Lex Crimen Vol. VII/No. 2 /April/2018
|
|
|
- Djaja Susman
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PERINTAH JABATAN YANG DIBERIKAN OLEH PENGUASA YANG BERWENANG SEBAGAI ALASAN PEMBENAR MENURUT PASAL 51 AYAT (1) KUHP (KAJIAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 181 K/KR/1959) 1 Oleh: Vaya G. S. Monginsidi 2 Dosen Pembimbing: Roy R. Lembong, SH, MH; Fonny Tawas, SH, MH ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaturan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang sebagai suatu alasan pembenar menurut Pasal 51 ayat (1) KUHP dan bagaimana penerapan perintah jabatan menurut Pasal 51 ayat (1) KUHP dalam putusan pengadilan. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, disimpulkan: 1. Pengaturan perintah jabatan (ambtelijk bevel) yang diberikan oleh penguasa yang berwenang (bevoegde gezag) dalam Pasal 51 ayat (1) KUHP, yaitu pemberi perintah harus memiliki suatu jabatan negeri, bukan jabatan swasta, yang untuk sekarang berdasarkan Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara ditambah perluasannya menurut Paasl 92 KUHP, dan perintah tersebut memang merupakan wewenang dari pemberi perintah yang bersangkutan. 2.Penerapan perintah jabatan dalam putusan Mahkamah Agung Nomor 181 K/Kr/1959, tanggal , yaitu berupa penegasan bahwa perintah dari pimpinan suatu pemberontakan bukanlah perintah yang diberikan oleh penguasa (pembesar) yang berwenang menurut hukum Indonesia. Kata kunci: Perintah Jabatan,Penguasa Yang Berwenang, Alasan Pembenar. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang digunakan sekarang ini merupakan kodifikasi hukum pidana peninggalan masa pemerintahan Hindia Belanda yang pertama kali diundangkan dalam Staatsblad 1915 No. 1 Artikel Skripsi. 2 Mahasiswa pada Fakultas Hukum Unsrat, NIM dengan nama Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie, yang mulai berlaku sejak 1 Januari Berdasarkan ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang menyatakan bahwa segala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku sebelum diadakan peraturan yang baru menurut UUD ini, maka WvS voor Nederlands Indie tersebut masih tetap berlaku setelah Indonesia merdeka. Hal ini kemudian diperkuat dengan dibuatnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, yang dalam Pasal 6 memebrikan ketentuan bahwa, (1) Nama Undang-undang hukum pidana "Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsh-Indie" dirobah menjadi "Wetboek van Strafrecht". (2) Undang-undang tersebut dapat disebut: Kitab Undang-undang hukum pidana". 4 Jadi, secara resmi nama kodifikasi hukum pidana tersebut telah diubah dari Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie menjadi Wetboek van Strafreht atau dapat disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. KUHP tersebut memuat himpunan tindaktindak pidana mulai dari tindak pidana yang berat sampai tindak pidana yang ringan. Tindak pidana yang berat, seperti pembunuhan dengan rencana, yang tercantum dalam Pasal 340 KUHP yang mengancamkan pidana terhadap barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, 5 yang ancamannya pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun, sampai pada tindak pidana yang ringan seperti Pasal 503 ke 1 KUHP yang mengancamkan pidana terhadap barang siapa membikin ingar atau riuh, sehingga ketenteraman malam hari dapat terganggu, 6 dengan ancaman kurungan paling lama 3 hari atau denda paling banyak Rp225,00 (dua ratus dua puluh lima rupiah). Tindaktindak pidana yang umumnya dipandang berat, 3 I Made Widnyana, Asas-asas Hukum Pidana. Buku Panduan Mahasiswa, Fikahati Aneska, Jakarta, 2010, hlm. 5 4 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (Berita Negara Republik Indonesia II Nomor 9). 5 Tim Penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Sinar Harapan, Jakarta, 1983, hlm Ibid., hlm
2 diletakkan dalam Buku II tentang Kejahatankejahatan (Misdrijven), sedangkan tindaktindak pidana yang umumnya dipandang diletakkan dalam Buku III tentang Pelanggaranpelanggaran (Overtredingen). Walaupun telah ada rumusan-rumusan berupa perbuatan-perbuatan yang diancamkan dengan pidana, tetapi pembentuk KUHP juga menentukan adanya keadaan-keadaan tertentu di mana sekalipun perbuatan seseorang telah sesuai atau cocok dengan rumusan tindak pidana, tetapi ia tidak dapat dipidana. Ini dikenal sebagai alasan-alasan penghapus pidana. Sebagian dari alasan-alasan penghapus pidana telah diletakkan dalam Buku I tentang Aturan Umum pada Bab III yang berkepala Halhal Yang Menghapuskan, Menguangi atau Memberatkan Pidana. Alasan-alasan penghapus pidana dalam Buku I Bab III ini terdiri atas: gangguan jiwa (Pasal 44), daya paksa (Pasal 48), pembelaan terpaksa (Pasal 49 ayat (1)), pembelaan yang melampaui batas (Pasal 49 ayat (2)), melaksanakan ketentuan undang-undang (Pasal 50), perintah jabatan (Pasal 51 ayat (2), dan perintah jabatan yang tanpa wenang. 7 Pasal 51 ayat (1) KUHP memebrikan ketentuan bahwa, barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yan berwenang, tidak dipidana. 8 Alasan penghapus pidana ini oleh Moeljatno dipandang sebagai salah satu contoh dari alasan pembenar (rechtsvaardigingsgrond). 9 Dalam kenyataan, banyak terdakwa yang mengajukan dalih bahwa perbuatan yang dilakukannya itu merupakan pelaksanaan dari perintah yang diberikan oleh penguasa/pejabat yang berwenang, atau perintah dari atasan, sehingga merupakan perintah jabatan dalam arti Pasal 51 ayat (1) KUHP. Tetapi, banyak dalih seperti ini yang tidak diterima oleh pengadilan sehingga terdakwa tetap dijatuhi pidana. Kenyataan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang pengaturan secara normative dari ketentuan Pasal 51 ayat (1) KUHP, juga pertanyaan tentang praktik pengadilan berkenaan dengan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa/pejabat yang berwenang tersebut yang untuk itu pembahasan akan dilakukan terhadap suatu putusan Mahkamah Agung, yaitu putusan Mahkamah Agung Nomor 181 K/Kr/1959, tanggal Putusan ini sekalipun merupakan putusan yang telah cukup lama, tetapi isinya masih tetap relevan untuk masa sekarang ini. Karenanya, masalah ini dapat dipandang sebagai hal yang urgen untuk dilakukan pembahasan. Dengan latar belakang sebagaimana dikemukakan sebelumnya, maka dalam rangka penulisan skripsi pokok tersebut telah dipilih untuk dibahas di bawah judul Perintah Jabatan Yang Diberikan oleh Penguasa Yang Berwenang Sebagai Alasan Pembenar menurut Pasal 51 ayat (1) KUHP (Kajian Putusan Mahkamah Agung Nomor 181 K/Kr/1959). B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengaturan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang sebagai suatu alasan pembenar menurut Pasal 51 ayat (1) KUHP? 2. Bagaimana penerapan perintah jabatan menurut Pasal 51 ayat (1) KUHP dalam putusan pengadilan? C. