BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari bantuan atau

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap

BAB I PENDAHULUAN. heterogen, keberagaman suku, budaya dan agama menciptakan pluralisme

C. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Agama, Suku, Ras, Budaya, dan Gender

TUGAS AGAMA KLIPING KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA, ANTAR SUKU, RAS DAN BUDAYA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia hidup juga berbeda. Kemajemukan suku bangsa yang berjumlah. 300 suku hidup di wilayah Indonesia membawa konsekuensi pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaan merupakan cabang ilmu. cita cita bangsa. Salah satu pelajaran penting yang terkandung dalam

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Jovi Nuriana Putra, 2015 Pewarisan Nilai Adat Pikukuh Tilu dalam Kepercayaan Sunda Wiwitan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 19/PUU-VI/2008

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diah Ratna Shabarwati, 2013

PENDIDIKAN PANCASILA. Pancasila Sebagai Ideologi Negara. Modul ke: 05Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen S1

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil laporan, deskripsi serta pembahasan hasil penelitian

BAB I PENDAHULUAN. masa silam. Tidak heran bahwa setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki

PENDIDIKAN PANCASILA

I. PENDAHULUAN. Banyak istilah yang diberikan untuk menunjukan bahwa bangsa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Sebagaimana disebutkan dalam pasal

PERAN PANCASILA SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. dan Satu Pemerintahan (Depag RI, 1980 :5). agama. Dalam skripsi ini akan membahas tentang kerukunan antar umat

Makalah Pendidikan Pancasila

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014

d. bahwa dalam usaha mengatasi kerawanan sosial serta mewujudkan, memelihara dan mengembangkan kehidupan masyarakat yang

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PANCASILA. Sebagai Ideologi Negara. Disampaikan pada perkuliahan Pancasila kelas PKK. H. U. Adil Samadani, SS., SHI.,, MH. Modul ke: Fakultas Teknik

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan kebutuhan kodrat manusia, setiap manusia

BAHAN TAYANG MODUL 11 SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2016/2017 RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH.

BAB I PENDAHULUAN. dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, dalam hidupnya

BAB I PENDAHULUAN. umum dikenal dengan masyarakat yang multikultural. Ini merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Alasan Pemilihan Judul

TUGAS AKHIR PANCASILA BUKAN AGAMA

BAB I PENDAHULUAN. lain, mulai dari lingkungan lokal (keluarga) sampai ke lingkungan sosial luar (masyarakat).

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

PANCASILA DAN AGAMA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Nama : Oni Yuwantoro N I M : Kelompok : A Jurusan : D3 MI Dosen : Drs. Kalis Purwanto, MM

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat merupakan suatu perwujudan kehidupan bersama manusia sebagai makhluk

NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

AGAMA DAN NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

BAB IV PENUTUP. dengan masuknya etnik Tionghoa di Indonesia. Medio tahun 1930-an dimulai. dan hanya mengandalkan warisan leluhurnya.

BAB I PENDAHULUAN. Menurut kodrat alam, manusia dimana-mana dan pada zaman apapun juga selalu

BAB I PENDAHULUAN. Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa negara hukum (rechtsstaat)

BAB I PENDAHULUAN. Antara laki-laki dengan perempuan mempunyai rasa ketertarikan dan saling

Pancasila; sistem filsafat dan ideologi Negara

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam suku, bahasa, adat istiadat dan agama. Hal itu merupakan

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang heterogen, kita menyadari bahwa bangsa

I. PENDAHULUAN. Berbagai permasalahan yang terjadi pada bangsa kita saat ini sangatlah

BAB I PENDAHULUAN. yang cenderung kepada kelezatan jasmaniah). Dengan demikian, ketika manusia

WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN WARGA NEGARA, PENDUDUK, DAN BUKAN PENDUDUK

Budaya (kearifan local) Sebagai Landasan Pendidikan Indonesia Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah mahkluk sosial yang dilahirkan dalam suatu pangkuan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Modul ke: Fakultas TEKNIK. Program Studi SIPIL.

RUANG LINGKUP MATA KULIAH PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. sekali. Selain membawa kemudahan dan kenyamanan hidup umat manusia.

