Abstrak. 1. Pendahuluan

dokumen-dokumen yang mirip
PRALAKUAN KOAGULASI DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR DENGAN MEMBRAN: PENGARUH WAKTU PENGADUKAN PELAN KOAGULAN ALUMINIUM SULFAT TERHADAP KINERJA MEMBRAN

Dasar-Dasar Teknik Kimia ISSN

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Namun disamping itu, industri yang ada tidak hanya menghasilkan

1 Pendahuluan ABSTRACT

PENGOLAHAN AIR LUMUT DENGAN KOMBINASI PROSES KOAGULASI DAN ULTRAFILTRASI

Teknik Bioseparasi. Dina Wahyu. Genap/ March 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Abstrak. Kata kunci: Flotasi; Ozon; Polyaluminum chloride, Sodium Lauril Sulfat.

PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA) SEBAGAI KOAGULAN ALTERNATIF DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI

BAB I PENDAHULUAN. yang semakin tinggi dan peningkatan jumlah industri di Indonesia.

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) D-22

LAPORAN AKHIR. Laporan Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat. Menyelesaikan pendidikan Diploma III. Pada Jurusan Teknik Kimia.

KAJIAN PENGGUNAAN BIJI KELOR SEBAGAI KOAGULAN PADA PROSES PENURUNAN KANDUNGAN ORGANIK (KMnO 4 ) LIMBAH INDUSTRI TEMPE DALAM REAKTOR BATCH

Mn 2+ + O 2 + H 2 O ====> MnO2 + 2 H + tak larut

BAB I PENDAHULUAN. pencemaran yang melampui daya dukungnya. Pencemaran yang. mengakibatkan penurunan kualitas air berasal dari limbah terpusat (point

Seminar Nasional Sains dan Teknologi Lingkungan II e-issn Padang, 19 Oktober 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERBAIKAN KUALITAS AIR LIMBAH INDUSTRI FARMASI MENGGUNAKAN KOAGULAN BIJI KELOR (Moringa oleifera Lam) DAN PAC (Poly Alumunium Chloride)

BAB I PENDAHULUAN. bahan-bahan yang ada dialam. Guna memenuhi berbagai macam kebutuhan

Jurusan. Teknik Kimia Jawa Timur C.8-1. Abstrak. limbah industri. terlarut dalam tersuspensi dan. oxygen. COD dan BOD. biologi, (koagulasi/flokulasi).

PENENTUAN KARAKTERISTIK AIR WADUK DENGAN METODE KOAGULASI. ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. industri berat maupun yang berupa industri ringan (Sugiharto, 2008). Sragen

PENGARUH KOMBINASI PROSES PRETREATMENT (KOAGULASI-FLOKULASI) DAN MEMBRAN REVERSE OSMOSIS UNTUK PENGOLAHAN AIR PAYAU

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengganggu kehidupan dan kesehatan manusia (Sunu, 2001). seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat,

PENURUNAN WARNA REAKTIF DENGAN PENGOLAHAN KOMBINASI KOAGULAN PAC (POLY ALUMINIUM CHLORIDE) DAN MEMBRAN MIKROFILTRASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

KINERJA MEMBRAN KERAMIK BERBASIS TANAH LIAT, ZEOLIT DAN SERBUK BESI DALAM PENURUNAN KADAR FENOL

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. berdampak positif, keberadaan industri juga dapat menyebabkan dampak

PENGARUH PENAMBAHAN BITTERN PADA LIMBAH CAIR DARI PROSES PENCUCIAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Pengolahan Limbah Cair Industri secara Aerobic dan Anoxic dengan Membrane Bioreaktor (MBR)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab IV Hasil Dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh semua

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Perancangan Instalasi Unit Utilitas Kebutuhan Air pada Industri dengan Bahan Baku Air Sungai

OPTIMASI PENGGUNAAN KOAGULAN ALAMI BIJI KELOR

KARAKTERISASI HASIL PENGOLAHAN AIR MENGGUNAKAN ALAT DESTILASI CHARACTERIZATION OF WATER PROCESSING USING DISTILATION EQUIPMENT

Pengolahan Air Produk Reverse Osmosis Sebagai Umpan Boiler Dengan Menggunakan Ion exchange. Abdul Malik Maulana, Ariyanto S.

