Nevada J. M. Nanulaitta *), Alexander. A. Patty **) Abstrak

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISA NILAI KEKERASAN BAJA S-35 C DALAM PROSES KARBURASI PADAT MEMANFAATKAN TULANG SAPI SEBAGAI KATALISATOR DENGAN VARIASI WAKTU PENAHANAN

Nevada J.M. Nanulaitta Dosen Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Ambon

Nevada J. M. Nanulaitta, *) Eka. R. M. A. P. Lillipaly **) Abstract

UNIVERSITAS MERCU BUANA

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2014 sampai Juni 2015di

PENGARUH KARBURISASI PADAT DENGAN KATALISATOR CANGKANG KERANG DARAH (CaCO2) TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN KEASUHAN BAJA St 37

Katalisator Cangkang Keong Mas Terhadap Sifat Mekanik Baja ST42 Melalui Proses Kaburasi

Machine; Jurnal Teknik Mesin Vol. 2 No. 2, Juli 2016 ISSN :

Jurnal Teknik Mesin, Volume 6, Nomor 1, Tahun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Penambahan karbon yang disebut carburizing atau karburasi, dilakukan dengan

PENGARUH BAHAN ENERGIZER PADA PROSES PACK CARBURIZING TERHADAP KEKERASAN CANGKUL PRODUKSI PENGRAJIN PANDE BESI

ANALISA PENGARUH WAKTU PENAHANAN TERHADAP NILAI KEKERASAN BAJA AISI 1050 DENGAN METODE PACK CARBURIZING

ANALISA KERAGAMAN NILAI KEKERASAN BAJA ST-42 MELALUI PROSES KARBURASI MENGGUNAKAN KOMPOSISI BaCO 3 dan CARBON DENGAN VARIASI WAKTU PENAHANAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH WAKTU PENAHANAN TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PADA PROSES PENGKARBONAN PADAT BAJA MILD STEEL

Gambar 3.1 Diagram alur Penelitian

ARANG KAYU JATI DAN ARANG CANGKANG KELAPA DENGAN AUSTEMPERING

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Heat Treatment Pada Logam. Posted on 13 Januari 2013 by Andar Kusuma. Proses Perlakuan Panas Pada Baja

PENGARUH MEDIA PENDINGIN PADA PROSES HARDENING MATERIAL BAJA S45C

ANALISIS PENGERASAN PERMUKAAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 1045 MELALUI PROSES NITRIDASI MENGGUNAKAN MEDIA UREA

PENGARUH WAKTU PENAHANAN PANAS (TIME HOLDING) PADA PROSES TEMPERING TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KEKERASAN BAJA KARBON MENENGAH

PENGARUH WAKTU TAHAN PROSES PACK CARBURIZING

PENGARUH TEMPERATUR DAN HOLDING TIME DENGAN PENDINGIN YAMACOOLANT TERHADAP BAJA ASSAB 760

PENGARUH MANUAL FLAME HARDENING TERHADAP KEKERASAN HASIL TEMPA BAJA PEGAS

ANALISA KEKERASAN PADA PISAU BERBAHAN BAJA KARBON MENENGAH HASIL PROSES HARDENING DENGAN MEDIA PENDINGIN YANG BERBEDA

ANALISA SIFAT MEKANIK PERMUKAAN BAJA ST 37 DENGAN PROSES PACK CARBURIZING, MENGGUNAKAN ARANG KELAPA SAWIT SEBAGAI MEDIA KARBON PADAT

Oleh : Hafni. Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Padang. Abstrak

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2013 sampai dengan selesai.

TEKNOLOGI. Jurnal Ilmu - Ilmu Teknik dan Sains Volume 11 No.1 April Penanggung Jawab. Dekan Fakultas Teknik Universitas Pattimura.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Penambahan Barium Karbonat Pada Media Karburasi Terhadap Karakteristik Kekerasan Lapisan Karburasi Baja Karbon Rendah

ANALISA PENGGUNAAN TEMPURUNG KELAPA UNTUK MENINGKATKAN KEKERASAN BAHAN PISAU TIMBANGAN MEJA DENGAN PROSES PACK CARBURIZING

Vol.16 No.1. Februari 2014 Jurnal Momentum ISSN : X

PENGARUH TEMPERATUR CARBURIZING PADA PROSES PACK CARBURIZING TERHADAP SIFAT SIFAT MEKANIS BAJA S 21 C

ANALISA PENGARUH VARIASI KATALIS BaCO3, NaCO3 dan CaCO3 PADA PROSES KARBURASI BAJA KARBON SEDANG DENGAN PENDINGINAN TUNGGAL

I. PENDAHULUAN. Definisi baja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu benda

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahan logam pada jenis besi adalah material yang sering digunakan dalam

ANALISIS PENGARUH WAKTU PERLAKUKAN PANAS TERHADAP NILAI KEKERASAN KARBURASI BAJA KARBON RENDAH

Gambar 4. Pemodelan terjadinya proses difusi: (a) Secara Interstisi, (b) Secara Substitusi (Budinski dan Budinski, 1999: 303).

Pengaruh Variasi Media Karburasi Terhadap Kekerasan Dan Kedalaman Difusi Karbon Pada Baja ST 42

BAB I PENDAHULUAN. pisau egrek masalah yang sering dijumpai yaitu umur yang singkat yang. mengakibatkan cepat patah dan mata pisau yang cepat habis.

