REVIEW RTRWP DAN PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

dokumen-dokumen yang mirip
PP Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan DITJEN PLANOLOGI KEHUTANAN DEPARTEMEN KEHUTANAN

disampaikan oleh: Direktur Perencanaan Kawasan Kehutanan Kementerian Kehutanan Jakarta, 29 Juli 2011

Penggunaan Kawasan Hutan untuk Pembangunan Sektor Non Kehutanan Oleh : Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian LHK

DUKUNGAN KEMENTERIAN UNTUK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR KEMENTERIAN

KEBIJAKAN PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI UNTUK PEMBANGUNAN DILUAR KEGIATAN KEHUTANAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN J A K A R T A : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Disampaikan oleh: DIREKTUR PERENCANAAN KAWASAN HUTAN DALAM SEMINAR PEMBANGUNAN KEHUTANAN BERKELANJUTAN DALAM PERSPEKTIF TATA RUANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN. Nomor : P.14/Menhut-II/2006 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN MENTERI KEHUTANAN,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.14/Menhut-II/2006 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN MENTERI KEHUTANAN,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN MENTERI KEHUTANAN,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR JAWA TENGAH, PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 44 TAHUN 2013 TENTANG PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DI WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 105 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

TAMBANG DI KAWASAN HUTAN LINDUNG

MATRIK PERUBAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.18/MENHUT-II/2011

2011, No Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Nega

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.16/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.16/Menhut-II/2014 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN. Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Peraturan Perundangan. Pasal 33 ayat 3 UUD Pasal 4 UU 41/1999 Tentang Kehutanan. Pasal 8 Keppres 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 14/Menhut-II/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.64/Menhut-II/2006 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.38/Menhut-II/2012 TENTANG

Deregulasi Perizinan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK PENAMBANGAN BAWAH TANAH

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK PENAMBANGAN BAWAH TANAH

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN

Perkembangan Penelitian Terpadu Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan dalam Revisi RTRWP

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 32/Menhut -II/2010 TENTANG TUKAR MENUKAR KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.376, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Tukar Menukar.

this file is downloaded from

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEHUTANAN. Hutan Produksi. Pelepasan.

Mekanisme Pelaksanaan Musrenbangnas 2017

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.50/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2016 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEHUTANAN. AREAL. Terganggu. Reklamasi. Revegetasi. PNBP. Penentuan.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Penataan Ruang dalam Rangka Mengoptimalkan Pemanfaatan Ruang di Kawasan Hutan

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.84/Menhut-II/2014 TENTANG

2 Menteri Kehutanan tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2008 tentang Tata Cara Penentuan Luas Areal Terganggu dan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.12/Menhut-II/2004 TENTANG

Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

UPT-BPSPL Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut DAN. UPT-BKKPN Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional

Oleh : Ketua Tim GNPSDA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Disampaikan pada acara :

Propinsi Kelas 1 Kelas 2 Jumlah Sumut Sumbar Jambi Bengkulu Lampung

Perkembangan Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan Dalam Proses Review RTRWP Per 31 Desember 2015

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.12/Menhut-II/2004 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK KEGIATAN PERTAMBANGAN MENTERI KEHUTANAN,

EVALUASI DAN CAPAIAN ATAS KOORDINASI DAN SUPERVISI SEKTOR KEHUTANAN DAN REFORMASI KEBIJAKAN

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERKEBUNAN No.60/Kpts/RC.110/4/08 TENTANG

KAWASAN PESISIR KAWASAN DARATAN. KAB. ROKAN HILIR 30 Pulau, 16 KEC, 183 KEL, Pddk, ,93 Ha

WORKSHOP (MOBILITAS PESERTA DIDIK)

PENATAAN KORIDOR RIMBA

AKSES PELAYANAN KESEHATAN. Website:

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

GRAFIK LUAS KAWASAN HUTAN INDONESIA

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2011 DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN

PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN KPH

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KESELAMATAN TRANSPORTASI DARAT Disampaikan dalam rangka Rapat Koordinasi Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Tahun 2013

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 58/Menhut-II/2009. Tentang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.7/Menhut-II/2010P. /Menhut-II/2009 TENTANG

2 Ruang Wilayah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang menjadi pedoman dalam pemanfaa

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL KETENAGALISTRIKAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KEHUTANAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH (Indikator Makro)

