Vegitya Ramadhani Putri, SH, S.Ant, MA, LLM

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS-TUGAS BANK INDONESIA. Mulyati, SE., M.T.I.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1999 TENTANG BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN BANK & LEMBAGA KEUANGAN 1. Berbeda dengan Undang undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank

Ikhtisar Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia PENDAHULUAN

Bab 2. Otoritas Moneter dan Kebijakan Moneter

- 2 - Hal ini dirasakan sangatlah terbatas dan belum mencakup fungsi the Lender of the Last Resort yang dapat digunakan dalam kondisi darurat atau

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1999 TENTANG BANK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1999 TENTANG BANK INDONESIA

MANAJEMEN PERBANKAN. By : Angga Hapsila, SE. MM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1999 TENTANG BANK INDONESIA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kata Bank dalam kehidupan sehari-hari bukanlah merupakan hal yang asing lagi.

ekonomi Kelas X BANK SENTRAL DAN OTORITAS JASA KEUANGAN KTSP & K-13 A. Pengertian Bank Sentral Tujuan Pembelajaran

BAB II KEDUDUKAN BANK INDONESIA DALAM SISTEM KEUANGAN NEGARA. Menurut Undang-Undang Pokok Perbankan Nomor 10 Tahun 1998

SISTEM PEREKONOMIAN PASAR MODAL

Otoritas Moneter di Indonesia

PERKEMBANGAN HUKUM KEBANKSENTRALAN INDONESIA. oleh: Dr Jamal Wiwoho, SH,MHum. Program Pascasarjana Ilmu Hukum UNS

Peran Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Pengawasan Lembaga Keuangan

Vegitya Ramadhani Putri, SH, S.Ant, MA, LLM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KRISIS SISTEM KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERBANDINGAN BANK INDONESIA DENGAN BANK NEGARA LAIN DI ASEAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1999 TENTANG BANK INDONESIA

Bank Indonesia : Apa, Siapa dan Bagaimana

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 1 / 9 /PBI/1999 TENTANG PEMANTAUAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN NON BANK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1999 TENTANG PENCABUTAN IZIN USAHA, PEMBUBARAN DAN LIKUIDASI BANK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KRISIS SISTEM KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

A. PENGERTIAN SISTEM MONETER DI INDONESIA

PEMANTAUAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN NON BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 10/7/PBI/2008 TENTANG PINJAMAN LUAR NEGERI PERUSAHAAN BUKAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II TINJAUAN UMUM BANK SENTRAL DI INDONESIA. Menurut penjelasan Pasal 4 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 4/2/PBI/2002 TENTANG PEMANTAUAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA PERUSAHAAN BUKAN LEMBAGA KEUANGAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

9. UANG DAN LEMBAGA KEUANGAN

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 2/ 27 /PBI/2000 TENTANG BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 12/ 1 /PBI/ 2010 TENTANG PINJAMAN LUAR NEGERI PERUSAHAAN BUKAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENYERTAAN MODAL NEGARA

II. LANDASAN TEORI. atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.

2017, No menetapkan Peraturan Bank Indonesia tentang Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek bagi Bank Umum Konvensional; Mengingat : 1. Undang-Undang

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/1/PBI/2004 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lex Privatum, Vol.III/No. 2/Apr-Jun/2015

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. Lab. Politik dan Tata Pemerintahan, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya

Ilmu Ekonomi Bank Sentral dan Kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ekonomi tersebut membuat pemerintah

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/8/PBI/2015 TENTANG PENGATURAN DAN PENGAWASAN MONETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

I. PENDAHULUAN. makro, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2002 TENTANG SURAT UTANG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/24/PBI/2015 TENTANG REKENING GIRO DI BANK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran N

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/17/PBI/2015 TENTANG SURAT BERHARGA BANK INDONESIA DALAM VALUTA ASING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 19/3/PBI/2017 TENTANG PINJAMAN LIKUIDITAS JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

masa penjajahan Jepang di Indonesia, Jepang menghentikan kegiatan De dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA).

