BAB 2 DATA DAN ANALISA

dokumen-dokumen yang mirip
Alternatif Pemecahan Masalah Transportasi Perkotaan

Persyaratan Teknis jalan

Manajemen Pesepeda. Latar Belakang 5/16/2016

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

PEDOMAN. Perencanaan Median Jalan DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. Konstruksi dan Bangunan. Pd. T B

KONSEP THE CITY OF PEDESTRIAN. Supriyanto. Dosen Tetap Prodi Teknik Arsitektur FT UNRIKA Batam

BAB V MEDIAN JALAN. 5.2 Fungsi median jalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

No Angkutan Jalan nasional, rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi, dan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkuta

LAMPIRAN A HASIL CHECKLIST LANJUTAN PEMERIKSAAN INSPEKSI KESELAMATAN JALAN YOGYAKARTA SOLO KM 10 SAMPAI DENGAN KM 15

Penempatan marka jalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perda No. 19/2001 tentang Pengaturan Rambu2 Lalu Lintas, Marka Jalan dan Alat Pemberi Izyarat Lalu Lintas.

1. Manajemen Pejalan Kaki

Manajemen Pesepeda. Latar Belakang 5/3/2016

機車標誌 標線 號誌選擇題 印尼文 第 1 頁 / 共 12 頁 題號答案題目圖示題目. (1) Tikungan ke kanan (2) Tikungan ke kiri (3) Tikungan beruntun, ke kanan dahulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB V PENUTUP

BAB II KOMPONEN PENAMPANG MELINTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Contoh penyeberangan sebidang :Zebra cross dan Pelican crossing. b. Penyeberangan tidak sebidang (segregated crossing)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan

Perencanaan Geometrik & Perkerasan Jalan PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

2 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5422); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 34

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 60 TAHUN 1993 T E N T A N G MARKA JALAN MENTERI PERHUBUNGAN

TERMINAL PENUMPANG/TERMINAL BUS

PEDOMAN. Perencanaan Separator Jalan. Konstruksi dan Bangunan DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. Pd. T B

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. diangkut selalu bertambah seperti pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Pd T Perambuan sementara untuk pekerjaan jalan

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

機車標誌 標線 號誌是非題 印尼文 第 1 頁 / 共 15 頁 題號答案題目圖示題目. 001 X Tikungan beruntun, ke kiri dahulu. 002 O Persimpangan jalan. 003 X Permukaan jalan yang menonjol

Spesifikasi geometri teluk bus

BUPATI PASURUAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA LALU LINTAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berpotongan/bersilangan. Faktor faktor yang digunakan dalam perancangan suatu

Penampang Melintang Jalan Tipikal. dilengkapi Trotoar

BAB I PENDAHULUAN. Bertambahnya penduduk seiring dengan berjalannya waktu, berdampak

Rekayasa Lalu Lintas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen Fasilitas Pejalan Kaki dan Penyeberang Jalan. 1. Pejalan kaki itu sendiri (berjalan dari tempat asal ke tujuan)

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. atau jalan rel atau jalan bagi pejalan kaki.(

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perhubungan Darat : SK.43/AJ 007/DRJD/97).

PEDOMAN PERENCANAAN FASILITAS PENGENDALI KECEPATAN LALU LINTAS

BAB III LANDASAN TEORI. memberikan pelayanan yang optimal bagi pejalan kaki.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kendaraan itu harus berhenti, baik itu bersifat sementara maupun bersifat lama atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

di kota. Persimpangan ini memiliki ketinggian atau elevasi yang sama.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, jalan perkotaan

BAB II KERANGKA TEORITIS. NO.: 011/T/Bt/1995 Jalur Pejalan Kaki yang terdiri dari :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

TATA CARA PERENCANAAN PEMISAH NO. 014/T/BNKT/1990

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Munawar, A. (2004), angkutan dapat didefinisikan sebagai

PERANCANGAN KOTA. Lokasi Alun - Alun BAB III

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka semakin banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelumnya, maka dengan ini penulis mengambil referensi dari beberapa buku dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut MKJI (1997) ruas Jalan, kadang-kadang disebut juga Jalan raya

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG. Nomor 3 Tahun 2002 Seri C PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ser

