BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Yulia Sanjaya
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Habitat Ikan Selais (Kryptopterus spp) Keadaan habitat ikan Selais {Kryptopterus spp) pada perairan di Desa Langgam (Danau Muara Sako), Desa Tambak (pada sungai Penenggung, Tilang dan Lubuk Selais) dan Desa Rantau Baru, Keamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau menunjukkan keadaan perairan sungai kampar yang sangat rentan terkena banjir. Pengamatan terhadap keadaan habitat ikan Selais {Kryptopterus spp) diamati mulai dari wama air sungai yang dominan oklat tua dan dengan aliran air yang berams agak tenang. Perairan sungai Kampar yang melintasi stasium pengamatan ditumbuhi oleh vegetasi pandan berduri, tanaman air (makrofita), dan pepohonan. Ketinggian permukaan air saat survey menunjukkan keadaan perairan yang bam saja sumt akibat banjir. Alat tangkap Sempirai yang dipasang di sisi kiri dan kanan sungai yang terlebih dahulu dilakukan pem-blat-an dapat teruhat dengan jelas. Pengamatan ekomorphologi ikan Selais {Kryptopterus spp) dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan bentuk ikan dengan ekologinya, dimana seara marfologi ikan Selais ini pada bagian punggung (sisi dorsal) kelihatan melengkung (Gambar 4.1). Bentuk tubuh (profil badan) demikian diduga erat kaitannya dengan habitat ikan. Lingkungan pinggir perairan yang rapat ditumbuhi pohon kayu (Modang) dan Sialang serta jenis lainnya mengakibatkan pinggiran sungai mudah ditrobos oleh akar-akar pohon tersebut. Kebiasaan ikan yang senang menari makan sampai ke dasar atau pinggir-pinggir lubuk, berpotensi untuk membentuk melengkungnya punggung ikan Selais ini. Morfologi tubuh lainnya seperti bentuk mulut, bentuk mata dan bagian badan 11
2 atau sirip yang berkembang sesuai dengan identifikasi menurut KOTTELAT et al, (1993). Gambar 4.1. Ekomorphologi ikan Selais {Kryptopterus spp) Ikan Selais ini bemilai ekonomis tinggi dan masyarakat setempat telah pula menyadarinya dari banyaknya permintaan konsumen yang langsung datang ke lokasi penelitian ini. Hal ini ditandai dengan aktivitas masyarakat nelayan yang antusias terlihat dari mulai dioperasikannya kembali karamba-karamba baik yang dikelola oleh perorangan maupun seara bersama (milik masyarakat). Untuk mempeijelas keadaan habitat ikan Selais seara nyata di perairan tangkap dan pembesarannya maka dilakukan pengukuran terhadap kualitas air Fisika, Kimia dan Biologi Faktor Fisika Kimia Perairan Pengamatan kualitas air sungai Kampar yang melewati stasium survey dapat dilihat pada Tabel 4.1. di bawah ini. Seara umum kualitas air di setiap stasiun kelihatan seragam. Kondisi perairan yang demikian sangat besar dipengaruhi oleh banjir yang baru saja usai. 12
3 Tabel 4.1. Kualitas Air Perairan Sungai Kampar yang Melewati Stasiun Pengamatan No. Perairan Keerahan (Cm) 1. Sei. Penenggung Parameter Kualitas Air Kekeruhan Suhu ph O2 (NTU) (C) (mg/l) NH3 Total Phosfat (mg/l) ,5 2,8 1,51,1 Keadaan Cuaa: Cerah, Keadaan lokasi stasiun : dinaungi oleh dedaunan dan agak gelap 2. Sei. Tilang ,8 1,46,4 Keadaan Cuaa : Cerah Keadaan lokasi stasiun : kurang dinaungi oleh dedaunan sehingga sinar matahari menyinari perairan 3. Lubuk Selais ,2 1,1,1 Keadaan Cuaa. Cerah Keadaan lokasi stasiun : banyak ditumbuhi kasau, sinar matahari menyinari perairan terlalu banyak 4. Danau Muaro Sako ,2,213,2 Keadaan Cuaa : Cerah Keadaan lokasi stasiun : dinaungi oleh dedaunan namun sinar matahari masih sampai ke perairan 5. Desa Rantau Baru ,5,182,25 Keadaan Cuaa: Keadaan lokasi st< Cerah isiun : sudah dimanfaatkan sebagai tempat karamba Dari Tabel 4.1. kelihatan bahwa keerahan tertinggi dijumpai pada daerah survey Lubuk Selais sebesar 131 Cm dan terendah pada Desa Rantau baru sebesar 48 Cm. Tingginya keerahan pada Lubuk Selais diduga disebabkan daerah ini banyak ditumbuhi vegetasi pandan berduri. CHOLIK at al (1986), menjelaskan bahwa keerahan air 3, - 6, Cm sudah ukup untuk biota air, 13
4 Kekeruhan perairan pada lokasi survey berkisar antara 2-25 NTU. Perairan Sei Penenggung dan Sei. Tilang lebih jemih dibandingkan lokasi survey lainnya. Kekeruhan perairan sungai Kampar masih dalam batas toieransi bagi biota air, dimana kekeruhan yang disebabkan oleh lumpur akibat banjir atau setelah banjir biasanya kaya akan bahan organik....,\ j-r.. J r e ^\"< mg't Suhu perairan berkisar antara "C. Suhu ini masih berada pada kisaran yang ook bagi kehidupan ikan, sebagaimana yang dikatakan oleh VARIKUL dan SRITONGSOK (198), suhu air yang baik untuk golongan ikan atfish berkisar antara C. :;'..r iisuionn ;r. Stasiun perairan yang berada di auran sungai Kampar memiliki ph berkisar antara 5-6. ph air menurun pada saat pagi hari menapai 5-5,5 dan naik pada siang hingga 14
