Metode Recall 24 Jam

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Karakteristik Anak Sekolah Dasar

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA GIZI BESI PADA TENAGA KERJA WANITA DI PT HM SAMPOERNA Oleh : Supriyono *)

MENGENAL PARAMETER PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA ANAK Oleh: dr. Kartika Ratna Pertiwi, M. Biomed. Sc

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah untuk menyejahterakan kehidupan bangsa. Pembangunan suatu bangsa

ANTROPOMETRI pada ANAK BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. beranekaragam. Disaat masalah gizi kurang belum seluruhnya dapat diatasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

kekurangan energi kronik (pada remaja puteri)

Disampaikan oleh: Sulistiyani, M.Kes

BAB III METODE PENELITIAN

PERBEDAAN PENGGUNAAN INDEKS MEMBERIKAN PREVALENSI STATUS GIZI YG. BERBEDA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

energi yang dibutuhkan dan yang dilepaskan dari makanan harus seimbang Satuan energi :kilokalori yaitu sejumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan

KONSEP DASAR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN APA PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

BAB I PENDAHULUAN. kurangnya asupan zat gizi yang akan menyebabkan gizi buruk, kurang energi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENILAIAN STATUS GIZI BALITA (ANTROPOMETRI) Saptawati Bardosono

BAB I PENDAHULUAN. sebagai generasi penerus bangsa yang potensi dan kualitasnya masih perlu

PANDUAN PENGISIAN KUESIONER PEMANTAUAN STATUS GIZI (PSG) DAN MONITORING EVALUASI KEGIATAN PEMBINAAN GIZI

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan LAKI-LAKI PEREMPUAN

METODE. PAUD Cikal Mandiri. PAUD Dukuh. Gambar 2 Kerangka pemilihan contoh. Kls B 1 :25. Kls A:20. Kls B 2 :30. Kls B:25. Kls A:11

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN. Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh

Pola Konsumsi Pangan Rumah Tangga Perubahan konsumsi pangan sebelum dan sesudah mengikuti program pemberdayaan Tingkat Kecukupan energi dan zat gizi

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh

BAB I PENDAHULUAN. panjang badan 50 cm (Pudjiadi, 2003). Menurut Depkes RI (2005), menyatakan salah satu faktor baik sebelum dan saat hamil yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

PENENTUAN KECUKUPAN ENERGI

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam lima tahun pertama kehidupannya (Hadi, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. cukup beragam. Menurut Soekirman (2000) definisi dari masalah gizi adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJUAN PUSTAKA. Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme, karena itu kebutuhan

GAMBARAN ASUPAN ZAT GIZI, STATUS GIZI DAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN CV. SINAR MATAHARI SEJAHTERA DI KOTA MAKASSAR

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia masih memerlukan perhatian yang lebih terhadap persoalan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKI di Indoensia mencapai 359 per jumlah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang

STATUS GIZI IBU HAMIL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP BAYI YANG DILAHIRKAN

BAB II TINJAUAN TEORI. dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

BAB I PENDAHULUAN. atau tekanan darah tinggi (Dalimartha, 2008). makanan siap saji dan mempunyai kebiasaan makan berlebihan kurang olahraga

METODE PENELITIAN. n = n/n(d) 2 + 1

BAB I PENDAHULUAN. lainnya gizi kurang, dan yang status gizinya baik hanya sekitar orang anak

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan

Karakteristik Sampel: Usia Jenis Kelamin Berat Badan Tinggi Badan. Kebutuhan Energi dan Zat Gizi. Status Gizi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. generasi penerus bangsa. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. defisiensi vitamin A, dan defisiensi yodium (Depkes RI, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. hidup dan pola makan, Indonesia menghadapi masalah gizi ganda yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hidup anak sangat tergantung pada orang tuanya (Sediaoetama, 2008).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua periode yang berbeda, yaitu masa awal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara zat-zat gizi yang masuk dalam tubuh manusia dan penggunaannya

BAB I PENDAHULUAN (6; 1) (11)

BAB I PENDAHULUAN. sampai usia lanjut (Depkes RI, 2001). mineral. Menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI 1998

BAB Ι PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada setiap

KERANGKA PEMIKIRAN. Karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh: Karakteristik contoh: Pengetahuan gizi seimbang. Jenis kelamin Umur Uang saku

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI TOHO KABUPATEN PONTIANAK

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Desain, Waktu, dan Tempat

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak, masa remaja, dewasa sampai usia lanjut usia (Depkes, 2003).

