BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri

Etika dan Ketentuan dalam Teknologi Informasi &Komunikasi

HAKI Perangkat Lunak

BAB III LANDASAN TEORI. permasalahan yang dibahas dan juga menjelaskan aplikasi-aplikasi yang akan

Remastering GNU/Linux

Pengantar Open Source dan Aplikasi Lisensi-lisensi Software Free/Open Source. Rusmanto at gmail.com Rusmanto at nurulfikri.ac.id

PROSES DESAIN. 1. Metodologi Pengembangan Sistem

Fidens Felix VHS

Free Redistribution. Source Code

Kategori Free dan Non-Free Software. Andi Susilo,

SOFTWARE OPEN SOURCE, SOFTWARE GRATIS?

2. Mengetahui Pengertian, Latar Belakang, dan Jenis jenis Open Source Lisensi

Pengenalan Lisensi. Perangkat Lunak Bebas. Rahmat M. Samik-Ibrahim (rev )

SISTEM OPERSI. bertugas untuk melakukan control dan manajemen perangkat keras serta operasi-operasi dasar system, dan menjalankan software aplikasi.

Review of Process Model. SE 3773 Manajemen Proyek Teknologi Informasi *Imelda Atastina*

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sistem Operasi adalah sebuah perangkat lunak (software) yang berfungsi

Systems Development Life Cycle (SDLC)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Migrasi ke F/OSS (Free/Open Source Software)

BAB I PENGANTAR MANAJEMEN PROYEK

CV. Lubersky Computer Semarang: IT Consultant, Software dan Web Development

Strategi Go Open Source

OPEN SOURCE SOFTWARE DAN MODEL BISNISNYA. Budi Maryanto. Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer LIKMI Jl. Ir. H. Juanda 96 Bandung 40132

SOFTWARE PROCESS MODEL I Disiapkan oleh: Umi Proboyekti, S.Kom, MLIS

BAB 3 Beberapa Jenis Lisensi Open Source Yang Populer

Pengantar Open Source dan Aplikasi Konsep Pengembangan Open Source WA/SMS: Rusmanto at gmail.com

Makalah. Lisensi Freeware, Shareware dan Opensource Software. Daeng X-5. SMA Negeri 1 Kota Bandung * 1 *

SOFTWARE PROCESS MODEL

Memperkenalkan GNU/Linux

Sejarah dan Rancangan Dasar GNU/Linux

Jenis Metode Pengembangan Perangkat Lunak

BAB II KONSEP PEMBANGUNAN SISTEM DARI PERSPEKTIF SOFTWARE ENGINEERING

Dibuat Oleh : 1. Andrey ( )

Rahmat M. Samik Ibrahim vlsm.org

Nama : Rendi Setiawan Nim :

BAB III LANDASAN TEORI

Mengapa Harus Takut Memakai Linux, Perangkat Lunak Bebas dan Open Source (PLBOS)?

TEKNOLOGI OPEN SOURCE

Slackware my linux system choice

Manajemen Proyek. Bima Cahya Putra, M.Kom

INSTALASI SISTEM OPERASI KOMPUTER. Nur Rahmad Suhendra. Pertemuan pertama

Konsep Perangkat Lunak Bebas

III. METODE KONVENS IONAL 11. REKAYASA SISTEM BERBASIS KOMPUTER

REKAYASA PERANGKAT LUNAK I

Rekayasa Perangkat Lunak DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008

BAB III 3. LANDASAN TEORI

Mata Kuliah : Open Source Tahun : Pertemuan 8 LICENSE OPENSOURCE

BAB II LANDASAN TEORI. Pada tahap ini berisi pengertian dan penjelasan teori-teori yang digunakan penulis untuk pembangunan sistem.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Analisis dan Perancangan Sistem Hanif Al Fatta M.kom

SIKLUS REKAYASA PERANGKAT LUNAK (SDLC)

REKAYASA PERANGKAT LUNAK. 3 sks Sri Rezeki Candra Nursari reezeki2011.wordpress.com