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang dikenal sebagai penelitian hukum normatif. PEMBAHASAN A. Perintah Jabatan Yang Diberikan Oleh Penguasa Yang Berwenang dalam Pasal 51 Ayat (1) KUHP KUHP yang sampai sekarang berlaku di Indonesia, pada dasarnya masih kodifikasi peninggalan Pemerintah Belanda (Wetboek van Strafrecht, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 juncto Staatsblad ) dengan sejumlah perubahan, pencabutan dan penambahan. Oleh karenanya, sebagian terbesar teks resminya masih dalam Bahasa Belanda. Pasal 51 ayat (1) KUHP dalam teks asli dan resminya menentukan bahwa, Niet strafbaar is hij die een feit begat ter uitvoering 7 Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, cet.2, Bina Aksara, Jakarta, 1984, hlm Tim Penerjemah BPHN, Op.cit., hlm Moeljatno, Loc.cit. 36
3 van een ambtelijk bevel, gegevan door het daartoe bevoegde gezag. 10 Untuk memberikan kemudahan dalam mempelajari KUHP sejumlah ahli hukum pidana Indoensia telah membuat terjemahanterjemahan KUHP. Terjemahan yang telah dibuat, antara lain oleh Tim Penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Pasal 51 ayat (1) KUHP, menurut terjemahan Tim Penerjemah BPHN, berbunyi sebagai berikut, Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana. 11 R. Soesilo menerjemahkan Pasal 51 ayat (1) KUHP, Barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang berhak akan itu, tidak boleh dihukum. 12 Dari dua terjemahan tersebut dapat dilihat bahwa istilah ambtelijk bevel diterjemahkan oleh dua terjemahan tersebut sebagai perintah jabatan, sedangkan bevoegde gezag diterjemahan oleh Tim Penerjemah BPHN sebagai penguasa yang berwenang dan oleh R. Soesilo diterjemahkan sebagai kuasa yang berhak. Dalam Pasal 51 ayat (1) KUHP ini dirumuskan suatu alasan penghapus pidana yang berdasarkan pada pelaksanaan perintah jabatan (Bld.: ambtelijk bevel), khususnya perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang / kuasa yang berhak. Contohnya, seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (polri) diperintah oleh atasannya seorang Penyidik Polri dengan menerbitkan suatu Surat Perintah Penangkapan untuk menangkap seorang yang telah melakukan kejahatan. Pada hakikatnya polisi ini merampas kemerdekaan seorang lain, akan tetapi karena penangkapan itu dilaksanakan berdasarkan suatu perintah yang sah, maka polisi bersangkutan tidak dapat dipidana. Menurut R. Soesilo, syarat pertama yang disebutkand alam pasal ini yaitu orang itu melakukan perbuatan atas suatu perintah jabatan. Antara pemberi perintah dengan orang 10 W.A. Engelbrecht dan E.M.L. Engelbrecht, Kitab2 Undang2, Undang2 dan Peraturan2 Sert Undang2 Dasar Sementara Republik Indonesia, A.W. Sijthoff s Uitgeversmij, Leiden, 1956, hlm Tim Penerjemah BPHN, Op.cit., hlm R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 1991, hlm. 67. yang diperintah harus ada hubungan yang bersifat kepegawaian negeri, bukan pegawai partikulir (swasta). Tidak perlu bahwa orang yang diberi perintah harus bawahan dari yang memerintah. Mungkin sama pangkat tetapi yang perlu ialah antara yang diperintah dengan yang memberi perintah ada kewajiban untuk mentaati perintah itu. Syarat kedua yaitu perintah harus diberikan oleh kuasa yang berhak untuk memberi perintah perintah itu. Jika kuasa tersebut tidak berhak untuk itu, maka orang yang menjalan perintah tadi tetap dapat dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya, kecuali sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP. 13 Perintah jabatan (ambtelijk bevel) berkaitan erat dengan perintah yang diberikan oleh seorang pejabat atau pegawai negeri (Bld.: ambtenaar). Apakah yang dimaksudkan dengan istilah pejabat? KUHP tidak memberikan perumusan tentang apa yang dimaksudkan dengan pejabat (ambtenaar). Dalam Pasal 92 KUHP hanya dikemukakan suatu rumusan yang merupakan perluasan dari arti pejabat. Pasal 92 ayat (1) KUHP menentukan bahwa yang disebut pejabat, termasuk juga: a. orang-orang yang dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturanaturan umum, begitu juga orang-orang yang bukan karena pemilihan, menjadi anggota badan pembentuk undangundang, badan pemerintahan, atau badan perwakilan rakyat, yang dibentuk oleh pemerintah atau atas nama pemerintah; b. begitu juga semua anggota dewan subak, dan semua kepala rakyat Indonesia asli dan kepala golongan Timur Asing, yang menjalankan kekuasaan yang sah. Selanjutnya, dalam Pasal 92 ayat (2) KUHP ditentukan bahwa yang disebut pejabat dan hakim termasuk juga hakim wasit; yang disebut hakim termasuk juga orang-orang yang menjalankan peradilanadministratif, serta ketia-ketua dan anggota-anggota pengadilan agama. Kemudian menurut Pasal 92 ayat (3) KUHP, semua anggota Angkata Perang juga dianggap sebagai pejabat. 13 Ibid. 37
4 Karena KUHP tidak memberikan suatu tafsiran otentik tentang apa yang dimaksudkan dengan pejabat, maka Hoge Raad (Mahkamah Agung Negara Belanda) telah memberikan pertimbangannya bahwa yang dimaksudkan dengan pejabat adalah setiap orang yang diangkat oleh pemerintah dan diberi tugas, yang merupakan sebagian dari tugas pemerintah, dan yang melakukan pekerjaan yang bersifat atau untuk umum. 14 Di Indonesia, semula pegawai negeri diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, tetapi sekarang undang-udnang ini sudah digantikan oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Dalam Undang- Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) ini dikenal istilah Pegawai Aparatur Sipil Negara. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang ASN diberikan bataan pengertian sebagai berikut, Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. 