BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT SALURAN PENCERNAAN MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

METODE PENALARAN SISTEM PAKAR MENGGUNAKAN MODEL HIBRID FUZZY DEMPSTER SHAFER UNTUK IDENTIFIKASI HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan nyawa seseorang, Ironisnya gejala gejala tersebut seringkali

APLIKASI SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE DEMPSTER-SHAFER

Implementasi Metode Dempster Shafer Pada Sistem Pakar Untuk Diagnosa Jenis-jenis Penyakit Diabetes Melitus

Analisa Dan Perancangan Sistem Pakar Kerusakan Pada Aset UKM STIKOM Bali Menggunakan Metode Dempster Shafer

BAB I PENDAHULUAN. membuat orang tertarik untuk menciptakan hal-hal yang baru agar dapat lebih

INFERENSI DENGAN KETIDAKPASTIAN. PERTEMUAN 9 Diema Hernyka Satyareni, M.Kom

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT HEWAN TERNAK LEMBU MENGGUNAKAN METODE DUMPSTER SHAFER

Sistem Pakar Penyakit Kulit Pada Manusia Menggunakan Metode Certainty Factor Berbasis Web

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan zaman. Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka

overacting dan menyerang organ tubuh sendiri. Lupus juga mengenai banyak organ tubuh dan memiliki gejala klinis yang sangat bervariasi sehingga dikena

APLIKASI POTENSI AKADEMIK BERBASIS TES PSIKOLOGI MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dipaparkan teori-teori yang melandasi di dalam pembangunan sistem pakar yang penulis akan buat.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI DASAR. dalam penelitian yang akan dilakukan. Pustaka yang digunakan ditinjau dari objek

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KELAMIN PADA PRIA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR BERBASIS WEB

JURNAL DETEKSI KERUSAKAN MESIN MOTOR TIPE GL MENGGUNAKAN METODE DAMPSTER SHAFER DAMAGE DETECTION ENGINE MOTO TYPE GL USE DAMPSTER SHAFER METHOD

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PAKAR ANGGREK COELOGYNE

SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT DAN HAMA TANAMAN PADI ORGANIK VARIENTAS IR 64 DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

IMPLEMENTASI METODE DEMPSTER-SHAFER DALAM SISTEM PAKAR DIAGNOSA ANAK TUNAGRAHITA BERBASIS WEB

KUANTIFIKASI PERTANYAAN UNTUK MENDAPATKAN CERTAINTY FACTOR PENGGUNA PADA APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT

BAB I PENDAHULUAN. yang semakin canggih dan pengetahuan yang semakin luas maka semakin banyak

Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-issn: Volume 1 Nomor 1, Juni 2013

KETIDAKPASTIAN. 4.1 PROBABILITAS DAN TEOREMA BAYES Bentuk Th. Bayes:

Deteksi Sepsis pada Bayi Menggunakan Metode Dempster-Shafer

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Uncertainty (Ketidakpastian)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN CERTAINTY FACTOR

KUANTIFIKASI PERTANYAAN UNTUK MENDAPATKAN CERTAINTY FACTOR PENGGUNA PADA APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT.

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SISTEM PAKAR PENDIAGNOSIS PENYAKIT PADA SISTEM ENDOKRIN MANUSIA MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR. Iwan Kurniawan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM. serangan musuh, dengan terlihat sehat, musuh tidak akan menyerang. Berdasarkan

PENALARAN INEXACT. KETIDAKPASTIAN dan KAIDAH

PEMBERIAN ALASAN YANG TIDAK EKSAK

Jurnal Ilmiah INOVASI, Vol.14 No.2 Hal , Mei-September 2014, ISSN

KETIDAKPASTIAN MATERI KULIAH Kecerdasan Buatan Kecerdasan

SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSA GEJALA DEMAM UTAMA PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

APLIKASI DIAGNOSA PENYAKIT INFEKSI PADA IKAN PATIN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

PROGRAM STUDI D3 JURUSAN TEKNIK KOMPUTER POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG TK Teori Dempster-Shafer Hand On Lab 3 Inteligensi Buatan 100 menit

Ketidakpastian & Kepastian (REASONING)

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DEMAM PADA BALITA MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR DAN FORWARD CHAINING BERBASIS VISUAL BASIC

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT PADA TANAMAN PADI MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