BAB I PENDAHULUAN. Yang Maha Esa. Manusia diciptakan berbeda dari makhluk-makhluk Tuhan yang

KURIKULUM Kompetensi Dasar. Mata Pelajaran PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN. Untuk KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. luasnya pergaulan internasional atau antar negara adalah adanya praktek

BUPATI ENREKANG PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENREKANG NOMOR 1 TAHUN 2016

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

PENGANGKATAN ANAK BERDASARKAN PENETAPAN PENGADILAN SERTA PERLINDUNGANNYA MENURUT UU NO. 23 TAHUN 2002 (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Pacitan)

BAB I PENDAHULUAN. benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa. melaksanakan kemurnian dari peraturan-peraturannya.

PENDIDIKAN PANCASILA

BAB I PENDAHULUAN. keyakinan dan kepercayaannya. Hal tersebut ditegaskan dalam UUD 1945

TUGAS AKHIR MATA KULIAH PANCASILA IMPLEMENTASI SILA PERTAMA TERHADAP PEMBANGUNAN TEMPAT IBADAH

TRIANI WIDYANTI, 2014 PELESTARIAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAGA KETAHANAN PANGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Allah SWT telah menghiasi alam semesta ini dengan rasa cinta dan kasih

BAB I LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA

PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. seorang laki-laki, ada daya saling menarik satu sama lain untuk hidup

PANCASILA & AGAMA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Tugas akhir kuliah Pendidikan Pancasila. Reza Oktavianto Nim : Kelas : 11-S1SI-07

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Individu masuk islam karena pilihan, tentunya mengalami pergulatan batin

BAB V PENUTUP. aliran kepercayaan disetarakan statusnya layaknya agama resmi lainnya (Mutaqin

LATIHAN SOAL PENDIDIKAN PANCASILA IPB 111 UNIT MATA KULIAH DASAR UMUM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, yang terdiri dari

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

KEDUDUKAN DAN FUNGSI PANCASILA

PERLINDUNGAN HAK-HAK MINORITAS DAN DEMOKRASI

LAPORAN PENGAMATAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku untuk semua

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang majemuk, yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. hal budaya maupun dalam sistem kepercayaan. Hal ini dibuktikan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Ayu Fauziyyah, 2014

I. PENDAHULUAN. yang dicita-citakan. Sejalan dengan Mukadimah Undang Undang Dasar 1945,

PANCASILA PANCASILA DAN AGAMA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi.

commit to user BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

2.4 Uraian Materi Pengertian dan Hakikat dari Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia,

PANCASILA. Makna dan Aktualisasi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Kehidupan Bernegara. Poernomo A. Soelistyo, SH., MBA.

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN. TENTANG PERLINDUNGAN UMAT BERAGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara majemuk yang kaya akan keragaman suku,

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 83 TAHUN 2017 TENTANG

NILAI-NILAI DAN NORMA BERAKAR DARI BUDAYA BANGSA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkawinan merupakan bagian hidup yang sakral, karena harus

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN UKDW

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari bantuan atau pengaruh orang lain. Kita harus tunduk pada aturan atau kebiasaan yang wajar di masyarakat. Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari pengaruh masyarakat, baik di rumah, di sekolah, dan lingkungan yang lebih luas. Manusia dapat dikatakan juga sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh orang lain. Menurut Soekanto (200:114-115), mengatakan bahwa sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu: 1) keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu masyarakat; 2) keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, sejak dilahirkan sampai sepanjang hidupnya. Interaksi merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Lebih lanjut lagi Soekanto (2004:115) mengatakan bahwa setiap himpunan manusia dapat dinamakan kelompok sosial (social-group) dengan beberapa persyaratan antara lain: 1. Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan. 2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya. 1