BAB III LANDASAN TEORI. hanya melibatkan satu kendaraan tetapi beberapa kendaraan bahkan sering sampai

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN. Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan

Persyaratan umum sistem jaringan dan geometrik jalan perumahan

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : HK.205/1/1/DRJD/2006 TENTANG

PERENCANAAN WILAYAH KOMERSIAL STUDI KASUS RUAS JALAN MARGONDA DEPOK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II JEMBRANA NOMOR 18 TAHUN 1994 T E N T A N G

UPAYAPENGGUNAANSEPEDA SEBAGAI MODA TRANSPORTASI DI KOTA SURABAYA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 34 TAHUN 2014 TENTANG MARKA JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB III LANDASAN TEORI

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT TENTANG ZONA SELAMAT SEKOLAH (ZoSS). Pasal 1

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jalan. Ketika berkendara di dalam kota, orang dapat melihat bahwa kebanyakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Rambu Peringatan Rambu Petunjuk. Rambu Larangan. Rambu Perintah dan Rambu Lokasi utilitas umum

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 4 (Empat)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perancangan Fasilitas Pejalan Kaki Pada Ruas Jalan Cihampelas Sta Sta Kota Bandung Untuk Masa Pelayanan Tahun 2017 BAB I PENDAHULUAN

BAB III LANDASAN TEORI. diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 Tentang Angkutan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perlu dirinci dan dicatat ciri khasnya, termasuk tingkat pelayanan dan

TEKNIK LALU LINTAS MATERI PERKULIAHAN. Simpang ber-apill (Alat Pengatur Isyarat Lalu Lintas)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data yang ada maka dapat diambil

MASALAH LALU LINTAS DKI JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB III LANDASAN TEORI Penentuan Fasilitas Penyeberangan Tidak Sebidang

BAB 2 LANDASAN TEORI. merupakan Upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan terlebih dulu

BAB III LANDASAN TEORI. Jalan Wonosari, Piyungan, Bantul, banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang

Transkripsi:

BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1. Data Umum Jalur sepeda adalah jalur lalu lintas yang khusus diperuntukan bagi pengguna sepeda, dipisahkan dari lalu lintas kendaraan bermotor untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas pengguna sepeda. 2.1.1. Jalur sepeda: 1. Jalur sepeda terdiri dari tiga jenis: a) Jalur sepeda (bike path), adalah jalur sepeda yang sepenuhnya terpisah dari jalan raya dan seringkali dipadukan dengan fasilitas untuk pejalan kaki. b) Lajur sepeda (bike lane), adalah bagian dari jalan yang ditandai dengan marka untuk penggunaan pengendara sepeda. Biasanya dibuat searah dengan arus lajur bermotor, meski bisa didesain juga untuk berlaku dua arah pada salah satu sisi jalan. c) Rute sepeda (bike route). Rute sepeda adalah desain yang digunakan bersama antara lalu lintas bermotor dengan sepeda. 2. Pemilihan jenis jalur sepeda yang dapat digunakan didasarkan pada volume dan kecepatan lalu lintas bermotor. 3. Jalur sepeda berjenis lajur sepeda dan rute sepeda diletakkan di bagian paling kiri dari lajur lalu lintas bermotor, baik dengan mengurangi lebar lajur lalu lintas maupun dengan memperlebar jalan untuk konstruksi jalur sepeda. 4. Dalam hal kebutuhan khusus misalnya di jalan satu arah, jalur sepeda dapat dibuat khusus di satu sisi jalan dengan dua arah. 5. Dimensi jalur sepeda adalah: a) Lebar minimum 1,0 meter, direkomendasikan 1,5 meter untuk jalur satu arah b) Lebar minimum 1,8 meter, direkomendasikan 2,4 meter untuk jalur dua arah c) Ruang bebas tinggi untuk jalur sepeda adalah 1,8 meter, direkomendasikan 2,25 meter 6. Kemiringan jalur sepeda adalah maksimal 7% direkomendasikan 5%. 4

