Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Menjawab Tantangan Globalisasi dan Perubahan Iklim.

dokumen-dokumen yang mirip
2013, No.6 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini, yang dimaksud dengan: 1. Pemberdayaan Peternak adalah segala upaya yang dila

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2012, No.72 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Alat dan mesin peternakan dan kesehatan hewan yang

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG BUDI DAYA HEWAN PELIHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Menjawab Tantangan Globalisasi dan Perubahan Iklim.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN... TENTANG SISTEM BUDIDAYA PERTANIAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SABU RAIJUA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENERTIBAN TERNAK DALAM WILAYAH KABUPATEN SABU RAIJUA

BUPATI BADUNG NOMOR 40 TAHUN 2012 TENTANG OTORITAS VETERINER KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 84 TAHUN 2016 TENTANG

Draf RUU SBT 24 Mei 2016 Presentasi BKD di Komisi IV DRAF RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM BUDIDAYA TANAMAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Ketahanan Pangan dan Gizi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

GUBERNUR JAWA TENGAH

LAPORAN KINERJA 2014 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 63 TAHUN 2016 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

WALIKOTA TASIKMALAYA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG

2 seluruh pemangku kepentingan, secara sendiri-sendiri maupun bersama dan bersinergi dengan cara memberikan berbagai kemudahan agar Peternak dapat men

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 07 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

WALIKOTA MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 110 TAHUN 2015 TENTANG USAHA WISATA AGRO HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tenta

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 69 TAHUN2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN KABUPATEN MUSI RAWAS

Salinan NO : 8/LD/2014 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 8 TAHUN 2014

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

Pengembangan Kelembagaan Pangan di Indonesia Pasca Revisi Undang-Undang Pangan. Ir. E. Herman Khaeron, M.Si. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2004 TENTANG PERIKANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RechtsVinding Online

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 110 TAHUN 2015 TENTANG USAHA WISATA AGRO HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

MATRIKS 2.2.B ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN (Dalam miliar Rupiah) Prioritas/ Rencana Prakiraan Rencana.

ARAH KEBIJAKAN PERSUSUAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENGHARMONISASIAN, PEMBULATAN, DAN PEMANTAPAN KONSEPSI ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERKELAPASAWITAN

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 95 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG KETAHANAN PANGAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TANAH BUMBU NOMOR TAHUN 2017 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 NOMOR 6

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN Visi dan Misi Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2010 NOMOR 5

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI WONOSOBO NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI KOTA TAHUN : 2014 TENTANG. : a. bahwa Undang Nomor 18. dalam dan produktivitas

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR : 14 TAHUN 2012 TENTANG AGRIBISNIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO,

PEDOMAN UMUM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI KEHUTANAN BAB I PENDAHULUAN

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 17 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

BAB IV PEMBANGUNAN PERTANIAN DI ERA GLOBALISASI (Konsolidasi Agribisnis dalam Menghadapi Globalisasi)

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 72 TAHUN 2008 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLATEN,

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 75/Permentan/OT.140/11/2011 TENTANG LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK BIDANG PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR SUMATERA BARAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

Renstra BKP5K Tahun

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG

Transkripsi:

Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Menjawab Tantangan Globalisasi dan Perubahan Iklim. RP Agus Lelana Fakultas Kedokteran Hewan IPB Januari 2009

Bab I PENDAHULUAN

Bagaimana kepedulian Indonesia terhadap masalah globalisasi, pemanasan global dan kesehatan hewan? UU No.18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Bab II GAMBARAN UMUM UU No. 18/2009

Makalah ini dimaksudkan untuk menyajikan muatan UU No. 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Menjawab Tantangan Globalisasi dan Perubahan Iklim.

Tujuannya adalah memberikan rujukan dalam legislasi maupun pengaturan penyelenggaraan kesehatan hewan yang berkaitan dengan globalisasi dan pemanasan global.

