Konsep Pengelolaan Sumberdaya Alam vs Penatagunaan Sumber Daya Alam Lain

dokumen-dokumen yang mirip
SUMBERDAYA PERTANIAN TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP.

Sumber Daya Alam. Yang Tidak Dapat Diperbaharui dan Yang Dapat di Daur Ulang. Minggu 1

1. Konsep pertumbuhan ekonomi dalam. 2. Growth & Development dan ekstraksi SDAL

Perkspektif ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam. Pertemuan ke 4

Ekonomi Sumberdaya Alam

3. RUANG LINGKUP SUMBER DAYA ALAM

WILAYAH PERTAMBANGAN DALAM TATA RUANG NASIONAL. Oleh : Bambang Pardiarto Kelompok Program Penelitian Mineral, Pusat Sumberdaya Geologi, Badan Geologi

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 19 TAHUN 2006 TENTANG : PENGELOLAAN PASIR BESI GUBERNUR JAWA BARAT

Latar Belakang Secara ekologis, manusia adalah bagian dari lingkungan hidup. Lingkungan hidup inilah yang menyediakan berbagai sumber daya alam yang

Penataan Ruang & Sumberdaya Alam

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

MATERI 1. Pendahuluan. I. Ruang Lingkup MSDA Kema hubungan antara sistem ekonomi dan sistem lingkungan (Tietenberg, 1992)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pertambahan penduduk telah meningkatkan kebutuhan terhadap sandang,

TATA GUNA TANAH TATA GUNA AGRARIA. WIDIYANTO, SP, MSi

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yan

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOLAKA UTARA TENTANG REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

USULAN STRUKTUR KELEMBAGAAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

DEFINISI SUMBERDAYA ALAM (UURI NO. 32 TH 2009 ttg Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup)

SUMBER DAYA ALAM DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 64 TAHUN 2014 TENTANG

PENATAAN RUANG DALAM PERSPEKTIF PERTANAHAN

I. PENDAHULUAN. dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

KERUSAKAN LAHAN AKIBAT PERTAMBANGAN

Payung Hukum. 1. kewajiban memperhatikan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Menurut UU. Mengawal Hukum Lingkungan

SUMBER DAYA HABIS TERPAKAI YANG DAPAT DIPERBAHARUI. Pertemuan ke 2

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG

KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. DOSEN: Dr. TIEN AMINATUN, M.Si.

Pertambangan adalah salah satu jenis kegiatan yang melakukan ekstraksi mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam bumi.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kementerian Kelautan dan Perikanan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN UNTUK PENATAAN RUANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 11 TAHUN 2002 KAWASAN INDUSTRI PERIKANAN TERPADU DI TELUK KELABAT B U P A T I B A N G K A,

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

E. KAJIAN HUKUM TENTNAG PENGELOLAAN SDA: PERATURAN PER-UUYANG BERKAITAN DENGAN SDA

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG

C. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN

PP 62/1998, PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DI BIDANG KEHUTANAN KEPADA DAERAH *35837 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Teori Sumberdaya Bersama (Common- Pool Resource / Common Property Resource)

L PEI\{DAITULUAIT. 1.1 Latar Belakang. di Sumatra Selatan 51,73 oh), di Kalimantan (di Kalimantan Selatan 9,99 %o;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Keterkaitan Rencana Strategis Pesisir dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Kutai Timur

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

TINJAUAN PUSTAKA. berhasil menguasai sebidang atau seluas tanah, mereka mengabaikan fungsi tanah,

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG REKLAMASI LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA DI KALIMANTAN SELATAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

2 menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Rawa; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 t

PERSPEKTIF HUKUM. Dr. IMA MAYASARI, S.H., M.H

1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara tanggal 4 Juli Tahun 1950);

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI PENYEMPURNAAN RANCANGAN RTR KAWASAN STRATEGIS PANTURA JAKARTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENANGANAN TERPADU DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DI WILAYAH PESISIR, LAUTAN DAN PULAU

7. SIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan BAB III Urusan Desentralisasi

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAMUJU UTARA NOMOR: 06 TAHUN 2010 TENTANG

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

02/03/2015. Sumber daya Alam hayati SUMBER DAYA ALAM JENIS-JENIS SDA SUMBERDAYA HAYATI. Kepunahan jenis erat kaitannya dengan kegiatan manusia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

dan (3) pemanfaatan berkelanjutan. Keharmonisan spasial mensyaratkan bahwa dalam suatu wilayah pembangunan, hendaknya tidak seluruhnya diperuntukkan

KEBERLANJUTAN SUMBERDAYA ALAM 2: MINERAL DAN ENERGI

Hariadi Kartodihardjo (Sumber: UU 23/2014) Adapun urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Provinsi adalah:

I. PENDAHULUAN. terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) Undang -Undang Dasar 1945 yang

MODUL 3 PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

. harga atas barang/jasa sulit/ tidak dapat ditentukan oleh pasar (market)

BAB VI LANGKAH KE DEPAN

Lampiran BAB II STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 11 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN. Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

ANALISIS KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN YANG BERKELANJUTAN DI PULAU BUNAKEN MANADO

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Pengertian. Istilah bahasa inggris ; Mining law.

BUPATI BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

Transkripsi:

Konsep Pengelolaan Sumberdaya Alam vs Penatagunaan Sumber Daya Alam Lain

Sumberdaya (1/2) Webster Dictionary (Resources): (1)Kemampuan untuk memenuhi atau menangani sesuatu (2)Sumber persediaan, penunjang dan pembantu (3)Sarana yang dihasilkan oleh kemampuan atau pemikiran seseorang

Sumberdaya (2/2) Sesuatu yang dipandang memiliki nilai ekonomi Seluruh Faktor Produksi/input produksi untuk menghasilkan output (Adam Smith, 1776) Aset untuk pemenuhan kepuasan dan utilitas manusia (Grima & Berkes, 1989) Segala bentuk input yang dapat menghasilkan utilitas (kemanfaatan) dalam proses produksi atau penyediaan barang dan jasa.

Konsep Sumberdaya Sumberdaya: Terkait dengan kegunaan (usefulness) Diperlukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan Menghasilkan utilitas (kepuasan) dengan atau melalui aktivitas produksi Utilitas dikonsumsi baik langsung maupun tidak langsung (jasa lingkungan, pemandangan, dll)

Kriteria Sumberdaya (Rees, 1990) (1) Adanya pengetahuan, teknologi atau keterampilan (skill) untuk memanfaatkannya (2) Adanya permintaan (demand) Sesuatu (barang) yang tidak memenuhi kriteria: Barang netral Sumberdaya adalah konsep yang dinamis, yang dalam perspektif waktu akan selalu muncul sumberdaya-sumberdaya baru termasuk hal-hal yang belum terpikirkan saat ini

Sumberdaya Alam (SDA) Faktor produksi dari alam yang digunakan untuk menyediakan barang dan jasa Komponen dari ekosistem yang menyediakan barang dan jasa yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia Sumberdaya yang disediakan/dibentuk oleh alam

Sumberdaya Alam

Sumberdaya Alam (SDA) Kesatuan tanah, air, dan ruang udara, termasuk kekayaan alam yang ada di atas dan di dalamnya yang merupakan hasil proses alamiah baik hayati maupun nonhayati, terbarukan dan tidak terbarukan, sebagai fungsi kehidupan yang meliputi fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan (RUU PSDA, 2006)

A. Perspektif waktu: Klasifikasi SDA (1)Stock (non renewable) (2)Flow (renewable) Beregenerasi: Secara Biologi vs non biologi B. Jenis/Bentuk: (1)Material vs Non material (Energi) (2)Hayati vs non Hayati