2 3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain. Tentunya faktor mempunyai musuh bersama misalnya, dapat pula menjadi faktor pengikat/ pemersatu. 4. Berstruktur, berakidah dan mempunyai pola perilaku. 5. Bersistem dan berproses. Berdasarkan pendapat Soerjono Soekanto tersebut, dapat diidentifikasi bahwa manusia termasuk sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang saling membutuhkan. Fenomena lain dari manusia sebagai makhluk sosial adalah cenderung ingin berkelompok dan bergaul dengan orang-orang yang mempunyai haluan yang sama, seazas, ideologi, ras, suku, agama, kepercayaan, tujuan yang sama, atau berbagai macam kelompok sosial lainnya, misalnya satu partai, organisasi, kelompok agama, kelompok kepercayaan, bahkan kelompok belajar yang sama-sama mempunyai tujuan yang disepakati. Meninjau fenomena kelompok sosial dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, dapat ditemukan berbagai macam problema sosial mengenai perilaku manusia Indonesia. Akan tetapi hal ini sangat wajar karena masyarakat Indonesia terdiri atas suku bangsa memiliki nilai, norma, kepercayan, dan tradisi berbeda yang diwariskan oleh leluhur mereka. Keanekaragaman suku bangsa, budaya dan kepercayaan di satu pihak menimbulkan kebanggaan nasional, tetapi di lain pihak keanekaragamanan tersebut dapat menimbulkan masalah terutama bila dikaitkan dengan pembentukan dan pengembangan kebudayaan nasional serta usaha-usaha membina kesatuan dan persatuan bangsa. Oleh sebab itu, adanya saling pengertian diantara suku bangsa secara keseluruhan. Tanpa disadari agama merupakan kekuatan utama dari kelompok sosial yang ada di Indonesia. Bangsa

3 Indonesia memiliki agama yang beraneka ragam mulai dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. Semua agama ini diberi kebebasan untuk berkembang. Dalam UUD 1945 Bab XI Pasal 29 dijelaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing, lebih jelasnya adalah sebagai berikut: 1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu. Kedatangan agama ke Indonesia ini telah menimbulkan suatu perpaduan kepercayaan yang disebut dengan sinkretisme. Hal ini disebabkan oleh kedatangan agama ke Indonesia tidak sepenuhnya menghilangkan kepercayaan yang telah lama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Masyarakat masih mempercayai hal-hal yang bersifat magis melalui keyakinannya mereka melakukan budaya spiritual seperti percaya terhadap roh-roh, benda-benda, dan pohon-pohon peninggalan leluhur yang dianggap memiliki kekuatan atau kharisma. Pada hakekatnya menurut masyarakat tersebut hal yang dilakukan di atas adalah untuk mencari ridha Allah SWT. Animisme dan dinamisme yang merupakan kepercayaan masyarakat secara turun-temurun tetap dikembangkan oleh komunitas tertentu. Dalam pandangan A. Mukti Ali (Adeng Muchtar Ghazali, 2004:217) sinkretisme adalah berbagai aliran dan gejala yang hendak

4 mencampuradukkan segala agama menjadi satu, karena pada dasarnya semua agama pada hakikatnya adalah sama. Sinkretisme hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Suku Sunda yang merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai kepercayaan yang disebut sebagai Sunda Wiwitan atau lebih dikenal dengan Jatisunda. Ketika Islam masuk ke Jawa Barat pada abad ke-14, Islam melakukan kontak dengan agama Hindu, Budha dan Sunda Wiwitan yang telah berkembang sebelumnya di Tatar Pasundan. Kontak antara agama dan kepercayaan itu menimbulkan sikap pro dan kontra dari masyarakat Sunda. Masyarakat Sunda yang tidak mau terkontaminasi suatu unsur yang berasal dari luar yang mencoba untuk menutup diri dari pengaruh tersebut. Mereka kemudian berusaha untuk mengembangkan kepercayaan yang mereka miliki dan menutup diri dari pengaruh luar (Ekadjati dalam http: //www. Pikiranrakyat.com/cetak/0603/10/0802.html). Sinkretisme menjadi masalah, terutama dari sudut pandang agama (Islam). Contohnya di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan pertemuan antara agama Islam, Hindu, Budha, dan kepercayaan Jatisunda yang kental dengan animisme, serta dinamismenya telah melahirkan suatu aliran kepercayaan baru yang dikenal dengan Cara Karuhun Urang, Agama Djawa Sunda (ADS) atau Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur, dan sekarang disebut dengan Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Aliran kepercayaan ini didirikan oleh seorang keturunan dari Kesultanan Gebang yang bernama Pangeran Sadewa Alibasa Kusuma Wijayadiningrat yang lebih dikenal dengan sebutan Kiyai

