BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai salah satu negara yang sangat luas dan memiliki

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi kebanggaan dan nilai tersendiri bagi kelompok sukunya. Setiap suku

BAB I PENDAHULUAN. keturunan, seperti penarikan garis keturunan secara patrilineal artinya hubungan

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi dalam menyampaikan pendapat terhadap masyarakat, baik berupa

BAB 1 PENDAHULUAN. (Santrock,2003). Hall menyebut masa ini sebagai periode Storm and Stress atau

BAB II LANDASAN TEORI. orang tua dari anak anak kelak (Lyken dan Tellegen, 1993). Pemilihan

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. hak dan kewajiban yang baru atau ketika individu telah menikah, status yang

BAB I PENDAHULUAN. matang baik secara mental maupun secara finansial. mulai booming di kalangan anak muda perkotaan. Hal ini terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing untuk menjalani hidup bersama.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Suku ini banyak mendiami wilayah Provinsi Sumatera Utara,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan demi

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut salah satu teori utama pemilihan pasangan, Developmental

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pernikahan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan manusia. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebudayaan adalah salah satu yang dimiliki oleh setiap negara dan

BAB I PENDAHULUAN. bagi mahasiswa-mahasiswi sangat beragam. Mereka dapat memilih jurusan sesuai

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sebuah perkawinan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup baik secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia dalam proses perkembangannya untuk meneruskan jenisnya membutuhkan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proses penyesuaian diri seseorang dalam konteks interaksi dengan lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perasaan positif yang dimiliki pasangan dalam perkawinan yang memiliki makna

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB. I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. proses kultural budaya di masa lalu, kini telah berganti sebab. Di masyarakat

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemahaman tentang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan

BAB I PENDAHULUAN. pedoman hidup sehari-hari. Keberagaman tersebut memiliki ciri khas yang

BAB I PENDAHULUAN. matang dari segi fisik, kognitif, sosial, dan juga psikologis. Menurut Hurlock

BAB I PENDAHULUAN. parkawinan akan terbentuk masyarakat kecil yang bernama rumah tangga. Di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Asertif. jujur, terbuka, penuh percaya diri, dan teguh pendiriannya (Davis, 1981).

BAB I PENDAHULUAN. paranak dan pihak perempuan atau parboru. Perkawinan mengikat kedua belah

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari individu lain. 1. Pertalian darah menurut garis bapak (Patrilineal)

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan ikatan lahir batin dan persatuan antara dua pribadi yang berasal

BAB 1 PENDAHULUAN. Komunikasi manusia banyak dipengaruhi oleh budaya yang diyakini yaitu

BAB IV SISTEM PERNIKAHAN ADAT MASYARAKAT SAD SETELAH BERLAKUNYA UU NO. 1 TAHUN A. Pelaksanaan Pernikahan SAD Sebelum dan Sedudah UU NO.

BAB V KESIMPULAN. bab- bab sebelumnya maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, yang

BAB I PENDAHULUAN. pandangan hidup bagi suatu kelompok masyarakat (Berry et al,1999). Pandangan

BAB I PENDAHULUAN. budaya yang pada awalnya merupakan unsur pembentukan kepribadiannya.

BAB 1 PENDAHULUAN. belakang sosiokultural seperti ras, suku bangsa, agama yang diwujudkan dalam

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Beberapa dekade lalu, orang tua sering menjodohkan anak mereka dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan adalah suatu hubungan yang sakral atau suci dan pernikahan memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kelompok yang rentan untuk terbawa arus adalah para remaja. Kenapa? Tak lain

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki keanekaragaman suku bangsa. Sampai saat ini tercatat terdapat

PERANAN NILAI BUDAYA DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. watak pada individu. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tahap perkembangan psikososial Erikson, intimacy versus isolation, merupakan isu

BAB I PENDAHULUAN. diri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Menurut Reber (dalam Fatimah, 2008,h.143) kemandirian adalah

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keluarga yang harmonis. Dalam berumah tangga setiap pasang terkadang

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak pernah terlepas dari

BAB I PENDAHULUAN. Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir.

