BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II BAHAN RUJUKAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA. Nomor : 8 Tahun 2005 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA,

BAB II BAHAN RUJUKAN

QANUN KOTA LHOKSEUMAWE NOMOR : 02 TAHUN 2006

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 01 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGANJUK,

NOMOR : 3 TAHUN 2002 SERI : A PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT NOMOR 06 TAHUN 2002 T E N T A N G PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI BARAT,

LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 11 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK HOTEL

LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (Berita Resmi Kota Yogyakarta) Nomor 2 Tahun 2000 Seri A

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2009 SERI : B NOMOR : 1

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUDUS,

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 4 TAHUN : 2003 SERI :B PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 4 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II KUTAI NOMOR 21 TAHUN 1997 T E N T A N G PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 09 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

PEMERINTAH KABUPATEN BONE PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 06 TAHUN 2009 ( DICABUT ) TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II BAHAN RUJUKAN

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 02 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II BAHAN RUJUKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR : 12 TAHUN 2004 T E N T A N G PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 25 TAHUN 2001 TENTANG P A J A K H O T E L DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 9 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

PEMERINTAH KOTA PONTIANAK

BAB II BAHAN RUJUKAN

TINJAUAN HUKUM MEKANISME PENGELOLAAN PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 06 TAHUN 2007 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 06 TAHUN 2007 TENTANG PAJAK HOTEL

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

BAB II LANDASAN TEORI

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL WALIKOTA TASIKMALAYA

LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 18 TAHUN 2001 T E N T A N G PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS,

BUPATI JENEPONTO Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 34 Jeneponto Telp. (0419) Kode Pos 92311

BAB II LANDASAN TEORI. untuk pengeluran umum (Mardiasmo, 2011; 1). menutup pengeluaran-pengeluaran umum (Ilyas&Burton, 2010 ; 6).

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 7 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN,

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 14 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II S U M E D A N G NOMOR 10 TAHUN 1998 SERI A.3

PERATURAN DAERAH KEBUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR NOMOR 01 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERAM BAGIAN TIMUR,

BAB II LANDASAN TEORI. Undang nomor 16 tahun 2009, sebagai berikut :

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II PURBALINGGA NOMOR 5 TAHUN 1998 SERI A NO. 1

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BANJAR NOMOR 18 TAHUN 1998 SERI A NOMOR SERI 5

PEMERINTAH KABUPATEN WAJO PAJAK HOTEL BUPATI WAJO,

LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 09 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 09 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK HOTEL

L E M B A R A N D A E R A H KABUPATEN BALANGAN NOMOR 16 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 16 TAHUN 2009 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. disetujui masyarakat melalui perwakilannya di dewan perwakilan, dengan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK,

PERATURAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO PAJAK HOTEL

PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PEKANBARU NOMOR : 02 TAHUN 1998 TENTANG PAJAK HOTEL DAN RESTORAN

BAB II ISI PAJAK HOTEL

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR : 2 TAHUN 2003 PAJAK HOTEL

KABUPATEN CIANJUR NOMOR : 63 TAHUN : 2002

LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR : 13 TAHUN 202 SERI : A NOMR: 1 PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR: 9 TAHUN 2002

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HOTEL BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA WALIKOTA BANDA ACEH,

LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II BEKASI NOMOR : 47 TAHUN 1998 SERI : A.

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 25 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 3 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

LEMBARAN DAERAH KOTA PALU NOMOR 1 TAHUN 2001 SERI A NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KOTA PALU NOMOR : 1 TAHUN 2001 TENTANG PAJAK HOTEL

LEMBARAN DAERAH K O T A L H O K S E U M A W E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BALANGAN NOMOR 02 TAHUN 2011

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 10 TAHUN 2006 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PAJAK PARKIR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 21 TAHUN

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 07 TAHUN 2004 PAJAK PARKIR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

QANUN KABUPATEN BIREUEN NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK HOTEL BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI BIREUEN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 14 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

QANUN KABUPATEN SIMEULUE NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI SIMEULUE,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bersumber dari pajak. Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA SUKABUMI