Klasifikasi Sumber Daya Alam Sumber Daya Alam (SDA) Skala Waktu Pertumbuhan Kegunaan Akhir Stock tidak dapat diperbaharui Flow dapat diperbaharui SDA Material SDA Energi Habis dikonsumsi Dapat Didaur Ulang Memiliki Titik Kritis Tidak Memiliki Material Metalik Material Non- Metalik Energi: Contoh: - Minyak -Gas -Batubara Contoh: - Besi -Tembaga -Aluminium Contoh: - Ikan -Hutan -Tanah Contoh: - Udara -Pasut -Angin Contoh: - Besi -Tembaga -Aluminium Contoh: - Pasir -Batu -Air Contoh: - Surya -Angin -Minyak Ekstraksi > titik kritis Sumber: Fauzi (2004)

Klasifikasi Sumber Daya Alam Berdasarkan Laju Regenerasi dan Penyebarannya (Lujala, 2003) Tersebar (diffuse) Terkonsentrasi (point) Dapat diperbarui (renewable) Vegetasi, hutan, tanah Satwa liar Air Tumbuhan/hewan yang memerlukan kondisi tertentu Tidak dapat diperbarui (non-renewable) Gambut Berbagai bentukan di kerak bumi, seperti kerikil dan pasir. Berbagai bijih, seperti emas

2 Cara Pandang yang melatari Pendekatan Pengelolaan SDA (1) Konservatif (Malthusian) Berakar dari pemikiran Malthus (1879); (2) Ekspolitatif (Ricardian) Berakar dari pemikiran David Ricardo (Ricardian): (i) SDA sebagai engine of growth ditransformsi jadi man-made capital (ii) Keterbatasan SDA disubstitusi dengan intensifikasi & ekstensifikasi (iii) Kelangkaan direspon dengan: peningkatan harga output dan atau peningkatan suplai

Keterkaitan antar sumber daya alam dengan aktivitas ekonomi Sumber Daya Alam Produksi Konsumsi Limbah Sumber: Anwar (2005) Residual

Kriteria Pemanfaatan Sumberdaya Alam Berkelanjutan Komponen Sumberdaya alam dapat diperbarui Sumberdaya alam tidak dapat diperbarui Limbah Kriteria Pemanfaatan berkelanjutan Laju ekstraksi/pemanenan tidak melebihi laju regenerasinya Laju ekstraksi/pemanenan tidak melebihi laju kemampuan produksi subtitusinya Laju produksi limbah tidak melebihi laju pemanfaatan limbah oleh aktivitas/industri lain dan / atau laju pendaurannya Sumber: Rustiadi et al. (2005)

Klasifikasi barang/benda menurut sifat persaingan dan sifat eksklusivitasnya Pembagian cara Klasik Barang Ekonomi Rivalness (Persaingan) Ya Tidak Excludability (Kemungkinan eksklusivitas) Ya Barang Privat (private good) Barang Klub (club good) Tidak Sumberdaya Bersama (common pool resource) Barang Publik (public good)

Kemungkinan Konsep SDA Lainnya Konsep-konsep sumberdaya selain sumberdaya: tanah, air & udara (psl 33)/ psl 1: daratan, laut, udara Segala SDA yang ada di atas dan di dalam tanah, air (termasuk laut) dan ruang udara SDA yang sudah dan belum diatur dalam peraturan perundangan lainnya Jika SDA lain yang dimaksud adalah sebagaimana diatas maka aturan dalam PP penatagunaan SDA lain harus koheren dengan UU sektoral lainnya yang telah mengatur SDA PP SDA mengatur secara generik penatagunaan SDA baik yang sudah maupun belum diatur dalam UU ttg SDA

Masalah dasar dalam Sistem Peraturan perundangan Nasional terkait SDA Belum adanya kesamaan konsep, sistimatika, pengelompokan/ pengklasifikasian baku yang menjadi landasan bersama bagi pengertian/ nomenklatur terkait dengan: (1)Objek SDA (2) Manajemen SDA Akan sulit untuk mengembangkan struktur/sistimatika peraturan yang dituangkan dalam bentuk PP

