PERIZINAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Oleh: I Putu Eddy Purna Wijaya, ST.,MT Kasi Wlayah I Subdit PPSDA

dokumen-dokumen yang mirip
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR

2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 37, Tamba

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50/PRT/M/2015 TENTANG IZIN PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR

Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.

MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 /PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN GARIS SEMPADAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 18 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PENGALIHAN ALUR SUNGAI DAN/ATAU PEMANFAATAN RUAS BEKAS SUNGAI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PRT/M/2015 TENTANG

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

WALIKOTA BANJARMASIN

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1991 TENTANG SUNGAI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

A. FORMAT SURAT PERMOHONAN REKOMENDASI TEKNIS UNTUK PERMOHONAN IZIN PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR (KOP PERUSAHAAN) Nomor :...,...

PP 35/1991, SUNGAI... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 35 TAHUN 1991 (35/1991)

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.

Gubernur Jawa Barat;

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 27 TAHUN 2001 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

2 sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu membangun bendungan; d. bahwa untuk membangun bendungan sebagaimana dimaksud pada huruf c, yang

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

*14730 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 7 TAHUN 2004 (7/2004) TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/PRT/M/2015 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH BUMBU,

KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

- 5 - BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAMEKASAN NOMOR.TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 8 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PRT/M/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

DAFTAR ISI TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SUBSTANSI DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 1. 2.

2018, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/PRT/M/2015 TENTANG PENANGGULANGAN DARURAT BENCANA

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 08 TAHUN 2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GOWA,

WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PRT/M/2013 TENTANG PEDOMAN PENANGGULANGAN DARURAT BENCANA AKIBAT DAYA RUSAK AIR

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 20/PRT/M/2010 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN BAGIAN-BAGIAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 Tentang : Sungai

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH

2017, No untuk pembangunan bendungan serta sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.06/2017 tentang Tata Cara Pendanaan Pengadaan

BUPATI BULUKUMBA PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR : 24 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENYEWAAN BARANG MILIK DAERAH

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAAN UMUM NO. /PRT/M/200. TENTANG: TATA LAKSANA PERIZINAN PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PRT/M/2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM Nomor 09/PRT/M/2010 Tentang PEDOMAN PENGAMANAN PANTAI MENTERI PEKERJAAN UMUM,

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG

A. FORMAT SURAT PERMOHONAN IZIN PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR. (KOP PERUSAHAAN) Nomor :...,...

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG IRIGASI DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

DASAR HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT.

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 164/PMK.06/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.40/Menhut-II/2014

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 63/PRT/1993 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2011 NOMOR 3 SERI E

BAGIAN KEDUA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN PENETAPAN LOKASI

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lemba

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 164 /PMK.06/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN JALAN KHUSUS

Transkripsi:

PERIZINAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Oleh: I Putu Eddy Purna Wijaya, ST.,MT Kasi Wlayah I Subdit PPSDA

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air Pengelolaan air permukaan didasarkan pada wilayah sungai. Penetapan wilayah meliputi wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota, wilayah sungai lintas kabupaten/kota, wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional. Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah.

PP No. 42/2008 tentang Pengelolaan SDA Pasal 95 (Perizinan) Perizinan dalam pengelolaan sumber daya air diperlukan untuk kegiatan : a. pelaksanaan konstruksi pada sumber air; Yang dimaksud dengan konstruksi pada sumber air adalah konstruksi yang berada pada sumber air termasuk pada sempadan sumber air, misalnya, konstruksi jembatan, jaringan perpipaan, dan jaringan kabel listrik/telepon. b. penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu; c. modifikasi cuaca.

PP No. 42/2008 Pasal 96 (Pemberi Izin) 1) Izin pelaksanaan konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 huruf a yang dilakukan pada sumber air permukaan diberikan oleh a. bupati/walikota untuk wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota; b. gubernur untuk wilayah sungai lintas kabupaten/kota; atau c. menteri untuk wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, atau wilayah sungai strategis nasional. 2) Pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan rekomendasi teknis dari pengelola sumber daya air pada wilayah sungai bersangkutan.

