siakad.go.id tanggal 10 Desember 2013). Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2002 menyatakan bahwa kesertaan KB masih sangat rendah, yaitu hanya 4,4% yang meliputi: penggunaan Kondom (0,9%), Vasektomi/Metode Operasi Pria (MOP) (0,4%), senggama terputus (1,5%) dan pantang berkala (1,6%). Angka partisipasi sebagai akseptor KB tersebut masih sangat rendah bila dibandingan dengan negara-negara Islam, seperti Bangladesh sebesar 13,9% Tahun 1997, dan Malaysia sebesar 16,8% tahun 1998,(Putro 2009:104). Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Semarang Tahun 2012 sebesar 0,58%, (BPS Kabupaten Semarang 2013:86). Kondisi laju pertumbuhan penduduk yang kurang dari 1% ini ternyata merupakan salah satu indikasi keberhasilan Program KB di Kabupaten Semarang.Sebuah gambaran tentang peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengikuti Program Keluarga Berencana (KB) salah satunya adalah meningkatnya jumlah peserta aktif (PA). Pada tahun 2012 PA KB di Kabupaten Semarang tercatat sebanyak 166.634 peserta, sementara pada tahun 2011 jumlah peserta aktif KB sebanyak 159.482 peserta, ada peningkatan 7.152 peserta (4,48%). Sedangkan jumlah pasangan usia subur tahun 2012 berjumlah 194.134 pasangan, meningkat 2.687 pasangan (1,40%) dibandingan tahun 2011 yang berjumlah 191.447 pasangan usia subur (PUS). Metode kontrasepsi yang dipilih oleh peserta aktif (PA) pada tahun 2012 terbagi menjadi KB suntik 92.539 (55,53%), Implan 28.121 (16,88%), IUD 19.948 (11,97%), Pil 14.955 (8,97%), MOW 8.045 (4,83%), MOP 1.795 (1,08%), yang terkecil adalah KB dengan menggunakan Kondom sebanyak 1.231 (0,74%). Di Kecamatan Bergas jumlah peserta aktif KB tahun 2011 dengan jumlah keseluruhan 10.938 jiwa dan Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 13.016 jiwadengan peserta KB tertinggi di Desa Karangjati 1.297 jiwa dan Peserta KB terendah di Desa Diwak 243 jiwa. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang, dalam penelitian ini peneliti mengambil 4 desa yang akan digunakan sebagai sampel penelitian, keempat desa tersebut antara lain Desa wujil, Desa Gebugan, Desa Bergas Kidul,dan Desa Wringinputih. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik Simple Random Sampling yaitu dengan menentukan sampel wilayah berdasarkan letak keruangan yang dianggap mampu mewakili seluruh wilayah Kecamatan Bergas. 2

Variabel dalam penelitian ini, adalah persebaran Tingkat Partisipasi akseptor KB pasangan usia subur di Kecamatan Bergas Kabupaten semarang, Faktor-faktor yang berpengaruh pada pelaksannan KB, yaitu Kondisi Demografi, Umur, Jenis Kelamin, Kondisi Sosial Budaya, Kondisi Ekonomi, Kondisi Aksesibilitas. Metode pengumpulan data sebagai berikut Kuesioner, obsevarsi, dokumentasi dan survei data sekunder. Analisis yang digunakan untuk mengetahui keberadaan hubungan antara faktor-faktor dengan partisipasi pasangan usia subur dalam mengikuti program KB yaitu menggunakan uji korelasi Kontijensi, hal ini disebabkan karena bentuk data yang diperoleh dalam penelitian ini bersifat nominal dan ordinal sehingga tidak dapat dilakukan korelasi product moment yang memiliki syarat data dengan bentuk interval dan rasio. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Tingkat Partisipasi Pasangan Usia Subur di Kecamatan Bergas Berdasarkan data Biro Pusat Statistik Kabupaten Semarang Tahun 2013, Kecamatan Bergas memiliki jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 13.016 jiwa dan yang berpartisipasi dalam program KB tercatat sebanyak 10.936 jiwa atau sebesar 84,04%. Persentase pasangan usia subur (PUS) yang berpartisipasi dalam KB tertinggi yaitu pasangan usia subur (PUS) di Kelurahan Jatijajar sebesar 85,83% dan yang terendah di Kelurahan Bergas Kidul sebesar 81,72%. Tingkat partisipasi pasangan usia subur (PUS) di Kecamatan Bergas termasuk dalam kategori sedang, hal ini terlihat pada tabel yang menunjukkan persentase tingkat partisipasi pasangan usia subur rata-rata adalah sebesar 84,04%. Tabel 1. Sebaran Tingkat Partisipasi PUS dalam ber-kb di Kecamatan Bergas No. Kelurahan/Desa Jumlah Partisipasi Tingkat Persentase PUS KB Partisipasi 1 Ngempon 