5 sore hari menapai 6. Perubahan ph air ini lebih banyak disebabkan karena aktivitas akar tanaman atau pohon kayu yang berada di sisi kiri dan kanan sungai. HICKLING (1971) dan BOYD (1982), mengatakan bahwa keadaan ph air yang bersifat netral atau basa akan lebih baik serta produktif bila dibandingkan dengan air yang bersifat masam. Kisaran ph yang baik bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang adalah 6,5-9. Kelarutan oksigen di perairan sungai kampar berkisar antara 2,8-5,2 mg/l. Pada perairan Sei. Penenggung dijumpai kelarutan oksigen rendah yakni 2,8 mg/l dan perairan Danau Muaro Sako 5,2 mg/l. Seara alami oksigen masuk dan keluar dari perairan melalui difusi. Kondisi perairan yang baru saja selesai banjir dapat juga mempengeruhi fluktuasi konsentrasi oksigen terlarut. Namun demikian kondisi perairan sungai kampar belum menggambarkan kondisi devisit oksigen. Konsentrasi ammoniak total di perairan berkisar antara,182-1,51 mg/l. Perairan Sei Penenggung, Sei Tilang dan Lubuk Silais memiliki ammoniak total > 1 mg/l. Tingginya ammoniak total pada perairan tersebut diduga banjir yang berlangsung syarat dengan bahan organik. Menurut PESCOD (1973) bahwa kandungan ammoniak di perairan tropis tidak boleh lebih dari 1, mg/l. Konsentrasi phosfat di perairan kampar ini berkisar antara,1 ~,25 mg/l. Konsentrasi phosfat dapat dijadikan sebagai parameter kualitas air yang menentukan tingkat kesuburan perairan. Dimana kisaran yang terukur ini menunjukkan tingkat kesuburan sedang Faktor Biologi Perairan Pengamatan terhadap faktor biologi perairan dilakukan pada Plankton. Ada 4 kelas fitoplankton yang teridentifikasi yaitu Baillariophyeae, Chlorophyeae, 15
6 f Chyanophyeae dan Chrysophyeae. Ada 6 kelas zooplankton yang teridentifikasi yaitu Rhizopoda, Ciliaphora, Digonanta, Ostraoda, Flagellata dan Copepoda. Untuk Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.2, 4.3, 4.4, dan 4.5. di bawah ini. Tabel 4.2. Identifikasi Phytoplankton pada Stasiun Sei. Penenggung, Tilang dan Lubuk Selais Kelas Organisme Kelimpahan Ind. / liter pada Stasiun Phytoplankton Genus Sei. Sei Lubuk Penenggung Tilang Silais Baillariophyeae Stephanodisus sp Melosira sp 135 Nitzhia sp 225 Thalassiosira sp 315 Fragilaria sp 45 Chlorophyeae Ankisrodesmus sp 27 Closterium sp 45 Shroedaria sp 135 Chyanophyeae Datyloopsis sp 225 Jumlah Diversiti Jumlah Taxa Jenis-jenis phytoplankton yang ditemukan pada perairan Sei Penenggung adalah Stephanodisus sp, Thalassiosira sp, Fragilaria sp, Ankisrodesmus sp, Closterium sp, Shroedaria sp dan Datyloopsis sp. Jenis zooplankton adalah Sphenoleria sp, Difflugia sp, Parameium sp dan Phylodina sp. Jenis-jenis phytoplankton yang ditemukan pada perairan Sei. Tilang adalah Melosira sp dan Nitzhia sp dan zooplankton zooplankton adalah Cypriesus sp. Jenis-jenis phytoplankton yang ditemukan pada perairan Lubuk Selais adalah Stephanodisus sp dan zooplankton tidak ditemukan. Jenisjenis phytoplankton yang ditemukan pada perairan Danau Muara Sako adalah Phormidium sp, Colonthrix sp, Hormidium sp dan Koliella sp, sedangkan jenis
7 zooplankton adalah Trahelomona sp, Digonanta, dan Cylops sp. Jenis-jenis phytoplankton yang ditemukan pada perairan Desa Rantau Baru adalah Hormidium sp, Koliella sp, Asterionella sp dan Mirospora sp, sedangkan jenis zooplankton Cylops sp. Jenis-jenis yang teridentifikasi ini termasuk makanan alami bagi ikan Selais. adalah Tabel 4.3. Identifikasi Phytoplankton pada Stasiun Danau Muaro Sako dan Rantau Baru Kelas Organisme Genus Kelimpahan Ind. / li ter pada Stasiun Phytoplankton Danau Muaro Sako Desa Rantau Baru Chyanophyeae Phormidium sp 2 Colonthrix sp 15 Chlorophyeae Chrysophyeae Baillariopgyeae Hormidium sp Koliella sp Asterionella sp Batrydiopsis sp Geniularia sp 5 Mirospora sp 5 Jumlah Diversiti Jumlah Taxa 6 4 Tabel 4.4. Identifikasi Zooplankton pada Stasiun Penenggung, Tilang dan Lubuk Selais Kelas Organisme Zooplankton Genus / Stasiun Kelimpahan Ind. Sei. liter pada Sei Lubuk Rhizopoda Penenggung Tilang Silais Sphenoleria sp 45 Ciliaphora Difflugia sp 45 Digonanta Parameium sp 135 Phylodina sp 45 Ostraoda Cypriesus sp 45 Jumlah Diversiti Jumlah Taxa
8 Tabel 4.5. Identifikasi Zooplankton pada Stasiun Danau Muaro Sako dan Rantau Baru Kelas Organisme Genus Kelimpahan Ind. / liter pada Stasiun Zooplankton Danau Muaro Sako Desa Rantau Baru Flagellata Trahelomona sp 3 Digonanta 2 Copepoda Cylops sp Jumlah Diversiti Jumlah Taxa 3 1 Perairan di daerah Desa Muaro Sako dan Desa Rantau Baru merupakan dua lokasi yang berjauhan namun masih berada pada satu aliran sungai Kampar.. Perairan Sei. Penenggung, Sei. Tilang dan Lubuk Selais merupakan stasium pengamatan yang agak berdekatan dan satu aliran.lima lokasi pengamatan ini menunjukkan adanya kemiripan dan diduga merupakan daerah ruaya ikan Selais. Kelimpahan phytoplankton di 5 lokasi survey dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah ini. I w a p CO I Diversity DMS ORB SP 1485 ST 36 LS 225 -^Taxa Gambar 4.3. KeUmpahan phytoplankton pada Desa aro Sako (DMS), Desa Rantau Baru (DMR), Sei Penenggung (SP), Sei. uiang (ST), Lubuk Selais (LS). KeUmpahan phytoplankton tertinggi dijumpai pada perairan Sei. Penenggung sebesar 1485 ind/1 dengan jumlah taxa 7, sedangkan terendah pada perairan Lubuk 18
