Presiden Republik Indonesia,

dokumen-dokumen yang mirip
UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1951 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENJUALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG DARURAT (UUDRT) NOMOR 22 TAHUN 1950 (22/1950) TENTANG PENURUNAN CUKAI TEMBAKAU PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT

LEMBARAN NEGARA TAHUN

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 1959 TENTANG PENGUBAHAN DAN TAMBAHAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENJUALAN 1951

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PAJAK PEREDARAN PEMBATASAN. PENETAPAN SEBAGAI UNDANG-UNDANG.

PEMUNGUTAN PAJAK VERPONDING ATAS TAHUN 1951 (Undang-Undang Darurat Nomor 14 Tahun 1951 Tanggal 10 September 1951) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Indeks: SUMBANGAN. BADAN URUSAN TEMBAKAU. PABRIKAN- PABRIKAN ROKOK. PENETAPAN MENJADI UNDANG-UNDANG.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1953 TENTANG

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA (UUDRT) NOMOR 18 TAHUN 1951 (18/1951) TENTANG MEMBATASI MASA BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG PAJAK PEREDARAN 1950

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN TENTANG PENGUBAHAN DAN TAMBAHAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENJUALAN 1951

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1959 TENTANG PENGUBAHAN DAN TAMBAHAN ORDONANSI PAJAK RUMAH TANGGA 1908

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1954 TENTANG PENETAPAN TARIP PAJAK PERSEROAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : pasal 89, 97 dan 117 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia; Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1955 TENTANG PEMUNGUTAN SUMBANGAN DARI PABRIKAN-PABRIKAN ROKOK BAGI "BADAN URUSAN TEMBAKAU"

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 80/PMK.03/2010 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 179/PMK.011/2012 TENTANG TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1955 TENTANG MENGADAKAN OPSENTEN ATAS CUKAI BENSIN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, MEMUTUSKAN :

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1954 TENTANG PENETAPAN TARIP PAJAK PERSEROAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK ROKOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA (UUDRT) NOMOR 21 TAHUN 1951 (21/1951) TENTANG PENGENAAN TAMBAHAN OPSENTEN ATAS BENSIN DAN SEBAGAINYA

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 449 /KMK.04/2002 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 89/KMK.05/2000 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1959 TENTANG PAJAK HASIL BUMI. Presiden Republik Indonesia,

Mengingat : pasal 97, 89 dan 117 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia ; MEMUTUSKAN

PENGENAAN TAMBAHAN OPSENTEN ATAS BENSIN DAN SEBAGAINYA (Undang-Undang Darurat Nomor 21 Tahun 1951 Tanggal 29 September 1951)

PEMERINTAH PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR /6 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK ROKOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 1959 TENTANG PENGUBAHAN DAN TAMBAHAN TABAKS-ACCIJNS-VERORDENING (STAATSBLAD 1932 NO.

UNDANG-UNDANG DARURAT (UUDRT) NOMOR 41 TAHUN 1950 (41/1950) TENTANG MENAIKAN BEA YANG DIKENAKAN UNTUK MEMPEROLEH DOKUMEN- DOKUMEN IMIGRASI

Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor:35 TAHUN 1953 (35/1953) Tanggal:18 DESEMBER 1953 (JAKARTA)

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

1 of 5 21/12/ :02

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1952 TENTANG PENETAPAN "UNDANG-UNDANG DARURAT TENTANG PINJAMAN DARURAT" SEBAGAI UNDANG- UNDANG

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1950 TENTANG PINJAMAN DARURAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1959 TENTANG PENGELUARAN PINJAMAN OBLIGASI BERHADIAN TAHUN 1959 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN GUBERNUR GORONTALO NOMOR 10 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN, PENGGUNAAN DAN PENGAWASAN PAJAK ROKOK

181/PMK.011/2009 TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

UNDANG-UNDANG DARURAT (UUDRT) NOMOR 42 TAHUN 1950 (42/1950) TENTANG BEA-BEA IMIGRASI Presiden Republik Indonesia

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.437, 2009 DEPARTEMEN KEUANGAN. Cukai. Hasil Tembakau.

