BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jagung

TINJAUAN PUSTAKA. yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara morfologi tanaman jagung manis merupakan tanaman berumah satu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Parameter. (cm) (hari) 1 6 0, , , Jumlah = 27 0, Rata-rata = 9 0,

TINJAUAN PUSTAKA. Botani tanaman. Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput rumputan dengan

TINJAUAN PUSTAKA. kelas : Monocotyledoneae, ordo : poales, famili : poaceae, genus : Zea, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keluarga remput-rumputan dengan spesies Zea mays L. Secara umum, klasifikasi jagung dijelaskan sebagai berikut :

BAB III TEKNIK PELAKSANAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Jagung merupakan tanaman berumah satu, bunga jantan terbentuk pada

TINJAUAN PUSTAKA. kingdom Plantae, divisio Spermatophyta, kelas Angiospermae, ordo Poales,

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Steenis (1987) kedudukan tanaman jagung (Zea mays L) dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Hikam (2007), varietas LASS merupakan hasil rakitan kembali varietas

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya

UJI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) HIBRIDA PADA TINGKAT POPULASI TANAMAN YANG BERBEDA. Oleh. Fetrie Bestiarini Effendi A

TINJAUAN PUSTAKA. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)

TINJAUAN PUSTAKA. atas. Umumnya para petani lebih menyukai tipe tegak karena berumur pendek

TINJAUAN PUSTAKA Botani Jagung

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.) Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. roots) yang berkembang dari radicle (akar kecambah) embrio. Akar sementara

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. kingdm: plantae, divisio: Spermathopyta, class: Monocotyledoneae, Ordo:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Seorang ahli botani bernama Linnaeus adalah orang yang memberi nama latin Zea mays

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sharma (2002) dalam taksonomi tumbuhan, tanaman jagung. Sistem perakaran tanaman jagung mempunyai perakaran yang tersebar

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daryanto ( 2013 ) mengemukakan bahwa Sistematika tanaman (taksonomi)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jagung

TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays L) adalah anggota keluarga Graminae, ordo Maydeae, genus Zea (Fischer

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays.l) keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays L.

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III TEKNIK PELAKSANAAN

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Sistem perakaran tanaman bawang merah adalah akar serabut dengan

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. kelas : Monocotyledoneae, ordo : poales, famili : poaceae, genus : Zea, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dibudidayakan. Padi termasuk dalam suku padi-padian (Poaceae) dan

Makalah Percobaan Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae.

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Steenis (1978) kedudukan tanaman jagung (Zea mays L.) dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Trustinah (1993) sistematika (taksonomi) kacang tanah diklasifikasikan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

TINJAUAN PUSTAKA. pada perakaran lateral terdapat bintil-bintil akar yang merupakan kumpulan bakteri

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) termasuk famili Graminae

TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman

2 TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan dan Biologi Tanaman Kedelai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis

DESKRIPSI VARIETAS BARU

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Rukmana (1997), klasifikasi tanaman jagung (Zea mays L.) adalah sebagai

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

TUGAS KULIAH TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH. Teknologi Produksi Benih Jagung Hibrida

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani, klasifikasi, dan syarat tumbuh tanaman jagung. Jagung manis (Zea mays saccharata) termasuk tanaman semusim dari jenis

II. TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Ekologi Tanaman Tebu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu Glycine soja

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun

II. TINJAUAN PUSTAKA. spesies. Klasifikasi tanaman ubikayu adalah sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang kecil, menunjukkan

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Ekologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)

LAMPIRAN Lampiran 1. Layout Tata Letak Penelitian. Blok II TS 3 TS 1 TS 3 TS 2 TS 1

Daun pertama gandum, berongga dan berbentuk silinder, diselaputi plumula yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun. Daun tanaman gandum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kombinasi Pupuk Kimia dan Pupuk Organik terhadap Tanaman Jagung Manis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Morfologi Bawang Merah ( Allium ascalonicum L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Percobaan

TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari 3 golongan ecogeographic yaitu Indica, Japonica, dan Javanica.