9 Selais sebesar 225 ind/1 dengan jumlah taxa 1. Kelimpahan zooplankton di 5 lokasi survey dapat dilihat pada Gambar 4.4. di bawah ini. B «a o o N ( x: I a C Diversity -^Taxa Gambar 4.3. Kelimpahan zooplankton pada Desa Muaro Sako (DMS), Desa Rantau Baru (DMR), Sei Penenggung (SP), Sei. Tilang (ST), Lubuk Selais (LS). Kelimpahan zooplankton tertinggi dijumpai pada perairan Desa Muaro Sako sebesar 65 ind/1 dengan jumlah taxa 3, sedangkan pada perairan Lubuk Selais tidak dijumpai zooplankton. Pada perairan Lubuk Selais bukan berarti tidak dapat ditumbuhi zooplankton. Indeks Keanekaragaman untuk phytoplankton terlihat pada Gambar 4.4. berkisar antara,9544-2,4764. Indeks keanekaragaman ini mendekati nol pada stasiun pengamatan Lubuk Selais. Rendahnya keanekaragaman phytoplankton di perairan ini diduga karena daerah Lubuk Selais ini tempatnya agak menjorok ke dalam. Dari parameter kualitas air keerahan, lokasi ini sangat erah menapai 131 Cm. Indeks Keanekaragaman tertinggi ditemukan pada perairan Sei. Penenggung. BCisaran Indeks keanekaragaman yang diperoleh menunjukkan kondisi lingkungan perairan sedang, dengan kandungan bahan organik ukup jelas. Struktur organisme yang membangun strata phytoplankton berada pada kondisi sedang. 19
10 i I «3 n 2 n 1 - ^ DMS ORB SP ST LS C E Gambar 4.4. Indeks keanekaragaman, Dominansi dan Keseragaman phytoplankton pada pada Desa Muaro Sako (DMS), Desa Rantau Baru (DMR), Sei Penenggung (SP), Sei. Tilang (ST), dan Lubuk Selais (LS). Indeks dominansi phytoplankton mendekati 1 pada perairan Lubuk Selais. Kondisi demikian tidak lah selalu menggambarkan bahwa telah teijadi perubahan kualitas struktur komunitas phytoplankton dengan adanya satu jenis phytoplankton yang mendominasi tetapi lebih bersifat pada kondisi perairan yang berubah diakibatkan aktivitas banjir yang baru berakhir. Kondisi ini juga didukung oleh indeks keseragaman yang mendekati 1 pada hampir semua lokasi pengamatan. Keadaan ini menunjukkan bahwa struktur komunitas phytoplankton tidak teijadi persaingan tempat dan makanan. Indeks keanekaragaman, dominansi dan keseragaman untuk zooplankton dapat dilihat pada Gambar 4.5. Pada perairan Sei. Tilang nilai indeks keanekaragaman mendekati nol dan pada perairan Lubuk Selais semua indeks nol. Kondisi struktur komunitas zooplankton ini juga menjukkan fenomena alam, dimana pada peraiaran tropis gangguan untuk perairan alami sangat dipengaruhi oleh uaa dan iklim hujan, kemarau dan akitivitas banjir yang banyak mengganggu kondisi arus. Dimana plankton adalah hewan jasad renik yang pergerakannya sangat bergantung pada aurs. 2
11 2 (D a J!-v. 1.5».1 -s- 1.5 DMS DRB SP ST LS C E Gambar 4.5. Indeks keanekaragaman, Dominansi dan Keseragaman zooplankton pada pada Desa Muaro Sako (DMS), Desa Rantau Baru (DMR), Sei Penenggung (SP), Sei. Tilang (ST), dan Lubuk Selais (LS) Makanan Alami Ikan Selais (A>)^/opfen/5.55RP) s..i-^, ^ :f-j;>ki^t \-v.x Seara alami ikan Selais memakan jenis plankton baik phytoplankton, zooplankton, ikan keil, insekta, dan juga vegetasi tanaman air serta jatuhan buah-buah pohon kayu seperti buah modang. Hasil anaiisa saluran penemaan dapat diuhat pada Gambar 4.6. dan Tabel 4.6. dibawah ini. * >: Gambar 4.6. Anaiisa Saluran Penemaan ikan Selais 21
12 Tabel 4.6. Hasil Anaiisa Saluran Penernaan Ikan Kriptopterus sp Tertangkap Pagi dan Siang Untuk Jenis Phytoplankton Kelas Organisme Spesies Ind. / liter pada Organ Penemaan Phytoplankton Pj Total 2-22,5 Pj Total 11,5-13,5 Baillariophyeae Stephanodisus invisitatus 6 Chlorophyeae Melosira granulata Cruigenia apiulata 6 12 Chyanophyeae Closterium sphaerium Datylooopsis aiularis Miroystis maginata 6 Jumlah Diversiti Jumlah Taxa 2 5 Pengamatan terhadap saluran penemaan ikan Selais dilakukan pada dua ukuran ikan yaitu a) panjang total 2-22,5 Cm yang tertangkap pada pagi hari dan b) panjang total 11,5-13,5 Cm yang tertangkap pada siang hari. Semua jenis makanan yang terdapat di saluran penemaan diamati dan diidentifikasi. Jenis makanan phytoplankton dan zooplankton yang ditemukan pada ikan tertangkap pagi lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang tertangkap siang hari. Perbedaan kelimphan makanan alami di dalam saluran penemaan ikan Selais ini lebih disebabkan karena lamanya makanan tertinggal di dalam organ penemaan tersebut. Dimana ikan Selais yang tertangkap pada pagi hari lebih lama menema makan sehingga sedikit teridentifikasi sedangkan yang tertangkap pada siang hari relatif masih banyak yang dapat teridentifikasi. Makanan alami di dalam saluran penemaaan akan dimetabolisme dalam waktu 3-4 jam. Dalam kumn waktu ini makanan sudah tidak dapat diidentifikasi lagi. Jenis Phytoplankton yang ditemukan pada ikan Selais tertangkap pagi ada 2 yaitu Melosira granulata dan Closterium sphaerium sedangkan pada siang hari ditemukan 5 jenis yaitu Stephanodisus invisitatus, Cruigenia apiulata, Closterium sphaerium, Datylooopsis aiularis dan Miroystis maginata. 22
