IDENTITAS KOTA, FENOMENA DAN PERMASALAHANNYA

dokumen-dokumen yang mirip
UNIVERSITAS TADULAKO

Dr.Ir. Edi Purwanto, MT

Desain Spasial Kawasan sebagai Dasar Pengembangan Ekspresi Visual Tepi Sungai Kalimas Surabaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDUKUNG KEGIATAN (ACTIVITY SUPPORT ) Adi Sasmito *) Abstrak

L I N K A G E. Mata Kuliah Arsitektur Kota. Teori Urban Desain

APLIKASI REGIONALISME DALAM DESAIN ARSITEKTUR

Tengah berasal dari sebuah kota kecil yang banyak menyimpan peninggalan. situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan-bangunan candi pada masa

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LINGKUNGAN BINAAN (PS ALB)

BAB II KAJIAN LITERATUR

BAB I PENDAHULUAN. Kota merupakan salah satu wilayah hunian manusia yang paling kompleks,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

area publik dan privat kota, sehingga dihasilkan ekspresi rupa ruang perkotaan khas Yogyakarta. Vegetasi simbolik ini dapat juga berfungsi sebagai

TEORI PERANCANGAN KOTA. Pengantar Perancangan Perkotaan

BAB I PENDAHULUAN Latarbelakang Latarbelakang Pengadaan Proyek

Pengertian Kota. Pengertian Kota (kamus)

Bentuk Analogi Seni Pertunjukan dalam Arsitektur

ALTERNATIF DESAIN ARSITEKTUR HIJAU PADA PERSIL BANGUNAN UNTUK MEMPERKUAT KARAKTER GARDEN CITY DI KAWASAN KOTABARU DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. besar dari sejak awalnya berdirinya desa (kurang lebih 150 tahun yg lalu)

PUSAT INFORMASI BATIK di BANDUNG BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari pemahaman mengenai citra suatu kawasan. Adapun teori yang berhubungan

Penerapan Budaya Sunda dalam Perancangan Pasar Rakyat Kasus: Pasar Sederhana, Bandung

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan musik sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Kota

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB III METODE PERANCANGAN. dengan objek perancangan. Kerangka rancangan yang digunakan dalam proses

BAB I PENDAHULUAN. Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta AM. Titis Rum Kuntari /

KARAKTER INDIS KAWASAN SAGAN LAMA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Piramida Hirarki Kebutuhan (Sumber : en.wikipedia.org)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 06 KODE / SKS : KK / 4 SKS. Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

STUDI KOMPARATIF POLA MORFOLOGI KOTA GRESIK DAN KOTA DEMAK SEBAGAI KOTA PERDAGANGAN DAN KOTA PUSAT PENYEBARAN AGAMA ISLAM TUGAS AKHIR

BAB III METODE PERANCANGAN. Metode yang digunakan dalam perancangan Sentral Wisata Kerajinan

Abito Bamban Yuuwono. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. Ruang Komunal Kelurahan Kemlayan sebagai Kampung Wisata di. Surakarta dengan Pendekatan Arsitektur Kontekstual

BAB I PENDAHULUAN Kusrianto, Adi Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta: Andi Offset halaman

PENATAAN DAN PENGEMBANGAN SENTRA BATIK & TENUN DI PEKALONGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN SUSTAINABLE SETTLEMENT

BAB I MENGENAL ARSITEKTUR KOTA, BENTUK DAN DINAMIKANYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Eksistensi Proyek

BAB I PENDAHULUAN. seseorang akan mampu menilai banyak hal mengenai budaya seperti gaya hidup,

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAGIAN 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek

BAB III METODE PERANCANGAN. Pengembangan Seni Rupa Kontemporer di Kota Malang ini menggunakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kasus Proyek

Historical Attachment sebagai Daya Tarik Place Studi Kasus: Masjid Salman, Bandung

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS TEMA

KAJIAN TERHADAP KONSEP ELEMEN ALAMI DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TEPIAN PANTAI

BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1

Aspek Arsitektur Kota dalam Perancangan Pasar Tradisional

BAB VII KESIMPULAN, SARAN DAN KONTRIBUSI TEORI

I.1 LATAR BELAKANG I.1.1

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK

BAB I PENDAHULUAN. Dalam lingkup sosio-kultural yang lebih sempit, salah satu manfaat

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan untuk fasilitas-fasilitas pendukungnya. menginap dalam jangka waktu pendek.

