BENZETONIUM KLORIDA BENZETHONIUM CHLORIDE

dokumen-dokumen yang mirip
MINYAK BIJI GANJA CANNABIS SATIVA SEED OIL

AMONIUM OKSALAT MONOHIDRAT AMMONIUM OXALATE MONOHYDRATE

SELENIUM ASPARTAT SELENIUM ASPRATATE

SEMEN ALUMINA KIMIA CEMENT, ALUMINA, CHEMICALS

1,4-DIKLOROBENZEN-D4 1,4-DICHLOROBENZENE-D4

1,2-DIBROMO-1,1-DIFLUOROETHANE 1,2-DIBROMO-1,1-DIFLUOROETANA

AMONIUM PARA-MOLIBDAT AMMONIUM PARA-MOLYBDATE

PROPILEN KARBONAT PROPYLENE CARBONATE

KARBOWAKS 300 CARBOWAX 300

SODIUM BROMAT SODIUM BROMATE

BRUSIN SULFAT BRUCINE SULFATE

POLIVINIL ASETAT POLYVINYL ACETATE

ASAM TARTARAT TARTARIC ACID

ALIZARIN ALIZARINE. 1. N a m a. 2. Sifat Fisika Kimia. Golongan senyawa anorganik

KRISOIDIN ( JINGGA BASA 2 ) CHRYSOIDINE (C.I. BASIC ORANGE 2)

Asam Maleat MALEIC ACID

RHODAMIN B RHODAMINE B

MINYAK JARAK CASTOR OIL

ISOPROPIL MIRISTAT ISOPROPYL MYRISTATE

BENDIOKARB BENDIOCARB

AMIL ALKOHOL AMYL ALCOHOL

PARASETAMOL ACETAMINOPHEN

1,2-DIBROMO-3-KLOROPROPANA 1,2-DIBROMO-3-CHLOROPROPANE

KALSIUM KARBONAT CALCIUM CARBONATE

PIPERONAL PIPERONAL. 1. N a m a Golongan Aldehida, Heterosiklik

ASAM ADIPAT ADIPIC ACID

TRANSFLUTRIN TRANSFLUTHRIN

KALSIUM HIPOKLORIT CALCIUM HYPOCHLORITE

BROMASIL BROMASIL. 1. N a m a. Golongan Heterocyclic, nitrogen, halogen, aromatic

N - Heptana. N - heptane

ASAM ANTRANILAT ANTHRANILIC ACID

DISODIUM OXALATE. Sinonim / Nama Dagang (1,2,3,8) Ethanedioic acid, disodium salt; Oxalic acids, disodium salt; Disodium Sodium oxalate.

AMMONIUM IODIDA AMMONIUM IODIDE

BUTIL BENZIL FTALAT BUTYL BENZYL PHTHALATE

SERAT KERAMIK CERAMICS FIBER

IDENTIFIKASI BAHAYA B3 DAN PENANGANAN INSIDEN B3

LEMBAR DATA KESELAMATAN

Polietilen Tereftalat (PET)

LEMBAR DATA KESELAMATAN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

BUTIL FENIL METIL KARBAMAT BUTHYL PHENYL METHYL CARBAMATE (BPMC)

LEMBAR DATA KESELAMATAN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

PIRIDIN PYRIDINE. 2. Sifat Fisika Kimia (1,4,5,6) Nama Bahan Piridin Deskripsi

BRODIFAKUM BRODIFACOUM

ATROPIN SULFAT ATROPINE SULPHATE

Material Safety Data Sheet. : Resin Pinus Oleo

ISOAMIL ASETAT ISOAMYL ACETATE

SODIUM SULFIT SODIUM SULFITE

T-BUTIL ALKOHOL T-BUTYL ALCOHOL

KALIUM HIDROKSIDA POTASSIUM HYDROXIDE

Material Safety Data Sheet. : Gliserin Mentah

SODIUM HIPOKLORIT SODIUM HYPOCHLORITE

ALUMINIUM HIDROKSIDA ALUMINUM HYDROXIDE

MELAMIN MELAMINE (1, 2, 3, 5, 6, 8)

