PERATURAN DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA NOMOR i 195 /DIRJEN/2011 TENTANG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I KETENTUAN UMUM Definisi

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT TELEKOMUNIKASI VIDEO CONFERENCE

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT INTERNET PROTOCOL MULTIPLEXER. Ruang lingkup persyaratan teknis perangkat IP Multiplexer meliputi:

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06 /PER/M.KOMINFO/ 02 /2012 TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT ENCODER INTERNET PROTOCOL TELEVISION

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

, 02l , 021, 38358/4. PERATURAN DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA NOMOR ' r'lt /DIRJEN/2011 TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT SET TOP BOX INTERNET PROTOCOL TELEVISION

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2013 T E N T A N G

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA T E N T A N G PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT INTERNET PROTOCOL SET TOP BOX

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2012 TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT ETHERNET FIRST MILE (EFM) Ruang lingkup persyaratan teknis perangkat Ethernet First Mile (EFM) meliputi :

Ruang lingkup Persyaratan Teknis Perangkat Integrated Receiver/Decoder meliputi:

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2013 T E N T A N G

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI MEDIA RESOURCE FUNCTION

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2012

Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 107, Tambahan

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA TENTANG

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA DIREKToRAT JENDERA su,rnerr DAvA DAN PERANGKAT Pos DAN INFORMATIKA

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI '7?u'r4/e2'7/la47-a.aa/ot?"r.fo+'r-*z;?

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 268 / DIRJEN / 2005 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 267 / DIRJEN / 2005 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TROPOSCATTER

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG

39Bo); KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA DIREKToRAT JENDERAL SUMBER onil DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: TAHUN 2012

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SESSION BORDER CONTROLLER

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR: 96/DIRJEN/2008 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI CALL SESSION CONTROL FUNCTION

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TAHUN 2012

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT ROUTER

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT NEXT GENERATION - SYNCHRONOUS DIGITAL HIERARCHY

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT ROUTER

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881);

BERITA NEGARA. No.1161, 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. Alat dan Perangkat Penerima. TV Digital. Persyaratan Teknis.

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT PERANGKAT

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11 /PER/M.KOMINFO/ 04 /2012 TENTANG

PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT TELEKOMUNIKASI COARSE-WAVELENGTH DIGITAL MULTIPLEXER

BAB I KETENTUAN UMUM Definisi

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 264 / DIRJEN / 2005 TENTANG

DIKTAT MATA KULIAH KOMUNIKASI DATA BAB VI OPEN SYSTEM INTERCONNECTION (OSI)

TENTANG. telekomunikasi harus berdasarkan persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal;

CEG4B3. Randy E. Saputra, ST. MT.

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

adalah sebuah aturan atau standar yang mengatur hubungan, komunikasi, dan perpindahan data antara dua atau lebih titik komputer dalam Komunikasi Data

TENTANG. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881);

BAB II DASAR TEORI. Protokol adalah seperangkat aturan yang mengatur pembangunan koneksi

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 193 /DIRJEN/2005 T E N T A N G

BUKU PETUNJUK MC909 MODEM CLUSTER VER: 1.242

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2012 TENTANG

Protokol adalah sebuah aturan atau standar yang mengatur atau mengijinkan terjadinya hubungan, komunikasi, dan perpindahan data antara dua atau lebih


PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT TELEKOMUNIKASI DENSE-WAVELENGTH DIGITAL MULTIPLEXER

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA,

Pada gambar 2.1, terdapat Customer Premises Equipment (CPE) adalah peralatan telepon atau penyedia layanan lain yang terletak di sisi user.

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

MODEL OSI DAN DOD. Referensi Model OSI (Open System Interconnections).

