BAB I PENDAHULUAN. C. Tujuan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA TENTANG SINDROM TRAUMA DAN COGNITIVE-BEHAVIOR THERAPY

Cognitive-Behavior Therapy: Solusi Pendekatan Praktek Konseling di Indonesia

REDUKSI SINDROM TRAUMA TSUNAMI MELALUI COGNITIVE-BEHAVIOR THERAPY 1

Oleh Nandang Rusmana, M.Pd

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Manusia senantiasa mendambakan kehidupan yang harmonis, tentram,

BAB III METODE PENELITIAN

KONSELING TRAUMATIK Pendekatan Cognitif-Behavior Therapy

Psikologi Konseling Konseling Berbasis Problem

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia

BAB I PENDAHULUAN. fenomena---teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy)

BAB II PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE THERAPY DALAM KELUARGA

A. Konsep Dasar. B. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

TERAPI RASIONAL EMOTIF Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si, psikolog*

BAB I PENDAHULUAN. yang tak kunjung mampu dipecahkan sehingga mengganggu aktivitas.

A. Identitas : Nissa (Nama Samaran)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang menghadapi

BAB I PENDAHULUAN. lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB IV ANALISIS DATA. yang diperoleh dari penyajian data adalah sebagai berikut:

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa

BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DENGAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY DALAM MENGATASI KESENJANGAN KOMUNIKASI SEORANG ADIK TERHADAP

BAB I PENDAHULUAN. mengindikasikan gangguan yang disebut dengan enuresis (Nevid, 2005).

MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PERCERAIAN ORANG TUA DENGAN OPTIMISME MASA DEPAN PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang sangat luar biasa, karena anak akan menjadi generasi penerus dalam keluarga.

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

Keadaan tersebut menunjukkan perilaku membeli yang ditunjukkan remaja tidak lagi dilakukan karena suatu kebutuhan, melainkan karena alasan-

BAB I PENDAHULUAN. orangtua, akan tetapi pada kenyataannya tidak semua pasangan dikarunia anak. merasa bangga dan bahagia ketika harapan tersebut

TUGAS INSTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING MODEL STAKE

BAB I PENDAHULUAN. orang disepanjang hidup mereka pasti mempunyai tujuan untuk. harmonis mengarah pada kesatuan yang stabil (Hall, Lindzey dan

BAB V PENUTUP. terjadi tiga macam kekerasan, meliputi kekerasan psikis, fisik, dan. penelantaran rumah tangga namun kekerasan psikis lebih dominan.

BAB I PENDAHULUAN. berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri. Pasangan

ADJOURNING BAB I PENDAHULUAN

PENINGKATAN SELF EFFICACY PESERTA DIDIK MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK KOGNITIF. Oleh: Andi Riswandi Buana Putra, M.

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua perasaan takut bermula dari masa kanak-kanak karena pada

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Fobia sering kali dimiliki seseorang. Apabila terdapat perasaan takut

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.

Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku

BAB I PENDAHULUAN. muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya.

The problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem. Do you understand?

BAB II TINJAUAN TEORI. (dalam Setiadi, 2008).Menurut Friedman (2010) keluarga adalah. yang mana antara yang satu dengan yang lain

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, khususnya di

BAB II BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM, COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY, KECEMASAN, CULTURE SHOCK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. bahkan kalau bisa untuk selama-lamanya dan bertahan dalam menjalin suatu

KONSEP DASAR. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.