5 Madrais atau Pangeran Madrais pada tahun 1885 (Dadan Wildan dalam http://www.arkeologi.net/indexi.php?id=view news&ct news= 78 dan Rostoyati, 1993). Perkembangan Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulai menimbulkan keresahan dikalangan pemeluk agama lain, terutama para pemeluk agama Islam. Tokoh-tokoh agama Islam mulai merasa resah karena menganggap bahwa ajaran Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa telah menyimpang dari ajaran Islam. Keresahan ini pada akhirnya menimbulkan konflik yang berkepanjangan antara Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan para penganut agama Islam (S. Kosoh, 1994:153). Pada masa kepemimpinan Pangeran Tedjabuana, Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa mendapat suatu tekanan yang sangat besar dari beberapa ulama di Jawa Barat. Pancasila sebagai dasar negara telah memberikan suatu peluang yang cukup besar bagi pihak-pihak yang tidak senang dengan keberadaan Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila sila pertama dijadikan sebagai alasan oleh pihak-pihak yang tidak senang terhadap keberadaan Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa tersebut untuk menekan dan menyingkirkan Kepercayaan Pengahayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka menganggap bahwa Kepercayaan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa bukanlah suatu agama, tetapi lebih cenderung pada aliran kepercayaan yang bersifat animisme dan dinamisme.

6 Desakan yang terus menerus dari berbagai pihak telah memaksa pangeran Tedjabuana untuk bertindak. Maka pada tanggal 25 September 1964 P. Tedjabuana mengeluarkan suatu surat keputusan No. 03/Pal/1964 yang menyatakan bahwa P. Tedjabuana sebagai pemimpin Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa secara resmi membubarkan organisasi Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menganjurkan kepada para pengikutnya untuk masuk ke dalam agama manapun yang diberlakukan oleh pemerintah. Sedangkan P. Tedajabuana sendiri menyatakan dirinya masuk ke dalam Agama Katolik. Pada masa pemerintahan Orde Baru, para pemeluk agama ini mengalami kesulitan karena pemerintah hanya mengakui keberadaan lima agama, yaitu Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu, dan Buddha. Pada akhir 1960-an, ketika pemerintah Orde Baru menolak mengakui keberadaan ajaran Madrais, banyak pengikutnya yang kemudian memilih untuk memeluk Islam atau Katolik Sementara itu, anak-anak Djatikusuma lainnya, bebas memilih agama atau pun kepercayaan lain. Saat ini Kepercayaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa memang muncul dengan alasan pemeliharaan budaya lokal. Menurut Soekanto (2003:182) setiap kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan di manapun berada, yaitu: 1) kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari peri kelakuan manusia; 2) kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan; 3) kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkahlakunya;

7 4) kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan. Berdasarkan sifat hakikat kebudayaan tersebut dapat dikemukakan bahwa kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, yang meliputi aspek perilaku dan kemampuan manusia. Ia menjadi milik hakiki manusia di mana pun berada. Keberlangsungan suatu budaya akan sangat ditentukan oleh masyarakat pendukung kebudayaan itu. Warisan budaya bangsa yang memuat nilai-nilai spiritual, termasuk kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha, diakui dalam Pasal 32 (1). Disebutkan di situ, "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya". Sekilas eksistensi para penghayat kepercayaan diakui, namun pada praktiknya diskriminasi tetap menyelimuti. Dalam UUD 1945 hasil amendemen keempat, khususnya Pasal 28E (2) tentang Hak Asasi Manusia disebutkan, "Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai hati nuraninya". Pada Pasal 29 (2) dinyatakan, "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu". Pemerintah mengakui dan menjamin kemerdekaan yang berhubungan dengan kebebasan yang paling azasi bagi manusia seperti kebebasan untuk beragama atau berkeyakinan, akan tetapi yang terjadi bagi keberadaan para penghayat kepercayaan, sejumlah aturan menyangkut hal itu masih belum optimal. Hal ini diperkuat dengan adanya keluhan oleh para