15 Pengertian Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi pengertian pokok untuk istilah ambtenaar (pejabat) sedangkan perluasan pengertiannya untuk KUHP dapat ditemukan dalam Pasal 92 KUHP yang terletak dalam Buku I Bab IX tentang Arti Bebrapa Istilah Yang Dipakai Dalam Kitab Undang-Undang. Apakah antara yang memberi perintah dan yang diperintah harus ada hubungan atasanbawahan dan yang diperintah harus juga seorang pejabat (pegawai negeri)? Hoge Raad (Mahkamah Agung Negara Belanda) dalam putusannya tanggal 21 Mei 1918 memberikan pertimbangan bahwa, di sini tidak hanya dimaksudkan sifat membawah dalam jabatan, akan tetapi setiap kewajiban untuk patuh dari 14 Anonim, Hukum Pidana. Kumpulan Kuliah Prof. Satochid Kartanegara, dan Pendapat-pendapat Para Ahli Hukum Terkemuka, Bagian Satu, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta, tanpa tahun, hlm Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipuil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494). penduduk terhadap perintah-perintah dari organ-organ dari kekuasaan negara. 16 Dengan demikian menurut putusan Hoge Raad ini, untuk perintah jabatan tidak perlu aa hubungan atasan-bawahan antara yang memberi perintah dan yang diperintah. Setiap penduduk memiliki kewajiban hukum untuk mentaati perintah dari pejabat dan ini menjadi alasan openghapus pidana bagi yang diperintah. Yang penting yang memberi perintah aalah seorang pejabat. Mengenai apakah suatu perintah merupakan perintah yang sah atau tidak, menurut Satochid Kartanegara harus ditinjau dari sudut undang-undang yang mengatur kekuasaan pegawai negeri itu, sebab untuk tiap pegawai negeri ada peraturannya sendiri. 17 Di samping itu cara melaksanakan perintah tersebut harus juga seimbang, patut dan tidak boleh melampaui batas-batas keputusan perintah. 18 Satochid Kartanegara memberikan contoh mengenai seorang polisi yang diperintah oleh atasannya untuk menangkap seorang yang telah melakukan suatu kejahatan. Dalam melaksanakan perintah itu, cukup ia menangkapnya dan membawanya, tidak diperkenankan untuk memukulnya, dan sebagainya. 19 Dengan demikian, menjalankan perintah secara berlebihan, misalnya diberi perintah untuk menangkap orang tetapi yang diperintah melakukan penangkapan dengan memberikan pukulan dan tendangan yang tidak diperlukan karena yang ditangkap tidak melakukan perlawanan. Para penulis hukum pidana sepakat bahwa perintah jabatan yang diatur dalam Pasal 51 ayat (1) KUHP merupakan suatu alasan pembenar (rechtsvaardigingsgrond). 20 Dengan demikian semua orang yang turut membantu orang yang diperintah itu juga tidak dapat dihukum karena perbuatan menurut perintah jabatan itu merupakan perbuatan yang benar. Berkenaan dengan substansi dari perintah jabatan (ambtelijk bevel) sebagai suatu alasan penghapus pidana, penting dikemukakan pendapat Moeljatno yang menulis bahwa, 16 P.A.F. Lamintang dan C.D. Samosir, Op.cit., hlm Anonim, Op.cit., hlm Ibid., hlm Ibid., hlm Moeljatno, Op.cit., hlm. 138, 38
5 gagasan penting yaitu bahwa tidak tiaptiap pelaksanaan perintah jabatan melepaskan orang yang diperintah dari tanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan. Dengan lain kata, di situ termaktub pengutukan daripada apa yang dinamakan: disiplin bangkai (kadaver disiplin). Pemerintah kita mengutuk orang yang secara membuta tanpa dipikir-pikir lebih dahulu, menjalankan begitu saja perintah dari atasannya. Pemerintah kita seyogyanya jangan terdiri dari pejabatpejabat yang hanya bisa bilang: sendiko, semuhun dawuh atau yes-man saja. 21 Oleh Moeljatno dikemukakan bahwa kita tidak dapat menerima apa yang dinamakan disiplin bangkai. Suatu perintah tidak boleh langsung dijalankan, melainkan harus dipikirkan terlebih dahulu jika dirasakan benar-benar bertentangan dengan hukum dan kemanusiaan. Untuk lebih memperjelas pengertian peruintah jabatan dalam Pasal 51 ayat (1) KUHP, perlu untuk sekedarnya melihat perbandingannya dengan perintah jabatan tanpa wewenang dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP. Pasal 51 ayat (2) KUHP yang menurut Tim Penerjemah BPHN, berbunyi sebagai berikut, Perintah jabatan tanpa wewenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan wewenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya. 22 Berdasarkan rumusan pasal ini, pada dasarnya, hanya perintah jabatan yang diberikan oleh pejabat yang berwenang, jadi hanya suatu perintah jabatan yang sah sematamata, yang dapat melepaskan orang yang diperintah dari terkena sanksi pidana. Suatu perintah jabatan yang tanpa wewenang, atau suatu perintah jabatan yang tidak sah, pada dasarnya tidak dapat melepaskan orang yang diperintah dari pidana. Oleh Jan Remmelink dikatakan bahwa, Suatu perintah yang diberikan secara tidak sah tidak meniadakan sifat dapat dipidananya perbuatan, demikian bunyi bagian pertama ayat kedua Pasal 43 Sr. (Psal 51 KUHP). Ini sudah semestinya: apa yang melawan hukum tidak berubah menjadi sejalan dengan hukum sekadar karena dilakukan atas dasar suatu perintah. 23 Menurut Jan Remmelink suatu perintah yang tidak sah tidak menghapuskan pidana karena ini sudah semestinya. Apa yang melawan hukum tidak otomatis menjadi tidak melawan hokum samara-mata dengan alasan adanya sua perintah. Tetapi dalam ayat (2) dari Pasal 51 KUHP diberikan pengecualian terhadap pandangan umum itu apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Dengan kata lain, sekalipun perintah yang diberikan itu bukan bukan dari pejabat yang berwenang, dengan kata lain merupakan perintah jabatan yang tidak sah, orang yang melaksanakan perintah itu tidak akan dipidana jika memenuhi syarat-syarat tertentu. Ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1. Jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan wewenang; dan, 2. ksanaan perintah itu termasuk dalam lingkungan pekerjaan orang yang diperintah. Sebagai contoh, seorang Penyidik Polri memberi perintah kepada beberapa orang anggota Polri bawahannya, agar turut bersamasama dengannya untuk menangkap seseorang, dengan mengatakan bahwa telah ada Surat Perintah Penangkapan, padahal sebenarnya tidak ada. Para anggota Polri itu mengenal si pemberi perintah adalah atasan mereka, yang memang mereka ketahui berwenang menerbitkan Surat Perintah Penangkapan. Setelah bertemu dengan orang yang hendak ditangkap, Penyidik Poliri tersebut memerintahkan bawahannya melakukan penangkapan. Dalam hal ini telah terjadi suatu penangkapan tanpa adanya surat perintah, sedangkan penangkapan tanpa surat perintah hanya dibenarkan dalam peristiwa tertangkap tangan semata-mata. Berdasarkan ketentuan Pasal 51 ayat (2) KUHP, para anggota Polri yang melaksanakan perintah tersebut tidak dapat dipidana karena: a. dengan iktikad baik mengira perintah diberikan dengan wewenang, sebab mereka mengenal si pemberi perintah sebagai orang yang memang berwenang membuat Surat Perintah Penangkapan; 21 Ibid., hlm Tim Penerjemah BPHN, Loc.cit. 23 Jan Remmelink, Hukum Pidana, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hal
