PROBLEMATIKA KESULITAN BELAJAR STATISTIK

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tentang hubungan kematangan emosi dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP NEGERI IX

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita

KATA PENGANTAR. Palangkaraya, 09 Maret Penulis

BAB I PENDAHULUAN. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Definisi Kesalahan Menyelesaikan Soal

FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK JURNAL

BAB II KAJIAN TEORI. suatu maksud atau tujuan tertentu. Maka strategi identik dengan teknik, siasat

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu sasaran yang sangat penting untuk. mencapai pembangunan nasional. Untuk mencapai tujuan pembangunan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA STKIP PGRI PASURUAN PADA POKOK BAHASAN TEKNIK PENGINTEGRALAN

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoretis. 1. Hasil Belajar. a. Pengertian Hasil Belajar

BAB I PENDAHULUAN. berpikir yang melibatkan berpikir konkret (faktual) hingga berpikir abstrak tingkat

BAB V PEMBAHASAN. Setelah peneliti memaparkan data dan menghasilkan temuan temuan, pelajaran Matematika pada materi pembagian

KESULITAN BELAJAR PADA PESERTA DIDIK

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Sulit Belajar 09:39:00 AM,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman.

Hakikat Belajar dan Pembelajaran A. Belajar dan Pembelajaran

DESKRIPSI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR DI SMK NEGERI 2 GORONTALO. Jufri Idris, Wenny Hulukati, Rustam Husain ABSTRAK

PERLU DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN IPA DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGAJARAN REMIDIAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN TEORI. lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. rumusan kuntitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif.

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA KELAS VII SEMESTER GANJIL SMP PGRI 3 BANDAR LAMPUNG

Sutamat Amin, Patni Ninghardjanti, Jumiyanto Widodo. Pendidikan Administrasi Perkantoran. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PSIKOLOGI BELAJAR DAPAT MEMBANTU PARA GURU MEMBANGUN MOTIVASI DAN MINAT BELAJAR SISWA Oleh Drs. Rusli, M.Si. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dina Herlina, 2014

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN DISIPLIN TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA DI SMP KARYA INDAH KECAMATAN TAPUNG FITRIANI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Belajar adalah suatu kegiatan yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Belajar

I. TINJAUAN PUSTAKA. yang dikutip oleh Winataputra (2003: 2.3) bahwa belajar adalah suatu proses

PENGARUH SUASANA BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP INTENSITAS BELAJAR SERTA DAMPAKNYA PADA PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

BAB II LANDASAN TEORITIK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Oemar Hamalik (2001: 27) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kajian Teori

Oleh: Rusmiati SD Negeri 1 Punjul Karangrejo Tulungagung

HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI BENTUK ALJABAR DI KELAS VII SMP NEGERI 1 BANDA ACEH TAHUN PELAJARAN 2013/2014

BAB II KAJIAN TEORI. yang dihadapi. Untuk mempertegas pengertiannya, berikut adalah berbagai pengertian

yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

BAB I PENDAHULUAN. sehingga kelangsungan hidup manusia akan berjalan dengan lancar dan optimal.

BAB II. mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun sikap.12 Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan

BAB II KAJIAN TEORI. murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya. 1. anak setelah melakukan suatu kegiatan belajar. 2

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TUTOR SEBAYA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII PELAJARAN IPS TERPADU DI SMP N 10 PADANG JURNAL

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, 2013, hlm Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Rasail Media Group, Semarang, 2008, hlm.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. terus belajar dengan orang orang yang berada disekitar lingkungan mereka.

I. PENDAHULUAN. informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan yang bermutu atau berkualitas

BAB V PEMBAHASAN. 1. Strategi yang dilakukan Guru Fiqh dalam Meningkatkan Prestasi. Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqh

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan terdiri dari akademik dan non akademik. Pendidikan. matematika merupakan salah satu pendidikan akademik.

