Transvertere New Paintings by Rendy Pramudya 2 April 20 April 2016

Advertisement
dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS KARYA SENI LUKIS MODERN SENIMAN ASAL SUMATERA BARAT DI YOGYAKARTA

E VA D A E L U M M A H K H O I R, M. A B. P E R T E M U A N 2 A N A

IDENTIFIKASI PADA PAMERAN SENI RUPA MODERN INDONESIA BERNAFASKAN ISLAM FESTIVAL ISTIQLAL I 1991 & II 1995 TESIS SM 70Z6

ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU

MODULE 1 GRADE XI VARIATION OF EXPRESSIONS

property

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

RAHASIA CERMAT & MAHIR MENGUASAI AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH (INDONESIAN EDITION) BY HERY HERY

ABSTRAK. Kata Kunci: Parodi, Satir, Apropriasi. vii UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

RAHASIA CERMAT & MAHIR MENGUASAI AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH (INDONESIAN EDITION) BY HERY HERY

Sistem Informasi. Soal Dengan 2 Bahasa: Bahasa Indonesia Dan Bahasa Inggris

I Wayan Sujana (Suklu) Comes Home to Komaneka Gallery

I. MATERI : TENSES Tenses yaitu bentuk kata kerja Bahasa Inggris yang perubahannya berkaitan dengan waktu.

Nama Soal Pembagian Ring Road Batas Waktu 1 detik Nama Berkas Ringroad[1..10].out Batas Memori 32 MB Tipe [output only] Sumber Brian Marshal

6 KERANJANG 7 LANGKAH API (INDONESIAN EDITION) BY LIM TUNG NING

Panduan Excel untuk Pelamar Kerja (Indonesian Edition)

KESASTRAAN MELAYU TIONGHOA DAN KEBANGSAAN INDONESIA: JILID 2 FROM KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)

MENUJU CIO KELAS DUNIA (INDONESIAN EDITION) BY ANJAR KUNCORO

God s PERFECT TIMING EDITORIAL

ABSTRAK. Keywords : minimalis,modern, geometris and asimetri, Universitas Kristen Maranatha

SMP kelas 8 - BAHASA INGGRIS CHAPTER 10LATIHAN SOAL CHAPTER 10

An Intrinsic Analysis of Alex Garland s The Beach

MISTERI PEMBUNUHAN DI KAKEK BODO (INDONESIAN EDITION) BY S. MARA GD.

Swasti Nareswari. Student Number: ENGLISH LETTER STUDY PROGRAMME FACULTY OF LETTERS SOEGIJAPRANATA CATHOLIC UNIVERSITY SEMARANG 2004

ANALISIS KINERJA MANAJEMEN (INDONESIAN EDITION) BY HERY HERY

Eksistensi Tandhak Ludruk Pada Seni Pertunjukan Ludruk Malang: Kontinuitas dan Perubahan

INDUSTRIAL ENGINEERING

ADDING RTGS BENEFICIARY FOR CHECKER MAKER SYSTEM

MANAJEMEN RISIKO 1 (INDONESIAN EDITION) BY IKATAN BANKIR INDONESIA

SUKSES BERBISNIS DI INTERNET DALAM 29 HARI (INDONESIAN EDITION) BY SOKARTO SOKARTO

Mewarnai: Edisi Islami

Rahasia Cermat & Mahir Menguasai Akuntansi Keuangan Menengah (Indonesian Edition)

UML USE CASE DIAGRAM

GROWTH AND UNDERINVESTMENT PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MAKNA RAGAM HIAS PADA RANA MADAM RAJA RAJA SUMENEP DI ASTA TINGGI MADURA

Who are talking in the dialog? Bruce. Erick. Ericks sister. Bruce and Erick. E. Kunci Jawaban : D. Pembahasan Teks :

In the beginning God created the heavens and the earth. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. - Genesis 1:1.

