Keywords: Community Perception, Krinok Performances

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Propinsi Bangka-Belitung merupakan daerah kepulauan, terdiri dari Pulau

BENTUK PENYAJIAN DAN FUNGSI KESENIAN TUMBUAK BANYAK DI DESA UJUNG PADANG KECAMATAN PANTI KABUPATEN PASAMAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. dan juga dikenal dengan berbagai suku, agama, dan ras serta budayanya.

BENTUK DAN FUNGSI KESENIAN OJROT-OJROT DI DESA KARANGDUWUR KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang

PELESTARIAN KARUNGUT SENI TRADISI LISAN KLASIK DAYAK NGAJU DI KALIMANTAN TENGAH

BAB II LANDASAN TEORI. tradisi slametan, yang merupakan sebuah upacara adat syukuran terhadap rahmat. dan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.

BAB I PENDAHULUAN. Musik merupakan elemen yang sangat melekat di dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prima Suci Lestari, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang NURUL HIDAYAH, 2014

BAB I PENDAHULUAN. pada masyarakat Pesisir adalah pertunjukan kesenian Sikambang di Kelurahan

BAB I PENDAHULUAN. Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Fendra Pratama, 2014 Perkembangan Musik Campak Darat Dari Masa Ke Masa Di Kota Tanjung Pandan Belitung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Hal ini sudah mulai terlihat dari alunan musikalnya yang unik, dengan

PROGRAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 1

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian merupakan segala hasil kreasi manusia yang mempunyai sifat

2015 PERKEMBANGAN KESENIAN BRAI DI KOTA CIREBON TAHUN

ANALISIS STRUKTUR MUSIKAL RAMPI RAMPO DI KECAMATAN MUARO BUNGO PROVINSI JAMBI

BAB I PENDAHULUAN. dengan daerah lain menunjukan ciri khas dari daerah masing-masing.

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat yang lebih sering disebut sebagai Tatar Sunda dikenal

Tembang Batanghari Sembilan Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Setjen, Kemendikbud

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PERSEPSI SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN MUSIK TRADISIONAL DI SMP NEGERI 27 PADANG

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia dikenal dengan keberagaman tradisinya, dari

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ada sejak lama, yaitu sekira abad ke-16. Awalnya Tanjidor tumbuh dan

TAYUB NINTHING: TARI KREASI BARU YANG BERSUMBER PADA KESENIAN TAYUB

A. Latar Belakang Kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan siswa, baik pada aspek pengetahuan, sikap

BAB I PENDAHULUAN. seni musik merupakan salah satu cabang didalamnya. Musik dapat menjadi sarana

Kerangka Materi, Narasi, dan Hasil Produk

BAB I PENDAHULUAN. Awal kesenian musik tradisi Melayu berakar dari Qasidah yang berasal

A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Akar tradisi melekat di kehidupan masyarakat sangat

BAB I PENDAHULUAN. Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Musik merupakan suatu hal yang sangat akrab dengan indera pendengaran

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian Batak secara umum dibagi menjadi 2(dua) bagian yaitu Gondang

ARANSEMEN LAGU MAU DIBAWA KEMANA UNTUK ENSEMBEL MUSIK SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sumatera Utara adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang

BAB I PENDAHULUAN. Enim Sumatera Selatan. Antan Delapan merupakan satu kelompok pemain musik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali kebudayaan yang berbeda-beda,

BAB I PENDAHULUAN. beberapa pulau, daerah di Indonesia tersebar dari sabang sampai merauke.

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau terdiri dari etnik - etnik yang memiliki kesenian

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. 1 Kata tembang nyanyian sama fungsi dan kegunaannya dengan kidung, kakawin dan gita. Kata kakawin berasal

BAB I PENDAHULUAN. Oxford University, 1997), Dieter Mack, Apresiasi Musik Musik Populer (Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama,

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia dikenal dengan keberagaman tradisinya, dari

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. kehidupan masyarakat atas alasan menjaga lingkungan bersama yang harmonis.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang sesuai dengan fungsi dan tujuan yang diinginkan. Kesenian dapat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses realisasi karya seni bersumber pada perasaan yang

FUNGSI DAN BENTUK PENYAJIAN INSTRUMEN MUSIK KARUNGUT DI KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. Daerah Kabupaten Kuantan Singingi termasuk kepada daerah Melayu

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Bali secara umum memiliki peran di dalam keberlangsungan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan dan

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Belitung Timur merupakan bagian dari wilayah Provinsi

Kegiatan Ekstrakurikuler Musik di SMA PGRI 2 Padang

BAB I PENDAHULUAN. Belajar 9 Tahun Dalam Sastra Dayak Ngaju, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2003), 20.

