BAB 1 : PENDAHULUAN. Anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah gizi, terutama

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 : PENDAHULUAN. tidak dapat ditanggulangi dengan pendekatan medis dan pelayanan masyarakat saja. Banyak

BAB I PENDAHULUAN. keemasan, yang memiliki masa tumbuh kembangnya berbagai organ tubuh. Bila

BAB 1 PENDAHULUAN. utama, pertama asupan makanan dan utilisasi biologik zat gizi (Savitri, 2005).

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Stunting merupakan salah satu indikator masalah gizi yang menjadi fokus

BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat terpenuhi. Namun masalah gizi bukan hanya berdampak pada

World Hunger Organization (WHO), terdapat empat jenis masalah kekurangan. Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) dan Gangguan Akibat

BAB 1 PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu masalah utama dalam tatanan kependudukan dunia.

BAB I PENDAHULUAN. energi protein (KEP), gangguan akibat kekurangan yodium. berlanjut hingga dewasa, sehingga tidak mampu tumbuh dan berkembang secara

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kesempatan Indonesia untuk memperoleh bonus demografi semakin terbuka dan bisa

BAB I PENDAHULUAN. balita yang cerdas. Anak balita salah satu golongan umur yang rawan. masa yang kritis, karena pada saat itu merupakan masa emas

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan. tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia.

BAB 1 PENDAHULUAN. Tantangan utama dalam pembangunan suatu bangsa adalah membangun

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. MDGs lainnya, seperti angka kematian anak dan akses terhadap pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Gizi merupakan faktor penting untuk mewujudkan manusia Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. memasuki era globalisasi karena harus bersaing dengan negara-negara lain dalam

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang sangat pesat, yaitu pertumbuhan fisik, perkembangan mental,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Gizi merupakan salah satu unsur penting sebagai penentu dalam peningkatan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan

BAB 1 PENDAHULUAN. yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Hadi, 2005). bangsa bagi pembangunan yang berkesinambungan (sustainable

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya paling besar mengalami masalah gizi. Secara umum di Indonesia

PENDAHULUAN. Setiap manusia mengalami siklus kehidupan mulai dari dalam. kandungan (janin), berkembang menjadi bayi, tumbuh menjadi anak,

1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. (United Nations Developments Program), Indonesia menempati urutan ke 111

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu riset menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena

BAB 1 PENDAHULUAN. cerdas dan produktif. Indikatornya adalah manusia yang mampu hidup lebih lama

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Salah satu penentu kualitas sumber daya manusia adalah gizi seimbang. Kekurangan

Status Gizi. Sumber: Hasil PSG Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut United Nations International

BAB I PENDAHULUAN. fisik. Pertumbuhan anak pada usia balita sangat pesat sehingga memerlukan

BAB 1 : PENDAHULUAN. Millenuim Development Goals (MDGs) adalah status gizi (SDKI, 2012). Status

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan zat gizi yang jumlahnya lebih banyak dengan kualitas tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. Masalah gizi kurang masih tersebar luas di negara-negara. berkembang termasuk di Indonesia, masalah yang timbul akibat asupan gizi

BAB I PENDAHULUAN. tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen

BAB 1 : PENDAHULUAN. dalam jumlah yang tepat dan berkualitas baik. lingkungan kotor sehingga mudah terinfeksi berbagai penyakit.

BAB 1 PENDAHULUAN. yang berkualitas. Dukungan gizi yang memenuhi kebutuhan sangat berarti

BAB I PENDAHULUAN. Motorik halus adalah pergerakan yang melibatkan otot-otot halus pada tangan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia sangat dipengaruhi oleh rendahnya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. SDKI tahun 2007 yaitu 228 kematian per kelahiran hidup. (1)

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan salah satunya adalah penyakit infeksi. Masa balita juga merupakan masa kritis bagi

BAB I PENDAHULUAN. rawan terhadap masalah gizi. Anak balita mengalami pertumbuhan dan. perkembangan yang pesat sehingga membutuhkan suplai makanan dan

BAB 1 : PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat ( Public Health Problem) adalah anemia gizi.

