PAJAK PAJAK DEPARTEMEN IKK - IPB

dokumen-dokumen yang mirip
PAJAK PAJAK DEPARTEMEN IKK - IPB

MK. MANAJEMEN KEUANGAN KONSUMEN (IKK

PAJAK PENGHASILAN (PPh)

PAJAK PENGHASILAN UMUM DAN NORMA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

BAB II URAIAN TEORITIS

UU 10/1994, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1991

Penghitungan PPh Akhir Tahun

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pajak. Pajak adalah suatu kewajiban kenegaraan dan pengapdiaan peran aktif

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian Pajak sesuai dengan Undang-Undang Ketentuan Umum

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

OLEH: Yulazri M.Ak. CPA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian, kewajiban dan peran serta

BAB II LANDASAN TEORI. tentang pajak, diantaranya pengertian pajak menurut Santoso (1991)

PAJAK PENGHASILAN. Saiful Rahman Yuniarto, S.Sos, MAB

BAB II KAJIAN PUSTAKA tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah. badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak

MINGGU PERTAMA KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Definisi Pajak menurut undang-undang No.16 tahun 2009 tentang. perubahan keempat atas undang undang No. 6 tahun 1983 tentang

Amir Hidayatulloh, S.E., M.Sc Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahlan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Kelompok 3. Karina Elminingtias Ni Putu Ayu A.W M. Syaiful Mizan

DATA IDENTITAS WAJIB PAJAK DATA IDENTITAS WAJIB PAJAK

BAB II LANDASAN TEORI

PAJAK PENGHASILAN UMUM DAN NORMA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1994 TENTANG

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian Pajak menurut Resmi (2013) adalah kontribusi wajib kepada negara

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI. YANG DIKENAKAN PPh FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL

BAB III PAJAK PENGHASILAN

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI. YANG DIKENAKAN PPh FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL

PAJAK PENGHASILAN UMUM. Amanita Novi Yushita, M.Si

MATERI PENYULUHAN PAJAK DI SMKN PENGASIH KULON PROGO

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

BAB II LANDASAN TEORI. serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara. langsung, untuk memeliahara negara secara umum.

KULIAH PERPAJAKAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) Oleh : Mustofa, S.Pd., M.Sc. Dosen Pendidikan Ekonomi FE UNY. PPh UMUM 1

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

Kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak badan setelah memperoleh NPWP

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKAN DAN RUMUSAN HIPOTESIS. Rochmat Soemitro (Mardiasmo 2011:1), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

BAB II LANDASAN TEORI Pengertian Pajak Menurut Undang Undang Pasal 1 angka 1 Ketentuan Umum

BAB II LANDASAN TEORI. diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Yang dimaksud dengan tahun

AGENDA. PPh Pasal 26

PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

LAMPIRAN - I. SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-26/PJ/2013 TENTANG

PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Sistem/Cara Pemungutan Pajak ada 3, yaitu:

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II LANDASAN TEORITIS. 2.1 Pengertian dan Fungsi Pajak Penghasilan. 1. Pengertian Pajak Penghasilan (PPh)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menurut Rochmat Soemitro, seperti yang dikutip Waluyo (2008:3)

PAJAK PENGHASILAN. Tujuan Instruksional :

BAB II LANDASAN TEORI. a. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H. ( Resmi, 2013) (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik

S-425/PJ.312/2006 PERLAKUAN PERPAJAKAN ATAS SPONSORSHIP

A. Pengertian Laporan Keuangan

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 31/PJ/2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki tujuan dan inti yang sama yaitu merumuskan pengertian pajak sehingga

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak Kewajiban Perpajakan bagi Dokter

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak dan tidak dikenakan Pajak penghasilan, diatur dalam Psl 4 ayat (3) UU No. 36 Tahun 2008, yaitu :

ekonomi K-13 PERPAJAKAN K e l a s A. PENGERTIAN PAJAK Semester 1 Kelas XI SMA/MA K-13 Tujuan Pembelajaran

Buku Panduan Perpajakan Bendahara Pemerintah BAB I BENDAHARA DAN KEWAJIBAN PAJAKNYA

PETUNJUK PENGISIAN SPT TAHUNAN WP ORANG PRIBADI SEDERHANA (FORMULIR 1770 S DAN LAMPIRANNYA) (Sesuai PER-34/PJ./2009 dan PER-66/PJ.

I. KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (KUP)

Penghasilan dari usaha di luar profesi dokter *) Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

BAB II TINJAUAN TEORITIS. merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan pembangunan nasional dan

Pertemuan 2 PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 (G + B)

BAB II TELAAH PUSTAKA Pengertian Penghasilan menurut Akuntansi dan Pajak. Penghasilan menurut SAK No. 23 meliputi pendapatan (revenue)

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI 2 0

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK INDONESIA TENTANG PAJAK PENGHASILAN BAB I KETENTUAN UMUM

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

Perpustakaan LAFAI

SPT TAHUNAN PPH WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

PERTEMUAN KE-5 PAJAK PENGHASILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

PAJAK PENGHASILAN. Pembagian Subjek Pajak. Subjek Pajak Dalam Negeri Subjek Pajak Luar Negeri SIAPA SUBJEK PAJAK?

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan

Makalah Perpajakan. Perhitungan PPh 21

BAB III PENYEBAB BEDA AKUNTANSI PAJAK DAN KOMERSIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Fransisca Hanita Rusgowanto S,Kom. M,Ak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Definisi koperasi yang terdapat dalam Peraturan Undang-Undang. Koperasi No.25Tahun 1992 yang berbunyi:

Transkripsi:

PAJAK PAJAK

. PAJAK yang dibayarkan digunakan untuk kegiatan Penyelenggaraan Negara, dan Membiayai pembangunan seperti pembangunan gedung-gedung sekolah, Sarana Kesehatan (rumah sakit), sarana umum, pembangunan jalan raya, pertahanan dan keamanan negara, sarana penerangan, dll Sie Paj ak IPB 201 0

1. orang pribadi; 2. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak; 3. badan; dan 4. bentuk usaha tetap. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang telah memenuhi kewajiban subyektif (berdasarkan pada subyeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak) dan obyektif (berdasarkan pada obyeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak). KEWAJIBAN PAJAK SUBYEKTIF OP MULAI BERAKHIR Saat dilahirkan Saat meninggal Saat berada di Indonesia Saat meninggalkan atau bertempat tinggal di Indonesia untuk Indonesia selama-lamanya.

Cara Pemungutan Pajak Official Assesment (Penetapan oleh Pejabat Pajak) PBB Self Assesment (Dihitung oleh Wajib Pajak sendiri) PPh ps 21 Withholding (Pemotongan dan /atau Pemungutan) PPh ps 22/23

Pajak juga dapat dibedakan berdasarkan otoritas wilayah yang memungut pajak a. Pajak Daerah Pajak yang ditetapkan oleh masing-masing Daerah, berlaku hanya di Daerah di mana diterbitkannya Peraturan Perpajakan Daerah, dan digunakan untuk membiayai belanja masing-masing Daerah tersebut. Contohnya: Pajak Pembangunan I di DKI Jakarta, Pajak Reklame. b. Pajak Pusat Ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, dan berlaku bagi Wajib Pajak di Negara tersebut. Yang berlaku di Indonesia, misalnya: Pajak Penghasilan sebagaimana ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000.

Perpajakan yang Berlaku Pajak Penghasilan Pajak Pertambahan Nilai Pajak Bumi dan Bangunan Bea Materai

(SIE PAJAK/MELA/20010)

Pajak Penghasilan (PPh) Pajak yang dikenakan berkaitan dengan penghasilan yang diterima selama satu tahun pajak Subyek PPh: orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia

PAJAK PENGHASILAN A D A L A H PAJAK YANG DIKENAKAN TERHADAP SUBJEK PAJAK ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEHNYA DALAM TAHUN PAJAK

WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI BADAN 1 orang 1 keluarga dianggap sebagai satu kesatuan ekonomis sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha

Kewajiban NPWP = PPh UNDANG UNDANG USAHA / KEGIATAN PEK. BEBAS SUBJEK PAJAK WAJIB PAJAK NPWP Orang Pribadi Badan NON - USAHA NON - PEK. BEBAS OP > PTKP Ya

Tidak termasuk: Badan perwakilan negara asing Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat Organisasi internasional Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional

Obyek Pajak Penghasilan Penghasilan yaitu setiap kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan WP yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk: gaji, upah, tunjangan, honor, bonus, gratifikasi, hadiah, laba usaha, keuntungan, deviden, bunga, royalti, dll.