I. PENDAHULUAN. secara signifikan. Melalui proses seleksi tanaman yang diikuti dengan penyilangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ordo: Polypetales, Famili: Leguminosea (Papilionaceae), Genus:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai telah dibudidayakan sejak abad ke-17 dan telah ditanam di berbagai daerah di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Gladiol merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN Rumusan Masalah Apakah media tanam berupa pasir, tanah humus, tanah liat, dan serbuk sisa

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN. keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke

III. METODOLOGI PENELITIAN. Hajimena, Lampung Selatan pada bulan September 2009 sampai bulan Januari

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Van Steenis (2005), bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.))

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Menurut Rukmana (1997) jagung merupakan tanaman berumah satu (monocieus), letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina pada satu tanaman. Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom Divisio Sub Divisio Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) : Angiospermae (berbiji tertutup) : Monocotyledone (berkeping satu) : Graminae (rumput-rumputan) : Gramineae : Zea Species : Zea Mays L. Tanaman jagung termasuk jenis tanaman semusim. Morfologi tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun, buah dan biji. 1. Akar Akar tanaman jagung dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada kondisi tanah yang subur dan gembur jumlah akar tanaman jagung cukup banyak. Sementara pada tanah yang kurang baik akar yang tumbuh jumlahnya terbatas (sedikit). Hasil penelitian menenjukan bahwa pertumbuhan akar tanaman jagung pada umur 4 minggu mencapai kedalaman 45 cm, dan disekitar pangkal batang tanaman juga

dipadati sejumlah akar dan cabang-cabang akar. Sistem perakaran tanaman jagung berfungsi sebagai alat untuk mengisap air serta garam-garam yang terdapat dapat tanah, memgeluarkan zat organic serta senyawa yang tidak diperlukan, dan alat pernafasan. 2. Batang Batang tanaman jagung tidak berkayu, tetapi bersifat keras. Batang berbentuk bulat dengan diameter berkisar antara 2 4 cm berwarna hijau kekuningan, beruasruas dengan jumlah ruas berkisar antara 8-20 ruas bergantung pada varietasnya dan umur tanaman. Pada umumnya nodia (buku) setiap tanaman jagung jumlahnya berkisar 8-48 nodia (buku). Tinggi batang tanaman jagung sangat bervariasi berkisar antara 0.6 3 m, bergantung pada varietasnya. Jagung varietas genjah (hibrida), tinggi batangnya rata-rata 1,5-2 m dari atas permkaan tanah. Fungsi batang tanaman jagung yang berisi berkas-berkas pembuluh adalah sebagai media pengangkut zat-zat makanan dari atas kebawah atau sebaliknya. Zatzat makanan yang diserap oleh akar tanaman (akar serabut) pada jagung yang berupa unsur-unsur hara diangkut keatas melalui berkas-berkas pembuluh menuju daun tanaman untuk selanjutnya diolah (dimasak) dengan bantuan sinar matahari dan CO. Proses pemasakan tersebut dinamakan asimilasi. Hasil proses asimilasi itu selanjutnya dikirimkan ke jaringan tanaman yang membutuhkan. 3. Anakan Anakan jagung bisa berbentuk pada nodia atau buku yang terletak dibawah tanah karena terdapat mata tunas yang dorman (fase istirahat). Anakan tersebut dapat tumbuh bila keadaan lingkungan memenuhi syarat, misalnya kandungan lengas tanah