BAB I PENDAHULUAN. Kulit jadi merupakan kulit hewan yang disamak (diawetkan) atau kulit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mutu air adalah kadar air yang diperbolehkan dalam zat yang akan

Gambar 3. Penampakan Limbah Sisa Analis is COD

TEKNIK PENYEDIAAN AIR MINUM TL 3105 SLIDE 04. Yuniati, PhD

BAB III LANDASAN TEORI

IRWNS Kinerja Alat Pengolahan Air Minum Portable

STUDI PENDAHULUAN : PENGOLAHAN LIMBAH CAIR HASIL PRODUKSI PATI BENGKUANG DI GUNUNGKIDUL

PENURUNAN TURBIDITY, TSS, DAN COD MENGGUNAKAN KACANG BABI (Vicia faba) SEBAGAI NANO BIOKOAGULAN DALAM PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK (GREYWATER)

PENGARUH ph PADA PROSES KOAGULASI DENGAN KOAGULAN ALUMINUM SULFAT DAN FERRI KLORIDA

STUDI AWAL REVERSE OSMOSIS TEKANAN RENDAH UNTUK AIR PAYAU DENGAN KADAR SALINITAS DAN SUSPENDED SOLID RENDAH

Luh Putu Widya Kalfika Devi, K. G. Dharma Putra, dan A. A. Bawa Putra. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Bali ABSTRAK ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air

PENURUNAN KONSENTRASI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)

PENGARUH OZON DAN KONSENTRASI ZEOLIT TERHADAP KINERJA PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR YANG MENGANDUNG LOGAM DENGAN PROSES FLOTASI

REVERSE OSMOSIS (OSMOSIS BALIK)

BAB III LANDASAN TEORI

PENGOLAHAN AIR SALURAN PEMATUSAN TERUSAN KEBON AGUNG SEBAGAI AIR BERSIH DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN ULTRAFILTRASI

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

KINETICS OF TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) REMOVAL IN PDAM TIRTAWENING BANDUNG RAW WATER WITH ALUM-BASED COAGULANT MADE OF ALUMINUM USED CAN CAPS

BAB I PENDAHULUAN. serius. Penyebabnya tidak hanya berasal dari buangan industri pabrikpabrik

RACE-Vol.4, No.1, Maret 2010 ISSN PENGARUH PASANGAN ELEKTRODA TERHADAP PROSES ELEKTROKOAGULASI PADA PENGOLAHAN AIR BUANGAN INDUSTRI TEKSTIL

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan

PROC. ITB Sains & Tek. Vol. 36 A, No. 1, 2004,

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN KANDUNGAN AMONIAK TINGGI SECARA BIOLOGI MENGGUNAKAN MEMBRANE BIOREACTOR (MBR)

Pengolahan Air Limbah Laboratorium dengan Menggunakan Koagulan Alum Sulfat dan Poli Aluminium Klorida (PAC)

HASIL DAN PEMBAHASAN. standar, dilanjutkan pengukuran kadar Pb dalam contoh sebelum dan setelah koagulasi (SNI ).

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI SECARA AEROBIC DAN ANOXIC DENGAN MEMBRANE BIOREACTOR (MBR)

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PERCETAKAN DENGAN PENAMBAHAN KOAGULAN TAWAS DAN FeCl 3 SERTA PENJERAPAN OLEH ZEOLIT RETNO SUDIARTI

Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung Jl Ganesha 10 Bandung PENDAHULUAN

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI MAHKOTA BUAH NANAS (Ananas Comocus) SEBAGAI FILTER DALAM TAHAPAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH SARUNG TENUN SAMARINDA

Pemisahan Emulsi Minyak Dalam Air dengan Membran Berslot Mode Operasi Dead End

Pengolahan Limbah Cair Industri Karet Dengan Kombinasi Proses Pretreatment Dan Membran Ultrafiltrasi

LAPORAN PENDAHULUAN LABORATORIUM UNIT PROSES WATER TREATMENT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penelitian Terdahulu

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Perubahan Kualitas Air. Segmen Inlet Segmen Segmen Segmen

PENGARUH ph PADA PROSES KOAGULASI DENGAN KOAGULAN ALUMINUM SULFAT DAN FERRI KLORIDA

Pengolahan Limbah Industri Pewarnaan Jeans Menggunakan Membran Silika Nanofiltrasi Untuk Menurunkan Warna dan Kekeruhan