1.125 946 84,09% Sedang 2 Wringinputih 1.032 869 84,21% Sedang 3 Gondoriyo 1.493 1.257 84,19% Sedang 4 Karangjati 1.544 1.297 84,00% Sedang 5 Wujil 987 841 85,21% Tinggi 6 Gebugan 1.086 906 83,43% Sedang 7 Pagersari 907 768 84,67% Tinggi 8 Munding 719 599 83,31% Sedang 9 Bergas Lor 1.201 1.020 84,93% Tinggi 10 Bergas Kidul 1.264 1.033 81,72% 11 Randugunting 500 414 82,80% 12 Jatijajar 868 745 85,83% Tinggi 13 Diwak 290 243 83,79% Sedang Jumlah 13016 10.938 84,04% Sedang Sumber: Hasil Analisis 2014 2. Uji Hubungan Variabel terhadap Partisipasi KB menggunakan Analisis Korelasi Kontinjensi Pengujian hubungan variabel dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat hubungan faktor-faktor dalam partisipasi PUS dalam program KB. Faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini meliputi faktor usia pernikahan, faktor jumlah anak (paritas), faktor pendidikan, faktor pendapatan, faktor aksesibilitas, dan faktor pengetahuan. 3

Gambar 1. Peta Tingkat Kabupaten Semarang Tahun 2013 No. Variabel Wujil Gebugan Bergas Kidul Wringinputih Phi Korelasi Phi Korelasi Phi Korelasi Phi Korelasi 1 Usia Pernikahan 0,44 Sedang 0,55 Sedang 0,40 Sedang 0,48 Sedang 2 Paritas 0,27 0,34 0,42 Sedang 0,50 Sedang 3 Pendidikan -0,31-0,35 0,05-0,24 4 Pendapatan -0,53 Sedang 0,11-0,19-0,09 5 Aksesibilita -0,15-0,17-0,18 0,07 s 6 Pengetahua 0,04-0,07 0,04-0,04 n Sumber: Hasil analisis 2014 3. Hubungan Faktor Usia Pernikahan terhadap Partisipasi Pasangan Usia Subur dalam Hasil analisis korelasi terhadap seluruh desa sampel menunjukkan koefisien korelasi berada pada tingkat sedang, artinya terdapat hubungan antara usia perkawinan dan partisipasi pasangan usia subur dalam program Keluarga Berencana di seluruh Desa Sampel. Usia perkawinan yang lama memberikan pengalaman lebih dalam berkeluarga terutama mengenai masalah nilai Keluarga Berencana. Usia perkawinan erat hubungannya dengan pemakaian alat kontrasepsi karena pasangan yang ingin menunda atau menjarangkan kelahiran akan memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi tertentu. Hasil distribusi frekuensi menunjukkan bahwa usia pernikahan pasangan usia subur yang berada di atas usia rata-rata (9 tahun) lebih efektif dalam berpartisipasi KB dibandingkan usia pernikahan pasangan usia subur yang berada di bawah usia rata-rata (9 tahun). Hal ini disebabkan karena kebanyakan pasangan usia subur di 4 Desa Sampel akan aktif berpartisipasi 4

dalam KB ketika usia pernikahan memasuki 8 atau 9 tahun. Ketika usia pernikahan pasangan usia subur memasuki tahun ke 8 atau ke 9, mereka akan memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil analisis tentang tingkat pengetahuan pasangan usia subur akan kesehatan dan KB menunjukkan tingkat pengetahuan yang tinggi. Ketika pasangan memasuki usia pernikahan yang kesembilan rata-rata usia istri dari pasangan usia subur telah memasuki 32 tahun. Berdasarkan anjuran Dinas Kesehatan, kerentanan usia istri untuk melahirkan adalah 30 tahun ke atas, maka dari itu pasangan usia subur akan berpartisipasi aktif ketika usia pernikahan memasuki tahun kesembilan atau ketika istri dari pasangan usia subur berusia 32 tahun ke atas. 4. Hubungan Jumlah Anak terhadap Hasil analisis korelasi terhadap seluruh desa sampel menunjukkan koefisien korelasi berbeda-beda, artinya faktor jumlah anak ada yang berhubungan dengan pasangan usia subur dalam KB dan ada pula desa yang tidak berhubungan. Desa Wujil dan Gebugan diketahui nilai koefisien korelasi berada pada tingkat rendah atau dengan kata lain tidak terdapat hubungan antara faktor jumlah anak yang dimiliki terhadap partisipasi pasangan usia subur dalam Program Keluarga Berencana di Desa Wujil. Berdasarkan distribusi frekuensi terhadap jumlah anak pasangan usia subur di Desa Wujil, pasangan usia subur yang memiliki anak di bawah rata-rata dan di atas rata-rata memperoleh frekuensi yang seimbang sehingga baik pasangan usia subur yang memiliki anak lebih dari rata-rata maupun di bawah rata-rata memiliki peluang yang sama dalam partisipasi KB. Berbeda dengan tiga desa lainnya faktor jumlah anak menunjukkan nilai koefisien berada pada tingkat sedang