GAMBARAN UMUM UU No. 18/2009 Argumentasi perlunya UU No.18/2009 menggantikan UU N0.6/1967

Dimensi waktu UU No.6/1967 tentang ketentuan ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan masih meneruskan warisan Belanda. Melihat perkembangan dalam 40 tahun terakhir, UU No 6/1967 nampaknya sulit untuk mengakomodasi perkembangan ke depan. Pergeseran tata nilai hubungan internasional di era teknologi informatika

Dimensi substansi-1 Mandat Peternakan & Kesehatan Hewan: berorientasi hanya pada produksi Landasan Pengembangan Pertanakan dan Kesehatan Hewan: belum ada azas sebagai pijakan utama dalam pengembangan Dukungan Sumberdaya: lemahnya jaminan kepastian berusaha Pengembangan Peternakan: lebih ditekankan pada aspek budidaya dgn nuansa tradisional. Jaminan Kesehatan Hewan: belum tampak adanya jaminan kesehatan hewan secara lebih luas, yang menyangkut manusia dan lingkungan

Dimensi substansi-2 Kesenjangan Sosial Ekonomi Masyarakat: belum adanya mekanisme pemberdayaan peternak berskala kecil Kinerja Pelaku Peternakan dan Kesehatan Hewan: SDM dalam arti luas bukan hanya peternak Budaya Kualitas dan Inovatif: penekanan terhadap aktivitas penelitian belum kuat Kepastian Hukum: tidak memuat sanksi pidana atau denda Instrumen Kebijakan: perlu penyesuaian dalam era globalisasi dan otonomi daerah

Dasar pemikiran UU No. 18/2009 Landasan filosofis: Pancasila sabagai pandangan hidup (keadilan, ketertiban, kesejahteraan) dan dasar negara (dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945)

Landasan sosiologis Peternak berskala kecil berperan penting Pemenuhan kebutuhan pangan protein hewani Perubahan paradigma menuju peningkatan kualitas SDM di bidang peternakan dan kesehatan hewan

Landasan Yuridis Pasal 33 UUD 1945 Substansi UU 6/1967 perlu penyesuaian Inisiatif pemerintah yang juga dijamin oleh konstitusi

Sistematika UU No. 18/2009 Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Ketentuan Umum: definisi, tujuan dan azas. Sumberdaya: Tanah, Air,n dan Sumberdaya genetik. Peternakan: Benih, Bibit dan Bakalan, Pakan; Alat dan Mesin Peternakan; Budidaya; Panen, Pascapanen, Pemasaran, Industri Pengolahan Hasil Peternakan. Kesehatan Hewan: Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan; Obat Hewan; dan Peralatan Kesehatan Hewan. Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.

Sistematika UU No. 18/2009 lanjutan Bab 6 Otoritas Veteriner: termasuk di dalamnya mengatur Pelayanan Medik Veteriner, Tenaga Kesehatan Hewan, Medik Reproduksi, Medik Konservasi, dan Forensik Veteriner. Bab 7 Pemberdayaan Peternak, Perusahaan Peternakan dan Usaha di bindang Peternakan dengan memberi akses informasi, pendaan, sarana dan prasarana. Bab 8 Pengembangan Sumberdaya Manusia: Aparat dan Pelaku Usaha di bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan di tingkatkan dan dikembangkan kualitasnya memaui diklat, penyuluhan dan metode-metode pengembangan lainnya.

Sistematika UU No. 18/2009 lanjutan Bab 9 Bab 10 Bab 11 Bab 12 Bab 13 Bab 14 Penelitian dan Pengembangan: Menghasilkan iptek agar pengembangan peternakan dan kesehatan hewan lebih efisien, ekonomis, dan berdaya saing tinggi, ramah lingkungan serta menghargai tradisi dan budaya local. Penyidikan. Sanksi Adimistrasi. Sanksi Pidana. Ketentuan Peralihan. Ketentuan Penutupan (pencabutan UU No.6/1967 dan ketentuan yang mengatur kehsewanan dalam 10 peratyuran perundang undangan zaman Hindia Belanda

Hal-hal penting dari UU Diundangkan 4 Juni 2009. No.18/2009 Semua peraturan pelaksanaan yang ada, sepanjang tidak bertentangan, tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden harus telah ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan; Peraturan atau Keputusan Menteri harus telah ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun Peraturan Pemerintah Daerah harus telah ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun. Ketentuan praktik kedokteran hewan dan ketentuan veteriner yang belum cukup diatur akan diatur tersendiri dengan undang-undang.

Bab III SUBSTANSI UU No.18/2009 YANG BERKAITAN DENGAN GLOBALISASI

Pengertian Revolusi Industri abad 18 Kesepakatan standar emas dan liberalisasi globalisasi Perang Dunia I Perang Dunia II Perang Dingin Abad 20 Era Globalisasi Abad-21 WTO GATT SPS

Konsekuensi Globalisasi Kompetisi daya saing & produktivitas Global village hilangnya batas antar negara; Teknologi informasi; Keterbukaan demokrasi; Perubahan cepat dalam sektor bisnis.