yang tinggi. Bila didukung oleh curah hujan yang cukup tinggi, pada vase vegetatif ini akan terbentuk anakan (tunas-tunas kaki). Tunas-tunas kaki ini akan muncul (tumbuh) pada nodia (buku) dibawah tanah. Khusus pada jagung hibrida jarang terbentuk tunas-tunas kaki. Untuk mengurangi atau menghindari tumbuhnya tunas-tunas kaki, caranya dengan dibumbun. Dengan tidak terbentuknya tunas-tunas kaki, pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung menjadi lebih baik. 4. Daun Daun pada tanaman jagung mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan tanaman, utamanya berpengaruh dalam penentuan produksi. Sebab pada daun tersebut terjadi beberapa aktivitas tanaman yang sangat mendukung proses pengembangan tanaman. Jumlah daun sekitar 8 helai-48 helai setiap batangnya, tergantung pada jenis atau varietas yang ditanam, panjang daun 30 cm 45 cm dan lebarnya antara 5 cm 15 cm. 5. Bunga Pada setiap tanaman jagung terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah. Bunga jantan terdapat pada malai bunga diujung tanman, sedankan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Bunga betina ini, yang biasa disebut togkol selalu dibungkus oleh kelopakkelopak bunga yang jumlahnya sekitar 6 helai 14 helai. Tangkai kepala putik merupakan rambut atau benang yang terjumbai diujung tongkol sehingga kepala putiknya menggantung diluar tongkol.

Keistimewaan tanaman jagung ialah jumlah ruas pada tongkol sama dengan jumlah ruas dari tongkol ke atas. Selain itu, pada bunga betina terdapat sejumlah rambut yang ujungnya membelah dua dan jumlahnya cukup banyak ( sesuai dengan jumlah biji yang ada dslsm tongkol). 2.2 Pembentukan Varietas Jagung Hibrida Shull (1908) yang pertama kali menemukan bahwa silangan sendiri tanaman jagung mengakibatkan terjadinya inbreeding, dan silangan dua tetua yang homozigot menghasilkan F1 yang sangat vigor. Jones (1918) dalam dahlan et al, (1996) melanjutkan penelitian tentang adanya gejala yang lebih vigor tanaman F1 jagung tersebut, yang selanjutnya memanfaatkannya pada bentuk varietas hibrida tanaman jagung. Pemanfaatan varietas jagung hibrida di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1930an dan sejak awal tahun 1960-an seluruh areal pertanaman jagung di Amerika Serikat telah menggunakan benih hibrida. Lebih lanjut Takdir et al., (2008) menyatakan bahwa varietas hibrida merupakan generasi pertama hasil persilangan antara tetua berupa galur inbirida sehingga berkualitas sangat baik. Varietas hibrida dapat dibentuk pada tanaman menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Jagung merupakan tanaman pertama yang dibentuk menghasilkan varietas hibrida secara komersial, dan telah berkembang di Amerika Serikat sejak 1930an (Hallauer dan Miranda, 1987). Kini benih jagung hibrida telah ditanam disebagian besar areal jagung dunia. Jagung Hibrida adalah jagung yang pada proses pembuatannya dengan cara pemuliaan dan penyilangan antara jagung induk jantan dan jagung induk betina sehingga menghasilkan jagung jenis baru yang memiliki sifat keunggulan dari kedua induknya.

Keunggulan jagung hibrida adalah kapasitas produksinya tinggi sekitar 8-12 ton per hektar. Jagung Hibrida adalah yang pada proses pembuatannya dengan cara pemuliaan dan penyilangan antara jagung induk jantan dan jagung induk betina sehingga menghasilkan jagung jenis baru yang memiliki sifat keunggulan dari kedua induknya. Sejak munculnya benih jagung hibrida, makin banyak varietas-varietas jagung yang diciptakan dengan berbagai macam keunggulan. Keadaan tersebut memudahkan para petani memilih varietas jagung yang akan ditanam. Penanaman tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan tanam yang ada. Lahan tanam yang baik untuk budidaya jagung adalah lahan kering yang berpengairan cukup, lahan tadah hujan, lahan terasering, lahan gambut yang telah diperbaiki, atau lahan basah bekas menanam padi. Agar tumbuh dan berproduksi dengan baik, dan ditanam di lahan terbuka yang terkena sinar matahari penuh selama 8 jam sehari. 2.3 Sistem Jarak Tanam Menurut Barbieri et. al (2000), Faktor iklim mempengaruhi produksi jagung pada jarak tanam yang berbeda. Dengan curah hujan yang lebih banyak akan menghasilkan produksi jagung lebih tinggi pada jarak yang lebih sempit. Dengan jarak tanam yang lebih sempit akan meningkatkan produksi persatuan luas lahan. Kerapatan tanam harus diatur dengan jarak tanam sehingga tidak terjadi persaingan antar tanaman, mudah memeliharanya dan mengurangi biaya. Kerapatan tanaman mempengaruhi penampilan dan produksi tanaman, terutama karena koefisien penggunaan cahaya. Sistem jarak tanam mempengaruhi cahaya, CO2, angin dan unsur hara yang diperoleh tanaman sehingga akan berpengaruh pada proses fotosintesa yang pada akhirnya

