ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6



dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH DIAMETER PHANTOM DAN TEBAL SLICE TERHADAP NILAI CTDI PADA PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN CT-SCAN

PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI UDARA TERHADAP DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN PHANTOM PADA PESAWAT CT-SCAN

UJI KESESUAIAN PESAWAT CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 DENGAN PERATURAN KEPALA BAPETEN NOMOR 9 TAHUN 2011

PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN KULIT PADA PASIEN THORAX TERHADAP DOSIS RADIASI DI UDARA DENGAN SUMBER RADIASI PESAWAT SINAR-X

ABSTRAK

Analisis Dosis Serap CT Scan Thorax Dengan Computed Tomography Dose Index Dan Thermoluminescence Dosimeter

PENGUKURAN DOSIS RADIASI RUANGAN RADIOLOGI II RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) BAITURRAHMAH PADANG MENGGUNAKAN SURVEYMETER UNFORS-XI

BAB. I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Penelitian. bersinggungan dengan sinar gamma. Sinar-X (Roentgen) mempunyai kemampuan

Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata dan Timus

ANALISA CTDI PADA PERMUKAAN DAN PUSAT PHANTOM MENGGUNAKAN CT DOSE PROFILER

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemeriksaan Computed Tomography (CT scan) merupakan salah salah

Analisis Pengaruh Faktor Eksposi terhadap Nilai Computed Tomography Dose Index (CTDI) pada Pesawat Computed Tomography (CT) Scan

Pengukuran Dosis Organ Sensitif Pada Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Abdomen Menggunakan Fantom Rando

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN TINGKAT PANDUAN PAPARAN MEDIK ATAU DIAGNOSTIC REFERENCE LEVEL (DRL) NASIONAL

Analisa Kualitas Sinar-X Pada Variasi Ketebalan Filter Aluminium Terhadap Dosis Efektif

Bab 2. Nilai Batas Dosis

FAKTOR FANTOM DAN ESTIMASI DOSIS EFEKTIF DARI HASIL PENGUKURAN COMPUTED TOMOGRAPHY DOSE INDEX (CTDI) SKRIPSI

DOSIS RADIASI DAN FAKTOR RESIKO PADA PEMERIKSAAN COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN WHOLE ABDOMEN 3 FASE SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. massanya, maka radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi

ANALISIS SEBARAN RADIASI HAMBUR CT SCAN 128 SLICE TERHADAP PEMERIKSAAN CT BRAIN

Diagnostic Reference Level (DRL) Nasional P2STPFRZR BAPETEN

PENGUKURAN DOSIS RADIASI PADA PASIEN PEMERIKSAAN PANORAMIK. Abdul Rahayuddin H INTISARI

ANALISA PENGARUH FAKTOR EKSPOSI TERHADAP ENTRANCE SURFACE AIR KERMA (ESAK)

ANALISIS PERBANDINGAN PARAMETER DAN PROFIL DOSIS MENGGUNAKAN PHANTOM STANDAR DAN TIDAK STANDAR

ilmu radiologi yang berhubungan dengan penggunaan modalitas untuk keperluan

ANALISIS WAKTU PELURUHAN TERHADAP PERSYARATAN DOSIS RADIOISOTOP UNTUK PEMERIKSAAN GONDOK

ANALISIS DOSIS RADIASI PEKERJA RADIASI IEBE BERDASARKAN KETENTUAN ICRP 60/1990 DAN PP NO.33/2007

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tindakan tertentu, maupun terapetik. Di antara prosedur-prosedur tersebut, ada

KARAKTERISASI DOSIMETRI SUMBER BRAKITERAPI IR-192 MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT

Studi Uniformitas Dosis Radiasi CT Scan pada Fantom Kepala yang Terletak pada Sandaran Kepala

PENGUKURAN DAN PENGHITUNGAN VOLUME PHANTOM DARI CITRA COMPUTED TOMOGRAPHY (CT) SCAN

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 4, Oktober 2014 ISSN

Uji Kesesuaian Pesawat Fluoroskopi Intervensional merek Philips Allura FC menggunakan Detektor Unfors Raysafe X2 di Rumah Sakit Universitas Andalas

ANALISIS UPTAKE TIROID MENGGUNAKAN TEKNIK ROI (REGION OF INTEREST) PADA PASIEN HIPERTIROID

IMPLEMENTASI COMPLIANCE TEST PESAWAT DENTAL INTRAORAL PADA SALAH SATU KLINIK GIGI DI KOTA PADANG

PENENTUAN SISA RADIOFARMAKA DAN PAPARAN RADIASI

PENGARUH TEGANGAN TABUNG (KV) TERHADAP KUALITAS CITRA RADIOGRAFI PESAWAT SINAR-X DIGITAL RADIOGRAPHY (DR) PADA PHANTOM ABDOMEN