TUGAS AKHIR PERHITUNGAN DAN ANALISA. BANDWIDTH VoIP O L E H WISAN JAYA

BAB I PENDAHULUAN. teknologi internet, user komputer mulai menggunakan surat elektronik atau

TUGAS JARKOM. *OSI Layer dan TCP/IP* A. OSI layer

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA,

7.1 Karakterisasi Trafik IP

QoS & PROTOKOL JARINGAN MULTIMEDIA

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

Overview. Tujuan. Pengantar. Pengantar 12/10/2016. Pertemuan ke 10

DRAFT PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR :.. TAHUN.. TENTANG PENGAMANAN PEMANFAATAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI BERBASIS PROTOKOL INTERNET

BAB II JARINGAN LOCAL AREA NETWORK (LAN) Jaringan komputer merupakan sekumpulan komputer yang berjumlah

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG

IP Address. Dedi Hermanto

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 169 /DIRJEN/2002 T E N T A N G

Mengenal ragam dan model kabel audio video

Bab III Prinsip Komunikasi Data

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. Pelaksanaan. Post Market Surveillance. Tata cara. PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Transkripsi:

6KOMINFO KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAyA DAN ie nencrat pos DAN INFoRMAT.KA m.-" r*ir* m *t 7a. al "f?r"/. r,r* *yi?* olo r,. oyi a, Jl. Medon Merdeko BorolNo. l/ JAKARTA 10110 Tel 0213B35Bt5 Fox. 02 j 3835845 uuv-porfelsa.rd Ser'liiikosi Perongkot : Tel. 02 r 3835840, 02t 3835846, 02 I,3835874 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA NOMOR i 195 /DIRJEN/2011 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT VIDEO CONFERENCE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA Menimbang,.4 Mengingat bahwa sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Komunikasi dan lnformatika Nomor 29/PER/M.KOMlNFO10912008 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Telekomunikasi, setiap alat dan perangkat telekomunikasi yang dibuat, dirakit, dimasukkan untuk diperdagangkan dan/atau digunakan di wilayah Negara Republik Indonesia wajib memenuhi persyaratan teknis; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu ditetapkan Peraturan Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika tentang Persyaratan Teknis Perangkat Video Conference. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor:154, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor: 3881); Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2000 Nomor: 107, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. 3980); Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi Kementerian Negara; Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;

10 Petikan Keputusan Presiden Republik lndonesia Nomor 94/M Tahun 2011 tentang Pengangkatan Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika; Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 3 Tahun 2001 tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi; Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 03/PM.Kominfo/5/2005 tentang Penyesuaian Kata Sebutan Pada Beberapa Keputusan/Peraturan Menteri Perhubungan yang Mengatur Materi Muatan Khusus di Bidang Pos dan Telekomunikasi; Peraturan Menteri Komunikasi dan lnformatika Nomor 29lPER/M.KOMINF0/09/2008 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Telekomunikasi; Peraturan Menteri Komunikasi dan lnformatika Nomor 17lPER/M.KOMlNFOl1012010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Komunikasi dan Informatika; Peraturan Menteri Komunikasi dan informatika Nomor : 15/PER/M.KOMlNFO10612011 tentang Penyesuaian Kata Sebutan Pada beberapa KeputusanlPeraturan Menteri Komunikasi dan Informatika yang Mengatur Materi Muatan Khusus di Bidang Pos dan Telekomunikasi dan Keputusan/Peraturan Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi. MEMUTUSKAN: Menetapkan PERATURAN DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGK AT VIDEO CONFERENCE. Pasal 1 Perangkat Video Conference wajib memenuhi persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini. Pasal 2 Pelaksanaan pengujian perangkat Video Conference wajib memenuhi parameter persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.