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2002 TENTANG SURAT UTANG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA. BAB I KETENTUAN UMU

BAB III ATURAN PELAKSANA UNDANG-UNDANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN

2 Mengingat d. bahwa penerapan prinsip kehati-hatian tersebut sejalan dengan upaya untuk mendorong pendalaman pasar keuangan domestik; e. bahwa penera

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/11/PBI/2007 TENTANG PEDAGANG VALUTA ASING GUBERNUR BANK INDONESIA,

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1 /POJK.05/ TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN LEMBAGA PENJAMIN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

- 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

ANDRI HELMI M, A.Md., SE., MM.

SISTEM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA DAN PEMERINTAH PUSAT. Created By: Ilma Rafika Andhianty Nur Pratiwi

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

- 2 - Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Nega

SEJARAH BANK INDONESIA : KELEMBAGAAN Periode

No Restrukturisasi Perbankan, Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan tentang Penanganan Permasalahan Solvabilitas Bank Sistemik, Peraturan Lembaga

Kebijakan Moneter & Bank Sentral

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

Sistem keuangan adalah suatu sistem yg dibentuk oleh lembaga-2 yg mempunyai kompetensi yg berkaitan dengan seluk-beluk di bidang keuangan. Sistem keuangan (financial system) merupakan satu kesatuan sistem yang dibentuk dari semua lembaga keuangan yang ada dan yang kegiatan utamanya di bidang keuangan adalah menarik dana dari dan menyalurkannya kepada masyarakat. Di Indonesia, sistem keuangan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu: sistem moneter (otoritas moneter dan sistem bank) dan lembaga keuangan lainnya (lembaga keuangan bukan bank dan lembaga pembiayaan).

Sistem moneter di Indonesia meliputi: otoritas moneter dan sistem perbankan. Otoritas moneter merupakan lembaga yang berwenang dlm pengambilan kebijaksanaan di bidang moneter, yang juga sbg sumber uang primer, baik untuk perbankan, masyarakat maupun pemerintah. Otoritas moneter di samping mengeluarkan uang kartal juga menerima simpanan giro dari perbankan dan pemerintah. Otoritas moneter diatur oleh UU 23/1999 ttg BI jo. UU 3/2004 ttg Perubahan atas UU 23/99, bahwa: Bank Indonesia (BI) adalah penanggung jawab otoritas kebijaksanaan moneter untuk memelihara kestabilan nilai rupiah. Sistem perbankan diatur oleh UU 7/1992 jo. UU 10/1998 ttg Perbankan. Bank Indonesia (BI) mempunyai tugas dan wewenang di bidang: Otoritas Moneter dan Sistem Perbankan.

SISTEM MONETER DAN BANK INDONESIA Salah satu yg dipelajari dlm kebutuhan manusia adl barang dan jasa (the need of goods and services). Kebutuhan jasa antara lain: uang, perbankan, modal dan kekayaan. Ekonomi moneter merupakan bagian dari ilmu ekonomi yg mempelajari ttg sifat, fungsi serta pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi adl: Cara manusia mempertahankan hidupnya sehari-hari. Cara manusia memenuhi kebutuhan. Berbagai hal yang berkaitan dengan kesejahteraan materiil manusia. Cara manusia atau kelompok manusia untuk memenuhi bermacam-macam keinginan materiil.

Beberapa hal yg tercakup dlm ekonomi moneter adalah: 1. Peranan dan fungsi uang dalam perekonomian; 2. Sistem moneter serta pengaruhnya terhadap jumlah uang dan kredit; 3. Struktur dan fungsi dari bank sentral; 4. Pengaruh uang dan kredit terhadap kegiatan ekonomi; 5. Pembayaran serta sistem moneter internasional. Ekonomi meneter dipelajari karena dua pertimbangan: a. Dg mempelajari ekonomi moneter dapat diketahui bagaimana mekanisme penciptaan uang, tingkat bunga, pasar uang, sistem dan kebijakan moneter, serta pembayaran internasional; b. Juga dapat mengetahui serta menganalisis beberapa fenomena moneter dlm kaitannya dg kebijaksanaan moneter terhadap kegiatan ekonomi

TUJUAN DAN TUGAS BI SBG OTORITAS MONETER Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dengan tugastugasnya sebagai berikut: a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter; b. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; c. Mengatur dan mengawasi bank. BI juga mempunyai tanggung jawab kaitannya dengan pemerintah, yaitu: d. Hubungan internasional; e. Akuntabilitas; f. Dan Anggaran.