BAB 1 : PENDAHULUAN. keadaan gizi : contohnya gizi baik, gizi buruk, gizi kurang ataupun gizi lebih. Untuk dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas dan produktif. Untuk

1

BAB I PENDAHULUAN. mikro disebabkan karena kurangnya asupan vitamin dan mineral essensial

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang kekurangan gizi dengan indeks BB/U kecil dari -2 SD dan kelebihan gizi yang

BAB I PENDAHULUAN. Masa balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang berusia antara satu sampai lima tahun. Masa periode di usia ini, balita

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Anak usia bawah lima tahun (balita) adalah anak yang berusia 0 59 bulan.

BAB 1 : PENDAHULUAN. diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. (1) anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya serta dapat menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. apabila prasyarat keadaan gizi yang baik terpenuhi. Masalah gizi yang sering

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan suatu negara. Berdasarkan target Millenium Development Goals

BAB I PENDAHULUAN. Status gizi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan

3. plasebo, durasi 6 bln KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB 1 PENDAHULUAN. anak di negara sedang berkembang. Menurut WHO (2009) diare adalah suatu keadaan

BAB I PENDAHULUAN. Masalah gizi khususnya balita stunting dapat menghambat proses

BAB 1 PENDAHULUAN. Kasus gizi buruk masih menjadi masalah dibeberapa negara. Tercatat satu

Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Status gizi merupakan indikator dalam menentukan derajat kesehatan bayi dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. ganda yaitu masalah kurang gizi dan gizi lebih. Kurang energi protein (KEP) pada

BAB 1 PENDAHULUAN. faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan, karena masa balita

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS KESEHATAN KOTA UPTD PUSKESMAS SEMEMI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 adalah mengumpulkan. dan menganalisis data indikator MDG s kesehatan dan faktor yang

BAB I PENDAHULUAN. maupun sanitasi lingkungan yang buruk, maka akan menyebabkan timbulnya

BAB I PENDAHULUAN. pendek atau stunting. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik berupa

BAB 1 PENDAHULUAN. khususnya di berbagai negara berkembang (WHO, 2004). The United Nations

BAB I PENDAHULUAN. Selama usia sekolah, pertumbuhan tetap terjadi walau tidak secepat

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) tahun 2010 menyebutkan

BAB I PENDAHULUAN. cukup makan, maka akan terjadi konsekuensi fungsional. Tiga konsekuensi yang

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas Sumber Daya Manusia. (SDM), karena keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat yang utama khususnya di Indonesia. Kondisi balita kurang

BAB I PENDAHULUAN. angka kesakitan dan kematian anak, United Nation Children Fund (UNICEF) dan

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat pendek hingga melampaui -2 SD di bawah median panjang berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN atau 45% dari total jumlah kematian balita (WHO, 2013). UNICEF

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan kecerdasan anak. Pembentukan kecerdasan pada masa usia

BAB I PENDAHULUAN. Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi 20%, maupun target

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia masih memerlukan perhatian yang lebih terhadap persoalan

GAMBARAN KARAKTERISTIK KELUARGA BALITA PENDERITA GIZI BURUK DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan pertama dan utama bagi bayi adalah air susu ibu (ASI). Air susu ibu sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia meningkat dengan pesat dalam 4 dekade

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Almatsier (2002), zat gizi (nutrients) adalah ikatan kimia yang

BAB I PENDAHULUAN. terjadi sangat pesat. Pada masa ini balita membutuhkan asupan zat gizi yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini

BAB I PENDAHULUAN. digantikan oleh apapun juga. Pemberian ASI ikut memegang peranan dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sehari-hari. Makanan atau zat gizi merupakan salah satu penentu kualitas kinerja