Muatan Substansi Globalisasi 1. Globalisasi sebagai alasan pentingnya UU No.18/2009 2. Komitmen Indonesia dalam WTO GATT SPS legislasi veteriner 3. Pengaturan sumber daya genetik, P11 pemasukan & pengeluaran, berdasarkan perjanjian 4. Panen, pascapanen, pemasaran dan industri pengolahan hasil peternakan dikaitkan dengan globalisasi, Pemerintah memfasilitasi pemasaran hewan dan produk hewan, [P36] investasi internasional, membina iklim usaha yang kondusif, pembinaan kemitraan [P37]

Muatan Substansi Globalisasi 5. Urusan Obat Pembuatan sediaan biologik yang penyakitnya dan biang isolatnya ada di Indonesia agar memenuhi persyaratan keamanan hayati yang tinggi, Pasal 53 ayat (1), (2) dan (3). Pemerintah harus mengutamakan produk dalam negeri, Pasal 54 ayat (1) dan (2). Pemasukan dari luar negeri perlu pengaturan di bidang karantina, Pasal 54 ayat (3). Ekspor obat, Pemerintah harus memperhatikan kepentingan nasional, Pasal 54 ayat (4).

Muatan Substansi Globalisasi 6. Urusan alat dan mesin k Pemerintah wajib mengawasi jenis dan standar mutu, Pasal 55 ayat (1) dan (2). Pemasukan harus disertai dengan persediaan suku cadang, layanan purna jual dan alih teknologi, Pasal 55 ayat (3). 7. Urusan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan Pemerintah menetapkan penyakit eksotik, Pasal 40 ayat (1) dan (2); Persyaratan teknis kesehatan hewan Pasal 42 ayat (3); Penetapkan wabah, Pasal 46 ayat (1), (2) dan (3).

Muatan Substansi Globalisasi 8. urusan kesehatan masyarakat veteriner Penjaminan produk hewan, termasuk yang diedarkan dan dimasukkan dari luar negeri, Pasal 58 ayat (1), (2), dan (3). Pengawas kesmavet dan sertifikat veteriner, Pasal 58 ayat (4), (5) dan (6). Pengolahan produk hewan Memenuhi undang undang Pangan, Pasal 58 ayat (7). swasembada daging nasional pengaturan importasi daging memperhatikan keamanan pangan (food security), penghematan devisa, dan kepentingan nasional compartement based, zona based dan country based) analisis resiko, 59 ayat (1), (2) dan (3).

Muatan Substansi Globalisasi 9. Urusan veterinary services (sistem kesehatan hewan nasional) kelembagaan otoritas veteriner.pasal 68 ayat (1) s/d (7). Pasal 68 ayat (3) dalam rangka ikut berperan serta mewujudkan kesehatan hewan dunia melalui Siskeswanas Menteri dapat melimpahkan kewenangannya kepada otoritas veteriner Pelimpahan kewenangan Menteri kepada otoritas veteriner dimaksudkan untuk dapat menerapkan kewenangan tertinggi dalam pengambilan keputusan di bidang kesehatan hewan yang bersifat nasional dan/atau internasional.

Muatan Substansi Globalisasi 10. Urusan Pelayanan Jasa Medik Veteriner, Pasal 72 ayat (1) dan (2), dokter hewan asing harus memenuhi syarat yang ditetapkan berdasarkan perjanjian bilateral dan syarat berdasarkan ketentuan sebagai tenaga kesehatan hewan di Indonesia. 11. Urusan peningkatan daya saing nasional pemberdayaan terhadap peternak, usaha di bidang peternakan, dan di bidang kesehatan hewan, Bab VIII, Pasal 76 (1) dan (2) 9 bentuk kemudahan. Dari 9 kemudahan (a) mengutamakan pemanfaatan sumber daya peternakan dan kesehatan hewan dalam negeri dan (b) perlindungan harga dan produk hewan dari luar negeri.

Muatan Substansi Globalisasi 12.Urusan penelitian dan pengembangkan pentingnya kerjasama, di tingkat nasional dan internasional, Bab X, Pasal 79 ayat (1), (2), dan (3) pentingnya perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual hasil, Pasal 81. perorangan warga negara asing/ badan hukum asing wajib izin dari instansi yang berwenang, Pasal 80 ayat (1), dan bekerjasana dengan instansi/peneliti dalam negeri, ayat (2). 13. Urusan sanksi administrasi dan sanksi pidana, Bab XIII, Pasal 89 ayat (2), (1) dan (3).