BAB I PENDAHULUAN. yang dominan berupa tampilan gedung-gedung yang merupakan karya arsitektur dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Manusia merupakan makhluk sosial dimana mereka saling membutuhkan satu

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK YANG DIRENCANAKAN DAN KONSEP PERENCANAAN

pengembangan pariwisata di kampung Sawinggrai bisa dijadikan sebagai buktinya.

BAB I PENDAHULUAN. pariwisata yang mungkin kiranya kita sebagai warga negara Indonesia patut untuk

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

PENATAAN PUSAT KAWASAN SENTRA KERAJINAN KOTAGEDE SEBAGAI KAWASAN PEMASARAN DAN WISATA YANG REKREATIF

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. yang bersifat terpusat (sentralistik) berubah menjadi desentralisasi melalui

BAB I PENDAHULUAN. elemen fisik yang menunjukan rupa kota itu sendiri. Aspek fisik dan sosial ini

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, REKOMENDASI

Identitas, suatu objek harus dapat dibedakan dengan objek-objek lain sehingga dikenal sebagai sesuatu yang berbeda atau mandiri.

SEKOLAH TINGGI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DI YOGYAKARTA Penekanan Desain Konsep Arsitektur Modern

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian Bayu Dwi Nurwicaksono, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Makanan modern yang beredar tersebut menarik minat para generasi muda

Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin

MUSEUM ARSITEKTUR JAKARTA

Tipologi Bangunan Paikhong sebagai salah satu Elemen Dominan (Landmark) dalam Memperkuat Citra Kota Singkawang Kalimantan Barat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Meng- abadi -kan Arsitektur dalam Rancangan Gedung Konser Musik Klasik Surabaya

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Logo, sebuah istilah sejak awal dari Bahasa Yunani logos sampai

RUANG TERBUKA PADA KAWASAN PERMUKIMAN MENENGAH KE BAWAH Studi Kasus : Kawasan Permukiman Bumi Tri Putra Mulia Jogjakarta

BAB I PENDAHULUAN. budaya yang semakin arif dan bijaksana. Kegiatan pariwisata tersebut

BAGIAN 1 PENDAHULUAN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

STUDI PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA TEGAL MELALUI PENDEKATAN MORFOLOGI KOTA TUGAS AKHIR. Oleh : PRIMA AMALIA L2D

5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan dari penelitian dinamika aktifitas di ruang pejalan kaki di Jalan

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

ELEMEN FISIK PERANCANGAN ARSITEKTUR KOTA

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata di Indonesia saat ini banyak sekali mendatangkan komoditi yang sangat

Transkripsi:

IDENTITAS KOTA, FENOMENA DAN PERMASALAHANNYA A m a r Jurusan Arsitektur FT Untad amarakbarali@ymail.com Abstrak Perkembangan kota kota di Indonesia mempunyai kecenderungan kehilangan identitasnya. Hal ini lebih disebabkan oleh beberapa fenomena, antara lain:terjadinya peningkatan percepatan perubahan ruangruang kota secara sistematis dan sangat pragmatis mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan kota; terjadinya generalisasi dan keseragaman bentuk perkembangan dan visual kota, sehingga kota tersebut semakin asing bagi masyarakat, terutama dalam mengenali dan menggali potensi jati diri untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya; dan pembangunan kota lebih dititiberatkan pada pertimbangan aspek fisik dan ekonomi, serta cenderung mengabaikan nilai nilai sosial budaya lokal dan historis kota. Untuk mengantisipasi agar kecenderungan pengungkapan fenomena identitas kota seperti itu tidak berlanjut, perlu kiranya dipelajari dan ditelusuri identitas suatu kota berdasarkan tatanan dan fungsi kehidupan kota secara lebih terintegrasi yang di dalamnya merupakan akumulasi dari nilai nilai sosio kultural warga kota sebagai ruh dan jati diri kota, serta elemen elemen fisik lingkungan sebagai wadahnya. Keywords : Identitas Kota PENDAHULUAN dan menyeluruh melalui penelusuran ciri ciri, Ungkapan tak kenal maka tak sayang tanda tanda atau jati diri, baik elemen fisik dapat menginspirasikan bahwa sesuatu yang (tangible) maupun psikis (intangible), dengan tidak dikenal dengan baik maka cenderung senantiasa memperhatikan kondisi faktual untuk tidak akan memberikan perhatian dan tatanan dan fungsi kehidupan kota, nilai nilai kasih sayang dalam memelihara, merawat historis serta nilai nilai lokal setempat sebagai dan menjaganya. Tanpa mengenalnya, tidak keunikan dan karakteristik tersendiri, tanpa akan diketahui apa tuntutan dan mengabaikan apresiasi masyarakat dan kebutuhannya. Untuk mengenal sesuatu lingkungannya. maka harus diketahui identitasnya terlebih Setiap kota memiliki jati diri atau cirinya dahulu. Mengenal identitas akan memahami masing masing antara masyarakat dan siapa dan apa kebutuhannya, berapa besar lingkungan (fisik) kotanya. Kebudayaan dan bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakatnyalah yang menjadi jiwa dan tersebut, serta berusaha menjaga dan karakter kota itu, serta aspek lingkungan memeliharanya secara baik dan (fisik) akan menjadi raganya. Keduanya berkesinambungan sesuai ciri ciri atau jati diri bagaikan sekeping mata uang dengan dua yang dimilkinya. sisinya. Apabila karakter sebuah kota kuat, Demikian pula halnya dengan sebuah kota, maka masyarakat pendatang biasanya akan untuk dapat memelihara dan memahami lebur dalam jati diri kota yang dituju. kebutuhan warga dan lingkungannya maka Pengaruh dari luar akan sulit masuk, bahkan kota tersebut harus dapat dikenal dengan kota akan mempengaruhi daerah sekitarnya. baik dan menyeluruh (comprehensive), Kemampuan kota mempertahankan karakter sehingga kebutuhan warga kota dan dan identitasnya, bahkan mempengaruhi kelestarian lingkungannya dapat dipenuhi dan daerah dan kota sekitarnya disebut memiliki dipelihara secara berkelanjutan (sustainable). local genius. Oleh karena itu, membangun Suatu kota dapat dikenal bila identitas kota kota (city) pada dasarnya membangun (jiwa) tersebut diketahui dan dipahami secara baik masyarakatnya. Apabila jiwa masyarakatnya rapuh maka kota itu lambat laun akan rapuh 55