LAPORAN AWAL Perangkat Lunak Jaringan 1 NAMA : DIAN BAYU NIM : KELAS : C

BAB II LANDASAN TEORI. lingkungan, interaksi unsur dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Berikut ini pengertian sistem menurut beberapa ahli:

Tujuan Perkuliahan. PENGANTAR RPL (Pert. 2 chapter 1 Pressman) Agenda. Definisi Software (Perangkat Lunak) Lunak) 23/09/2010

MODIFIKASI DAN PENERAPAN DISTRIBUSI DEBIAN GNU/LINUX PADA WARNET

PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK

Mengapa Menggunakan Open Source

II. TINJAUAN PUSTAKA. Web server merupakan program komputer atau software (perangkat lunak) yang

F/OSS dan Dunia Pendidikan. Rahmat M. Samik-Ibrahim

Keamanan dan Fleksibilitas Perkembangan Pengguna pada Perangkat Lunak Bebas dan Open Source 1

Teknik Informatika S1

Linux with CloudComputing UbuntuOne. Kelompok Studi Linux UNG 2013

BAB II LANDASAN TEORI. lingkungan, interaksi unsur dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Berikut ini pengertian sistem menurut beberapa ahli:

Bahan Ajar Rekayasa Perangkat Lunak Agile Software Development Disiapkan oleh Umi Proboyekti

Ringkasan Chapter 12 Developing Business/ IT Solution

Sistem Operasi Linux dan FOSS Kenali, pelajari, manfaatkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Instalasi Debian 7. Oleh: Rizky Agung W

ERP (Enterprise Resource Planning) Pertemuan 6

Hanif Fakhrurroja, MT

Configuration Management

FREE OPEN SOURCE SOFTWARE DAN FREE SOFTWARE (Mata Kuliah Free Open Source Software)

DIG1L2 - Praktikum Instalasi dan Penggunaan Sistem Operasi Modul 3: Pengenalan GNU/Linux

BAB 2 LANDASAN TEORI

Memperkenalkan Debian GNU/Linux

REKAYASA PERANGKAT LUNAK

PERANAN TEAM SOFTWARE PROCESS PADA REKAYASA PERANGKAT LUNAK

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan aplikasi teknologi informasi saat ini sudah berkembang begitu pesat

Rapid Application Development

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut McLeod dalam buku Al-Bahra (2005:3) Sistem adalah. Menurut Lucas dalam buku Al-Bahra (2005:3) Sistem sebagai suatu

REKAYASA PERANGKAT LUNAK. ( 1 st week)

7

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang ada,

Yudha Yudhanto, S.Kom

Training Ubuntu Server STMIK Indonesia. Pemateri: Kurniadi.

MODUL 11 PENGENALAN LINUX

Cover Daftar isi Latar belakang Rumusan masalah Batasan masalah Tujuan Uml (Unified modelling language) Use case diagram Class diagram Activity

Metodologi pengembangan sistem METODOLOGI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DIAN PALUPI RINI, M.KOM 1

BAB 1 PENDAHULUAN. perubahan kultur kita sehari-hari. Dalam era yang disebut information age ini, media

Pengantar Open Source dan Aplikasi Model Bisnis Open Source. Rusmanto at gmail.com Rusmanto at nurulfikri.ac.id

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN I-1

Tugas Rekayasa Perangkat Lunak

Pengenalan Lisensi. Perangkat Lunak Bebas. Rahmat M. Samik-Ibrahim (rev )

Pengenalan Linux. Kata "Linux" untuk saat ini sudah tidak asing lagi bagi para pengguna internet