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam kehidupan remaja, karena remaja tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga

11. TINJAUAN PUSTAKA. berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi di masyarakat yang. bersangkutan. Koentjaranigrat (1984: )

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mutia Ramadanti Nur,2013

KEBERTAHANAN PERKAWINAN IDEAL MENURUT SUKU BATAK KARO DI KELURAHAN KWALA BEKALA PADANG BULAN MEDAN (SUATU TINJAUAN ANTROPOLOGI) oleh :

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mendorong semua lapisan masyarakat untuk masuk kedalam

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk yang. terdiri dari ribuan pulau-pulau dimana masing-masing penduduk dan suku

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional dan bahasa daerah. Sumatera

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Perilaku Seksual Pranikah

BAB I PENDAHULUAN. manusia kedua setelah laki-laki. Tatanan sosial memberi kedudukan perempuan

PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN DAN OPTIMALISASI FUNGSI KELUARGA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV KOMPARASI PANDANGAN MAJELIS ADAT ACEH (MAA) DAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN ULAMA (MPU) KOTA LANGSA TERHADAP PENETAPAN EMAS SEBAGAI MAHAR

BAB 1 PENDAHULUAN. pengaruhi oleh kematangan emosi baik dari suami maupun istri. dengan tanggungjawab dan pemenuhan peran masing-masing pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam membangun hidup berumah tangga perjalanannya pasti akan

BAB I PENDAHULUAN. jawab dalam kehidupan berumah tangga bagi suami istri (Astuty, 2011).

LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proses dan pemaknaan tentang arti perkawinan itu sendiri selama pasangan

BAB I PENDAHULUAN. yang mendukung dimiliki di jalur kehidupan yang sedang dilalui.

dan Pertunangan Pernikahan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang terdepan dalam

BAB I PENDAHULUAN. yang sesuai dengan fungsi dan tujuan yang diinginkan. Kesenian dapat

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. muda (youth) adalah periode kesementaraan ekonomi dan pribadi, dan perjuangan

PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA PASANGAN YANG BERLATAR BELAKANG ETNIS BATAK DAN ETNIS JAWA. Mia Retno Prabowo Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dimulai dari lahir, masa

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai suku

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. hakekat itu, manusia selalu berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhannya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh

TINJAUAN PUSTAKA. Dewasa Muda. Tabel 1 Pendapat ahli mengenai tahapan masa dewasa dan usianya

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI A. Preferensi pemilihan pasangan A.1 Definisi Preferensi pemilihan pasangan Preferensi pemilihan pasangan merupakan salah satu topik yang sudah pernah diteliti oleh beberapa peneliti. Tokoh yang aktif meneliti ini adalah David Buss. Adapun pengertian preferensi pemilihan pasangan adalah kecenderungan individu memilih seseorang untuk dinikahi yang memiliki kesamaan di beberapa aspek (Buss, 1985). Menurut Towsend (1990) preferensi pemilihan pasangan adalah proses selektif untuk memilih pasangan hidup. Buss (1985) telah melakukan penelitian pada 37 negara dengan melihat preferensi pemilihan pasangan antara laki-laki dan perempuan, yang mana laki-laki lebih tertarik pada daya tarik fisik dibanding perempuan, sedangkan perempuan lebih memilih lakilaki yang berpenghasilan baik. Berdasarkan perspektif evolutionary theory bahwa preferensi pemilihan pasangan lebih menekankan pada bagian reproduksi.. Menurut Lykken dan Tellegen (1993) preferensi pemilihan pasangan merupakan proses memilih siapa yang akan menjadi teman hidup, orang yang akan memberikan setengah kontribusinya dalam gen untuk melahirkan dan menjadi orang tua bagi anak-anak mereka. Menurut Good (dalam Buss, 2011) berdasarkan konsep evolutionary theory, maka preferensi pemilihan pasangan merupakan spesies yang secara 11