PP No. 42/2008 Pasal 101 (Penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu) 1) Penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 huruf b meliputi penggunaan sumber daya air untuk pemenuhan a. kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat yang dilakukan dengan cara mengubah kondisi alami sumber air; Yang dimaksud dengan mengubah kondisi alami sumber air, misalnya, dengan mempertinggi, memperendah permukaan air, dan/atau membelokkan aliran air pada sumber air. b. kebutuhan pokok sehari-hari yang dilaksanakan oleh kelompok orang dan badan sosial; c. keperluan irigasi pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah ada; dan/atau d. kegiatan usaha yang menggunakan sumber daya air.

Pasal 101 (Penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu) PP No. 42/2008 2) Penggunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk sumber daya air permukaan wajib mendapat izin dari a. bupati/walikota untuk penggunaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota; b. gubernur untuk penggunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; atau c. menteri untuk penggunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

PP No. 38/2011 tentang Sungai Pasal 54 konservasi, pengembangan, pengendalian daya rusak 1)Pelaksanaan kegiatan fisik dan nonfisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf a dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kepentingan sendiri berdasarkan izin. 2)Pemegang izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas O & P kegiatan fisik. 3)Dalam hal tertentu pelaksanaan kegiatan fisik dan nonfisik dapat dilakukan tanpa izin. Pasal 57 (Perizinan) 1)Setiap orang yang akan melakukan kegiatan pada ruang sungai wajib memperoleh izin. misalnya konservasi secara sukarela, skala kecil

Pasal 57 (Perizinan) PP No. 38/2011 2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.pelaksanaan konstruksi pada ruang sungai; misalnya jembatan, bendungan, tanggul, rentangan pipa dan kabel. b.pelaksanaan konstruksi yang mengubah aliran dan/atau alur sungai; misalnya bendung, sudetan, pintu air, pompa banjir, krib. c.pemanfaatan bantaran dan sempadan sungai; misalnya dermaga, jalur pipa gas, pipa air minum, rentangan kabel listrik, rentangan kabel telekomunikasi, dan bangunan prasarana SDA d.pemanfaatan bekas sungai; misalnya budidaya perikanan atau untuk permukiman e.pemanfaatan air sungai selain untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada; misalnya pengambilan air untuk air irigasi yang akan dibangun, air minum, dan sanitasi lingkungan perkotaan. f.pemanfaatan sungai sebagai penyedia tenaga air; misalnya pembangkit listrik tenaga air.

g. pemanfaatan sungai sebagai prasarana transportasi; h. pemanfaatan sungai di kawasan hutan; PP No. 38/2011 Kawasan hutan dalam ketentuan ini tidak termasuk kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan. i. pembuangan air limbah ke sungai; misalnya pembuangan air limbah dari pabrik. j. pengambilan komoditas tambang di sungai; dan misalnya pengambilan pasir, kerikil, dan batu dari sungai atau tepi sungai. k. pemanfaatan sungai untuk perikanan menggunakan karamba atau jaring apung. Siapa... Pemberi Izin? Rekomendasi Teknis

Kegiatan Pada Ruang Sungai Pemberi Izin Pemberi Rekomtek pelaksanaan konstruksi pada ruang sungai pelaksanaan konstruksi yang mengubah aliran dan/atau alur sungai pemanfaatan bantaran dan sempadan sungai pemanfaatan bekas sungai pemanfaatan air sungai selain untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada pemanfaatan sungai sebagai penyedia tenaga air Menteri, Gubernur, Walikota Menteri, Gubernur, Walikota Menteri, Gubernur, Walikota Menteri, Gubernur, Walikota Menteri, Gubernur, Walikota Menteri, Gubernur, Walikota Pengelola SDA (diatur dalam PP 42/2008) Pengelola SDA (diatur dalam PP 42/2008) Pengelola SDA (diatur dalam PP 42/2008) Pengelola SDA (diatur dalam PP 42/2008) Pengelola SDA (diatur dalam PP 42/2008) Pengelola SDA (diatur dalam PP 42/2008)

Kegiatan Pada Ruang Sungai Pemberi Izin Pemberi Rekomtek pemanfaatan sungai sebagai prasarana transportasi pemanfaatan sungai di kawasan hutan pembuangan air limbah ke sungai pengambilan komoditas tambang di sungai pemanfaatan sungai untuk perikanan menggunakan karamba atau jaring apung instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang transportasi Menteri, Gubernur, Walikota Bupati/walikota Bupati/walikota instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perikanan Pengelola SDA instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kehutanan / BUMN di bid. kehutanan. Pengelola SDA Pengelola SDA Pengelola SDA