TARI NAPA DI KECAMATAN PASAR MANNA KABUPATEN BENGKULU SELATAN : TINJAUAN KOREOGRAFI

BAB I PENDAHULUAN. metal yaitu Seringai sebagai bahan untuk penelitian. Kebanyakan lirik pada

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk yang berbudaya dan berperadaban. Budaya itu

BAB I PENDAHULUAN. rangkaian kata-kata untuk mempertegas ritual yang dilakukan.

BAB I PENDAHULUAN. Modernisasi merupakan fenomena budaya yang tidak dapat terhindarkan

Kompetensi Materi Kegiatan. Dasar Pembelajaran Pembelajaran Teknik Bentuk Contoh Instrumen Waktu Belajar. Indikator SILABUS. Penilaian Alokasi Sumber

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERNYANYI SISWA MELALUI COOPERATIVE LEARNING DI SMP NEGERI 1 TIUMANG KABUPATEN DHARMASRAYA

Kompetensi Materi Kegiatan. Dasar Pembelajaran Pembelajaran Teknik Bentuk Contoh Instrumen Waktu Belajar. Indikator SILABUS. Penilaian Alokasi Sumber

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Widdy Kusdinasary, 2013

BAB I PENDAHULUAN. identik dengan nada-nada pentatonik contohnya tangga nada mayor Do=C, maka

MODUL PRAKTIKUM. Penyusun: Tim

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. (blackberry massanger), telepon, maupun jejaring sosial lainnya. Semua itu

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari mempunyai peranan yang sangat

WARISAN BUDAYA TAK BENDA KAB. MERANGIN, JAMBI TARI SAYAK & TARI PISANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan suara yang disusun sedemikian rupa sehingga

pergelaran wayang golek. Dalam setiap pergelaran wayang golek, Gending Karatagan berfungsi sebagai tanda dimulainya pergelaran.

BAB I PENDAHULUAN. memiliki nilai estetis (indah) yang disukai oleh manusia dan mengandung ide-ide

BAB I PENDAHULUAN. suku, agama dan bahasa daerah berbeda sehingga, Indonesia tercatat sebagai negara yang

BAB I PENDAHULUAN. serta menjadi milik masyarakat itu sendiri yang dikenal dan dikagumi oleh

BAB I PENDAHULUAN. Analisis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan simponi kehidupan manusia, menjadi bagian yang mewarnai kehidupan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Hasil penelitian mengenai perubahan fungsi seni beluk pada masyarakat

2015 GARAPAN PENYAJIAN UPACARA SIRAMAN CALON PENGANTIN ADAT SUNDA GRUP SWARI LAKSMI KABUPATEN BANDUNG

FUNGSI SILEK DALAM UPACARA MANJALANG NINIK MAMAK DI KENAGARIAN SIALANG KECAMATAN KAPUR IX KABUPATEN 50 KOTA

BAB I PENDAHULUAN. dimana ide merupakan sesuatu yang dapat dirasakan, dipikirkan,dan dihayati serta

BAB I PENDAHULUAN. hajatan menyediakan pertunjukan keyboard bongkar pada umumnya berdasarkan

UPACARA ADAT LEGU DOU GAM DJAI DI TIDORE. Pembimbing : Drs. Joni Apriyanto M.Hum*, H. Lukman D. KATILI S.Ag.,M.ThI* Oleh: Sofyan S.A.