13 Tabel 4.7. Hasil Anaiisa Saluran Penemaan Ikan Kriptoptems sp Tertangkap Pagi dan Siang Untuk Jenis Zooplankton Kelas Organisme Spesies Ind. / liter pada Organ Penemaan Zooplankton P^Total 2-22,5 Pj Total 11,5-13,5 Ciliapora Parameium multimironuleatum 15 Monogonanta Nothola auminata 7 Nothola striata 1 Diptera Chironomus sp 4 Jumlah Diversiti Jumlah Taxa 2 2 Untuk jenis zooplankton yang ditemukan pada saluran penemaan ikan Selais tertangkap pagi ada 2 jenis adalah Nothola auminata dan Nothola striata, sedangkan pada siang hari ada 2 jenis adalah Parameium multimironuleatum dan Chironomus sp. Jika dilihat dari jenis makanan yang ditemukan pada ikan Selais ini temyata tergolong pada omnivora atau dapat memakan dari jenis phytoplankton dan zooplankton. Namun bila dilihat dari organ penemaannya temyata lambung memiliki otot yang sangat tebal dan permukaannya luas serta kaku. Kondisi lambung yang demikian memungkinkan ikan untuk memakan berbagai jenis benda keras seperti buah modang Komposisi Makanan Dari komposisi makanan ikan Selais pada saluran penemaan menunjukkan adanya bagian terbesar yang dimakan. Bila diasumsikan bahwa ikan Selais yang tertangkap pada pagi hari masih menyisakan makanan yang belum diema sebesar 2% maka bagian terbesar yang tertinggal adalah dari jenis Closterium sphaerium sebesar % dan sisanya jenis Melosira granulata 31,3 %. Sebaliknya bila kita asumsikan bahwa makanan yang telah terema untuk ikan Selais yang tertangkap siang hari 2% maka bagian terbesar yang tertinggal adalah jenis Datylooopsis aiularis sebesar 23
14 6% sedangkan sisanya dari jenis Stephanodisus invisitatus, Cruigenia apiulata, Closterium sphaerium Am Miroystis maginata, terlihat pada Tabel 4.8. di bawah ini. Tabel 4.8. Indeks Bagian Terbesar Makanan dari Jenis Phytoplankton Jenis Makanan di dalam Panjang Total Ikan Panjang Total Ikan Saluran Penemaan Ikan Selais 2-22,5 m 11,5-13,5 m Kr Fk IBT Kr Fk IBT Stephanodisus invisitatus Melosira granulata Cruigenia apiulata Closterium sphaerium Datylooopsis aiularis Miroystis maginata J TOTAL Indeks bagian terbesar dari jenis zooplankton yang ditemukan lebih dari 9 % dari jenis Nothola auminata pada ikan Selais tertangkap pagi hari dan jenis Parameium multimironuleatum pada ikan Selais tertangkap siang hari, terlihat pada Tabel 4.9. Tabel 4.9. Indeks Bagian Terbesar Makanan dari Jenis Zooplankton Jenis Makanan di dalam Panjang Total Ikan Panjang Total Ikan Saluran Penernaan Ikan Selais 2-22,5 m 11,5-13,5 m Kr Fk IBT Kr Fk IBT Parameium multimironuleatum Nothola auminata Nothola striata.... Chironomus sp TOTAL Jenis-jenis zooplankton dam hewan lainnya yang ditemukan ini adalah jenis yang dapat memberikan nutrisi hewani. Potongan hewan dari famili odonanta, kelas Insekta dan ikan-ikan keil ditemukan masih dalam keadaan utuhpada lambung ikan Selais yang tertangkap pagi. 24
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makanan Alami Ikan Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangbiakan ikan baik ikan air tawar, ikan air payau maupun ikan air laut. Fungsi utama
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Objek dan Lokasi Penelitian 1. Profil Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah jenis zooplankton yang ada di estuari Cipatireman pantai Sindangkerta Kecamatan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai potensi besar dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan usaha dibidang sumber daya perairan. Menurut Sarnita dkk. (1998), luas perairan umum
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air laut merupakan suatu medium yang unik. Sebagai suatu sistem, terdapat hubungan erat antara faktor biotik dan faktor abiotik, karena satu komponen dapat
Gambar 4. Peta Rata-Rata Suhu Setiap Stasiun
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisika Perairan 4.1.1 Suhu Setiap organisme perairan mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap perubahan suhu perairan bagi kehidupan dan pertumbuhan organisme
TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan
5 TINJAUAN PUSTAKA Estuari Estuari merupakan suatu komponen ekosistem pesisir yang dikenal sangat produktif dan paling mudah terganggu oleh tekanan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia maupun oleh
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelompok Umur Pertumbuhan populasi tiram dapat dilihat berdasarkan sebaran kelompok umur. Analisis sebaran kelompok umur dilakukan dengan menggunakan FISAT II metode NORMSEP.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komunitas Fitoplankton Di Pantai Balongan Hasil penelitian di perairan Pantai Balongan, diperoleh data fitoplankton selama empat kali sampling yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae,
Spesies yang diperoleh pada saat penelitian