PROSEDUR PERIZINAN TAHAPAN : PENGAJUAN PERMOHONAN EVALUASI AWAL PENYUSUNAN REKOMTEK VERIFIKASI REKOMTEK PENERBITAN IZIN Pemohon mengajukan permohonan ditujukan kepada Menteri Pekerjaan Umum c.q. Direktur Jenderal Sumber Daya Air. (format permohonan dapat diperoleh di Balai Besar/Balai Wilayah Sungai (BB/BWS), diisi lengkap oleh pemohon) Permohonan harus dilampiri dokumen pendukung a.l. peta lokasi, gambar disain, berita acara public consultation meeting, dokumen amdal/ukl-upl/sppl, dll.

EVALUASI AWAL Tim evaluasi perizinan Ditjen. SDA meneliti kelengkapan berkas permohonan. LENGKAP dimintakan rekomtek kepada BWS TIDAK LENGKAP dikembalikan kepada pemohon Evaluasi awal meliputi : Pemeriksaan kelengkapan dokumen; Kesesuaian dan kelengkapan data/informasi yang disampaikan oleh Pemohon, meliputi ; identitas Pemohon, alamat/lokasi sumber air, masa berlaku izin/dokumen yang dimiliki dan lainlain.

PENYUSUNAN REKOMTEK Terdiri atas kegiatan : Pengumpulan data dan informasi terkait permohonan oleh tim rekomtek Expose/presentasi permohonan oleh pemohon Tinjauan lapangan Kajian aspek teknis, non teknis, sosial Pembuatan rekomendasi Rekomendasi teknis disampaikan kepada Dirjen. SDA

VERIFIKASI REKOMTEK Tim evaluasi perizinan Ditjen. SDA berkoordinasi dengan direktorat teknis dan BWS melakukan verifikasi dokumen rekomtek dan permohonan Jika diperlukan dapat dilakukan tinjauan lapangan dan/atau expose oleh pemohon Jika hasil verifikasi : LAYAK dibuatkan SK Menteri PU ttg pemberian izin TIDAK LAYAK - dibuatkan pemberitahuan ttg penolakan pemberian izin

IZIN PENGGUNAAN/PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR Identitas pemegang izin (nama, alamat, dll) Lokasi (nama desa, kecamatan, kabupaten, provinsi) Hak (volume air, jangka waktu, konstruksi yang dibangun) Kewajiban (pelaporan, menjaga kondisi sumber air, pemeliharaan konstruksi, pajak, biaya jasa PSDA, dll) Ketentuan (jumlah dan kualitas air tergantung ketersediaan dan kebutuhan, penyesuaian penggunaan, dll)

PROSEDUR PERIZINAN SEWA LAHAN TAHAPAN : PENGAJUAN PERMOHONAN EVALUASI AWAL PENYUSUNAN REKOMTEK VERIFIKASI REKOMTEK PENERBITAN IZIN Pemohon mengajukan permohonan ditujukan kepada Menteri Pekerjaan Umum c.q. Direktur Jenderal Sumber Daya Air. (format permohonan dapat diperoleh di Balai Besar/Balai Wilayah Sungai (BB/BWS), diisi lengkap oleh pemohon) Permohonan harus dilampiri dokumen pendukung a.l. peta lokasi, gambar disain, berita acara public consultation meeting, dokumen amdal/ukl-upl/sppl, dll.

PROSEDUR SEWA LAHAN PEMOHON MENTERI PU cq. Dirjen. SDA sprin dari Dirjen. SDA untuk pengecekan lapangan (tim) surat Dirjen. SDA ke MENTERI PU Cq. Sekjen. PU 14 hari kerja PERSETUJUAN MENTERI PU BBWS/BWS (rekomtek) 14 hari kerja USULAN SEWA > Rp. 5 M : Menteri PU Menkeu 1 5 M : Dirjen SDA Ka.Kanwil DJKN < Rp. 1 M : BBWS/BWS KPKN BAYAR SEWA kontrak PEMOHON dengan BBWS/BWS PERSETUJUAN - Menkeu; - Ka. Kanwil DJKN; dan - KPKN.