pula dan demikian pula sebaliknya (Hariyono, 2007). Perkembangan suatu kota tidak akan pernah lepas dari identitasnya, untuk itu amatlah penting sebagai paradigma kota itu sendiri. Tentunya jika berkunjung kesuatu tempat atau kota pastinya akan mencari apa yang menjadi ciri khas dari tempat yang dikunjungi. Kota harus bisa memberikan kenyamanan bagi yang ingin tinggal ataupun yang datang dengan tujuan mencari nafkah atau sekedar berwisata. Kota harus bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh warganya (citizen) dan juga dapat memberikan keramahan bagi siapapun, termasuk lingkungannya (Dany, 2007). FENOMENA IDENTITAS KOTA Kota bukanlah lingkungan binaan yang dibangun dalam waktu singkat, tetapi dibentuk dalam waktu yang panjang dan merupakan akumulasi setiap tahap perkembangan sebelumnya. Setiap lapis tahapan tersebut merupakan keputusan banyak pihak dan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor (Alvares, 2002). Seperti yang dikatakan oleh Rossi (1982), bahwa kota adalah bentukan fisik buatan manusia (urban artefact) yang kolektif dan dibangun dalam waktu lama dan melalui prosesnya yang mengakar dalam budaya masyarakatnya. Kota kota pada dasarnya mampu menciptakan keunikan atau ciri khas seperti pusat bisnis, budaya, seni, ataupun ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yang diolah berdasar karakter atau identitas menonjol yang sejak semula telah dimiliki. Banyak kota akhirnya menjadi masyhur, karena memang memiliki jati diri dan identitas khusus yang dimilikinya, yang dibangun dari rangkaian sejarah yang lama, dan bukan karena sekedar akibat merek tempelan yang asal dilekatkan saja di belakang nama kota sebagai semacam sebuah slogan kosong belaka, dimana bahkan untuk itu tak terdapat partisipasi warga kotanya (Abiyoso, 2007). Beberapa kota terbesar dunia seperti New York, Tokyo, Paris, London dapat dikatakan telah menikmati hasil ketenaran nama mereka berkat karakter spesifik yang dimiliki sebagai identitas kotanya, serta kemampuan untuk terus memelihara dan membangunnya. Lebih lanjut Julia Winfield Pfefferkorn (2005) dalam studinya The Branding of Cities, menyebutkan bahwa keberhasilan kota kota dunia seperti New York, Paris, Rotterdam, dan San Francisco dalam menjual kotanya disebabkan karena mereka memiliki keunikan dalam salah sebuah fungsi kehidupan kota, seperti sejarah, kualitas ruang (termasuk infrastruktur), gaya hidup, dan budaya, dengan landasan program kerjasama yang mantap antar masyarakat dan pemerintah kotanya. Semua kota mempunyai identitas yang berbeda, baik yang positif maupun negatif. Identitas sebuah kota adalah keunikan kondisi dan karakteristik yang membedakannya dengan kota lainnya. Identitas kota adalah sebuah konsep yang kuat terhadap penciptaan citra (image) dalam pikiran seseorang yang sebelumnya tidak pernah dipahami (Fasli, 2003). Identitas kota sebenarnya tidak dapat dibangun tetapi terbentuk dengan sendirinya. Identitas kota terbentuk dari pemahaman dan pemaknaan image tentang sesuatu yang ada atau pernah ada/melekat pada kota atau pengenalan obyek obyek fisik (bangunan dan elemen fisik lain) maupun obyek non fisik (aktifitas sosial) yang yang terbentuk dari waktu ke waktu. Aspek historis dan pengenalan image yang diitangkap oleh warga kota menjadi penting dalam pemaknaan identitas kota atau citra kawasan (Wikantiyoso, 2006). 56