Informasi Data Pokok Kota Surabaya Tahun 2012 BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS

PERNYATAAN. Nama : Cinintya Putri Deany. Nomor Pokok Mahasiswa :

KOMUNIKASI CERDAS (INDONESIAN EDITION) BY DESMON GINTING DOWNLOAD EBOOK : KOMUNIKASI CERDAS (INDONESIAN EDITION) BY DESMON GINTING PDF

MANAJEMEN RISIKO 1 (INDONESIAN EDITION) BY IKATAN BANKIR INDONESIA

FOCUSING ON A NICHE MARKET AND CUSTOMER. Alex Hartanto As ari Suharto Brendi Wijaya Eric Chandravidharma

SUKSES BERBISNIS DI INTERNET DALAM 29 HARI (INDONESIAN EDITION) BY SOKARTO SOKARTO

Line VS Bezier Curve. Kurva Bezier. Other Curves. Drawing the Curve (1) Pertemuan: 06. Dosen Pembina Danang Junaedi Sriyani Violina IF-UTAMA 2

ABSTRAK. Kata kunci: Home, Hijau pastel, bentuk

المفتوح العضوية المفتوح العضوية

Relasi Negara & Agama: Redefinisi Diskursus Konstitusionalisme (Rangkaian Studi IMR)

JUTAAN UMKM PAHLAWAN PAJAK: URUS PAJAK ITU SANGAT MUDAH (INDONESIAN EDITION) BY CHANDRA BUDI

A Thesis Presented as a Partial Fulfillment of the Requirement to obtain the Sarjana Sastra Degree in the English Letters Study Program

3.2.3 Perancangan Flowchart View Perancangan Storyboard Pengumpulan Bahan (Material Collecting)... 47

HUKUM HAM INTERNASIONAL: SEBUAH PENGANTAR KONTEKSTUAL (RANGKAIAN STUDI IMR) BY PRANOTO ISKANDAR

Handi Hermawan ABSTRAK. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Perjanjian Baku, Tugas Akhir Mahasiswa

DALAM PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL (PUTUSAN ICJ NOMOR 143 TAHUN

ICE BREAKERS GETARAN LISTRIK. Persiapan

MANAJEMEN RISIKO 1 (INDONESIAN EDITION) BY IKATAN BANKIR INDONESIA

SISTEM PENGENALAN PENGUCAPAN HURUF VOKAL DENGAN METODA PENGUKURAN SUDUT BIBIR PADA CITRA 2 DIMENSI ABSTRAK

DAFTAR ISI JUDUL... KATA PENGANTAR... ABSTRAK... ABSTRACT... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

ABSTRAK. Keyword : Game, Endless Runner, Unity.

1/5. while and do Loops The remaining types of loops are while and do. As with for loops, while and do loops Praktikum Alpro Modul 3.

TIF APPLIED MATH 1 (MATEMATIKA TERAPAN 1) Week 3 SET THEORY (Continued)

A DESCRIPTIVE STUDY ON THE USE OF SONG AS A TECHNIQUE OF TEACHING VOCABULARY AT ELEMENTARY SCHOOL A THESIS

KOMUNIKASI CERDAS (INDONESIAN EDITION) BY DESMON GINTING DOWNLOAD EBOOK : KOMUNIKASI CERDAS (INDONESIAN EDITION) BY DESMON GINTING PDF

KONEKSI PUSARAN. 1. Pendahuluan

KONTRIBUSI PADA JUSTIFIKASI TEKNIK EVALUASI DALAM PRASELEKSI KONTRAKTOR TESIS WINARNO BROTOKUSUMO NIM :

ABSTRACT. Keyword: Algorithm, Depth First Search, Breadth First Search, backtracking, Maze, Rat Race, Web Peta. Universitas Kristen Maranatha

DAKWAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORPORASI DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

PELAKSANAAN SIDANG ANAK DAN HAMBATAN YANG DIALAMI DI PENGADILAN NEGERI LUBUK PAKAM

SMP kelas 8 - BAHASA INGGRIS CHAPTER 9LATIHAN SOAL CHAPTER 9

Outline. Struktur Data & Algoritme (Data Structures & Algorithms) Pengantar. Definisi. 2-3 Trees

Manusia dan Cinta Kasih

Keseimbangan Torsi Coulomb

ANALISIS POTENSI DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA AIR STUDI KASUS: DAS. CITARUM HULU - SAGULING

ABSTRAK. Kata kunci :Flowchart, Gallery Application ERD, ER to Tabel, phpmyadmin. Universitas Kristen Maranatha

Geometri: Aturan-aturan yang Mengikat

Most Frequently Used Words Courtesy of Hello-Indonesia.com

Jika aku pernah melakukan itu, saya pikir saya akan mendapat serangan jantung! Tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan apa yang saya inginkan,

TANGGUNG JAWAB DOKTER DALAM MALPRAKTEK KEDOKTERAN MENURUT HUKUM PERDATA

PERANCANGAN INTERIOR PHOTOGRAPHY SCHOOL AND CENTRE FOR CHILDREN ABSTRAK. anak yang dapat mendukung kegiatan eksplorasi dalam fotografi.