BAB I PENDAHULUAN. lainnya untuk bisa terus bertahan hidup tentu saja sangat tergantung pada ada atau

Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS)

RANCANGAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR. Oleh DEDY BAHAR 5960

Serbuk Biji Kelor Sebagai Koagulan Harimbi Mawan Dinda Rakhmawati

PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI MENJADI AIR MINERAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROSES RECOVERY LOGAM Chrom DARI LIMBAH ELEKTROPLATING

Abstrak. Kata Kunci: Flotasi; Limbah; Logam Berat; Ozon

PENGARUH PENCAMPURAN TERHADAP REAKSI HIDROLISA AlCl 3

KOMBINASI DISSOLVED AIR FLOTATION DENGAN ULTRAFILTRASI PADA PEMISAHAN AIR BERLUMUT

Jurnal Teknologi Kimia Unimal 5 : 2 (November 2016) 1-7.

Kombinasi pengolahan fisika, kimia dan biologi

Transkripsi:

Pengaruh Suhu dan Tingkat Keasaman (ph) pada Tahap Pralakuan Koagulasi (Koagulan Aluminum Sulfat) dalam Proses Pengolahan Air Menggunakan Membran Mikrofiltrasi Polipropilen Hollow Fibre Eva Fathul Karamah dan Adhi Septiyanto Departemen Teknik Gas dan Petrokimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kampus UI Depok 16424, Tel. 7863516, Fax. 7863515 e-mail: eva@che.ui.edu Abstrak Membran mikrofiltrasi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengolahan air bersih. Namun teknologi ini rentan terhadap pengotoran/fouling oleh partikel dalam air limbah yang berupa koloid yang mengakibatkan kinerja dan selektivitas dari membran dapat berkurang. Salah satu proses untuk mengurangi laju fouling dalam membran adalah proses koagulasi. Suhu dan ph merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses koagulasi. Variasi suhu yang dilakukan adalah suhu 3, 4 dan 5 C, sedangkan variasi phnya adalah 5, 7 dan 9. Hasil menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk tahapan koagulasi yang diperoleh adalah pada suhu 4 C dan ph = 5. Dengan bantuan tahapan koagulasi ini maka hasil yang diperoleh dalam proses pengolahan air menggunakan teknologi membran diantaranya fluks permeat tertinggi yang diperoleh mencapai,238 m 3 /m 2.Jam dan persen rejeksi untuk TDS sebesar 56,52 % sedangkan persen rejeksi untuk COD sebesar 38,9 %. Kata kunci : mikrofiltrasi, koagulasi, fouling Abstract Microfiltration membrane are widely used in wastewater treatment. However, it is very susceptible to fouling that is caused by colloid particles in the wastewater. This fouling can affect the performance and selectivity of membrane. To reduce the fouling rate on membrane, pretreatment process is usually used, such as coagulation. Temperature and ph are two factors that affect the coagulation process. Variation of temperature is conducted at 3, 4 and 5 C, while the variation of ph is at 5, 7 and 9. The result shows that the optimum condition for coagulation process is at 4 C and ph of 5. With this coagulation process, the result of water treatment process using membrane technology reaches the highest performances with value of permeate flux is,238 m 3 /m 2.hour and the % Rejection for TDS is 56,52 % and also % Rejection for COD is 38,9%. Keywords: microfiltration, coagulation, fouling 1. Pendahuluan Semakin berkembangnya peradaban manusia, menyebabkan pencemaran lingkungan semakin meningkat, termasuk pencemaran air. Air bersih semakin sulit didapat, terutama di wilayah kota-kota besar dan kawasan industri. Kelangkaan air bersih yang layak digunakan untuk air minum, mendorong para ilmuwan untuk melakukan penelitian, untuk mengolah air yang ada (air danau, air sungai) yang mungkin telah tercemar untuk menjadi air yang layak untuk digunakan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan yaitu ; tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa serta memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan. Metode yang dapat digunakan untuk mengolah air minum sangat beragam, diantaranya adalah filtrasi, koagulasi, sedimentasi, adsorpsi, distilasi, ozonisasi, klorinasi, radiasi ultraviolet dan proses membran.