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Disamping. dan produktivitas kerja (Almatsier, 2002).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tetapi pada masa ini anak balita merupakan kelompok yang rawan gizi. Hal ini

KEBUTUHAN & KECUKUPAN GIZI. Rizqie Auliana, M.Kes

METODOLOGI Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE Disain, Tempat dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Subyek

METODOLOGI Desain, Tempat dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. akan terlihat baik tetapi juga dari segi kesehatan. Terutama anak muda lebih

Gambar 1. Kerangka pemikiran tingkat kecukupan energi zat gizi anak usia sekolah Keterangan : = Variabel yang diteliti = Hubungan yang diteliti

Rizqi Mufidah *), Dina Rahayuning P **), Laksmi Widajanti **)

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Ramadani (dalam Yolanda, 2014) Gizi merupakan bagian dari sektor. baik merupakan pondasi bagi kesehatan masyarakat.

BAB II LANDASAN TEORI

KOMPOSISI TUBUH LANSIA I. PENDAHULUAN II.

GAYA HIDUP SEHAT. Faktor Mempengaruhi Kesehatan Usia Dewasa

METODE PENELITIAN. Populasi penelitian = 51 orang. 21 orang keluar. Kriteria inklusi. 30 orang responden. Gambar 2 Cara penarikan contoh

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

Transkripsi:

Topik Yang Akan Di Bahas : 1. Anamnesa Untuk Mengkaji Riwayat Diet 2. Pengukuran Antropometri 3. Pemeriksaan Laboratorium Food Recall 24 jam Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency) ANAMNESIS RIWAYAT DIET By Yetti Wira Citerawati SY Metode Recall 24 Jam Langkah-langkah Pelaksanaan Recall 24 jam Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring dan lainlain) atau ukuran lainnya yang biasa dipergunakan sehari-hari. Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1 24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu. Metode Recall 24 Jam Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulangulang dan harinya tidak berturut-turut. Karena hasilnya yang diperoleh dapat menggambarkan asupan zat gizi yang lebih optimal. Dan memberi variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur, 1997 dalam Supariasa, 2001). Langkah-langkah Pelaksanaan recall 24 jam, (Supariasa, 2001).: Menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia. Kelebihan Metode Recall 24 Jam Menurut Supariasa (2001), Metode Recall 24 Jam mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: 1. Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden 2. Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas untuk wawancara. 3. Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden. 4. Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf. 5. Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari. 1

Kekurangan Metode Recall 24 Jam Menurut Supariasa (2001), Metode Recall 24 Jam juga mempunyai beberapa kekurangan, antara lain: 1. Tidak dapat menggambarkan asupan makan sehari-hari, bila hanya dilakukan recall satu hari. 2. Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat reponden. Oleh karena itu, responden harus mempunyai daya ingat yang baik, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa. 3. The flat slope syndrom, yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate). Kekurangan Metode Recall 24 Jam 4.Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat. 5.Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan penelitian. 6. Untuk mendapat gambaran konsumsi makanan sehari-hari recall jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, hari akhir pekan, pada saat melakukan upacara-upacara keagamaan, selamatan dan lain-lain. Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency) Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency) Dengan menggunakan metode frekuensi makanan maka dapat diperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam epidemiologi gizi. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam daftar kuesioner tersebut adalah yang di konsumsi dalam frekuensi yang cukup sering oleh responden Supariasa (2001). Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency) Langkah-langkah Metode frekuensi makanan, Supariasa (2001): 1. Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya. 2. Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula. Kelebihan Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency) Menurut Supariasa (2001), Metode Frekuensi Makanan mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: 1. Relatif murah dan sederhana 2. Dapat dilakukan sendiri oleh responden 3. Tidak membutuhkan latihan khusus 4. Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan Kekurangan Metode Frekuensi Makanan (Food Frequency) Menurut Supariasa (2001), Metode Frekuensi Makanan juga mempunyai beberapa kekurangan, antara lain: 1. Tidak dapat untuk menghitung intake zat gizi sehari 2. Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data 3. Cukup menjemukan bagi pewawancara 4. Perlu percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner 5. Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi. 2

