UNTAET REGULASI NO.2000/03 TENTANG PENDIRIAN KOMISI PELAYANAN UMUM. Wakil Khusus Sekretaris-Jenderal (selanjutnya disebut: Administrator Transisi),

dokumen-dokumen yang mirip
REGULASI NO. 2000/04

REGULASI NOMOR 28/2001 TENTANG PENDIRIAN DEWAN MENTERI

Tentang Pendirian Kantor Catatan Sipil demi Timor Lorosae

REGULASI NO. 2000/11

REGULASI NO. 2000/13

REGULASI NO. 2001/17

UNTAET Administrasi Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Lorosae REGULASI NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEJAKSAAN DI TIMOR TIMUR

REGULASI NO. 2001/06

REGULASI NO. 2001/20

REGULASI NO. 2000/06

REGULASI NO. 2000/05

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2000/14

REGULASI NO. 2001/18

REGULASI NO. 2001/11

UNTAET REGULASI NOMOR 2001/8 TENTANG PENDIRIAN REZIM UNTUK MENGATUR LALU LINTAS DI TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2000/12

UNTAET REGULASI NO. 2001/02

UNTAET REGULASI NO. 2002/2 TENTANG PELANGGARAN KETENTUAN BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PRESIDEN PERTAMA

UNTAET REGULASI NOMOR 2001/1 TENTANG PENDIRIAN TENTARA NASIONAL TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2000/09

REGULASI NO. 2001/10

UNTAET INSTRUKSI NOMOR 5/2001 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN KENDARAAN BERMOTOR DI TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2000/10

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR:.. TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RINGKASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA. Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedelapan. Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA. Presiden Republik Indonesia,

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN PEMBIDANGAN KERJA KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERBANDINGAN MATERI POKOK UU NO. 8 TAHUN 1974 JO UU NO. 43 TAHUN 1999 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN DAN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA (RUU ASN)

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 74 TAHUN 2016

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

DEWAN PERS Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1984 Tanggal 9 Januari 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

Konvensi Internasional mengenai Penindasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Rancangan Peraturan Presiden tentang Komisi Nasional Disabilitas POKJA IMPLEMENTASI UU PENYANDANG DISABILITAS 8 NOVEMBER 2016

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2003 TENTANG BADAN PENGAWAS PASAR TENAGA LISTRIK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 29 TAHUN 2016 TENTANG KOMISI INFORMASI DAERAH

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 8 TAHUN 1974 (8/1974) Tanggal: 6 NOPEMBER 1974 (JAKARTA)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PEMENSIUNAN. Imam Gunawan

Prinsip Dasar Peran Pengacara

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

RANCANGAN. Tahun Sidang : Masa Persidangan : III Rapat ke :

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK POKOK KEPEGAWAIAN;

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 110 TAHUN 2017 TENTANG BADAN PENGELOLA KEUANGAN HAJI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Bab III Keanggotaan. Bagian Kesatu. Umum

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

ANGGARAN RUMAH TANGGA INSTITUT AKUNTAN MANAJEMEN INDONESIA TAHUN 2009 BAB I KEANGGOTAAN. Pasal 1 KETENTUAN UMUM

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 23, Tambahan Lembaran Neg

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Statuta Mahkamah Internasional (1945) Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

ANGGARAN RUMAH TANGGA. BAB I NAMA dan KEDUDUKAN

GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG

Transkripsi:

PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA Administrasi Transisi Perserikatan Bangsabangsa di Timor Lorosae NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2000/03 20 Januari 2000 REGULASI NO.2000/03 TENTANG PENDIRIAN KOMISI PELAYANAN UMUM Wakil Khusus Sekretaris-Jenderal (selanjutnya disebut: Administrator Transisi), Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada Administrator Transisi sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 1272 tanggal 25 Oktober 1999, Mengingat Regulasi Pemerintahan Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Lorosae (UNTAET) No. 1999/1 tanggal 27 Nopember 1999 tentang Kewenangan Pemerintahan Transisi di Timor Lorosae, Setelah berkonsultasi dalam Dewan Konsultasi Nasional, Dengan maksud mendirikan sistim pengelolaan pelayanan umum di Timur Lorosae, Dengan ini mengumumkan sebagai berikut: Bagian 1 Komisi Pelayanan Umum 1.1 Dengan ini Komisi Pelayanan Umum (selanjutnya: Komisi) didirikan. Komisi tersebut bertugas mengawasi Administrasi Timur Lorosae dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Komisi bersifat independen dalam menjalankan fungsinya. Administrator Transisi dapat berkonsultasi dengan Komisi tentang halhal menyangkut pelayanan sipil Timur Lorosae. 1.2 Komisi (a) Membuat kebijakan dan petunjuk personalia, termasuk yang berhubungan dengan rekrutmen, pengangkatan dan kenaikan pegawai; gaji, tunjangan,