ANALISIS PROSES TEMPERING PADA BAJA DENGAN KANDUNGAN KARBON 0,46% HASILSPRAY QUENCH

PENGARUH PERBANDINGAN GAS NITROGEN DAN LPG PADA PROSES NITROKARBURISING DALAM REAKTOR FLUIDIZED BED TERHADAP SIFAT MEKANIS BAJA KARBON RENDAH

PENGARUH PROSES HARDENING PADA BAJA HQ 7 AISI 4140 DENGAN MEDIA OLI DAN AIR TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

PENGARUH MULTIPLE QUECHING TERHADAP PERUBAHAN KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA ASSAB 760

Proses Annealing terdiri dari beberapa tipe yang diterapkan untuk mencapai sifat-sifat tertentu sebagai berikut :

ANALISA QUENCHING PADA BAJA KARBON RENDAH DENGAN MEDIA SOLAR

PENGARUH VARIASI SUHU POST WELD HEAT TREATMENT ANNEALING

BAB III METODE PENELITIAN

UJI KEKERASAN BAJA KONSTRUKSI ST-42 PADA PROSES HEAT TREATMENT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROSES PENGERASAN (HARDENNING)

VARIASI TEMPERATUR PEMANASAN PADA PROSES PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKERASAN DENGAN MATERIAL SS 304L

SIFAT FISIS DAN MEKANIS BAJA KARBONISASI DENGAN BAHAN ARANG KAYU BK

APLIKASI SERBUK ARANG TONGKOL JAGUNG DAN SERBUK CANGKANG KERANG MUTIARA SEBAGAI MEDIA CARBURIZER PROSES PACK CARBURIZING BAJA KARBON RENDAH

PENGERASAN PERMUKAAN BAJA ST 40 DENGAN METODE CARBURIZING PLASMA LUCUTAN PIJAR

STUDI PEMBUATAN BESI COR MAMPU TEMPA UNTUK PRODUK SAMBUNGAN PIPA

Melalui sedikit kelebihan gas dalam api dapat dicegah terjadinya suatu penyerapan arang (jika memang dikehendaki) dicapai sedikit penambahan

ANALISIS PENGARUH MEDIA PACK CARBURIZING TERHADAP KEAUSAN DAN KEKERASAN SPROKET SEPEDA MOTOR. Sigit Gunawan 1 dan Sigit Budi Harton 2

II. TINJAUAN PUSTAKA. karbon sebagai salah satu dasar campurannya. Disamping itu baja juga

ANALISA PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA KARBON RENDAH (ST41) DENGAN METODE PACK CARBIRIZING

BAB IV PEMBAHASAN Data Pengujian Pengujian Kekerasan.

MATERIAL TEKNIK DIAGRAM FASE

PENGARUH TEMPERING PADA BAJA St 37 YANG MENGALAMI KARBURASI DENGAN BAHAN PADAT TERHADAP SIFAT MEKANIS DAN STRUKTUR MIKRO

PENELITIAN SIFAT FISIS DAN MEKANIS BAJA KARBON RENDAH AKIBAT PENGARUH PROSES PENGARBONAN DARI ARANG KAYU JATI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

HEAT TREATMENT. Pembentukan struktur martensit terjadi melalui proses pendinginan cepat (quench) dari fasa austenit (struktur FCC Face Centered Cubic)

PENGARUH MEDIA KAPUR PADA PROSES TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIK POROS S45C

PENGARUH PERLAKUAN TEMPERING TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN IMPAK BAJA JIS G 4051 S15C SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI. Purnomo *)

Pengaruh Unsur-unsur Paduan Pada Proses Temper:

EFEK PERSENTASE BARIUM KARBONAT DENGAN ARANG TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KEKERASAN BAJA KARBON AISI 2015

MODUL 9 PROSES PERLAKUAN PANAS (HEAT TREATMENT)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penguatan yang berdampak terhadap peningkatan sifat mekanik dapat

PENELITIAN SIFAT FISIS DAN MEKANIS BAJA KARBONISASI ARANG KAYU SENGON NASKAH PUBLIKASI

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS PENINGKATKAN KUALITAS SPROKET SEPEDA MOTOR BUATAN LOKAL DENGAN METODE KARBURASI

Diajukan Sebagai Syarat Menempuh Tugas Akhir. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah. Surakarta. Disusun Oleh : WIDI SURYANA

Analisa Deformasi Material 100MnCrW4 (Amutit S) Pada Dimensi Dan Media Quenching Yang Berbeda. Muhammad Subhan

SIFAT FISIS DAN MEKANIK BAJA KARBONISASI DENGAN BAHAN ARANG KAYU JATI

PENINGKATAN KEKAKUAN PEGAS DAUN DENGAN CARA QUENCHING

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN: X

ANALISA SIFAT FISIS DAN MEKANIK BAJA KARBURISING DENGAN BAHAN ARANG TEMPURUNG KELAPA

METODE PENINGKATAN TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN PADA BAJA KARBON RENDAH MELALUI BAJA FASA GANDA

PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU PROSES NITRIDASI TERHADAP KEKERASAN PERMUKAAN FCD 700 DENGAN MEDIA NITRIDASI UREA

PENGARUH HOLDING TIME TERHADAP SIFAT KEKERASAN DENGAN REFINING THE CORE PADA PROSES CARBURIZING MATERIAL BAJA KARBON RENDAH. Darmanto * ) Abstrak