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

BAB I PENDAHULUAN. bermacam-macam. Model yang diajarkan disini memakai model Inquiry Based

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, nilai dan norma kepada manusia yang dapat di harapkan

PEMBELAJARAN MENYATU DENGAN BENGKEL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATERI DAN PERUBAHANNYA DI SMK

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terutama yang tidak terbiasa dengan sistem pembelajaran di Fakultas

ARTIKEL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KREATIVITAS MENGAJAR GURU MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 1 BOLAANG UKI

ANALISIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 26 PADANG

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut Komalasari (2013:58-59) pembelajaran berbasis masalah adalah:

BAB V PEMBAHASAN. A. Korelasi Kinerja Pengawas PAI Dengan Kinerja Guru PAI di Sekolah Dasar Negeri Se -Kecamatan Basarang Kabupaten Kuala Kapuas.

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR, MINAT BACA TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

HUBUNGAN ANTARA KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMKN

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kerangka Teoretis. 1. Pengertian Belajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar

BAB I PENDAHULUAN. Tetapi hal ini masih banyak diterapkan diruang-ruang kelas dengan alasan

BAB II KAJIAN TEORI. baik guru maupun siswa pada proses pembelajaran. Bagi guru, strategi

Scaffolding 4 (1) (2015) Scaffolding.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Oleh: Sri Arita dan Susi Evanita ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

PENGELOLAAN KELAS DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Transkripsi:

PROBLEMATIKA KESULITAN BELAJAR STATISTIK Nusrotus Sa idah UNISNU Jepara Abstrak Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar. Usaha untuk mengatasi masalah kesulitan belajar statistik secara konsep. Mengidentifikasi mahasiswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar: melokalisasi letak kesulitan belajar,menentukan faktor penyebab kesulitan belajar, memperkirakan alternatif bantuan, menetapkan kemungkinan cara mengatasinya, tindak lanjut dan evaluasi. Kata Kunci: problematika, statistik I. PENDAHULUAN Dalam proses belajar, pendidik sering menghadapi masalah adanya siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar. Biasanya masalah yang dihadapi para guru di sekolah adalah gejala atau manifestasi adanya kesulitan belajar yang ditampakkan dalam bentuk-bentuk tingkah laku tertentu. Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, ketrampilanya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya dan aspek lain yang ada pada individu (Sudjana,2005:28). Sama halnya belajar mengajarpun pada hakikatnya adalah suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan belajar (Sudjana, 2005:29). Menurut pendapat diatas dapat disimpulkan belajar adalah Suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen dan menetap karena adanya intereaksi individu dengan lingkungan. Prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih peserta didik, jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan 54

gangguan. Ancaman, hambatan ini dialami oleh peserta didik sehingga prestasi belajar menjadi tidak meningkat karena salah satu indikasi adanya kesulitan yang dihadapi masing-masing siswa. Dengan adanya indikasi penurunan prestasi belajar yang akan menjadi salah satu penyebab kesulitan belajar pada siswa. Prestasi belajar dikatakan rendah dapat dibandingkan prestasi belajar temen-teman di kelas dan dibandingkan dengan prestasi belajar yang pernah dicapai sebelumnya. Kesulitan belajar adalah Suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang tidandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah norma yang telah ditetapkan. Suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan ini merupakan kesultan belajar.kondisi yang demikian disebabkan oleh kondisi biologis dan psikologis, terutama berkenaan dengan kelainan fungsi otak yang lazim disebut sebagai kesulitan dalam belajar spesifik, serta factor psikologis yaitu kesulitan belajar yang berkenaan dengan rendahnya motivasi dan minat belajar. Dari segi faktor psikologis kesulitan belajar berkenaan dengan rendahnya minat belajar siswa ini dapat dilihat dalam pembelajaran statistik. Pembelajaran statistik sangatlah menjadi katakutan tersenderi karena menurut anggapannya adalah statitik itu sangat sulit. Daya serap dan kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan permasalahan yang diberikan tergolong rendah. Tingkat pemahaman dan karakteristik potensi dari setiap mahasiswa berbeda-beda. Agar peserta didik dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, maka memerlukan suasana yang tepat dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya para pendidik termasuk dosen untuk meningkatkan diri baik dari pengetahuan maupun proses pembelajarannya. Keanekaragaman kemampuan intelegensi mahasiswa khususnya dalam statistik sangat bervariasi. Kesulitan belajar statistik ini banyak faktor yang dilihat dari intern maupun ekstern dalam proses pembelajaran. Melihat realita dari pembelajaran statistik ini menjadi bahan untuk mengkaji lebih jauh tentang masalah kesulitan belajar dalam pembelajaran statistik. II. KAJIAN TEORI DAN PEM- BAHASAN A. Kajian teori 1. Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan inti dari keseluruhan dalam pendidikan dimana pemeran utamanya adalah guru. Proses belajar mengajar ini adalah 55