PEMBAHASAN Spesies yang diperoleh pada saat penelitian Dari hasil identifikasi sampel yang diperoleh pada saat penelitian, ditemukan tiga spesies dari genus Macrobrachium yaitu M. lanchesteri, M. pilimanus
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi dan Kelimpahan Plankton Hasil identifikasi plankton sampai tingkat genus pada tambak udang Cibalong disajikankan pada Tabel 1. Hasil identifikasi komunitas plankton
TINJAUAN PUSTAKA. Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Sungai Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh karena itu, sumber air sangat dibutuhkan untuk dapat menyediakan air yang baik dari segi kuantitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Sungai Tabir terletak di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Sungai Tabir memiliki lebar maksimal 20 meter dan kedalaman maksimal 10 meter.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan karena lingkungan air tawar memiliki beberapa kondisi, antara lain:
18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Indonesia adalah negara kepulauan dengan kawasan maritim yang sangat luas sehingga Indonesia memiliki kekayaan perikanan yang sangat kaya.pengetahuan lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan sekitar 25% aneka spesies di dunia berada di Indonesia. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, diperkirakan sekitar 25% aneka spesies di dunia berada di Indonesia. Indonesia memiliki banyak hutan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan sungai Sungai merupakan salah satu dari habitat perairan tawar. Berdasarkan kondisi lingkungannya atau daerah (zona) pada sungai dapat dibedakan menjadi tiga jenis,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh pada daerah yang berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove memiliki ekosistem khas karena
PARAMETER KUALITAS AIR
KUALITAS AIR TAMBAK PARAMETER KUALITAS AIR Parameter Fisika: a. Suhu b. Kecerahan c. Warna air Parameter Kimia Salinitas Oksigen terlarut ph Ammonia Nitrit Nitrat Fosfat Bahan organik TSS Alkalinitas Parameter
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme, atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Habitat air tawar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perairan mengalir (lotik) dan perairan menggenang (lentik). Perairan mengalir bergerak terus menerus kearah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai merupakan suatu perairan yang airnya berasal dari air tanah dan air hujan, yang mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran tersebut dapat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Danau Limboto merupakan danau yang berada di Kabupaten Gorontalo,
A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Danau Limboto merupakan danau yang berada di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo dengan luas wilayah perairannya mencapai 3000 ha, pada
BAB I PENDAHULUAN. Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Plankton merupakan organisme renik yang hidup melayang-layang di air dan mempunyai kemampaun berenang yang lemah dan pergerakannya selalu dipegaruhi oleh gerakan massa
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian deskriptif (Nazir, 1999: 63). Penelitian ini hanya mengungkapkan fakta mengenai struktur komunitas fitoplankton
IDENTIFIKASI JENIS PLANKTON DI PERAIRAN MUARA BADAK, KALIMANTAN TIMUR
3 Dhani Dianthani Posted 3 May, 3 Makalah Falsafah Sains (PPs ) Program Pasca Sarjana /S3 Institut Pertanian Bogor Mei 3 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab) Dr Bambang Purwantara IDENTIFIKASI
disinyalir disebabkan oleh aktivitas manusia dalam kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, perkebunan, maupun hutan tanaman dan hutan tanaman
1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai kekayaan alam yang beranekaragam termasuk lahan gambut berkisar antara 16-27 juta hektar, mempresentasikan 70% areal gambut di Asia Tenggara
I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat
I. PENDAHULUAN Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat dengan cara membendung aliran sungai sehingga aliran air sungai menjadi terhalang (Thohir, 1985). Wibowo (2004) menyatakan
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Pulau Panggang Kepulauan Seribu DKI Jakarta pada bulan Maret 2013. Identifikasi makrozoobentos dan pengukuran
3. METODE PENELITIAN
21 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Situ IPB yang terletak di dalam Kampus IPB Dramaga, Bogor. Situ IPB secara geografis terletak pada koordinat 106 0 34-106 0 44 BT dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Parameter fisik-kimia dalam penelitian ini digunakan sebagai data penunjang, yang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter fisik-kimia dalam penelitian ini digunakan sebagai data penunjang, yang terdiri atas ph, DO (Dissolved Oxygen atau Oksigen Terlarut), kejernihan dan temperatur air.