yang artinya terdapat hubungan antara faktor jumlah anak memiliki dan partisipasi pasangan usia subur dalam program KB. Hal ini disebabkan karena frekuensi jumlah anak pada Bergas Kidul dan Wringinputih lebih banyak yang memiliki anak lebih dari rata-rata, sehingga pasangan usia subur yang memiliki anak lebih dari rata-rata lebih berpeluang dalam partisipasi KB. Jumlah anak yang dimiliki berhubungan dengan persepsi orang tua terhada pnilai anak, sebagian keluarga beranggapan bahwa keluarga yang ideal adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak. Responden beranggapan bahwa anak yang dimiliki telah cukup dan berpandangan bahwa saat ini memiliki banyak anak hanya akan menambah beban ekonomi keluarga khususnya dalam hal pendidikan dan perawatan kesehatan sehingga responden berpartisipasi dalam program KB. 5. Hubungan Faktor Pendidikan terhadap Berdasarkan distribusi frekuensi tingkat pendidikan pasangan usia subur di Desa Wujil dan Gebugan, frekuensi tingkat pendidikan pasangan usia subur yang di atas rata-rata lebih banyak dari frekuensi pasangan usia subur. Hasil crosstabulation antara faktor pendidikan dan partisipasi KB juga menunjukkan bahwa frekuensi pasangan usia subur yang memiliki pendidikan di atas rata-rata lebih banyak berpartisipasi KB dibanding pasangan usia subur yang memiliki pendidikan di bawah ratarata. Nilai koefisien korelasi pada semua desa menyatakan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan partisipasi pasangan usia subur dalam program KB. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan Soeparmanto dalam Slamet Riyadi (1984:75) yang mengatakan bahwa tingkat pendidikan mempunyai hubungan langsung terhadap Keluarga Berencana (KB). Seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan memiliki 5

pandangan yang lebih luas tentang suatu hal dan lebih mudah untuk menerima ide atau cara kehidupan baru. Begitu pula dengan Soekanto dalam Purba (2009:49) yang menyebutkan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi akan mengikuti KB sebagai upaya dalam membatasi jumlah kelahiran daripada mereka yang berpendidikan rendah. Hasil distribusi frekuensi pendidikan pasangan usia subur di Desa Bergas Kidul didominasi dengan tingkat pendidikan di atas rata-rata (SMP) yaitu sebanyak 82,7%, namun partisipasi KB untuk pasangan usia subur yang berada di Desa Bergas Kidul menunjukkan hasil yang seimbang antara partisipasi efektif (42,3%) dan partisipasi tidak efektif (40,4%). Hal ini membuktikan bahwa pendidikan yang tinggi tidak mempengaruhi pasangan usia subur di Desa Bergas Kidul untuk berpartisipasi efektif dalam program KB. Sama halnya dengan pasangan usia subur di Desa Wringinputih, minimnya perbandingan antara partisipasi KB efektif dengan partisipasi KB tidak efektif terhadap frekuensi tingkat pendidikan di atas rata-rata dan di bawah rata menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor pendidikan dengan tingkat partisipasi pasangan usia subur dalam program KB di Desa Wringinputih. 6. Hubungan Faktor Pendapatan terhadap Hasil analisis korelasi pada Desa Wujil menunjukan bahwa nilai korelasi berada pada tingkat sedang artinya bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendapatan terhadap partisipasi pasangan usia subur dalam program Keluarga Berencana.Tingkat pendapatan yang rendah akan memberatkan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya khususnya masalah pemeliharaan kesehatan. Penduduk yang berpenghasilan rendah akan lebih memprioritaskan penghasilan mereka untuk pemenuhan kebutuhan pokok. Meskipun faktor pendapatan berpengaruh terhadap partisipasi pasangan usia subur dalam ber-kb di Desa Wujil, namun hal tersebut tidak terjadi pada desa sampel lainnya. Pada ke tiga desa lainnya hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien berada pada tingkat rendah dan sangat rendah artinya tidak ada pengaruh signifikan antara pendapatan keluarga terhadap partisipasi pasangan usia subur dalam program KB. Desa Gebugan memiliki pasangan usia subur dengan pendapatan rata-rata Rp. 1.602.000 per bulan untuk suami dan Rp. 692.000 per bulan untuk istri. Namun berdasarkan