BAB I PENDAHULUAN. beliau ciptakan, seperti halnya lagu Tuhan adalah kekuatanku yang diciptakan

PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP LAYANAN SIRKULASI DI DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN PESISIR SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Sunda memiliki identitas khas yang ditunjukkan dengan

Transkripsi:

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERTUNJUKAN KRINOK PADA ACARA PESTA PERKAWINAN DI KABUPATEN BUNGO COMMUNITY S PERCEPTION TOWARDS THE KRINOK PERFORMANCES IN WEDDING RECEPTIONS AT VILLAGE RANTAU EMBACANG IN BUNGO REGENCY Gusti Rahayu 1, Marzam 2, Syeilendra 3 Program Studi Sendratasik FBS Universitas Negeri Padang email: Rahayuguzty@gmail.com Abstract This Research was aimed at finding and describing community s perception towards the Krinok performances in wedding receptions at village Rantau Embacang in Bungo Regency. The perception was viewed from the perspectives of four community elements, i.e. audience, players, function organizers, and community figures. Data Collection was performed through observation, interviews, documentation, and library research. The result of The Research indicated that Krinok performances at wedding receptions in village Rantau Embacang were an entertaining art, containing communicative quatrain poems. Krinok was in possession of typical rhythm and melody; the sound and the lyrics of Krinok chant conveyed certain meanings for the locals. Krinok reflected community s social values, an art that united the community and revealed teachings or guidance in life through its lyrics. Keywords: Community Perception, Krinok Performances A. Pendahuluan Krinok adalah sastra lisan yang diberi melodi sehingga menjadi sebuah lagu yang sifatnya free meter, memiliki krinok yang khas atau cengkok yakni teknik membuat nada hias atau ornamentasi dalam melodi lagu krinok. (Azhar M.J, wawancara tanggal 23 November 2011). Krinok dahulunya dinyanyikan oleh masyarakat sebagai ekspresi emosi/perasaan, pelepas kejenuhan selesai beraktifitas atau sebagai pelipur lara. Rassuh (2000:58) mengatakan bahwa bentuk awal krinok adalah vokal tunggal dengan ucapan nada-nada tinggi, disesuaikan dengan lirik dari lagu yang berisikan tentang perasaan seseorang. Krinok biasanya digunakan dalam upacara adat masyarakat seperti upacara panen raya padi. Seiring berjalannya waktu, krinok berkembang dan disajikan dengan 1 Mahasiswa penulis skripsi padaprogram Studi Pendidikan Sendratasik untuk wisuda periode September 2012. 2 Pembimbing I, dosen FBS Universitas Negeri Padang. 3 Pembimbing II, dosen FBS Universitas Negeri Padang. 84

menggunakan alat musik sebagai musik iringan seperti gendang, biola, kulintang dan gong. Dalam perkembangannya kesenian krinok digunakan untuk hiburan pada upacara perkawinan dalam masyarakat, khususnya di desa Rantau Embacang, Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo. Berdasarkan keterangan dari M. Fauzi selaku Rio (Kepala desa) Rantau Embacang (wawancara tanggal 5 mei 2012), sampai saat ini krinok masih disuguhkan dalam acara pesta perkawinan masyarakat Rantau Embacang. Ini menunjukkan bahwa krinok sebagai kesenian tradisional tetap bertahan meskipun kesenian-kesenian modern seperti organ tunggal juga hadir dalam acara pesta perkawinan. Pemain, penonton, penyelenggara acara dan tokoh masyarakat adalah komponen masyarakat yang mengapresiasi kesenian krinok dengan cukup baik. Empat komponen tersebut adalah orang-orang yang masih memiliki minat untuk melihat kesenian krinok, menginginkan krinok untuk tetap tampil dalam acara pesta perkawinan, dan merasa bahwa krinok adalah sajian yang istimewa untuk dinikmati oleh siapa saja yang hadir di acara pesta perkawinan masyarakat Rantau Embacang. Melihat minat dan pendapat dari pemain, penonton, penyelenggara acara dan tokoh masyarakat akan mengacu pada masalah tentang bagaimana persepsi masyarakat terhadap kesenian krinok pada acara pesta perkawinan di desa Rantau Embacang. Persepsi menurut Djohan (2009:319) adalah proses penginderaaan atau menerima kesan melalui indera. Irwanto (1997:71) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun peristiwa) sampai rangsang itu disadari dan dimengerti. Semua yang diterima indera lalu menjadi olahan informasi yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan pengalaman seseorang. Persepsi merupakan penafsiran pengalaman, sehingga persepsi lebih bersifat psikologis, bukan sekedar penginderaan, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu perhatian yang selektif, ciri-ciri rangsangan, nilai-nilai dan kebutuhan individu, dan pengalaman terdahulu. Manusia memiliki pengalaman dari suatu kejadian terdahulu di masa hidupnya. Seperti halnya menonton pertunjukan musik, setiap menonton pertunjukan akan ada hasil pengamatan dan kesan yang terjadi di dalam pikiran dan perasaan seseorang. Pertunjukan krinok dilaksanakan dan ditonton oleh masyarakat sebagai hiburan dalam acara pesta perkawinan. Banyak pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pesta perkawinan tersebut seperti ninik mamak, pemuka adat, tokoh agama, keluarga besar mempelai, tamu undangan, para pelaku seni, dan penonton yang datang dari berbagai kalangan. Masyarakat memiliki perhatian yang selektif sehingga tetap mencintai krinok sebagai kesenian mereka. Masyarakat juga memiliki penilaian tersendiri terhadap kesenian krinok sehingga mereka tetap menggunakan krinok dalam aktifitas sosialnya dan membutuhkan krinok sebagai hiburan. Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan tentang persepsi masyarakat terhadap pertunjukan krinok pada acara pesta perkawinan di desa Rantau Embacang, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap pertunjukan krinok pada acara pesta perkawinan di desa Rantau Embacang, kabupaten Bungo. 85