Analisis Pengaruh Sudut Penyinaran terhadap Dosis Permukaan Fantom Berkas Radiasi Gamma Co-60 pada Pesawat Radioterapi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pemeriksaan Computed Tomography (CT scan) merupakan salah salah

VERIFIKASI PENENTUAN LAJU DOSIS SERAP DI AIR BERKAS FOTON 6 MV DAN 10 MV PESAWAT PEMERCEPAT LINIER MEDIK CLINAC 2100 C MILIK RUMAH SAKIT

PENGARUH VARIASI AIR GAP TERHADAP DOSIS SERAP PENYINARAN BERKAS ELEKTRON PADA PESAWAT LINAC SIEMENS / PRIMUS M CLASS 5633

FAKTOR KOREKSI GEOMETRI DALAM PENGUKURAN DOSIS PADA PHANTOM DENGAN MENGGUNAKAN METODE CTDI DI UDARA DAN CTDI PADA PHANTOM SKRIPSI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit

PENENTUAN NILAI NOISE BERDASARKAN SLICE THICKNESS PADA CITRA CT SCAN SKRIPSI HEDIANA SIHOMBING NIM :

ANALISIS KUALITAS RADIASI DAN KALIBRASI LUARAN BERKAS FOTON 6 DAN 10 MV PESAWAT PEMERCEPAT LINIER MEDIK VARIAN CLINAC CX 4566 ABSTRAK

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR STATIK MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI HIGH ENERGY IODIUM-131 (I 131 )

HUBUNGAN ANTARA LAJU DOSIS SERAP AIR DENGAN LAPANGAN RADIASI BERKAS ELEKTRON PESAWAT PEMERCEPAT LINIER MEDIK ELEKTA

ANALISIS DISTRIBUSI COMPUTED TOMOGRAPHY DOSE INDEX (CTDI) PADA BODY PHANTOM

Pengaruh Ketidakhomogenan Medium pada Radioterapi

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 3, No. 4, Oktober 2014, Hal

KOMPARASI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI INTERNA PEKERJA PPTN SERPONG BERDASARKAN ICRP 30 TERHADAP ICRP 68

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 3, Juli 2014 ISSN

PEMANTAUAN DOSIS RADIASI INTERNAL DENGAN WBC UNTUK PEKERJA PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF SERPONG TAHUN 2012

PREDIKSI DOSIS PEMBATAS UNTUK PEKERJA RADIASI DI INSTALASI ELEMEN BAKAR EKSPERIMENTAL

UJI IMAGE UNIFORMITY PERANGKAT COMPUTED RADIOGRAPHY DENGAN METODE PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

Analisis Persamaan Respon Dosis Thermoluminescent Dosimeter (TLD) Pada Spektrum Sinar-X Menggunakan Metode Monte Carlo

ANALISIS POSISI DETEKTOR TERHADAP STEM EFFECT DAN DOSIS RELATIF UNTUK DOSIMETRI PESAWAT LINAC 6 MV

BAB II Besaran dan Satuan Radiasi

ANALISIS UPTAKE TIROID MENGGUNAKAN TEKNIK ROI (REGION OF INTEREST) PADA PASIEN NODUL TIROID

ANALISIS DOSIS YANG DITERIMA PASIEN PADA PEMERIKSAAN RENOGRAF

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PENGUKURAN DOSIS PAPARAN RADIASI DI AREA RUANG CT SCAN DAN FLUOROSKOPI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG. Novita Rosyida

JImeD, Vol. 1, No. 1 ISSN X

The Method of CT Dosimetry Based on the CTDI (Computed Tomography Dose Index) for the Treatment of the Human's Head

ANALISIS KUALITAS CITRA VERIFIKASI LAPANGAN RADIASI LINAC PADA KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN VARIASI MONITOR UNIT. Skripsi FRILYANSEN GAJAH

STUDI RADIOGRAFI MAKRO DENGAN VARIASI JARAK SUMBER SINAR-BAYANGAN (SID) DAN UKURAN FOKUS TERHADAP PEMBESARAN BAYANGAN

DOSIS PASIEN PADA PEMERIKSAAN SINAR-X MEDIK RADIOGRAFI ABSTRAK

ANALISIS SISA RADIOFARMAKA TC 99M MDP PADA PASIEN KANKER PAYUDARA

ANALISIS POSISI SUMBER RADIOAKTIF COBALT PADA PESAWAT TELETERAPI COBALT-60. Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1