PERANCANGAN SISTEM PAKAR DIAGNOSIS AWAL PENYAKIT GIGI DAN MULUT MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK DIAGNOSA AWAL PENYAKIT THT

Soal UAS Pengantar Kecerdasan Buatan. Kelas 3IA01, 03, 05, 07, 11, 13, 14, 17, 18, 19, 21, 22 dan 23

SISTEM PAKAR DIAGNOSA AWAL PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE FUZZY LOGIC UNTUK PENENTUAN CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT PADA ANAK USIA 0-36 BULAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR (CF) Kunto Nashiruddin Ahmad ( ) 2

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA BABY BLUES PADA WANITA DALAM MASA NIFAS DENGAN MENERAPKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Aplikasi Diagnosa Penyakit Jantung Koroner Menggunakan Metode Dempster-Shafer

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. membantu proses dan cara berpikir manusia yang disebut sebagai artificial

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK DIAGNOSA PENYAKIT PADA TANAMAN ANGGREK MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

IMPLEMENTASI METODE DEMPSTER-SHAFER

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT GIGI DAN MULUT MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR (Study Kasus di Puskesmas Campurdarat Tulungagung) SKRIPSI

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KEJIWAAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR (STUDI KASUS RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA)

P12 AI, ES & DSS. A. Sidiq P. Universitas Mercu Buana Yogyakarta

APLIKASI SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT ALERGI KULIT EKSIM PADA ORANG DEWASA MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT ANEMIA

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM. dan perancangan pembuatan Sistem Pakar Sistem Pakar Pengolahan Data Hadits

CERTAINTY FACTOR UTHIE

Prototype Sistem Pakar untuk Mendeteksi Tingkat Resiko Penyakit Jantung Koroner dengan Metode Dempster-Shafer

JURNAL IMPLEMENTASI NET BELIEF CERTAINTY FACTOR PADA SELEKSI PENERIMA BERAS MISKIN

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PAKET WISATA DENGAN ALGORITMA DEMPSTER SHAFER

SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME PADA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Aplikasi untuk Diagnosis Penyakit pada Anak dan Balita Menggunakan Faktor Kepastian

SISTEM PAKAR PENDEKTESI PENYAKIT KANKER MENGGUNAKAN METODE DEMSTER SHAFER

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT ALOPESIA PADA MANUSIA DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

Jurnal Teknik Informatika Vol. 1 September 2012 APLIKASI DIAGNOSA PENYAKIT LEUKEMIA MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER-SHAFER BERBASIS WEB

Deteksi Sepsis pada Bayi Menggunakan Metode Dempster-Shafer

PENGEMBANGAN SISTEM PAKAR PENDETEKSI PENYAKIT PADA KUCING DENGAN METODE CASE BASED REASONING DAN CERTAINTY FACTOR BERBASIS ANDROID

PERANCANGAN SISTEM PAKAR UNTUK MENDETEKSI HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN CENGKEH BERBASIS WEBSITE

SISTEM PAKAR DIAGNOSA KERUSAKAN SEPEDA MOTOR MATIC INJEKSI MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

ANALISIS METODE SISTEM PAKAR UNTUK MENENTUKAN JENIS PENYAKIT DALAM DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

Feresi Daeli ( )

SISTEM PAKAR GANGGUAN PERKEMBANGAN PADA BALITA BERBASIS WEB

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT PARU-PARU PADA ANAK DENGAN METODE DEMPSTER-SHAFER

Implementasi Metode Certainty Factor Dalam Mendiagnosa Penyakit Kulit

2016 KOMBINASI SISTEM PAKAR DAN MACHINE LEARNING DENGAN DEMPSTER SHAFER DAN NAIVE BAYES UNTUK DIAGNOSA PENYAKIT DENGAN GEJALA DEMAM

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kata Kunci : Self-Directed search, Dempster-Shafer, Web-based, psychological Test.

