1. Indek Standar Pencemar Udara (ISPU)

dokumen-dokumen yang mirip
Penilaian Kualitas Udara, dan Indeks Kualitas Udara Perkotaan

Keputusan Kepala Bapedal No. 107 Tahun 1997 Tentang : Perhitungan Dan Pelaporan Serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara

B A P E D A L Badan Pengendalian Dampak Lingkungan

Page 1 KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP- 107/KABAPEDAL/11/1997 TENTANG

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 1997 Tentang : Indeks Standar Pencemar Udara

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 45/MENLH/10/1997 TENTANG INDEKS STANDAR PENCEMAR UDARA LINGKUNGAN HIDUP

ANALISIS KUALITAS UDARA

BAB I PENDAHULUAN. pengaruhnya terhadap ekosistem secara global. Udara yang kita pakai untuk

STUDI TINGKAT KUALITAS UDARA PADA KAWASAN RS. Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO DI MAKASSAR

3. METODE PENELITIAN

Pemetaan Tingkat Polusi Udara di Kota Surabaya Berbasis Android

BEBERAPA ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA

Semarang, 13 Mei 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. Gambar I.1 Bagan alir sederhana sistem pencemaran udara (Seinfield, 1986)

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 153 TAHUN 2002

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESI DEN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Udara mempunyai arti yang sangat penting di dalam kehidupan manusia dan

DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Kata Pengantar Dan Persembahan... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang

PEDOMAN TEKNIS PENETAPAN BAKU MUTU UDARA AMBIEN DAERAH

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TINGKAT POLUSI UDARA DARI EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN VOLUME LALU LINTAS (Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal Kota Lhokseumawe)

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan antara..., Dian Eka Sutra, FKM UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur unsur

4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 551/2001 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

LAPORAN KEGIATAN PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN KUALITAS UDARA AMBIEN TAHUN 2017

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era persaingan pasar bebas saat ini, produk suatu industri

ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN UDARA PADA KAWASAN BANDAR UDARA SULTAN HASANUDDIN DI KOTA MAKASSAR

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

Bab IV Metodologi Penelitian

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 169 TAHUN 2003

ANALISIS KUALITAS UDARA STASIUN GLOBAL ATMOSPHERE WATCH (GAW) BUKIT KOTOTABANG KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT

STUDI PENYEBARAN Pb, debu dan CO KEBISINGAN DI KOTA JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh pencemaran,

SUMMARY. ANALISIS KADAR NITROGEN DIOKSIDA (NO₂) dan KARBONMONOKSIDA (CO) DI UDARA AMBIEN KOTA GORONTALO

BAB I PENDAHULUAN. Pollution Monitoring Network (BAPMoN) tahun 1960, Global Atmosphere Watch

AMDAL dan Dampak Lingkungan Proyek

TJ TUGAS AKHIR I - 3 SKS

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup lainnya (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41. Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara).

ANALISIS TINGKAT PENCEMARAN UDARA PADA KAWASAN TERMINAL MALENGKERI DI KOTA MAKASSAR

DAMPAK PEMANFAATAN BATUBARA TERHADAP KESEHATAN. Dit. Penyehatan Lingkungan Ditjen PP & PL DEPKES

Laporan Tahunan (Januari-Desember 2012)

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. pencemaran udara, serta pemodelan dari volume lalu lintas dan kecepatan lalu

ANALISIS KADAR CO dan NO 2 SERTA KELUHAN KESEHATAN PEDAGANG ASONGAN DI TERMINAL AMPLAS TAHUN 2014 SKRIPSI. Oleh : IRMAYANTI NIM.

TUGAS AKHIR. Analisis Tingkat Pencemaran Udara Pada Kawasan Pemukiman Kota Makassar

BAB I PENDAHULUAN. hidup terutama manusia. Di dalam udara terdapat gas oksigen (O 2 ) untuk

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat. lingkungan tidak memenuhi syarat penghidupan bagi manusia.

IV. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Pencemaran udara dewasa ini semakin memprihatinkan. Hal ini terlihat

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008

CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL

BAB I. PENDAHULUAN. Yogyakarta merupakan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di

Pengertian dari udara ambien

Sesi 2A : Aturan dan Hukum Menuntun ke Pengembangan Program Pemantauan Kualitas Udara

Makalah Baku Mutu Lingkungan

Sistem Pendeteksi Pencemaran Udara Ambien Di Kawasan Lumpur Lapindo Dengan Menggunakan Logika Fuzzy

Pemantauan kualitas udara. Kendala 25/10/2015. Hal yang penting diperhatikan terutama ialah aspek pengambilan sampel udara dan analisis pengukurannya

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Standart Kompetensi Kompetensi Dasar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. KATA PENGANTAR... iii. ABSTRAK... vi. ABSTRACT... vii. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL...