BAB IV BKI DENGAN TERAPI RASIONAL EMOTIF ANAK YANG TIDAK MENERIMA AYAH TIRINYA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perasaan kurang percaya diri banyak terjadi pada remaja. Pada masa

2. Faktor pendidikan dan sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai manusia yang telah mencapai usia dewasa, individu akan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga

BAB I PENDAHULUAN. A. Konteks Penelitian (Latar Belakang Masalah) Perkawinan merupakan salah satu titik permulaan dari misteri

BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Kerangka Teori Pelecehan seksual. A. Pengertian Pelecehan Seksual

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang memiliki dorongan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam membangun hidup berumah tangga perjalanannya pasti akan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Dari uraian yang telah disampaikan dari Bab I sampai Bab IV, maka dapat

BAB I PENDAHULUAN. pasangan (suami) dan menjalankan tanggungjawabnya seperti untuk melindungi,

A. LATAR BELAKANG Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah sesuatu yang sangat tabu dan menyakitkan sehingga wajib dihindari akan tetapi, anehnya hal

KONSEP, FUNGSI DAN PRINSIP BIMBINGAN DI TAMAN KANAK-KANAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. kecelakaan lalu lintas yang cukup parah, bisa mengakibatkan cedera

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun teori-teori yang dijelaskan adalah teori mengenai

BAB I PENDAHULUAN. dengan keluarga utuh serta mendapatkan kasih sayang serta bimbingan dari orang tua.

I. PENDAHULUAN. lain. Menurut Supratiknya (1995:9) berkomunikasi merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan

BAB I PENDAHULUAN. minat, sikap, perilaku, maupun dalam hal emosi. Tingkat perubahan dalam sikap

BAB III PENYAJIAN DATA. lokasi penelitian, yaitu di YOGA ATMA CONSULTING PEKANBARU. Counsulting Pekanbaru, penulis mendapatkan informasi bahwasanya :

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,

KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK CBT UNTUK MENINGKATKAN KEMANTAPAN PEMILIHAN KARIR PESERTA DIDIK KELAS XI UPTD SMA NEGERI 1 TANJUNGANOM SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial, selalu berinteraksi dengan lingkungannya.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP DOSEN PEMBIMBING DENGAN TINGKAT STRESS DALAM MENULIS SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. yang membedakan dengan makhluk lainnya. Kelebihan yang dimiliki manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sintia Dewi,2013

BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN

BAB II TEKNIK KONSELING DALAM TEORI GESTALT

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan proses belajar mengajar, diantaranya siswa, tujuan, dan. antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.

BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2

BAB I PENDAHULUAN. artinya ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di

BAB IV ANALISIS DATA

I. PENDAHULUAN. luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.

BAB II LANDASAN TEORI A. HARGA DIRI Menurut Coopersmith harga diri merupakan evaluasi yang dibuat oleh individu dan berkembang menjadi kebiasaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. langgeng hingga akhir hayat mereka. Namun, dalam kenyataannya harapan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, banyak persoalan yang mengitarinya. Persoalan-persoalan individu ada yang bersifat pribadi dan ada yang bersifat social. Keduanya akan selalu jalin menjalin dalam kehidupan seorang manusia. Artinya persolan yang bersifat pribadi bias berpengaruh terhadap persoalan yang bersifat social dan juga sebaliknya. Dapat dikatakan bahwa karena kompleksnya persoalan yang dialami oleh manusia baik sebagai individu maupun makhluk sosial, tidak semuanya dapat dipecahkan sendiri oleh individu. Adakalanya individu perlu melibatkan orang lain untuk memecahkan persoalannya. Dalam kondisi demikian kehadiran dan intervensi bimbingan terutama bimbingan pribadi dan sosial menjadi sangat berarti. B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diajukan beberapa rumusan masalah dan pertanyaan, di antaranya: 1. Bagaimana teori dan konsep Cognitive-Behavior Therapy (CBT)? 2. Apa tujuan dari Cognitive-Behavior Therapy (CBT)? 3. Apa saja teknik Cognitive-Behavior Therapy (CBT)? 4. Bagaimana proses terapi CBT? C. Tujuan Pembahasan 1