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini dipaparkan sejumlah konsep yang digunakan dilakukan dalam penyusunan tugas akhir ini. Konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini terkait dengan FOSS, manajemen proyek, proses perangkat lunak, Configuration Management, fork dan turunan, distribusi GNU/Linux, serta OSS 2.0. 2.1. FOSS FOSS (Free/Open Source Software) adalah sebuah istilah yang biasa digunakan dalam paper-paper ilmiah yang membahas tentang fenomena Perangkat lunak Bebas (Free Software) dan Perangkat Lunak Kode Sumber Terbuka (Open Source Software). Terlepas dari perdebatan mengenai perbedaan definisi antara Free Software (FS) dan Open Source Software (OSS), dalam tulisan ini kedua istilah tersebut dinyatakan dengan FOSS. Perangkat lunak open source tidak hanya menjabarkan bahwa kode-sumbernya terbuka bagi siapa saja, melainkan juga harus mengikuti sekumpulan kriteriakriteria berikut [OSI09]: 1. Free Redistribution Artinya, lisensi perangkat lunak tidak membatasi pihak manapun untuk menjual atau memberikan secara cuma-cuma atas perangkat lunak yang bersangkutan kepada pihak lain. 2. Source Code Program yang bersangkutan harus disertakan dengan kode sumber, dan lisensi harus memungkinkan distribusi dalam bentuk kode sumber maupun program hasil kompilasi. 6

7 3. Derived Works Lisensi harus mengijinkan pengubahan terhadap perangkat lunak maupun produk hasil turunan, dan memperbolehkan produk-produk hasil modifikasi ataupun turunan tersebut dengan lisensi yang sama dengan lisensi perangkat lunak yang asli. 4. Integrity of the Author's Source Code Lisensi boleh memperketat kode sumber untuk tidak didistribusikan dalam bentuk yang telah diubah jika lisensi tersebut mengijinkan distribusi berkas-berkas tambalan berbentuk kode sumber yang bertujuan untuk memodifikasi program pada tahap pembangunan. 5. No Discrimination Against Persons or Groups Lisensi tidak boleh mendiskriminasikan siapapun atau kelompok manapun. 6. No Discrimination Against Fields or Endeavor Lisensi tidak boleh membatasi tujuan dari pemanfaatan perangkat lunak terkait 7. Distribution of License Hak-hak yang dijelaskan di dalam lisensi harus dapat berlaku bagi semua pihak yang menerima program hasil redistribusi tanpa perlu lisensi-lisensi tambahan 8. License Must Not Be Specific to a Product Lisensi yang melekat pada program tidak boleh tergantung kepada lisensi program sebagai bagian dari distribusi perangkat lunak. 9. License Must Not Restrict Other Software Lisensi tidak boleh membatasi perangkat lunak lain untuk dapat disertakan bersama perangkat lunak yang diberi lisensi 10. License Must Be Technology-Neutral

8 Lisensi tidak boleh mensyaratkan teknologi tertentu maupun antarmuka khusus. 2.2. Manajemen Proyek Salah satu cara memandang pengembangan FOSS adalah melalui sudut pandang ilmu manajemen proyek. Hal ini dapat dilakukan karena secara umum pengembangan FOSS memiliki bentuk berupa proyek pengembangan perangkat lunak. Meskipun berbagai aspek manajemen seperti sumberdaya manusia, waktu, dana, dan lain sebagainya bisa jadi tidak sesuai dengan manajemen proyek pada pengembangan perangkat lunak konvensional. Manajemen Proyek didefinisikan sebagai pengaplikasian pengetahuan, kemampuan, dan teknik pada aktivitas-aktivitas proyek untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan proyek. Manajemen proyek dilakukan melalui aplikasi dan integrasi dari proses-proses manajemen dalam fase inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga penutupan proyek [PMI04]. Namun, definisi tersebut masih terlalu generik jika hendak digunakan sebagai kacamata untuk memandang proyek perangkat lunak bebas. Lebih spesifik lagi, Fogel [FOG07] memaparkan sejumlah isu penting yang mesti diperhatikan dalam proyek perangkat lunak bebas, yaitu: Infrastruktur Teknis Infrastruktur Teknis adalah perangkat-perangkat teknis yang diperlukan untuk melakukan pengembangan perangkat lunak bebas. Perangkatperangkat ini dapat berupa perangkat lunak lainnya maupun infrastruktur perangkat keras. Infrastruktur Sosial dan Politik