Pasal 3 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkandi :JAKARTA Pada tanggal: JO SeP+"enber 2011 DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA, Salinan Peraturan inidisampaikan kepada Yth : 1. Menteri Komunikasi dan Informatika; 2. Para Direktur di Lingkungan Ditjen SDPPI; 3. Balai Uji Perangkat Telekomunikasi.,.^T\W(. / tatl t-/ t -/ ll-4 \.a 1-r> \./'/ \-_-/ MUHAMMAD BUDI SETIAWAN

Lampiran Nomor Tanggal Peraturan Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika 195lnmJui /zott JO Septerber 2011 PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT VIDEO CONFERENCE Ruang lingkupersyaratan teknis perangkat video conference meliputi : BAB : Ketentuan Umum (definisi, konfigurasi, singkatan, dan istilah) BAB ll : Persyaratan Teknis (persyaratan bahan baku dan konstruksi, persyaratan operasi, persyaratan keselamatan listrik dan kesehatan dan EMC, persyaratan fungsi, Persyaratan Manajemen) BAB lll : Kelengkapan Perangkat (identitas alat dan perangkat dan petunjuk pengoperasian alat dan perangkat) BAB lv : Pengujian (pelaksanaan pengujian, cara pengambilan contoh uji, dan metode uji) ',. BAB I KETENTUAN UMUM Definisi Perangkat Video Conference adalah perangkateknologi telekomunikasi interaktif yang memungkinkan dua pihak atau lebih di lokasi berbeda dapat berinteraksi melalui pengiriman dua arah audio dan video secara bersamaan, serta salah satu pihak dapat melakukan presentasi dan dapat dilihat oleh masing-masing pihak, begitupun sebaliknya. 2. Konfigurasi lfn @ H.324lPOTS ry'\ri H.323lStP MCU I '' [d _ry H.323 Soft Client "sh.320 Endpoint Gambar 1. Konfigurasi Video Conference

3. Singkatan Ac : alternating current AAC '. Advanced Audio Coding BFCP. Binary Floor Control Protocol/Background Field Color Precentage BNC '. Bayonet Neill-Concelman connector Bps : bit per second C : Celcius CD : Compact Disc CISPR '. Commitee lnternationalspecial des Pertubation DHCP '. Radioelectriques Dynamic Host Configuration Protocol db : Decibel Dc '. Direct current DVI : Digital VisualNideo lnterface ED : Enhanced Standard Definition fps. Frame per second GUI : Graphical User lnterface HD '. High Definition HDMI '. High Definition Multimedia lnterface HTTP : Hypertext Transfer Protocol HTTPs : Hypertext Transfer Protocol security Hz '. Hertz IEC : lnternational Electrotechnical Commision lp : lnternet Protocol ISDN '. lntegrated Seruices Digital Network M : Mega MCU '. Multipoint Control Unit MPEG. Moving Picture Experts Groups PAL : Phase Alternating Line PRI '. Primary Rate PfZ : Pan Tilt Zoom QoS : Quality of Seruice RCA : Radio Coorporation of America RJ : Reglster Jack RS. Recommended Standard RSVP : Resources Reservation Protocol S : Secure SIP : Session lnitiation Protocol SD : Sfandard definition SDI : Serial Digitalntefface SNMP. Simple Network Management Protocol TLS : Transport Layer Security T : Terrestrial TCP '. Transmission Control Protocol XLR '. External Line Return V : Volt VGA : Video Graphic Array