PENINGKATAN KEKERASAN DENGAN METODA KARBURISASI PADA BAJA KARBON RENDAH (MEDAN) DENGAN MEDIA KOKAS

PENGARUH KEKUATAN PENGELASAN PADA BAJA KARBON AKIBAT QUENCHING

PEMBUATAN STRUKTUR DUAL PHASE BAJA AISI 3120H DARI BESI LATERIT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Meningkatkan Efektifitas Karburisasi Padat pada Baja Karbon Rendah dengan Optimasi Ukuran Serbuk Arang Tempurung Kelapa

ANALISA PROSES SPRAY QUENCHING PADA PLAT BAJA KARBON SEDANG

07: DIAGRAM BESI BESI KARBIDA

SIFAT FISIS DAN MEKANIK BAJA KARBONISASI DENGAN BAHAN ARANG KAYU JATI NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Analisa Struktur Mikro Dan Kekerasan Baja S45C ANALISA STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BAJA S45C PADA PROSES QUENCH-TEMPER DENGAN MEDIA PENDINGIN AIR

Transkripsi:

ANALISA NILAI KEKERASAN BAJA KARBON RENDAH (S35C) DENGAN PENGARUH WAKTU PENAHANAN (HOLDING TIME) MELALUI PROSES PENGARBONAN PADAT (PACK CARBURIZING) DENGAN PEMANFAATAN CANGKANG KERANG SEBAGAI KATALISATOR Nevada J. M. Nanulaitta *), Alexander. A. Patty **) Abstrak S35C steel, which is steel with carbon content of 0.30 to 0.35% carbon, including in the category of steel with low carbon content. In raising the value of mechanical steel (hardness), could be solved with malakukan heat treatment process in this case solid carburizing method (pack carburizing), This is done in this study. The results obtained after the research process using a mixture ratio of 60% carbon (wood charcoal nani) and 40% catalyst used in this case Clamshell (CaCO3) from 1 kg of carburizing medium, with a hold time 15 minutes, 30 minutes and 45 minutes. Where increasing the value of hardness to 15 minutes of 6.6 HRC, 30 minutes 14.33 45 minutes 28.62 HRC and HRC. Detention time of 45 minutes has increased hardness value is high enough, this proves that the longer the detention time would increase the value of local media violence and the use of shells as a catalyst in a solid carburizing process. Keyword : Hardness number, pack carburizing, Clamshell. I. PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, sangat mempengaruhi kehidupan manusia yang merasakan secara langsung dampak pengembangannya di berbagai bidang. Apabila di perhatikan secara baik, segala kebutuhan manusia tidak terlepas dari unsur logam, sebagai salah satu bahan dasar yang dapat dirangkaikan menjadi sebuah produk jadi, melalui proses kerja yang berlangsung secara kontinyu. Pada pusat-pusat industri seperti otomotif sampai industri tradisional yang terdapat di daerah-daerah, juga menggunakan peralatan yang terbuat dari logam. Oleh sebab itu, timbul kreasi dan inovasi dari manusia sebagai pelaku industri untuk dapat memperbaiki sifat-sifat fisik dan mekanik dari logam tersebut. Proses perlakuan panas pada logam sangatlah bermanfaat untuk mendapatkan logam yang berkualitas dan memiliki sifat-sifat fisik meliputi konduktivitas listrik, struktur mikro, densitas dan sifat mekanik yang lebih baik terutama dalam hal kekerasan, kekenyalan dan pengerjaan dari sifat asal. Produksi logam sebagian besar adalah baja. Baja adalah logam besi yang banyak digunakan baik dalam dunia industri-industri, kebutuhan rumah tangga (seperti parang, linggis, pisau dan lainnya) atau bidang kerja lain. Dalam bidang perbengkelan sebagian besar peralatannya terbuat dari baja misalnya mata pahat bubut, bor dan lainnya yang dalam penggunaan sehari-hari juga dapat mengalami penumpulan (keausan) atau kerusakan akibat bersentuhan dengan benda keras. Untuk mendapatkan baja dengan nilai kekerasan tertentu agaklah sulit, kalaupun ada harganya cukup mahal. Oleh karena itu perlu adanya terobosan untuk mencari alternatif lain untuk mengubah nilai kekerasan baja yang tersedia khususnya baja karbon rendah. Untuk mengubah nilai kekerasan dari baja karbon rendah diperlukan beberapa proses pengerjaan logam salah satu diantaranya melalui proses penambahan karbon dari baja tersebut atau yang sering disebut karburising. Baja dengan kadar karbon rendah (dibawah 0,3%C), dapat dikarbonkan, khusus untuk baja S-35C dengan 0,20% s/d 0,35% C yang memiliki sifat kurang baik untuk disepuh namun dapat disementir. Salah satu proses perlakuan panas logam adalah proses karburasi (carburizing) yang bertujuan meningkatkan ketahanan aus dan ketahanan terhadap pembebanan yang tiba-tiba dan karakteristik fatiq dengan cara menambah kekerasan permukaan logam. Biasanya untuk proses karburising digunakan karbon (arang kayu nani) di campur dengan barium carbonat sebagai media pengarbonan padat melalui *) Nevada Nanulaitta: Dosen Jurusan Mesin Politeknik Negeri Ambon **) Alexander Patty; Dosen Jurusan Mesin Pollitekni Negeri Ambon