Adapun tujuan dari penyusunan Makalah Teknik Cognitive- Behavior Therapy (CBT) ini adalah sebagai berikut: 1. Memahami teori dan konsep Cognitive-Behavior Therapy (CBT) 2. Memahami tujuan dari Cognitive-Behavior Therapy (CBT) 3. Mengetahui teknik-teknik Cognitive-Behavior Therapy (CBT) 4. Mengetahui dan memahami proses terapi CBT D. Metodelogi Penulisan Makalah ini disusun dengan cara menggunakan beberapa metodelogi antara lain: 1) Studi Literatur adalah diadakan dengan maksud untuk memperoleh landasan berfikir sebagai penunjang dalam melakukan pembahasan 2) Tinjauan kepustakaan adalah dengan melakukan pendekatan buku yang berhubungan dengan tema laporan observasi sebagai sumber 3) Metode pencarian info melalui internet E. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan dari Makalah Teknik Cognitive-Behavior Therapy (CBT) ini adalah sebagai berikut: KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Pertanyaan C. Tujuan dan Manfaat D. Metodologi 2

E. Sistematika Penulisan BAB II PEMBAHASAN A. Teori dan Konsep Cognitive-Behavior Therapy (CBT) B. Tujuan Terapi C. Teknik Cognitive-Behavior Therapy (CBT) D. Proses Terapi CBT BAB III ANALISIS A. Analisis Teoritis B. Analisis Praktis BAB IV KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA 3

BAB II PEMBAHASAN A. Teori dan Konsep Cognitive-Behavior Therapy (CBT) Para ahli yang Cognitive-Behavior Therapy (CBT) salah satu pendekatan terapi yang lebih integratif daripada pendekatan terapi lain seperti yang berorientasi pada pendekatan psikodinamik, behavioristik, humanistik, dan pendekatan yang berorientasi pada budaya. CBT merupakan sebuah pendekatan yang memiliki pengaruh dari pendekatan cognitive therapy dan behavior therapy. Oleh sebab itu, Matson & Ollendick (1988: 44) mengungkapkan bahwasanya CBT merupakan perpaduan pendekatan dalam psikoterapi yaitu cognitive therapy dan behavior therapy. Sehingga langkahlangkah yang dilakukan oleh cognitive therapy dan behavior therapy ada dalam terapi yang dilakukan oleh CBT. Matson & Ollendick (1988: 44) mengungkapkan definisi cognitive-behavior therapy yaitu pendekatan dengan sejumlah prosedur yang secara spesifik menggunakan kognisi sebagai bagian utama terapi. Fokus terapi yaitu persepsi, kepercayaan dan pikiran. Tergabung dalam National Association of Cognitive- Behavioral Therapists (NACBT), mengungkapkan bahwa definisi dari cognitive-behavior therapy yaitu suatu pendekatan psikoterapi yang menekankan peran yang penting berpikir bagaimana kita merasakan dan apa yang kita lakukan. (NACBT, 2007) Bush (2003) mengungkapkan bahwa CBT merupakan perpaduan dari dua pendekatan dalam psikoterapi yaitu 4

cognitive therapy dan behavior therapy. Terapi kognitif memfokuskan pada pikiran, asumsi dan kepercayaan. Terapi kognitif memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan. CBT didasarkan pada konsep mengubah pikiran dan perilaku negatif yang sangat mempengaruhi emosi. Melalui CBT, individuterlibat aktivitas dan berpartisipasi dalam training untuk diri dengan cara membuat keputusan, penguatan diri dan strategi lain yang mengacu pada self-regulation (Matson & Ollendick Teori Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 6) pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak. CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan perasaannya, individu diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, CBT adalah pendekatan terapi yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. CBT merupakan terapi yang dilakukan untuk meningkatkan dan merawat kesehatan mentalari negatif menjadi positif. B. Tujuan Terapi Tujuan dari terapi Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 9) yaitu mengajak individu untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan 5

dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. CBT dalam pelaksanaan terapi lebih menekankan kepada masa kini dari pada masa lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu. CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat ini untuk dirubah dari status kognitif negatif menjadi status kognitif positif. CBT merupakan terapi yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke masa depan dibanding masa lalu. Aspek kognitif dalam CBT antara lain mengubah cara berpikir, kepercayaan, sikap, asumsi, imajinasi dan memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek kognitif. Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas. C. Teknik Cognitive-Behavior Therapy (CBT) CBT adalah pendekatan psikoterapeutik yang digunakan oleh konselor atau terapis untuk membantu individu ke arah yang positif. Berbagai variasi teknik perubahan kognisi, emosi dan tingkah laku menjadi bagian yang terpenting dalam Cognitive-Behavior Therapy. Metode ini berkembang sesuai dengan kebutuhan siswa, di mana konselor bersifat aktif, direktif, terbatas waktu, berstruktur, dan berpusat pada siswa. 6