5 7. Jalur sepeda dapat dipisahkan dengan pembatas fisik terhadap jalur lalu lintas bermotor dengan desain yang memungkinkan jalur sepeda masih bisa dilewati kendaraan bermotor dalam kondisi darurat 8. Pemisah fisik dimaksud dapat berupa pembedaan ketinggian, traffic cone dan divider. 9. Perkerasan yang digunakan untuk jalur sepeda harus dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya, yaitu: a) tidak terlalu memberikan getaran bagi sepeda untuk aspek kenyamanan sehingga jenis permukaan yang halus tapi tidak licin adalah yang baik, b) tidak tergenang air ketika hujan, sehingga desain perkerasan harus mempertimbangkan jenis perkerasan yang dapat ditembus air atau dengan desain geometris jalur yang mempunyai kemiringan untuk mengalirkan air memasuki drainase jalan yang ada. 10. Jenis-jenis perkerasan yang dapat digunakan adalah: a) Soil cement, yaitu tanah dicampur dengan semen secara merata kemudian dipadatkan. b) Crushed aggregate, yaitu hancuran batu yang diratakan kemudian dipadatkan c) Aspal d) Beton e) Tanah f) Material daur ulang 2.1.2. Rambu Dan Marka Beberapa konsep dasar pokok yang perlu diperhatikan dalam melakukan perencanaan sinyal, rambu dan marka jalur sepeda adalah sebagai berikut : 1. Sinyal, rambu dan marka yang digunakan pada jalur sepeda dipasang dengan tujuan untuk memberikan tingkat visibilitas yang tinggi kepada lalu lintas bermotor terhadap keberadaan pengguna sepeda di jalan. 2. Sinyal dan rambu dipasang dengan tujuan untuk mengatur lalu lintas bermotor maupun untuk pengguna sepeda 3. Prinsip pemasangan marka adalah: a) Marka garis warna putih, dengan pengaturan jenis garis sesuai dengan kebutuhan jalur sepeda. b) Marka lambang warna putih. c) Marka warna emulsi warna hijau untuk jalur di area penyeberangan. 2.1.3. Persimpangan Beberapa prinsip yang digunakan dalam mendesain persimpangan untuk jalur sepeda adalah : 1. Modifikasi simpang eksisting, yaitu memodifikasi simpang eksisting baik secara fisik (geometrik) maupun dengan pengaturan sinyal, rambu dan marka untuk lalu lintas penyeberangan sepeda.

6 2. Untuk jalan-jalan perkotaan dengan lalu lintas yang padat, dapat didesain perlintasan tidak sebidang baik dengan konstruksi underpass maupun overpass. 2.1.4. Bundaran Beberapa prinsip yang digunakan dalam mendesain jalur sepeda pada bundaran adalah : 1. Pengaturan pada bundaran, dilakukan untuk memberikan pengguna sepeda akses teraman melintasi bundaran, yaitu dengan membuat jalur di sekeliling terluar bundaran dengan pengaturan pada interaksi antara kendaraan bermotor dan sepeda. 2.1.5. IN-OUT Bangunan Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan jalur sepeda berkaitan dengan keluar masuknya sepeda menuju bangunan adalah: 1. Penggunaan rambu peringatan akan adanya jalur sepeda pada setiap pintu masuk dan keluar bangunan. 2.1.6. Park On Street Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan jalur sepeda berkaitan dengan Park On Street / Parkir di Badan Jalan adalah : 1. Jika jalur sepeda didesain melewati jalan dengan parkir di badan jalan, maka jalur sepeda diletakkan menempel pada jalur lalu lintas bermotor. 2. Satuan ruang parkir di badan jalan dengan jalur sepeda harus memperhatikan keselamatan dan kelancaran pengguna sepeda. 2.1.7. Penyeberangan Beberapa prinsip yang digunakan dalam mendesain penyeberangan untuk jalur sepeda adalah : 1. Modifikasi simpang eksisting, yaitu memodifikasi simpang eksisting baik secara fisik (geometrik) maupun dengan pengaturan sinyal, rambu dan marka untuk lalu lintas penyeberangan sepeda. 2. Penyeberangan di ruas jalan, yaitu penyeberangan sepeda di tengah ruas jalan. 3. Pengaturan sinyal, rambu dan marka dapat berupa penyeberangan sepeda tersendiri maupun dikombinasikan dengan penyeberangan pejalan kaki untuk jalan-jalan perkotaan dengan lalu lintas yang padat, dapat didesain perlintasan tidak sebidang baik dengan konstruksi underpass maupun overpass. 2.1.8. Fasilitas Parkir Sepeda Untuk meningkatkan daya tarik transportasi sepeda, diperlukan fasilitas parkir sepeda dengan lokasi :