Sie Pajak IPB 2010

Tidak termasuk obyek pajak: Bantuan atau sumbangan zakat Harta hibahan dari keluarga sedarah Warisan Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal Imbalan dalam bentuk natura dan atau kenikmatan Pembayaran dari perusahaan asuransi Dll.

Pajak Penghasilan Pasal 21 Pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima atau diperoleh Pemotong PPh ps 21: 1. Pemberi kerja 2. Bendaharawan pemerintah 3. Dana pensiun, jamsostek, PT Taspen 4. Perusahaan, badan dan bentuk usaha tetap 5. Yayasan, lembaga, kepanitiaan, asosiasi

Penerima Penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 PEgawai tetap Tenaga lepas Penerima pensiun Penerima honorarium Penerima upah Tenaga ahli

Tarif dan Penerapannya Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif s/d Rp 50 juta 5% Diatas Rp 50 juta Rp 250 juta 15% Diatas Rp 250 juta Rp 500 juta 25% Diatas Rp 500 juta 30% Tarif Deviden 10% Tidak memiliki NPWP (Untuk PPh Pasal 21) 20% lebih tinggi dari yang seharusnya Tidak mempunyai NPWP untuk yang dipungut /potong(untuk PPh Pasal 23) 100% lebih tinggi dari yang seharusnya Pembayaran Fiskal untuk yang punya NPWP Gratis

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak (PKP): Pegawai tetap: Penghasilan bruto biaya jabatan (5% dari penghasilan atau maks Rp 6.000.000 per tahun) iuran pensiun iuran jaminan hari tua penghasilan tidak kena pajak (PTKP) Penerima pensiun: Penghasilan bruto biaya pensiun (5% dari bruto atau maks Rp 432.000 per tahun) PTKP Pegawai tidak tetap, pemagang, calon pegawai: Penghasilan bruto PTKP

Ketentuan lain Penerima honorarium: tarif x penghasilan bruto Tenaga ahli: 15% x perkiraan penghasilan neto (50% dari penghasilan bruto) Penerima upah harian: > 1/10 UMP or UMK s/d < UMP or UMK 5% dari penghasilan bruto 1/10 UMP/UMK > UMP/UMK 5% x (penghasilan bruto PTKP) Penerima pesangon dll: diatas Rp 25 jt 50 jt: 5% dr penghasilan bruto diatas Rp 50 jt 100 jt: 10% diatas Rp 100 jt 200 jt: 15% diatas Rp 200 jt: 25% Pejabat negara, PNS, anggota polri/tni yang menerima honorarium dipotong 15%, kecuali untuk PNS gol IId ke bawah, Peltu/Ajun Inspektur/Tk 1 ke bawah

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Keterangan Setahun Diri Wajib Pajak Orang Pribadi Rp. 15.840.000,- Tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin Rp. 1.320.000,- Tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami. Tambahan untuk setiap anggota keturunan sedarah semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang diatnggung sepenuhnya, maksimal 3 orang untuk setiap keluarga Rp. 15.840.000,- Rp. 1.320.000,-

Jenis SPT Tahunan ORANG PRIBADI BADAN 1770 S (sederhana) 1770 1771 WP yg menerima : ph hanya dari 1 pemberi kerja, dikenakan PPh Final, dikenakan PPh tersendiri, bukan Objek WP yg melakukan usaha / pekerjaan bebas WP Badan

WP OP YG MENGGUNAKAN 1770 S PENGHASILAN WP Sebagai Karyawan Hanya Pada Satu Pemberi Kerja (Badan / Orang Pribadi) 1 2 3 4 PEKERJAAN DARI SATU PEMBERI KERJA DIKENAKAN PPh FINAL DIKENAKAN PAJAK TERSENDIRI BUKAN OBJEK Bunga Deposito, Tabungan, Diskonto SBI Bunga/diskonto Obligasi di Bursa Efek Penjualan Saham di Bursa Efek Hadiah Undian Dll (akan disampaikan kemudian) Penghasilan Istri dari 1 pemberi kerja Penghasilan anak dari pekerjaan Bantuan/sumbangan/hibah Warisan Bagian laba anggota CV tidak atas saham, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi Klaim asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, beasiswa