Salah satu membran yang biasanya digunakan dalam proses pengolahan air minum adalah membran mikrofiltrasi [2], yang mempunyai ukuran pori antara,1 1 μm. Dengan ukuran tersebut, membran mikrofiltrasi cocok untuk menahan suspensi dan emulsi, juga dapat digunakan untuk memisahkan partikel (bakteri dan ragi). Membran mikrofiltrasi lebih banyak digunakan dalam proses pengolahan air minum karena merupakan membran yang relatif murah baik dari segi biaya investasi maupun dari segi biaya operasinya jika dibandingkan dengan membran jenis lainnya. Selain harga membran mikrofiltrasi yang lebih murah, proses mikrofiltrasi juga membutuhkan tekanan operasi yang lebih kecil (kurang dari 2 bar), sehingga membutuhkan alat pendukung/utilitas yang lebih sedikit. Dengan demikian, biaya operasi lebih rendah karena konsumsi energi yang diperlukan selama proses separasi berlangsung juga relatif kecil. Kontras dengan kemampuannya memisahkan partikel, mikroba dan bakteri, membran mikrofiltrasi kurang efektif untuk memisahkan pengotor berupa koloid [1]. Hal ini dikarenakan oleh sifat koloid yang stabil sehingga susah diendapkan, juga karena ukuran koloid umumnya lebih kecil dari ukuran pori membran mikrofiltrasi, yang dapat menimbulkan masalah fouling pada membran. Untuk mengatasi masalah ini maka proses mikrofiltrasi dalam pengolahan air bersih harus dipadukan dengan proses pralakuan yang salah satunya adalah dengan koagulasi-flokkulasi. Dalam penelitian ini, koagulan yang digunakan adalah alumunium sulfat (Al 2 (SO 4 ) 3.18H 2 O). Koagulan tersebut digunakan karena penggunaannya dalam proses pengolahan air minum sudah sangat umum, selain itu mudah diperoleh serta cukup efektif untuk mengendapkan pengotor yang terlarut dalam air [3]. Dalam penelitian ini, dilakukan variasi suhu dan ph pada proses koagulasi. Hal ini karena suhu dan ph, seperti juga dosis koagulan yang digunakan dan waktu pengadukan, merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas koagulasi. Variasi ini bertujuan untuk mendapatkan suhu dan ph yang optimum untuk proses koagulasi, yang akhirnya dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kinerja membran dan kualitas air olahan. Parameter yang digunakan dalam mengukur kualitas air minum sangat beragam, akan tetapi dalam penelitian ini parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas air minum adalah TDS (Total Dissolved Solid) dan COD (Chemical Oxygen Demand). 2. Penelitian Dalam penelitian ini ada 3 tahap utama yang dilakukan, yaitu tahap variasi suhu koagulasi, variasi ph umpan dalam tahap koagulasi serta proses pengolahan air dengan membran. Air umpan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air sungai Ciliwung yang mengalir di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Air sungai ini memiliki kandungan TDS sekitar 1 sampai dengan 2 mg/l dan COD 3-85 mg/l (di wilayah Cililitan Kecil) sedangkan nilai phnya adalah sebesar 6,7-7,3. 2.1 Variasi Suhu Koagulasi Diagram alir peneltian tahap ini dapat dilihat pada Gambar 1. Pengambilan Sampel di Sungai Ciliwung sebelum koagulasi (CO D & TD S) Proses Koagulasi (Variasi suhu) 3, 4, 5 o C Setelah Koagulasi (COD &TDS ) Suhu Optimum Koagulasi Gambar 1. Diagram alir penelitian variasi suhu koagulasi