8 penganut penghayat kepercayaan dalam hal perlakuan hak sipil sebagai warga negara, pelayanan terhadap para penghayat kepercayaan tidak sama dengan para pemeluk agama. Selama ini alasan yang berkembang di masyarakat terhadap para penghayat kepercayaan adalah dalam kartu identitas penduduk, contohnya, mereka tidak pernah bisa mencantumkan penghayat kepercayaan. Dari KTP merembet ke masalah perkawinan, yang tidak bisa dicatat di Kantor Catatan Sipil apabila mereka masih tetap menganut aliran penghayat kepercayaan tersebut. Masalah atau polemik yang berkaitan dengan keberadaan komunitas masyarakat penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu masih cenderung tereleminasinya kehidupan sosial mereka, terutama pendeskriminasian mereka dalam kebijakan-kebijakan publik, dimana seharusnya pemerintah harus lebih arif melihat upaya-upaya mereka dalam memperjuangkan penyetaraan hak-hak sipilnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang aliran kepercayaan penghayat yang dikemas dalam sebuah judul penelitian TINJAUAN SOSIOLOGIS DAN YURIDIS PENGANUT KEPERCAYAAN DAN PENGHAYATAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA (Studi Kasus Pada Masyarakat Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan).

9 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, agar penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan penelitian, maka perlu kiranya dirumuskan dalam bahasa judul sebagai berikut Tinjauan Sosiologis dan Yuridis Penganut Kepercayaan dan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan. Agar permasalahan dapat terarah dan mengacu pada permasalahan pokok diatas, maka penulis memberikan batasan masalah pada halhal sebagai berikut: 1. Bagaimana latar belakang kemunculan kepercayaan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan? 2. Hal-hal apa yang menjadi dasar suatu pengikutan kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa? 3. Bagaiamana sikap atau pola interakasi Penganut Kepercayaan dan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan dengan masyarakat sekitar yang memeluk agama lain? 4. Apakah yang menjadi landasan hukum pembenaran Penganut Kepercayaan dan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa? 5. Bagaimana peran dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan terhadap penganut kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa?

10 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan suatu gambaran tentang Tinjauan Sosiologis dan Yuridis Penganut Kepercayaan dan Penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui bagaimana latar belakang kemunculan kepercayaan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan. 2. Mengetahui hal-hal apa yang menjadi dasar suatu pengikutan kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3. Mengetahui sikap atau pola interakasi Penganut Kepercayaan dan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan dengan masyarakat sekitar yang memeluk agama lain. 4. Mengetahui Landasan hukum pembenaran Penganut Kepercayaan dan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 5. Mengetahui peran dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan terhadap penganut kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 1.4 Pertanyaan Penelitian 1. Sejak kapan Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan yang Maha Esa di Cigugur Kuningan muncul?

11 2. Bagaimana perkembangan Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan yang Maha Esa di Cigugur? 3. Apa yang menjadi dasar pengikutan Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan yang Maha Esa? 4. Apakah maksud dan tujuan dari diajarkan Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan yang Maha Esa? 5. Apa yang menjadi pedoman tertinggi dari Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan yang Maha Esa? 6. Bagaimana proses kegiatan (peribadatan) yang diajarkan oleh Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan yang Maha Esa? 7. Bagaimana kehidupan Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan lingkungan sekitarnya? 8. Adakah kesulitan atau kendala dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya? 9. Apakah ada peraturan hukum yang mengatur dan melindumgi Kepercayaaan dan Penghayatan Kepada Tuhan yang Maha Esa? 10. Adakah Kesulitan dalam memperoleh perlakuan yang sama dalam hukum? 11. Bagaimana keberadaan tokoh-tokoh penganut aliran kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa Pasca tindakan Pemerintah terhadap aliran tersebut? 12. Upaya apa yang dilakukan pemerintah terhadap tokoh-tokoh penganut aliran kepercayaan dan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa Pasca tindakan Pemerintah terhadap aliran tersebut?

12 13. Apakah status dari keberadaan pelaksanaan ritual tokoh aliran tersebut dilihat dari segi pandang model situs sebagai tujuan wisata? 14. Bagaimana peran pemerintah kabupaten Kuningan dan kelurahan Cigugur dalam keberadaan pelaksanaan ritual tokoh aliran tersebut dilihat dari segi pandang sebagai tujuan wisata? 1.5 Kegunaan Penelitian 1) Secara teoritis Penelitian ini secara teoritis diharapkan memberikan sumbangan konsepkonsep sosiologis, yuridis, dan masyarakat adat serta nila-nilai kepercayaan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap ilmu pengetahuan terutama bagi pengembangan konsep Pendidikan Kewarganegaraan dan konsep pendidikan hukum khususnya dalam bidang hukum adat. 2) Secara praktis Penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan masukan kepada masyarakat Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan untuk lebih memperhatikan dan memahami kepercayaan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang lebih bermanfaat bagi kehidupan masyarakat tersebut. Khususnya bagi penyusun diharapkan dapat memberikan suatu pemahaman kepercayaan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang masih sesuai dengan Kepercayaan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang seharusnya masih bisa dipertahankan.