terjadi interaksi antara siswa dengan pendidik yang berlangsung dalam situasi edukatif demi mencapai tujuan tertent. Keberhasilan dan kegagalan seorang mahasiswa berasal dari pribadi masingmasing. Dalam menanggapi hal tersebut seorang mahasiswa harus dimulai dari sikap dan cara berpikir untuk dikembangkan. Semua orang dapat mengoptimalkan potensi kelebihan dan meminimalkan kekurangan yang dimiliki. Hal ini akan menjadi arah untuk menuju kesuksesan yang akan diraih mahasiswa. Menurut gagne yang dikutip oleh Ngalim Purwanto (2013:84) menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu siatuasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Menurut pendapat ahli seacara umum belajar dapat disimpulkan sebagai tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam aktivitas sehari-hari manusia hampir tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar, baik dalam individu atau aktivitas sendiri atau, maupun dalam kelompok. Sesungguhnya dalam aktivitas sehari-hari dinamakan kegiatan belajar. Menurut Muhibbin Syah (2014:93) menyatakan bahwa belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar tidak pernah ada pendidikan. Arti pentingnya kita belajar adalah mempertahankan kehidupan sekelompok manuasia (bangsa) ditengah-tengah persaingan yang sangat ketat dalam era globalisasi. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal kita sebagai pendidik dituntut dalam membimbing siswa/ mahasiswa. Dalam kegiatan membimbing itu saja tidak cukup kita perlu mendiagnosa dari siswa/mahasiswa dalam proses belajar mengajar. 2. Kesulitan Belajar a. Pengertian Kesulitan Belajar Dalam proses belajar pendidikan tidak hanya sekedar mentransfer ilmu atau menyampaikan materi pembelajaran tetapi pendidik dituntut bertanggung jawab untuk mengetahui perkembangan peserta didik/ mahasiswa. Kegiatan untuk memahami kesulitan belajar atau mengetahui keadaan peserta didik inilah yang disebut diagnosis kesulitan belajar. Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan- 56

hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar. Dalam bukunya Supporting Students with Learning Dissibilities menyatakan bahwa Ketidakmampuan belajar mungkin juga melibatkan kesulitan dengan keterampilan organisasi, sosialpersepsi, interaksi sosial dan pengambilan perspektif. Menurut Muhibbin Syah (2014:170) menyatakan bahwa kesulitan belajar tidak hanya menimpa pada siswa yang berkemampuan rendah tetapi berkemampuan dibawah standarpun juga dikatakan kesulitan belajar. Siswa/ mahasiswa yang berkemapuan normal (rata-rata standar) dapat mengalami kesulitan belajar yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan. Kesulitan belajar mencakup pengertian yang luas dan termasuk halhal di bawah ini: 1) Learning Disorder adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. 2) Learning Disabilities adalha ketidakmampuan seseorang yang mengacu pada gejala dimana anak tidak mampu tidak mampu belajar, sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya. 3) Learning Disfunction adalah gejala yang menunjukkan dimana proses belajar mengajar seseorang tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda sub normalitas mental, gangguan alat indera atau gangguan psikologis lainnya. 4) Underachiever adalah mengacu pada anak-anak yang memiliki potensi intelektual diatas normal tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. 5) Slow Learner adalah anak yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih banyak. Pembelajaran statistik termasuk rumpun matematika disini sangatlah menjadi perhatian bagi mahasiswa karena dianggap sulit. Hal ini hanyalah anggapan semata bagi mahasiswa tetapi pembelajaran statistik sangat menarik apabila kita sudah memulai dengan perasaan senang dengan statitik. Kemampuan dalam pembelajaran statitik bukan hanya sekedar mengetahui, mendefinisikan, memahami tetapi menghitung dengan berbagai program aplikasi statistik sehingga dapat menyimpulkan atau menginterpretasikan data. Kemampuan mahasiswa pun beraneka ragam, baik dalam menanggapi pembelajaran pada umumnya maupun 57