PENTAERITRITOL PENTAERYTHRITOL

ASAM BORAT BORIC ACID

HEKSAKLOROBENZEN HEXACHLOROBENZENZE

BENOMIL BENOMYL. 1. N a m a. 2. Sifat Fisika Kimia. Golongan Karbamat heterosiklik. Sinonim / Nama Dagang

LEMBAR DATA KESELAMATAN

2,4,5-TRIKLOROFENOL 2,4,5-TRICHLOROPHENOL

Wood-Eco Woodstain. Lembar Data Keselamatan. 1. Deskripsi Produk dan Perusahaan : 2. Identifikasi Bahaya :

ASAM SALISILAT SALICYLIC ACID

Lenkote Alkali Resisting Primer

Lem Vip. Lembar Data Keselamatan. 1. Deskripsi Produk dan Perusahaan : 2. Identifikasi Bahaya : 3. Komposisi / Informasi dari zat zat yang digunakan :

Material Safety Data Sheet Alpha-Pinene

AlCl₃ (Aluminium Klorida) Ishmar Balda Fauzan ( ) Widya Fiqra ( ) Yulia Endah Permata ( )

KLORIN DIOKSIDA CHLORINE DIOXIDE

2,3,7,8 TETRAKLORODIBENZO P - DIOKSIN 2,3,7,8 TETRACHLORODIBENZO P DIOXIN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

Material Safety Data Sheet. : Minyak Turpentin

KALSIUM SIANAMIDA CALCIUM CYANAMIDE

Material Safety Data Sheet

MATERIAL SAFETY DATA SHEET ANILINE 99%

Material Safety Data Sheet. : Stearin Sawit RBD Terhidrogenasi

LEMBAR DATA KESELAMATAN

BESI (II) GLUKONAT ANHIDRAT FERROUS GLUCONATE, ANHYDROUS

Material Safety Data Sheet. : Asam Laurat

Material Safety Data Sheet MAXFORCE Forte Gel0,05 20X(4X30GR) BOX 4 Nopember 2012

KARBON DIOKSIDA CARBON DIOXIDE

VINIL ASETAT VINIYL ACETATE

ALUMUNIUM N a m a Golongan Sinonim / Nama Dagang Nomor Identifikasi : Sifat Fisika Kimia Nama bahan Deskripsi

: FERTERRA 0.4 GR Insektisida

Jenis Penggunaan Untuk Campuran Cat Kedap Air ( Waterproofing ) PT. Avia Avian

: Prevathon 50 SC Insektisida

AMONIUM NITRAT AMMONIUM NITRATE

ALIL ALKOHOL. Alil Alcohol

KATEKOL CATECHOL. 1. N a m a. 2. Sifat Fisika Kimia. Golongan Aromatik hidrosiklik

NATRIUM BIKARBONAT SODIUM BICARBONATE

KARBON HITAM CARBON BLACK

PAPARAN PESTISIDA DI LINGKUNGAN KITA

KALSIUM KARBIDA CALCIUM CARBIDE

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

MENTOL MENTHOL. 1. N a m a Golongan Alisiklik, Alkohol (1).

MSDS NaCl (natrium klorida)

ARSENIK ARSENIC. Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat Bahaya Peringkat NFPA (Skala 0-4):

VIPLAS. Lembar Data Keselamatan. 1. Deskripsi Produk dan Perusahaan : 2. Identifikasi Bahaya : 3. Komposisi / Informasi dari zat zat yang digunakan :

TOKSIKOLOGI BEBERAPA ISTILAH. Toksikologi Toksisitas Toksin / racun Dosis toksik. Alfi Yasmina. Sola dosis facit venenum

Transkripsi:

BENZETONIUM KLORIDA BENZETHONIUM CHLORIDE 1. N a m a Golongan Amonium kuaterner (2) Sinonim / Nama Dagang (2,5,6) Benzenemethanaminium, N,N-dimethyl-N-(2-2-(4-(1,1,3,3-tetramethylbutyl) phenoxy) ethoxy) ethyl)-, chloride;n,n-dimethyl-n-(2-(2-(4-(1,1,3,3- tetrametyhl) phenoxy) ethoxy) ethyl) benzenemethanaminium chloride; Ammonium, benzyldimethyl (2-(2-(P-(1,1,3,3-Tetramethylbutyl) phenoxy) ethoxy) ethyl)-, chloride; Hyamine 1622; Antigerm 77; BZT; Phemeride; Phemerol; Phemerol chloride; Benzyldimethyl (2-(2-(P-(1,1,3,3- tetramethylbutyl) phenoxy) ethoxy) ethyl) ammonium chloride; Solamin; Solamine; Polymine d; Antiseptol; Quatrachlor; Dislyn; Phemithyn; Salanine; Diapp. Nomor Identifikasi Nomor CAS : 121-54-0 (2,3,4,5,7) Nomor OHS : 71851 (2) Nomor RTECS : BO7175000 (2,3,5) Nomor EC (EINECS) : 204-479-9 (2,4,7) 2. Sifat Fisika Kimia Nama bahan Benzetonium klorida Deskripsi (2,3,5) Padatan berbentuk serpihan tidak berwarna atau putih, tidak berbau. Rumus molekul C 27 H 42 NO 2.Cl; Berat molekul 448,15; Titik lebur 164-166 o C (327-331F); Larut dalam alkohol, aseton, kloroform, air; Sedikit larut dalam eter; ph 4,8-5,5 (larutan 1%). Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat Bahaya

Peringkat NFPA (Skala 0-4) (2) : Kesehatan 3 = Tingkat keparahan sangat tinggi Kebakaran 1 = Dapat terbakar Reaktivitas 0 = Tidak reaktif Klasifikasi EC (2,5,6,7) : Xn = Berbahaya C = Korosif R22 = Bebahaya bila tertelan R34 = Menyebabkan terbakar R36 = Menyebabkan iritasi pada mata R37 = Menyebabkan iritasi pada sistem pernafasan R38 = Menyebabkan iritasi pada kulit R41 = Risiko kerusakan serius pada mata R36/38 = Iritasi pada mata dan kulit S2 = Jauhkan dari jangkauan anak-anak S13 = Jauhkan dari makanan, minuman dan bahan makanan hewan S20 = Jangan makan atau minum jika sedang menggunakan bahan ini S22 = Awas berbahaya, jangan terhirup debu S24 = Hindari persinggungan/kontak dengan kulit S25 = Hindari jangan sampai mengenai mata S26 = Jika mengenai mata, bilas segera dengan sejumlah besar air dan cari pertolongan medis S36 = Pakai/kenakan pakaian pelindung yang tepat S37 = Pakai/kenakan sarung tangan yang tepat S39 = Pakai/kenakan pelindung mata/wajah S46 = Jika tertelan, cari segera pertolongan medis dan perlihatkan wadah ini atau label S24/25 = Hindari/cegah persinggungan/kontak dengan kulit dan mata 3. Penggunaan

Sebagai antiseptik, antiinfeksi, bakterisida, deterjen, dan pengawet (5,6). Rollon deodoran, surfaktan, deterjen kationik, germisida (1). 4. Identifikasi Bahaya Risiko utama dan sasaran organ Bahaya utama terhadap kesehatan: Berbahaya bila tertelan, menimbulkan luka bakar pada kulit, mata, membran mukosa, dan iritasi saluran pernafasan (kemungkinan berat) (2). Organ sasaran: Darah, ginjal, paru-paru, sistem pernafasan, empedu, kulit (7). Rute paparan Paparan jangka pendek Terhirup Iritasi (kemungkinan berat) (2). Kontak dengan kulit Iritasi (kemungkinan berat) (2), kemerahan dan nyeri (3). Kontak dengan mata Luka bakar (2) yang dalam dan berat (3), kemerahan, penglihatan kabur, nyeri (3), iritasi (4,5). Tertelan Luka bakar, mual, muntah, sulit bernafas, warna kebiruan pada kulit, kongesti paru, kejang, koma (2,3). Dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan disertai dengan mual, muntah, dan diare (4,5). Paparan jangka panjang Terhirup Iritasi (kemungkinan berat) (2). Kontak dengan kulit Iritasi (kemungkinan berat) (2). Dermatitis (3). Kontak dengan mata Luka bakar (2).