Dengan Judul PENGGUNAAN TUMBUHAN SEBAGAI BIOINDIKATOR DALAM PEMANTAUAN PENCEMARAN UDARA

FORMAT PELAPORAN PEMANTAUAN EMISI DAN KONDISI DARURAT PENCEMARAN UDARA KEGIATAN DAN/ATAU USAHA MINYAK DAN GAS BUMI

IDENTIFIKASI KUALITAS GAS SO 2 DI DAERAH INDUSTRI PENGECORAN LOGAM CEPER

POLA SEBARAN OZON SEBAGAI POLUTAN SEKUNDER DI UDARA AMBIEN KAWASAN GAYA MOTOR JAKARTA UTARA

DAMPAK PEMANFAATAN BRIKET BATUBARA TERHADAP KUALITAS UDARA AMBIEN

*36508 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 41 TAHUN 1999 (41/1999) TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan yang berkembang pesat, khususnya dalam bidang teknologi,

DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KUALITAS UDARA

DENGAN JUDUL PENGGUNAAN TUMBUHAN SEBAGAI BIOINDIKATOR DALAM PEMANTAUAN PENCEMARAN UDARA

PEMERINTAH KOTA PASURUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hidup manusia terutama masalah lingkungan, Pencemaran udara yang paling

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tent

BAB 1 : PENDAHULUAN. beberapa tahun terakhir ini. Ekonomi kota yang tumbuh ditandai dengan laju urbanisasi yang

Kusumawati, PS.,Tang, UM.,Nurhidayah, T 2013:7 (1)

BAB I PENDAHULUAN. dengan perkembangan jumlah penduduk, ekonomi, industri, serta transportasi,


BAB 1 : PENDAHULUAN. Akan tetapi udara yang benar-benar bersih saat ini sudah sulit diperoleh, khususnya

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas udara berarti keadaan udara di sekitar kita yang mengacu pada

Kata Pengantar. Jakarta, Juni 2010 Deputi MENLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas. Sudariyono

Transkripsi:

NDEX KUALTA UDARA 1. ndek tandar Pencemar Udara (PU) aat ini ndeks standar kualitas udara yang dipergunakan secara resmi di ndonesia adalah ndek tandar Pencemar Udara (PU), hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP 45 / MENLH / 1997 Tentang ndeks tandar Pencemar Udara. Dalam keputusan tersebut yang dipergunakan sebagai bahan pertimbangan diantaranya : bahwa untuk memberikan kemudahan dari keseragaman informasi kualitas udara ambien kepada masyarakat di lokasi dan waktu tertentu serta sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan upaya-upaya pengendalian pencemaran udara perlu disusun ndeks tandar Pencemar Udara. ndeks tandar Pencemar Udara adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. ndeks tandar Pencemar Udara ditetapkan dengan cara mengubah kadar pencemar udara yang terukur menjadi suatu angka yang tidak berdimensi. Rentang ndeks tandar Pencemar Udara dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Rentang ndeks tandar Pencemar Udara Data ndeks tandar Pencemar Udara diperoleh dari pengoperasian tasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien Otomatis. edangkan Parameter ndeks tandar Pencemar Udara meliputi : a. Partikulat (PM10) b. Karbondioksida (O) c. ulfur dioksida (O). d. Nitrogen dioksida (NO). e. Ozon (O3) Perhitungan dan pelaporan serta informasi ndeks tandar Pencemar Udara ditetapkan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, yaitu Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 107 Tahun 1997 Tanggal 1 November 1997. 1

Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, memuat diantaranya adalah : 1. Parameter-Parameter Dasar Untuk ndeks tandar Pencemar Udara (spu) Dan Periode Waktu Pengukuran, selengkapnya dapat dilihat pada tabel. Tabel. Parameter-Parameter Dasar Untuk ndeks tandar Pencemar Udara (PU) Dan Periode Waktu Pengukuran atatan : Hasil pengukuran untuk pengukuran kontinyu diambil harga rata-rata tertinggi waktu pengukuran. PU disampaikan kepada masyarakat setiap 4 jam dari data ratarata sebelumnya (4 jam sebelumnya). Waktu terakhir pengambilan data dilakukan pada pukul 15.00 Waktu ndonesia Bagian Barat (WBB). PU yang dilaporkan kepada masyarakat berlaku 4 jam ke depan (pkl 15.00 tgl (n) sampai pkl 15.00 tgl (n+1 ) ). Angka dan Kategori ndeks tandar Pencemar Udara (PU), selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Angka dan Kategori ndeks tandar Pencemar Udara (PU). 3. Pengaruh ndeks tandar Pencemar Udara untuk setiap Parameter pencemar, selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh ndeks tandar Pencemar Udara untuk setiap Parameter pencemar 4. Batas ndeks tandar Pencemar Udara Dalam atuan. a) Dalam Bentuk Tabel Tabel 5. Batas ndeks tandar Pencemar Udara Dalam atuan. 1. Pada 5 dan 760 mm Hg. Tidak ada indeks yang dapat dilaporkan pada konsentrasi rendah dengan jangka pemaparan yang pendek. 3