928 Jurnal TEKNOLOGI, Volume 8 Nomor 2, 2011; 927-935 proses pemanasan. Tetapi dengan pemanfaatan sumber daya alam local, Barium Carbonat (BaCOз) dapat diganti dengan Cangkang Kerang dengan kadar kalsium karbonat (CaCOз) dengan presentasi ±45 %. Dengan demikian maksud dari proses karburising ini agar baja karbon rendah tersebut mampu menyerap karbon (pengarbonan) pada lingkungan yang mampu menyerahkan karbon padanya supaya dapat meningkatkan nilai kekerasan (sifat-sifat mekanis) dari baja tersebut. Pada proses perlakuan panas ini material yang dipergunakan plat baja S-35C, dengan bahan yang dipakai berupa bubuk Carbon dengan komposisi 60% dan Cangkang Kerang (CaCOз) 40% sebagai energizer yang mempercepat proses karburasi dengan waktu penahanan adalah 15 menit, 30 menit, dan 45 menit dengan media pendingin berupa oli SAE 20-50. II. TINJAUAN PUSTAKA Baja adalah paduan yang terdiri dari unsur utama besi (F e ) dan karbon (C), serta unsurunsur lain seperti mangan (Mn), silikon (Si), dan nikel (Ni), vanadium (V), molybdenum (Mo) dan lain sebagainya dalam presentasi yang kecil. Berdasarkan kandungan karbon, maka baja dibedakan menjadi (Beumer, B.J.M., 1994., Ilmu Bahan Logam., hal 20): 1. Baja Karbon rendah (0,05% - 0,35% C) 2. Baja Karbon Menengah (0,35% - 0,50% C) 3. Baja Karbon Tinggi (0,50% - 1,7% C) Kadar karbon mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap mutu baja. Baja dengan kadar karbon 0,1 0,35% tidak dapat dikeraskan (dipijarkan dan didinginkan tiba-tiba). Baja dengan kadar karbon rendah mempunyai nilai kekerasan yang rendah pula. Makin rendah kadar karbonnya maka baja tersebut makin lunak dan mudah ditempa, sebaliknya makin tinggi kadar karbonnya maka makin besar pula nilai kekerasannya. Sifat mekanis baja juga dipengaruhi oleh cara mengadakan ikatan karbon dengan besi. Menurut Schonmetz (1985) terdapat 3 bentuk utama kristal saat karbon mengadakan ikatan dengan besi, yaitu : 1. Ferit, yaitu besi murni (Fe) terletak rapat saling berdekatan tidak teratur, baik bentuk maupun besarnya. Ferit merupakan bagian baja yang paling lunak, ferrit murni tidak akan cocok digunakan sebagai bahan untuk benda kerja yang menahan beban karena kekuatannya kecil. 2. Karbid besi (Fe3C), suatu senyawa kimia antara besi dengan karbon sebagai struktur tersendiri yang dinamakan sementit. Peningkatan kandungan karbon akan menambah kadar sementit. Sementit dalam baja merupakan unsur yang paling keras. 3. Perlit, merupakan campuran antara ferrit dan sementit dengan kandungan karbon sebesar 0,8%. Struktur perlitis mempunyai kristal ferrit tersendiri dari serpihan sementit halus yang saling berdampingan dalam lapisan tipis mirip lamel. Perlakuan panas adalah suatu perlakuan yang diberikan pada suatu bahan dengan tujuan agar diperoleh sifat-sifat yang diinginkan (Schonmetz., A., dan Gruber, K, 1990, Pengetahuan Bahan dalam Pengerjaan Logam, hal : 38) Perubahan sifat yang dihasilkan merupakan akibat dari perubahan struktur mikro yang terjadi sesuai dengan kecepatan laju pendinginan. Proses perlakuan yang diterapkan pada sebuah logam meliputi pemanasan sampai temperature tertentu (Fasa austenisasi), kemudian diberikan penahan waktu (holding time) beberapa saat proses pendinginan langsung. Melalui perlakuan panas, struktur baja dapat berubah. Perubahan ini juga yang akan mempengaruhi perubahan nilai kekerasan pada baja. Pengerasan permukaan disebut juga case hardening, dapat juga dikatakan sebagai suatu proses laku panas yang diterapkan pada suatu logam agar memperoleh sifat-sifat tertentu. Dalam hal ini hanya pengerasan permukaannya saja. Dengan demikian lapisan permukaan mempunyai kekerasan yang tinggi, sedangkan bagian yang dalam tetap seperti semula, yaitu dengan kekerasan rendah tetapi keuletan atau ketangguhannya tinggi. Karena banyaknya cara proses pengerasan permukaan diantaranya adalah : Carburizing (karburasi mengunakan media padat, cair, atau gas) Nitriding Dan lain-lain. Penambahan karbon yang disebut carburizing atau karburasi, dilakukan dengan cara memanaskan pada temperatur yang cukup tinggi yaitu pada temperatur austenit dalam lingkungan yang mengandung atom karbon