memberikan pengaruh yang berbeda pada parameter pertumbuhan dan produksi jagung (Barri, 2003). Jarak yang lebih sempit mampu meningkatkan produksi perluas lahan dan jumlah biji namun menurunkan bobot biji (Maddonni et. al, 2006). Sedangkan menurut Liu et. al (2004) variasi jarak tanam berpengaruh tidak nyata pada jumlah daun, tinggi tanaman, indeks jumlah daun, indeks panen, serta jumlah tongkol namun berpengaruh nyata pada produksi per ha. Soekirno (1970). Menyatakan bahwa jarak tanam tergantung dari keadaan tanah dan umur tanaman. Bila ditanam secara monokultur untuk yang berumur genjah jarak tanam 75 x 25 cm. Jagung yang berumur dalam jarak tanam 90 x 60 cm. Apabila ditumpang sarikan dengan tanaman lain jarak tanamnya lebih lebar yaitu 110 x 50 cm, 110 x 25 dan 150 x 50 cm. Jarak tanam yang digunakan pada penelitian di Badan Pusat Informasi Jagung (BPIJ) sangat bervariasi yaitu pada sistem satu baris (2 benih MR.14 per lubang) 20 cm antar barisan 30 cm, kemudian 5 baris berikutnya (G.180) menggunakan jarak tanam legowo dengan jarak tanam 20 cm antar barisan 70 cm, sedangkan pada baris berikutnya menggunakan metode zigzag (MR.14) dengan jarak tanam 20 x 20 x 25 cm. 2.3.1 Metode jarak tanam legowo Sistem tanam legowo umumnya dikenal pada pertanaman padi sawah dengan tujuan utama untuk meningkatkan hasil gabah per satuan luas lahan. Ada beberapa tipe cara tanam legowo yang biasa diterapkan petani diantaranya tipe legowo (2:1), (3:1) dst. Tanam legowo 2:1 berarti setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar baris. Selain pada tanaman padi, sistem tanam legowo ternyata juga dapat diterapkan pada pertanaman jagung. Berbeda dengan padi,

tanaman jagung tidak membentuk anakan sehingga penerapan sistem legowo pada tanaman jagung lebih diarahkan pada: 1. Meningkatkan penerimaan intensitas cahaya matahari pada daun dan diharapkan hasil asimilat meningkat sehingga pengisian biji dapat optimal. 2. Memudahkan pemeliharaan tanaman, terutama penyiangan gulma baik secara manual maupun dengan herbisida, pemupukan, serta pemberian air. 2.3.1 Metode Zigzag Madodonni et.al (2006) menyatakan bahwa jarak tanam yang lebih sempit akan meningkatkan populasi yang bertujuan agar memberikan produksi per hektar yang lebih besar. Sistem jarak tanam metode zigzag memiliki populasi yang lebih besar dibandingkan sistem satu baris, ternyata dengan populasi yang lebih banyak lebih mampu memberikan produksi per ha yang maksimal. Metode zigzag yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan jarak tanam ukuran 20 x 20 x 25 cm. Di lapangan pertumbuhan tanaman menggunakan metode zigzag ini cukup baik proses pertumbuhannya. 3.2.3 Metode jarak tanam dengan sistem satu baris