PERBANDINGAN KUALITAS CITRA CT SCAN PADA PROTOKOL DOSIS TINGGI DAN DOSIS RENDAH UNTUK PEMERIKSAAN KEPALA PASIEN DEWASA DAN ANAK

Analisis Dosis Keluaran Berkas Foton dan Elektron Energi Tinggi Pesawat Linac Elekta Precise 5991 Berdasarkan Code of Practice IAEA TRS 398

PENENTUAN TEBAL PERISAI RADIASI PERANGKAT RADIOTERAPI EKSTERNAL Co-60 UNTUK POSISI PENYINARAN

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

ANALISIS KOLIMASI BERKAS SINAR-X PADA PESAWAT FLUOROSCOPY (MOBILE C-ARM) DIRUMAH SAKIT UNIVERSITAS HASANUDDIN

Pengenalan perangkat lunak untuk survei data dosis pasien dalam rangka penyusunan Indonesia Diagnostic Reference Level (I-DRL) P2STPFRZR BAPETEN 2015

ANALISIS PENERIMAAN DOSIS RADIASI DI ORGAN MATA PADA PEMERIKSAAN NASOFARING MENGGUNAKAN CT SCAN

LATAR BELAKANG Latar Belakang Kegiatan Litbangyasa

MDP) MENGGUNAKAN TEKNIK ROI PADA TULANG PANGGUL KIRI DARI PASIEN KANKER PROSTAT

PENENTUAN CT DOSE INDEX (CTDI) UNTUK VARIASI SLICE THICKNESS DENGAN PROGRAM DOSXYZNRC

Jurnal Fisika Unand Vol. 3, No. 2, April 2014 ISSN

ANALISIS IMAGE NOISE DAN NILAI DOSIS RADIASI PENGGUNAAN APLIKASI CARE DOSE 4D DAN NON CARE DOSE 4D PADA PESAWAT MSCT SIEMENS

UJI KESESUAIAN KUALITAS CITRA DAN INFORMASI DOSIS PASIEN PADA PESAWAT MAMMOGRAFI

Tesis diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Fisika SAMSUN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERTEMUAN KE 1 (50 MENIT)

Dhahryan 1, Much Azam 2 1) RSUD 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan Fisika UNDIP

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pendeteksian Tepi Citra CT Scan dengan Menggunakan Laplacian of Gaussian (LOG) Nurhasanah *)

BAB III METODE PENELITIAN. yang mengenai teritori MCA yang dirawat di RSU Kariadi. akut yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Estimasi Dosis Efektif Out of Field dalam Radioterapi LINAC Varian ix pada Kanker Serviks

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA PENGARUH GRID RASIO DAN FAKTOR EKSPOSI TERHADAP GAMBARAN RADIOGRAFI PHANTOM THORAX

UNIVERSITAS INDONESIA

STUDI AWAL UJI PERANGKAT KAMERA GAMMA DUAL HEAD MODEL PENCITRAAN PLANAR (STATIK) MENGGUNAKAN SUMBER RADIASI MEDIUM ENERGY RADIUM-226 (Ra 226 )

Youngster Physics Journal ISSN : Vol. 2, No. 1, April 2013, Hal 27-34

Transkripsi:

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 Helga Silvia 1, Dian Milvita 1, Heru Prasetio 2, Helfi Yuliati 2 1 Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, 25163 2 PTKMR BATAN Jakarta e-mail: helga.silvia@ymail.com ABSTRAK Telah dilakukan penelitian mengenai estimasi CTDI dan dosis efektif pasien bagian head, thorax dan abdomen pada hasil pemeriksaan CT-Scan. Penelitian dimulai dengan mengukur diameter efektif pasien dari citra CT-Scan. Kemudian diameter efektif (D) disubtitusi pada persamaan CTDI w untuk estimasi nilai CTDI pada pasien. Sedangkan dosis efektif dihitung dengan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator dengan data 10 orang pasien masing-masing bagian pemeriksaan menggunakan CT-Scan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: CTDI pasien pada pemeriksaan bagian head berkisar antara 21,09 mgy hingga 26,98 mgy, CTDI 11,26 mgy hingga 32,55 mgy bagian thorax, dan antara 7,72 mgy hingga 19,38 mgy bagian abdomen. Dosis efektif pasien berkisar antara 1 msv hingga 2,8 msv pada bagian head, 8,14 msv hingga 15 msv pada bagian thorax dan 9,14 msv hingga 14 msv pada bagian abdomen. Sedangkan organ yang paling besar mendapatkan dosis efektif pada bagian head adalah otak dan kelenjar saliva, pada bagian thorax adalah paru-paru dan pada bagian abdomen adalah lambung. Semua fungsi yang dihasilkan pada penelitian ini digunakan untuk mengestimasi lebih lanjut nilai CTDI dan dosis efektif yang diameter efektif dan scan length-nya tidak sama dengan nilai yang digunakan pada penelitian ini. Potensi risiko kanker pada pasien pemeriksaan menggunakan CT-Scan relatif kecil yaitu 0,01% pada bagian head, 0,07% pada bagian thorax dan 0,08% pada bagian abdomen. Kata kunci: CTDI, Dosis Efektif, Head, Thorax, Abdomen, CT-Scan ABSTRACT The research was about the estimation of patient effective CTDI value and dose in head, thorax and abdomen part from the result of CT-Scan philips briliance 6 checking. The research was started by counting patient s effective diameter image CT-Scan from citra CT-Scan. Then the effective diameter was subtituted into formula CTDI w for patient s estimation. Meanwhile, effective dose was counting with ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator Software for 10 patient s data for each parts check up by using of CT-Scan. The result show that CTDI value was between 21.09 mgy and 26.9 mgy for head part, 11.26 mgy and 32.5 mgy for thorax part,7.72 mgy and 19.38 mgy for abdomen part. The effective dose of the patient was between 1 msv and 2.8 msv for head part, 8.14 msv and 15 msv for thorax part, 9.14 msv and 14 msv for abdomen part. The organ of the head which got the most effective dose were brain and saliva gland, while on the thorax was lungs and on the abdomen was stomach. All of the equation which is produced from this study, is used to estimate CTDI value and effective dose at the next checking. The potential of cancer risk on the check up by using the CT- Scan was relatively low, those are 0.01% for head part, 0.07% for thorax part and 0.08% for abdomen. Keywords: CTDI, Effective Dose, Head, Thorax, Abdomen, CT-Scan I. PENDAHULUAN Pesawat CT-Scan (Computed Tomography Scan) merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit pada tubuh bagian dalam untuk mengetahui ada tidaknya suatu kelainan. Pesawat CT-Scan mendiagnosis menggunakan radiasi pengion terutama sinar-x. Sinar-X mampu membentuk tubuh manusia menjadi objek yang transparan, sehingga informasi mengenai tubuh manusia bagian dalam menjadi lebih mudah diperoleh tanpa perlu melakukan operasi bedah. CT-Scan dapat digunakan pada berbagai jenis pemeriksaan seperti pemeriksaan head (kepala), thorax (rongga dada), abdomen (rongga perut), dan lain-lain. CT-Scan bagian 128