Konsentrasi Logam Cd dan Pb Di Sungai Plumbon dan Kaitannya dengan Struktur Komunitas Fitoplankton
G 02 Konsentrasi Logam Cd dan Pb Di Sungai Plumbon dan Kaitannya dengan Struktur Komunitas Fitoplankton Ersan Noviansyah, Siti Rudiyanti* dan Haeruddin Abstrak *Program studi MSP, FPIK, UNDIP Sungai Plumbon
bentos (Anwar, dkk., 1980).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keanekaragaman jenis adalah keanekaragaman yang ditemukan di antara makhluk hidup yang berbeda jenis. Di dalam suatu daerah terdapat bermacam jenis makhluk hidup baik tumbuhan,
STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN MOROSARI, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK
Journal of Marine Research. Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 19-23 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jmr STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN MOROSARI, KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi Klasifikasi Morfologi
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi 2.1.1. Klasifikasi Tiram merupakan jenis bivalva yang bernilai ekonomis. Tiram mempunyai bentuk, tekstur, ukuran yang berbeda-beda (Gambar 2). Keadaan tersebut
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilakukan di kawasan perairan Pulau Biawak, Kabupaten Indramayu. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, dimulai dari bulan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di perairan Waduk Cirata dengan tahap. Penelitian Tahap I merupakan penelitian pendahuluan dengan tujuan untuk mengetahui
I. PENDAHULUAN. Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan ph sekitar 6. Kondisi permukaan air tidak selalu
Beberapa contoh air, plankton, makrozoobentos, substrat, tanaman air dan ikan yang perlu dianalisis dibawa ke laboratorium untuk dianalisis Dari
RINGKASAN SUWARNI. 94233. HUBUNGAN KELOMPOK UKURAN PANJANG IKAN BELOSOH (Glossogobircs giuris) DENGAN KARASTERISTIK HABITAT DI DANAU TEMPE, KABUPATEN WAJO, SULAWESI SELATAN. Di bawah bimbingan Dr. Ir.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sungai adalah tempat berkumpulnya air yang berasal dari hujan yang jatuh di daerah tangkapannya dan mengalir dengan takarannya. Sungai tersebut merupakan drainase
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan bergantung kepada air dalam berbagai bentuk. Air merupakan zat yang sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup yang ada di bumi. Hampir 71%
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan air tawar, salah satunya waduk menempati ruang yang lebih kecil bila dibandingkan dengan lautan maupun daratan, namun demikian ekosistem air tawar memiliki
PENGARUH AKTIVITAS MASYARAKAT TERHADAP KUALITAS AIR DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI SUNGAI BELAWAN MEDAN
Jamaran Kaban Daniel PENGARUH AKTIVITAS MASYARAKAT TERHADAP KUALITAS AIR DAN KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI SUNGAI BELAWAN MEDAN Mayang Sari Yeanny Biologi FMIPA USU Abstract The research about the influence
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak di Cagar Alam Leuweung Sancang. Cagar Alam Leuweung Sancang, menjadi satu-satunya cagar
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Cuvier (1829), Ikan tembakang atau lebih dikenal kissing gouramy,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tembakang Menurut Cuvier (1829), Ikan tembakang atau lebih dikenal kissing gouramy, hidup pada habitat danau atau sungai dan lebih menyukai air yang bergerak lambat dengan vegetasi
TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air
TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sungai merupakan suatu bentuk ekositem aquatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi daerah di sekitarnya,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Lokasi penelitian secara umum berada di Kabupaten Indramayu tepatnya di Desa Brondong Kecamatan Pasekan. Wilayah pesisir di sepanjang pantai
Total rata-rata kemelimpahan plankton pada media air sumur sebesar 3,557 x. tertinggi didapatkan pada media air rendaman kangkung.