TARIF SEWA ATAS PELAKSANAAN SEWA BARANG MILIK NEGARA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 96/PMK.06/2007 Besarnya biaya sewa Barang Milik Negara dihitung dengan formula sebagai berikut: 1. FORMULA SEWA TANAH KOSONG Keterangan: St = Sewa Tanah Lt = Luas Tanah (M 2 ) Nilai Tanah = Nilai Tanah berdasarkan hasil penilaian dengan estimasi terendah menggunakan NJOP Luas Tanah dihitung berdasarkan pada gambar situasi / peta tanah atau sertifikat tanah dalam meter persegi (per -M 2 ) 2. SEWA TANAH DAN BANGUNAN St = 3,33% x (Lt x Nilai Tanah) Stb = (3,33% x Lt x Nilai Tanah) + (6,64% x Lb x Hs x Nsb) Keterangan: Lb = Luas lantai Bangunan (M 2 ) Hs = Harga satuan bangunan standar dalam keadaan baru (Rp/M 2 ) Nsb = Nilai sisa bangunan (%) - Penyusutan untuk bangunan permanen = 2 % / tahun - Penyusutan untuk bangunan semi permanen = 4 % / tahun - Penyusutan untuk bangunan darurat = 10% / tahun - Penyusutan maksimal 80% PROSEDUR DAN TATA CARA SEWA BMN DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR KEMENTERIANN PEKERJAAN UMUM DIATUR DALAM: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 02/PRT/M/2009

0 3 3 0 0 6 Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air 4 2 3 1 4 9 Untuk Sewa Lahan

0 3 3 0 0 6 Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air 4 2 3 1 1 9 Untuk SIPPA

KEWAJIBAN PP No. 42/2008 Pasal 98 (Kewajiban Pemegang Izin Pelaksanaan Konstruksi) 1)Pemegang izin pelaksanaan konstruksi pada sumber air wajib untuk : a.mematuhi ketentuan dalam izin; b.membayar retribusi dan kompensasi lainnya sebagai akibat dari pelaksanaan konstruksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; c.melindungi dan memelihara kelangsungan fungsi sumber daya air; d.melindungi dan mengamankan prasarana sumber daya air disekitarnya; e.mencegah terjadinya pencemaran air akibat pelaksanaan konstruksi; f.memulihkan kerusakan lingk. hidup yang disebabkan oleh keg. konstruksi; g.menjamin kelangsungan pemenuhan air bagi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat di sekitar lokasi kegiatan yang terganggu akibat pelaksanaan konstruksi; dan h.memberikan tanggapan yang positif apabila timbul gejolak sosial masyarakat di sekitar lokasi kegiatannya.

KEWAJIBAN PP No. 42/2008 Pasal 104 (Kewajiban Pemegang Izin Penggunaan SDA) 1) Pemegang izin penggunaan sumber daya air wajib untuk: a. mematuhi ketentuan dalam izin; b. membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air dan c. membayar kewajiban keuangan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan; d. melindungi dan memelihara kelangsungan fungsi sumber daya air; e. melindungi dan mengamankan prasarana sumber daya air; f. melakukan usaha pengendalian dan pencegahan terjadinya pencemaran air; g. melakukan perbaikan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan yang ditimbulkan; dan h. memberikan akses untuk penggunaan sumber daya air dari sumber air yang sama bagi pemenuhan kebutuhan pokok seharihari masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

KEWAJIBAN PP No. 38/2011 Pasal 59 (Kewajiban Pemegang Izin) 1.Pemegang izin kegiatan pada ruang sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 wajib: a.melindungi dan memelihara kelangsungan fungsi sungai; b.melindungi dan mengamankan prasarana sungai; c.mencegah terjadinya pencemaran air sungai; d.menanggulangi dan memulihkan fungsi sungai dari pencemaran air sungai; e.mencegah gejolak sosial yang timbul berkaitan dengan kegiatan pada ruang sungai; dan f.memberikan akses terhadap pelaksanaan pemantauan, evaluasi, pengawasan, dan pemeriksaan.