genetika sudah diatur untuk melakukan strategi, taktik untuk bertahan hidup, bertumbuh, dan bereproduksi. Gender yang dapat memberikan atau mendapatkan genetik yang baik, dipandang sebagai yang paling selektif dalam memilih pasangan. Berdasarkan definisi di atas, maka preferensi pemilihan pasangan merupakan proses individu memilih seseorang yang mirip dengannya untuk dijadikan sebagai teman hidupnya yang akan memberikan kontribusi gen dan sebagai orang tua untuk anak-anak mereka. B. Dimensi Preferensi Pemilihan Pasangan Shackelford, Schmitt, dan Buss (2005) melakukan penelitian untuk mengidentifikasi beberapa dimensi preferensi pemilihan pasangan. Untuk mengidentifikasi dimensi umum dalam preferensi pemilihan pasangan pada pasangan jangka panjang, mereka menggunakan database peringkat preferensi yang telah diberikan kepada beberapa ribu partisipan dari berbagai budaya. Mereka mengidentifikasi ada empat dimensi yaitu : 1. Love vs Status Resource Munculnya dimensi love vs status resource menunjukkan bahwa orang secara psikologis kecenderungan memilih pasangan dengan dasar cinta dan adanya rasa saling mencintai dan mencari seseorang dengan status dan sumber daya yang baik. 12

2. Dependeble/Stabel vs Good Looks/Health Munculnya dimensi dependable/stabel vs good looks/health menunjukkan bahwa seseorang secara psikologis memilih pasangan hidup berdasarkan penampilan fisik, kesehatan, dan kepribadian yang stabil. 3. Education/Intelligence vs Desire for Home/Children Munculnya dimensi education/intelligence vs desire for home/children menunjukkan bahwa seseorang cenderung melihat faktor pendidikan dan keinginan memiliki rumah dan anak dalam memilih pasangan. Semakin seseorang berkompetensi, maka semakin besar individu tersebut mempunyai daya tarik. 4. Socialbility vs Similar Religion Munculnya dimensi socialbility vs similar religion menunjukkan bahwa seseorang cenderung memilih pasangan yang mudah bergaul dan lebih memilih seseorang yang memiliki agama yang sama. Seseorang cenderung lebih memilih individu yang memiliki banyak kesamaan dengannya dalam hal agama maupun latar belakang yang sama. C. Pengukuran Preferensi Pemilihan Pasangan Pengukuran preferensi pemilihan pasangan pada penelitian ini menggunakan alat ukur yang diperkenalkan oleh Buss (1985). Buss telah meneliti berbagai penelitian terkait preferensi pemilihan pasangan. Pada bagian pertama alat ukur adalah data biografi. Pada bagian data biografi ini partisipan penelitian diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bersifat sebagai informasi umum seperti, usia, jenis kelamin, dan status pernikahan. 13

Pada bagian kedua dari alat ukur Buss (1985) adalah bagian evaluasi preferensi pemilihan pasangan. bagian ini terdiri dari 18 karakteristik preferensi pemilihan pasangan. partisipan merespon dengan 5 jawaban yang mempunyai skor bergerak dari nol (0) sampai (4). Pada bagian ketiga atau bagian terakhir alat ukur subjek diminta untuk merangking 13 karakteristik preferensi pemilihan pasangan. D. Mahasiswa Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi. Secara umum, orang yang namanya terdaftar belajar di perguruan tinggi. Pengertian mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. E. Dewasa Awal Dilihat dari perkembangan usia mahasiswa, dapat dikatakan bahwa mereka sudah memikirkan tentang pasangan hidup. Hurlock (1999) pada dewasa awal tugas perkembangan dalam mencari pasangan hidup sudah ada. Hurlock (1999) mengatakan bahwa masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai umur 40 tahun, dan saat itu juga perubahan-perubahan fisik dan psikologis mulai mengalami penurunan berkurangnya kemampuan reproduktif. Dilihat dari rentang usia dewasa awal menurut Hurlock (1999), maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa termasuk dalam tahap perkembangan dewasa awal. 14