Nomenklatur Penatagunaan Penatagunaan sumber daya alam dalam UU No. 26/2007: penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain melalui pengaturan yang terkait dengan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil

Penatagunaan Tiga dimensi penatagunaan: penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan Penjelasan formal mengenai pengertian rinci penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan dalam penatagunaan hanya ada di PP 16 /2004 mengenai penatagunaan tanah: a. Penguasaan tanah adalah hubungan hukum antara orang per orang, kelompok orang, atau badan hukum dengan tanah sebagaimana dimaksud dalam UUPA b. Penggunaan tanah adalah wujud tutupan permukaan bumi baik yang merupakan bentukan alami maupun buatan manusia. c. Pemanfaatan tanah adalah kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah tanpa mengubah wujud fisik penggunaan tanahnya.

Masalah Pengertian Unsur Penatagunaan Unsur PP 16/2004 Keterangan Penguasaan Penggunaan pemanfaatan hubungan hukum orang per orang, /kelompok orang, /badan hukum dengan tanah wujud tutupan permukaan bumi (alami & buatan manusia) kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah tanpa mengubah wujud fisik penggunaan tanahnya. 1. Penggunaan tanah lebih dari sekedar menyangkut tutupan/land cover tapi juga land use 2. Termasuk dalam pengertian pemanfaatan ruang (UU 26/2007) Pemanfaatan ruang dalam UU 26/2007: upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.

Terdapat tiga kondisi penggunaan istilah penatagunaan pada peraturan perundangan yang dikaji: 1. Terdapat istilah penatagunaan, dimana istilah tersebut dapat dipilah menjadi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan 2. Terdapat istilah penatagunaan, tetapi istilah tersebut merupakan bagian dari istilah lain (makna yang berbeda) 3. Tidak terdapat istilah penatagunaan, namun digunakan istilah lain (umumnya dengan istilah pengelolaan)

1. Terdapat istilah penatagunaan, dimana istilah tersebut dapat dipilah menjadi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan: UU No. 26 / 2007 tentang Penataan Ruang: antara lain adalah penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan SD alam yang berwujud konsolidasi pemanfaatan melalui pengaturan yang terkait dengan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lain sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil. PP No. 16 / 2004 tentang Penatagunaan Tanah: sama dengan pola pengelolaan tata guna tanah yang meliputi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil.

2. Terdapat istilah penatagunaan, tetapi istilah tersebut merupakan bagian dari istilah lain (makna yang berbeda): UU No. 41 / 1999 tentang Kehutanan: Penatagunaan kawasan hutan merupakan bagian dari perencanaan hutan, yang meliputi kegiatan penetapan fungsi dan penggunaan kawasan hutan (Pasal 12; Pasal 16) UU No. 7 / 2004 tentang Sumber Daya Air: Penatagunaan merupakan bagian dari pengelolaan, yang ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air (Pasal 1 butir 19; Pasal 27 ayat (1))

Penatagunaan Kawasan Hutan menurut UU No. 41 / 1999 Penguasaan Pengurusan Hutan (Pasal 4 ayat 2 butir a) Perencanaan Kehutanan Pengelolaan Hutan Litbang, Diklat & Penyuluhan Pengawasan Inventari sasi Hutan Pengukuhan Kehutanan Penata gunaan Kawasan Hutan Pembentukan Wilayah Pengelolaan Penyusunan Rencana Kehutana Tata Hutan & Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Peman faatan & penggunaan lahan Rehabilita si & Reklamasi Hutan Perli ndungan dan Konservasi Litbang Diklat Penyulu han Pendanaan & Prasarana