9 Infrastruktur Sosial dan Politik adalah kondisi-kondisi sosial yang mendukung berjalannya suatu proyek FOSS. Faktor yang menjadi infrastruktur sosial politik bisa berupa dukungan sponsor, mekanisme penerimaan kontributor baru, hirarki proyek tersebut, dan mekanisme mengatasi konflik. Dana Sebuah proyek perangkat lunak yang bertahan harus memiliki sumber dana untuk mendukung kegiatan proyek tersebut, tak terkecuali proyek FOSS. Pendanaan ini dapat mempengaruhi arah kebijakan sebuah proyek FOSS dan kelangsungannya. Komunikasi Kolaborasi yang terjadi dalam pengembangan proyek FOSS melibatkan banyak pihak yang secara geografis berpisah. Penataan komunikasi yang baik mendukung proses pengembangan dalam. Setiap galat yang ada dapat ditangani dengan cepat dan proses pengambilan keputusan menentukan arah kebijakan proyek FOSS. Tanpa adanya komunikasi antara pihakpihak yang terkait maka proses pengembangan perangkat lunak tidak akan berjalan lancar. Bahkan, akibat kesalahan komunikasi proyek FOSS mengalami kegagalan dan terhenti. Pemaketan, Perilisan, dan Pengembangan Harian Proses pemaketan, perilisan, dan pengembangan harian dari proyek FOSS merupakan siklus pengembangan perangkat lunak yang terjadi secara terus menerus. Manajemen dari siklus ini menjamin ketersediaan produk hasil dari proyek FOSS secara periodik. Manajemen Kontributor

10 Sifat utama dari proyek FOSS adalah saling berbagi dan setiap orang bisa secara sukarela berkontribusi terhadap proyek tersebut. Berkembangnya sebuah proyek FOSS ditandai dengan semakin banyaknya individu maupun organisasai yang ikut serta di dalamnya. Agar tidak terjadi tumpang tindih dan gesekan sosial, sebuah proyek FOSS memiliki pengaturan atau semacam mekanisme untuk setiap orang dapat berkontribusi secara positif. Lisensi, Hak Cipta, dan Paten Pengembangan proyek FOSS juga berkaitan dengan aspek legal seperti lisensi, hak cipta, dan paten. Lisensi dari sebuah produk yang menggunakan proyek FOSS dengan lisensi yang berbeda akan mempengaruhi kontributor yang terkait pada pengembangan produk tersebut. Penggunaan lisensi bebas dapat membatasi kontribusi produk yang akan dikomersilkan, begitu pula sebaliknya, penggunaan lisensi terbatas akan membuat kontributor dengan ideologi tertentu tidak ingin berkontribusi terhadap proyek FOSS tersebut. Pengembangan proyek FOSS juga dapat bermasalah jika hendak menggunakan teknologi yang sudah dipatenkan terlebih dahulu. 2.3. Proses Perangkat Lunak Proyek FOSS, yang juga termasuk pengembangan perangkat lunak, tentunya menerapkan juga proses pengembangan perangkat lunak. Untuk memahami proses yang dilakukan dalam sebuah pengembangan perangkat lunak, sudut pandang yang dapat digunakan adalah sudut pandang dari ilmu Rekayasa Perangkat Lunak. Rekayasa Perangkat Lunak adalah sebuah disiplin ilmu yang menyediakan kerangka kerja yang dapat diikuti untuk membangun perangkat lunak dengan kualitas tinggi. Untuk itu, sejumlah permodelan proses pengembangan perangkat

lunak telah dibakukan. Model-model tersebut antara lain adalah sebagai berikut [PRE05]: 11 Waterfall Model Incremental Model RAD Model Prototyping Spiral Model Concurrent Development Model Component-Based Development Formal Method Model Aspect Oriented Software Development 2.4. Configuration Management Pengembangan proyek FOSS yang melibatkan kolaborasi banyak orang menuntut adanya pencatatan mengenai perubahan-perubahan apa yang telah dilakukan terhadap produk perantara maupun produk akhir. Oleh karena itu peranan Configuration Management, terutama Source Code Versioning System merupakan sesuatu yang dibutukan di dalam proyek pengembangan FOSS. Configuration Management adalah identifikasi unik, penyimpanan terkontrol, kontrol perubahan, pelaporan status dari produk kerja perantara pilihan, komponen-komponen produk, serta produk-produk selama daur hidup sebuah sistem [HAS02]. Salah satu contoh dari Configuration Management yang dibahas di dalam penelitian ini adalah Source Code Versioning System. Source Code Versioning System/Version Control System adalah kombinasi dari sejumlah teknologi dan praktek dalam melakukan pelacakan dan mengatur perubahan terhadap artifak-artifak proyek seperti berkas kode sumber, dokumentasi, maupun halaman web [FOG07]. Ada dua model repositori yang diterapkan untuk kebutuhan Version Control