Tertelan Diare (2). 5. Stabilitas dan Reaktivitas Reaktivitas : Stabil pada suhu dan tekanan normal (2). Reaktif dengan sabun, detergen anionik, dan nitrat (5). Kondisi yang harus dihindarkan : Hindarkan dari panas, nyala, percikan, dan sumber api lain. Dapat terbakar atau meledak bila kontak dengan bahan yang mudah terbakar (2). Hindarkan pembentukan debu, panas berlebih, dan kondisi lembab (7). Bahan tak tercampurkan : Bahan mudah terbakar (2), bahan pengoksidasi kuat (4,7), asam (4). Benzetonium klorida dengan Deterjen non-ionik : Tancampurkan (2) Sabun : Tancampurkan (2) Bahaya dekomposisi : Produk dekomposisi termal: klorin, asam halida, amonia, oksida nitrogen (2). Hidrogen klorida, nitrogen oksida, karbon monoksida, karbon dioksida (7). Polimerisasi : Tidak akan terpolimerisasi (2) 6. Penyimpanan Simpan dan tangani sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan standard yang berlaku (2). Simpan terpisah dari bahan yang tancampurkan (2). Jauhkan dari pangan dan bahan pangan (3). Jauhkan dari sumber air atau saluran pembuangan (3). Simpan dalam wadah tertutup jika tidak digunakan (5,7). Simpan dalam tempat sejuk, kering (4,5), dan berventilasi baik (5,7). Hindarkan dari kelembaban (7). Simpan dalam wadah yang tidak tembus cahaya (5).

Jauhkan dari jangkauan anak-anak (4). 7. Toksikologi Toksisitas Data pada manusia Dewasa : Dosis fatal terhadap manusia kira-kira 1-3 gram. Kematian, disebabkan karena asfiksia, umumnya terjadi dalam 1-3 jam. Ditemukan juga korosi berat pada saluran pencernaan atas, erosi, ulserasi, dan juga dilaporkan terjadinya edema otak dan perdarahan (1). Data iritasi Iritasi berat: (Uji Draize) Mata-kelinci 30 µg (2,7). Data pada hewan (2,5) LD 50 oral-tikus 368 mg/kg; LD 50 intraperitoneal-tikus 16500 ug/kg; LD 50 subkutan-tikus 119 mg/kg; LD 50 intravena-tikus 19 mg/kg; LD 50 tidak dilaporkan-tikus 420 mg/kg; LD 50 oral-mencit 338 mg/kg; LD 50 intraperitonealmencit 7813 ug/kg; LD 50 intravena-mencit 30 mg/kg; TDL 0 oral-tikus 182 g/kg/2 tahun kontinyu; TDL 0 kulit-tikus 60 mg/kg/16 hari intermittent; TDL 0 kulit-tikus 203 mg/kg/13 minggu intermittent; TDL 0 subkutan-tikus 312 mg/kg/1 tahun intermittent; TDL 0 kulit-mencit 1200 mg/kg/16 hari intermittent; TDL 0 kulit-mencit 101 mg/kg/13 minggu intermittent. Data Karsinogenik Berdasarkan ACGIH, IARC, dan NTP, benzetonium klorida tidak terdaftar sebagai karsinogen (7). Data Tumorigenik (2) TDL 0 subkutan-tikus 104 mg/kg/1 tahun intermittent. Data Mutagenik (2) Perbaikan DNA Escherichia coli 1500 ng/sumur; pertukaran pasangan kromatida embrio hamster 1 mg/l. Informasi Ekologi Toksisitas pada ikan : LC 50 (Mortalitas) Fathead minnow (Pimephales