B. Metode Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sumber data utama dan data tambahan. Menurut Moleong (2005:157) sumber data utama dalam penelitian kulaitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Data utama diperoleh langsung dari tempat penelitian dengan melakukan wawancara kepada objek penelitian, kemudian data tambahan yang diperoleh dari literatur dan studi kepustakaan. Teknik analisa data dilakukan dengan cara mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan yang diteliti. Setelah data di lapangan terkumpul, data-data diklasifikasikan menurut jenis dan sumbernya. Kemudian mencari dan mengelompokkan data yang saling berkaitan baik secara konseptual maupun empiris. Data utama dijadikan sebagai data inti dari penelitian yaitu dengan mengamati minat, apresiasi, lalu persepsi masyarakat terhadap pertunjukan krinok, kemudian dianalisa sesuai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Fakta apa saja yang ditemukan di lapangan juga dikumpulkan dan ditelaah dalam pengolahan data. Adapun data tambahan dijadikan sebagai bahan acuan dan perbandingan dalam penulisan penelitian ini C. Pembahasan Krinok awalnya adalah nyanyian atau vokal tunggal tanpa iringan musik. Kemudian berkembang menjadi sebuah karya musik dengan adanya alat musik pengiring seperti gendang, gong, kulintang kayu, biola dan tamborin. Gendang dan gong merupakan pengaruh unsur musik dari Cina dan India (Rassuh, 2000:64). Hasil wawancara dengan Azhar pada tanggal 2 juni 2012 menyatakan masuknya instrumen biola merupakan pengaruh unsur musik yang dibawa oleh pedagang Arab dan Eropa. Sejak bergabung dengan alat musik, krinok disajikan sebagai hiburan dalam pesta perkawinan dan sebagainya. Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan dan pengamatan di lapangan pada tanggal 5 mei dan 1 juni 2012, persepsi masyarakat yang dilihat dari sudut pandang empat komponen masyarakat yaitu pemain, penonton, penyelenggara acara dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa pertunjukan krinok dalam pesta perkawinan tidak hanya menghibur, tetapi juga sebagai kesenian yang mencerminkan nilai-nilai sosial masyarakat dan memiliki makna kebersamaan dan gotong royong bagi masyarakat pendukungnya. Krinok juga menyampaikan ajaran-ajaran atau petunjuk hidup lewat syair pantun dalam lirik lagunya. Dalam pertunjukan krinok pada tanggal 5 mei dan 1 juni 2012, pemain musik krinok berjumlah tujuh orang, yakni dua orang pemain gendang, satu orang pemukul gong, satu orang pemain biola, satu orang pemain tamborin, dan dua orang sebagai vokalis, laki-laki dan perempuan. Krinok adalah sesuatu yang sudah melekat di dalam hati dan pikiran para pemain musik krinok. Mereka sudah memainkan krinok secara berkali-kali sehingga begitu menjiwai krinok. Para seniman tentunya punya citarasa musikal terhadap sebuah kesenian, maka setiap orang tentulah memiliki latar belakang pemikiran, ilmu tentang sesuatu yang diamati, dan pengalaman yang berbeda satu sama lain sehingga mereka menilai sesuatu sesuai dengan pengetahuan dan kebutuhan masing masing. Dalam 86