b) Dalam Bentuk Grafik 4

5

5. Penentuan ndeks tandar Pencemar Udara. A) ecara Perhitungan Konsentrasi nyata ambien (Xx) ppm, mg/m3, dll. Angka nyata PU (1) a b Xa Xb Xx = PU terhitung = PU batas atas = PU batas bawah = Ambien batas atas = Ambien batas bawah = Kadar ambien nyata hasil pengukuran ontoh Perhitungan Diketahui konsentrasi udara ambient untuk jenis parameter O adalah 33 μg/m3. Konsentrasi tersebut jika dirubah ke dalam angka ndeks tandar Pencemar Udara adalah sebagai berikut : Dari Tabel "Batas ndeks tandart Pencemar Udara (Dalam atuan )" Maka : Xx = Kadar ambien nyata hasil pengukuran 3 μg/m3 a = PU batas atas 100 (baris 3) b = PU batas bawah 50 (baris ) 6

Xa = Ambien batas atas 365 (baris 3) Xb = Ambien batas bawah 80 (baris ) ehingga angka-angka tersebut dimasukkan dalam rumus (*) menjadi : 100 50 = ----------- (3 80) + 50 365 80 = 9.45 = 9 (pembulatan) Jadi konsentrasi udara ambien O 3 mg/m3 dirubah menjadi ndeks tandar Pencemar Udara (PU) : 9 B) ecara Grafik ontoh : Jika diketahui konsentrasi untuk paremeter PM10 adalah 50 μg/m 3 konsentrasi ini jika dirubah dalam ndeks tandar Pencemar Udara dengan menggunakan grafik adalah sebagai berikut : Dari kurva batas angka indeks standar pencemar udara dalam satuan matriks, sumbu X di angka 50 ditarik ke atas sampai menyentuh garis dan ditarik ke kiri sampai menyentuh sumbu Y didapat angka 150. ehingga konsentrasi PM10 50 μg/m3 dirubah menjadi angka ndeks tandar Pencemar Udara menjadi 150 (untuk lebih jelas dapat dilihat gambar di bawah ini). 6. Perhitungan ontoh Pengambilan ndeks tandar Pencemar Udara Dari Beberapa tasiun Pemantau. Misal : Kota Denpasar Jumlah tasiun Monitoring : 3 buah Angka-angka ndeks tandar Pencemar Udara dari setiap stasiun : tasiun (Pertama) 7

Angka ndeks tandar Pencemar Udara untuk 5 polutan : PM10 = 96, O = 80, O3 = 40, NO = 55, O = 90 tasiun (Kedua) Angka ndeks tandar Pencemar Udara untuk 5 polutan : PM10 = 88, O = 44, O3 = 40, NO = 4, O = 83 tasiun (Ketiga) Angka ndeks tandar Pencemar Udara untuk 5 polutan : PM10 = 91, O = 71, O3 = 35, NO = 55, O = 9 ndeks tandar Pencemar Udara yang dilaporkan ke media massa (display, koran harian setempat /televisi stasiun setempat) adalah ndeks tandar Pencemar Udara yang paling tinggi. Untuk kasus di atas ndeks tandar Pencemar Udara tertinggi adalah dari tasiun (pertama) yaitu polutan PM10 dengan ndeks tandar Pencemar Udara 96. ehingga inti laporan kemasyarakatan, ndeks tandar Pencemar Udara Denpasar adalah : * ndeks tandar Pencemar Udara : 96 * Kualitas Udara : sedang * Parameter dominan : PM10 Berlaku 4 jam dari hari ini pukul 15.00 tanggal (n) sampai pkl 15.00tgl (n+1).. Polutan tandar ndeks (P) Polutan tandar ndeks (P) merupakan index yang dipakai sebagai acuan dari ndex tandar Pencemar Udara (PU). Polutan tandar ndeks (P) dipergunakan oleh beberapa Negara, diantaranya Amerika erikat. Metode perhitungan yang dipergunakan dalam Polutan tandar ndeks berprinsip pada tingkat efek yang ditimbulkan terhadap manusia dan lingkungan oleh karena pemaparan suatu parameter polutan. Tingkat efek yang ditimbulkannya dianggap konstan untuk setiap konsentrasi pemaparan polutan tertentu. Parameter-parameter yang dipergunakan dalam Polutan tandar ndeks (P) adalah seperti dalam tabel 6. Tabel 6. Parameter-parameter yang dipergunakan dalam Polutan tandar ndeks (P) 8