kepala merupakan jenis pemeriksaan yang banyak dilakukan dibandingkan dengan pemeriksaan bagian tubuh lainnya. Pada saat proses scanning, pasien akan menerima radiasi dari pesawat CT-Scan, sehingga perlu dilakukan perhitungan besarnya dosis radiasi dengan metode CTDI yang diterima oleh pasien setiap pemeriksaan. Computed Tomography Dose Index (CTDI) merupakan integral dari profil dosis D(z) sumbu tunggal scan sepanjang garis tegak lurus terhadap bidang tomografi (z-axis) dibagi dengan produk dari irisan nominal ketebalan (T) (Tsalafoutas, 2011). Nilai CTDI rata-rata yang diperoleh dengan menggunakan phantom disebut dengan CTDI w. Tetapi untuk perkiraan CTDI yang diperoleh oleh pasien disebut CTDI effective. CTDI eff adalah perkiraan dosis berdasarkan koreksi ukuran pasien dengan mengukur diameter efektif pada gambar hasil pencitraan CT-Scan (AAPM, 2011). Dosis radiasi serendah apapun yang diterima pasien akan menimbulkan perubahan pada sistem biologis dan risiko kanker yang didapatkan oleh organ-organ sensitif pada tubuh pasien. Efek biologi dari radiasi tidak hanya tergantung pada dosis radiasi yang mengenai jaringan atau organ, tetapi juga tergantung dari sensitivitas biologi dari jaringan atau organ yang terpapar radiasi, yang disebut dengan dosis efektif. Dosis efektif adalah gambaran dosis radiasi yang direfleksikan dari sensitivitas biologi yang berbeda-beda (Chuninghum, 1983). Sehingga estimasi dosis radiasi perlu dilakukan untuk mengetahui persentasi risiko kanker yang diterima oleh pasien karena radiasi pengion yang dipancarkan pada pemeriksaan CT-Scan. Penelitian mengenai perhitungan dosis radiasi yang diterima pasien pernah dilakukan Munir (2011). Penelitian tersebut yaitu pengukuran dosis radiasi dan faktor risiko pada pemeriksaan CT-Scan Whole Abdomen 3 Fase, dengan menggunakan MSCT Scan merek GE tipe Lightspeed VCT 64 Slice. Hasil penelitian menunjukkan, organ yang paling besar mendapatkan dosis ekuivalen adalah ginjal berkisar dari (32-140) mgy. Dosis efektif yang diterima pasien yaitu berkisar dari (15-64) msv. Potensi risiko tertinggi yang diterima oleh pasien berdasarkan ICRP adalah sebesar 0,32% dengan dosis efektif yang diterima oleh pasien tersebut adalah 64 msv. Penelitian mengenai pengaruh diameter phantom terhadap nilai CTDI pada pemeriksaan CT-Scan telah dilakukan Apriliyanti (2013). Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai CTDI semakin berkurang ketika diameter phantom yang digunakan semakin besar. Nilai CTDI yang dihasilkan pada phantom lebih kecil dari nilai CTDI yang dikeluarkan berdasarkan SK-BAPETEN, hal ini menunjukkan bahwa nilai CTDI yang diterima phantom masih berada di bawah NBD (Nilai Batas Dosis). Penelitian ini melakukan pengujian yang sama dengan Munir (2011) dan Aprilyanti (2013), tetapi adanya penambahan objek scanning pada pasien dan menggunakan pesawat CT- Scan yang berbeda dengan Munir yaitu estimasi CTDI dan dosis efektif bagian head, thorax dan abdomen pasien pada pemeriksaan CT-Scan merek Philips Briliance 6 menggunakan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator, serta menentukan potensi risiko kanker pada pasien yang terpapar radiasi. Perlunya melakukan estimasi nilai CTDI dan dosis efektif, karena tidak mungkin mendapatkan nilai CTDI dan dosis efektif secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Estimasi CTDI yang diterima bagian head, thorax dan abdomen pasien pada pemeriksaan CT-Scan merek Philips Briliance 6. (2) Menentukan dosis efektif yang diterima bagian head, thorax dan abdomen pasien pada pemeriksaan CT-Scan merek Philips Briliance 6 dengan menggunakan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator. (3) Menentukan potensi risiko kanker pada pasien yang terpapar radiasi. II. METODE Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah pesawat CT-Scan merek Philips brilliance yang berfungsi sebagai penghasil radiasi sinar-x, komputer dan console CT-Scan yang berfungsi untuk menampilkan dan menyimpan serta merekam gambar hasil citra dalam bentuk 3 dimensi dan Software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator berfungsi untuk menghitung besarnya dosis efektif yang diterima pasien secara keseluruhan dan organ-organ yang berada di dalam tubuh pasien. 129

2.1 Estimasi Nilai CTDI eff pasien Langkah awal untuk menghitung CTDIeff adalah menentukan diameter efektif pasien dari hasil pencitraan berupa gambar potongan tubuh pasien pada masing-masing bagian hasil pemeriksaan CT-Scan. Diameter efektif dihitung menggunakan Persamaan 1 (AAPM, 2011). Lateral AP D 2 (1) 2 Diameter efektif tersebut digunakan untuk menghitung CTDI w dan faktor konversi. Nilai CTDI w dihasilkan dari subtitusi diameter efektif (D) pasien terhadap persamaan fungsi hubungan diameter phantom dengan CTDI w, yang ditunjukkan pada Persamaan 2 (Aprilyanti, 2013). 2 CTDI w 0,007D 2,047D 72,558 (2) Kemudian nilai CTDI w diolah dengan faktor konversi (f) yang ditentukan oleh AAPM report No. 204 (American Association of Physicists in Medicine) menggunakan Persamaan (3) untuk mendapatkan nilai CTDI eff. Faktor konversi bertujuan agar penampang lintang tubuh pasien dapat disesuaikan dengan ukuran phantom. CTDI eff adalah perkiraan dosis berdasarkan koreksi ukuran pasien dengan mengukur diameter efektif pada gambar hasil pencitraan CT-Scan pasien, yang ditunjukkan pada Persamaan 3 (AAPM, 2011). CTDI CTDI f (3) eff w Nilai CTDI eff yang diperoleh untuk setiap bagian pemeriksaan di-plot untuk mengetahui pengaruh diameter efektif pasien yang digunakan terhadap perubahan nilai CTDI eff. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan suatu persamaan atau fungsi hubungan yang dapat menggambarkan korelasi antara diameter efektif terhadap nilai CTDI eff. Persamaan atau fungsi hubungan yang diperoleh dapat digunakan untuk mengestimasi nilai CTDI pada pasien yang diameter bagian head, thorax dan abdomen tidak sama dengan diameter yang digunakan pada penelitian ini. 2.2 Menentukan Dosis Efektif Pasien Menggunakan Software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator dan Potensi Risiko Kanker Pasien Software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator berfungsi untuk menghitung besarnya dosis efektif yang diterima organ-organ dalam tubuh pasien dengan meng-input data pasien yaitu nilai tegangan tabung, arus tabung, scan length, rotation time dan spiral pitch. Kemudian nilai dosis efektif (H E ) yang dihasilkan dari Software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator diolah dengan faktor resiko kanker (g) untuk mendapatkan persentase potensi risiko kanker pada pasien, ditunjukkan pada Persamaan 4 (ICRP, 2007). Risk g (4) H E III. HASIL DAN DISKUSI 3.1 Estimasi Nilai CTDI eff Pada Hasil Pemeriksaan CT-Scan Hubungan yang dihasilkan antara diameter efektif terhadap perubahan nilai CTDI eff pasien pada pemeriksaan menggunakan CT-Scan bagian head, thorax dan abdomen ditunjukkan pada Gambar 1. Berdasarkan Gambar 1 diperoleh nilai fungsi hubungan diameter efektif terhadap nilai CTDI eff dan koefisien korelasi (R 2 ) yang ditunjukkan pada Tabel 1. Gambar 1 menunjukkan bahwa semakin besar diameter efektif pasien, semakin kecil nilai CTDI eff yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya. Hal ini disebabkan pengaruh diameter efektif tubuh pasien dalam menerima radiasi yang dipancarkan pesawat CT-Scan. Jika diameter efektif tubuh pasien yang digunakan besar, maka dosis radiasi yang dipancarkan memiliki area penyinaran yang lebih luas. Hal ini mengakibatkan dosis radiasi akan menyebar dan terbagi pada area yang lebih luas sehingga dosis radiasi yang diterima tubuh pasien menjadi lebih kecil. Sedangkan jika diameter efektif tubuh pasien yang digunakan kecil, maka dosis radiasi yang dipancarkan memiliki area penyinaran yang lebih kecil. Hal ini mengakibatkan dosis radiasi akan terfokus pada area yang lebih kecil, sehingga dosis radiasi yang diterima akan lebih besar (IAEA, 2007). 130