BUPATI TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI TANAH BUMBU,

BUPATI BULULUKUMBA. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA Nomor : 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK RESTORAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA MATARAM NOMOR : 9 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGAMBILAN SARANG BURUNG WALET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MATARAM,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA GORONTALO,

S A L I N A N Nomor : 7/B 2002

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TABANAN,

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 6 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK PENERANGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA. Nomor : 11 Tahun : 2010 Seri : B Nomor : 11 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA NOMOR 11 TAHUN 2010

BAB II BAHAN RUJUKAN

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 37 TAHUN 2003

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 05 TAHUN 2004 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 06 TAHUN 2004 TENTANG PAJAK PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pajak 2.1.1 Pengertian Pajak Pengertian Pajak menurut P.J.A Adriani (2009;2) : Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan, Sementara itu menurut Rochmat Soemitro (2009:5) : Pajak adalah iuran kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi), yang langsung dapat ditujukan dan yang digunakan untuk membiayai kepentingan umum. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Ketentuan Umum Pajak dan tata cara perpajakan : pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya. 2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditujukan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah. 3. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun daerah. 5

6 1. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran yang lain bila dari pemasukannya masih terdapat surplus dipergunakan untuk membiayai public investment. 2. Pajak dapat pula mempunyai tujuan yang tidak budgeter yaitu mengatur. 2.1.2 Fungsi Pajak Menurut Mardiasmo (2009;1) Pajak dibagi menjadi 2 (dua) fungsi : 1) Fungsi Budgeter (Anggaran) yaitu pajak merupakan suatu alat (sumber) penerimaan Negara dan digunakan untuk membiayai pengeluaran Negara. 2) Fungsi Regulerend (Mengatur) yaitu pajak adalah alat untuk mengatur dan melaksanakan kebijaksanaan pemerintah di bidang sosial dan ekonomi. Contoh : - Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras agar mengurangi konsumsi minuman keras. - Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah agar mengurangi gaya hidup konsumtif. - Tarif pajak ekspor sebesar 0% untuk mendorong ekspor produk Indonesia dipasaran dunia.

7 2.1.3 Sistem Pemungutan Pajak Menurut Mardiasmo (2009;7), pada dasarnya ada 3 (tiga) sistem pemungutan pajak yang dapat digunakan, yaitu : a. Official Assesment System Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (Fiskus) untuk menentukan besarnya pajak terutang oleh Wajib Pajak. Dengan demikian fiskus yang menentukan besarnya pajak terutang sehingga Wajib Pajak bersifat pasif dan utang pajak timbul setelah dikeluarkannya Surat Ketetapan Pajak (SKP) oleh fiskus. b. Self Assessment System Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang wewenangnya ada pada pembayar pajak dengan menentukan besarnya pajak yang terutang. Dalam sistem ini Wajib Pajak harus aktif menghitung, memperhitungkan, menyetor dan melaporkan sendiri pajaknya. Fiskus tidak campur tangan dalam penentuan besarnya pajak yang terutang, sepanjang Wajib Pajak tidak menyalahi peraturan yang berlaku. c. Witholding System Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang wewenangnya ada pada pihak ke tiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

8 2.1.4 Pengelompokkan Pajak Menurut Mardiasmo (2009:5) dalam pelaksanaannya, pajak terbagi menjadi beberapa kelompok antara lain : 1. Menurut Golongannya a. Pajak Langsung Yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Penghasilan. b. Pajak Tidak Langsung Yaitu Pajak yang pada akhirnya dapat dihibahkan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 2. Menurut Sifatnya a. Pajak Subjektif Yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh : Pajak Penghasilan. b. Pajak Objektif Yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 3. Menurut Lembaga Pemungutnya a. Pajak Pusat

9 Yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara. Contoh : Pajak Penghasilan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak Bumi dan Bangunan Bea Materai. b. Pajak Daerah Yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : Pajak Propinsi, terdiri dari : Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Di Atas Air, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Di Atas Air, Pajak Bahan Bakar Minyak Kendaraan Bermotor, Pajak Pengambilan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. Pajak Kabupaten / Kota, terdiri dari : Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, Pajak Parkir, Pajak Sarang Burung Walet.