Nevada J. Nanuleitta, Alexander A Patty, Analisa Baja Karbon Rendah (S35C) Dengan Pengaruh 929 Waktu Penahan (Holding Time) Melalui Proses Pengarbonan Padat (Pack Carburizing) Dengan Pemanfaatan Cangkang Kerang Sebagai Katalisator aktif, sehingga atom karbon aktif tersebut akan berdifusi masuk ke dalam permukaan baja dan mencapai kedalaman tertentu. Ada 3 cara dalam penambahan karbon atau karburasi (carburizing), yaitu : Tutup Kotak Kontainer 1. Menggunakan medium padat atau Pack Carburizing Benda kerja dimasukkan ke dalam kotak yang berisi bubuk karbon dan ditutup rapat kemudian dipanaskan pada temperatur austenit, yaitu antara 825 0 C - 925 0 C selama waktu tertentu. Bahan carburising terdiri dari bubuk karbon aktif 60 %, ditambah BaCO 3 (Barium Carbonat) atau NaCO 3 (Natrium Carbonat) sebanyak 40 % sebagai energizer atau activator yang mempercepat proses karburisasi. Namun biasanya BaCO 3 yang dipakai karena lebih mudah terurai dari pada NaCO 3. Sebenarnya tanpa energizerpun dapat terjadi proses carburizing karena temperatur sangat tinggi, maka karbon teroksidasi oleh oksigen yang terperangkap dalam kotak menjadi CO 2, reaksi dengan karbon bereaksi terus hingga didapat ; CO 2 + C 2 CO Dengan temperatur yang semakin tinggi keseimbangan reaksi makin cenderung ke kanan, makin banyak CO. Pada permukaan baja CO akan terurai ; 2 CO CO 2 + C Dimana C yang terbentuk ini berupa atom karbon yang dapat masuk berdifusi ke dalam fase austenit dari baja. Dengan adanya energizer proses akan lebih mudah berlangsung karena meskipun udara yang terperangkap sedikit, tetapi energizer menyediakan CO 2 yang akan segera mulai mengaktifkan reaksi - reaksi selanjutnya. Reaksi dekomposisi CaCO 3 ; CaCO 3 Ca O + CO 2 Dengan temperatur tinggi baja mampu melarutkan banyak karbon, maka dalam waktu singkat permukaan baja dapat menyerap karbon hingga mencapai batas jenuhnya. Kotak Kontainer Benda Kerja (Spesimen) Bubuk Karbon + Barium Carbonat Gambar.1 Kotak sementasi Sumber: www.indoskripsi.com Maksudnya bila baja yang dikeraskan permukaannya mengalami pemanasan hingga temperatur tinggi atau temperatur austenit maka difusi karbon dapat mencapai batas jenuhnya yang berdifusi melebihi batas Acm maka akan terjadi atau tumbuh fasa baru yaitu sementit.( Rochim Suratman, 1994). Gambar.2 Potongan Diagram Fase Fe-Fe 3 C Sumber : www.indoskripsi.com Keuntungan dari proses ini adalah dapat digunakan pada proses pengerasan permukaan yang relatif tebal. Sedangkan kerugiannya adalah jika lapisan terlalu tebal, pada saat pendinginan (quenching) akan retak atau terkelupas, benda uji tersebut mengalami shock karena pendinginan yang tiba - tiba. 2. Menggunakan medium cair atau Liquid Carburizing Pada karburasi yang menggunakan medium cair atau Liquid Carburizing biasanya pemanasan benda kerja menggunakan garam cair (salt bath) yang terdiri dari campuran sodium cyanide (NaCN) atau potasium cyanide (KCN) yang berfungsi sebagai

930 Jurnal TEKNOLOGI, Volume 8 Nomor 2, 2011; 927-935 karburasi agent yang aktif, dengan Na 2 CO 3 yang berfungsi sebagai energizer dan penurun titik cair garam. Temperatur Udara Garam Cair Koil Pemanas Benda Kerja Steel Currible Batu Tahan Api Temperatur Austenit Pendinginan Gambar.3 Liquid Carburizing Sumber: www.indoskripsi.com Keuntungan dari proses ini adalah dapat mengeraskan baja tetapi tidak lebih dari 0,5 mm, dapat juga untuk benda kerja yang kecil, dan juga proses oksidasi dan dekarbonisasi dapat dicegah. 3. Menggunakan medium gas atau Gas Carburizing Pada proses karburasi meggunakan medium gas atau gas carburizing, baja dipanaskan didalam dapur pemanas dengan tekanan (atmosfer) yang banyak mengandung gas CO dan gas hydrokarbon misalnya methana, ethana, propana, dan lain lain. Proses ini dilakukan pada tungku pit (pit furnace). Pemanasan dilakukan pada temperatur 900 0 C - 940 0 C. Gas Carburizing Furnace Part to be Case Hardened Inlet Port for Carburizing Gas Gambar.4 Gas carburizing Sumber: www.indoskripsi.com Setelah lapisan kulit mengandung cukup karbon, proses dilanjutkan dengan pengerasan yaitu dengan pendinginan untuk mencapai kekerasan yang tinggi. Proses pendinginan (quenching) dapat dilakukan dengan cara : 1. Pendinginan langsung (Direct Quenching) adalah pendinginan secara langsung dari media karburasi. Efek yang timbul adalah kemungkinan adanya pengelupasan pada benda kerja. Pada pendinginan langsung ini diperoleh permukaan benda kerja yang getas. Time Gambar.5 Grafik Proses Pendinginan Langsung (Direct Quenching) Sumber : www.indoskripsi.com 2. Pendinginan tunggal (Single Quenching) adalah pemanasan dan pendinginan dari benda kerja setelah benda kerja tersebut di karburasi dan telah didinginkan pada suhu kamar. Tujuan dari metode ini adalah untuk memperbaiki difusisitas dari atom atom karbon, dan agar gradien komposisi lebih halus. 3. Double Quenching adalah proses pendinginan atau pengerasan pada benda kerja yang telah di karburasi dan didinginkan pada temperatur kamar kemudian dipanaskan lagi diluar kotak karbon pada temperatur kamar lalu dipanaskan kembali pada temperatur austenit dan baru didinginkan cepat. Tujuan dari metode ini untuk mendapatkan butir struktur yang lebih halus. Sifat - sifat yang dimiliki baja karbon setelah Proses Karburasi sebagai berikut : 1. Kekerasaan permukaan tinggi dan tahan aus. 2. Tahan temperatur tinggi. 3. Umur lelah lebih tinggi. Proses pengujian kekerasan logam dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bahan terhadap pembebanan dalam perubahan yang tetap, ketika gaya tertentu diberikan pada suatu benda uji. Harga kekerasan bahan tersebut dapat dianalisis dari besarnya beban yang diberikan terhadap luasan bidang yang menerima pembebanan. Secara garis besar terdapat tiga metode pengujian kekerasan logam yaitu penekanan, goresan, dan dinamik. Proses pengujian yang mudah dan cepat dalam memperoleh angka kekerasan yaitu dengan metode penekanan.