Kerapatan tanaman mempengaruhi penampilan dan produksi tanaman, terutama karena koofesien penggunaan cahaya. Tanaman memberikan respon dengan mengurangi ukuran baik pada seluruh tanaman atau bagian-bagian tertentu (Setyati, 1983). Jarak tanam yang lebih sempit meningkatkan persaingan antar jagung. Sistem satu baris memiliki persaingan yang lebih rendah sehingga mampu memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Metode jarak tanam sistem satu baris yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan jarak tanam 20 x 30 cm (2 benih MR.14 perlubang tanam). 2.4. Galur dan Galur Murni Dalam pertanian dan peternakan, galur adalah sekelompok individu sejenis yang homozigot atau mendekati homozigot untuk satu atau gabungan karakteristik tertentu yang akan menjadi penciri galur itu. Akibat keadaan genotipe tersebut, penampilan luar (fenotipe) galur akan seragam. Galur dapat dibentuk melalui perkawinan sekerabat secara terusmenerus. Galur-galur akan paling cepat terbentuk apabila suatu spesies dapat melakukan selfing (perkawinan sendiri), biasanya pada generasi ke-6 atau ke-7 setelah selfing berulangulang. Semakin dekat hubungan kekerabatannya, semakin cepat galur-galur terbentuk. Galur murni merupakan terjemahan dari bahasa Inggris 'Pure Line", artinya (relatif hampir) semua gennya homozigot. Galur murni dapat dibuat dengan cara penyerbukan /pembuahan sendiri (selfing). Galur murni dapat terjadi apabila perkawinan dalam suatu galur antara dua individu menghasilkan keturunan dengan penampilan standar yang sama dengan kedua tetuanya. Dalam perhewanan, galur murni yang memiliki catatan silsilah dapat disebut sebagai trah, misalnya seperti yang dipraktekkan dalam kinologi.

Dalam pemuliaan tanaman, galur murni dapat menjadi calon kultivar baru maupun menjadi calon tetua sumber dalam pembentukan varietas hibrida atau varietas sintetik. Galur murni dihasilkan dari penyerbukan sendiri hingga diperoleh tanaman yang homozigot. Hal ini memerlukan waktu hingga lima tujuh generasi penyerbukan sendiri yang terkontrol. Pada awalnya galur murni dibentuk dari varietas menyerbuk terbuka (open pollinated varieties), tetapi belakangan ini galur murni dibentuk dari banyak sumber lain seperti varietas sintetik, varietas komposit, atau populasi generasi lanjut hibrida (Singh, 1987). 2.5 Karakter Benih Karakter benih adalah ciri khas yang dimiliki oleh tanaman, benda atau individu. Ciri khas terswbut adalah asli mengakar, melengket pada tanaman, benda atau individu tersebut serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana tanaman itu bisa berkembang dan bisa merespon hal yang ada disekitar tanaman tersebut. (Kertajaya, 2010). Benih merupakan bagian tanaman yang digunakan untuk perbanyakan tanaman secara generatif. Benih adalah faktor yang penting pada rangkaian budidaya tanaman karena merupakan awal kehidupan tanaman, sehingga untuk mendapatkan produksi yang tinggi perlu digunakan benih yang bermutu tinggi pula. Setelah galur tetua atau parents yang diinginkan telah diperoleh (tetua jantan dan tetua betina) maka proses selanjutnya adalah perbanyakan benih jagung hibrida. Dalam pembentukan benih jagung hibrida dikenal ada 2 induk yaitu induk tanaman jantan dan induk tanaman betina. Kedua induk tersebut berbeda

sifat-sifatnya tetapi mempunyai daya gabung baik. Benih kedua induk tersebut harus dipisahkan. Pada umumnya induk tanaman jantan MR.14 mempunyai umur berbunga lebih lambat dibanding induk tanaman betina G.180, dan perbedaannya berkisar antara 0-5 hari. Benih kedua induk tersebut harus dipisahkan, oleh karena itu jarak tanam yang di gunakan juga bevariasi. Jarak tanam benih betina G.180 yaitu 70 x 20 cm sedangkan untuk benih jantan MR.14 di tanam dengan jarak tanam 20 x 30 cm dan 20 x 20 x 25 cm.