10 2.1.5 Stelsel Pajak Menurut Mardiasmo (2009;6) pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan kepada 3 (tiga) stelsel, yaitu : a. Stelsel Nyata (riel stelsel) Pada stelsel nyata, pengenaan pajak didasarkan pada objek atau penghasilan yang sesungguhnya atau yang nyata-nyata ada atau diperoleh wajib pajak. Dengan demikian, pajak baru dapat dikenakan pada akhir tahun, yaitu setelah diperoleh / diketahui penghasilan yang sesungguhnya. b. Stelsel Anggapan (fictieve stelsel) Pada stelsel ini, pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan, dan anggapan tersebut tergantung pada bunyi Undang-Undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan penghasilan tahun sebelumnya, sehingga pada permulaan tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak yang berjalan. c. Stelsel Campuran Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dengan stelsel anggapan. Dimana, pada awal tahun besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar daripada

11 pajak anggapan, maka Wajib Pajak harus menambah. Sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali. 2.2 Pajak Daerah Pajak daerah merupakan pendapatan asli daerah yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber-sumber dana yang penting baik dari perusahaan daerah ataupun usaha daerah yang sah untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah. 2.2.1 Dasar Hukum Pajak Daerah Pajak Daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah serta dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri keuangan, dan Peraturan Daerah. Namun demikian, dalam pembahasan ini penulis menggunakan Undang-Undang No 34 Tahun 2000. 2.2.2 Pengertian Pajak Daerah Pengertian Pajak Daerah menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Pasal 1 Tahun 2000 : Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan Pembangunan Daerah.

12 Pajak Daerah menurut Mardiasmo (2009;6) adalah sebagai berikut : Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut daerah berdasarkan peraturan pajak yang ditetapkan oleh daerah untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga Pemerintahan Daerah. 2.2.3 Jenis Pajak Daerah Berdasarkan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 Pasal 1 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka jenis-jenis Pajak Daerah terdiri atas : 1. Yang ditangani oleh Pemerintah Daerah Propinsi, terdiri atas : a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air c. Pajak Bahan Bakar Minyak Kendaraan Bermotor d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. 2. Yang ditangani oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, terdiri atas : a. Pajak Hotel b. Pajak Restoran c. Pajak Hiburan d. Pajak Reklame e. Pajak Penerangan Jalan f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C g. Pajak Parkir.

13 2.3 Pajak Hotel 2.3.1 Dasar Hukum Pajak Hotel Pajak Hotel diatur dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, tentang Peraturan Daerah dan Retribusi Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 2 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel. 2.3.2 Pengertian Pajak Hotel Berdasarkan Undang-Undang No 34 Tahun 2000 pasal 1 ayat (2) : Pajak Hotel yang selanjutnya disebut pajak adalah pajak atas pelayanan Hotel yang merupakan iuran wajib yang dikenakan terhadap Pengusaha Hotel. Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu, serta dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran. 2.3.3 Objek Pajak Hotel Berdasarkan Undang-Undang No 34 Tahun 2000 pasal 4 Objek Pajak Hotel adalah setiap pelayanan yang disediakan Hotel dengan pembayaran, termasuk : a. Fasilitas Penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek, antara lain Hotel Berbintang, Hotel Melati, Cottage, Pondok Wisata termasuk Rumah Kost / Rumah Sewa dan sejenisnya yang berada di lokasi wisata.