Studi Evaluasi Elemen Pendukung Taman Dalam Mendukung Aktifitas Pengguna. Studi Kasus : Taman Lawang, Jakarta Pusat

Easy & Simple - Web Programming: Belajar Pemprograman Website Secara Efektif dan Efisien (Indonesian Edition)

INSIGHTFUL PRESENTATION: SELL YOUR IDEA WITH ART AND PASSION (INDONESIAN EDITION) BY ANDY ISKANDAR

THE FLOUTED OF MAXIMS AT CARTOON MOVIE ENTITLED MONSTER UNIVERSITY THESIS BY FANIA RATNA ADELIA

ABSTRAK. Kata kunci : Anak-anak, Autisme, Menggambar. Universitas Kristen Maranatha

Saya punya beberapa pengalaman dalam Bulan & Minggu ini, yang saya merasa Roh Kudus ingin saya bagikan ke anda

RINGKASAN Kata Kunci:

KARAKTERISTIK HUKUM TENTANG PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH KOTA MEDAN DENGAN PELAKSANA PERPARKIRAN MEDAN MALL DI KOTA MEDAN

FIRE CLAIM FORM SURAT KLAIM KEBAKARAN

Membangun Menara karakter (Indonesian Edition)

365 Menu Sukses MP-ASI selama 1 tahun Menu Pendamping ASI untuk Bayi Usia 7-18 Bulan (Indonesian Edition)

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa kecil seniman hingga kehidupan pribadi kerap menjadi inspirasi dalam proses

IMPRESSION MANAGEMENT. MATA KULIAH : ISU-ISU KONTEMPORER BY DYAN RAHMIATI, M.Si

Pemrograman Lanjut. Interface

APPENDICES. Appendix A. Data 1 (Student A)

Lesson 70: Questions. Pelajaran 70: Pertanyaan

Keywords: modern, line, curve, artificial lighting

UNGKAPAN PERIBAHASA AIR SEBAGAI INSPIRASI KARYA SENI RUPA DENGAN TEKNIK MARBLING. Proyek Akhir

BAB II LANDASAN TEORI. menganalisis data seperti teori pelanggaran maxim dan teori mengenai konteks.

ABSTRAK. Kata Kunci : secondary questions, akuisisi tacit knowledge, transfer tacit knowledge, pengembangan pelatihan, assessor assessment center.

Callista Sulaiman

PEMBELAJARAN KEMAMPUAN GERAK DASAR

Advertisement
Transkripsi:

Transvertere New Paintings by Rendy Pramudya 2 April 20 April 2016

Yang Tak Nampak dalam Kepenuhan Alam dalam Lukisan-lukisan Rendy Raka Pramudya Untuk Rendy Raka Pramudya (lahir di Jakarta, 1992), menghadapi kanvas kosong adalah momen khusus dalam ritual melukisnya. Kanvas kosong adalah tabula rasa: sebuah semesta yang polos dan hampa: entitas perawan yang menunggu untuk digagahi. Melukis bagi Rendy bukan melulu soal menciptakan gambaran-gambaran, melainkan tindakan melebur ke dalam proses yang lebih bermakna. Ia ingin menghayati melukis sebagai upaya untuk menghadirkan sesuatu dari sebuah kehendak yang ajaib, yang menurutnya seringkali tak dapat terjelaskan. Biasanya Rendy harus merapatkan dua sampai tiga kanvas kosong secara sejajar agar ia bisa menghadapi bidang putih horisontal yang lebih luas. Ia bisa mulai melukis dari dua sampai tiga area yang berbeda secara bergantian, tanpa rancangan atau sketsa apapun. Dari sebuah noktah atau kurva, ia dapat memenuhi kanvasnya dengan membiarkan garis, bidang dan warna tumbuh dengan sendirinya melalui imajinasi dan gerakan-gerakan tangannya ketika melukis. Tak ada kesalahan ataupun ketidaksengajaan, karena apapun yang terjadi pada saat itu adalah bukti bekerjanya suatu proses yang otentik. Efek-efek visual yang muncul tanpa rencana lelehan atau blabar cat minyak, misalnya selalu ia biarkan, atau pada kesempatan lain ia teruskan dan garap menjadi suatu gambaran lain yang sambung menyambung dengan gambaran lainnya. Meski berpijak pada otomatisme semacam itu, Rendy punya semacam prakonsepsi sebelum melukis. Namun prakonsepsi ini tidak berhubungan langsung dengan apa yang ia lukiskan. Ia cuma berpijak pada suatu sikap yang khas dalam bekerja, yakni bahwa melukis adalah proses yang ia teladani dari terbentuknya alam semesta. Ia ingin menghadirkan sebuah alam, seperti dalam teori Big Bang. Bayangkan ketika tangan sang pelukis mulai meraih tube cat dan palet, lalu kuas mulai digoreskan pada kanvas kosong, maka bum! Terjadilah. Alam macam apa gerangan yang hadir pada kanvas-kanvas Rendy? Tapi tunggu dulu benarkah yang kita lihat benar-benar gambaran alam seperti yang disarankan sang seniman? Kita tahu bahwa kata-kata tak pernah punya sayap yang lebar yang bisa membawa kita cukup jauh mengawang-awang dan menjangkau makna bahasa visual pada gambar atau lukisan. Senyampang menonton lukisan, saya ingin menunda terlebih

dahulu pernyataan seniman dan acuan-acuan istilah yang seringkali malah menyederhanakan cara kita menikmati karyanya. Meskipun ada kerumitan yang muncul karena garis dan warna yang mengular liar, menjalar-jalar tanpa arah, secara menyeluruh, komposisi lukisan-lukisan Rendy cenderung seimbang dan menyiratkan suatu pengendalian. Mata kita diajak untuk menelusuri setiap rinci lukisan secara bebas, tanpa titik berangkat yang pasti kita bisa mulai dari atas ke bawah, kanan ke kiri, atau sebaliknya. Tak ada fokus maupun ruang yang kosong. Perspektif dan gravitasi mengabur dalam bentuk yang berlapis-lapis dan proporsi objek yang serba ambigu. Spektrum warna lukisan-lukisan ini memang tak begitu kaya. Tapi ada dinamika yang muncul dari komposisi garis, bidang, warna dan noktah-noktahnya. Sekilas elemen-elemen itu menyerupai pengulangan, meski sesungguhnya hanyalah varian. Struktur dalam lukisan-lukisan Rendy membawa penglihatan kita terombang-ambing antara kesan keteraturan dan kekacauan. Kesan-kesan retinal semacam itu jugakah yang kita tangkap ketika mencoba menyelami alam? Apakah dengan mengidentifikasi karakter visualnya, kita bisa serta-merta mengamini pernyataan senimannya bahwa lukisan-lukisan ini adalah tentang alam? Mungkin ya, atau tidak. Di hadapan lukisan-lukisan Rendy, kita memang bisa mengenali bentuk-bentuk yang menyerupai entitas-entitas organik, non-geometris. Sejauh kita mengidentifikasi bentuk-bentuk pada lukisan-lukisan Rendy sebagai gambaran yang menyerupai organisme tertentu (bunga, rumput, sulur, anemon?), maka alam bisa kita pakai sebagai pijakan, terutama karena istilah itu terlanjur identik pengertian sebuah dunia fisikal di mana lansekap, manusia, flora dan fauna semua substansi kehidupan yang ada di langit dan bumi hadir secara bersamaan, utuh, ko-eksisten. Jika begitu, maka pengertian alam dalam lukisan-lukisan Rendy ini tentu bukan alam yang kita lihat sehari-hari. Alam itu bukan alam yang objektif. Ketika saya menyebut lukisan ini sebagai gambaran dunia flora, sang seniman bisa berkelit bahwa sebetulnya ia tengah menggambarkan fauna. Demikian halnya, ketika seorang penonton menyebutnya sebagai lansekap sebuah planet di luar angkasa, penonton yang lain bisa dengan kukuhnya menjelaskan bahwa ia tengah melihat pemandangan di ranah kedalaman lautan. Salah satu cara yang paling aman untuk mengidentitifikasi lukisan-lukisan Rendy adalah dengan menyebutnya sebagai gambaran alam khayali. Khayali di sini mungkin