4. lstilah Audio Automatic Gain Control Automatic Noise Suppression Echo Cancellation Encryption End Point lnternet Protocol (tp) Multipoint Control Unit (MCU) Video suara dalam kisaran akustik batas pendengaran manusia, Bagian atau blok dari suatu penguat audio yang memiliki fungsi mengatur tingkat penguatan audio secira 6tomatis: : Metode untuk mengurangi suara yang tidak diinginkan; sumber gelombang interferensi yang direfleksikan dengan gelombang baru yang diciptakan oleh sumber. Proses untuk mengubah sebuah pesan (informasi) sehingga tidak dapat dilihat tanpa menggunakan kunci pembuka. Perangkat yang berada di sisi pengguna video conference dan berfungsi untuk mengambil informasi data dan suara dari masing-masing pengguna dan mengirimkan ke terminal video conference lainnya. Paket data dan skema pengalamatan yang memungkinkan pengguna untuk mengarahkan paket data menurut alamat yang dimilikinya dalam suatu sistem jaringan meskipun antara alamat pengirim dan penerima/tujuan tidak terdapat koneksi link secara langsung. Perangkat yang berfungsi sebagai pengendali konferensi yang melibatkan banyak pengguna dan banyak sesi konferensi : Gambar bergerak yang ditayangkan secara elektronik BAB II PERSYARATAN TEKNIS 1. Persyaratan Bahan Baku dan Konstruksi Persyaratan bahan baku dan konstruksi perangkat Video Conference harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a. perangkat terbuat dari bahan yang kuat dan kokoh sesuai dengan iklim tropis; b. komponen perangkaterbuat dari bahan berkualitas tinggi, anti korosi, dan anti kondensasi; c. bagian-bagian perangkat yang bersifat modutar harus disusun dengan baik dan rapi; d. harus dilengkapi dengan terminal-terminal pengukuran dan pemeliharaan; e. Konektor antarmuka perangkat sekurang-kurangnya salah satu : 1) End Point : a) Tipe konektor lnput: (1) Audio : (a) RCA, atau; (b) HDM ; (c) Jack mini; (d) XLR; atau (e) RJ 11.

(2) Video: (a) VGA; (b) DVr; (c) RCA; (d) HDMI; atau (e) Composite. b) Tipe konektor Output. (1)Audio: (a) RCA, atau; (b) HDM!. (2) Video: (a) VGA; (b) DVr; (c) RCA; (d) HDM ; (e) Composite; atau (f; S Video. 2) MCU : Tipe konektor Input dan output : RJ-45; f. harus dilengkapi dengan sistem pendingin pasif atau aktif. 2. Persyaratan Operasi 2.1. End Point a. Catu daya Jika menggunakan power supply perangkat harus bekerja baik dengan kondisi tegangan arus bolak-balik : 220 Vac! 10Vo,50 Hz! 60/o. b. Video 1) Signal system Mendukung PAL 2) Standard dan Protokol Mendukung sekurang-kurangnya salah satu Rekomendasi ITU-T: H.261, H.263, H.263+,H.263++, H.264 3) Frame rate Sekurang-kurangnya 10 fps; 4) Bandwidth a) Point to point: minimal dengan 4Mbps; b) ISDN-PRI : sampai dengan 2Mbps. c. Audio 1) Standard dan Protokol Mendukung sekurang-kurangnya salah satu Rekomendasi ITU-T : G.711, G.722, G.723, G.729, G.729 2) Fitur Audio Kualitas CD, sekurang-kurangnya salah satu. a) Echo Cancellation b) Automatic Gain Control (AGC) c) Automatic Noise Suppression (ANS)

d. Data Mendukung sekurang-kurangnya salah satu : 1) Rec. ITU-TT.120 2) Rec. ITU-T H.239 pada H.323 3) BFCP pada SIP e. Network 1) Mendukung fitur sekurang-kurangnya salah satu : a) QoS; b) RSVP Standards; c) Packet Loss based down speeding; d) TCP/IP; e) DHCP; 0 Auto Gatekeeper discovery', g) Dynamic payouu lip-synch buffering; h) Dual Tone Multi Frequency signaling; i) Waktu dan Tanggal. 2) Protokol Jaringan Mendukung Rec. ITU-T H.323 dan SlP. f. Security 1) Enkripsi : Rec. ITU-T H.233,H.234 atau H.235; 2) Mempunyai Password untuk konfigurasi. g. Kamera Mendukung PTZ. 2.2. Multipoint Control Unit a. Catu daya Perangkat harus bekerja baik dengan kondisi : 1) tegangan arus bolak-balik.220yac+ 10o/o,50 Hz!60/o dan atau 2) tegangan arus searah. 48Vdc t 10%. b. Video Mendukung sekurang-kurangnya salah satu Rec. ITU-T: H.261, H.263, H.263+,H.263++, H.264. c. Audio Mendukung sekurang-kurangnya salah satu Rec. ITU-T : G.711, G,722, G.723, G.728, G.729, MPEG-4 AAC-LC / MPEG-4 AAC- LD. d. Network Mendukung sekurang-kurangnya salah satu 1) Auto Rec. ITU-T H.320 H.323; 2) Down-speeding; 3) Maximum call length timer. e. Security a) lp Administration Password; b) Menu Administration Password; c) Dialing Access code; d) Sfreaming password; t. Enskripsi (AES & DES) on Rec. ITU-T H.320 and H.323 point-to-point and multipoint calls.