6 b. menangkap orang atas perintah pejabat penyidik adalah menjadi tugas dari para Anggota Polri. Beberapa contoh mengenai peristiwa yang tidak dapat dimasukkan ke dalam cakupan alasan penghapus pidana dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP adalah sebagai berikut: 1. Seorang pejabat polisi memerintahkan kepada polisi bawahannya untuk memukuli seorang tahanan yang berteriak-teriak. Perintah yang diberikan itu jelas perintah yang tidak sah juga perbuatan memukuli seseorang bukan termasuk dalam lingkungan pekerjaan anggota polisi Seorang pejabat polisi memerintahkan kepada polisi bawahannya untuk memungut pajak. Polisi berkewajiban menjaga keamanan dan aketertiban masyarakat. Memungut pajak bukanlah bidang tugas polisi. Apabila pejabat polisi itu diperintah untuk memungut pajak, maka perintah itu adalah tidak sah. sehingga polisi yang diperintah itu dapat dipidana jika melaksanakan perintah tersebut Mahkamah Agung dalam putusannya tanggal 27 Januari 1971 memberikan pertimbangan bahwa keberatan penuntut kasasi yang mengatakan bahwa ia merasa tidak bersalah karena sebagai anggauta Hansip ia hanya melakukan perintah dari Pamong Desa tidak dapat diterima karena perbuatan penganiayaan tidak tercakup dalam perintah atasan. 26 Perintah jabatan tanpa wewenang yang memenuhi syarat sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP, merupakan suatu alasan penghapus kesalahan atau yang oleh Moeljatno disebut alasan pemaaf (schulduitsluitingsgronden). Hal ini karena perbuatan yang diperintah tetap bersifat melawan hukum, hanya orang yang diperintah itu tidak dapat dipidana karena padanya tidak ada kesalahan. B. Penerapan Perintah Jabatan Yang Diberikan Oleh Penguasa Yang Berwenang dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 181 K/Kr/ Moeljatno, Op.cit., hlm Anonim, Op.cit., hlm P.A.F. Lamintang dan C.D. Samosir, Op.cit, hlm. 35. Kasus ini berkenaan dengan tersangka yang didakwa atas dua tindak pidana yang berdiri sendiri-sendiri, jadi merupakan dakwaan kumulatif sebagai berikut: Dakwaan Kesatu, terdakwa dalam bukan Oktober 1950 di dalam rumah korban dengan sengaja telah menghilangkan nyawa korban (Achmad Asamahu) dengan mempergunakan sebuah senjata api telah melakukan penembakan satu kali mengenai bagian pinggang perut tembus ke sebelah, yang setelah korban oleh orang-orang diantar ke rumah sakit, tidak antara lama meninggal dunia. Dakwaan Kedua, terdakwa dalam bulan November 1950 di alun-alun di muka Kantor Kepala Pemerintahan setempat, dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu telah menghilangkan nyawa korban (Abraham Malessy) di mana korban yang telah diikat kedua belah tangannya kepada sebuah tiang bendera yang diikat dengan kain putih, selanjutnya tersangka yang masih menyimpan dendam terhadap korban dengan menggunakan senjata api melakukan penembakan satu kali kena tepat pada bagian muka pada antara kedua belah mata, sehingga korban meninggal dunia. Terdakwa didakwa dengan tindak pidana dengan tindak pidana pembunuhan biasa (Pasal 338 KUHP) dan pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP). Untuk itu Pengadilan Negeri Ambon dengan putusan No. 249/1955/Pid, tanggal 23 Mei 1957, telah menjatuhkan hukuman penjara selama 7 (tujuh) tahun. Putusan Pengadilan Negeri Ambon ini telah diperbaiki oleh putusan Pengadilan Tinggi Makassar No. 22/PN/1957/Pid., tanggal 5 November 1958, dengan hukuman-hukuman penjara selama: 8 (delapan) tahun dan 10 (sepuluh) tahun. Jadi, totalnya 18 (delapan belas) tahun penjara. Terdakwa telah mengajukan permohonan kasasi di mana sebagai alasan kasasi antara lain bahwa, Soal RMS itu pertanggungjawaban yang berada di tangan pimpinan RMS, sedangkan soal pembunuhan itu dalam rangkaian perintah-perintah pimpinan RMS atau sekurang-kurangnya pada pimpinan Angkatan Perangnya. 27 Dalam alasan kasasi ini 27 Chidir Ali, Yurisprudensi Hukum Pidana Indonesia, jilid 1, Armico, Bandung, 1986, hlm
7 terdakwa menggunakan alasan dengan mendasarkan pada Pasal 51 ayat (1) KUHP bahwa tindakan-tindakannya untuk melakukan penembakan itu merupakan perintah dari pimpinan Republik Maluku Selatan (RMS) sehingga merupakan suatu perintah jabatan (ambtelijk bevel) dari atasan angkatan perangnya. Mahkamah Agung dalam putusan Nomor 181 K/Kr/1959, tanggal 9 Februari 1960, telah memberikan pertimbangan terhadap alasan kasasi tersebut bahwa, sandaran dari penuntut kasasi, seolah-olah Pasal 51 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dapat memebrikan suatu dasar pembebasan hukumannya, adalah tidak pada tempatnya, oleh karena perintah yang diberikan itu harus oleh pembesar yang berwenang untuk itu, sedangkan tidaklah demikian halnya dalam perkara ini. 28 Berdasarkan itu Mahkamah Agung telah menolak permohonan kasasi dari terdakwa. Dalam putusan ini, Mahkamah Agung telah menarik kaidah (norma) bahwa perintah dari pimpinan suatu pemberontakan, dalam hal ini perintah dari pimpinan RMS, bukanlah perintah yang diberikan oleh penguasa (pembesar) yang berwenang menurut hukum Indonesia. Dengan demikian, perintah dari pimpinan suatu pemberontakan bukanlah perintah jabatan yang diberikan penguasa (pembesar) yang berwenang dalam arti Pasal 51 ayat (1) KUHP. PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pengaturan perintah jabatan (ambtelijk bevel) yang diberikan oleh penguasa yang berwenang (bevoegde gezag) dalam Pasal 51 ayat (1) KUHP, yaitu pemberi perintah harus memiliki suatu jabatan negeri, bukan jabatan swasta, yang untuk sekarang berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara ditambah perluasannya menurut Paasl 92 KUHP, dan perintah tersebut memang merupakan wewenang dari pemberi perintah yang bersangkutan. 2. Penerapan perintah jabatan dalam putusan Mahkamah Agung Nomor Ibid., hlm K/Kr/1959, tanggal , yaitu berupa penegasan bahwa perintah dari pimpinan suatu pemberontakan bukanlah perintah yang diberikan oleh penguasa (pembesar) yang berwenang menurut hukum Indonesia. B. Saran 1. Suatu kodifikasi hukum pidana (KUHP) perlu diberikan penjelasan yang memberikan keterangan lebih lanjut tentang lingkup dari pengertian perintah jabatan dan dasar-dasar hukumnya sehingga dapat dengan tepat diterapkan oleh penegak hukum. 