Nevada J. Nanuleitta, Alexander A Patty, Analisa Baja Karbon Rendah (S35C) Dengan Pengaruh 931 Waktu Penahan (Holding Time) Melalui Proses Pengarbonan Padat (Pack Carburizing) Dengan Pemanfaatan Cangkang Kerang Sebagai Katalisator Dikenal ada tiga jenis metode penekanan, yaitu : Rockwell, Brinnel, Vickers yang masing-masing memiliki perbedaan dalam cara menentukan angka kekerasannya. Disini penguji memakai pengujian kekerasan dengan menggunakan metoda pengujian Rockwell. Pada cara Rockwell pengukuran langsung dilakukan oleh mesin, dan mesin langsung menunjukkan angka kekerasan dari bahan yang diuji. Cara ini lebih cepat dan akurat. Nilai kekerasan dari pengujian Rockwell ini ditentukan oleh perbedaan kedalaman penembusan Dengan cara Rockwell dapat digunakan beberapa skala, tergantung pada kombinasi jenis indentor dan besar beban utama yang digunakan. Macam-macam skala indentor serta besar beban utamanya dapat dilihat pada tabel berikut. Penguji menggunakan skala C (HRC) dalam pengujian ini. Untuk HRC menggunakan beban 150 kg dan dengan menggunakan indenter intan (diamond) berupa kerucut yang sudut puncaknya 120 o (anterior) adalah kepala (caput),sisi bawah(ventral)berfungsi sebagaikaki musculer. Dan massa visceranya terdapat pada sisi atas (dorsal). Molluska berasal dari kata molls yang artinya lunak,kalau ditinjau dari keadaan yang primitif,tubuh molluska menunjukan simetris bilateral (dimana bagian sebelah kiri merupakan bayangan dari sebelah kanan ). Dan sebagian besar tubuh hewan molluska yang lunak dilindungi oleh cangkang (exoskleton) yang keras. Cangkang(exoskleton)yang elindungi tubuh hewan molluska terbuat dari ± 45% kalsium karbonat (CaCO 3 ) atau zat kapur. III. METODOLOGI PENELITIAN Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelat Baja S-35C, oli SAE 20-50, karbon (arang kayu nani), dan Cangkang kerang (CaCOз). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven Pemanas (Barmsteal Thermolyne Type F-6000), mesin Uji Kekerasan Mitutoyo Type AR-20, tang Jepit, sarung tangan, jaket tahan api, gancu, wadah penampung oli, majun, ampelas, kotak baja. 1. Langkah penelitian Pengujian kekerasan. Gambar 6. Pengujian Rockwell Kerang atau Phylum mollusca sudah ada sejak zaman kambrian,kira-kira 450 juta tahun yang lalu. Hal ini terbukti dengan banyaknya penemuan fosil molluska yang berasal dari zaman kambria. Phylum hewani ini merupakan golongan kedua terbesar didunia hewan (regnum animalia ). Semuanya tersebar,baik didarat(teresterial),maupun diair(akuatik). Penyebaran hewan ini sangat luas,baik geografis maupun geologis. Dikenal lebih dari 100.000 spesies yang masih hidup dan mungkin lebih besar lagi jumlah fosilnya (AE.VINES DAN N.REES,hal.1394). Hewan yang termasuk philum molluska memiliki tubuh lunak,tidak beruasruas(segmen),dengan ciri tubuh bagian atas a. Benda uji diukur dan dipotong dan diampelas permukaan bendanya, serta namakan tiap-tiap benda uji (pelat), A, B, dan C, unutk tiap-tiap waktu penahanan (15, 30, dan 45 menit). b. Persiapkan Anvil (landasan uji) pada dudukannya. c. Pasangkan penetrator berbentuk kerucut intan atau diamond Indenter d. Pilih beban pada angka 150 Pa. e. Putar handwell perlahan-lahan hingga penetratornya menyentuh benda uji lalu atur jarum penunjuk dan kencangkan hingga posisi jarum utama dan jarum bantu menunjuk angka 0. f. Tekan tombol start dan biarkan mesin berproses selama beberapa detik hingga lampu menyala. g. Baca harga kekerasan benda yang diuji pada dial dan angka yang ditunjukan oleh jarum utama yang tertulis dengan tinta hitam, satuan kekerasan adalah HRC kemudian catat data hasil pengujiannya.