32 Total rata-rata kemelimpahan plankton pada media air sumur sebesar 3,557 x 10 5 ekor/liter dan total rata-rata kemelimpahan plankton pada media air rendaman kangkung sebesar 3,946 x 10 5 ekor/liter.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Lokasi penelitian berada di sungai Brantas di mana pengambilan sampel dilakukan mulai dari bagian hilir di Kota Surabaya hingga ke bagian hulu di Kecamatan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Lele Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Filum: Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies :
3. METODE PENELITIAN
15 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di muara Sungai Citepus, Kecamatan Palabuhanratu dan muara Sungai Sukawayana, Kecamatan Cikakak, Teluk Palabuhanratu, Kabupaten
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dimulai dari bulan Oktober 2013 hingga Januari 2014. Pengambilan sampel dilakukan di Rawa Bawang Latak, Desa Ujung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis
bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek
II. TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek Puntius Orphoides C.V adalah ikan yang termasuk anggota Familia Cyprinidae, disebut juga dengan ikan mata merah. Ikan brek mempunyai garis rusuk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produktivitas Primer Fitoplankton Berdasarkan hasil penelitian di Situ Cileunca didapatkan nilai rata-rata produktivitas primer (PP) fitoplankton pada Tabel 6. Nilai PP
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar. Wilayah tersebut telah banyak dimanfaatkan dan memberikan sumbangan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
16 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Kajian populasi Kondisi populasi keong bakau lebih baik di lahan terlantar bekas tambak dibandingkan di daerah bermangrove. Hal ini ditunjukkan oleh nilai kepadatan
3. METODE PENELITIAN
12 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Juli 2011 dalam selang waktu 1 bulan sekali. Pengambilan contoh dilakukan sebanyak 5 kali (19 Maret
BAB III METODE PENELITIAN. Telaga Bromo terletak di perbatasan antara desa Kepek kecamatan
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Telaga Bromo terletak di perbatasan antara desa Kepek kecamatan Saptosari dan desa Karangasem kecamatan Paliyan, kabupaten Gunungkidul. B. Waktu Penelitian
PENDAHULUAN. di darat maupun di laut. Kandungan bahan organik di darat mencerminkan
15 PENDAHULUAN Latar Belakang Bahan organik merupakan salah satu indikator kesuburan lingkungan baik di darat maupun di laut. Kandungan bahan organik di darat mencerminkan kualitas tanah dan di perairan
V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN
49 V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN 5.1 Distribusi Parameter Kualitas Perairan Karakteristik suatu perairan dan kualitasnya ditentukan oleh distribusi parameter fisik dan kimia perairan yang berlangsung
BAB I PENDAHULUAN. memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki jumlah pulau yang sangat banyak. Secara astronomis, Indonesia terletak pada garis
BAB I PENDAHULUAN. Setiap daerah di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap daerah di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar. Kekayaan hayati Indonesia tidak hanya terdapat di daratan tetapi juga di perairan. Kekayaan
Stasiun 1 ke stasiun 2 yaitu + 11,8 km. Stasiun '4.03"LU '6.72" BT. Stasiun 2 ke stasiun 3 yaitu + 2 km.
8 menyebabkan kematian biota tersebut. Selain itu, keberadaan predator juga menjadi faktor lainnya yang mempengaruhi hilangnya atau menurunnya jumlah makrozoobentos. 3 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi umum daerah Wonorejo Kawasan mangrove di Desa Wonorejo yang tumbuh secara alami dan juga semi buatan telah diputuskan oleh pemerintah Surabaya sebagai tempat ekowisata.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai Negara maritim karena sebagian besar wilayahnya didominasi oleh perairan. Perairan ini meliputi perairan laut, payau, maupun perairan
3. METODE PENELITIAN
11 3. METODE PENELITIAN 3. 1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Danau Lido, Bogor, Jawa Barat. Danau Lido berada pada koordinat 106 48 26-106 48 50 BT dan 6 44 30-6 44 58 LS (Gambar
KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN WADUK KRENCENG, CILEGON, BANTEN
KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN WADUK KRENCENG, CILEGON, BANTEN Sri Handayani dan Mufti P. Patria 2. Fakultas Biologi, Universitas Nasional, Jakarta 220, Indonesia 2. Departemen Biologi, FMIPA, Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai dingin dan
BAB I. Kegiatan manusia di sekitar perairan dapat mengakibatkan masuknya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan manusia di sekitar perairan dapat mengakibatkan masuknya bermacam substansi ke dalam sistem perairan. Sebagian dari substansi ini secara tidak langsung
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
. HASIL DAN PEMBAHASAN.. Hasil Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah pola distribusi vertikal oksigen terlarut, fluktuasi harian oksigen terlarut, produksi primer, rincian oksigen terlarut, produksi
BAB I PENDAHULUAN. Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat vital bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehingga kualitas airnya harus tetap terjaga. Menurut Widianto
II. TINJAUAN PUSTAKA. Ikan patin siam merupakan salah satu komoditas ikan yang dikenal sebagai
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Patin Siam Ikan patin siam merupakan salah satu komoditas ikan yang dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
27 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi Vertikal Oksigen Terlarut Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor pembatas bagi sumberdaya suatu perairan karena akan berpengaruh secara langsung pada kehidupan
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos Odum (1993) menyatakan bahwa benthos adalah organisme yang hidup pada permukaan atau di dalam substrat dasar perairan yang meliputi organisme
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi dan Kelimpahan Plankton Hasil identifikasi komunitas plankton sampai tingkat genus di Pulau Biawak terdiri dari 18 genus plankton yang terbagi kedalam 14 genera
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang s
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Morotai yang terletak di ujung utara Provinsi Maluku Utara secara geografis berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik di sebelah utara, sebelah selatan berbatasan
BAB I PENDAHULUAN. Sungai Tabir merupakan sungai yang berada di Kecamatan Tabir Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sungai Tabir merupakan sungai yang berada di Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Sungai yang berhulu di Danau Kerinci dan bermuara di Sungai Batanghari
Water Quality Black Water River Pekanbaru in terms of Physics-Chemistry and Phytoplankton Communities.