wawancara tanggal 1 Juni 2012 dengan Awi, pemain biola grup musik Sehelai Serumpun mengatakan jika mendengarkan krinok, ia merenung. Begitu dalamnya alunan dan kekuatan setiap bait-bait krinok sehingga menyentuh hatinya. Krinok sebagai musik tertua yang sampai sekarang berguna bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa diantara berbagai macam kesenian yang ada, masyarakat menunjukkan perhatian yang selektif terhadap kesenian yang digunakan dan mereka merespon musik krinok dengan baik. Pemain musik krinok dalam wawancara mengatakan krinok sebagai bentuk musik yang komunikatif. Lirik krinok berupa pantun-pantun dengan bahasa daerah setempat tersebut isi dan maknanya dimengerti oleh masyarakat yang mendengarkannya. Pertunjukan bisa berlangsung sampai tengah malam bahkan hingga subuh karena penonton yang hadir berkrinok secara bergiliran, saling membalas pantun dalam lagu. Kata-kata dalam lagu krinok selain ungkapan perasaan, nasihat, juga bisa spontanitas tercipta dari kejadian-kejadian yang terjadi saat pertunjukan berlangsung. Abdurrahman (wawancara tanggal 1 juni 2012) pemain gendang mengatakan krinok mempunyai ritme dan melodi yang khas yang membuatnya langsung dikenali oleh orang. Ciri khas dari lagu krinok adalah dimulai dengan nada tinggi dan melalui gelombang atau trilling saat lompatan interval ke bawah dengan teriakan oi dan o, menggunakan tempo rubato, dimana penyanyi secara bebas mengatur percepatan atau perlambatan lagu sesuai dengan apa yang ingin diekspresikannya. (Rassuh dkk, 2011:11). Tempo lagu krinok yang dibawakan oleh dua buah gendang menghasilkan motif pukulan krinok dan rentak yang khas. Permainan gendang saling mengisi, mencerminkan kehidupan masyarakat yang saling bekerja sama dalam aktifitas sosialnya. Dalam melengkapi pesta perkawinan para pemusik memainkan krinok dengan kesungguhan hati dan disukai oleh masyarakat. Krinok dalam persepsi penonton adalah himbauan yang menciptakan komunikasi. Menghimbau agar orang bisa berkumpul, saling bekerja sama dan membawa suasana masa lalu dimana krinok menyatukan kebersamaan masyarakat dalam memanen padi (Alsobri, wawancara tanggal 1 juni 2012). Saat melihat pertunjukan krinok, Alsobri mengatakan seperti kembali ke masa lalu dimana adat dan budaya masih sangat terasa dalam kehidupan masyarakat. Ini menunjukan bahwa pengalaman terdahulu yang dialami seseorang sebagai salah satu ciri dari persepsi. Usman (wawancara tanggal 5 mei 2012) mengatakan isi lagu krinok mengungkapkan ajaran dan nasihat yang masuk ke dalam pikiran dan hati orang yang mendengarkan, terutama anak anak muda, untuk membentuk akhlak yang baik. Inilah nilai sosial yang terkandung di dalam krinok, sekaligus sebagai kesenian yang mendidik. Mengadakan pertunjukan krinok dalam pesta perkawinan adalah salah satu bentuk dukungan terhadap kelangsungan dan keberlanjutan sebuah kesenian. Hasil wawancara dengan penyelenggara acara yakni M. Amin pada tanggal 5 mei 2012 dan Subri tanggal 1 juni 2012, menyatakan karena cinta terhadap kesenian daerah Jambi maka krinok dihadirkan dalam acara yang mereka selenggarakan untuk menghidupkan musik tradisional. Penyelenggara merasa senang dan puas menghadirkan krinok dalam acara pesta perkawinan karena pertunjukan bisa belangsung tertib, teratur, dan tidak mengundang keributan. Dengan adanya pertunjukan krinok salah satu nilai positifnya adalah masyarakat bisa menyatu 87