IMPLEMENTASI ALGORITMA SAW(SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING) DEMPSTER SHAFER PADA DIAGNOSA AWAL POSTPARTUM DEPRESSION

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. membeli buah tomat di pasar, selain faktor harga jual buah tomat tersebut. Hal ini

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pakar Sistem pakar (Expert System) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia kedalam komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang dilakukan oleh para ahli. Dan perancangan sistem yang dibangun harus benar-benar dari narasumber yang ahli dibidangnya, sehingga ketika sistem selesai dibuat, sistem tersebut memang dapat membantu pengguna dalam menyelesaikan masalah dan tidak menimbulkan masalah berikutnya. Sistem pakar merupakan cabang dari AI (Artificial Intelligent) yang membuat penggunaan pengetahuan yang dikhususkan secara ekstensif untuk memecahkan masalah pada level human ahli. Seorang yang ahli yaitu mempunyai pengetahuan atau keterampilan tertentu yang tidak diketahui atau ada untuk kebanyakan orang. Seorang ahli dapat memecahkan masalah yang tidak dapat dipecahkan sama sekali oleh orang lain atau memecahkanya dengan lebih efisien (tetapi tidak mudah). Berikut adalah konsep dasar dari fungsi sistem pakar : USER Facts Knowledege-Base Expert Inference Engine Gambar 2.1 : Konsep dari Fungsi Sistem Pakar

2.1.1 Manfaat dan Kelemahan Sistem Pakar Adapun manfaat yang dari sistem pakar adalah sebagai berikut (Kusrini, 2006) : 1. Memungkinkan orang awam bisa mengerjakan pekerjaan para ahli. 2. Bisa melakukan proses secara berulang secara otomatis. 3. Menyimpan pengetahuan dan keahlian para pakar. 4. Meningkatkan output dan produktivitas 5. Meningkatkan kualitas 6. Mampu mengambil dan melastarikan keahlian para pakar (terutama yang termasuk keahlian angka). 7. Mampu beroperasi dalam lingkungan yang berbahaya. 8. Memiliki kemampuan untuk mengakses pengetahuan. 9. Memiliki reabilitas. 10. Meningkatkan kapabilitas sistem komputer. 11. Memiliki kemampuan untuk bekerja dengan informasi yang tidak lengkap dan mengandung ketidakpastian. 12. Sebagai media pelengkap dalam pelatihan. 13. Meningkatkan kapabilitas dalam penyelesaian masalah. 14. Menghemat waktu dalam mengambil keputusan. Selain memilki manfaat yang begitu banyak sistem pakar juga memiliki kelemahan yaitu sebagai berikut : 1. Biaya yang diperlukan untuk membuat dan memeliharanya sangat mahal. 2. Sedikitnya ketersediaan pakar dibidangnya sehingga sistem pakar sulit dibuat atau dikembangkan. 3. Sistem pakar tidak 100% bernilai benar.

2.2 Metode Demspter Shafer Teori Dempster Shafer pertama kali diperkenalkan oleh Arthur P. Dempster dan Glenn Shafer. Yang melakukan percobaan ketidakpastian dengan range probabilities dari pada sebagai probabilities tunggal. Kemudian pada tahun 1976 Shafer mempublikasikan teori Dempster pada buku yang berjudul Mathematical Theory of Evident. Secara umum teori Dempster Shafer ditulis dalam suatu interval : [Belief, Plausibility] Belief (Bel) adalah ukuran kekuatan evidence dalam medukung suatu himpunan proposisi. Jika bernilai 0 maka mengindikasikan bahwa tidak ada evidence, dan jika bernilai 1 menunjukkan adanya kepastian. Plausibility (Pl) dinotasikan sebagai berikut: Pl (A) = 1 Bel(Ᾱ)... (1) Plausibility juga bernilai 0 sampai 1. Jika kita yakin akan Ᾱ, maka dapat dikatakan bahwa Bel(Ᾱ) = 1, dan Pl(A) = 0. Plausibility akan mengurangi tingkat kepercayaan dari evidence. Fungsi kombinasi m1 dan m2 sebagai m3 dibentuk dengan persamaan (Sentz & Ferson, 2002) :... (2) Dengan : 1) m1 (X) adalah mass function dari evidence X 2) m2 (Y) adalah mass function dari evidence Y 3) m3 (Z) adalah mass function dari evidence Z 2.2.1 Contoh Kasus Perhitungan dengan menggunakan Metode Dempster Shafer