Konselor atau terapis cognitive-behavior biasanya menggunakan berbagai teknik intervensi untuk mendapatkan kesepakatan perilaku sasaran dengan siswa. Teknik yang biasa dipergunakan oleh para ahli (McLeod, 2006: 157-158) yaitu: a. Menata keyakinan irasional. b. Bibliotherapy, menerima kondisi emosional internal sebagai sesuatu yang menarik ketimbang sesuatu yang menakutkan. c. Mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri dalam role play dengan konselor. d. Mencoba penggunaan berbagai pernyataan diri yang berbeda dalam situasi ril. e. Mengukur perasaan, misalnya dengan mengukur perasaan cemas yang dialami pada saat ini dengan skala 0-100. f. Menghentikan pikiran, individu belajar untuk menghentikan pikiran negatif dan mengubahnya menjadi pikiran positif. g. Desentisisasi sistematis. Digantinya respons takut dan cemas dengan respon relaksasi yang telah dipelajari. h. Pelatihan keterampilan sosial. i. Assertiveness skill training atau pelatihan keterampilan supaya bisa bertindak tegas. j. Penugasan rumah. Memperaktikan perilaku baru dan strategi kognitif antara sesi terapi. k. In vivo exposure. Mengatasi situasi yang menyebabkan masalah dengan memasuki situasi tersebut. CBT merupakan bentuk psikoterapi yang sangat memperhatikan aspek peran dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Terdapat beberapa pendekatan dalam psikoterapi CBT termasuk didalamnya pendekatan Rational Emotive Behavior 7

Therapy, Rational Behavior Therapy, Rational Living Therapy, Cognitive Therapy, dan Dialectic Behavior Therapy. D. Proses Terapi CBT Menurut teori Cognitive-Behavior yang dikemukakan oleh Aaron T. Beck (Oemarjoedi, 2003: 12), terapi cognitive-behavior memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan. Setiap langkah disusun secara sistematis dan terencana. Berikut akan disajikan proses terapi cognitive-behavior. Tabel 2.1 Proses Terapi Berdasarkan Teori Cognitive-Behavior No. Proses Sesi 1. Assesmen dan Diagnosa 1-2 2. Pendekatan Kognitif 2-3 3. Formulasi Status 3-5 4. Fokus Terapi 4-10 5. Intervensi Tingkah Laku 5-7 6. Perubahan Core Beliefs 8-11 7. Pencegahan 11-12 Oemarjoedi (2003: 12) Melihat kultur yang ada di Indonesia, penerapan sesi yang berjumlah 12 sesi pertemuan dirasakan sulit untuk dilakukan. Oemarjoedi (2003: 12) mengungkapkan beberapa alasan tersebut berdasarkan pengalaman, di antaranya: a. Terlalu lama, sementara individumengharapkan hasil yang dapat segera dirasakan manfaatnya. 8