3. Tidak terdapat istilah penatagunaan, namun digunakan istilah lain (umumnya dengan istilah pengelolaan): UU No. 5 / 1960 tentang Pokok-pokok Agraria: digunakan adalah hak negara UU No. 11 / 1967 tentang Pertambangan: digunakan adalah usaha pertambangan. UU No. 5 / 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya: digunakan adalah konservasi SDA hayati. UU No. 23 / 1997 tentang Pengelolaan LH: digunakan pengelolaan. UU No. 22 / 2001 tentang Migas: digunakan pembinaan dan pengawasan. UU No. 27 / 2003 tentang Panas Bumi: digunakan pembinaan dan pengawasan. UU No. 31 / 2004 tentang Perikanan: digunakan pengelolaan. UU No. 27 / 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil: digunakan pengelolaan. UU No. 18 / 2008 tentang Pengelolaan Sampah: digunakan pengelolaan.

Kemungkinan konsep Penataangunaan SDA Unsur Penatagunaan PP 16/2004 1) Penguasaan: hubungan hukum orang per orang, /kelompok orang, /badan hukum dengan tanah 2) Penggunaan: wujud tutupan permukaan bumi (alami & buatan manusia) 3) Pemanfaatan: kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah tanpa mengubah wujud fisik penggunaan tanahnya. Kemungkinan konsep unsur Penatagunaan SDA 1) Penguasaan (right): hubungan hukum orang per orang, /kelompok orang, /badan hukum dengan sumberdaya alam di dalam ruang (darat, air, udara dan bawah bumi) 2) Pemanfaatan/ penggunaan (usage): kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah (atau untuk tujuan lain) baik dengan maupun perencanaan, dengan ataupun tanpa peran manusia

a b h c k g d Peristilahan yang Ditemui1- Penetapan Status, dan Hubungan Hukum dengan SDA Wilayah Pengelolaan dan Wilayah Kerja SDA Peruntukan dan Pengusahaan SDA Kuasa Pengambilan dan Pengusahaan SDA Konservasi, Pengembangan, Penelitian, dan Diklat SDA Penggunaan dan Pemanfaatan SDA Hak Guna dan Izin Bisnis SDA UU 7/04 SD Air UU 5/90 SDA Hayati UU 31/04 Ikan UU 18/08 Sampah UU 27/07 WP3K UU 22/ 01 Migas PP 16/ 04 Tanah UU 11/67 Tambang UU 41/99 Hutan UU 5/60 Agrar ia UU 23/97 LH UU 26/07 Tata Ruang UU 27/03 Panas Bumi 10 9 9 9 7 7 6 n Pengaturan Ruang 5 i J l m Peristilahan yang bermakna sebagai rincian dari penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan Eksplorasi dan Eksploitasi SDA Pengolahan dan Pengangkutan SDA Kepentingan Negara dan Umum Pengendalian Dampak dan Daur Ulang 5 5 4 4 f Hak Atas Lingkungan Sehat 4 e Hak Atas Tanah 2 10 8 8 7 7 7 6 6 6 5 5 5 5 Keterangan Baris: Huruf a s/d f merupakan aspek penguasaan SDA; Huruf g s/d n merupakan aspek penggunaan dan pemanfaatan SDA

Produk hukum tata lingkungan dan sumber daya alam antara lain: 1. UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 2. UU No. 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. 3. UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 4. UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 5. UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. 6. UU No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 7. UU No. 27 tahun 2003 tentang Panas Bumi. 8. UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 9. UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan. 10. UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 11. UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. 12. UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. 13. PP No. 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.

TINJAUAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Perundang-undangan yang Relevan Sumber Daya Alam Hayati dan sistem Hidroorologis: 1. UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya. 2. UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. 3. UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Sumber Daya Alam Hayati Air dan Perairan Laut: 1. UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan. 2. UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Lingkungan Hidup: 1. UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Sumber Daya Alam Kebumian: 1. UU No. 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. 2. UU No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 3. UU No. 27 tahun 2003 tentang Panas Bumi. Sumber Daya Agraria dan Ruang: 1. UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 2. UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 3. PP No. 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.