2. Dalam penjelasan KUHP nanti perlu diberikan penjelasan dengan memasukkan kaidah bahwa perintah dari pimpinan pemberontakan tidak termasuk ke dalam pengertian perintah jabatan yang dapat menjadi suatu alasan penghapus pidana. DAFTAR PUSTAKA Abidin, Andi Zainal, Asas-asas Hukum Pidana Bagian Pertama, Alumni, Bandung, Ali, Chidir, Yurisprudensi Hukum Pidana Indonesia, jilid 1, Armico, Bandung, Ali, Mahrus, Dasar-dasar Hukum Pidana, cet.2, Sinar Grafika, Jakarta, Anonim, Hukum Pidana. Kumpulan Kuliah Prof. Satochid Kartanegara, dan Pendapatpendapat Para Ahli Hukum Terkemuka, Bagian Satu, Balai Lektur Mahasiswa, Jakarta, tanpa tahun. Bemmelen, J.M. van, Hukum Pidana 1. Hukum Pidana Material Bagian Umum, terjemahan Hasnan, Binacipta, Engelbrecht, W.A. dan E.M.L. Engelbrecht, Kitab2 Undang2, Undang2 dan Peraturan2 Sert Undang2 Dasar Sementara Republik Indonesia, A.W. Sijthoff s Uitgeversmij, Leiden, Hamzah, Andi, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, Lamintang, P.A.F. dan C.D. Samosir, Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru, Bandung, Lamintang, P.A.F. dan F.T. Lamaintang, Dasardasar Hukum Pidana di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,
8 Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, cet.2, Bina Aksara, Jakarta, Poernomo, Bambang, Azas-azas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, cet.ke-4, Prasetyo, Teguh, Hukum Pidana, cet.4, Rajawali Pers, Jakarta, Prodjodikoro, Wirjono, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, ed.3 cet.4, Refika Aditama, Bandung, Remmelink, Jan, Hukum Pidana, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Tim Penerjemah BPHN, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Sinar Harapan, Jakarta, Utrecht, E., Hukum Pidana I, cet.2, Penerbitan Universitas, Bandung, Widnyana, I Made, Asas-asas Hukum Pidana. Buku Panduan Mahasiswa, Fikahati Aneska, Jakarta, 2010 Peraturan perundang-undangan: Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (Berita Negara Republik Indonesia II Nomor 9). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494). 42
Kata kunci: Perintah, Jabatan, Tanpa Wewenang
PERINTAH JABATAN DAN PERINTAH JABATAN TANPA WEWENANG DALAM PASAL 51 KUH PIDANA 1 Oleh : Heindra A. Sondakh 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perintah jabatan
KAJIAN TENTANG PERINTAH JABATAN YANG DIATUR PASAL 51 KUH PIDANA 1 Oleh: Ines Butarbutar 2
KAJIAN TENTANG PERINTAH JABATAN YANG DIATUR PASAL 51 KUH PIDANA 1 Oleh: Ines Butarbutar 2 ARTIKEL Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana substansi (materi pokok) dari Pasal
Lex Crimen Vol. VI/No. 7/Sep/2017
ALASAN PENGHAPUS PIDANA KHUSUS TERHADAP TINDAK PIDANA ENYEMBUNYIKAN PELAKU KEJAHATAN DAN BARANG BUKTI BERDASARKAN PASAL 221 KUH PIDANA 1 Oleh: Suanly A. Sumual 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan
Lex Crimen Vol. V/No. 5/Jul/2016
SYARAT DAN TATA CARA PEMBERIAN PEMBEBASAN BERSYARAT MENURUT UU No. 12 TAHUN 1995 TENTANG PEMASYARAKATAN DAN PERATURAN-PERATURAN PELAKSANAANNYA 1 Oleh: Benny Laos 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan
Lex Crimen Vol. V/No. 1/Jan/2016. Pangemanan, SH, MH; M.G. Nainggolan, SH, MH, DEA. 2. Mahasiswa pada Fakultas Hukum Unsrat, NIM,
DELIK PENGADUAN FITNAH PASAL 317 AYAT (1) KUH PIDANA DARI SUDUT PANDANG PASAL 108 AYAT (1) KUHAP TENTANG HAK MELAPOR/MENGADU 1 Oleh: Andrew A. R. Dully 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah
Lex Crimen Vol. VI/No. 4/Jun/2017
DELIK PERMUFAKATAN JAHAT DALAM KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DAN UNDANG-UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI 1 Oleh: Claudio A. Kermite 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
HAKIKAT DAN PROSEDUR PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA RINGAN 1 Oleh: Alvian Solar 2
HAKIKAT DAN PROSEDUR PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA RINGAN 1 Oleh: Alvian Solar 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana hakikat dari tindak pidana ringan dan bagaimana prosedur pemeriksaan
KESAKSIAN PALSU DI DEPAN PENGADILAN DAN PROSES PENANGANANNYA 1 Oleh: Gerald Majampoh 2
Lex Crimen, Vol.II/No.1/Jan-Mrt/2013 KESAKSIAN PALSU DI DEPAN PENGADILAN DAN PROSES PENANGANANNYA 1 Oleh: Gerald Majampoh 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
PENGGUNAAN KEKERASAN SECARA BERSAMA DALAM PASAL 170 DAN PASAL 358 KUHP 1 Oleh : Soterio E. M. Maudoma 2
PENGGUNAAN KEKERASAN SECARA BERSAMA DALAM PASAL 170 DAN PASAL 358 KUHP 1 Oleh : Soterio E. M. Maudoma 2 ABSTRAK Penggunaan kekerasan oleh seseorang terhadap orang lain, merupakan hal yang dilarang dalam
Lex Administratum, Vol. IV/No. 2/Feb/2016
RELEVANSI TINDAK PIDANA PELANGGARAN KETENTERAMAN RUMAH (PASAL 167 AYAT (1) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA) SEKARANG INI 1 Oleh: Ryan Rori 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
TAWURAN DARI SUDUT PASAL 170 DAN PASAL 358 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Hendy Pinatik 2
TAWURAN DARI SUDUT PASAL 170 DAN PASAL 358 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Hendy Pinatik 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana cakupan Pasal 170 dan Pasal
Lex Privatum Vol. V/No. 6/Ags/2017
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PENCURIAN DENGAN KEKERASAN MENURUT PASAL 365 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh : Fentry Tendean 2 ABSTRAK Pandangan ajaran melawan hukum yang metarial, suatu perbuatan selain
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DAN PENADAHAN. dasar dari dapat dipidananya seseorang adalah kesalahan, yang berarti seseorang
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DAN PENADAHAN 2.1. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Dasar dari adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, sedangkan dasar dari dapat dipidananya
Lex Crimen Vol. V/No. 2/Feb/2016
TINDAK PIDANA PERCOBAAN DALAM KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 1 Oleh: Astri C. Montolalu 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah yang menjadi dasar teori dari
Lex Crimen Vol. V/No. 5/Jul/2016
PENGGELAPAN UANG DAN SURAT BERHARGA OLEH PEGAWAI NEGERI SEBAGAI TINDAK PIDANA KHUSUS DALAM PASAL 8 UNDANG- UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI 1 Oleh: Muhamad Kurniawan 2 ABSTRAK Penelitian ini
Lex Crimen Vol. VI/No. 8/Okt/2017. Kata kunci: Tindak Pidana, Pendanaan, Terorisme.