merujuk pada pengertian angan-angan, fantasi, ilusi bahkan mungkin delusi. Alam dalam pengertian imajiner semacam itu tentu bisa berwujud apa saja tak logis, irasional, mustahil, surreal, dsb. yang boleh jadi telah termanifestasi dalam visualisasi karya-karya Rendy. Tapi asumsi semacam itu tidak kebal dari pengujian kembali: Sejauh mana fantasi seniman dapat terbebas dari dominasi bahasa? Sejauh mana penciptaan lukisan bergenre fantasi benar-benar menghadirkan apa yang sebelumnya tak-ada (non-existent)? Bukankah apa yang disebut fantasi beroperasi melalui struktur bahasa? Dalam perspektif Lacanian, paradoks dari fantasi adalah bahwa ia beroperasi sebagai creatio ex materia (oposisi dari creatio ex nihilo), yakni mekanisme psike yang berdasar pada apa yang telah ada sebelumnya. Sebagai sebuah bahasa, fantasi hanya dimungkinkan ada dalam tataran simbolik, ketika seseorang telah mengetahui apa yang logis, linier dan rasional. Fantasi memberikan ilusi bahwa ia bukanlah kenyataan. Tapi pada prinsipnya, ia selalu menggandeng berbagai pengertian kenyataan untuk mengidentifikasi dirinya. Oleh karena itu, saya tak ingin serta-merta mengamini pernyataan seniman, bahwa apa yang hadir dalam lukisan-lukisannya adalah sebuah alam yang baru atau tak ada sebelumnya. Di lain sisi, saya juga tak bisa setuju bahwa apa yang saya lihat pada lukisan-lukisan itu adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya, karena yang saya lihat sesungguhnya adalah jejak-jejak gubahan cara kerja melukis dalam pengertian cara menggubah tanda-tanda yang telah terbakukan oleh khazanah bahasa seni lukis. Yang menarik dalam karya-karya Rendy bukanlah apa yang terlihat, melainkan sebaliknya. Seperti juga kata dan bahasa yang membekukan pengertian-pengertian ke dalam sebuah lema kamus, sebuah lukisan pada dasarnya tidak pernah bisa benar-benar menyingkap apa yang terjadi dalam proses penciptaannya. Sikap Rendy terhadap kanvas-kanvasnya memang berbeda dengan para pelukis penganut prinsip kondisi pasca-medium ala Kraussian yang menganggap medium bukan sesuatu yang netral. Dalam kasus Rendy, kanvas adalah material yang berlaku sebagai ruang kosong, di mana waktu adalah semacam liyan yang hilang atau tak teridentifikasi. Lukisan bukanlah media berbasis waktu yang memiliki durasi, seperti video yang bisa mengalir bersama jalan pikiran penontonnya. Ia adalah ruang beku di mana dimensi waktu terepresi oleh tampilan matriks ruang pada kanvas.

Lukisan-lukisan Rendy menunjukkan kepenuhan yang intens. Komposisinya memberikan kesan tentang ketakutan akan ruang kosong, sekaligus menunjukkan bagaimana dalam proses melukisnya yang spesifik otomatis, mengalir si pelukis menghindari kekosongan, untuk menjauhi kesan-kesan tentang momen jeda, momenmomen ketika ia berhenti menggerakkan kuasnya. Dalam kepenuhan semacam itu, gerakan kuas adalah representasi gerak waktu. Citra-citra pada lukisan Rendy bukan saja representasi dari gerak waktu yang menghancurkan kekosongan, tapi juga mentransformasikannya ke dalam sesuatu yang lain. Pokok-soal ini yang saya kira menarik untuk memahami lukisan-lukisan Rendy sebagai repersentasi dari alam, bukan sebagai istilah yang digunakan untuk membanding-bandingkan citra lukisan dengan alam yang kita lihat sehari-hari, melainkan sebagai konsep tentang entitas yang bergerak, hidup, dan tumbuh bersama waktu. Agung Hujatnikajennong