promelas) 1600 ug/l selama 96 jam (2) LC 50 Lipomas macrochirus 1,5 mg/l selama 96 jam (5) LC 50 Oncorhynchus kisutch 56 mg/l selama 96 jam (5). Toksisitas pada invertebrata : Uji mortalitas siput (Biomphalaria sp.) 1000 ug/l selama 48 minggu (2) Toksisitas pada tumbuhan : LETH (mortalitas) Alga hijau (Selenastrum perairan, misalnya alga capricornutum) 10000 ug/l selama 3 jam (2) 8. Efek Klinis Keracunan akut Terhirup Benzetonium klorida: Kontak dengan larutan surfaktan kationik 10% atau lebih dapat menyebabkan korosi membran mukosa sedangkan larutan encer dapat menyebabkan iritasi (2). Kontak dengan kulit Benzetonium klorida: Kontak dengan larutan surfaktan kationik 10% atau kurang dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan epidermal minor. Dilaporkan pula adanya nekrosis kulit yang disebabkan oleh kontak dengan larutan pekat. Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi pada individu yang telah terpapar, tetapi hal ini jarang terjadi (2). Kontak dengan mata Benzetonium klorida: Aplikasi 30 ug pada mata kelinci dapat menyebabkan iritasi berat. Aplikasi surfaktan kationik konsentrasi 0,1-1,0 % dalam air dapat menyebabkan iritasi yang berarti atau luka pada mata kelinci (2). Bersifat korosif terhadap mata (3). Tertelan Benzetonium klorida: Menelan senyawa amonium kuatener dapat menyebabkan mual, muntah, gelisah, kebingungan, hipotensi, kejang, kelemahan otot rangka atau paralisis, kesulitan bernafas dan paralisis,

sianosis, pingsan, dan koma. Gejala lain yang dilaporkan termasuk kedinginan, nafas pendek, apprehension, aritmia, oliguria, dan syok sirkulasi. Dosis fatal pada manusia adalah sekitar 1-3 gram. Kematian yang diakibatkan asfiksia, umumnya terjadi dalam 1-3 jam. Kefatalan terhadap manusia meliputi korosi berat pada saluran pencernaan atas, erosi, ulkus dan perdarahan petekial pada usus halus, anak tekak, dan edema paru. Temuan patologis dalam kasus kematian dapat meliputi pembengkakan, nekrosis yang tidak sempurna dan infiltrasi lemak pada organ viseral, seperti jantung, hati, dan ginjal. Dilaporkan juga adanya edema otak dan perdarahan (2). Dapat mempengaruhi perilaku (menyebabkan depresi sistem saraf pusat, kegembiraan, kejang, dan koma), sistem pernafasan (depresi pernafasan), darah, urin (hematuria), sistem metabolisme (berat badan menurun) (5). Keracunan kronik Terhirup Benzetonium klorida: Tidak terdapat informasi (2). Kontak dengan kulit Benzetonium klorida: Efek yang timbul bergantung pada konsentrasi dan lama paparan. Dapat terjadi dermatitis atau efek yang serupa dengan paparan jangka pendek. Jarang dilaporkan bahwa paparan berulang dapat menyebabkan sensitisasi seperti alergi dermatitis aksiler yang diakibatkan oleh penggunaan deodoran roll-on. Paparan akibat aplikasi dermal bahan dalam etanol selama 2 tahun menyebabkan hiperplasia pada epitel tikus dan mencit dan hiperplasia pada kelenjar sebaseus serta ulkus pada tikus betina di tempat paparan (2). Kontak dengan mata Benzetonium klorida: Efek yang timbul bergantung pada konsentrasi dan lama paparan. Kemungkinan dapat terjadi konjungtivitis atau efek yang serupa dengan efek pada paparan akut (2). Tertelan Benzetonium klorida: Pengujian yang dilakukan menggunakan senyawa yang terkait mengindikasikan bahwa hewan yang mati setelah diberi pakan