ifat Polutan tandar ndeks (P) individual per parameter. Dimana untuk pengukuran secara kontinu diambil harga rata-rata dari waktu pengukuran yang nilainya tertinggi. Polutan tandar ndeks (P) dihitung untuk periode waktu 4 jam. Nilai indeks, deskripsi, warna dan maksud/ dampaknya selengkapnya dapat dilihat pada tebel 7. edangkan batas nilai-nilai indeks dan konsentrasi masing-masing parameter dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 7. Nilai ndeks, Deskripsi, Warna dan Maksud/ Dampaknya Tabel 8. Batas Nilai-Nilai ndeks dan Kategori dari Konsentrasi Masing-Masing Parameter Persamaan yang dipergunakan dalam Polutan tandar ndeks (P) : Dimana : p = ndeks / Polutan tandar ndeks (P)terhitung Hi = P Batas atas ( tabel 8 ) Lo = P Batas bawah ( tabel 8 ) BP Hi = Konsentrasi embient batas atas ( tabel 8 ) BP Lo = Konsentrasi embient batas bawah ( tabel 8 ) p = Konsentrasi embient hasil pengukuran ecara prinsip cara Perhitungan sama dengan cara perhitungan ndeks tandar Pencemar Udara (PU). ontoh : Diketahui konsentrasi udara ambient untuk jenis parameter PM 10 adalah 10 μg/m 3. 9

Konsentrasi tersebut jika dirubah ke dalam angka ndeks tandar Pencemar Udara adalah sebagai berikut : Dari Tabel 8. Maka : p = Konsentrasi embien hasil pengukuran = 10 μg/m3 Hi = P batas atas = 150 (baris 3) Lo = P batas bawah = 101 (baris 3) BP Hi = Konsentrasi Embien batas atas = 54 (baris 3) BP Lo = Konsentrasi Embien batas bawah = 155 (baris 3) ehingga angka-angka tersebut dimasukkan dalam rumus menjadi : 150-101 p = ----------- (10-155) + 101 54-155 = 18, = 18 (pembulatan) Jadi konsentrasi udara ambien PM 10 adalah 10 μg/m 3 dirubah menjadi ndeks tandar Pencemar Udara (PU) : 18 3. National Air Quality ndex (NAQ) National Air Quality ndex (NAQ) dihitung berdasarkan rata-rata kuadrat indeks tiap parameter pencemar udara, yaitu Partikulat Tersuspensi (TP), karbon monoksida (O), sulfur dioksida (O), nitrogen dioksida (NO) dan oksidan fotokimia. ifat indeks ini merupakan kombinasi nilai yang diperoleh yaitu merupakan gabungan beberapa nilai parameter yang dianggap utama sebagai pencemar udara. National Air Quality ndex (NAQ) merupakan indeks kualitas udara yang dipergunakan di anada. Nilai NAQ hanya bias dibandingkan jika telah dilakukan perhitungan indeks kualitas sebelumnya dengan metode NAQ juga. Jika nilai NAQ makin meningkat menunjukkan penurunan kualitas udara. Persamaan yang dipergunakan adalah : NAQ c s p n o Dimana : c = ndeks polutan O s = ndeks polutan O p = ndeks polutan TP n = ndeks polutan NO o = ndeks polutan oksidan fotokimia ndeks polutan O dihitung berdasarkan persamaan berikut : c c8 c8 c1 c1 Dimana : c8 = Konsentrasi maksimum O dalam pengukuran 8 jam c1 = Konsentrasi maksimum O dalam pengukuran 1 jam 10