12 System (VCS), yakni model tersentralisasi dan model desentralisasi. Model tersentralisasi mengharuskan hasil kerja dan perubahan terhadapnya untuk diletakkan di dalam sebuah server yang dapat diakses oleh komputer-komputer yang digunakan untuk pengembangan melalui jaringan. Sebaliknya, model ter-desentralisasi melakukan pencatatan pada sisi komputer yang digunakan oleh pengembang (klien). Salah satu contoh dari aplikasi VCS yang menerapkan metode terdesentralisasi semacam ini adalah Bazaar VCS. 2.5. Ohloh Ohloh adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Jason Allen dan Scott Collison pada tahun 2006. Tujuan dari didirikannya Ohloh antara lain adalah menyediakan informasi visibilitas pada pengembangan perangkat lunak, khususnya FOSS. Ohloh memiliki sebuah situs web (http://ohloh.net/) yang berisi informasi tentang aktivitas kerja dalam pengembangan sejumlah proyek FOSS (Ohloh mencatat lebih dari 300 ribu buah proyek pada Juni 2009). Informasi yang ditampilkan berasal dari penghimpunan dan analisa data yang diperoleh dari Version Control yang digunakan dalam pengembangan proyek FOSS yang terdaftar. Dalam penyusunan tugas akhir ini, penyusun melakukan analisa terhadap catatan dalam Version Control seperti yang dilakukan oleh Ohloh. Namun karena Ohloh belum memberikan dukungan untuk Version Control yang digunakan oleh kelompok kerja pengembangan FOSS yang menjadi subjek dari penelitian (yaitu Bazaar VCS), maka penghitungan data dilakukan secara manual. 2.6. Fork dan Turunan Proyek FOSS yang menjadi subjek dari penelitian ini adalah proyek FOSS yang

13 didasari pada hasil dari proyek FOSS yang lain. Ada dua cara dikenal dalam pengembangan FOSS dari FOSS yang lain, yaitu dengan cara membuat fork dan turunan. Code Forkability adalah istilah di dalam FOSS yang bermakna kemungkinan bagi siapa saja untuk memperoleh kode sumber dari suatu proyek FOSS dan menggunakannya untuk proyek FOSS yang lain [FOG07]. Sebuah proyek FOSS disebut sebuah fork apabila pembuatnya bermaksud menggantikan atau menandingi proyek FOSS aslinya [WHE07]. Derivative work (karya turunan) adalah sebuah karya yang didasarkan pada sebuah karya atau beberapa karya yang sudah ada, misalnya sebuah terjemahan, aransemen musikal, dramatisasi, fiksionalisasi, versi film, rekaman suara, reproduksi seni, abridgement, condensation, atau dalam bentuk-bentuk yang lain yang dapat disiarkan ulang, diubah, atau diadaptasikan. Sebuah karya yang berisi revisi editorial, anotasi, elaborasi, atau modifikasi lainnya, yang secara keseluruhan merepresentasikan sebuah karya hasil gubahan, termasuk ke dalam derivative work [USC07]. 2.7. Distribusi GNU/Linux Hasil dari proyek FOSS yang dibahas dalam penelitian ini berupa sebuah perangkat lunak yang disebut dengan distribusi GNU/Linux. Bagian ini berisi penjelasan mengenai apa itu distribusi GNU/Linux, macam-macam distribusi GNU/Linux yang telah ada, serta persamaan dan perbedaan antara distribusi satu dengan distribusi yang lainnya. Distribusi GNU/Linux adalah sistem operasi berbasiskan perangkat lunak bebas dari proyek GNU (http://www.gnu.org/), kernel sistem operasi Linux, dan sejumlah perangkat lunak bebas lainnya yang telah melalui serangkaian proses kompilasi dan konfigurasi [MCC99]. Contoh dari distribusi GNU/Linux yang populer saat ini adalah Debian GNU/Linux, Fedora, Ubuntu Linux, SUSE,