Contoh Penghitungan PPh ps 21 Seorang WP kawin dan memiliki 3 orang anak. Ia seorang dokter dengan penghasilan bruto Rp 300.000.000 per tahun. Berapa pajak yang dibayar? Penghasilan bruto = 300.000.000 Perkiraan penghasilan neto = 150.000.000 Pajak PPh yang dibayarkan = 15% x 150.000.000 = 22.500.000

Contoh Penghitungan PPh ps 21 Seorang WP kawin dan memiliki 3 orang anak. Ia seorang PNS dengan penghasilan bruto Rp 200.000.000 per tahun. Iuran pensiun dan jaminan hari tua = 200.000 per bulan. Berapa pajak yang dibayar? Penghasilan bruto = 200.000.000 Perkiraan penghasilan neto = 200.000.000 6.000.000 12x200.000 (15.840.000 + 1.320.000 + 3x1.320.000) = 170.480.000 Pajak PPh yang dibayarkan = 5% x 50 jt + 15% x 120.480.000= 20.572.000

Latihan Bapak Budi, pegawai pada perusahaan PT XYZ, menikah tanpa anak, memperoleh gaji sebulan Rp. 4.000.000,00. PT XYZ mengikuti program Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing 0,50% dan 0,30% dari gaji. PT XYZ menanggung iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 3,70% dari gaji sedangkan Bapak Budi membayar iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji setiap bulan. Di samping itu PT XYZ juga mengikuti program pensiun untuk pegawainya. PT XYZ membayar iuran pensiun untuk Bapak Budi ke dana pensiun, yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, setiap bulan sebesar Rp. 140.000,00, sedangkan Bapak Budi membayar iuran pensiun sebesar Rp.100.000,00. Bagaimana perhitungan untuk mengetahui berapa besarnya pajak (penghasilan) yang harus dipotong PT XYZ untuk satu bulannya?

Jawab

Gaji sebulan 4.000.000 Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 20.000 Premi Jaminan Kematian 12.000 Jumlah Penghasilan Bruto 4.032.000 Pengurangan : 1. Biaya Jabatan 201.600 2. Iuran Pensiun 100.000 3. Iuran Jaminan Hari Tua 80.000 Jumlah Pengurangan 381.600 Penghasilan Neto Sebulan 3.650.400 Penghasilan Neto Setahun 43.804.800 PTKP - Diri WP Sendiri 15.840.000 - Status Kawin 1.320.000 Jumlah PTKP 17.160.000 Penghasilan Kena Pajak Setahun 26.644.800 Pembulatan 26.644.000 PPh Pasal 21 Setahun 5% x Rp26.644.000 1.332.200 PPh Pasal 21 Sebulan Rp1.332.200 / 12 111.017

Pajak Penghasilan Pasal 22 Pajak penghasilan yang dipungut oleh: 1.Bendaharawan pemerintah berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang 2.Badan-badan tertentu berkenaan dengan kegiatan bidang impor atau usaha di bidang lain

Pajak Penghasilan Pasal 23 Pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa atau hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh pasal 21 Contohnya: Deviden, bunga royalti: 15%

Pajak penghasilan atas hadiah dan penghargaan Hadiah undian: 25% Hadiah atau penghargaan perlombaan: PPh ps 21 (WPOP dalam negeri) PPh ps 26 (20%) untuk WP Luar Negeri Penghargaan atas prestasi Hadiah atas pekerjaan, jasa, dll

Pajak Pertambahan Nilai: dikenakan atas: Penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan pengusaha Impor barang kena pajak Penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan pengusaha Pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean atau Ekspor barang kena pajak oleh pengusaha kena pajak

Barang yang tidak dikenakan PPN Barang hasil pertambangan Barang kebutuhan pokok Makanan dan minuman yang disajikan di resto, hotel, dll. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga

Jasa yang tidak dikenakan PPN Jasa bidang pelayanan kesehatan medis Jasa bidang pelayanan sosial Jasa bidang pengiriman surat berperangko Jasa bidang perbankan, asuransi, sewa guna usaha Jasa bidang keagamaan Jasa bidang pendidikan Jasa bidang kesenian Jasa bidang penyiaran yang bukan bersifat komersial Jasa bidang angkutan umum Jasa bidang tenaga kerja Jasa bidang perhotelan Jasa yang disediakan oleh pemerintah

Tarif PPN dan PPN-BM Tarif PPN = 10% Tarif PPnBM = 10 200% Contoh: PKP A menjual tunai barang kena pajak kepada PKP B dengan harga jual Rp 25jt. PPN yang terhutang yang dipungut oleh PKP A adalah 10% x Rp 25 jt atau Rp 2.5 jt

Contoh lain PKP D mengimpor barang kena pajak X yang tergolong mewah dengan nilai impor Rp 50.000.000. Barang X tergolong mewah sehingga selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM dengan tarif 20%. Penghitungan pajaknya: 1. Dasar peghitungan pajak = 50 jt 2. PPN = 10% x 50 jt = 5 jt 3. PPnBM = 20% x 50 jt = 10 jt

Pajak Bumi dan Bangunan Pajak negara yang dikenakan terhadap bumi dan atau bangunan berdasarkan UU no 12 tahun 1985 tentang PBB sebagaimana telah diubah dengan UU no 12 tahun 1994 Obyek: 1. Bumi = permukaan bumi (tanah & perairan) dan tubuh bumi yang ada di pedalaman serta laut wilayah Indonesia 2. Bangunan = konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan Kecuali: a. Digunakan untuk kepentingan pelayanan umum b. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau sejenisnya c. Merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata dll d. Digunakan untuk perwakilan diplomatik e. Digunakan oleh badan dan perwakilan organisasi internasional

Dasar Pengenaan PBB Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), ditetapkan berdasarkan wilayah melalui Kepmen Keu dengan pertimbangan dari gubernur, dengan memperhatikan: - Harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli secara wajar - Perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis dan berdekatan, serta fungsinya sama dan telah diketahui harganya - Nilai perolehan baru - Penentuan NJOP pengganti

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) Batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak Besarnya berbeda menurut kab/kota setinggi-tingginya Rp 12 juta Wajib pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak-banyaknya satu kali dalam satu tahun pajak Tidak bisa digabung dengan obyek pajak lainnya

Dasar Penghitungan PBB Nilai jual kena pajak (NJKP): Obyek pajak perkebunan : 40% Obyek pajak kehutanan : 40% Obyek pajak pertambangan : 20% Obyek pajak pedesaan/pertanian: NJOP > Rp 1M : 40% NJOP < Rp 1M : 20% Tarif PBB : 0.5%

Artinya: Jika NJKP = 40% x (NJOP NJOPTKP), maka PBB = 0.5% x 40% x (NJOP NJOPTKP) 0.2% x (NJOP NJOPTKP) Jika NJKP = 20% x (NJOP NJOPTKP) maka PBB = 0.5% x 20% x (NJOP NJOPTKP) 0.1% x (NJOP NJOPTKP)

Contoh Obyek Perumahan: - Luas tanah: 1000 m2 dg nilai jual Rp 840.000/m2 (nilai jual tanah tersebut termasuk kelas A17 dengan nilai jual standar Rp 802.000/m2 - Luas bangunan: 400 m2 dengan nilai jual Rp 1 jt/m2 (masuk kelas A2 dengan harga standar Rp 968.000/m2)

Penghitungan PBB: NJOP bumi = 1000 m2 x Rp 802.000 = Rp 802.000.000 NJOP bangunan = 400 m2 x Rp 968.000 = Rp 387.200.000 NJOP total = Rp. 1.189.200.000 NJOPTKP = Rp 12.000.000 NJOP untuk penghitungan = Rp 1.177.200.000 NJKP = 40% x Rp 1.177.200.000 = Rp 470.880.000 PBB terhutang = 0.5% x Rp 470.880.000 = Rp 2.354.400

END