Pemeriksaan Laboratorium Elektrolit, indikator status cairan Indikator status mineral (zat besi, dll) Kadar vitamin/mikronutrien Intoleransi substrat (protein, KH dan lemak) Simpanan protein viseral Pemeriksaan Laboratorium Untuk Menentukan Status Gizi Pemeriksaan laboratorium yang biasanya dilakukan untuk mengetahui status gizi seseorang adalah pemeriksaan albumin dan haemoglobin. Status gizi dinyatakan normal/ baik bila nilai haemoglobin untuk pria 13-18 g/dl dan untuk wanita 11-16 g/dl, sedangkan nilai albumin dikatakan normal bila 3,5-5,3 g/dl. Protein Viseral dan Malnutrisi Albumin serum (gm/dl) Transferin serum (mg/dl) Malnutrisi ringan 3,0-3,5 150-200 Malnutrisi 2,1-3,0 100-150 sedang Malnutrisi berat < 2,1 <100 Pemeriksaan Haemoglobin Nilai Normal Hb Wanita = 12-16 gr/dl Pria = 14-18 gr/dl Anak = 10-16 gr/dl Bayi baru lahir= 12-24 gr/dl 3

Antropometri Untuk mengkaji status gizi secara akurat, beberapa pengukuran secara specifik juga diperlukan dan pengukuran ini mencakup Indeks Massa Tubuh(IMT), Berat Badan Relatif (BBR), dan Ratio Lingkar Pinggang Pinggul (LPP). 4

Penimbangan Balita Dengan Menggunakan Dacin Persiapan Penimbangan: Menggantung dacin pada tempat yang kokoh. Mengatur posisi batang dacin sejajar dengan mata penimbang. Memeriksa ketepatan dacin, dengan menggeser bandul geser tepat pada angka nol, jika jarum penunjuk tegak lurus, berarti tidak perlu diseimbangkan lagi. Jika jarum belum tegak lurus, maka dapat diseimbangkan dengan penambahan batu kecil dalam plastik yang digantung di ujung batang dacin. Pelaksanaan Penimbangan: Memastikan bandul geser berada tepat pada angka nol, agar batang dacin tidak mengenai penimbang maupun orang lain. Menanyakan hasil pengukuran BB sebelumnya, sebagai patokan agar penimbangan dapat berlangsung lebih cepat. Memasukkan balita kedalam kantung timbang. Mengatur bandul geser pada angka penimbangan sebelumnya, lalu kemudian disesuaikan sedikit hingga jarum penunjuk saling tegak lurus (telah seimbang). Pelaksanaan Penimbangan: Membaca hasil penimbangan dengan melihat angka yang tertera di ujung bandul geser. Mencatat hasil penimbangan. Mengembalikan bandul geser pada angka nol. Mengeluarkan balita dari kantung timbang. 5

Bathroom scale Lenght Board 6

Lingkar Lengan 1. Lipatan Triseps Pengukuran lipatan triseps dimaksudkan untuk menentukan status lemak tubuh, sementara pengukuran LLA dan LOLA untukmengetahui status protein otot. Cara pengukuran : Lengan yang lipatan triseps akan diukur, dibiarkan digantung bebas disisi tubuh. Peganglah lipatan kulit tersebut seperti menjepitnya dengan ibu jari dan telunjuk tangan sedikit diatas titik tengah lengan atas. Menggunakan kaliper untuk mengukur tebalnya,tunggu 2 hingga 3 detik, kemudian bacalah hasil pengukuran tersebut pada 1,0 mm yang terdekat. Ulangi prosedur pengukuran hingga 3x,hitung rata-rata dari hasil pengukuran Nilai Normal : Lipatan Triseps 11,3 mm untuk laki-laki 14,9 mm untuk wanita. LOLA LOLA mrp indikator untuk kandungan protein tubuh ( lean body mass). Lingkar Otot Lengan Atas (LOLA) LOLA (cm) = LLA (cm) [0,314 x tebal kulit triseps (mm)] Nilai Normal : 22,8 cm untuk laki-laki 20,9 cm untuk wanita LILA pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur (WUS) adalah salah satu cara deteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok beresiko kekurangan energi kronis (KEK). 7