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1950 TENTANG PAJAK PEREDARAN *) Presiden Republik Indonesia Serikat,

PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK ROKOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU,

PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1983 Tanggal 31 Desember Presiden Republik Indonesia,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

Presiden Republik Indonesia,

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 597/KMK.04/2001 TANGGAL 23 NOVEMBER 2001 TENTANG PENETAPAN TARIF CUKAI DAN HARGA DASAR HASIL TEMBAKAU

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa dalam rangka usaha melancarkan pembangunan semesta perlu adanya penyederhanaan dalam bidang impor dan ekspor;

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA (UUDRT) NOMOR 17 TAHUN 1951 (17/1951) TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG. Presiden Republik Indonesia,

Pabrikan Rokok "A" dalam Masan Pajak November 2000 melakukan kegiatan sebagai berikut :

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Mengingat : Pasal-pasal 96 dan 109 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia; Mendengar :

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pajak Penghasilan Pasal 22 PAJAK PENGHASILAN PASAL 22

Mengingat : pasal 23 ayat (2) juncto pasal 22 ayat (1) Undang-undang Dasar;

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1953 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1951 TENTANG MENAIKKAN JUMLAH MAKSIMUM PORTO DAN BEA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1950 TENTANG MENGUBAH TABAKSACCIJNS-VERORDENING PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG (UU) 1946 No. 18 (18/1946) UANG, KEWAJIBAN MENYIMPAN UANG. Peraturan tentang kewajiban menyimpan uang dalam bank.

GUBERNUR MILITER IBU KOTA. PENCABUTAN KEMBALI. PENETAPAN SEBAGAI UNDANG-UNDANG.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA (UUDRT) NOMOR 15 TAHUN 1951 (15/1951) TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 1953 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

Presiden Republik Indonesia,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 154/PMK.03/2010 TENTANG

Presiden Republik Indonesia,

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PAJAK ROKOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 1959 TENTANG PENGUBAHAN DAN TAMBAHAN TABAKS-ACCIJNS-VERORDENING (STAATSBLAD 1932 NOMOR 560)

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 145/PMK.04/2014 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1956 TENTANG URUSAN PEMBELIAN MINYAK KAYU PUTIH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2000 TENTANG JENIS BARANG DAN JASA YANG TIDAK DIKENAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Presiden Republik Indonesia Serikat,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 615/PMK.04/2004 TENTANG TATALAKSANA IMPOR SEMENTARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Presiden Republik Indonesia Serikat,

GUBERNUR PAPUA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK ROKOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

203/PMK.011/2008 TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT,

Transkripsi:

UNDANG-UNDANG DARURAT (UUDRT) NOMOR 38 TAHUN 1950 (38/1950) TENTANG TAMBAHAN DAN PERUBAHAN UNDANG-UNDANG PAJAK PEREDARAN 1950 (UNDANG-UNDANG DARURAT NR. 12, TAHUN 1950) Presiden Republik Indonesia, Menimbang : bahwa ternyata perlu menambah dan mengubah undang-undang pajak peredaran 1950 (Undang-undang darurat 13 Pebruari 1950 No. 12) dalam beberapa hal; Menimbang : bahwa karena keadaan-keadaan yang mendesak, tambahan dan perubahan itu perlu segera diadakan; Mengingat : Pasal-pasal 96 dan 117 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia; MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG DARURAT UNTUK MENAMBAH DAN MENGUBAH "UNDANG-UNDANG PAJAK PEREDARAN 1950" (UNDANG-UNDANG DARURAT No. 12, TAHUN 1950). Pasal I. Undang-undang pajak peredaran 1950 ditambah dan diubah sebagai berikut : I. Dalam Pasal I ayat (1) ke-i kata-kata "Republik Indonesia Serikat" diganti dengan kata-kata "Republik Indonesia"; II. Pasal 6 dibaca : (1) Pajak itu besarnya dua setengah perseratus. Jika peredaran setahun tidak melebihi jumlah f.10.000,- maka pajak tidak terutang. (2) Jika perusahan atau pekerjaan tidak dijalankan selama setahun takwim penuh, maka jumlah yang disebut dalam ayat satu dikurangi dengan sekian perduabelasnya, sebanyak bulan penuh yang kurang dari tahun takwim. III. Dalam Pasal 21 ayat (1) kata "tiga" diganti dengan kata "dua setengah". IV. Pasal 22 diubah dan ditambah seperti berikut : A. ke 2. dibaca : ke 2. a. penyerahan barang-barang untuk dikeluarkan keluar negeri; b. penyerahan barang-barang yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan yang menurut sifatnya dianggap sebagian besar untuk