PERMASALAHAN IDENTITAS KOTA Perkembangan kota kota di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir justru mempunyai kecenderungan menghilangkan ciri identitas nya, sehingga kota kota tersebut kehilangan karakter spesifiknya yang memunculkan ketunggalrupaan bentuk dan arsitektur kota (Budiarjo,1997). Senada dengan pendapat Budiarjo, Wikantioyoso (2007) juga menyatakan bahwa kota kota di Indonesia saat ini telah kehilangan jatidiri atau identitas aslinya dikarenakan semakin menjamurnya design instan sebagai dampak globalisasi, sehingga bentuk arsitektur bangunan atau tata kawasan terasa ada kemiripan antara kota yang satu dan lainnya. Akibatnya masyarakat kehilangan pegangan untuk mengenali lingkungannya (Raksadjaja, 1999). Keberadaan kota kota di Indonesia yang seharusnya mendukung pertumbuhan nilainilai budaya lokal justru terjebak dalam budaya massal. Karena diakui atau tidak nilainilai budaya itulah yang pada akhirnya akan membentuk karakter dan identitas sebagai sebuah bangsa. Hal ini disebabkan oleh diabaikannya aspek kesejarahan pembentukan kota sehingga kesinambungan sejarah kawasan kota seolah terputus sebagai akibat pengendalian perkembangan yang kurang memperhatikan tatanan kehidupan dan aspek fungsi kawasan (Wikantioyoso, 2000). Selanjutnya, terdapat suatu kecenderungan terjadinya perubahan ruang ruang kota sebagai akibat dari pesatnya pembangunan fisik kota. Kondisi ini diperkuat oleh penyataan Trancik (1986), bahwa pada kotakota besar atau modern telah banyak terjadi ruang ruang yang hilang (lost space). Hal ini dikarenakan kota kota tersebut dalam memproduksi ruang ruangnya hanya dengan cara menghubungkan elemen elemen fisik kota secara sistematis dan memfungsikannya sebagai sebuah mesin. Setiap elemen kota dianggap sebagai fungsi fungsi yang diprediksikan secara jelas dan merupakan sebuah bentuk akhir yang ditentukan hanya oleh fungsi tersebut, sehingga tidak ada ruang untuk pertumbuhan dan perubahan, ambiguitas dan keberagaman arti. Kekhawatiran Trancik terhadap kecenderungan yang telah terjadi di atas, ternyata sudah dialami pula oleh kota di Indonesia, terutama dalam proses perkembangan dan kehidupan kotanya, dimana telah terjadi generalisasi atau keseragaman bentuk dan penampilan kota, serta peningkatan percepatan perubahan ruang ruang kota secara sistematis, sangat pragmatis, dan lebih banyak berdasarkan pada pertimbangan ekonomi yang seolah telah menjadi satu satunya paradigma dalam pengembangan kota. Apabila kecenderungan itu terus terjadi dan mencakup wilayah perkotaan yang luas, kondisi ini bukan saja akan mengubah bentuk dan wajah kota (city form and town space) dalam waktu singkat, tetapi juga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan kota dan terjadinya proses dehumanisasi kota. Lebih lanjut dikhawatirkan pula bahwa kota itu mulai kehilangan identitasnya dan semakin asing bagi kehidupan warganya. Untuk menghindari agar kecenderungan pembangunan kota seperti itu tidak berlanjut, perlu dipahami dan dijelaskan kondisi faktual proses perkembangan kota melalui penelusuran tatanan kehidupan kota berdasarkan apresiasi, aspirasi, kebijakan, nilai nilai historis dan sosial budaya masyarakat sebagai pemaknaan identitas kota, sehingga penemuan kembali jati diri kota sebagai bagian hidup masyarakat dalam upaya pemenuhan kebutuhan warga kota dan peningkatan kualitas lingkungannya dapat dilakukan secara berkelanjutan (sustainable) atas dasar kearifan kearifan tradisional (indigenous knowledge). Dengan demikian pembangunan kota yang diharapkan 57