TINDAK PIDANA PENDANAAN TERORISME DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 9 TAHUN 2013 SEBAGAI TINDAK PIDANA TRANSNASIONAL YANG TERORGANISASI (TRANSNATIONAL ORGANIZED CRIME) 1 Oleh: Edwin Fernando Rantung 2 ABSTRAK
Lex Administratum, Vol. IV/No. 3/Mar/2016
PERCOBAAN SEBAGAI ALASAN DIPERINGANKANNYA PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA MENURUT KUHP 1 Oleh: Meril Tiameledau 2 ABSTRAK Penelitiahn ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa yang menjadi dasar
Lex et Societatis, Vol. V/No. 2/Mar-Apr/2017
PROSES PENANGANAN TINDAK PIDANA RINGAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA 1 Oleh: Raymond Lontokan 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apa bentuk-bentuk perbuatan
BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Perbuatan yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana (kepada barangsiapa yang melanggar larangan tersebut), untuk singkatnya dinamakan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. sebagaimana diuraikan dalam bab sebelumnya dapat dikemukakan kesimpulan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan rumusan permasalahan serta hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana diuraikan dalam bab sebelumnya dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
Lex Privatum Vol. V/No. 8/Okt/2017
PENETAPAN PENGADILAN TENTANG BUKTI PERMULAAN YANG CUKUP UNTUK DIMULAINYA PENYIDIKAN TINDAK PIDANA TERORISME MENURUT PASAL 26 UNDANG- UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 JUNCTO PERPU NOMOR 1 TAHUN 2002 1 Oleh :
Lex Crimen Vol. III/No. 2/April/2014
PENERAPAN PASAL 242 KUHPIDANA TERHADAP PEMBERIAN KETERANGAN PALSU DI ATAS SUMPAH 1 Oleh : Justino Armando Mamuaja 2 ABSTRAK Sejak zaman dahulu kala sengaja sumpah telah dipandang sebagai kesalahan yang
BAB II PENERAPAN KONSEP NOODWEER DALAM TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN SEBAGAI AKIBAT ADANYA TINDAK PIDANA KEHORMATAN KESUSILAAN
BAB II PENERAPAN KONSEP NOODWEER DALAM TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN SEBAGAI AKIBAT ADANYA TINDAK PIDANA KEHORMATAN KESUSILAAN A. Tindak Pidana Penganiayaan Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-undang
I. PENDAHULUAN. hukum serta Undang-Undang Pidana. Sebagai suatu kenyataan sosial, masalah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan (immoril), merugikan masyarakat, asosial sifatnya dan melanggar hukum serta Undang-Undang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Sistem pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana positif saat ini
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Sistem pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana positif saat ini menganut asas kesalahan sebagai salah satu asas disamping asas legalitas.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peraturan perundangan undangan yang berlaku dan pelakunya dapat dikenai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana Tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundangan undangan yang berlaku dan pelakunya dapat dikenai dengan hukuman pidana.
Lex Crimen Vol. VI/No. 6/Ags/2017
TINJAUAN YURIDIS PENYERTAAN DALAM TINDAK PIDANA MENURUT KUHP 1 Oleh : Chant S. R. Ponglabba 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana unsur-unsur tindak pidana dan
Lex Privatum Vol. V/No. 9/Nov/2017
DORONGAN DARI DALAM (INNERLIJKE DRANG) SEBAGAI DALIH UNTUK ALASAN PENHAPUS PIDANA DI LUAR UNDANG- UNDANG 1 Oleh: Jersen R. Kodoati 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
BAB III PIDANA DAN PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI. A. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Korupsi yang Dimuat
BAB III PIDANA DAN PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI A. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Korupsi yang Dimuat dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 1. Sanksi
II. TINJAUAN PUSTAKA. tindak pidana atau melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam Undang-
13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Pertanggungjawaban pidana memiliki makna bahwa setiap orang yang melakukan tindak pidana atau melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam
jahat tersebut tentunya berusaha untuk menghindar dari hukuman pidana, yaitu dengan cara
A. Pengertian Penahanan Seorang terdakwa akan berusaha untuk menyulitkan pemeriksaan perkara dengan meniadakan kemungkinan akan dilanggar, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Terdakwa yang
LINGKUP DAN PERAN DELIK TERHADAP KEAMANAN NEGARA DALAM PASAL 107A 107F KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Aldo Pinontoan 2
LINGKUP DAN PERAN DELIK TERHADAP KEAMANAN NEGARA DALAM PASAL 107A 107F KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Aldo Pinontoan 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana
Lex et Societatis, Vol. I/No.2/Apr-Jun/2013
KAJIAN TERHADAP PENJATUHAN PIDANA BERSYARAT DAN PENGAWASAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh : Eyreine Tirza Priska Doodoh 2 ABSTRAK Dalam Buku I KUHPidana dapat diketahui bahwa sanksi-sanksi
MENGHALANGI PENYIDIKAN DAN PENUNTUTAN UNTUK KEPENTINGAN ORANG LAIN MENURUT PASAL 221 AYAT (1) KUHPIDANA 1 Oleh : Rendy A. Ch.
MENGHALANGI PENYIDIKAN DAN PENUNTUTAN UNTUK KEPENTINGAN ORANG LAIN MENURUT PASAL 221 AYAT (1) KUHPIDANA 1 Oleh : Rendy A. Ch. Tulandi 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya
Lex Crimen Vol. VI/No. 5/Jul/2017
TINDAK PIDANA MEMBAHAYAKAN NYAWA ATAU KESEHATAN ORANG (PASAL 204 DAN 205 KUHP) DALAM KAITANNYA DENGAN UU NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN 1 Oleh: Estepanus Buttang 2 ABSTRAK Penelitian
PENEGAKAN HUKUM DALAM TINDAK PIDANA PEMALSUAN MATA UANG DOLLAR. Suwarjo, SH., M.Hum.
PENEGAKAN HUKUM DALAM TINDAK PIDANA PEMALSUAN MATA UANG DOLLAR Suwarjo, SH., M.Hum. Abstrak Pemberantasan dollar AS palsu di Indonesia terbilang cukup sulit karena tidak terjangkau oleh hukum di Indonesia.