Transkripsi:

BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah gizi, terutama masalah kekurangan gizi seperti kurus, pendek, dan gizi kurang. Kurang gizi pada anak juga mempengaruhi kemampuan kognitif dan kecerdasan anak, serta juga menyebabkan rendahnya produktivitas anak. (1) Status gizi balita dapat mempengaruhi beberapa aspek. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurang gizi membawa dampak negatif pada balita, seperti mengganggu pertumbuhan fisik maupun mental, yang dapat menghambat prestasi belajar. (2) Dampak lainnya yang ditimbulkan yaitu penurunan daya tahan, menyebabkan hilangnya masa hidup sehat balita, serta meningkatkan angka kesakitan, kecacatan, hingga angka kematian pada balita. (3) Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2016, sekitar 45% kematian pada anak balita di dunia berhubungan dengan gizi kurang dan sekitar 17 juta anak balita sangat kurus serta 52 juta anak balita kurus. Berdasarkan data Survei Diet Total (SDT) tahun 2014, sebanyak 55,7% balita mempunyai asupan energi yang kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE). Kurangnya asupan anak merupakan salah satu penyebab kurang gizi. (4) Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Indonesia masih memiliki masalah kurang gizi. Prevalensi gizi kurang pada balita pada tahun 2007 yaitu 18,4%, turun menjadi 17,9% pada tahun 2010, dan kembali naik pada tahun 2013 menjadi 19,6%. Di Indonesia, terdapat 18 provinsi dengan prevalensi gizi kurang diatas angka prevalensi nasional, yaitu Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan prevalensi paling tinggi yaitu 33,1% dan Papua Barat sebesar 32%, sedangkan Sumatera Barat pada urutan ke 18

yaitu sekitar 22%. Sedangkan prevalensi balita kurus berdasarkan riskesdas tahun 2007 yaitu 13,6% dan 13,3% dan menurun pada tahun 2013 yaitu 12,1%. (5) Berdasarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Sumatera Barat, prevalensi gizi kurang pada tahun 2015 yaitu 17,3% dan menurun pada tahun 2016 menjadi 16%. Sedangkan prevalensi balita kurus pada tahun 2015 yaitu 9,6% dan 8,9% pada tahun 2016. (5-7) Berdasarkan data tersebut, prevalensi kurang gizi masih mengalami naik-turun akan tetapi masih bermasalah. (8) Berdasarkan teori United Nations Children s Fund (UNICEF), penyebab langsung kurang gizi yaitu asupan makanan yang tidak seimbang dan penyakit infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung kurang gizi yaitu persediaan pangan yang tidak cukup, pola asuh yang kurang baik, pelayanan kesehatan yang tidak memadai, dan sanitasi yang kurang baik. Penyebab utama kurang gizi yaitu kemiskinan, pendapatan, kurang pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan. Akar masalah untuk kurang gizi yaitu krisis ekonomi, politik, dan sosial. (9) Salah satu program pemerintah untuk menanggulangi masalah kurang gizi di Indonesia yaitu dengan cara pemberian makanan tambahan. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) adalah program intervensi bagi balita yang menderita gizi kurang yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi anak dan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi anak agar tercapai (2, 10) status gizi dengan kondisi yang baik sesuai dengan umur anak. Makanan untuk pemulihan gizi adalah makanan pada energi yang diperkaya dengan vitamin dan mineral yang diberikan kepada balita yang menderita gizi kurang selama masa pemulihan. (4) Makanan tambahan yang diberikan kepada anak terutama di negara berkembang sebaiknya harus difortifikasi dengan zat gizi mikro seperti zat besi, kalsium, dan zink. Penatalaksanaan diet merupakan cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang pada balita oleh pemerintah dengan PMT selama 90-120 hari. PMT Pemulihan hanya sebagai makanan