A. TUGAS BI UNT MENETAPKAN & MELAKSANAKAN KEBIJAKAN MONETER 1. Menetapkan sasaran-2 moneter dg memperhatikan laju inflasi yang ditetapkannya. 2. Melakukan pengendalian moneter dg menggunakan cara-cara: a. Operasi pasar terbuka di pasar uang, baik rupiah maupun valuta asing; b. Penetapan tingkat diskonto; c. Penetapan cadangan wajib minimum; d. Pengaturan kredit atau pembiayaan. Cara-cara pengendalian moneter tersebut dpt dilaksanakan juga berdasarkan syariah, yang pelaksanaannya ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia.

3. Memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah unt jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kpd bank unt mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank ybs. 4. Melaksanakan kebijakan nilai tukar berdasarkan sistem nilai tukar yg telah ditetapkan. 5. Mengelola cadangan devisa. Pengelolaannya dg cara BI melaksanakan berbagai transaksi devisa dan dpt menerima pinjaman luar negeri 6. Menyelenggarakan survei berkala atau sewaktu-waktu yang bersifat makro atau mikro unt mendukung tugasnya. Pelaksanaan survei dilakukan oleh pihak lain berdasarkan penugasan dari BI. Pihak lembaga survei maupu BI merahasiakan hasil survei, kecuali UU secara tegas menyatakan lain.

B. TUGAS BI UNT MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN 1. Melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran. 2. Mewajibakan penyelenggara jasa sistem pembayaran unt menyampaikan laporan ttg kegiatannya. 3. Menetapkan penggunaan alat pembayaran. 4. Mengatur sistem kliring antar bank dlm mata uang rupiah dan/atau valuta asing. Ini dilakukan oleh BI sendiri atau lembaga lain atas persetujuan BI. 5. Menyelenggarakan penyelesaian akhir transaksi pembayaran antar bank dlm mata uang rupiah dan/atau valuta asing, Oleh BI atau Lembaga lain atas persetujuan BI. 6. Menetapkan macam, harga, ciri uang yg akan dikeluarkan, bahan yg digunakan dan tgl mulai berlakunya. 7. Sebagai satu-satunya lembaga yg mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah, menarik dan mencabut.

C. TUGAS BI UNT MENGATUR DAN MENGAWASI BANK. 1. Menetapkan peraturan perbankan termasuk ketentuan-2 perbankan yg memuat prinsip kehatihatian. 2. Memberikan dan mencabut ijin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank, termasuk memberikan dan mencabut ijin usaha bank. 3. Melaksanakan pengawasan bank secara langsung dan tidak langsung antara lain dg: a. Mewajibkan bank unt menyampaikan laporan yg ditetapkan BI. b. Melakukan pemeriksaan terhadap bank, baik berkala maupun setiap waktu diperlukan. Jika perlu baik perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait, pihak terafiliasi, dan debitur lain.

4. Menugasi pihak lain unt dan atas nama Bank Indonesia melaksanakan pemeriksaan. 5. Memerintahkan bank unt menghentikan sementara sebagian atau seluruh kegiatan transaksi tertentu apabila menurut peniliaian BI thd suatu transaksi patut diduga merupakan tindak pidana di bidang perbankan. 6. Melakukan tindakan sesuai UU Perbankan, dlm hal keadaan suatu bank menurut BI membahayakan kelangsungan usaha bank ybs dan/atau membahayakan sistem perbankan atau membahayakan perekonomian nasional. 7. Tugas mengawasi bank dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor keuangan yg independen dan dibentuk dengan UU (jika belum terbentuk dilaksanakan oleh BI). 8. Mengatur dan mengembangkan sistem informasi antar bank. 9. Mengenakan sangsi terhadap bank, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pelaksanaan ketentuan-ketentuan tsb ditetapkan secara lebih rinci oleh Peraturan Bank Indonesia.