antara lain: Hurlock (1999) membagi tugas perkembangan pada individu dewasa awal, a. Sudah memulai untuk bekerja b. Mencari dan memilih pasangan c. Memulai untuk membina keluarga d. Dapat mengasuh anak e. Mengelola rumah tangga f. Dapat mengambil tanggung jawab sebagai warga negara g. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan Santrock (2002) mengatakan masa dewasa muda adalah masa untuk bekerja dan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dewasa awal sudah memikirkan tentang pernikahan. Untuk itu dalam hal memilih pasangan, dewasa awal sudah matang untuk membuat keputusan kriterita yang cocok untuk dirinya. F. Suku Karo Suku Karo adalah salah satu suku bangsa dari banyak etnis yang ada di Kepulauan Nusantara. Masyarakat karo persebarannya dapat dikatakan luas. Daerah suku Karo antara lain, Kabupaten Karo, Langkat, Deli Serdang, Simalungun, dan Dairi. Suku Karo sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan alam, suku Karo termasuk suku pedalaman dan melintas agraris. Suku Karo sendiri memiliki lima marga yaitu, Karo-Karo, Ginting, Tarigan, dan Peranginangin (Tarigan, 2009). Apabila masyarakat ingin menjalani tradisi suku Karo, 15

harus mengacu pada tradisi yang ada di kabupaten Karo. Daerah suku Karo identik dengan Taneh Karo hal ini dikarenakan suku Karo masih menjalani kebudayaan Karo secara ketat dan menjadi standar/ideal untuk ditiru (Koentjaraningrat, 1984). Sebagai masyarakat yang terisolir di pedalaman dataran tinggi, ternyata adanya sebuah komunitas yang membentuk sebuah budaya yang menjadi patron bagi masyarakat Karo (Tarigan, 2009). Pada suku Karo sistem kekerabatan dan perkawinan begitu menentukan keberlangsungan tatanan adat-istiadat serta struktur sosialnya secara harmonis. Mereka berupaya menjaga perkawinan ideal dalam tradisi Karo, yakni si pemuda atau gadis wajib menikahi impal-nya (seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya) sebagai pasangan idealnya (Tarigan, 2009). Suku Karo mempertahankan anggota keluarga satu suku, suku Karo sendiri khususnya orangtua dan keluarga masih memegang peranan yang besar dalam penentuan pasangan hidup seseorang. Di dalam masyarakat Karo itu sendiri, perkawinan terjadi bukan hanya antara kedua individu yang akan menikah, tetapi juga perkawinan antar dua keluarga, di sinilah berkembang suatu ikatan kekeluargaan dan keluarga inti. Makna perkawinan yang sakral membuat perkawinan pada suku Karo secara filosofi mengadakan pesta yang dibuat oleh orang tua kedua mempelai. Kedua calon mempelai tidak dibebani tanggung jawab untuk mengadakan pesta, namun yang bertanggung jawab adalah kedua orang tua dari calon mempelai, terutama orang tua pihak laki-laki (Tarigan, 2009). 16