LILA KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil). Pada ibu hamil lingkar lengan atas digunakan untuk memprediksi kemungkinan bayi yang dilahirkan memiliki berat badan lahir rendah. Ibu hamil diketahui menderita KEK dilihat dari pengukuran LILA, adapun ambang batas LILA WUS (ibu hamil) dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lebih rendah (BBLR). BBLR mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak. LILA Lingkar lengan atas menggunakan alat: pita pengukur dari fiber glass atau sejenis kertas tertentu berlapis plastik. Ambang batas (Cut of Points): a.lla WUS dengan risiko KEK di Indonesia < 23.5 cm b.pada bayi 0-30 hari : 9.5 cm c.balita dengan KEP <12.5 cm Rasio Lingkar Pinggang Panggul Rasio Pi-pa < 1,0 normal untuk lakilaki Rasio Pi-pa < 0,8 Normal untuk perempuan Lingkar pi-pa IMT KATEGORI IMT Kurus tkt berat <17 Kurus tkt ringan 17,0-18,5 Normal 18,5-25,0 Gemuk tkt rgn 25,0-27,0 Gemuk tkt berat > 27,0 8

IMT BBR BBR mrp alternatif lain untuk menentukan status gizi seseorang. BBR adalah persentase BB dlm Kg terhadap BB Normal. (TB 100). BBR NILAI STANDART KATEGORI < 90% UNDERWEIGHT 90-110% BERAT NORMAL >110% OVERWEIGHT >120% OBESE/ GEMUK LINGKAR KEPALA Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulangtengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama,tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dangizi. Bagaimanapun ukuran otak dan lapisantulang kepala dan tengkorakdapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi. Dalam antropometri gizi rasiolingkar kepala dan Lingkar dada cukup berarti dan menentukan KEP padaanak. Lingkar kepala juga digunakan sebagaiinformasi tambahan dalampengukuran umur Lingkar Kepala sampai sekarang belum ada ukuran baku mengenai lingkar kepala yang dapat dijadikan acuan. Namun di beberapa kartu menuju sehat dapat kita ketahui beberapa kurva yang menunjukkan perkembangan lingkar kepala. Untuk bayi baru lahir berjenis kelamin perempuan mempunyai kisaran 31-36 cm, sementara untuk bayi laki-laki berkisar antara 32-28 cm. Lingkar Kepala Pertambahan ukuran lingkar kepala bayi dalam setiap bulan mempunyai rata-rata 2 cm di 3 bulan pertama, kemudian bertambah 1 cmuntuk bulan berikutnya hingga berusia 6 bulan. Untuk 6 bulan berikutnya perkembangan lingkar kepala hanya akan bertambah sekitar 0,5 cm setiap bulan. Pertambahan ukuran lingkar kepala ini akan melambat seiring dengan pertumbuhan bayi anda hingga ia menginjak remaja. 9

LINGKAR DADA Biasa digunakan pada anak umur 2-3 tahun, karena pertumbuhanlingkar dada pesat sampai anak berumur 3 tahun. Rasio lingkar dada dankepala dapat digunakan sebagai indikator KEP pada balita. Pada umur 6bulan lingkar dada dan kepala sama. Setelah umur ini lingkar kepalatumbuh lebih lambat daripada lingkar dada. Pada anak yang KEP terjadipertumbuhan lingkar dada yang lambat sehingga perbandingan rasiolingkar dada dan kepala adalah kurang dari 1 TINGGI LUTUT Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga datatinggi badan didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri ataulansia. Pada lansia digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadipenurunan masa tulang,bungkuk, sukar untuk mendapatkan data tinggibadan akurat. Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula ataunomogram bagi orang yang berusia >59 tahun. Tinggi Lutut Formula (Gibson, RS; 1993) Pria : (2.02 x tinggi lutut (cm)) (0.04 x umur (tahun)) + 64.19 Wanita : (1.83 x tinggi lutut (cm)) (0.24 x umur (tahun)) + 84.88 Panjang Depa (Rentang lengan) Dilakukan pengukuran panjang depa bagi subyek dengan alat mistar panjang 2 meter. Panjang depa biasanya menggambarkan hasil pengukuran yang sama dengan tinggi badan normal dan dapat digunakan untuk menggantikan pengukuran TB. Subyek yang diukur harus memiliki kedua tangan yang dapat direntangkan sepanjang mungkin dalam posisi lurus lateral dan tidak dikepal. Panjang Depa (Rentang lengan) Thank s Pria = 118,24 +(0,28 x rentang lengan)- (0,07xumur)cm Wanita = 63,18 +(0,63xrentang lengan)-(0,17xumur)cm 10