Water Quality Black Water River Pekanbaru in terms of Physics-Chemistry and Phytoplankton Communities Dedy Muharwin Lubis, Nur El Fajri 2, Eni Sumiarsih 2 Email : [email protected] This study was
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Pengamatan Desa Otiola merupakan pemekaran dari Desa Ponelo dimana pemekaran tersebut terjadi pada Bulan Januari tahun 2010. Nama Desa Otiola diambil
2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Chironomida Organisme akuatik yang seringkali mendominasi dan banyak ditemukan di lingkungan perairan adalah larva serangga air. Salah satu larva serangga air yang dapat ditemukan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu penelitian untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis,
sedangkan sisanya berupa massa air daratan ( air payau dan air tawar ). sehingga sinar matahari dapat menembus kedalam air.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perairan merupakan ekosistem yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan. Perairan memiliki fungsi baik secara ekologis, ekonomis, estetika, politis,
TINJAUAN PUSTAKA. menimbulkan dampak yang merugikan bagi manusia sendiri (Mulyanto, 2007). bahan organik karena faktor terbawa arus (Widi, 2000).
5 TINJAUAN PUSTAKA Sungai Sejak jaman purba sungai merupakan suatu unsur alam yang berperan di dalam membentuk corak kebudayaan suatu bangsa. Ketersediaan airnya, lembahnya yang subur, dan lain-lain potensinya
BAB 2 BAHAN DAN METODA
BAB 2 BAHAN DAN METODA 2.1 Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 Maret- 20 Juli 2011 di Perairan Kuala Tanjung Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara, dan laboratorium Pengelolaan
BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km 2.
KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG
KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG F1 05 1), Sigit Febrianto, Nurul Latifah 1) Muhammad Zainuri 2), Jusup Suprijanto 3) 1) Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNDIP
SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA
SEBARAN DAN ASOSIASI PERIFITON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUN (Enhalus acoroides) DI PERAIRAN PULAU TIDUNG BESAR, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA UTARA Oleh: Yuri Hertanto C64101046 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem padang lamun (seagrass) merupakan suatu habitat yang sering dijumpai antara pantai berpasir atau daerah mangrove dan terumbu karang. Padang lamun berada di daerah
I. PENDAHULUAN. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai peran penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai saluran air bagi daerah sekitarnya. Oleh karena
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN SURAMADU KECAMATAN LABANG KABUPATEN BANGKALAN
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN SURAMADU KECAMATAN LABANG KABUPATEN BANGKALAN Novi Indriyawati, Indah Wahyuni Abida, Haryo Triajie Jurusan Ilmu Kelautan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif.
BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan data sampel menggunakan metode eksplorasi, yaitu pengamatan atau pengambilan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Laju Pertumbuhan Spesifik (Specific Growth Rate) Selama 40 hari masa pemeliharaan nilem terjadi peningkatan bobot dari 2,24 ± 0,65 g menjadi 6,31 ± 3,23 g. Laju
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisik Kimiawi dan Biologi Perairan Dari hasil penelitian didapatkan data parameter fisik (suhu) kimiawi (salinitas, amonia, nitrat, orthofosfat, dan silikat) dan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik penentuan lokasi
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik penentuan lokasi secara purposive sampling (penempatan titik sampel dengan tujuan
PENDAHULUAN. seperti analisis fisika dan kimia air serta biologi. Analisis fisika dan kimia air
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penentuan kualitas suatu perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti analisis fisika dan kimia air serta biologi. Analisis fisika dan kimia air kurang memberikan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sungai Bone mempunyai panjang 119,13 Km 2 yang melintasi wilayah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi penelitian Sungai Bone mempunyai panjang 119,13 Km 2 yang melintasi wilayah Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo. Sungai ini bermuara ke
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Komposisi Ikan Hasil Tangkapan Selama Penelitian
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Ikan Hasil Tangkapan Selama Penelitian Ikan yang tertangkap selama penelitian di Perairan Suaka Margasatwa Muara Angketepatnya yang berlokasi disekitar pesisir
- Keterkaitan faktor fisika-kimia perairan terhadap karakter morfometrik tubuh. spp. dari bebcrapa lokasi penelitian di sungai Kampar dan sungai
12 - Keterkaitan faktor fisika-kimia perairan terhadap karakter morfometrik tubuh Kryptopterus spp. dari bebcrapa lokasi penelitian di sungai Kampar dan sungai Indragiri dianalisis secara multivariat dengan
Latar Belakang (1) Ekosistem mangrove Produktivitas tinggi. Habitat berbagai organisme makrobentik. Polychaeta
Latar Belakang (1) Ekosistem mangrove Produktivitas tinggi Habitat berbagai organisme makrobentik Kelompok makrobentik infauna yang berperan penting pada ekosistem substrat lunak Berperan dalam proses