13 1.6 Definisi Operasional Agar tidak terjadi salah pengertian dan untuk memperoleh kesatuan arti dalam pengertian judul penelitian, perlu kiranya diberikan penjelasan mengenai istilah yang digunakan dalam judul penelitian tersebut. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah: 1. Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, pendapat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000:1198). 2. Sosiologis adalah mengenai sosiologi yaitu pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur social, proses social dan perubahannya yang mempelajari tentang sifat dan perkembangan masyarakat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000:1085). 3. Yuridis adalah menururt hukum, secara hukum (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000:1278). 4. Tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat atau suatu penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik (Depdiknas, 2001:1208) 5. Kepercayaan adalah anggapan atau sikap mental bahwa sesuatu itu benar (Saifuddin Anshari Endang, 1979:135). 6. Penghayatan adalah setiap manusia harus yakin merasakan, memikirkan bahwa hidup dan kehidupan ini terwujud karena

14 perpaduan serta yakin di antara ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pernyataan keaguangannya (Yayasan Tri Mulya, 1979:1) 7. Masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan dikategorikan sebagai masyarakat yang masih hidup melalui suasana dan cara pemikiran pedesaan. (Soerjono Soekanto, 1990:153). 8. Masyarakat Adat merupakan kesatuan manusia yang teratur, menetap di suatu daerah tertentu, mempunyai penguasa-penguasa dan mempunyai kekayaan yang berwujud ataupun tidak berwujud, para anggota kesatuan masing-masing mengalami kehidupan dalam masyarakat sebagai hal yang wajar menurut kodrat alam dan tidak seorangpun di antara para anggota itu mempunyai pikiran atau kecenderungan untuk membubarkan ikatan yang telah tumbuh itu atau meninggalkannya dalam arti melepaskan diri dari ikatan itu untuk selama-lamanya (Ter Haar, dalam Muhammad, 2002:21). 9. Nilai budaya adalah konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup.

15 1.7 Teknik Pengumpulan Data Teknik penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) Wawancara yaitu teknik pengambilan data dengan cara melakukan interview secara langsung untuk mendapatkan data yang diperlukan. Adapun mengenai format wawancara yang berupa pertanyaan sebelumnya telah dipersiapkan supaya berjalan dengan lancar. Untuk teknik wawancara, penulis menghubungi para responden dan informan yang mengetahui tentang kondisi pada waktu tersebut dan dapat memberikan informasi. 2) Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan. Penulis mengamati secara langsung terhadap keadaan yang berhubungan dengan lokasi yang akan diteliti. Dalam hal ini, lokasi yang dimaksud adalah kawasan Penganut Kepercayaan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kuningan. 3) Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan media berupa foto-foto yang didokumentasikan pada saat proses penelitian berlangsung dilapangan dalam memberikan suatu gambaran mengenai Kepercayaan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Kelurahan Cigugur Kuningan bagi para penganutnya. 4) Teknik studi kepustakaan yaitu dengan cara mempelajari buku-buku, dokumen-dokumen atau sumber-sumber tertulis lainnya yang berhubungan

16 dan mendukung permasalahan dari penelitian ini. Setelah literatur terkumpul dan dianggap memadai untuk penulisan ini serta fakta-fakta telah ditenukan, penulis mempelajari, mengkaji dan mengklasifikasikan serta memisahkan sumber-sumber yang kurang relevan dengan permasalahan. 1.8 Lokasi dan Subjek Penelitian 1) Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yang akan diambil adalah Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan. Peneliti memilih lokasi penelitian di Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan karena lokasi penelitian mudah dijangkau dan data yang diperlukan oleh penulis mudah didapat serta di daerah tersebut masih banyak masyarakat yang masih mempertahankan kepercayaan Penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2) Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Cigugur Kabupaten Kuningan, yang terdiri dari: a. Tokoh agama. b. Tokoh masyarakat. c. Kepala desa, RT, RW, dan pejabat yang berkaitan dengan masalah ini. d. Masyarakat yang masih mempercayai Kepercayaan Penghayatan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

17