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan upaya
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya
KEMAMPUAN BERTANGGUNGJAWAB DALAM PASAL 44 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Stedy R. Punuh 2
KEMAMPUAN BERTANGGUNGJAWAB DALAM PASAL 44 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Stedy R. Punuh 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah semua keadaan berupa jiwanya
peradilan dengan tugas pokok untuk menerima, memeriksa, mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Dalam hal ini, untuk
BAB II JENIS- JENIS PUTUSAN YANG DIJATUHKAN PENGADILAN TERHADAP SUATU PERKARA PIDANA Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman diserahkan kepada badan- badan peradilan dengan tugas pokok untuk menerima, memeriksa,
II. TINJAUAN PUSTAKA. wajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pertanggungjawaban
18 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Tindak Pidana Setiap tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang pada dasarnya orang tersebut wajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pertanggungjawaban pidana
BAB I PENDAHULUAN. oleh berbagai pihak. Penyebabnya beragam, mulai dari menulis di mailing list
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belakangan marak diberitakan tentang tuduhan pencemaran nama baik oleh berbagai pihak. Penyebabnya beragam, mulai dari menulis di mailing list (milis), meneruskan
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Tata Cara Pelaksanaan Putusan Pengadilan Terhadap Barang Bukti
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tata Cara Pelaksanaan Putusan Pengadilan Terhadap Barang Bukti Mengenai pengembalian barang bukti juga diatur dalam Pasal 46 KUHAP. Hal ini mengandung arti bahwa barang bukti selain
TINDAK PIDANA PEMBERONTAKAN BERDASARKAN PASAL 108 KUH PIDANA 1 Oleh : Hendrick Winatapradja 2
TINDAK PIDANA PEMBERONTAKAN BERDASARKAN PASAL 108 KUH PIDANA 1 Oleh : Hendrick Winatapradja 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana tindak pidana pemberontakan dalam Pasal
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan upaya
TINJAUAN YURIDIS KESAKSIAN PALSU DALAM TINDAK PIDANA. Oleh : Islah, S.H., M.H.
TINJAUAN YURIDIS KESAKSIAN PALSU DALAM TINDAK PIDANA Oleh : Islah, S.H., M.H. Abstract Lembaga peradilan berperan penting karena satu-satunya institusi formal dalam mengelolah permasalahan hukum dari setiap
KEMUNGKINAN PENYIDIKAN DELIK ADUAN TANPA PENGADUAN 1. Oleh: Wempi Jh. Kumendong 2 Abstrack
Vol. 23/No. 9/April/2017 Jurnal Hukum Unsrat Kumendong W.J: Kemungkinan Penyidik... KEMUNGKINAN PENYIDIKAN DELIK ADUAN TANPA PENGADUAN 1 Oleh: Wempi Jh. Kumendong 2 Email:[email protected] Abstrack
I. PENDAHULUAN. Pembunuhan berencana dalam KUHP diatur dalam pasal 340 adalah Barang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembunuhan berencana dalam KUHP diatur dalam pasal 340 adalah Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana. Belanda yaitu strafbaar feit yang terdiri dari tiga kata, yakni straf
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana 1. Pengertian Tindak Pidana Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu strafbaar feit yang
BAB I PENDAHULAN. dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Pasal 1 Ayat (3)
BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah negara berdasarkan hukum. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Pasal 1 Ayat (3) yang berbunyi
Lex Crimen Vol. II/No. 4/Agustus/2013
PROVOKATOR KERUSUHAN DARI SUDUT PENGHASUTAN DAN PENYERTAAN DALAM KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh: Bayu Eka Saputra 2 A B S T R A K Kerusuhan merupakan peristiwa di mana massa (sekelompok besar
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana ( yuridis normatif ). Kejahatan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Tindak Pidana Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana ( yuridis normatif ). Kejahatan atau perbuatan jahat dapat diartikan secara yuridis atau kriminologis.
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya
Berlin Nainggolan: Hapusnya Hak Penuntutan Dalam Hukum Pidana, 2002 USU Repository
USU Repository 2006 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii A. Pengertian... 1-2 B. Dasar Peniadaan Penuntutan... 3-6 C. Hapusnya Hak Menuntut... 7-13 Kesimpulan... 14 Daftar Pustaka...... 15 ii
BAB I PENDAHULUAN. pribadi maupun makhluk sosial. Dalam kaitannya dengan Sistem Peradilan Pidana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara berdasarkan hukum bukan semata-mata kekuasaan penguasa. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka seluruh warga masyarakatnya
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH SISTEMATIKA TEKNIK PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DAN KERANGKA
TINJAUAN YURIDIS PEMBUKTIAN TURUT SERTA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Kasus Putusan No. 51/Pid.B/2009 /PN.PL) MOH. HARYONO / D
TINJAUAN YURIDIS PEMBUKTIAN TURUT SERTA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Kasus Putusan No. 51/Pid.B/2009 /PN.PL) MOH. HARYONO / D 101 08 100 ABSTRAK Tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa
II. TINJAUAN PUSTAKA. sehingga mereka tidak tahu tentang batasan umur yang disebut dalam pengertian
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Anak dan Anak Nakal Pengertian masyarakat pada umumnya tentang anak adalah merupakan titipan dari Sang Pencipta yang akan meneruskan keturunan dari kedua orang tuanya,
Tinjauan Yuridis terhadap Pelaksanaan Prapenuntutan Dihubungkan dengan Asas Kepastian Hukum dan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan
Prosiding Ilmu Hukum ISSN: 2460-643X Tinjauan Yuridis terhadap Pelaksanaan Prapenuntutan Dihubungkan dengan Asas Kepastian Hukum dan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan 1 Ahmad Bustomi, 2
Lex Crimen Vol. V/No. 4/Apr-Jun/2016
PENANGKAPAN DAN PENAHANAN SEBAGAI UPAYA PAKSA DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PIDANA 1 Oleh : Hartati S. Nusi 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana alasan penangkapan
Lex Administratum, Vol. V/No. 2/Mar-Apr/2017
HAPUSNYA HAK MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA MENURUT PASAL 76 KUHP 1 oleh : Jesica Pricillia Estefin Wangkil 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal apa yang menyebabkan
RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN
RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT INTERNAL TIMUS KOMISI III DPR-RI DALAM RANGKA PEMBAHASAN RANCANGAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA --------------------------------------------------- (BIDANG HUKUM, HAM
BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan dan Pemberatan Pengertian Tindak Pidana Pencurian
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan dan Pemberatan 2.1.1 Pengertian Tindak Pidana Pencurian pencurian merupakan perbuatan pengambilan barang. Kata mengambil (wegnemen) merupakan
Lex et Societatis, Vol. V/No. 1/Jan-Feb/2017
PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA UITLOKKING (PENGANJURAN) BERDASARKAN PASAL 55 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA 1 Oleh : Jarel Lumangkun 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
BAB II BATASAN PENGATURAN KEKERASAN FISIK TERHADAP ISTRI JIKA DIKAITKAN DENGAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN MENURUT KETENTUAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA
BAB II BATASAN PENGATURAN KEKERASAN FISIK TERHADAP ISTRI JIKA DIKAITKAN DENGAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN MENURUT KETENTUAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA A. Batasan Pengaturan Tindak Pidana Kekekerasan Fisik
BAB I PENDAHULUAN. tercipta pula aturan-aturan baru dalam bidang hukum pidana tersebut. Aturanaturan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Globalisasi menyebabkan ilmu pengetahuan kian berkembang pesat termasuk bidang ilmu hukum, khususnya dikalangan hukum pidana. Banyak perbuatan-perbuatan baru yang
BAB III PENCURIAN DENGAN KEKERASAN MENURUT HUKUM POSITIF. Menyimpang itu sendiri menurut Robert M.Z. Lawang penyimpangan perilaku
BAB III PENCURIAN DENGAN KEKERASAN MENURUT HUKUM POSITIF A. Pencurian Dengan Kekerasan Dalam KUHP 1. Pengertian Pencurian Dengan Kekerasan Pencurian dengan kekerasan adalah suatu tindakan yang menyimpang.