Pada contoh kasus berikut akan dijelaskan bagaimana metode Demspter-Shafer melakukan perhitungan dan menentukan hasil analisis berdasarkan gejala atau ciri yang dihasilkan dari penarikan kesimpulan. Contoh kasusnya adalah : Tomy adalah seorang calon mahasiswa universitas X berasal dari Kota Kabupaten di Sumatera. Terdapat 3 jurusan yang diminati oleh Tomy yaitu Teknik Informatika (I), Ekonomi (E) dan Pariwisata (P). Untuk itu dia mencoba mengikuti beberapa tes uji coba. Uji coba pertama adalah tes logika dengan hasil tes menunjukkan bahwa probabilities densitas m 1 {I,E} = 0,75 Lalu pada tes kedua adalah tes matematika, hasil tes menunjukkan bahwa probabilitas densitas m 2 {I} = 0,8. Tes ketiga adalah wawancara, hasil tes menunjukkan bahwa densitas probabilitas m 3 {P} = 0,3 maka tentukan probabilitas densitas dari kombinasi gejala (hasil tes) yang didapat oleh Tomy. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah ciri-ciri atau hasil tes yang didapat oleh calon mahasiswa baru, setelah itu maka akan dijabarkan satu per satu dan menghitung densitas probabilitas masing-masing dari ciri tersebut, caranya adalah sebagai berikut : Anggota θ = {I,E,P}, dengan : I = Teknik Informatika E = Ekonomi P = Pariwisata Berikutnya, perhitungan densitas setiap gejala/ciri menggunakan persamaan (1) : 1. Gejala/Ciri 1 : Nilai Tes Logika Dari hasil tes logika yang didapat oleh Tomy, diberikan densitas sebesar 0,75. Maka nilai probabilitasnya adalah : m1{i,e} = 0,75 m1{θ} = 1 0,75 = 0,25 2. Gejala/Ciri 2 : Nilai Tes Matematika

Dari hasil tes matematika yang didapat oleh Tomy, diberikan densitas sebesar 0,8 maka nilai probabilitasnya adalah : m2{i} = 0,8 m2{θ} = 1 0,8 = 0,2 Munculnya ciri baru maka harus dilakukan perhitungan densitas baru untuk beberapa kombinasi (m 3 ). Untuk memudahkan perhitungan maka himpunan-himpunan bagian dibuat kebentuk tabel. Tabel 2.1 : Aturan Kombinasi untuk m 3 {I} (0,8) θ (0,2) {I,E} (0,75) {I} (0,6) {I,E} (0,15) θ (0,25) {I} (0,2) θ (0,05) Penjelasan tabel : 1. Kolom pertama berisikan semua himpunan bagian pada gejala pertama dengan m1 sebagai fungsi densitas. 2. Barisan kedua berisikan semua himpunan bagian pada gejala kedua dengan m2 sebagai fungsi densitas. 3. Baris kedua dan ketiga pada kolom kedua merupaka irisan dari kedua himpunan. Selanjutnya dihitung densitas baru untuk beberapa kombinasi (m3) dengan persamaan Dempster Shafer, rumus yang digunakan adalah persamaan (2) dengan perhitungan densitas barunya adalah sebagai berikut : m3{i} m3{i,e} m3{θ}

Keterangan : 1. Terlihat bahwa pada mulanya dengan hanya gejala/ciri nilai tes logika, m{i,e}= 0.75, namun setelah ada gejala baru (tes matematika), maka nilai m{i,e} = 0,15. 2. Namun pada gejala/ciri tes matematika, m{i} = 0.8 tidak terjadi perubahan nilai densitas atau tetap. 3. Dengan adanya dua gejala/ciri tesebut maka nilai densitas paling tertinggi adalah m{i} = 0.8. 4. Namun jurusan belum dapat ditentukan karena masih terdapat satu gejala/ciri lagi yaitu nilai tes pariwisata dengan densitas m{p} = 0.3, sehingga harus dicari lagi nilai kombinasi dari m 5. 3. Gejala/Ciri 3 : Nilai Tes Wawancara Dari hasil tes wawancara yang didapat oleh Tomy, diberikan densitas sebesar 0,3 maka nilai probabilitasnya adalah : m 4 {P} = 0,3 m 4 {θ} = 1 0,3 = 0,7 Tabel 2.2 : Aturan Kombinasi untuk m 5 {P } (0,3) θ (0,7) {I} (0,8) (0,24) {I} (0,56) {I,E} (0,15) (0,045) {I,E} (0,105) θ (0,05) {P} (0,015) θ (0,035) Dari hasil tabel kombinasi untuk m5 diatas maka nilai densitas dari m5 dapat ditentukan dengan rumus persamaan (2) sebagai berikut : m5{i} m5{i,e}