Bab IV SUBSTANSI UU No.18/2009 YANG BERKAITAN DENGAN PEMANASAN GLOBAL

PENGERTIAN Pemanasan global (global warming) adalah fenomena terjadinya peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi, melebih dari yang diperkiraan. Pada dasarnya suhu daratan bumi tidak setabil, Selama kurun waktu dari tahun 1000 sampai abad 19, kenaikan suhu berubah sebanyak 0.2 darjah. Yang menjadi kerisauan dalam waktu 100 tahun terakhir ini terjadi kenaikan suhu meningkat 0.6 darjah. (0,74+ 0,18 0C). Berdasarkan simulasi kenaikan suhu akan semakin cepat pada abad-21. Hal ini yang disebut pemanasan global. Sinar matahari 6000 darjah + penebalan gas karbon dioksida, methan dan nitrogen suhu atmosfir meningkat efek rumah kaca.

Muatan Substansi 1. Pembukaan UU No.18/2009 peternakan perlu kesehatan hewan yang kuat. hewan sebagai karunia dan amanat Tuhan Yang Maha Esa, tidak semata-mata sebagai benda ekonomi, tetapi sebagai suatu entitas yang utuh dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat (butir a). butir b kesehatan hewan bukan semata-mata ditujukan pada hewan semata, tetapi juga terhadap kesehatan manusia, hewan beserta ekosistemnya. ekosistem masalah pemanasan global kesehatan hewan bukan pendukung dan penunjang peternakan, tetapi merupakan prasyarat bagi penyelenggaraan peternakan.

Muatan Substansi Globalisasi 2. Bagaimana UU No.18/2009 mengantisipasi isu global tentang kontribusi peternakan dalam pemanasan global? mengintegrasikan peternakan dengan kegiatan pertanian lain, (budi daya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, kehutanan, atau bidang lainnya yang terkait) Bab II, Asas dan Tujuan, Pasal 2 ayat (1) dan (2). Pasal 3, butir c tujuan UU No.18/2009 melindungi, mengamankan, dan/atau menjamin wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman yang dapat mengganggu kesehatan atau kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Termasuk ancaman disini adalah dampak dari pemanasan global.

Muatan Substansi Globalisasi 3. Urusan Sumber Daya, Bab III, Pasal 5 ayat (2) setiap perubahan tata ruang wilayah untuk kepentingan peternakan dan kesehatan hewan harus memenuhi pesyaratan teknis peternakan dan kesehatan hewan dan agro-ekosistem. Persyaratan agroekosistem pemanasan global. Persyaratan baku mutu air, Pasal 7. 4. penyakit hewan/zoonosis, Bab V, Bagian Kesatu kesehatan lingkungan, Pasal 39 ayat (1) dan penyelenggaraan kesehatan hewan di berbagai lingkungan ekosistem, Pasal 39 ayat (2). pemerintah perlu mengembangkan kebijakan kesehatan hewan nasional.

Muatan Substansi Globalisasi 5.kesehatan masyarakat veteriner, Bab VI, Bagian Kesatu. Kata kunci yang relevan dengan pemanasan global dalam hal ini adalah penanganan bencana, Pasal 39, 64 dan 65. Pasal 64 Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengantisipasi ancaman terhadap kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh hewan dan/atau perubahan lingkungan sebagai dampak bencana alam yang memerlukan kesiagaan dan cara penanggulangan terhadap zoonosis, dan masalah higiene, dan sanitasi lingkungan.

Muatan Substansi Globalisasi 6. Dampak pemanasan global terhadap urusan konservasi diantisipasi UU No. 18/2009 dalam Bab VII, Kata kunci yang relevan dengan pemanasan global dalam hal ini adalah medik konservasi, Pasal 69. Dalam hal ini Pemerintah wajib mengembangkan medik konservasi, Pasal 69 dan 73. Pasal 73 Pemerintah wajib membina dan memfasilitasi terselenggaranya medik reproduksi, medik konservasi, dan forensik veteriner.

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan 1. Antisipasi masalah globalisasi dan pemanasan global. 2. Dijadikan payung hukum bagi terbentuknya peraturan perlaksanaan untuk masalah globalisasi dan pemanasan global Rujukan dapat menggunakan ketentuan dari CDC. 3. Implementasinya perlu tindakan yang sifatnya komprehensif dan perlu menjadi perhatian bagi setiap kelembagaan, petugas maupun perorangan yang terlibat.

terimakasih