Lampiran 3d. Rencana Strategis Program Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

I. PENDAHULUAN A. Urgensi Rencana Makro Pemantapan Kawasan Hutan.

LAPORAN MINGGUAN DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN PERIODE 18 MEI 2018

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

SELAYANG PANDANG SIMLUH KP

Evaluasi Kegiatan TA 2016 dan Rancangan Kegiatan TA 2017 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian *)

Yang Terhormat: 1. Menteri Kelautan RI / Eselon 1 di KKP. 2. Kepala Staf Kantor Kepresidenan. 3. Ketua Satgas IUU Fishing

Rekapitulasi Luas Penutupan Lahan Di Dalam Dan Di Luar Kawasan Hutan Per Provinsi Tahun 2014 (ribu ha)

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor: 70/Kpts-II/2001. Tentang PENETAPAN KAWASAN HUTAN, PERUBAHAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN MENTERI KEHUTANAN

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI SULAWESI BARAT (Indikator Makro)

Transkripsi:

REVIEW RTRWP DAN PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Disampaikan dalam Pelatihan Kehumasan Pusat Humat Kementerian Kehutanan RI Jakarta, 14 Juni 2011 Direktorat Jenderal Planonolgi Kehutanan Kementerian Kehutanan

Landasan yuridis penyelenggaraan kehutanan Pasal 33 UUD 1945 : Bumi, tanah, air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Wewenang Pemerintah (Pasal 4 UU No. 41 Tahun 1999): mengatur, mengurus hal yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan, menetapkan atau mengubah status kawasan hutan, mengatur dan menetapkan hubungan hukum, mengatur perbuatan hukum mengenai kehutanan.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN SKEMA PERIZINAN: HUTAN AREAL BERHUTAN KAWASAN HUTAN PEMANFAATAN (IUPHHK-HA/HT/RE, KARBON, DLL) PENGGUNAAN OLEH SEKTOR NON KEHUTANAN (KEBUN, TAMBANG, FASOS, FASUM, DLL) PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: HTR HKM HD HR RENCANA/TARGET: -MENINGKATKAN HUTAN TANAMAN -HHBK - REHABILITASI KH - JASA LINGKUNGAN VISI - KELESTARIAN - BERKEADILAN KEMANTAPAN KAWASAN HUTAN (PENATAAN RUANG, BATAS KAWASAN HUTAN) PERENCANAAN KAWASAN DAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN (RKTN, RPJM)

LUAS KAWASAN DAN KONDISI PENUTUPAN HUTAN INDONESIA Fungsi Luas (Jt Ha) HHK 23.523.472 HL 31.595.082 HP 36.736.370 HPT 22.343.819 HPK 22.744.932 Total 136.943.675 LUAS KAWASAN HUTAN 136,94 JUTA HA Tutupan Lahan Luas (Jt Ha) Primer 45.574.936 Sekunder 43.304.426 Tanaman 3.603.728 Non Hutan 44.460.584 Total 136.943.675

KONDISI PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN INDONESIA IUPHHK-HT (9.393.535 Ha) IUPHHK-HA (24.877.255 Ha) IUPHHK-RE (185.005 Ha) HKM (43.387 Ha) KAWASAN HUTAN INDONESIA HTR (631.628 Ha) Hutan Desa (3.399 Ha ) Pelepasan Kebun dan Transmigrasi (5.929.448 Ha) IPPKH (623.287 Ha) IUPHHBK-HT (21.620 Ha)

PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DALAM REVISI RTRWP 6

Kawasan hutan dalam tata ruang 7 Kawasan hutan merupakan bagian dari Ruang Wilayah Penataan Ruang Wilayah diatur dengan UU No. 24/1992 yang diganti dengan UU No. 26/2007 Penataan Ruang Kawasan Hutan diatur dengan UU No. 41/1999, yg dikenal dengan Penatagunaan Kawasan Hutan UU No. 26/2007 mengharuskan penyusunan atau review RTRWP dan RTRWK Dalam revisi RTRWP bila ada perubahan kawasan hutan maka harus diproses melalui mekanisme UU No. 41/1999 dan PP No. 10/2010 serta Permenhut No. P. 36/ Menhut- II/2010