Gambar 1 Hubungan antara diameter efektif (D) terhadap nilai CTDI eff pasien bagian head, thorax dan abdomen Tabel 1 menampilkan nilai fungsi hubungan antara diameter efektif dengan nilai CTDI eff dan koefisien korelasi (R 2 ) untuk setiap bagian pemeriksaan CT-Scan. Nilai fungsi hubungan yang dihasilkan berbeda-beda, sedangkan nilai koefisien korelasi tetap dalam nilai yang hampir sama yaitu berkisar 0,99. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang terbentuk antara diameter efektif pasien terhadap nilai CTDI eff semakin kuat. Semua nilai fungsi hubungan yang dihasilkan dari grafik, digunakan untuk mengestimasi lebih lanjut nilai CTDI eff yang diameter efektifnya tidak sama dengan diameter efektif pasien pada penelitian ini. Tabel 1 Nilai fungsi hubungan antara diameter efektif (D) dengan nilai CTDI eff dan koefisien korelasi (R 2 ) Bagian Nilai fungsi R 2 Head CTDI eff = -0,032D 2 0,755D + 57,35 R 2 = 0,964 Thorax CTDI eff = 0,115D 2 9,645D + 207,2 R 2 = 0,999 Abdomen CTDI eff = 0,072D 2 6,990D + 166,7 R 2 = 0,991 3.2 Menentukan Dosis Efektif Pasien Pemeriksaan CT-Scan Penentuan estimasi dosis efektif dilakukan dengan menggunakan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator dengan menghitung besarnya dosis radiasi yang diterima pasien secara keseluruhan dan organ-organ yang berada didalamnya. Hubungan yang dihasilkan antara scan length terhadap perubahan nilai dosis efektif pasien pada pemeriksaan CT-Scan bagian head, thorax dan abdomen ditunjukkan pada Gambar 2 dan nilai fungsi hubungan antara scan length dengan dosis efektif pasien dan koefisien korelasi (R 2 ) yang ditunjukkan pada Tabel 2. Pada Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambah besar nilai scan length maka semakin besar juga nilai dosis efektif pasien. Dosis efektif pasien pemeriksaan bagian head berkisar antara (1-2,8) msv, pada pemeriksaan bagian thorax antara (8,14 15) msv dan pemeriksaan bagian abdomen berkisar antara (9,4 14) msv. Hal ini disebabkan scan length pada pemeriksaan bagian head lebih pendek daripada scan length pada pemeriksaan bagian thorax dan abdomen. Dosis radiasi yang diterima pasien akan besar jika nilai scan length-nya besar, disebabkan luasnya daerah penyinaran yang mengakibatkan semakin banyak organ yang bukan merupakan target penyinaran juga terpapari radiasi sehingga menimbulkan dosis efektif yang besar juga pada pasien. 131