Unseen Beneath Saturation Nature in Rendy Raka Pramudya Paintings For Rendy Raka Pramudya (born in Jakarta 1992), facing blank canvases represents special moments in his painting ritual. To him, the canvas itself is tabula rasa: a void and naive universe a virgin entity waiting to be conquered. For the artist, painting is not only about creating imageries, but rather an act of disintegrating into a process that results in more meanings. He wants to take painting as an artistic means to summon his magical will that is often verbally inexplicable. Customarily, Rendy joins two to three blank canvases in a parallel manner so that he may address larger horizontal white spaces. He would then start painting different areas interchangeably, without any preliminary designs or sketches in mind. From a simple dot or a curve, he begins to fill his canvases by allowing lines; planes and colors to play with themselves through his imagination and gestural hand movements. He does not take mistakes or accidents into account, because for him whatever happens at that very moment acts as present proofs of authenticity. Visual effects sprung spontaneously traces or blobs of oil paints are welcomed; and even further, he treats them as surrogate imageries that are chained together in a nexus of images. Although he grounds his footing firmly on a certain automatism, Rendy still keeps a kind of pre-conception before subjugating his spaces. These pre-conceptions, however, are not directly correlated to that which he paints. He merely embraces a certain strong and personalized approach in his mind: that painting is a mimetic posture of creating the universe. He wants to micro-summon the cosmic reality the way the Big Bang theory in physics creates; imagine when the omnipotent hands of the painter begin to reach for paint tube and palette, and the brush starts to breeze wonder into the void canvases: then... Bang! There you have it. What kind of nature can we actually see in Rendy s canvases? But a better question is: are we looking at a nature akin to that which is intended by the artist? We certainly know that words are wingless and as such unable to take us far enough to reach visual meanings in drawings and paintings. Keeping this in mind though, I would like to offer a humble parentheses to the artist s statements on nature and other terms that may cause a viewer to oversimplify his works while enjoying his paintings.

Despite the complexities that arise from the seemingly aimless meandering of lines and colors, Rendy s compositions are thoroughly balanced and inherently within the artist s grasp. Our eyes are freely taken to peruse the details offered, without dictated departure points we can randomly start from top to bottom, right to left, or the other way around. No certain foci or empty spaces are present. Perspective and gravity are faintly related through layered forms and ambiguous object proportions. The color spectrum in these paintings may not be rich, but there exists a sheer dynamics of lines, planes, colors and dots. At first the elements resemble tedious repetitions, while in actuality they represent subtle variations. Structures in Rendy s paintings place our sight on the mercy of the ebbs and flows of order and chaos. Do we experience these retinal impressions when we deeply encounter our natural world? Is it possible to acknowledge the artist s statements with regards to these paintings regarding the invited universe, through identification of visual characters? The answers can be both yes and no. As we face these paintings, we can definitely identify various forms of organic and nongeometric-like entities. As long as we identify these forms as certain organisms (flowers, grasses, vines, or anemones?), then the word nature becomes eligible as a certain foundation, especially because the term is already identical with the definition of a physical world where land-and-sea scape, human beings, plants and animals essences of life are simultaneously present, complete, and co-exist. If that is the case, then the meaning of nature in Rendy s paintings is not about the reality in our daily sense. Nature is then not an objective world. When I say that the paintings depict flora, the artist can easily say otherwise: that what is represented takes reference from the animal kingdom. And when a viewer calls them landscapes of another planet, another may be firmly convinced that she sees the depth of the ocean abyss instead. One of the safest ways to identify Rendy s paintings is by referring to them as portrayals of the imaginative realm. The word imaginative here may refer to daydreams, fantasies, illusions, or even delusions. The nature of this imaginary understanding can certainly be far-reaching illogical, irrational, impossible, surreal, and so on that may then be visually manifested in Rendy s works. However, this kind of assumption is not immune to further re-examination: To what extent can an artist be separated from pervasive characteristics of language? And to what extent can fantasy-