POSISI KAWASAN HUTAN DI DALAM RTRW 1. Sistem perkotaan 2. Sistem transportasi 3. Sistem energi 4. Sistem telekomunikasi 5. Sistem sumber daya air. 8 Kawasan Lindung Kawasan Budidaya 1. Perlindungan Kawasan bawahannya: Kawasan hutan lindung Kawasan Bergambut Kawasan resapan air 2. perlindungan setempat 3. KSA/KPA, dan cagar budaya 4. Rawan bencana alam 5. Kawasan lindung geologi, dan lainnya 1. Kawasan hutan produksi 2. Kawasan hutan rakyat 3. Kawasan pertanian 4. Kawasan perikanan 5. Kawasan pertambangan 6. Kawasan industri 7. Kawasan pariwisata 8. Kawasan pemukiman dan atau 9. Kawasan lainnya

Tujuan Perubahan Kawasan Hutan 9 Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan untuk memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional serta aspirasi masyarakat dengan tetap berlandaskan pada: optimalisasi distribusi fungsi, manfaat kawasan hutan secara lestari dan berkelanjutan, keberadaan kawasan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional

ALUR PROSES PERUBAHAN KAWASAN HUTAN Gubernur UU 26/2007 Ranperda RTRW Persetujuan Substansi Kehutanan Tidak ada Perubahan Kawasan htn. Ada Perubahan Kawasan Tim Terpadu UU 41/1999 Menteri Kehutanan Persetujuan Menteri Kehutanan DPR RI Hasil Penelitian Terpadu

PENYESUAIAN PROSES REVIEW TATA RUANG BERDASARKAN PP 10 TH. 2010 Pasal 31 ayat (5) dan Pasal 46 ayat (2) PP No 10/2010, antara lain menyebutkan bahwa usulan perubahan kawasan hutan yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau resiko lingkungan, wajib melaksanakan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS). Pasal 48 PP 10/2010, perubahan peruntukan kawasan hutan yg berdampak penting dan cakupan luas serta bernilai strategis perlu mendapat persetujuan DPR, yaitu perubahan peruntukan yang menimbulkan pengaruh terhadap kondisi biofisik atau kondisi sosial ekonomi masyarakat.

PERUBAHAN PERUNTUKAN YANG MEMERLUKAN PERSETUJUAN DPR Perubahan Fungsi Tim Terpadu Menteri Kehutanan Perubahan Peruntukan KLHS Dampak Penting, dst Tdk Berdampak Penting, dst Persetujuan DPR RI

PROGRES FASILITASI PERSETUJUAN SUBTANSI KEHUTANAN PER AWAL MEI 2011 Selesai Proses DPR Proses Timdu Persiapan Penelitan Terpadu Proses Usulan (13 Provinsi) (3 Provinsi) (12 Provinsi) (3 Provinsi) (2 Provinsi) 13 Ada Perubahan: 1. Kalsel 2. Gorontalo Tdk Ada Perubahan: 3. Lampung 4. Jateng 5. DIY 6. Bali 7. NTB 8. Sulsel 9. Jabar 10. Banten 11. Jatim 12. NTT 13. DKI Jaya 1. Kalteng 2. Sumbar 3. Sultra 1. Kaltim 2. Kalbar 3. Riau 4. Kepri 5. Bengkulu 6. Jambi 7. Babel 8. Papua 9. Aceh 10. Sumut 11. Sulbar 12. Sulteng 1. Sulut, 2. Maluku 3. Papua Barat 1. Sumsel 2. Maluku Utara

PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

PP 24 Tahun 2010 Amanat Pasal 38 UU 41 Tahun 1999 ttg Kehutanan Tujuan : mengatur penggunaan sebagian kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan kehutanan. - Terdiri dari 8 Bab dan 54 Pasal Peraturan Pelaksana PP No 2 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif PNBP Penggunaan Kawasan Hutan Permenhut Nomor P.18/Menhut-II/2011 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Permenhut No.P.56/Menhut-II/2008 tentang Tata Cara Penentuan Luas Areal Terganggu Dan Areal Reklamasi Untuk PNBP Penggunaan Kawasan Hutan

Pokok Pengaturan PPKH Dapat dilakukan pada HL dan HP Tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan Dilarang Tambang Terbuka di Hutan Lindung Pada HL hanya dapat dilakukan penambangan dengan pola pertambangan bawah tanah Mempertimbangkan batasan luas, jangka waktu, dan kelestarian lingkungan Izin pinjam pakai diberikan oleh Menteri Kehutanan