Gambar 2 Hubungan antara scan length dengan dosis efektif pasien bagian head, thorax dan abdomen Tabel 2 Nilai fungsi hubungan antara scan length (L) dengan dosis efektif (HE) pasien dan koefisien korelasi (R 2 ) Bagian Nilai fungsi R 2 Head H E = 0,019L 2-0,546L + 4,958 R 2 = 0,974 Thorax H E = 0,008L 2-0,192L + 9,220 R² = 0,994 Abdomen H E = 0,028L 2-2,237L + 54,53 R² = 0,635 Dari Gambar 2 dihasilkan nilai fungsi hubungan dan koefisien korelasi untuk setiap scan length pasien. Untuk nilai koefisien hubungan bagian head dan thorax hampir mendekati 1 yaitu 0,974 dan 0,994. Hal ini menunjukkan bahwa koefisien korelasi yang terbentuk antara scan length pasien terhadap dosis efektif pasien semakin kuat. Tetapi, nilai koefisien korelasi bagian abdomen diperoleh 0,635. Koefisien korelasi antara scan length pasien terhadap dosis efektif pasien tersebut mempunyai hubungan yang cukup kuat. Hal ini disebabkan penentuan kuat arus yang digunakan untuk pemeriksaan CT-Scan bagian abdomen bervariasi setiap pasien tergantung ketebalan tubuh dan tidak tergantung pada scan length pasien. 3.2.1 Dosis Efektif Organ Pasien Pada Hasil Pemeriksaan CT-Scan Bagian Head Gambar 3 Dosis efektif pada organ tubuh pasien bagian head Dosis efektif organ pada tubuh pasien ditunjukkan pada Gambar 3 yang terlihat bahwa organ yang paling sensitif terhadap radiasi yang diberikan pada CT-Scan adalah otak (brain) dan kelenjer saliva (salivary glands) jika dibandingkan dengan kulit (skin). Hal ini dipengaruhi oleh massa otak dan massa kelenjar saliva yang lebih kecil daripada massa organ kulit, 132

walaupun mempunyai faktor bobot jaringan yang sama (ICRP, 2007). Dosis radiasi dipengaruhi oleh energi rata-rata yang diberikan oleh radiasi pengion sebesar de kepada bahan yang dilaluinya dengan massa dm (Chuninghum, 1983). 3.2.2 Dosis Efektif Organ Pasien Pada Hasil Pemeriksaan CT-Scan Bagian Thorax Dosis efektif pada organ tubuh pasien yang diperoleh dari perhitungan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator ditunjukkan pada Gambar 4 dan dapat dilihat bahwa organ yang paling sensitif terhadap radiasi yang diberikan pada CT-Scan adalah Lung (paruparu) dan breast (payudara). Hal ini disebabkan oleh faktor bobot jaringan paru-paru dan payudara lebih besar daripada organ lainnya (ICRP, 2007). Pada Gambar 4, pasien 1, pasien 4, pasien 6, dan pasien 10 menunjukkan bahwa nilai dosis efektif paru-paru sangat besar daripada payudara jika dibandingkan dengan pasien yang lain. Hal ini disebabkan karena scan lenght pada pasien tersebut sangat besar daripada pasien yang lain dan area scan paru-paru lebih panjang daripada area scan payudara, sehingga energi yang diterima oleh paru-paru lebih besar daripada payudara, walaupun massa payudara lebih kecil daripada massa paru-paru. Hal ini dikarenakan dosis radiasi dipengaruhi oleh energi rata-rata yang diberikan oleh radiasi pengion sebesar de kepada bahan yang dilaluinya dengan massa dm (Chuninghum, 1983). Gambar 4 Dosis efektif pada organ tubuh pasien bagian thorax 3.2.3 Dosis Efektif Organ Pasien Pada Hasil Pemeriksaan CT-Scan Bagian Abdomen Gambar 5 Dosis efektif pada organ tubuh pasien bagian abdomen Dosis efektif pada organ tubuh pasien yang diperoleh dari perhitungan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator. Dari Gambar 5 terlihat bahwa organ yang paling sensitif terhadap radiasi yang diberikan pada CT-Scan adalah stomach (lambung). Hal ini disebabkan oleh massa organ lambung lebih kecil daripada massa organ lainnya, sehingga dosis radiasi yang diperoleh semakin besar. Hal ini disebabkan bahwa dosis radiasi dipengaruhi oleh energi rata-rata yang diberikan oleh radiasi pengion sebesar de kepada bahan yang dilaluinya dengan massa dm (Chuninghum, 1983). Jika dosis radiasi yang diperoleh besar dan faktor bobot 133