D. HUBUNGAN DG PEMERINTAH DAN INTERNASIONAL 1. Bank Indonesia (BI) bertindak sbg kas pemerintah. 2. BI untuk dan atas nama pemerintah dapat menerima pinjaman luar negeri, menatausahakan, serta menyelesaikan tagihan dan kewajiban keuangan pemerintah terhadap pihak luar negeri. 3. Pemerintah wajib meminta pendapat BI dan/atau mengundang BI dlm sidang kabinet yg membahas masalah ekonomi, perbankan dan keuangan yg berkaitan dg tugas BI atau masalah lain yg termasuk kewenangan BI. 4. BI memberikan pendapat dan pertimbangan kpd pemerintah mengenai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kebijakan lain terkait tugas dan wewenang BI. 5. Jika pemerintah akan menerbitkan surat-surat utang negara, wajib terlebih dahulu berkonsultasi dg BI. Sebelum menrbitkan surat utang wajib berkonsultasi dg DPR. BI dpt membantu penerbitan surat-surat utang negara yg diterbitkan pemerintah, ttp tdk boleh membeli sendiri. Jika membeli sendiri batal demi hukum. 6. BI dilarang memberikan kredit kepada pemerintah. Jika melakukan batal demi hukum.

Dalam kaitannya dg hubungan internasional, BI mempunyai tanggungjawab dan kegiatan sebagai berikut: 1) BI dapat melakukan kerjasama dengan bank sentral lainnya, organisasi dan lembaga internasional. 2) Jika dipersyaratkan, bahwa anggota lembaga internasional dan/atau lembaga multilateral adalah negara, maka BI dpt bertindak untuk dan atas nama negara Republik Indonesia sebagai anggota.

E. TANGGUNGJAWAB BI SECARA AKUNTABILITAS DAN ANGGARAN SERTA TRANSPARANSI. BERDASARKAN UU 23/1999, MENETAPKAN BAHWA: 1. BI wajib menyampaikan informasi kpd masyarakat secara terbuka melalui media massa pada setiap awal tahun anggaran yg memuat: a. Evaluasi thd pelaksanaan kebijakan moneter pada tahun sebelumnya, b. Rencana kebijakan moneter dan sasarannya unt tahun akan datang dan sasaran inflasi serta perkembangan ekonomi dan keuangan. Informasi disampaikan juga secara tertulis kpd Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 2. BI wajib menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas dan wewenangnya kpd DPR setiap 3 (tiga) bulan. 3. BI wajib menyampaikan penjelasan ttg tugasnya jika diminta oleh DPR. 4. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dpt melakukan pemeriksaan khusus thd BI atas permintaan DPR apabila diperlukan.

5. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum dimulai tahun anggaran, Dewan Gubernur menetapkan anggaran tahunan BI yg harus disampaikan kpd DPR dan Pemerintah bersamaan dg evaluasi pelaksanaan anggaran tahun berjalan. Tahun anggaran BI adalah tahun kalender. 6. Selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya tahun anggaran, BI telah menyelesaikan penyusunan laporan keuangan tahunan BI. Selambatlambatnya 7 (tujuh) hari setelah tersusun, BI wajib menyampaikan ke BPK unt diperiksa. Selambatlambatnya 90 (sembilan puluh) hari sejak pemeriksaan, BPK menyampaikan kpd DPR. 7. BI wajib mengumumkan laporan keuangan tahunan Bank Indonesia kpd publik melalui media massa.

8. Surplus dari hasil kegiatan BI akan dibagi sebagai berikut: a) 30% untuk Cadangan Tujuan. b) Sisanya sebagai cadangan umum, shg jumlah modal dan cadangan umum mencapai 10% dari seluruh kewajiban moneter. c) Sisa surplus setelah dikurangi pembagian di atas diserahkan kpd pemerintah dan tdk dikenakan pajak penghasilan. d) Apabila modal menjadi kurang 2.000.000.000.000,- (dua triliun rupiah), pemerintah wajib menutup kekurangan tsb setelah mendapat persetujuan DPR. 9. BI menyusun neraca singkat mingguan yg diumumkan dlm Berita Negara RI. 10. BI hanya dpt melakukan penyertaan modal kpd badan hukum atau badan lainnya yg sangat diperlukan dlm pelaksanaan tugas BI dan dg persetujuan DPR. Dana unt penyertaan modal ini hanya dpt diambilkan dari dana Cadangan Tujuan.