Lingkup Kegiatan Penggunaan Kawasan Hutan: a) religi; b) pertambangan; c) instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, serta teknologi energi baru dan terbarukan; d) pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, dan stasiun relay televisi; e) jalan umum, jalan tol, dan jalur kereta api; f) Sarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai sarana transportasi umum untuk keperluan pengangkutan hasil produksi; g) sarana dan prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan saluran air bersih dan/atau air limbah; h) fasilitas umum; i) industri terkait kehutanan; j) pertahanan dan keamanan; k) prasarana penunjang keselamatan umum; atau l) penampungan sementara korban bencana alam.

Penggunaan kawasan hutan untuk pertambangan HP : dapat dilakukan penambangan terbuka dan bawah tanah HL : dilarang penambangan terbuka, hanya untuk pertambangan bawah tanah dengan ketentuan dilarang mengakibatkan : a) turunnya permukaan tanah; b) berubahnya fungsi pokok kawasan hutan secara permanen; dan c) terjadinya kerusakan akuiver air tanah. Ketentuan Tambang Bawah Tanah di HL diatur dengan Peraturan Presiden.

Bentuk Izin PPKH 1. Izin PPKH dengan kompensasi Lahan, yaitu pada provinsi dengan luas Kawasan Hutan < 30 % : a. Non komersil : ratio paling sedikit 1 : 1 b. Komersil : ratio paling sedikit 1 : 2 2. Izin PPKH dengan kompensasi membayar PNBP- PKH dan melakukan penanaman, yaitu pada provinsi dengan luas Kawasan Hutan > 30 %, dan penanaman: a. non komersil : ratio penanaman 1 : 1 b. komersil : ratio penamanan paling sedikit 1 : 1

Bentuk Izin ppkh 3. Izin PPKH tanpa kompensasi, yaitu untuk kegiatan survey/eksplorasi dan untuk kegiatan pertahanan negara, sarana keselamatan lalu lintas laut atau udara, sarana meteorologi, klimatologi, dan geofisika. 4. Untuk Izin PPKH (1 dan 2 di atas), didahului dengan persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan.

Batasan luas: Pada kawasan hutan yang telah dibebani izin di bidang kehutanan atau areal kerja Perum Perhutani, maka pinjam pakai kawasan hutan untuk pembangunan di luar kehutanan, dapat dipertimbangkan setinggi-tingginya 10 % (sepuluh perseratus) dari luas areal izinnya atau areal kerjanya.

Skema pemberian Izin PPKH Permohonan Persetujuan Prinsip Izin-PPKH Syarat-syarat Pemenuhan Kewajibankewajiban Monitoring Ok Evaluasi Ok Ok Perpanjangan

TATA CARA PERMOHONAN Permohonan diajukan oleh Menteri/pejabat setingkat Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, Pimpinan Badan Usaha, Ketua Yayasan. Persyaratan permohonan : Rencana kerja Peta Lokasi Citra Satelit Rekommendasi Gubernur atau Rekomendasi Bupati Pernyataan kesanggupan untuk memenuhi semua kewajiban dan biaya Pertimbangan Teknis Perum Perhutani (khusus Jawa) Izin atau perjanjian disektor non kehutanan (KK/KP/IUP/lainnya) AMDAL/UKL-UPL Untuk kegiatan pertambangan yang diterbitkan oleh Propinsi/Kabupaten, diperlukan pertimbangan dari ESDM

KEWAJIBAN PADA PERSETUJUAN PRINSIP melaksanakan tata batas terhadap kawasan hutan yang disetujui dan lahan kompensasi serta proses pengukuhannya; melaksanakan inventarisasi tegakan; membuat pernyataan kesanggupan membayar PNBP dan melakukan penanaman dalam rangka rehabilitasi DAS (untuk penggunaan dengan kompensasi PNBP) menyerahkan LK yang clear & clean yang telah dikukuhkan menjadi kawasan hutan dan menghutankan lahan kompensasi (untuk penggunaan dengan kompensasi LK) Pernyataan kesanggupan membayar ganti rugi nilai tegakan hutan tanaman dan PSDH atau membayar PSDH dan DR atas pohon yang rusak/ditebang; dan biaya biaya investasi lainnya Membuat surat pernyataan akan memenuhi semua kewajiban dihadapan Notaris.