7 1. Ujung-ujung jalur/koridor dimana pengguna sepeda akan berganti aktivitas, baik menuju ke moda berikutnya (bus, kereta) atau tujuan akhir (kantor, sekolah, perdagangan/komersial). 2. Perletakan parkir sepeda ini dapat diletakkan di dekat halte bus sehingga mempercepat akses dari menggunakan sepeda ke berjalan kaki. 3. Karena pertimbangan keamanan, lokasi parkir sepeda ini dapat juga diletakkan dekat gedung/fasilitas terdekat atau emplasmen kereta. 2.1.9. Sarana Dan Prasarana Pendukung Integrated Angkutan Umum Hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan perencanaan/ design jalur sepeda dengan sarana dan prasarana pendukung, terutama yang berkaitan dengan integrated angkutan umum adalah sebagai berikut : 1. Dalam rangka memberikan kenyamanan bagi pengguna sepeda yang melakukan perjalanan di malam hari, jalur sepeda wajib diterangi lampu penerangan jalan. 2. Ukuran dan kekuatan lampu menyesuaikan dengan penerangan jalan umum. 3. Transportasi sepeda dapat diintegrasikan dengan angkutan umum. 4. Beberapa strategi dalam rangka memadukan pelayanan sepeda dan angkutan umum adalah : a) Perangkat pembawa sepeda di angkutan umum, bisa berupa rak yang dipasang di bus atau ruang khusus yang disiapkan di kereta api. b) Penyimpanan sepeda di perhentian angkutan umum, yang aman dari tindak pencurian dan perusakan terhadap sepeda. c) Akses sepeda ke terminal/shelter, dilakukan dengan menyediakan jalur, ramp, dan fasilitas pergerakan lain yang memungkinkan pengguna sepeda mampu mengakses shelter atau terminal dengan baik. d) Penyediaan akses ini dapat juga dilengkapi dengan peta dan petunjuk arah menuju shelter/ terminal terdekat serta peta yang menunjukkan posisi shelter/ terminal terhadap jalur sepeda akan sangat membantu. 2.1.10. Dimensi Sepeda Sepeda yang menjadi dasar dalam perencanaan jalur sepeda ini adalah jenis standar dengan ukuran rata-rata lebar 60 cm, panjang 1,9 2,0 meter dan tinggi 1 meter. Jika dikendarai, sepeda ini membutuhkan minimal ruang bebas 20 cm di kiri dan kanan sehingga sebuah pergerakan satu arah membutuhkan minimal 1 meter lebar jalur. 2.2. Data Khusus Jalur sepeda yang akan dibuat di Jakarta, khususnya dimulai dari Jakarta Selatan ini akan masuk dalam tahap realisasi. Tetapi masih banyak sekali masyarakat yang belum tau benar secara detail dengan informasi ini dan prosesnya dan tahap pembuatannya yang masih belum signifikan.

8 Data melalui kuisioner ke masyarakat : apakah anda telah mengetahui bahwa di jakarta akan dibangun jalur sepeda? Tidak : 45% sedikit tau : 46% tau benar : 10% Gambar 2.2.1 1. Proses perealisasian jalur sepeda ini pun mengalami banyak halangan karena banyak hal seperti : 2. Tanggal kepastian dan bulan realisasi belum ditentukan dengan pasti, tetapi dalam kajiannya sudah dipastikan tahun ini sudah harus bisa dipakai karena sudah mencapai proses pengaspalan untuk jalur sepeda (bagian aspal untuk jalur sepeda lebih tinggi dari jalanan) tetapi masih belum ada kelanjutannya, berdasarkan hasil wawancara dengan Mochamad Rizal SUDIN Perhubungan Kota Administrasi Jakarta Selatan. 3. Kurangnya rambu yang mengatur karena banyak rambu yang masih belum disetujui dan seharusnya mengikuti standart internasional untuk rambu jalur sepeda, hanya satu rambu yang sudah disetujui menteri perhubungan yang tertera di KEPMENHUB Nomor. KM 61 th 1993 tanggal 9 Sept 1993 tentang rambu. Desain dari rambu itu seperti berikut: gambar 2.2.2