932 Jurnal TEKNOLOGI, Volume 8 Nomor 2, 2011; 927-935 h. Putar kembali handwell perlahan-lahan ke posisi semula dan atur penetratornya pada benda uji (S-35C) yang belum mengalami proses pengujian, lalu ulangi langkah tersebut pada poin f h. Catat data hasil pengujian untuk masingmasing waktu penahanan 15, 30, dan 45 menit sebagai data awal untuk benda uji (S-35C) sebelum mengalami proses karburising. 2. Proses Karburasi a. Benda uji (S-35C) setelah diambil data kekerasan awal, benda uji dililitkan dengan kawat baja sebagai tempat pengait untuk mempermudah proses pengangkatan benda uji (S-35C) dalam keadaan panas. b. Mencampur Karbon (arang kayu nani) 60% dengan bubuk Cangkang Kerang (CaCOз) 40% didalam kotak sementasi sampai merata. c. Benda uji (S-35C) diletakan kedalam kotak sementasi ditimbun dengan Carbon (arang kayu nani) dan bubuk Tulang Sapi (CaCOз) tadi hingga menutupi permukaan seluruhnya supaya sebentar didalam proses karburising, kedua bubuk tersebut benarbenar menyatu pada permukaan benda uji (S-35C) d. Masukan kotak sementasi kedalam oven pemanas, dan oven ditutup, nyalakan oven pemanas lihat temperatur awal oven 27-30 C. Tunggu sampai temperatur akhir pemanasan 900 C, dengan penahanan waktu pemanasan 15 menit. e. Matikan oven pemanas lalu buka oven pemanas keluarkan kotak sementasi dari dalam oven pemanas dengan mengunakan tang jepit. f. Angkat benda uji (S-35C) dari dalam kotak sementasi dengan mengunakan gancu dan dimasukan kedalam media pendingin berupa oli, biarkan hingga dingin. g. Angkat benda uji (S-35C) dari dalam media pendingin tersebut, bersikan dari oli dengan menggunakan majun, lalu ampelas salah satu sisi hingga bersih (mengkilap) untuk proses pengujian kekerasan. h. Untuk penahanan waktu pemanasan 30 dan 45 menit gunakan langkah-langkah proses karburising dari poin a-g. Setelah proses karburising semua benda uji (S-35C) diambil nilai kekerasannya pada proses pengujian kekerasan menggunakan mesin uji kekerasan (Hardness Testing Machine) Mitutoyo seri AR-20. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil eksperimen yang dilakukan dapat dilihat pada tabel-tabel berikut : Tabel 1. Benda Uji dengan Waktu Penahanan 15 menit (Pelat A) Titik Pengujian (HRC) Sebelum Sesudah 1 93 100 2 92 100.25 3 93.25 101.25 4 93 100 5 95 101 6 95.5 100 7 96 100.5 8 96 100.75 9 95 105 10 96.25 101 11 93 101.75 12 94 100.25 13 97.5 103 14 95 101 15 95.25 100 16 95.5 101 17 92.5 101.5 18 95.5 101.5 19 94 103.5 20 94.5 100.5 Rata-rata 94.59 101.19 Berdasarkan hasil eksperimen untuk benda uji dengan komposisi 60% Karbon (arang kayu nani) dan 40% Cangkang Kerang (CaCO 3 ) dari berat 1 kg media pengkarbonan dengan waktu penahanan 15 menit, diperoleh nilai kekerasan rata-rata pelat A : Sebelum proses karburasi : 94.59 HRC Sesudah proses karburasi : 101,19 HRC = 6.6 HRC Untuk laju proses karburasi diperoleh dengan :

Nevada J. Nanuleitta, Alexander A Patty, Analisa Baja Karbon Rendah (S35C) Dengan Pengaruh 933 Waktu Penahan (Holding Time) Melalui Proses Pengarbonan Padat (Pack Carburizing) Dengan Pemanfaatan Cangkang Kerang Sebagai Katalisator Untuk laju proses karburasi, diperoleh : 125 100 75 50 25 0 101.19 94.59 Sebelum Karburasi Benda Uji Gambar 7. Nilai kekerasan rata-rata pelat A sebelum dan sesudah proses Karburasi Tabel 2. Benda Uji dengan Waktu Penahanan 30 menit (Pelat B) Titik Pengujian (HRC) Sebelum Sesudah 1 94.75 100 2 94 111.25 3 93 108 4 92.75 103 5 95 106.5 6 95 105.5 7 94.75 114.5 8 96 108 9 94.5 103 10 95.5 113.5 11 94.5 103.5 12 95.5 111.5 13 94.75 110 14 95.5 107 15 95.25 110 16 94.25 108.5 17 94 112.5 18 92.75 114.5 19 95 117 20 95.75 111.5 Rata - rata 94.63 108.96 Berdasarkan hasil eksperimen unutk penahanan waktu 30 menit, diperoleh nilai kekerasan rata-rata pelat B : Sebelum proses karburasi : 94,63 HRC Sesudah proses karburasi : 108,96 HRC = 14,33 HRC 125 100 75 50 25 0 94.63 Benda Uji 108.96 Sebelum Karburasi Gambar 8. Nilai kekerasan rata-rata pelat B sebelum dan sesudah proses Karburasi Tabel 3. Benda Uji dengan Waktu Penahanan 45 menit (Pelat C) Titik Pengujian (HRC) Sebelum Sesudah 1 95.5 115.75 2 93.25 115 3 95 116 4 95.5 114.25 5 94.5 116 6 97 112.25 7 96 113.25 8 95.5 113 9 94.5 115 10 96.5 113 11 94.5 113.5 12 93.5 115.25 13 94 114 14 95 115.75 15 93 115 16 95.5 113.25 17 92.75 115.75 18 95 114 19 96.5 115.25 20 92.25 113 Rata-rata 94.76 123.38