DAFTAR PUSTAKA. Andi Hamzah, Asas - Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2008.
110 DAFTAR PUSTAKA A. Buku-Buku : Adami Chazawi, Stelsel Pidana, Tindak Pidana, Teori-teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana, Cetakan V, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010. Andi Hamzah, Asas
PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA RINGAN MENURUT UU NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA Oleh: Jusuf Octafianus Sumampow 1
PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA RINGAN MENURUT UU NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA Oleh: Jusuf Octafianus Sumampow 1 ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui substansi
Lex Crimen Vol. III/No. 3/Mei-Jul/2014
PERLINDUNGAN ANAK TERHADAP KEKERASAN MENURUT UNDANG-UNDANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA 1 Oleh : Taisja Limbat 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
BAB I PENDAHULUAN. melalui media massa maupun media elektronik seperti televisi dan radio.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejahatan pembunuhan mengalami peningkatan yang berarti dari segi kualitas dan kuantitasnya. Hal ini bisa diketahui dari banyaknya pemberitaan melalui media massa maupun
BAB I PENDAHULUAN. baik. Perilaku warga negara yang menyimpang dari tata hukum yang harus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara berkewajiban untuk menjamin adanya suasana aman dan tertib dalam bermasyarakat. Warga negara yang merasa dirinya tidak aman maka ia berhak meminta perlindungan
BAB II TINJAUAN UMUM. Perumusan tentang pengertian anak sangat beragam dalam berbagai
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Pengertian Anak dan Batasan Umur Anak Perumusan tentang pengertian anak sangat beragam dalam berbagai undang-undang. Pengertian tersebut tidak memberikan suatu konsepsi tentang
UNSUR MELAWAN HUKUM DALAM PASAL 362 KUHP TENTANG TINDAK PIDANA PENCURIAN
UNSUR MELAWAN HUKUM DALAM PASAL 362 KUHP TENTANG TINDAK PIDANA PENCURIAN Oleh I Gusti Ayu Jatiana Manik Wedanti A.A. Ketut Sukranatha Program Kekhususan Hukum Pidana Fakultas Hukum, Universitas Udayana
BAB IV PENUTUP A. Simpulan
BAB IV PENUTUP A. Simpulan 1. Kesesuaian hasil pemeriksaan laboratorium forensik terhadap tulang kerangka untuk mengungkap identitas korban pembunuhan berencana terhadap Pasal 184 KUHAP adalah hasil pemeriksaan
I. TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian pidana yang bersifat khusus ini akan menunjukan ciri-ciri dan sifatnya yang khas
I. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Dan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pidana pada umumnya sering diartikan sebagai hukuman, tetapi dalam penulisan skripsi ini perlu dibedakan pengertiannya. Hukuman adalah pengertian
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Tindak Pidana. 1. Pengertian Tindak Pidana. Pengertian tindak pidana yang dimuat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana 1. Pengertian Tindak Pidana Pengertian tindak pidana yang dimuat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) oleh pembentuk undang- undang sering disebut dengan
BAB I PENDAHULUAN. mendorong terjadinya krisis moral. Krisis moral ini dipicu oleh ketidakmampuan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berkembangnya teknologi dan masuknya modernisasi membawa dampak yang cukup serius bagi moral masyarakat. Sadar atau tidak, kemajuan zaman telah mendorong terjadinya
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1997 TENTANG HUKUM DISIPLIN PRAJURIT ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1997 TENTANG HUKUM DISIPLIN PRAJURIT ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.
BAB III SANKSI PIDANA ATAS PENGEDARAN MAKANAN TIDAK LAYAK KONSUMSI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
BAB III SANKSI PIDANA ATAS PENGEDARAN MAKANAN TIDAK LAYAK KONSUMSI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Pengedaran Makanan Berbahaya yang Dilarang oleh Undang-Undang
PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMUTUSKAN PERKARA TINDAK PIDANA PENGGELAPAN SECARA BERLANJUT (Studi Kasus No. 55/Pid.B/2010/PN. Palu)
PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMUTUSKAN PERKARA TINDAK PIDANA PENGGELAPAN SECARA BERLANJUT (Studi Kasus No. 55/Pid.B/2010/PN. Palu) RISKA YANTI / D 101 07 622 ABSTRAK Penelitian ini berjudul Pertimbangan Hakim
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan hidupnya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan norma serta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum sebagai konfigurasi peradaban manusia berjalan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat sebagai komunitas dimana manusia tumbuh dan berkembang
PERANAN KETERANGAN AHLI DALAM PROSES PERKARA PIDANA PENGADILAN NEGERI
PERANAN KETERANGAN AHLI DALAM PROSES PERKARA PIDANA PENGADILAN NEGERI Oleh : Ruslan Abdul Gani ABSTRAK Keterangan saksi Ahli dalam proses perkara pidana di pengadilan negeri sangat diperlukan sekali untuk
BAB II PENGATURAN HAK RESTITUSI TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA
16 BAB II PENGATURAN HAK RESTITUSI TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA A. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ATMAJAYA YOGYAKARTA
NASKAH PUBLIKASI PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA PENJARA TERHADAP ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENCURIAN Diajukan Oleh : Nama : Yohanes Pandu Asa Nugraha NPM : 8813 Prodi : Ilmu
Lex et Societatis, Vol. V/No. 6/Ags/2017
PENAHANAN TERDAKWA OLEH HAKIM BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM ACARA PIDANA 1 Oleh : Brando Longkutoy 2 ABSTRAK Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah
PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG - UNDANG TENTANG PERAMPASAN ASET * Oleh : Dr. Ramelan, SH.MH
1 PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG - UNDANG TENTANG PERAMPASAN ASET * I. PENDAHULUAN Oleh : Dr. Ramelan, SH.MH Hukum itu akal, tetapi juga pengalaman. Tetapi pengalaman yang diperkembangkan oleh akal, dan akal