b. Terlalu rumit, di mana individu yang mengalami gangguan umumnya datang dan berkonsultasi dalam kondisi pikiran yang sudah begitu berat, sehingga tidak mampu lagi mengikuti program terapi yang merepotkan, atau karena kapasitas intelegensi dan emosinya yang terbatas. c. Membosankan, karena kemajuan dan perkembangan terapi menjadi sedikit demi sedikit. d. Menurunnya keyakinan individuakan kemampuan terapisnya, antara lain karena alasan-alasan yang telah disebutkan di atas, yang dapat berakibat pada kegagalan terapi. Berdasarkan beberapa alasan di atas, penerapan terapi cognitive-behavior di Indonesia sering kali mengalami hambatan, sehingga memerlukan penyesuaian yang lebih fleksibel. Jumlah pertemuan terapi yang tadinya memerlukan sedikitnya 12 sesi bisa saja diefisiensikan menjadi kurang dari 12 sesi. Sebagai perbandingan Oemarjoedi (2003: 24) mengungkapkan efisiensi terapi bisa dilakukan hingga menjadi 5 sesi. Efisiensi terapi menjadi 5 sesi diharapkan dapat memberikan bayangan yang lebih jelas dan mengundang kreativitas yang lebih tinggi. Berikut akan disajikan tahapan terapi yang diungkapkan oleh Oemarjoedi (2003: 24-26): Tabel 2.2 Proses Terapi Cognitive-Behavior yang Telah Disesuaikan Dengan Kultur di Indonesia No. Proses Sesi 1. Assesmen dan Diagnosa 1 2. Mencari Emosi Negatif, Pikiran 2 9

Otomatis dan Keyakinan Utama Yang Berhubungan Dengan Gangguan 3. Menyususn Rencana Intervensi 3 Dengan Memberikan Konsekwensi positif-negatif Kepada Siswa 4. Formulasi Status, Fokus Terapi, 4 Intervensi Tingkah Laku 5. Pencegahan 5 Oemarjoedi (2003: 24-26) BAB III ANALISIS A. Analisis Teoritis CBT (NACBT, 2007; Oemarjoedi, 2003) merupakan teknik terapi yang menitikberatkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. Terapi CBT mengarahkan individu pada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan otak sebagai penganalisis, pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Kemudian mengarahkan individu untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan. Individu yang mengalami suatu bencana yang merugikan bagi dirinya cenderung menyebabkan efek traumatis bagi dirinya, seperti bencana tsunami. Individuyang mengalami bencana tsunami cenderung akan mengalami trauma. Bencana tsunami tersebut merupakan suatu kejadian yang merugikan bagi dirinya baik secara fisik maupun psikis. Hal ini terjadi karena individu mengalami trauma dalam jangka waktu relatif 10

panjang akan memaksakan individu untuk meningkatkan stimulus melebihi yang biasa dilakukan oleh orang normal yang tidak mengalami trauma. Kemudian individu yang mengalami trauma akan secara terus menerus memikirkan pengalaman traumatisnya dari pada memikirkan masa kini dan masa depannya. Untuk itu, diperlukan suatu penanganan khusus untuk mereduksi bahkan mengeluarkan individu dari pengalaman traumanya. Dalam kaitan sindrom trauma, CBT akan meberikan bantuan untuk mereduksi sindrom trauma. Di mana langkahlangkah secara operasional akan di sajikan seperti berikut: Pertama, memfasilitasi individubelajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek kognitif. Menurut para ahli CBT, suatu kondisi psikis atau fisik terjadi karena adanya pengolahan informasi pada struktur kognitif yang menyimpang. Individu yang mengalami trauma struktur kognitifnya telah berubah menjadi negatif karena pengalaman traumatis akibat bencana tsunami. Kedua, mengubah hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan. Dampak dari struktur kognitif yang menyimpang, akan membawa individu pada kondisi emosi yang labil. Sehingga daya nalar pun tidak berjalan normal. Individu yang mengalami trauma cenderung berada pada kondisi yang salah dalam mereaksi setiap situasi permasalahan. Ketiga, individu belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas. CBT akan menghantarkan individuuntuk melakukan pelatihan agar dapat mereduksi sindrom trauma yang dialaminya serta membuat keputusan yang lebih tepat. 11