laju Penyerapan (HRC/mnt) 934 Jurnal TEKNOLOGI, Volume 8 Nomor 2, 2011; 927-935 Berdasarkan hasil eksperimen untuk penahanan waktu 45 menit, diperoleh nilai kekerasan rata-rata pelat C : Sebelum proses karburasi : 94,76 HRC Sesudah proses karburasi : 123,38 HRC = 28,62 HRC Untuk laju proses karburasi, diperoleh : 125.00 100.00 75.00 50.00 Rata-rata 123.38 108.96 101.19 94.59 94.63 94.76 25.00 Palat A Plat B Plat C Sebelum "K Sesudah "K 123.38 125 100 75 50 25 0 94.76 Benda Uji Sebelum Karburasi Sesudah Karburasi Gambar 9. Nilai kekerasan rata-rata pelat C sebelum dan sesudah proses Karburasi Dengan bertambahan waktu penahanan (Holding Time) pada proses karburasi peningkatan nilai kekerasan semakin meningkat pula, hal ini disebabkan karena material diberikan waktu yang lama untuk menyerap karbon pada proses tersebut hal ini dapat terlihat dari dari rata-rata peningkatan nilai kekerasan 1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 Gambar 10. Rata-rata Tiap Pelat Grafik Rata-rata Laju Peningkatan proses penyerapan Karbon 0.44 0.478 0.636 Palat A Plat B Plat C Laju Penyerapan karbon Gambar 11. Rata-rata Laju peningkatan prose penyerapan Karbon Dari grafik pada gambar 10 dan 11 yang dilihat diatas bahwa peningkatan nilai kekerasan paling tinggi terdapat pada Plat C dengan penahanan waktu (Holding Time) sebesar 45 menit yaitu sebesar 123.38 HRC dari 94.76

Nevada J. Nanuleitta, Alexander A Patty, Analisa Baja Karbon Rendah (S35C) Dengan Pengaruh 935 Waktu Penahan (Holding Time) Melalui Proses Pengarbonan Padat (Pack Carburizing) Dengan Pemanfaatan Cangkang Kerang Sebagai Katalisator HRC dengan peningkatan sebesar 28.62 HRC atau rata-rata peningkatan sebesar 30.2%. Peningkatan ini disebabkan material uji (Plat) diberikan kesempatan menyerap karbon pada proses karburasi di dalam kotak sementasi (kotak baja), jadi semakin lama waktu penahanan (45 menit) nilai kekerasan akan semakin tinggi pula. Yang menyebabkan peningkatan laju nilai kekerasan pada proses karburasi dengan temperature 900ºC, adalah dimana fase S35C telah mencapai fase Austenit sehingga penyerapan karbon pada permukaan S35C menuju merata, hal ini juga terbantukan dengan proses pendinginan langsung (direck Quenching) dengan material pendingin oli SAE 20-50, dari proses pendinginan ini fase S35C menuju Fase Austenite + ferrite dimana didalam fase ini kekerasan pada S35C semakin merata. Odink, A., (1947): Ensiklopedia Material Untuk Konstruksi Permesinan. Edisi Ketiga. Moskow. Pengetahuan Bahan 2. ITB. Bandung. Schonmentz, I. A., dkk. (1985): Pengetahuan Bahan Dan Pengerjaan Logam. Penerbit Angkasa. Bandung Suratman, Rochim., (1994): Panduan Proses Perlakuan Panas. Lembaga Penelitian ITB. Bandung Van Vlack, L., (1992): Ilmu dan Teknologi Bahan. Terjemahan Srianti Djaprie. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta. Wardoyo, J. T., (2005): Metode Peningkatan Tegangan Tarik Dan Kekerasan Pada Baja Karbon Rendah Melalui Baja Fasa Ganda. http://www.indoskripsi.com V. KESIMPULAN Penelitian menunjukan bahwa pemanfaatan media lokal dalam hal ini Cankang kerang (CaCO 3 ) dapat dipergunakan sebagai alternatif pengganti katalisator BaCO 3 (Barium Carbonat) dalam proses Karburasi Padat. Laju penyerapan karbon paling cepat terjadi pada proses dengan penahanan waktu 45 menit dengan komposisi dari 1 kg campuran yang terdiri 60% karbon (arang kayu nani) dan 40% Cangkang kerang (CaCO 3 ) yaitu sebesar 123,38 HRC. Kemudian di ikuti dengan penahanan waktu (Holding Time) 30 menit dan 15 menit dengan nilai 108,96 dan 101,19 dimana Peningkatan laju nilai kekerasan rata-rata terbesar juga terjadi pada penahanan waktu 45 menit, sebesar 0,636, atau 30,2%. DAFTAR PUSTAKA Beumer Ing, B. J. M., (1994): Ilmu Bahan Logam. Terjemahan B. S. Anwir. Jilid III. Penerbit Bhatara. Jakarta Hari, A. dan Daryanto. (1999): Ilmu Bahan. Bumi Aksara. Jakarta. Materi kuliah Ilmu Bahan. ITS. Surabaya Mochyidin, A., (2004): Analisa Pengaruh Waktu Tahan Terhadap Baja Karbon Rendah Dengan Metode Pack Carburizing. http://one.indoskripsi.com/node/