Kewajiban pemegang Izin PPKH Membayar PNBP PKH setiap tahun Melaksanakan penanaman dalam rangka rehabilitasi DAS membayar ganti rugi nilai tegakan hutan tanaman dan PSDH atau membayar PSDH dan DR atas pohon yang rusak/ditebang; dan biaya biaya investasi lainnya Membuat surat pernyataan akan memenuhi semua kewajiban dihadapan Notaris. Melakukan reboisasi Lahan Kompensasi Menyelenggarakan perlindungan hutan Melakukan reklamasi dan/atau reboisasi

Jangka Waktu PPKH Persetujuan Prinsip : 2 tahun Izin PPKH : sesuai dengan jangka waktu izin sektornya Izin survey / Eksplorasi : sesuai dengan jangka waktu izin sektornya Jangka waktu untuk kegiatan sektor yang tidak memerlukan perizinan, selama 20 tahun Jangka waktu untuk kegiatan pertahanan, sarana keselamatan, jalan umum, rel ka, meteorologi dan geofisika, berlaku selama digunakan. Perpanjangan berdasarkan hasil evaluasi

Lahan Kompensasi 1. Persyaratan calon lahan kompensasi: Jelas statusnya, tidak dalam sengketa, tidak dalam penguasaan pihak yang tidak berhak dan tidak dikelola oleh pihak lain; Letaknya berbatasan langsung dengan kawasan hutan; Terletak di dalam Sub DAS yang sama / DAS yang sama / pulau yang sama / provinsi yang sama; Dapat dihutankan kembali dengan cara konvensional; Penghapusan/pencoretan alas hak atas lahan kompensasi pada buku tanah di instansi yang berwenang; dan Rekomendasi Bupati/Walikota atau Gubernur atau Badan Pertanahan Nasional sesuai dengan kewenangan masingmasing.

Lahan Kompensasi 2. Penilaian kelayakan teknis LK oleh Tim yang dikoordinasikan oleh Dinas Kehutanan Provinsi, dan hasilnya dituangkan dalam BA kelayakan teknis calon lahan kompensasi 3. Atas dasar Berita Acara Kelayakan Teknis Menteri menerbitkan persetujuan calon lahan kompensasi. 4. serah terima fisik lapangan yang dituangkan dalam BA Serah terima fisik lapangan. 5. serah terima dokumen lahan kompensasi untuk selanjutnya dilakukan proses pengukuhan kawasan hutan.

Dispensasi Dispensasi diberikan dengan syarat : (Pasal 19 ayat 2) Untuk perpanjangan perjanjian pinjam pakai kawasan hutan yang harus menyesuaikan pemenuhan persyaratan sesuai dengan Peraturan ini, atau perpanjangan perjanjian/izin pinjam pakai yang masih operasional di lapangan tetapi proses perpanjangan izin pinjam pakai belum terbit; Untuk kegiatan yang dilaksanakan oleh BUMN atau BUMD ; Untuk kegiatan yang pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD ; Untuk kegiatan BUMS yang berbagi pembiayaan dengan pemerintah ; Untuk proyek atau obyek vital nasional ; Untuk proyek air bersih, migas, ketenagalistrikan dan telekomunikasi. Dispensasi diberikan setelah dipenuhinya semua kewajiban kecuali lahan kompensasi, dengan ketentuan membuat pernyataan kesanggupan untuk memenuhi lahan kompensasi di depan notaris (Pasal 19 ayat 3). Pemberian dispensasi untuk kegiatan penanganan bencana alam dan pertahanan negara dapat diberikan tanpa menunggu pemenuhan kewajiban-kewajiban (Pasal 19 ayat 4)

Hapusnya Persetujuan prinsip/izin PPKH Jangka waktu berakhir Dicabut oleh Menteri Diserahkan kembali oleh pemegang izin kawasan hutan yang dipinjam pakai berubah peruntukan menjadi bukan kawasan hutan atau berubah fungsi menjadi fungsi hutan yang penggunaannya dilarang Hapusnya izin tidak membebaskan kewajiban pemegang izin untuk menyelesaikan semua kewajiban