dikeluarkan ke luar negeri; B. ke 12. huruf B dibaca : b. kamar yang telah diperaboti dalam rumah penginapan (hotel), pension dan tempat-tempat seperti itu, jika pembayaran atas penyewaan kamar ini tidak dipungut pajak seperti dimaksud dalam Pasal 2 Undang-undang pajak pembangunan I; V. Sesudah Pasal 22 diadakan Pasal baru, berbunyi : Pasal 22a. Dari pajak peredaran juga dikecualikan : ke 1. ke 2. ke 3. ke 4. penyerahan padi, gabah dan beras, jagung, sago, gaplek, sayur dan buahbuahan yang baru dipetik, roti, susu baru, air, garam, bambu, kayu bakar, arang, minyak tanah, gas, elektris, obat-obatan (medicamenten), surat kabar harian, majalah mingguan dan barangbarang yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan; penyerahan barang-barang dan melakukan jasa-jasa dalam rumah makan dan penginapan, jika pembayaran-pembayaran dalam hal itu dipungut pajak menurut Pasal 2 dari Undang-undang pajak pembangunan 1; penyerahan hasil tembakau, yang dikenakan cukai menurut Ordonansi Cukai tembakau Staatsblad 1932 No. 517; jasa-jasa dokter, dokter gigi dan bidan. VI. Dalam Pasal 23 ayat (1) ke-4 :"f. 25,- "diganti dengan "f. 75,-". VII. Sesudah pasal 23 diadakan pasal baru, berbunyi : Pasal 23a. ke 1. ke 2. Dari pajak masuk juga dikecualikan : padi, gabah dan beras, jagung, sago, gaplek, sayur dan buah-buahan yang baru dipetik, roti, susu baru, air, garam, bambu, kayu bakar, arang, minyak tanah, obat-obatan (medicamenten), surat kabar harian, majalah mingguan dan barang-barang yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan; hasil tembakau yang dikenakan cukai menurut Ordonansi Cukai tembakau Staatsblad 1932 No. 517.

Pasal II. Undang-undang darurat ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1951. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang darurat ini dengan penempatan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 1950. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SOEKARNO MENTERI KEUANGAN, SJAFRUDDIN PRAWINEGARA. Diundangkan pada tanggal 30 Desember 1950 MENTERI KEHAKIMAN, WONGSONEGORO. Dengan Undang-undang darurat No. 12 tahun 1950, tanggal 13 Pebruari 1950 telah ditetapkan "Undang-undang Pajak Peredaran 1950" diumumkan pada tanggal 18 Maret 1950, Lembaran Negara No. 19, 1950. Akan tetapi saat menurut rencana semula untuk berlakunya undang-undang itu jatuh bersama dengan tindakan moneter pada akhir bulan Maret 1950, yang begitu besar dan dalam pengaruhnya atas perhubungan ekonomi, sehingga mulai berlakunya harus diundurkan sampai saat yang akan ditetapkan lagi. Ada maksud untuk menetapkan saat itu pada tanggal 1 Januari 1951, bersama dengan penurunan tarip pajak peralihan dan tarip pajak upah yang rancangan undang-undangnya dalam waktu yang singkat akan disajikan. Berhubung dengan itu maka sangat perlu untuk melakukan tambahan dan perubahan dalam undang-undang itu. Terutama perubahan mengenai pengecualian dari pajak peredaran untuk menyerahan barang dan melakukan jasa yang dipandang sebagai kebutuhan hidup pertama. Pasal I angka V dan VII dari rancangan undang-undang darurat termaksud

memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Gas dalam pasal baru 22a ke I harus diartikan gas cahaya untuk masak dan penerangan, sehingga argon, neon, gas zat lemas (stikstofgas), dan udara yang dimampatkan (gecomprimeerde lucht) dan gas-gas lain semacam itu tidak termasuk. Selanjutnya diakui pula kemestian untuk memperluas pengecualikan pasal 22, ke 2, mengenai penyerahan barang ekspor, yakni bahwa pengecualikan itu juga berlaku - sudah tentu menurut peraturan yang tertentu dimaksud dalam pasal 22 - jika ekspor itu terjadi tidak langsung, melainkan dengan perantaraan fihak ketiga. Untuk melaksanakan itu maka perkataan "langsung" dalam pasal ini ke 2 dihapuskan. Oleh karena untuk penyerahan hasil bumi dari penduduk biasanya tidak dapat dipenuhi peraturan yang dimaksud, yakni mengadakan surat pemberitahuan dua ganda untuk eksport itu, maka seluruh perdagangan dalam barang-barang yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dan menurut sifatnya sebagian besar untuk dikeluarkan ke luar negeri, dikecualikan dari pajak peredaran dengan tambahan pada pasal 22 ke 2, sub IV huruf A dalam rancangan undang-undang darurat termaksud. Pasal 6 ayat 1 undang-undang darurat No. 12 mengandung pengurangan tarip dari pajak peredaran dengan menghitung pajak itu dari peredaran setahun sesudah dikurangi dengan jumlah f.4.000,-. Ada dua maksud pasal ini. Pertama maksudnya supaya beratus ribu pengusaha kecil tidak dikenakan. Kedua untuk memberi kerugian sekedarnya kepada pengusaha-pengusaha yang besar untuk pekerjaanpekerjaan administrasi yang diwajibkan oleh pajak peredaran. Sementara itu terasa, bahwa untuk mencapai maksud tersebut yakni membebaskan pengusaha-pengusaha kecil, pengurangan sejumlah f.4.000,- itu tidak cukup. Untuk mencapai maksud itu maka jumlah itu dinaikkan jadi f.10.000,- dan dalam hal ini pengurangan untuk pengusaha-pengusaha yang lebih besar dapat dihapuskan. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, maka dalam pasal 6 ayat I sub II dari rancangan undang-undang darurat ini diusulkan untuk mengganti pengurangan pembebasan pajak sejumlah f.4.000,- dengan pembebasan pengusahapengusaha dengan peredaran setahun untuk yang tidak melebihi jumlah f.10.000,-. Pertimbangan yang lebih lanjut tentang tarip tiga perseratus telah memberi keyakinan, bahwa pada hasil-hasil pabrikan-pabrikan yang kecil tekanan seluruhnya atas penyerahan barang-barang ini kepada konsumen akan terasa terlampau tinggi oleh karena mata rantai antara pabrikan dan konsumen yang banyak. Untuk mengurangi tekanan ini maka diusulkan untuk menurunkan tarip tiga

perseratus dalam pasal-pasal 6 ayat 1 dan 21 ayat 1 sampai dua setengah perseratus. Dalam pasal 22a ke 3 dan pasal 23a ke 2 diusulkan supaya dikecualikan dari pajak peredaran dan pajak masuk hasil-hasil tembakau yang telah dikenakan cukai menurut Ordonansi Cukai tembakau, Staatsblad 1932 No. 517. Pemungutan cukai tembakau menurut sifatnya berbeda dengan pemungutan cukai lainnya, yang semuanya mempunyai sifat yang tertentu, yakni dipungut menurut kesatuan ukuran dan timbangan. Maka cukai tembakau dihitung menurut harga penjualan detail dari hasil yang harus dikenakan cukai itu dan dalam harga itulah pajak (cukai) harus dihitung. Oleh karena juga terhadap pajak peredaran harga jual menjadi dasar untuk menghitung pajak, maka dengan tidak mengenyampingkan dasar dari kedua macam pajak itu, yakni memikulkan kepada konsumen, tidaklah mungkin memungut pajak peredaran lagi di samping cukai. Hasil-hasil tembakau, atas mana dipungut cukai menurut Ordonansi Cukai tembakau Staatsblad 1932 No. 517, ialah cerutu, sigaret, rokok kawung (strootjes), tembakau yang telah diiris, tembakau cium (snuiftabak) dan lain-lain tembakau yang telah disediakan untuk dipakai dengan tidak mengindahkan apakah dan berapa banyakkah bahan tiruan atau bahan-bahan lainnya yang telah digunakan dalam penyediaan tembakau itu. Akhirnya semestinyalah diadakan peraturan mengenai penyerahan barangbarang dan melakukan jasa-jasa dalam rumah penginapan dan rumah makan. Menurut pasal 2 dari Undang-undang pajak pembangunan I maka semua pembayaran dalam rumah penginapan dan rumah makan seperti dimaksud dalam undang-undang itu, dikenakan pajak sebesar sepuluh perseratus. Pasal 1 sub IV huruf B dan sub V pasal 22a, ke 2 maksudnya ialah untuk mencegah pajak berganda, dengan membebaskan penyerahan dan jasa-jasa ini dari pajak peredaran. -------------------------------- CATATAN Kutipan: LEMBARAN NEGARA DAN TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA TAHUN 1950 YANG TELAH DICETAK ULANG