B. Analisis Praktis Psikoterapi, Contoh Aplikasi Cognitive Behavior Therapy (CBT) Seorang wanita berusia 39 tahun, telah menikah dan sekarang bermasalah. Suaminya sekarang tinggal di rumah orangtuanya gara-gara ketahuan menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan dia. Mereka ribut dan dia menuntut suaminya untuk menceraikannya. Suaminya keberatan karena merasa tidak tega meninggalkan anak yang telah dilahirkan dari wanita tersebut. Suaminya berjuang mengutuhkan kembali hubungan mereka dengan cara sering membawa anak mereka mengunjungi bapaknya di rumah kakek dan neneknya. Semangatnyq terbang melayang karena orang tua suami tidak berusaha menyatukan mereka kembali. Suaminya malah membiarkan wanita itu tinggal di rumah tersebut. Yang menjadi masalah adalah suaminya juga tidak mau menceraikan dia. Dia stress menghadapi hubungan yang terkatung katung. Pekerjaan dan kesehatannya terganggu.dan pikirannya buntu. Keluarga menghendaki mereka bercerai. Dia belum mantap menuntut perceraian karena dia masih memiliki harapan rumah tangganya pulih kembali. Diagram CBT Suami Selingkuh, Orang Tidak membantu. Tua mau What Think You Suami tidak lagi mencintai keluarganya. How You Feel Ditinggalkan dan ditelantarkan What You Do Minta bantuan mertua 12

Suami harus kembali kepada saya Keluarga harus kembali,meskipun harus berjuang sendiri. Hubungan Perkawinan terasa menyiksa Dikhianati Merasa tidak lengkap tanpa suami Terkatungkatung oleh hubungan yang tak pasti Meminta suami menceraikan istri keduanya Mengajak anak untuk menjenguk ayahnya. Stres, pikiran buntu, mengganggu pekerjaan dan kesehatan 1. Penjelasan Sisi Kognitif a) Konseli mempunyai suatu pemahaman yang menyesakkan atas suatu peristiwa, yang disertai pula dengan adanya keluhan gangguan pola hidup keseharian dan gangguan fisik b) Konseli menganggap bahwa perkawinan yang terbina adalah merupakan tanggungjawabnya seorang untuk menyelamatkannya dan bertindak seperti super woman, sehingga konseli merasa marah apabila ada orang yang dianggap menghambat misi nya itu (dalam hal ini mertua yang tidak mau menjembatani permasalahan keluarga.hambatan yang dialami konseli, membuat konseli merasakan stres dan gangguan fisiknya. c) Konseli menganggap bahwa semua yang dialaminya, menempatkan dirinya pada posisi yang tertekan 13

2. Pengelolaan Sisi Kognitif a) Summarizing: menyimpulkan tentang permasalahan yang dihadapi konseli. b) Reframing: memandang dari sudut pandang konseli tentang permasalahannya. c) Mengubah keyakinan yang salah: memberikan dorongan dorongan untuk membantu konseli mencari bukti dari pikiran-pikiran dan konsekuensi yang dihadapinya. Contoh: Konseli diubah keyakinannya bahwa ia berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain. Konseli memfasilitasi bantuan untuk membuat konseli sadar bahwa ia juga berhak minta bantuan dari suami, mertua, atau orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.konseli juga diajarkan untuk bisa bersikap tenang dalam menghadapi masalah, sehingga tidak mempengaruhi faktor fisikna. d) Konfrontasi: Mengubah ketidakkonsistensian pikiran konseli Mengubah Irrasional Belief. Misalnya: Konseli menyalahkan semua orang yang ada didalamnya, konselor, mengkonfrontasikan, karena ada kemungkinan juga konseli juga menyumbang andil dalam pecahnya hubungan perkawinan itu. 3. Penjelasan Sisi Behavior a) Menggunakan prinsip dasar classical conditioning dari Ivan.Pavlov. b) Terapi Behavior diperlukan untuk melemahkan hubungan antara situsi permasalahan dengan reaksi yang timbul darinya. 14