Sampel air sungai diambil sebanyak 2 L dan dimasukkan ke dalam wadah proses pralakuan, sebagian air sungai tersebut diambil untuk analisa awal TDS dan COD. Air sungai diberi perlakuan koagulasi dan koagulan Al 2 (SO 4 ) 3.18H 2 O sebanyak 1 gram dan diaduk dengan cepat (12 rpm) selama kurang lebih 2 menit kemudian dengan kecepatan rendah (4 rpm) selama 1 menit [5], pada saat ini variasi suhu dilakukan yaitu dari 3, 4, dan 5 C. Air di dalam wadah dibiarkan hingga terjadi pengendapan selama 3 menit. Setelah waktu pengendapan selama 3 menit, sebagian air di wadah yang telah dikoagulasi diambil sebagai sampel untuk analisis COD dan TDS 2.2 Variasi ph Umpan Tahap Koagulasi Pada variasi ph ini, temperatur koagulasi yang digunakan adalah kondisi optimum dari tahapan sebelumnya. Diagram alir peneltian tahap ini dapat dilihat pada Gambar 2. Pengambilan Sampel di Sungai Ciliwung Air sungai diberi perlakuan pengasaman dan pembasaan dengan menggunakan asam sulfat H 2 SO 4 untuk menurunkan ph dan diberi natrium hidroksida NaOH untuk menaikkan ph air (dengan variasi ph adalah 5, 7 dan 9), pada suhu optimum yang telah diperoleh sebelumnya. Prosedur selanjutnya sama dengan sebelumnya. 2.3. Proses Pengolahan Air dengan Membran Membran yang digunakan dalam penelitian ini adalah membran polipropilen Hollow fibre. Diagram alir penelitiannya dan sekema alat dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4. Kondisi operasi dari proses membran adalah : tekanan sistem 1 cmhg, jumlah umpan yang digunakan 2 Liter, jumlah membran dalam modul sebanyak 5 buah dengan panjang 52 cm. Data yang diambil dari tahap ini adalah COD dan TDS sebelum dan sesudah koagulsi serta setelah lewat membran, dan volume permeat membran tiap jam Pengam bilan Sam pel di Sungai Ciliwung sebelum koagulasi (COD & TDS) A nalisa K ualitas A ir sebelum koagulasi (C O D & T D S) Proses Koagulasi (Variasi ph, pada suhu Optimum) 5, 7, 9 Proses Koagulasi (Dengan ph dan suhu optim um ) Setelah Koagulasi (COD &TDS ) A nalisa K ualitas A ir Setelah Koagulasi (COD &TDS ) Suhu dan ph Optimum Koagulasi Gambar 2. Diagram Alir Penelitian Variasi Umpan Tahap Koagulasi Sampel air sungai diambil sebanyak 2 L dan dimasukkan ke dalam wadah proses pralakuan, sebagian air sungai tersebut diambil untuk analisa awal TDS dan COD. P roses M ikrofiltrasi dengan membran Polypropilene A nalisa K ualitas A ir S elam a dan S etelah M ikrofiltrasi (C O D & T D S ) serta K inerja Membran Gambar 3. Diagram Alir Penelitan Proses Pengolahan Air dengan Membran.

Gambar 4. Skema Alat Pralakuan Koagulasi dan Proses Mikrofiltrasi 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan 3.1 Variasi Suhu Koagulasi Parameter yang digunakan untuk menunjukkan pengaruh suhu terhadap koagulasi adalah efektifitas koagulasinya baik berdasarkan TDS maupun COD. Gambar 5 menunjukkan efektifitas koagulasi untuk variasi suhu. Berdasarkan Gambar 5, terlihat bahwa baik COD maupun TDS, mempunyai kecenderungan yang sama dalam hal efektifitas koagulasi dengan variasi suhu. Pada kondisi optimum yang diperoleh yaitu pada suhu 4 C, efektifitas koagulasinya mencapai 31.25% untuk TDS dan 41 % untuk COD. Peningkatan suhu akan meningkatkan kecepatan gerak partikel dalam sistem sehingga semakin banyak tumbukan antar partikel yang dapat terjadi yang akhirnya mempercepat terbentuknya flok. % Efektifitas Koagulasi 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 Suhu (C) Gambar 5. Efektifitas Koagulasi untuk Variasi Suhu TDS COD Kenaikan suhu air umpan akan menaikkan kelarutan dari koagulan alum [4], sehingga ion aquometalik lebih cepat terbentuk, dan partikel-partikel koloid lebih cepat ternetralisir membentuk flok seiring dengan kenaikan suhu. Namun, saat suhu optimum telah tercapai, peningkatan suhu tidak lagi memperbesar ukuran flok, karena kelarutan flok meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Sehingga kenaikan suhu akan meningkatkan kadar TDS (menurunkan % efektifitas koagulasi) karena flok-flok yang sudah jenuh tadi akan melarut kembali. 3.2 Variasi ph Umpan Koagulasi Gambar 6 menunjukkan efektifitas koagulasi untuk variasi ph. Gambar tersebut menunjukkan bahwa baik COD maupun TDS menunjukkan pola yang sama bahwa semakin tinggi ph maka efektifitas koagulasinya akan turun. ph umpan dapat mempengaruhi kelarutan dari suatu koagulan. Alum memiliki kelarutan yang besar pada rentang ph 5-7 [4]. Semakin mudah larut suatu koagulan, maka semakin mudah terbentuknya ion aquometalik yang akhirnya semakin cepatnya partikel koloid ternetralisasi membentuk flok. Semakin besar ph, maka kelarutan dari Alum semakin kecil, sehingga ion aquometalik semakin sulit terbentuk, yang akhirnya mengurangi jumlah partikel koloid yang dapat ternetralisasi membentuk flok % Efektifitas Koagulasi 7 6 5 4 3 2 1 2 4 6 8 1 ph Gambar 6. Efektifitas Koagulasi untuk Variasi ph TDS COD