pensiun dan syarat-syarat pekerjaan lain; prosedur kedisiplinan dan sangsisangsi; serta hak dan kewajiban pegawai sipil dan pekerja-pekerja lain dari instansi pemerintah sebagaimana akan diuraikan dalam suatu undang-undang yang mengatur pekerjaan dalam pelayanan umum; (b) Menunggu pendirian sistem peradilan untuk memeriksa perkara administratif dan buruh kerja, Komisi mengadili persengketaan demikian; (c) Setelah pelayanan sipil Timur Lorosae dijalankan sepenuhnya, mengawasi pelaksanaan prosedur-prosedur yang telah disepakati, instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk administratif; memperkembangkan suatu iklim etika dalam Administrasi; dan mengawasi seluruh prestasi kerja departemen dan instansiinstansi. 1.3 Berdasarkan rekomendasi dari panel rekrutmen departemen-departement dan Kantor Pusat Rekrutmen Personalia, merupakan fungsi utama dari Komisi untuk merekomendasikan pejabat-pejabat yang memenuhi syarat untuk gabung dengan pelayanan umum Timor Lorosae dengan ditunjuk oleh Administrator Transisi. Panel rekrutmen akan terdiri dari wakil-wakil departemen yang bersangkutan dan Kantor Pusat Rekrutmen Personalia yang terpilih berdasarkan petunjuk-petunjuk sebagaimana disiapkan oleh Komisi. 1.4 Berhubungan dengan pengangkatan pejabat-pejabat yang paling senior (Tingkat Lima), kecuali sebagaimana ditentukan secara terpisah dalam Regulasi yang mengatur pelantikan seseorang sebagai anggota kehakiman, untuk setiap jabatan Komisi menyediakan sebuah daftar kecil calon-calon yang memenuhi syarat, untuk diseleksi / dipilih oleh Administrator Transisi. Bagian 2 Penyusunan dan Masa Jabatan Perkantoran 2.1 Komisi akan terdiri dari tujuh (7) orang yang ditunjuk oleh Administrator Transisi. Paling sedikit dua (2) diantaranya harus ahli international. Anggota yang lain ditunjuk oleh Administrator setelah berkonsultasi dengan wakil-wakil masyarakat Timur Lorosae, melalui Dewan Konsultasi Nasional yang dibentuk sesuai dengan Regulasi No. 1999/2. Ketua Komisi dilantik oleh Administrator Transisi. 2.2 Dalam jangka waktu paling lama satu (1) tahun setelah pembentukannya, susunan Komisi akan dirubah untuk memasukkan seorang wakil dari pegawai pelayanan umum. 2.3 Semua anggota Komisi bersifat independen dan tidak memihak dalam menjalankan tugas mereka. Anggota Komisi juga harus pada setiap saat bertujuan membentuk sebuah pelayanan sipil yang independen.