c) Sisi perilaku yang dihadapi konseli adalah, bahwa konseli merasa kebingungan apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. d) Konseli juga menghadapi kemarahan dan kekecewaan yang berakibat terganggunya kegiatan pekerjaan, dan juga gangguan fisik lainnya. e) Prinsip dari sisi behavior adalah bahwa perilaku yang mengganggu, apabila tidak mendapatkan dukungan dari pikiran yang salah (secara kognitif) maka akan menjadi lemah.hal ini disebut Extinction f) Di sisi lain, dengan sisi behavior ini, konseli diberikan tantangan untuk tetap berada dalam masalahnya, selama ia tidak berani untuk menghadapi masalahnya itu. 4. Pengelolaan Sisi Behavior a) CBT bersifat aktif,dimana terapis banyak terlibat dalam pemilihan pilihan dan tugas individu. b) Tujuan yang akan dicapai direncanakan secara matang. c) Pemberian tugas tugas dan pemantauan kepada konseli untuk mempercepat proses penyembuhan. d) Exploring options: Konselor aktif menyodorkan pilihanpilihan perilaku kepada konseli. e) Facilitating actions: konselor memberikan tugas untuk mempercepat penyembuhan konseli. 15

BAB IV KESIMPULAN CBT merupakan sebuah pendekatan yang memiliki pengaruh dari pendekatan cognitive therapy dan behavior therapy. Oleh sebab itu, Matson & Ollendick (1988: 44) mengungkapkan bahwasanya CBT merupakan perpaduan pendekatan dalam psikoterapi yaitu cognitive therapy dan behavior therapy. Sehingga langkah-langkah yang dilakukan 16

oleh cognitive therapy dan behavior therapy ada dalam terapi yang dilakukan oleh CBT. CBT didasarkan pada konsep mengubah pikiran dan perilaku negatif yang sangat mempengaruhi emosi. Melalui CBT, individuterlibat aktivitas dan berpartisipasi dalam training untuk diri dengan cara membuat keputusan, penguatan diri dan strategi lain yang mengacu pada self-regulation (Matson & Ollendick, 1988: 44). Tujuan dari terapi Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 9) yaitu mengajak individu untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong individuuntuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri individudan secara kuat mencoba menguranginya. Konselor atau terapis cognitive-behavior biasanya menggunakan berbagai teknik intervensi untuk mendapatkan kesepakatan perilaku sasaran dengan siswa. Teknik yang biasa dipergunakan oleh para ahli (McLeod, 2006: 157-158) yaitu: menata keyakinan irrasional, Bibliotherapy, mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri dalam role play dengan konselor, mencoba penggunaan berbagai pernyataan diri yang berbeda dalam situasi ril, mengukur perasaan, misalnya dengan mengukur perasaan cemas yang dialami pada saat ini dengan skala 0-100, menghentikan pikiran. Individu belajar untuk menghentikan pikiran negatif dan mengubahnya menjadi pikiran positif, desentisisasi sistematis, pelatihan keterampilan sosial, assertiveness skill training atau pelatihan keterampilan supaya bisa bertindak tegas, penugasan rumah dan in vivo exposure. 17

Menurut teori Cognitive-Behavior yang dikemukakan oleh Aaron T. Beck (Oemarjoedi, 2003: 12), terapi cognitive-behavior memerlukan sedikitnya 7 sesi pertemuan. Setiap langkah disusun secara sistematis dan terencana. Ketujuh sesi tersebut adalah assesmen dan diagnosa, pendekatan kognitif, formulasi status, fokus terapi, intervensi tingkah laku, perubahan core beliefs dan pencegahan. melihat kultur yang ada di Indonesia, penerapan sesi yang berjumlah 7 sesi pertemuan dirasakan sulit untuk dilakukan, maka diringkas menjadi 5 sesi yaitu assesmen dan diagnosa, mencari emosi negatif, pikiran otomatis dan keyakinan utama yang berhubungan dengan gangguan, menyususn rencana intervensi dengan memberikan konsekwensi positif-negatif kepada siswa, formulasi status, fokus terapi, intervensi tingkah laku dan pencegahan. 18