3.3 Proses Pengolahan Air dengan Membran Parameter yang digunakan untuk melihat kinerja dari membran yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah fluks permeat dan persen rejeksi. Gambar 7 menunjukkan fluks permeat diperoleh untuk tiap jam operasi membran. Gambar tersebut menunjukkan bahwa fluks permeat akan menurun seiring dengan bertambahnya waktu. Hal ini dikarenakan semakin lama waktu operasi mikrofiltrasi, semakin banyak pengotoran/fouling yang terjadi pada membran. Fouling ini semakin lama akan semakin meningkat, hingga menutupi pori-pori membran, yang membuat kerja membran menjadi semakin berat dan menghasilkan penurunan jumlah permeat yang dihasilkan. Karena fluks permeat berbanding lurus dengan volume permeat pada waktu tertentu, maka penurunan volume permeat menyebabkan turunnya fluks permeat. Sedangkan untuk persen rejeksi, ditampilkan pada Gambar 8. Dari Gambar 8, terlihat bahwa semakin lama waktu operasi akan meningkatkan % rejeksi TDS dan COD. Hal ini karena seiring dengan waktu, fouling yang tejadi pada permukaan maupun didalam membran juga semakin meningkat, dan membuat semakin banyak cake yang terbentuk pada permukaan membran. Cake akan berperan sebagai filter tambahan untuk menyaring air sebelum berkontakan dengan permukaan membran mikrofiltrasi. Hal ini membuat semakin sulitnya partikel terlarut dan komponen organik untuk menembus membran bersama air, sehingga membuat kadar COD dan TDS pada permeat menjadi berkurang, dan pada akhirnya meningkatkan persen rejeksi terhadap partikel terlarut maupun komponen organik tersebut. % Rejeksi Fluks (m3/m2.jam).25.2.15.1.5 Gambar 7. Fluks Permeat untuk tiap Jam Operasi Membran Gambar 8. Persen Rejeksi vs Waktu Operasi Membran 4. Kesimpulan 1 2 3 4 5 W aktu (j am) 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 Waktu (Jam) 1. Semakin besar suhu maka efektifitas koagulasi semakin besar (COD dan TDS), namun jika suhu optimum telah tercapai, penambahan suhu akan menurunkan efektifitas koagulasi. 2. Semakin besar nilai ph umpan, maka semakin kecil nilai efektifitas koagulasinya baik berdasarkan TDS maupun COD. 3. Kondisi optimum untuk tahap pralakuan koagulasi dalam penelitian ini adalah suhu 4 C dan ph umpan 5 4. Pada proses pengolahan air dengan membran, fluks permeat tertinggi yang diperoleh sebesar,238 m 3 /m 2.Jam, sedangkan persen rejeksinya mencapai 56,52 % untuk basis TDS serta 38,9% untuk basis COD. TDS COD

Daftar Pustaka 1. Mulder, Marcel, Basic Principles of Membrane Technology, Kluwer Academic Publisher, Netherlands, 1997 2. http://www.google.com/search/polypro pylenemembrane.html 3. Ravina, Louis, Coagulation and Flocculation, Virginia Zeta-Meter, Inc., 1993 4. Pernitsky, David J, Coagulation 11, Associated Engineering, Calgary, Alberta. 5. Lubis, Andrie Oktafauzan, Pralakuan Koagulasi dalam Proses Pengolahan Air dengan Membran Polipropilen Hollow Fibre : Pengaruh Waktu Pengadukan Pelan Koagulan Alumunium Sulfat terhadap kinerja Membran, Skripsi, Program Studi Teknik Kimia, Universitas Indonesia, 23.