dalam kebersamaan dan sebagai kesenian yang menghibur bagi masyarakat setempat. Berdasarkan hasil wawancara, tokoh masyarakat memandang krinok sebagai kesenian yang punya arti penting dalam kehidupan masyarakat. Krinok sebagai nilai dan kebutuhan bagi masyarakat. Menurut Ja far Rassuh (wawancara tanggal 7 mei 2012) krinok dalam pesta perkawinan bukan sekedar hiburan, tapi ada fungsi sosial di dalamnya, yakni bagaimana kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang berlaku dalam masyarakat itu tentu diperlakukan dalam pertunjukan krinok. Pada pertunjukan krinok, masyarakat bisa berpartisipasi dan saling berimprovisasi secara spontan. Ja far berpendapat bahwa ini merupakan peran krinok sebagai perekat atas sistem sosial masyarakat, memiliki standar nilai yang menghubungkan antar sesama masyarakat. Dari hasil wawancara tanggal 5 mei dan 1 juni 2012 dengan dua orang tokoh masyarakat, yakni M. Fauzi selaku Rio desa Rantau Embacang dan Ibrahim Ali, ketua lembaga adat kecamatan Tanah Sepenggal, tanggapan mereka terhadap krinok yang dipertunjukan dalam pesta perkawinan adalah suatu usaha yang positif untuk mengembangkan kesenian tradisional. Krinok sebagai kesenian daerah yang didukung oleh pemimpin masyarakat dan pemuka adat desa Rantau Embacang karena mengandung nilai sosial dan makna kebersamaan bagi masyarakat. Krinok juga sebagai tradisi yang sesuai dengan adat dan kehidupan masyarakat daerah setempat dan tidak melanggar aturan agama. Maka krinok sebagai kesenian tradisional mendapatkan legalitas dalam penyelenggarannya dalam kegiatan masyarakat. D. Simpulan dan Saran Persepsi dari empat komponen masyarakat desa Rantau Embacang yaitu Pemain, Penonton, Penyelenggara, dan Tokoh Masyarakat bahwa krinok adalah kesenian yang menyatukan masyarakat dalam keakraban, mencerminkan nilainilai sosial masyarakat, dan mendidik bagi masyarakat setempat. Masyarakat merasa bahwa krinok adalah identitas mereka dan sebagai sebuah musik tradisional yang sifatnya menghibur serta menjalin komunikasi antar masyarakat. Pertunjukan musik tradisional khususnya krinok dalam pesta perkawinan di desa Rantau Embacang tidak mengundang keributan. Penonton duduk tertib dan teratur sekaligus dapat berpartisipasi dalam acara itu secara langsung. Pemain, Penonton, Penyelenggara acara dan Tokoh Masyarakat adalah komponen masyarakat yang bekerja sama untuk keberlanjutan atau kontinuitas pertunjukan Krinok dengan tujuan agar keberadaan musik tradisional tidak hilang dan tetap berkembang di lingkungan masyarakat pendukungnya. Kesenian Krinok harus tetap dilestarikan dan dikembangkan hingga masa mendatang supaya Krinok tetap populer dan menjadi kebanggaan kita bersama yang cinta akan budaya Nusantara khususnya kesenian tradisional Bungo. Catatan: artikel ini disusun berdasarkan skripsi penulis dengan Pembimbing I Drs. Marzam, M. Hum dan Pembimbing II Syeilendra, S. Kar., M. Hum. 88

Daftar Rujukan Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher. Irwanto, dkk. 1997. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke 21. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rassuh, Ja far. 2000. Musik Tradisional. Jambi: Arsip Pustaka Wilayah. dkk. 2011. Laporan Revitalisasi Krinok. Jambi: Arsip Dewan Kesenian Jambi. 89