bukanlah pembangunan yang sia sia, melainkan pembangunan kota yang dapat memenuhi kriteria pengembangan kota yang digambarkan oleh Bob Cowherd dalam Pekik (2003) sebagai Does The Form, Function and Meaning of the City Foster Greater Social Division or a Greater Common Good. Dalam kaitannya dengan pemaknaan identitas kota, nilai nilai historis dan sosial budaya lokal akan tampak dari proses perkembangan fungsi kehidupan suatu kota. Atau dengan kata lain, proses perkembangan fungsi kehidupan suatu kota dapat dipandang sebagai sekumpulan data yang dapat dimanfaatkan sebagai titik awal dari setiap langkah pemaknaan identitas kota. Gambaran proses perkembangan fungsi kehidupan kota yang tepat akan membawa kepada konsep pemaknaan identitas kota yang dapat diterima masyarakat, sementara dalam penyusunan konsep pengembangan tersebut partisipasi masyarakat akan lebih intensif. KESIMPULAN Setelah memahami beberapa permasalahan di atas, kiranya menjadi sangat penting untuk memaknai identitas sebuah kota, karena dengan semakin dikenalnya identitas suatu kota diharapkan tatanan kebutuhan hidup warganya akan semakin jelas dan terarah, serta kualitas lingkungan kotanya juga dapat terpelihara dengan baik dan berkelanjutan, demikian pula sebaliknya, dengan dipahaminya tingkat kebutuhan warga dan kondisi kualitas lingkungannya akan lebih mudah memaknai identitas kota tersebut. Dengan kata lain, bila identitas dari suatu kota yang akan dikembangkan tidak dipahami secara komprehensif, sudah tentu proses pembangunan dan kehidupan warga kota akan semakin tidak menentu, serta kondisi fisik kota akan semrawut yang mengakibatkan terjadinya degradasi kualitas lingkungannya. Oleh karena itu, pemaknaan identitas sebuah kota penting untuk dipahami dengan baik dan benar, agar hal hal yang mengakibatkan ketidakjelasan orientasi fungsi kehidupan kota dalam memenuhi kebutuhan warga dan penurunan kualitas lingkungan kota tersebut akan dapat diantisipasi. DAFTAR ACUAN Books : 1. Alvares, Eko., Morfologi Kota Padang, Disertasi Doktor Program Studi Ilmu Teknik pada Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, tidak diterbitkan, 2002. 2. Budihardjo, Eko., Jatidiri Arsitektur Indonesia, Penerbit Alumni, Bandung, 1997. 3. Fasli, Mukaddes, A Model for Sustaining City Identity, Case Study: Lefkoşa (Nicosia) in North Cyprus, Ph.D. Disertation in Architecture, Institute of Graduate Studies and Reserch. http://grad.emu.edu.tr., 2003. 4. Hariyono, Paulus., Sosioologi Kota Untuk Arsitek, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2007. 5. Julia Winfield Pfefferkorn, The Branding of Cities : Exploring CityBranding and Importance of Brandi Image, Master Thesis, The Graduate School of Syracuse University, 2005. 6. Raksadjaja, Rini., Konsep Bentuk Kota Dalam Kognisi Spasial Masyarakat Kota Bandung, Disertasi Doktor Program Studi Ilmu Teknik Planologi pada Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, tidak diterbitkan, 1999. 7. Rossi, Aldo., The Architecture of The City, The MIT Press, Cambridge, 1982. 8. Trancik, Roger., Finding Lost Space, Theories of Urban Design, Van Nostrand Reinhold Co, New York, 1986. 58

Journals : 1. Abiyoso, Hengky., Seni Menjual Kota dan Wilayah, http://www.mailarchive.com/kebudayaan@yahoogroups. com/msg00044.html, diakses Juni 2008. 2. Dany, Kota dan Identitas, http://www.kotakita.net/2007/09/12/ko ta dan identitas/, diakses Juni 2008. 3. Wikantiyoso, Respati., Perencanaan dan Perancangan Kota Malang : Kajian Historis Kota Malang, Arsitektur Indis, Sumber : http://www.mintakat.unmer.ac.id/edisi/ 4/4_1.html, 2000, diakses Pebruari 2008. 4. Wikantiyoso,Respati, Citra Kajoetangan Doeloe dan Sekarang, Sumber : http://respati.blogspot.com/2006_08_01 _archive.html, 2006, diakses Mei 2008. 5. Wikantiyoso, Respati, Kota Kota di Indonesia Kehilangan Jatidiri, Antara News, Sumber : http://www.antaranews.com, 2007, diakses Juni 2008. 59