14 b. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, antara lain : Telepon, Faximile, Foto Copy, Pelayanan Cuci, Setrika, Taksi, dan pengangkutan lainnya yang disediakan atau dikelola pihak hotel. c. Fasilitas Olah Raga dan Hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel, bukan untuk umum. d. Jasa Persewaan Ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. Yang dikecualikan menjadi Objek Pajak adalah sebagai berikut : 1. Pelayanan Tinggal di Asrama dan Pondok Pesantren. 2. Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan/atau fasilitas tempat tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan hotel. 3. Fasilitas Olah Raga dan Hiburan yang disediakan hotel yang dipergunakan oleh bukan tamu Hotel dengan Pembayaran. 4. Pertokoan, Perkantoran, Perbankan, Salon yang disediakan di hotel yang dipergunakan oleh bukan tamu hotel dengan pembayaran. 5. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh Hotel dan dapat dimanfaatkan oleh umum. 2.3.4 Subyek Pajak Hotel Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No 2 Tahun 2003 Pasal 3 Subyek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada hotel.

15 2.3.5 Wajib Pajak Hotel Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No 2 Tahun 2003 Pasal 3 yang menjadi Wajib Pajak Hotel adalah Pengusaha hotel. Pengusaha hotel adalah perorangan atau badan yang menyelenggarakan usaha hotel untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya. 2.3.6 Dasar Pengenaan dan Tarif Pajak Hotel a. Dasar Pengenaan Pajak Hotel Dasar pengenaan pajak adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel. b. Tarif Pajak Hotel Besarnya tarif Pajak Hotel ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari dasar pengenaan pajak. 2.3.7 Wilayah Pungutan dan Cara Penghitungan Pajak Hotel a. Wilayah Pungutan Pajak Hotel Pajak yang terutang dipungut di Daerah atau wilayah tempat hotel berlokasi.

16 b. Cara Penghitungan Pajak Hotel Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa cara menghitung besarnya pokok pajak yang terutang adalah dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Pajak yang terutang = Tarif Pajak Hotel x DPP = 10% x DPP Contoh Penghitungan Pajak Hotel : Tuan A menginap selama 2 (dua) hari di Hotel Jayakarta Bandung. Hotel tersebut termasuk ke dalam hotel kelas bintang 2 dengan tarif Rp. 400.000,00/hari. Catatan pembayarannya sebagai berikut : Makanan dan minuman : Rp. 200.000,00 Jasa sewa kamar : Rp. 800.000,00 Jasa binatu dan jasa telepon : Rp. 100.000,00 Jumlah : Rp. 1.100.000,00 Service charge 10% : Rp. 110.000,00 Jumlah pembayaran : Rp. 1.210.000,00 Pajak Hotel 10% : Rp. 121.000,00 Total yang dibayar Tuan A : Rp. 1.331.000,00

17 2.3.8 Masa Pajak, Masa Pajak terutang dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah a. Masa Pajak Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan oleh Walikota b. Masa Pajak Terutang Pajak yang terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pelayanan di hotel diperoleh. c. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) 1. Setiap Wajib Pajak dalam memungut Pembayaran Pajak Hotel harus mempergunakan Nota Pesanan/Bill. 2. Nota Pesanan/Bill diatas harus dicetak, diberi nomor Seri dan dipergunakan sesuai dengan Nomor Urut. 3. Nota Pesanan/Bill baru dapat dipergunakan setelah Diporporasi oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk. 4. Salinan Nota Pesanan/Bill yang sudah dipergunakan harus disimpan oleh Wajib Pajak dalam waktu setahun sebagai bukti dalam pembuatan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah. 5. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD. 6. SPTPD harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya.

18 7. SPTPD harus disampaikan kepada Walikota atau Dinas yang ditunjuk selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak. 8. Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan oleh Walikota. d. Penetapan Pajak Hotel 1. Berdasarkan SPTPD, Walikota menetapkan pajak terutang dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). 2. Apabila SKPD tidak dibayar atau dibayar tapi kurang setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD). 2.3.9 Tata Cara Pendaftaran dan Pelaporan Pajak Hotel 1. Setiap Wajib Pajak yang baru membuka usaha wajib mendaftarkan diri dan melaporkan usaha atau objek pajak dengan menggunakan Formulir Pendaftaran Wajib Pajak ke Dinas Pendapatan. 2. Formulir Pendaftaran Wajib Pajak dapat diperoleh Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan cara : mengambil sendiri ke Dinas Pendapatan, dikirim oleh Petugas Dinas Pendapatan atau mengakses situs Dinas Pendapatan. 3. Formulir Pendaftaran Wajib Pajak wajib diisi dan ditulis dengan benar, jelas dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dengan melampirkan :