m5{p} m5{θ} Maka dapat disimpulkan bahwa calon mahasiswa baru yang bernama Tomy lulus pada jurusan Teknik Informatika, dengan nilai densitas yang paling tidak jauh berbeda dengan nilai densitas awalnya yaitu dengan nilai m{i} = 0.783. 2.3 Metode Certainty Factor (Faktor Kepastian) Certainty factor menampilkan derajat kepastian sama seperti teori Dempster-Shafer yang menggunakan notasi Bel. Certainty factor menggambarkan derajat kepercayaan atau ketidak percayaan, dimana hasil dari penjumlahan keduanya tidak selalu berjumlah 1. Certainty factor menggunakan M B (H E) untuk menggambarkan nilai kepercayaan dari hipotesis H, Gejala E, dan M D (H E) untuk nilai ketidakpercayaan dari hipotesis H, gejala E. Karena keterangan atau fakta bagian dari gejala salah satunya menyangkal hipotesis, M B (H E) atau M D (H E) maka nilainya harus nol untuk setiap H dan E. Jadi rumus untuk Certainty factor adalah sebagai berikut (Coppin, 2004) : CF(H E) = M B (H E) M D (H E)... (3) Keterangan : CF(H E) : Certainty factor dari hipotesis H yang dipengaruhi oleh gejala (evidence) E. Besarnya CF berkisar antara -1 sampai dengan 1. Nilai -1 menunjukkan ketidakpercayaan mutlak sedangkan 1 menunjukkan kepercayaan mutlak. M B (H E) : ukuran kenaikan kepercayaan (measure of increased belief) terhadap hipotesis H yang dipengaruhi oleh gejala E. M D (H E) : ukuran kenaikan ketidakpercayaan (measure creased disbelief) terhadap hipotesis H yang dipengaruhi oleh gejala E. H : Hipotesis atau dugaan penyakit

E : Evidence (Peristiwa atau fakta) Certainty Factor untuk kaidah dengan kesimpulan yang serupa (Similiarly Concluded Rules) : CF Combine CF[H E] 1,2 = CF[H E] 1 + CF[H E] 2 * [1 CF[H E] 1 ]... (4) CF Combine CF[H E] old,3 = CF[H E] old + CF[H E]3 * [1 CF[H E] old ]... (5) 2.3.1 Contoh Kasus dan Perhitungan Certainty Factor (CF) pada Penelitian Sistem Pakar Penyakit Kulit Pada Manusia Menggunakan Metode Certainty Factor Berbasis Web (Yastita et al.,) Pada contoh kasus berikut akan dijelaskan bagaimana metode Certainty Factor (CF) melakukan perhitungan dan menentukan hasil diagnosa berdasarkan gejala atau ciri yang dihasilkan dari penarikan kesimpulan. Contoh Kasus : Seorang pasien mengalami suatu jenis penyakit kulit yang belum diketahui. Gejala yang dialami adalah sebagai berikut : 1. Gatal-gatal 2. Gatal diduga setelah mengkonsumsi makanan dan obat-obatan 3. Gatal yang dirasakan kurang dari 14 hari 4. Mempunyai riwayat alergi Dari gejala yang telah diuraikan, sistem akan melakukan proses dengan metode CF. Setelah proses perhitungan selesai, maka sistem akan menyimpulkan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Perhitungan manual dari contoh kasus : Tabel 2.3 Nilai Kepercayaan Gejala Panu Dermatitis Alergi Gejala MB MD MB MD Gatal - Gatal 0,75 0,01 0,75 0,01

Gatal yang dirasakan kurang dari 14 hari 0,75 0,02 0,8 0,02 Gatal diduga setelah mengkonsumsi makanan 0,02 0,8 0,8 0,02 atau obat-obatan Mempunyai riwayat alergi 0,02 0,8 0,8 0,02 Penyelesaian : 1. Perhitungan pada penyakit panu menggunakan rumus persamaan (4) dan persamaan (5). Perhitungan MB Panu (Measure Belief) : Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari = 0,75 + 0,75 * (1-0,75) = 0,9375 Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,9375 + 0,02 * (1 0,9375) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,93875 Makanan atau obat-obatan Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,9387 + 0,02 * (1 0,9387) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,93998 Makanan atau obat-obatan ^ Alergi Perhitungan MD Panu (Measure Disbelief) : Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari = 0,01 + 0,02 * (1-0,01) = 0,0298 Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,0298 + 0,8 * (1 0,0298) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,80596 Makanan atau obat-obatan Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,80596+ 0,8 * (1 0,80596) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,96119 Makanan atau obat-obatan ^ Alergi Berikutnya adalah perhitungan nilai CF menggunakan persamaan (4) dan persamaan (5) yaitu sebagai berikut :