matematika pada khususnya. Berbagai hal yang menyangkut mahasiswa itu juga berkembang bersama lingkungan belajarnya, baik yang langsung dirasakan mahasiswa maupun yang tidak secara langsung b. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar Dalam proses belajar mengajar kita menjadi seorang pendidik tidak hanya menyampaikan materi dalam kelas atau sekedar berbicara didepan kelas tanpa melihat kondisi siswa sebenarnya dalam mengikuti pembelajaran. Menjadi seorang guru diperlukan tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan kemajuan kompetensi dari masingmasing siswa. Seringkali kita sebagai seorang pendidik menemui masalah atau kesulitan dalam pembelajaran baik itu proses memahami materi pembelajaran sampai dengan melakukan ujian. Masalah keluhan itu timbul bukan semata-mata sebagai suatu reaksi spontan terhadap suatu keadaan, akan tetapi biasanya mulai dirasakan sebagai akibat dari suatu peristiwa yang kadangkadang sudah berlangsung lama atau berlarut-larut. Pada anak-anak didik kita mengalami kesulitan belajar yang dialami di sekolah karena adanya keluhan-keluhan sebagai berikut: a. Tidak ada minat terhadap pelajaran dan bersikap acuh tak acuh. b. Tidak menerima penyampaian dari seorang pendidik. c. Prestasi sekolah menurun atau tidak ada kemajuan sama sekali. d. Timbulnya sikap-sikap atau tingkah laku yang tidak diinginkan. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan matematika mahasiswa khususnya pembelajaran statistik. Faktor tersebut dari internal maupun eksternal mahasiswa. Menurut Muhibbin Syah (2014:170) menyatakan bahwa faktor kesulitan belajar dilihat dari internal dan eksternal: 1) Faktor Internal Faktor intern ini meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik dari individu, yakni : a) Bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa b) Bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap c) Bersifat psikomotorik (ranah karsa), anatara lain seperti tergannggunya alat pendengaran dan penglihatan. 2) Faktor Ekstern, hal hal dan kondisi sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar 58

a) Lingkungan keluarga: hal ini dikarenakan ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga b) Lingkungan masyarakat: wilayah lingkungan yang kumuh (slum area), dan teman sepermainan yang nakal (peer group) c) Lingkungan universitas, kondisi letak gedung universitas yang buruk, kondisi profesionalitas dosen dan fasilitas belajar yang berkualitas rendah. c. Jenis-jenis Kesulitan Belajar Matematika Berdasarkan karakteristiknya matematika mempunyai kajian abstrak. Ada dua objek dari kajian matematika yakni, kajian langsung dan tak langsung. Objek langsung kajian matematika meliputi fakta, konsep, skill, dan prinsip sedangkan objek tak langsung meliputi kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, berpikir positif terhadap matematika, serta tahu bagaimana cara belajar. 1) Fakta Fakta dalam matematika tersirat dalam simbol tertentu. Fakta meliputi istilah (nama), simbol (notasi) dan lain-lain. Fakta ini dapat dipelajari dengan menghafal, banyak latihan, peragaan dan sebagainya. 2) Konsep Konsep adalah idea abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Peserta didik harus membentuk konsep melalui pengalaman sebelumnya (prakonsepsi) diikuti latihan soal untuk memahami pengertian suatu konsep. Prakonsepsi adalah konsep awal yang dimiliki peserta didik tentang suatu objek yang akan digunakan untuk memahami konsep selanjutnya. Konsep dibangun dari definisi, seperti kalimat, simbol, atau rumus yang menunjukkan gejala sebagaimana yang dimaksudkan konsep. Contohnya "koefisien" adalah angka-angka didepan variabel. 3) Skill(ketrampilan) Skill adalah kemampuan memberikan jawaban dengan tepat dan cepat keterampilan adalah suatu prosedur atau aturan untuk mendapatkan atau memperoleh suatu hasil tertentu. Sehingga Skill dapat diartikan sebagai suatu prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan soal-soal dalam jangka waktu tertentu (cepat) dan benar. 4) Prinsip Prinsip adalah objek matematika yang kompleks, dapat berupa gabungan beberapa konsep, bebe- 59