19 a. Foto kopi identitas diri (KTP, SIM, Paspor) b. Foto kopi akte pendirian (untuk badan usaha) c. Surat Keterangan tempat kegiatan atau usaha dari instansi berwenang minimal Kepala Kelurahan. 4. Formulir Pendaftaran Wajib Pajak harus disampaikan ke Dinas Pendapatan Paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum usahanya diselenggarakan. 5. Wajib Pajak yang telah mendaftarkan diri dan melaporkan usahanya diberikan NPWPD. 6. Kepala Dinas Pendapatan menerbitkan NPWPD secara jabatan. 2.3.10 Tata Cara Pembayaran Pajak Hotel 1. Pembayaran Pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Walikota sesuai waktu yang ditentukan dalam Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD), Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD), Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), dan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD). 2. Apabila pembayaran pajak dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Walikota. 3. Pembayaran pajak tersebut dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah ( SSPD).

20 2.3.11 Tata Cara Penagihan Pajak Hotel 1. Surat Teguran atau Surat Pernyataan atau Surat Lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran. 2. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat Lain yang sejenis, dikeluarkan oleh Walikota atau Pejabat yang berwenang. 3. Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat Lain yang sejenis, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa. 4. Pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis. 5. Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan Surat Paksa, Pejabat yang berwenang segera menerbitkan Surat Perintah melaksanakan penyitaan. 6. Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi utang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah melaksanakan penyitaan, Pejabat yang berwenang mengajukan permintaan penetapan pelaksanaan lelang.

21 7. Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam, dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak. 8. Bentuk, jenis, dan isi formulir yang dipergunakan untuk pelaksanaan penagihan pajak ditetapkan oleh Walikota. 2.3.12 Kadaluwarsa 1. Hak untuk melakukan penagihan pajak, kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal terutangnya pajak, kecuali pabila Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan daerah. 2. Kadaluwarsa penagihan pajak tertangguh apabila : a. Diterbitkan Surat Peringatan dan Surat Paksa, atau; b. Ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung, maupun tidak langsung. 2.3.13 Ketentuan Sanksi 1. Wajib Pajak yang tidak atau kurang membayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya SKPD, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan. 2. Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) setiap bulan dari pajak yang tidak, kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu selama-lamanya 24 (dua puluh empat) bulan terhitung sejak saat terutangnya pajak apabila melakukan pelanggaran :

22 a. tidak atau kurang bayar pajak setelah dilakukan pemeriksaan atau adanya keterangan lain; b. tidak menyampaikan SPTPD dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan telah ditegur secara tertulis. 3. Wajib Pajak yang tidak melakukan pengisian SPTPD, pajak terutangnya dihitung secara jabatan, dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak, dan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari pajak yang tidak, kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu selama-lamanya 24 (dua puluh empat) bulan terhitung sejak saat terutangnya pajak. 4. Wajib Pajak yang tidak dikenakan sanksi administrasi, apabila melaporkan sendiri adanya kekurangan pajak terutang sebelum dilakukan tindak pemeriksaan. 2.3.14 Keberatan dan Banding 1. Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk atas suatu : a. SKPD b. SKPDKB c. SKPDKBT d. SKPDLB e. SKPDN

23 2. Permohonan keberatan harus disampaikan secara tetulis dalam Bahasa Indonesia paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, dan SKPDN diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya; 3. Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dalam waktu jangka paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat permohonan keberatan diterima, harus sudah memberikan keputusan; 4. Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan, Walikota atau Pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan; 5. Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak; 6. Wajib Pajak dapat mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan keberatan; 7. Pengajuan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak; 8. Apabila pengajuan keberatan atau banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

24 2.3.15 Pengurangan, Keringanan, dan Pembebasan Pajak Hotel 1. Walikota berdasarkan permohonan Wajib Pajak dapat memberikan pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak. 2. Tata cara pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak ditetapkan oleh Walikota.