14 Knoppix, Slackware, dan lain sebagainya. Pada dasarnya sebagian besar distribusi linux memiliki komponen inti berupa kernel sistem operasi yang sama, yakni kernel Linux. Selain itu beberapa aplikasi yang dimasukkan ke dalam distribusi-distribusi yang berbeda sebenarnya juga berasal dari sumber yang sama. Misalnya saja Apache Web Server, Postfix Mail Transfer Agent, GNU Compiler Collection, dan lain sebagainya. Perbedaan yang menonjol dari tiap distribusi-distribusi besar biasanya terletak pada Sistem Manajemen Paket (dijelaskan pada bagian berikutnya) yang digunakan, User Interface, Desktop Manager, jumlah aplikasi yang di-bundle dalam media distribusi, dan seterusnya. 2.8. OSS 2.0 Pandangan mengenai FOSS sebagai sebuah gerakan sukarela dari sekelompok hacker yang bekerjasama untuk menghasilkan perangkat lunak yang berkualitas sudah tidak relevan lagi. Hal tersebut disebabkan karena ada indikasi bahwa pada masa mendatang fenomena open source akan bergeser menuju bentuk yang lebih mainstream dan komersial, yang disebut sebagai OSS 2.0 [FTZ06]. Pergeseran paradigma tersebut terlihat dari indikasi yang terdapat pada faktor proses yang terlibat dan faktor produk yang dihasilkan oleh gerakan open source sejauh ini. Secara singkat, Fitzgerald mengemukakan pergeseran yang terjadi seperti yang digambarkan dalam tabel 2.1 dan tabel 2.2.

15 Tabel 2.1: Perbedaan antara F/OSS dengan OSS 2.0 dari segi proses PROSES F/OSS OSS 2.0 Development Lifecycle Fase Planning. Tidak ada strategi yang mengarah perolehan keuntungan melalui kompetisi. Fase Analysis. Biasanya merupakan bagian dari pengetahuan-pengetahuan konvensional seputar pengembangan perangkat lunak. Fase Design. Berbasis pada prinsip-prinsip modularitas untuk mengakomodir beragamnya pendapat. Fase Implementation. Terdiri dari beberapa sub-fase: Code Review Pre-commit test Development release Paralel debugging Production release Fase Planning. Terdapat susunan perencanaan strategis oleh perusahaan untuk berkompetisi dalam pasar Fase Analysis dan Design. Lebih kompleks karena mengarah ke domain yang 'vertikal', yang mana seringkali (business) requirements bukan merupakan perkara yang dapat dimengerti secara menyeluruh. Fase Implementation memiliki sub-fase yang mirip dengan F/OSS. Tetapi secara keseluruhan, pengembangannya tidak terbuka untuk umum Para pengembang dibayar untuk mengerjakan open source

16 Tabel 2.2: Perbedaan antara F/OSS dengan OSS 2.0 dari segi Produk PRODUK F/OSS OSS 2.0 Domain Produk Strategi Bisnis Utama Infrastruktur horizontal (sistem operasi, utilities, compiler, DBMS, web server, print server) value added service enabling Menyediakan layanan tambahan (berbayar) terhadap produk. Loss leader/market creating Membuka pasar yang baru dengan produknya. Aplikasi berbentuk Sistem Informasi dalam domain vertikal value added service enabling, bootstrapping Membuka pasar: loss leader, dual product/licensing, cost reduction, accessorizing Membentuk komunitas pengembang Mengangkat brand open source Layanan Produk Lisensi Tidak jelas. Kebanyakan bergantung pada mailing list/bulletin board, selain itu ada juga perusahaan yang memberikan layanan bantuan GPL, LGPL, Artistic License, BSD, MPL Hubungan antar lisensi yang menular/viral Pelanggan membayar untuk layanan yang berbentuk 'whole-product' Sangat bervariasi Hubungan antar lisensi yang bersifat timbal balik ('Resiprok')