rapa fakta, yang dibentuk melalui operasi dan relasi. menggungkapkan prinsip dapat berupa aksioma/ postulat, teorema, sifat dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa prinsip adalah hubungan diantara konsep-konsep. Contohnya untuk mengerti prinsip Analysis Of Variance (ANOVA) mahasiswa harus menguasai konsep antara lain: analisis regresi sederhana, analisis regresi berganda, dan model statistik linier. B. Pembahasan Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Sebagai pendidik yakni dosen selayaknya juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin. Sebelum menangani sebuah masalah kesulitan belajar sebagai pendidik hendaknya mencari tahu penyebab utama mahasiswa menangkap materi pembelajaran dengan kata lain kita melakukan diagnosa mahasiswa dalam kesulitan belajar. Ada beberapa tahapan Untuk mengatasi masalah kesulitan belajar mahasiswa khususnya dalam pembelajaran statistik yaitu: 1. Mengidentifikasi mahasiswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar 2. Melokalisasi letak kesulitan belajar 3. Menentukan faktor penyebab kesulitan belajar 4. Memperkirakan alternatif bantuan 5. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya 6. Tindak lanjut. III. KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari pembahasan makalah ini adalah: 1. Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar 2. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar pada anak didik yaitu faktor intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri) dan faktor ekstern (faktor dari luar diri/ lingkungan) 3. Jenis-jenis kesulitan belajar khususnya dalam pembelajaran Statistik adalah: a. Fakta: dalam statistik fakta termasuk simbol b. Konsep: idea abstrak yang dapat digunakan untuk menggolong- 60

kan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. c. Skill : kemampuan memberikan jawaban dengan tepat dan cepat d. Prinsip: Prinsip adalah objek matematika yang kompleks 4. Usaha untuk mengatasi masalah kesulitan belajar statistik secara konsep sebagai berikut: a. Mengidentifikasi mahasiswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar b. Melokalisasi letak kesulitan belajar c. Menentukan faktor penyebab kesulitan belajar d. Memperkirakan alternatif bantuan e. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya f. Tindak lanjut dan evaluasi. IV. SARAN a. Bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar hendaknya bertanya kepada teman ataupun dosen. b. Bagi para dosen atau pengajar harus lebih memahami karakteristik anakanak didiknya sehingga para mahasiswa lebih mudah memahami pelajaran c. Adanya tindak lanjut dalam penulisan artikel ini dalam sebuah penelitian sebagai analisis tindak lanjut diagnosa kesulitan belajar. DAFTAR PUSTAKA https://inspirasibelajar.wordpress.com/2 011/03/19/pengertian-prosesbelajar-mengajar/(dikutip tanggal 5 Oktober 2015) Malim, Muhammad dan Kusno. 2014. Analisis Kesulitan Belajar Mahasiswa pada Mata kuliah Model Linear. Prosding Seminar Nasional. Purwokerto. Muhibbin, 2014. Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Purwanto, Ngalim. 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo Siregar,eveline dan Hartini Nara. Teori Belajar dan Pembelajaran. 2010. Bogor : Ghalia Indonesia Tim Penyusun. 2011. Supporting Students with Learning Disabilities. British : Ministry og Education British of Columbia 61