Resume Sistem perundangan di bidang SDA dicirikan dengan: 1. Konflik perspektif SDA secara integral vs SDA secara sektor/jenis Gejala dominasi pengelolaan SDA berbasis sektor/jenis 2. Berbagai bentuk Incompatibility

Sumber Incompatibility Filosofis, ideologi & sistem nilai Maksud dan Tujuan Penggunaan Istilah/nomenklatur dan pengertian istilah

Dampak dari Incompatibility (substansi dan peristilahan) UU terkait dengan SDA 1. Kemubaziran: Inefficient & Suboptimal (bertentangan dengan principle of efficiency and productivity) 2. Ketidakpastian hukum (bertentangan dengan atas asas principle of legal security); 3. campuraduk kewenangan (misuse of competence); 4. Ketidak adilan atau Ketidak kewajaran ( bertentangan dengan azas principle affair play & principle of reasonableness or prohibition of arbitrariness); 5. Terabaikannya kepentingan umum (bertentangan dengan principle of public service).

Dampak-dampak Turunan Penggunaan Berlebihan (Oversuse) kelangkaan (Scarcity), kelangkaan permanen, Fenomena Free riding activities (penumpang gratis/gelap) pemanfaatan SDA secara Cuma-Cuma ketidakadilan, gagal menjadi alat untuk kesejahteraan masyarakat banyak Congestion (kelangkaan semu akibat kemacetan ) Konflik yang berkepanjangan: penjarahan (encroachment), kerusuhan (riot) dan kekerasan Kerusakan/degradasi SDA dan bencana alam

Rekomendasi (Alternatif solusi) Nomenklatur yang akan digunakan pada peraturan perundangan memerlukan suatu standarisasi yang baku, sehingga tidak terdapat banyak kerancuan (penyelarasan istilah) Tidak Direkomedasikan disusunnya PP SDA lainnya: khususnya akibat ketidakjelasan pengertian SDA lainnya: tidak ada ketentuan dan landasan lainnya yang dapat memberikan kejelasan menimbulkan kerancuan baru Disusunnya PP SDA sampai batas tertentu dapat menjadi jembatan masalah incompatibility aspek-aspek nomenklatur/peristilahan (penyelarasan istilah) terkait dengan penatagunaan SDA, namun tidak akan dapat menyelesaikan incompatibility di tataran fiolosofis dan tujuan-tujuan pengelolaan SDA

incompatibility di tataran fiolosofis dan tujuan-tujuan pengelolaan SDA hanya dapat diselesaikan melalui UU baru mengenai SDA Penyelesaian dan pengintegrasian sistem tidak dapat diselesaikan hanya pada tataran peraturan perundangan tetapi juga tataran kelembagaan yang lebih luas termasuk pengorganisasian Perlu tindak lanjut berupa tinjauan lebih jauh dari perspektif Hukum dan tatanegara

Arah Rekomendasi Konsep dan Klasifikasi Sumberdaya Alam Unsur Penatagunaan PP 16/2004 Rekomendasi unsur Penatagunaan Klasifikasi 1) Penguasaan: hubungan hukum orang per orang, /kelompok orang, /badan hukum dengan tanah 1) Penguasaan (right): hubungan hukum orang per orang, /kelompok orang, /badan hukum dengan sumberdaya alam di dalam ruang (darat, air, udara dan bawah bumi) 1. Perorangan (private): a. Individu b. Badan hukum 2. Negara (state) 3. Komunitas (common property) 2) Penggunaan: wujud tutupan permukaan bumi (alami & buatan manusia) 3) Pemanfaatan: kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah tanpa mengubah wujud fisik penggunaan tanahnya. 2) Pemanfaatan/ penggunaan (usage): kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah (atau untuk tujuan lain) baik dengan maupun perencanaan, dengan ataupun tanpa peran manusia 1. Penggunaan tanpa mengubah wujud fisik penggunaan sumberdaya (ruang) 2. Penggunaan disertai mengubah wujud fisik penggunaan sumberdaya (ruang) 1. Alami 2. Budidaya

Terimakasih