selama beberapa minggu mengalami focal hemorrhagic necrosis pada mukosa lambung dan terlihat kematian karena kekosongan berhubungan dengan diare kronis (2). 9. Pertolongan Pertama Terhirup (2) Bila aman memasuki area, segera pindahkan dari area pemaparan dan pindahkan ke area dengan udara bebas. Bila perlu gunakan kantong masker berkatup atau pernafasan penyelamatan. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Kontak dengan kulit (2,4,5) Segera tanggalkan pakaian, perhiasan, dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci dengan sabun atau detergen ringan dan air dalam jumlah yang banyak sampai dipastikan tidak ada bahan kimia yang tertinggal (selama 15-20 menit). Untuk luka bakar, tutupi luka dengan kain kassa steril yang kering dan longgar. Untuk kontak kulit yang serius, cuci kulit yang terkontaminasi dengan sabun desinfektan dan tutupi kulit yang terkena dengan krim antibakteri. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Pakaian dan sepatu yang terkontaminasi harus dibersihkan dan dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan kembali. Kontak dengan mata (2,5) Segera cuci mata dengan air yang banyak selama 15 menit dengan sesekali membuka kelopak mata atas dan bawah sampai dipastikan tidak ada lagi bahan kimia yang tertinggal. Dapat digunakan air dingin. Lanjutkan irigasi dengan larutan garam normal sampai siap dibawa ke rumah sakit. Tutup dengan kain kassa steril. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Tertelan (2,5) Longgarkan bagian pakaian yang melekat ketat, seperti kerah baju, dasi, atau ikat pinggang. Jangan merangsang muntah atau memberi minum bagi pasien yang tidak sadar/pingsan. Berikan susu atau karbon aktif. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

Catatan untuk dokter: Bila terhirup, pertimbangkan oksigen. Bila tertelan, pertimbangkan pemberian pencahar (2). Berikan pengobatan simptomatik dan penunjang (7). 10. Penatalaksanaan Oleh Petugas Kesehatan Stabilisasi a. Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara. b. Penatalaksanaan fungsi pernafasan untuk memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida. c. Penatalaksanaan sirkulasi, bertujuan mengembalikan fungsi sirkulasi darah. d. Jika ada kejang, beri diazepam dengan dosis: Dewasa: 10-20 mg IV dengan kecepatan 2,5 mg/30 detik atau 0,5 ml/30 menit, jika perlu dosis ini dapat diulang setelah 30-60 menit. Mungkin diperlukan infus kontinyu sampai maksimal 3 mg/kg BB/24 jam. Anak-anak: 200-300 µg/kg BB. Dekontaminasi a. Dekontaminasi mata Dilakukan sebelum membersihkan kulit: - Posisi pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang terkena atau terburuk kondisinya. - Secara perlahan bukalah kelopak mata yang terkena dan cuci dengan sejumlah air bersih dingin atau larutan NaCl 0,9% diguyur perlahan selama 15-20 menit atau sekurangnya satu liter untuk setiap mata. - Hindarkan bekas air cucian mengenai wajah atau mata lainnya. - Jika masih belum yakin bersih, cuci kembali selama 10 menit. - Jangan biarkan pasien menggosok matanya. - Tutuplah mata dengan kain kassa steril dan segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat dan konsul ke dokter mata.

b. Dekontaminasi kulit (termasuk rambut dan kuku) - Bawa segera pasien ke air pancuran terdekat. - Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air mengalir yang dingin atau hangat serta sabun minimal 10 menit. - Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut pasien dengan kain atau kertas secara lembut. Jangan digosok. - Lepaskan pakaian, arloji, dan sepatu yang terkontaminasi atau muntahannya dan buanglah dalam wadah/plastik tertutup. - Penolong perlu dilindungi dari percikan, misalnya dengan menggunakan sarung tangan, masker hidung, dan apron. Hati-hati untuk tidak menghirupnya. - Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut. 11. Batas Paparan dan Alat Pelindung Diri Batas paparan benzetonium klorida: Tidak tersedia informasi batas paparan di tempat kerja (2). TLV dan MAK tidak ditetapkan (3). Ventilasi: Sediakan sistem ventilasi penghisap udara setempat. Ventilasi harus tahan ledakan jika terjadi konsentrasi bahan yang akan meledak. Pastikan dipatuhinya batas paparan yang berlaku (2). Proteksi mata: Gunakan kaca mata pengaman tahan percikan. Sediakan kran pencuci mata untuk keadaan darurat serta semprotan air deras dekat dengan area kerja (2). Pakaian: Gunakan pakaian pelindung yang tahan bahan kimia (2). Sarung tangan: Gunakan sarung tangan pelindung yang tahan bahan kimia (2). Respirator: Pada kondisi penggunaan yang sering atau paparan berat, kemungkinan diperlukan proteksi saluran pernafasan. Proteksi saluran pernafasan diurutkan dari minimum hingga maksimum. Pertimbangkan petunjuk peringatan sebelum penggunaan (2).