F.1. Sifat-Sifat Masyarakat Karo Menurut Bangun (2006) adapun sifat-sifat masyarakat Karo pada umumnya adalah sebagai berikut : A. Percaya Diri Masyarakat Karo pada umumnya percaya akan kekuatannya sendiri. Berkaitan dengan sikap percaya dirinya, masyarakat Karo bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak jarang masyarakat Karo dengan kekuatannya sendiri mencapai banyak karir karena usahanya. B. Tidak Serakah Masyarakat Karo mendambakan hidup yang sejahtera, namun mereka tidak melaluinya dengan berperilaku serakah atau tamak. Masyarakat Karo gigih dalam mempertahankan haknya, mereka tidak serakah jika itu bukan haknya. C. Sopan Masyarakat Karo memliki sikap yang sopan. Mereka berbicara dengan nada suara yang lembut dan cenderung tidak keras. Masyarakat Karo juga tidak memonopoli, bagi masyarakat Karo sikap sopan santun merupakan satu modal pokok dalam kehidupan bermasyarakat D. Mudah Menyesuaikan Diri Masyarakat Karo mudah menyesuaikan diri di tempat baru mereka berdomisili. Masyarakat Karo memiliki tenggang rasa sehingga dalam bergaul, masyarakat Karo pada umumnya disenangi. 17

G. Preferensi pemilihan pasangan Mahasiswa Karo Universitas Sumatera Utara Preferensi pemilihan pasangan adalah kecenderungan individu memilih seseorang untuk dinikahi yang memiliki kesamaan di beberapa aspek (Buss, 1985). Lykken dan Tellegen (1993) juga mengatakan bahwa preferensi pemilihan pasangan merupakan proses memilih siapa yang akan menjadi teman hidup, orang yang akan memberikan setengah kontribusinya dalam gen untuk melahirkan dan menjadi orang tua bagi anak-anak mereka. Dalam dimensinya preferensi pemilihan pasangan memiliki empat dimensi, yaitu love vs status resource yang mana secara psikologis seseorang akan memilih pasangan atas dasar cinta dan sumber daya yang baik, dependeble/stabel vs good looks/health yang mana secara psikologis seseorang memilih pasangan yang memiliki emosi stabil dan berpenampilan menarik dan sehat, education/intelligence vs desire for home/children yang mana seseorang akan memilih pasangan dari faktor pendidikan dan mempunyai keinginan memiliki rumah dan anak, dan socialbility vs similar religioun yang mana secara psikologis seseorang memilih pasangan yang mudah bergaul dan dari latar belakang agama yang sama (Shackelford, Schmitt, dan Buss, 2005). Bagi orang Karo secara turun-temurun perkawinan ideal dalam tradisi Karo, yakni laki-laki atau perempuan wajib menikahi impal-nya sebagai pasangan idealnya (Manalu, 2013). Untuk itu pada saat anak-anak Karo masih kecil, mereka sering dibawa oleh orang tuanya untuk mengikuti kegiatan adat atau pesta adat suku Karo, terutama pesta pernikahan. Hal ini dilakukan agar dalam diri anak- 18

anak Karo tertanam nilai-nilai moral budaya karo dan cenderung akan memilih pasangan dari latar budaya yang sama (Meliala, 2007). Begitu juga ada beberapa dimensi hasil dari penelitian Shackelford, Schmitt, dan Buss pada tahun 2005, mengatakan bahwa dalam hal memilih pasangan, hal yang diperlukan adalah mempunyai cinta dan status sosial yang baik, fisik yang menarik, pendidikan, dan latar belakang agama dan budaya yang sama. Beberapa hal tersebut akan selalu menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan. Preferensi pemilihan pasangan ini jika dikaitkan pada mahasiswa Karo, maka terlihat adanya pertimbangan seperti budaya yang tidak terlalu penting dalam memilih pasangan. Menurut DeGenova (2008) pasangan akan lebih merasa puas dan mendapatkan kehidupan pernikahan yang baik apabila pasangannya dapat membagi harapan yang sama mengenai peran gender dan apabila dapat saling bertoleransi mengenai kebiasaan kebiasaan dari pasangan. Oleh karena itu, perilaku dan karakter menjadi lebih penting Hal ini dapat diindikasikan karena mahasiswa Karo sudah memiliki interaksi antar budaya dan mengadaptasi nilainilai yang bagi mereka baik untuk dilakukan. Bagi mereka selain budaya, kepribadian menjadi hal yang utama, sehingga komposisi budaya menjadi hal yang tidak begitu penting lagi. 19