Certainty Factor (CF) = MB MD = 0,93998 0,96119 = - 0,21217 2. Perhitungan pada penyakit Dermatitis Alergi menggunakan rumus persamaan (4) dan persamaan (5). Perhitungan MB Dermatitis Alergi (Measure Belief) : Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari = 0,75 + 0,8* (1-0,75) = 0,95 Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,95 + 0,8 * (1 0,95) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,99 Makanan atau obat-obatan Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,99 + 0,8 * (1 0,99) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,998 Makanan atau obat-obatan ^ Alergi Perhitungan MD Dermatitis Alergi (Measure Disbelief) : Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari = 0,01 + 0,02 * (1-0,01) = 0,0298 Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,0298 + 0,02 * (1 0,0298) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,049204 Makanan atau obat-obatan Gatal gatal ^ Gatal kurang dari 14 hari ^ = 0,0492+ 0,8 * (1 0,0492) Gatal yang disebabkan mengkonsumsi = 0,06821 Makanan atau obat-obatan ^ Alergi Berikutnya adalah perhitungan nilai CF menggunakan persamaan (3) yaitu sebagai berikut :

Certainty Factor (CF) = MB MD = 0,998 0,068 = 0,929 Maka dari hasil diagnosa dan perhitungan menggunakan metode Certainty Factor (CF) nilai tertinggi yaitu penyakit Dermatitis Alergi dengan nilai dengan nilai 0,929. 2.4 Psikopat Psikopat adalah perilaku psikologis dimana pelaku terus menerus mencari gratifikasi (pembeneran diri) atas tindakan-tindakan keliru yang dilakukannnya. Seseorang psikopat tidak memiliki kemampuan mengenali dan belajar dari kesalahan. Namun dia memiliki daya analisa yang tinggi dan seringkali tergolong orang yang sangat cerdas namun ada juga psikopat yang kecerdasannya dibawah rata-rata. Ada beberapa psikopat yang akan dibahas pada skripsi ini yaitu sebagai berikut : 2.4.1 Pedophilia (Pedofilia) Pedofilia kata ini berasal dari bahasa Yunani : paidophilia, pais, ( anak atau anak anak ) dan philia (cinta yang bersahabat atau persahabatan). Pedofilia digunakan sebagai ungkapan untuk cinta anak atau kasih anak dan sebagian besar dalam konteks ketertarikan romantis atau seksual dengan berbagai cara, yang paling banyak dengan sodomi. Pedofilia juga merupakan gangguan psikoseksual, yang mana fantasi atau tindakan seksual dengan anak-anak prapubertas merupakan cara untuk mencapai gairah dan kepuasan seksual. Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas baik laki-laki maupun perempuan. Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan, preferensi tersebut harus berulang dan menetap termasuk laki-laki dewasa yang mempunya preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak.

2.4.2. Sexual Sadism (Sadisme Seksual) Sadisme Seksual adalah gangguan dan penyimpangan seksual dimana rangsangan seksualnya berhubungan dengan menyakiti atau menghina. Adapun ciri-ciri dari sadisme seksual menurut Diagnostic and Statistical Manual IV (2000) adalah sebagai berikut : 1) Selama paling tidak 6 bulan, fantasi, dorongan dan perilaku yang merangsang secara seksual yang melibatkan tindakan dimana penderitaan orang lain menimbulkan rangsangan seksual yang muncul berulang kali secara intens. 2) Orang mewujudkan dorongan, fantasi dan perilaku seksualnya itu terhadap orang yang tidak menyetujui tindakannya, sehingga mengakibatkan distress atau hambatan yang signifikan. 2.4.3. Transvestic Fetishism Transvestic Fetishism (Tranvetisme Fetehistik) adalah gejala keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasan seksual dengan memakai pakaian dan berperan sebagai dari sex yang berlainan. Cross dressing tersebut dapat berupa menggunakan salah satu bahan yang dipakai wanita atau mengenakan pakaian wanita lengkap dan menampilkan diri sebagai wanita di depan umum. Tujuan orang tersebut adalah untuk mencari kepuasan seksual.