9 4. Belum adanya sosialisasi dan pemberitahuan kepada masyarakat secara mendetail. 5. Jalan yang akan dibuat jalur sepeda masih belum jelas karena masih dalam kajian belum sampai pelaksanaan, sedangkan yang sudah sampai pelaksanaan yaitu Jalan Taman Ayodya sampai dengan Jalan Melawai sepanjang kurang lebih 1,5 km. Jalur dari Taman Ayodya sampai ke melawai dibuat di bagian sisi kiri jalan satu arah, sedangkan jalur dari Jalan Melawai sampai Taman Ayodya dibuat di bagian sisi kiri jalan dua arah. Berikut gambar peta Taman Ayodya sampai Jalan Melawai (warna hijau adalah bagian yang akan dibuat jalur sepeda) : Gambar 2.2.3 6. Fasilitas yang akan dibuat masih belum mendukung kenyamanan para pengguna sepeda yang akan menggunakan jalur sepeda itu, hanya parkiran sepeda yang sudah masuk kajian, dan menurut kuisioner yang penulis bagikan ke masyarakat fasilitas ini masih sangatlah kurang. 7. Fasilitas yang akan dibuat belum ada bentuk pastinya. 8. Perbandingan dengan Luar Negeri Belanda (dikutip dari Kompasiana.com Belanda, Negeri sepeda) Berdasarkan keterangan dari salah satu situs lokal, 62 % perjalanan di negeri ini dilakukan dengan bersepeda, Wow. Baik orang muda maupun tua, Baik itu laki-laki maupun perempuan, mereka lebih memilih menggunakan sepeda untuk bepergian. Tanah di sini cukup datar, jarang yang naik turun seperti di Indonesia, sehingga memudahkan bagi pengendara sepeda untuk menempuh perjalanan jauh sekalipun.

10 Di negeri ini setiap orang bisa bersepeda dengan aman dan nyaman, karena terdapat jalur khusus untuk sepeda. Di setiap jalan terdapat dua jalur sepeda untuk masing-masing arah sesuai dengan jalan untuk kendaraan. People can do anything on their bike here. Yup, kalimat tersebut sepertinya sesuai dengan kenyataan di negeri ini. Disini setiap orang bisa bersepeda sambil melakukan banyak aktivitas, bisa nelpon sambil bersepeda, membawa belanjaan, bawa anak, bahkan sambil makan. Dari segi lingkungan, penggunaan sepeda juga merupakan hal yang efektif untuk menghindari pencemaran. Satu lagi, dengan bersepeda juga berarti berolahraga setiap hari. Kita tak perlu lari berputar mengelilingi lapangan. Cukup dengan bersepeda setiap hari pada saat bepergian. Sikap para pengendara di sini juga sangat ramah, Pengendara mobil akan berhenti pada saat sepeda melewati jalan. takkan ada yang memberi klakson walaupun kita bersepeda dengan lambat. Bahkan bus pun akan memperlembat jalannya. Pokoknya belanda ibarat surga bagi pengendara sepeda. 2.3 Analisa SWOT 1. Strength: Jalur sepeda yang akan dibangun di Jakarta dimulai dari Jakarta Selatan ini merupakan salah satu pembangungan positif dalam memperbaiki Jakarta 2. Weakness: Masih banyak kendala dan halangan dalam pembuatan dan realisasinya, mulai dari segi rambu, fasilitas dan banyak hal lainnya. 3. Opportunities: Jalur sepeda yang akan dibangun ini adalah salah satu solusi yang mungkin bisa memperbaiki keadaan Jakarta dan dapat menarik masyarakat untuk naik sepeda dalam menjalani aktifitas sehari-harinya dan bisa menyehatkan manusia Jakarta dari berbagai aspek. 4. Threats: Di setiap ide dan solusi yang muncul pasti akan menimbulkan masalah baru karena dibutuhkannya adaptasi atas solusi yang direalisasikan itu.