2.3. Kondisi Lingkungan : a. perangkat harus beroperasi normal pada suhu: 0o - 40' C. b. perangkat harus beroperasi normal pada kelembaban: 5o/o - 95o/o anti kondensasi; c. total noise suara yang dikeluarkan oleh perangkat maksimum 45 db. 2.4. Indikator: mempunyai indikator yang dapat mendeteksi terjadinya: a. gangguan pada unit power supply; b. indikator untuk aktifitas maupun gangguan tiap-tiap antarmuka. 3. Persyaratan Keselamatan Listrik, Kesehatan dan EMC Perangkat Video Conference harus memenuhi : a. Persyaratan keselamatan listrik sesuai Standar Internasional IEC 60950-1 atau standar internasional yang setara; b. Persyaratan Kesehatan sesuai Standar Internasional IEEE Std C95.1, 2005 atau standar internasional yang setara; c. Persyaratan Electromagnetic Compatibility sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang EMC dan/atau sesuai standar EMC internasional yang setara. 4. Persyaratan Fungsi Perangkat video conference harus menyediakan fungsi-fungsi berikut : a. MCU: 1) Melakukan panggilan video, 2) Melakukan pengaturan tampilan video ke masing-masing terminal video conference; 3) Mengontrol konferensi 3 atau lebih terminal video conference. b. Endpoint ( terminal video conference ) : 1) Pengambilan informasi data dan suara dari masing-masing pengguna dan mengirimkannya ke terminal video conference yang lain, 2) Melakukan originating dan accepting call. c. Mampu melakukan decompression untuk setiap jenis format berikut: 1) Video : MPEG-2 dan/atau MPEG 4/ Rec. ITU-T H.264; 2) Audio '. Dolby Digital(AC3) dan MPEG layer ll', 5. PersyaratanManajemen Perangkat Video Conference harus dapat. a. dikonfigurasi, paling sedikit melalui salah satu jenis antarmuka management yang tersedia dengan metode. 1) serial console untuk tipe antarmuka management RS-232 dan atau; 2) webgul(http/https) untuk tipe antarmuka management Ethernet; b. dimonitor, melalui antarmuka Ethernet menggunakan protokol SNMP atau protokol sejenis. c. Dikendalikan dengan Remote controldan on-screen sistem menu.

BAB III KELENGKAPAN PERANGKAT Perangkat video conference yang akan diuji harus dilengkapi dengan : '1. ldentitas perangkat Memuat merk, typelmodel, negara pembuat, dan nomor seri; 2. Petunjukpengoperasianperangkat Dalam Bahasa Indonesia dan/atau Bahasa Inggris. BAB IV PENGUJIAN 1. 2. 3. Pelaksana Pengujian Pengujian perangkat Video Conference dilaksanakan oleh Balai Uji yang telah memiliki akreditasi dari lembaga yang berwenang dan ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika. Cara Pengambilan Contoh Uji Pengambilan contoh benda uji dilakukan secara acak (random) menurut prosedur uji berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Metode Uji Metode uji yang digunakan sesuai dengan Standard Operating Procedure masing-masing Balai Uji. DIREKTUR JENDERAL SUMBER DAYA DAN PERANGKAT POS DAN INFORMATIKA MUHAMMAD BUDI SETIAWAN