jaringan lambung lebih besar daripada organ lainnya, menyebabkan dosis efektif akan semakin besar (Chuninghum, 1983). 3.3 Potensi Risiko Kanker pada Pasien Pemeriksaan CT-Scan Menurut literatur ICRP 103, potensi resiko terkena kanker pada pasien dapat diperkirakan dengan mengasumsikan hubungan respon dosis atau dosis efektif. Dosis efektif tertinggi pada pemeriksaan bagian head adalah 2,8 msv dengan potensi resiko kanker sebesar 0,01%. Pada pemeriksaan CT-Scan bagian abdomen dosis efektif yang paling besar adalah 15 msv dengan potensi risiko sebesar 0,08%. Sedangkan pada pemeriksaan CT-Scan bagian thorax, dosis efektif yang paling besar adalah 14 msv dengan potensi risiko sebesar 0,07%. Perkiraan potensi terkena kanker pada pasien masih dalam persentase yang kecil. Hal ini disebabkan karena pemeriksaan yang dilakukan pasien hanya 1 kali dan dipengaruhi nilai kuat arus yang diberikan relatif kecil. Sedangkan nilai tegangan yang digunakan sama setiap pemeriksaan yaitu 120 kv. IV. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa estimasi nilai CTDI pasien pada bagian head lebih besar daripada nilai CTDI pasien pada bagian thorax dan abdomen. CTDI pasien pada pemeriksaan bagian head berkisar antara (21,09 26,98) mgy, CTDI bagian thorax antara (11,26-32,55) mgy dan CTDI bagian abdomen antara (7,72 19,38) mgy. Dari penelitian ini juga diperoleh bahwa semakin besar diameter efektif pasien maka semakin kecil nilai CTDI yang dihasilkan. Kemudian penentuan dosis efektif pasien pada bagian head lebih kecil daripada dosis efektif pasien bagian thorax dan abdomen. Dosis efektif pasien pemeriksaan bagian head berkisar antara (1-2,8) msv, pada pemeriksaan bagian thorax antara (8,14 15) msv dan pemeriksaan bagian abdomen berkisar antara (9,4 14) msv. Dari penelitian ini juga diperoleh bahwa semakin besar scan length pasien pada pemeriksaan menggunakan CT-Scan maka semakin besar dosis efektif yang dihasilkan. Sedangkan dosis efektif organ yang paling besar pada bagian head adalah otak dan kelenjar saliva, bagian thorax adalah paru-paru dan bagian abdomen adalah lambung. Hal ini dipengaruhi oleh faktor bobot jaringan dan massa organ tersebut. Jika faktor bobot jaringan bernilai besar, sedangkan massa organ tersebut kecil, maka dosis efektif organ pasien menjadi besar. Semua nilai fungsi hubungan yang dihasilkan pada penelitian ini, digunakan untuk mengestimasi lebih lanjut nilai CTDI dan dosis efektif yang diameter efektif dan scan lengthnya tidak sama dengan nilai yang digunakan pada penelitian ini. Sedangkan potensi risiko kanker pada pasien yang melakukan pemeriksaan menggunakan CT- Scan relatif kecil yaitu pada bagian head sebesar 0,01%, bagian thorax sebesar 0,08% dan bagian abdomen sebesar 0,07%. DAFTAR PUSTAKA American Association of Physicists in Medicine (AAPM), 2011, Size- Spesific Dose Estimates (SSE) in Pediatric and Adult Body CT examination, AAPM Report 204, USA. Aprilyanti, D. D., 2012, Pengaruh Diameter phantom dan Tebal Slice Terhadap Nilai CTDI Pada Pemeriksaan CT-Scan, Skripsi, Universitas Andalas, Padang. Chuninghum, J., 1983, The Physics of Radiology, Fourth Edition,. Illinois : Charles C Thomas Publiser. IAEA, 2007, Dosimetry in Diagnostic Radiology : An International Code of Practice, Technical Reports Series no. 457, Vienna, Austria. ICRP, 2007, Recommendations of the International Commission on Radiological Protection Publication 103, Annals of the ICRP, Elsevier Publications, Oxford, UK. Munir, M., 2011,Dosis Radiasi Dan Faktor Resiko Pada Pemeriksaan CT Scan Whole Abdomen 3 Phase, Skripsi, Universitas Indonesia,Jakarta. Tsalafoutas, I.A., 2011,A Method for Calculating Dose Length Product from CT DICOM Images, Volume 43, The British Journal of Radiology, halaman 236. 134