2.4 Masa jabatan awal dari anggota Komisi adalah enam (6) bulan mulai dari tanggal pengangkatannya. Masa jabatan ini dapat diperbaharui. Keanggotaan Komisi diberhentikan jika memangku jabatan politis tinggi atau bekerja dalam pelayanan umum Timur Lorosae. Bagian 3 Kelompok Kerja Komisi Untuk memperbaiki kemampuannya dalam menjawab isu-isu yang membutuhkan kajian yang mendalam dan nasihat seorang ahli, setelah berkonsultasi dengan Administrasi Transisi, Komisi dapat membentuk kelompok kerja ad hoc (khusus) untuk meniliti berbagai sektor dari pelayanan umum (selanjutnya disebut: kelompok kerja) kecuali yang dicakup dalam bidang-bidang di bawah kewenangan Komisi Pelayanan Hukum Transisi. Keanggotaan kelompok kerja terdiri dari ahli asli Timur Lorosae dan ahli internasional di bidang-bidang yang relevan. Bagian 4 Tanggungjawab 4.1 Komisi mengajukan laporan terperinci tentang kegiatannya kepada Administrator Transisi setiap triwulan. Laporan tersebut diajukan kepada Dewan Konsultasi Nasional dalam bentuk lisan maupun tulisan. Komisi juga menerbitkan laporan tahunan yang menilai prestasi kerja pelayanan umum selama tahun sebelumnya dan merekomendasikan perubahan yang dianggap perlu. 4.2 Komisi akan bertemu secara berkala dengan Administrator Transisi, guna bertukar pandangan tentang isu-isu penting yang muncul yang dapat mempengaruhi pelaksanaan baik fungsi pelayanan umum. Bagian 5 Sidang Komisi 5.1 Komisi, apabila mungkin, mencapai keputusan melalui konsensus. 5.2 Pertemuan Komisi membutuhkan kuoram yang berjumlah lima anggota termasuk Ketua atau, jika Ketua tidak hadir, Ketua dapat digantikan oleh Wakil Ketua yang ditunjuk. 5.3 Ketua mengadakan sidang Komisi bila perlu, tetapi tidak kurang dari satu (1) kali sebulan. Sidang khusus untuk menangani masalah-masalah khusus yang penting atau mendesak akan diadakan atas permintaan Administrator Transisi.

Bagian 6 Bantuan Teknis dan Pembayaran Honor 6.1 Administrator Transisi menyediakan keperluan dana dan bantuan teknis kepada Komisi. 6.2 Anggota-anggota Komisi akan menerima pembayaran dalam bentuk honor, pada nilai yang akan ditetapkan oleh Administrator Transisi. Bagian 7 Sumpah atau Pernyataan Khidmat 7.1 Pada saat anggota Komisi ditunjuk, Administrator Transisi menerima sumpah dari masing-masing anggota sebagai berikut. Saya bersumpah atau menyatakan dengan sepenuh hati bahwa dalam menjalankan fungsi yang dipercayakan kepada saya sebagai anggota Komisi Pelayanan Umum, saya akan menjalankan tugas saya secara independen dan tidak memihak. Saya akan, pada setiap saat, bertindak sesuai dengan martabat yang dituntut oleh jabatan ini. Dalam menjalankan tugas, saya akan menunduk kepada hukum dan bertindak tanpa diskriminasi atas dasar apapun seperti jenis kelamin, ras, warna kulit, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lain, asal negeri atau sosial, hubungan dengan minoritas nasional, kekayaan, kelahiran atau semua status lain. 7.2 Setelah menyatakan sumpah yang disebut di atas, masing-masing anggota Komisi menandatangani pernyataan sumpah tertulis, yang kemudian disimpan oleh kantor Administator Transisi. Bagian 8 Pemberhentian Jabatan Anggota Komisi 8.1 Apabila, pada suatu saat, Administrator Transisi menyadari adanya bukti bahwa seorang anggotta Komisi telah gagal menjalan semua prinsip disebut di atas atau telah melanggar sumpah, Administrator Transisi dapat memberhentikan anggota tersebut dari jabatannya dan menunjuk seorang pengganti, sesuai dengan Regulasi ini. 8.2 Dalam hal seorang anggota Komisi menjadi sakit, mengundurkan diri atau meninggal dunia, Administrator Transisi harus menunjuk seorang anggota Komisi baru, sesuai dengan Regulasi ini.

Bagian 9 Persetujuan Rancangan Kode Etika dan Garis Petunjuk Komisi harus mengajukan, dalam jangka waktu paling lama tiga (3) bulan setelah anggota-anggota awal ditunjuk, rancangan Kode Etika, Pedoman Rekrutmen dan Pedoman Sangsi bagi para pegawai dalam pelayanan umum di Timur Lorosae kepada Administrator Transisi untuk disetujui. Bagian 10 Pemberlakuan Regulasi ini mulai berlaku pada tanggal 20 Januari 2000. Sergio Vieira de Mello Administrator Transisi