c8 = Konsentrasi tandar ekunder O dalam pengukuran 8 jam (9 ppm) c1 = Konsentrasi tandar ekunder O dalam pengukuran 1 jam (35 ppm) = =1 jika c1 < c1 dan =0 jika c1 > c1 ndeks polutan O dihitung berdasarkan persamaan berikut : s sa sa 1 s4 s4 s3 s3 Dimana : sa = Konsentrasi rerata aritmetik dari hasil pengukuran selama 1 tahun s4 = Konsentrasi O dalam pengukuran 4 jam s3 = Konsentrasi O dalam pengukuran 3 jam sa = Konsentrasi tandar ekunder O rerata 1 tahun (0,0 ppm) s4 = Konsentrasi tandar ekunder O dalam pengukuran 4 jam (0,1 ppm) s3 = Konsentrasi tandar ekunder O dalam pengukuran 3 jam (0,5 ppm) 1 = 1 =1 jika s4 < s4 dan 1 =0 jika s4 > s4 = =1 jika s3 < s3 dan =0 jika s3 > s3 ndeks polutan TP dihitung berdasarkan persamaan berikut : p p p Dimana : p = Konsentrasi Partikulat pengukuran 4 jam p = Konsentrasi Baku mutu sekunder 4 jam ndeks polutan NO dihitung berdasarkan persamaan berikut : n na na Dimana : na = Konsentrasi rerata aritmetik dari hasil pengukuran 1 tahun na = Konsentrasi standar sekunder NO rerata 1 tahun (0,05 ppm) ndeks polutan Oksidan Fotokimia dihitung berdasarkan persamaan berikut : o o1 o1 Dimana : o1 = Konsentrasi hasil pengukuran 1 jam o1 = Konsentrasi standar sekunder oksidan selama 1 jam (0,08 ppm) 11

4. Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) merupakan rancangan kombinasi penetapan suatu index kualitas udara dengan metode perhitungan non-linear dari beberapa parameter pencemar udara. Kelima Pencemar udara tersebut, yaitu : karbon monoksida (O), sulfur oksida (O), nitrogen dioksida (N)), oksidan dan partikulat (TP). Kelima parameter ini berhubungan dengan baku mutu masing-masing pencemar tersebut. Persamaan umum yang digunakan adalah : ORAQ 5,7 i 1,37 i i = Konsentrasi Polutan i atuan untuk TP menggunakan µg/m 3, sedangkan parameter pencemar lainnya menggunakan satuan ppm. = Baku mutu standar polutan pada rerata waktu 4 jam (NAAQ) Kategori deskripsi Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) dengan rentang skala 0 100 selengkapnya dapat dilihat pada table 9. Tabel 9. Kategori Deskripsi Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) Rentang Deskripsi < 0 Terbaik 0 39 Baik 40 59 ukup Baik, edang 60 79 Tidak Baik, Rendah 80 99 Buruk >100 Berbahaya Perhitungan Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) menggunakan Metode Monogram. Langkah-langkah yang dilakukan sbb : Membuat kolom-kolom table dengan urutan 1 s.d. 5 berisikan skala index, berdasarkan perhitungan rumus umum diatas, untuk lima parameter. Kolom 6 merupakan jumlah aritmetik dari index kolom 1 s.d. 5. Kolom 7 merupakan nilai ORAQ yang didapatkan dari menarik garis pada grafik Monogram dari nilai pada kolom 6 dan kolom 8. Kolom 8 berisikan jumlah index parameter yang tidak terukur. Apabila kelima parameter pencemar dapat terukur semua, maka pada kolom 8 dituliskan none. Kolom 7 diisikan nilai ORAQ berdasarkan nilai pembacaan pada garis kedua setelah ditarik garis lurus dari nilai pada kolom 6 pada garis pertama dengan none pada garis ketiga. emua nilai pada kolom table harus ditampilkan pada penyajian Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) sehingga reliabilitasnya tetap terjaga. 1

0 0 5 10 10 0 0 4 30 30 40 40 3 50 50 60 60 70 70 80 80 1 90 90 100 100 None Grafik Monogram Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) ontoh perhitungan : Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara selama 4 jam, dihasilkan konsentrasi beberapa parameter sbb : O = 8 ppm O = 0,08 ppm NO = 0,01 ppm Oksidan = 0,0 ppm TP = 148 µg/m 3 Perhitungan dengan persamaan umum ORAQ didapatkan index tiap-tiap parameter : O = 13,03 O = 7,99 NO = 11,6 Oksidan = 6,3 TP = 10,66 Total ndex 49,51 Hasil diatas ditabulasi dan digambarkan ke dalam grafik monogram sbb : 1 3 4 5 6 7 8 13,03 7,99 11,6 6,3 10,66 49,51 67,5 None 13

0 0 5 10 10 0 0 4 30 30 40 40 3 50 50 60 60 70 70 80 80 1 90 90 100 100 None Grafik Monogram ontoh Perhitungan ontoh perhitungan tersebut bila dikategorikan berdasarkan Oak Ridge Air Quality ndex (ORAQ) termasuk Kualitas Udara Tidak Baik, Rendah. 14