SANKSI ADMINISTRATIF PP No. 42/2008 Pasal 121 1)Setiap pemrakarsa sebagai pemegang izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 huruf a dan huruf b yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2), Pasal 98, atau Pasal 104 ayat (1) dapat dikenai sanksi administratif oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya sebagai pemberi izin. 2)Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a.peringatan tertulis; b.penghentian sementara pelaksanaan seluruh kegiatan; dan c.pencabutan izin. 3)Penyedia jasa konstruksi yang melanggar ketentuan peraturan pemerintah ini dikenai sanksi administratif sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan di bidang jasa konstruksi. detail di Pasal 122 dan Pasal 123

SANKSI ADMINISTRATIF PP No. 38/2011 Pasal 60 1)Setiap pemegang izin yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dikenai sanksi administratif oleh pemberi izin sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. 2)Selain dikenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila pelaksanaan kegiatan pada ruang sungai yang dilakukan oleh pemegang izin menimbulkan: a. kerusakan pada ruang sungai dan/atau lingkungan sekitarnya, wajib melakukan pemulihan dan/atau perbaikan atas kerusakan yang ditimbulkannya; dan/atau b. kerugian pada masyarakat, wajib mengganti biaya kerugian yang dialami masyarakat.

TUJUAN : perizinan dalam pengelolaan sumber daya air menjaga kondisi alami sumber daya air, penggunaan secara hemat dan bijak, mencegah/mengendalikan dampak negatif kegiatan terhadap sumber daya air (kerusakan sumber air/sarana prasarana, pencemaran, dll) terjaminnya hak atas air bagi kebutuhan sehari-hari dan pertanian rakyat (prioritas) dan kebutuhan lainnya sesuai alokasi air secara tertib, adil, akuntabel, serta mencegah konflik antar pengguna mencegah bencana daya rusak air yang timbul akibat penggunaan sumber daya air (banjir, tanah longsor, dll) meningkatkan peran masyarakat dan swasta khususnya dalam hal pembiayaan sumber daya air (biaya jasa pengelolaan SDA) tersedianya informasi tentang kondisi sumber daya air, pemanfaatan, untuk mendukung pengelolaan sumber daya air di masa mendatang

pemberian izin dalam pengelolaan sda oleh pemerintah (Menteri PU) DIANTARANYA : Izin pelaksanaan konstruksi pada sumber air (PP. 42/2008) Izin penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu (PP. 42/2008) Izin pemanfaatan ruang pada daerah genangan dan sempadan waduk (PP 37/2010) Izin pemanfaatan ruang sungai untuk berbagai kegiatan (PP 38/2011) Izin pengalihan alur sungai dan/atau pemanfaatan ruas bekas sungai (Permen. PU 18/2009)

pengelolaan perizinan PERENCANAAN PELAKSANAAN MONEV Inventarisasi sumber air Penyusunan rencana zona pemanfaatan Penyusunan alokasi air Pengaturan (perda PAP, sempadan, dll) Prosedur perizinan Rekomendasi teknis BBWS/ BWS Izin (hak, kewajiban, ketentuan, jangka waktu, dll.) pertimbangan TKPSDA Pelaksanaan izin Masalah/ dampak lingkungan, teknis, sosial, dll. Pelanggaran Penindakan (PPNS) updating

PP No. 42/2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air 2) Perlindungan sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketetapan pemanfaatan zona pada sumber air yang bersangkutan. 3) Penyelenggaraan perlindungan sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri atau menteri yang terkait dengan bidang sumber daya air dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.

PP No. 42/2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Pasal 95 Perizinan dalam pengelolaan sumber daya air diperlukan untuk kegiatan : a.pelaksanaan konstruksi pada sumber air; Yang dimaksud dengan konstruksi pada sumber air adalah konstruksi yang berada pada sumber air termasuk pada sempadan sumber air, misalnya, konstruksi jembatan, jaringan perpipaan, dan jaringan kabel listrik/telepon. b.penggunaan sumber daya air untuk tujuan tertentu; c.modifikasi cuaca.

PP No. 42/2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Pasal 116 (1) Sumber dana untuk pembiayaan pengelolaan sumber daya air dapat berasal dari: a. anggaran pemerintah; b. anggaran swasta; dan/atau c. hasil penerimaan biaya jasa pengelolaan sumber daya air. (2) dst (3) dst (4) Hasil penerimaan biaya jasa pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan dana yang dipungut dari pengguna sebagai pemegang izin penggunaan sumber daya air yang wajib membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air terhadap penggunaan atau pengusahaan sumber daya air.

Terima kasih