Setiap respirator cartridge kimia yang dilengkapi cartridge uap organik dan penyaring partikel berefisiensi tinggi. Setiap respirator cartridge kimia yang dilengkapi cartridge uap organik dan penyaring debu serta kabut. Setiap respirator pemurni udara yang dilengkapi masker wajah penuh, tabung uap organik, dan penyaring debu, kabut, serta asap. Setiap respirator pemurni udara yang bertenaga dan dilengkapi masker wajah penuh serta penyaring partikel berefisiensi tinggi. Untuk konsentrasi yang tidak diketahui atau sangat berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan: Setiap respirator pemasok udara memiliki pelindung wajah penuh yang dioperasikan dalam suatu mode perlu tekanan atau tekanan positif lain digabungkan dengan pasokan pelepas terpisah (2). Setiap alat pernafasan serba lengkap yang dilengkapi pelindung wajah penuh (2). 12. Manajemen Pemadam Kebakaran Bahaya ledakan dan kebakaran: Bahaya kebakaran ringan. Campuran debu/udara dapat memicu kebakaran atau ledakan (2). Media pemadam kebakaran: Bahan kimia kering, karbon dioksida, semprotan air, busa kimia (2), serbuk (3). Kebakaran kecil: Gunakan bahan kimia kering (5). Kebakaran besar: Gunakan busa atau basahi dengan semprotan air (2). Jangan gunakan water jet (5). Pemadaman kebakaran: Pindahkan wadah dari daerah yang terbakar jika dapat dilakukan tanpa adanya risiko. Dinginkan wadah dengan semprotan air sampai api padam. Hindari ujung tangki. Gunakan bahan pemadam kebakaran yang sesuai di sekitar api. Basahi dengan semprotan air. Hindarkan menghirup bahan atau produk samping pembakaran. Tetaplah diam di tempat yang arah anginnya berlawanan dan hindari daerah yang lebih rendah (2).

13. Manajemen Tumpahan Jangan menyentuh tumpahan. Hentikan kebocoran jika dapat dilakukan tanpa adanya risiko. Kurangi penguapan dengan semprotan air (2). Tumpahan kecil: Serap dengan pasir atau bahan tidak mudah yang tidak mudah terbakar. Kumpulkan tumpahan bahan dalam wadah yang sesuai untuk pembuangan (2). Hindarkan kondisi pembentukan debu (3,4) Tumpahan besar: Buatlah tanggul untuk pembuangan selanjutnya. Hindarkan orang yang tidak berkepentingan untuk mendekat, isolasi area tumpahan, dan beri larangan masuk (2). Hindarkan bahan ini mencemari lingkungan (3). 14. Daftar Pustaka 1. Informasi Bahan Beresiko Keracunan, Sentra Informasi Keracunan Depkes RI., Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2000. Hal 58-62. 2. OHS, MDL Information System, Inc., Donelson Pike, Nashville, 1997. 3. http://www.inchem.org/documents/icsc/icsc/eics0387.htm (diunduh Juni 2011) 4. http://www.chemcas.com/material/cas/archive/121-54-0.asp (dunduh Juni 2011) 5. http://www.sciencelab.com/xmsds-benzethonium_chloride-9923044 (diunduh Juni 2011) 6. http://msds.chem.ox.ac.uk/be/benzethonium_chloride.html (diunduh Juni 2011) 7. http://www.analytyka.com.mx/english/msds/b/b0036.htm ------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Disusun oleh: Sentra Informasi Keracunan Nasional (SiKerNas) Pusat Informasi Obat dan Makanan, Badan POM RI Tahun 2011 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------