paintings manifest the non-existent? Is it not the case that such fantasies also operate through operationally through language as well? From a Lacanian perspective, the paradox of fantasies is that it works through a certain creatio ex materia (the opposite from creatio ex nihilo), that is, a psyche mechanism based on what already exits. As a language, fantasy is only made possible on a symbolic level, as one begins to understand what is logical, linear, and rational. Fantasies establish illusions that are not grounded on reality. But in principle, it is attached to a number of understandings regarding reality in order for it be distinguishable and identifiable. Therefore, I am reluctant to accept holistically the statement s made by the artist, that what exists in his paintings are a form of new nature, or one that has not existed prior. On the other hand, I also disagree with the proposition that what I see in his paintings are things that I have never seen before, as I can certainly see trails in his painting methodology in terms of changing symbols that have been canonized by painting language. What is interesting in Rendy s works, then, is not in what can be seen, but instead the contrary. As words and languages suspend fixed understandings of lexical lemmas, a painting is also unable to completely reveal what happens throughout the process of its creation. Rendy s approach toward his canvases is quite different from painters who take a more Kraussian post-medium condition perspective in that medium is never neutral as their maxim. In the case of Rendy, the canvas becomes a material that acts as an empty space, where time becomes the other, lost or unidentifiable. Paintings are no longer time-based mediums, like videos that may flow in line with the viewer s thoughts. It is a static space where durational dimensions are expressed through space matrices on the canvas. Rendy s paintings are intensely saturated. His compositions provide us a direct impression of a certain anxiety toward empty spaces, and it also shows how in his very specific painting process automatic, flowing the painter avoids the void, to steer clear of inert impressions, moments where he may be forced to stop moving his brush. It is in such a degree of saturation, where movements of the brush then act as representation of time progression. The images in Rendy s paintings are not only representations of movements that render the void helpless, but also another form altogether. These are some issues that I find interesting in terms of understanding

Rendy s paintings as representations of nature, not as a term to utilize in terms of comparing images to the nature we encounter on a daily basis, but rather as a concept regarding moving entities, living, and growing as time progresses. Agung Hujatnikajennong

Menciptakan Perjalanan Hidup #10 250 x 140 cm Oil on canvas 2016

Menciptakan Perjalanan Hidup #12 250 x 140 cm Oil on canvas 2016

Menciptakan Perjalanan Hidup #13 250 x 140 cm Oil on canvas 2016

Menciptakan Perjalanan Hidup #14 250 x 140 cm Oil on canvas 2016

Menciptakan Perjalanan Hidup #16 250 x 140 cm Oil on canvas 2016

Menciptakan Perjalanan Hidup #17 250 x 140 cm Oil on canvas 2016

Installation View

Rendy Raka Pramudya Born in Jakarta 1992 Education Bachelor of Fine Arts (Painting Studio), Faculty of Art and Design Institute Technology Bandung Solo Exhibition 2016 Transvertere, ROH Projects, Jakarta Group Exhibition 2016 Art Fair Philippines, Silverlens Gallery, Makati City Effervescence, ROH Projects, Singapore 2015 #familyandfriends, ROH Projects, Jakarta Nalar, Sensasi, Seni, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta 2014 Jogja Miniprint Biannale 14, Yogyakarta 2013 Blues Art, Gedung Serbaguna RRI, Bandung Urban Mobility, FSRD ITB, Bandung Playground Projects, Widje Blik Gallery, Bandung Local Art Jam, Gerilya Gallery, Bandung 2012 Autotaksonomi, GALI ITB, Kita Gallery, Bandung Iterupsi, GALI ITB, Padi Gallery, Bandung Mixtemplate, GALI ITB, Kita Gallery, Bandung Folktober, Siete Café, Bandung Visual Art 13, FSRD ITB, Bandung Entitas, FSRD ITB, Bandung 2011 Chrysalis, TPB FSRD 2010, GSG ITB, Bandung Awards Finalist of Jogja Miniprint Biennale 14, Yogyakarta

About ROH Projects ROH Projects was founded in 2012 with a vision to establish a leading gallery for the development of contemporary art in Indonesia and the greater Asia Pacific Region. It focuses on providing a platform for emerging artists with alternative practices as well as showing more developed artists in a nuanced and intellectually sound manner. ROH also presents its artists in an international scale and has shown with the most prestigious art fairs in Asia. On the 28 th of August, 2015, ROH has just opened a new space in the center of the city in the Central Business District of Jakarta and hopes to entrench itself further in the development of contemporary art infrastructure here. Press Enquiries Fiesta Ramadanti / ROH Projects danti@rohprojects.net / +6287822897663