distribusi frekuensi pendapatan pasangan usia subur di Desa Gebugan didominasi dengan tingkat pendapatan di bawah rata-rata sebanyak 60%. Hal ini kemungkinan menjadi penyebab faktor pendapatan tidak berpengaruh terhadap partisipasi PUS dalam program KB. Mengingat Kecamatan Bergas merupakan kawasan industri maka mayoritas penduduk di sekitar Kecamatan Bergas adalah pekerja industri, oleh karena itu kesibukan kerja yang tinggi membuat pasangan usia subur kurang memperhatikan program KB. Hal ini juga diperkuat dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa pasangan usia subur di empat Desa Sampel baik suami maupun istri mayoritas bekerja sebagai karyawan swasta atau pekerja industri (tabel 4.12). 7. Hubungan Jarak Pelayanan KB terhadap Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa nilai koefisien korelasi berada pada tingkat sangat rendah artinya tidak terdapat hubungan antara jarak dari pusat layanan KB dan partisipasi pasangan usia subur dalam program Keluarga Berencana di Kecamatan Bergas. Dari hasil penelitian mengenai jarak pusat layanan KB diketahui bahwa rata-rata jarak rumah responden dengan pusat layanan KB kurang dari 1 km sehingga dapat dikatakan 6

cukup dekat selain itu mudahnya pelayanan ber- KB bagi akseptor di masing-masing desa karena tersedianya petugas kesehatan yang mampu melayani akseptor dalam ber-kb khususnya bidan desa sehingga mereka tidak perlu pergi jauh untuk mendapat layanan dalam ber-kb. 8. Hubungan Faktor Pengetahuan terhadap Hasil uji korelasi diketahui bahwa nilai koefisien korelasi berada pada tingkat sangat rendah di seluruh desa sampel, artinya tidak terdapat hubungan antara pengetahuan mengenai KB terhadap partisipasi pasangan usia subur dalam program keluarga berencana di seluruh desa sampel. Hasil distribusi frekuensi menunjukkan rata-rata responden memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai KB, sehingga baik responden yang berpengetahuan baik maupun kurang baik tidak dapat mempengaruhi partisipasi pasangan usia subur dalam program KB di Kecamatan Bergas. KESIMPULAN Tingkat partisipasi pasangan usia subur di Kecamatan Bergas menunjukkan bahwa 4 desa memiliki tingkat partisipasi tinggi (Desa Wujil, Pagersari, Bergas Lor, dan Jatijajar) dan 2 desa memiliki tingkat partisipasi rendah (Desa Bergas Kidul dan Randugunting), sedangkan 7 desa lainnya memiliki tingkat partisipasi sedang, sehingga secara keseluruhan tingkat partisipasi pasangan usia subur (PUS) di Kecamatan Bergas termasuk dalam kategori sedang, hal ini dibuktikan dengan rata-rata persentase tingkat partisipasi pasangan usia subur adalah 84,04%. Hasil penelitian menunjukkan hubungan faktor-faktor dengan partisipasi PUS di 4 desa sampel menggunakan analilis korelasi kontinjensi menunjukkan faktor usia pernikahan dengan tingkat partisipasi PUS Desa Wujil dengan koefisien nilai phi 0,44, Desa Gebugan dengan koefisien nilai phi 0,55, Desa Bergas Kidul dengan koefisien nilai phi 0,40 dan Desa Wringinputih dengan koefisien nilai phi 0,48. Mengacu pada pedoman interpretasi koefisien korelasi maka nilai koefisien korelasi faktor usia pernikahan pada 4 desa sampel termasuk dalam kriteria hubungan sedang, maka dapat diartikan terdapat hubungan antara faktor usia pernikahan dengan partisipasi PUS dalam. DAFTAR PUSTAKA Afrizal, Muhammad. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Program Keluarga Berencana di Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. Skripsi. Pekanbaru: Universitas Riau. BKKBN. 1997. Gerakan KB Pembangunan Keluarga Sejahtera. Jakarta: BKKBN. Biro Pusat Statistik. 2013. Kabupaten Semarang Dalam Angka 2013. Ungaran: BPS. Devita Sari, Mila. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Pasangan Usia Subur Dalam Pelaksanaan Program Keluarga berencana di Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati. Semarang. UNNES: Skripsi. Rosianawati, Meilia. 2010. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pelaksannaan Progam KB Pada PUS di Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Semarang. UNNES: Skripsi. Sulistyawati, Ari. 2011. Pelayanan Keluaarga Berencana. Jakarta: Salemba Medika. 7