tambahan, bukan dikonsumsi sebagai pengganti makanan utama sehari-hari bagi balita usia 6-59 bulan. (4) PMT Pemulihan adalah suplementasi gizi dalam bentuk makanan tambahan dengan formulasi khusus dan difortifikasi dengan vitamin dan mineral yang diperuntukkan bagi kelompok sasaran sebagai tambahan makanan untuk pemulihan status gizi. (11) Menurut Kemenkes, sasaran program PMT adalah anak dengan status gizi Bawah Garis Merah (BGM) (4, 11) dan balita dari keluarga miskin. Distribusi PMT-P untuk balita gizi kurang di Indonesia yaitu sebesar 62,8%. Kemenkes telah mendistribusikan 2014,1 ton PMT kepada 186.481 balita pada tahun 2015, 5.554,7 ton untuk 514.320 balita pada tahun 2016, dan hingga akhir semester I tahun 2017 sebanyak 2.225,1 ton telah didistribusikan untuk 206.033 balita di Indonesia. (12, 13) Untuk provinsi Sumatera Barat, prevalensi balita yang mendapatkan PMT yaitu 18%. (6) Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan gizi pada balita yang ada di Indonesia hanya diintervensi dengan satu terapi, yaitu PMT berupa biskuit dan susu formula. Kota Padang Panjang memiliki 4 puskesmas, yaitu Puskesmas Kebun Sikolos, Puskesmas Bukit Surungan, Puskesmas Koto Katik, dan Puskesmas Gunung. (14) Kota Padang Panjang tidak termasuk dalam kota dengan angka gizi kurang tertinggi di Provinsi Sumatera Barat, akan tetapi masih bermasalah. Menurut data Pemantauan Status Gizi (PSG) Kota Padang Panjang pada tahun 2016 ke 2017, prevalensi balita kurus yaitu dari 4,7% menjadi 4%. Sedangkan prevalensi balita dengan gizi kurang yaitu 11,8% menjadi 11,7%. Prevalensi balita kurus dan balita gizi kurang berdasarkan kecamatan, kecamatan Padang Panjang Barat memliki prevalensi balita kurus 4,7% dan balita gizi kurang 12,8% pada tahun 2017. Sedangkan kecamatan Padang Panjang Timur memiliki prevalensi balita kurus 2,8% dan balita gizi kurang 9,6%. Berdasarkan data tersebut, kecamatan Padang Panjang Barat memiliki angka kurang gizi lebih tinggi dibanding Kecamatan Padang Panjang Timur. (14)

Kecamatan Padang Panjang Barat memiliki 2 wilayah kerja puskesmas, yaitu Puskesmas Kebun Sikolos dan Puskesmas Bukit Surungan. Prevalensi balita kurus di Puskesmas Kebun Sikolos mengalami penurunan dari tahun 2016 ke 2017, yaitu balita kurus 7,1% menjadi 4,6%. Prevalensi balita gizi kurang juga mengalami penurunan yaitu dari 14,9% menjadi 12,9%. Prevalensi balita kurus di Puskesmas Bukit Surungan pada tahun 2016 ke 2017 yaitu 6,4% menjadi 5,1%. Sedangkan untuk prevalensi balita gizi kurang yaitu 11,4% menjadi 12,6%. (14) Hal ini menunjukkan bahwa penurunan prevalensi balita kurus dan gizi kurang di Puskesmas Bukit Surungan tidak terlalu signifikan. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan penanggungjawab program PMT-P Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang, terdapat masalah kurang gizi pada setiap wilayah kerja puskesmas. Akan tetapi, di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan masih terdapat kendala dalam pelaksanaan program PMT-P untuk menurunkan angka kurang gizi. Penyebab masih sulitnya masalah kurang gizi ditanggulangi di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan belum dapat diketahui secara pasti, karena kurangnya pemantauan atau karena masih kurangnya peran serta orangtua dalam meningkatkan status gizi anak. PMT yang diberikan yaitu berupa biskuit dan susu formula. Meskipun seharusnya yang diberikan adalah bahan makanan mentah berupa makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh anak, akan tetapi di Kota Padang Panjang masih belum ada yang memberikan PMT-P selain yang diperoleh dari pusat. Menurut hasil penelitian Lina Handayani tahun 2008, program PMT yang dilakukan di Puskesmas Mungkid Magelang berjalan dengan baik, akan tetapi pada evaluasi output balita mengalami perubahan status gizi meskipun gizi kurang di daerah tersebut masih banyak. (2) Hasil penelitian Bening Tyas Arum Sari Dewi di kota Surabaya menunjukkan bahwa dari 59 responden, 77,9% memiliki kesehatan yang baik setelah mendapatkan PMT, 78,8% balita mengalami peningkatan tinggi badan, dan 72,4% balita mengalami peningkatan berat badan.

Kategori alat penunjang atau sarana pelaksanaan kegiatan PMT yaitu berupa meja, kursi, timbangan, dan pengukur tinggi badan memiliki persentase 72,8% yang termasuk kedalam kategori baik. (15) Menurut beberapa penelitian lainnya, program PMT-P sudah berjalan (1, 16) dengan baik akan tetapi pada output masalah gizi kurang masih banyak. Pemberian makanan tambahan pemulihan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menanggulangi masalah gizi kurang termasuk di Kota Padang Panjang. Berdasarkan survei awal di Puskesmas Bukit Surungan masih banyak ditemukan PMT-P yang tersisa dan belum didistribusikan. Sedangkan, diakhir tahun 2017, Pemerintah Pusat kembali mendistribusikan PMT-P untuk tahun 2018. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait PMT-P sebagai salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi kurang melalui evaluasi program untuk mengetahui pelaksanaan program PMT-P di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan Kota Padang Panjang tahun 2017. 1.2 Perumusan Masalah Bagaimana pelaksanaan program pemberian makanan tambahan pemulihan terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan kota Padang Panjang tahun 2017? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui evaluasi pelaksanaan program pemberian makanan tambahan pemulihan terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan kota Padang Panjang tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk menganalisis komponen input (kebijakan, sumber daya manusia, dana, metode, sarana/prasarana) dari program PMT-P di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan Kota Padang Panjang. 2. Untuk menganalisis komponen proses (perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pemantauan) dari program PMT-P di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan Kota Padang Panjang. 3. Untuk menganalisis komponen output (mempertahankan dan meningkatkan status gizi balita) dari program PMT-P di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan Kota Padang Panjang. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis 1. Bagi Fakultas Kesehatan masyarakat untuk memperkaya literatur tentang status gizi balita dan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P). 2. Untuk menambah pengetahuan peneliti dalam memahami kaitan dan gambaran program pemberian makanan tambahan pemulihan. 3. Sebagai bahan tambahan referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan PMT-P dan status gizi balita. 1.4.2 Manfaat Praktis 1. Bagi Dinas Kesehatan Diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan bagi pemegang program gizi masyarakat, khususnya mengenai program PMT-P terhadap status gizi balita di Puskesmas Bukit Surungan tahun 2018. Sehingga pengambil keputusan dapat menyusun rencana strategis yang tepat. 2. Bagi Puskesmas

Diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan masukan bagi pemegang program PMT-P bagi balita di Puskesmas Bukit Surungan tahun 2018. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan teknik wawancara mendalam dengan pihak yang terlibat dalam program PMT-P di wilayah kerja Puskesmas Bukit Surungan Kota Padang Panjang. Penelitian ini dilakukan untuk melihat evaluasi program pemberian makanan tambahan pemulihan terhadap status gizi balita di wilayah kerja puskesmas Bukit Surungan kota Padang Panjang tahun 2017 dilihat dari input, proses, dan output program PMT, serta dengan melakukan telaah dokumen dan observasi pada pelaksanaan program pemberian makanan tambahan pemulihan.