BAB II STUDI PUSTAKA
|
|
|
- Widya Setiawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II STUDI PUSTAKA A. DEFINISI KRITERIA Pengertian dan literatur yang membahas khusus masalah kriteria ternyata belum banyak ditemukan, scope kriteria sangat sempit setelah melihat kenyataan bahwa kriteria digunakan oleh manusia pada umumnya hanya sebagai salah satu alat bantu dalam proses atau teknis pengambilan keputusan. 1. Definisi Beberapa definisi kriteria yang diperoleh dari referensi adalah sebagai berikut: a. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP, 1990) Pengertian kriteria yang berlaku secara umum adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu ; b. (Kamus Besar Bahasa Indonesia-online) Kriteria : /kritéria/ n ukuran yg menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu; -- delisting Ek ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan dicoretnya (dikeluarkannya) suatu lembaga atau badan dari papan bursa efek. 2. Sifat kriteria Kriteria yang ditetapkan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a. Kriteria selalu mengandung nilai-nilai yang universal maupun lokal; b. Harus dipastikan bahwa kriteria tersebut berfungsi dengan baik pada saat dipergunakan (mengandung nilai-nilai yang statis maupun dinamis); Harus dipastikan bahwa orang yang akan menggunakan kriteria tersebut benar-benar memahami seluk-beluk tentang kriteria yang dimaksud. Istilah kriteria sering juga dikenal dengan kata tolok ukur atau standar. Dari nama-nama yang digunakan tersebut dapat segera dipahami bahwa kriteria, tolok ukur, atau standar, adalah sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas minimal Laporan Akhir II - 1
2 untuk sesuatu yang diukur. Kriteria atau standar dapat disamakan dengan takaran. Jika untuk mengetahui berat beras digunakan timbangan, panjangnya benda digunakan meteran maka kriteria atau tolak ukur digunakan untuk menakar kondisi objek yang dinilai. Tentang batas yang ditunjuk oleh kriteria, sebagaian orang mengatakan bahwa tolok ukur adalah batas atas, artinya batas maksimal yang harus dicapai. Sementara sebagaian orang lainnya bahwa tolok ukur atau kriteria adalah batas bawah yaitu batas minimal yang harus dicapai. Dapat disimpulkan bahwa kriteria atau kriteria atau tolok ukur itu bersifat jamak menunjukkan batas atas dan batas bawah. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kriteria adalah ukuran yg menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu; delisting Ek ukuran yg menjadi dasar penilaian atau penetapan dicoretnya (dikeluarkannya) suatu lembaga atau badan dari papan bursa efek. UKURAN TOLOK UKUR ETIKA KRITERIA PATOKAN STANDAR Gambar 2.1. isual Arti Kata Kriteria Laporan Akhir II - 2
3 B. SISTEM TRANSPORTASI LAUT a. Unitzed, Petikemas, Curah Kering, b. Ekonomi-Bisnis Cair, Perdagangan, Investasi dan Pelayaran Industri, Produksi, Pertumbuhan Ekonomi Teknologi dan Spesialisasi (A) CARGO/ MUATAN (B) KAPAL c. Akses Laut dan darat, Kapasitas dan Pelayanan, Efisiensi dan Efektifitas Spesialisasi Terminal Hub Port ( C ) PELABUHAN TRANSPORTASI LAUT Gambar 2.2 Sistem Transportasi Laut Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai potensi wilayah tersebar dari hinterland, dihubungkan oleh jaringan transportasi jalan ke pelabuhan, sistem transportasi laut, sistem transportasi laut (kepelabuhanan, pelayaran/perkapalan dan potensi pergerakan barang) sebagaimana tampak pada gambar diatas. Mempunyai fungsi sangat penting. Pelabuhan sebagai titik-titik simpul jasa distribusi melalui laut dan sebagai pusat kegiatan transportasi laut, menyediakan ruang untuk industri dan menunjang pembangunan masa depan. Moda transportasi laut lebih efisien untuk mengangkut barang dalam jumlah besar, kecepatan dan biaya angkutan perton mil relatif rendah dan sangat menguntungkan untuk angkutan barang jarak jauh pada wilayah kepulauan. Pengembangan transportasi jangka pendek dan menengah berdasar pada kriteria pengembangan jaringan transportasi nasional meliputi: fungsi kota dan tata ruang nasional, pola produksi dan konsumsi, faktor Laporan Akhir II - 3
4 geografis dan moda yang paling ekonomis dalam melayani arus barang dan penumpang. C. TATANAN INFRASTRUKTUR PELABUHAN Menurut UU No. 17/2008 tentang pelayaran, Bab II bagian kepelabuhanan, menjelaskan tentang tatanan kepelabuhan Nasional diwujudkan dalam rangka penyelenggaraan pelabuhan yang andal dan berkemampuan tinggi, menjamin efisiensi dan mempunyai daya saing global untuk menunjang pembangunan nasional dan daerah berwawasan nusantara. Laporan Akhir II - 4
5 Melayani Angkutan Barang LN Ekspor Impor Melayani angkutan barang DN Melayani angkutan Penumpang Menunjang daerah terkebelakang Antar Pulau Antar Daerah Sektoral Regional Fungsi Pelabuhan Menunjang Industri Pembangunan Industri daerah Pembangunan di pantai Industri Pemukiman Supplay tenaga listrik Kegiatan tempat rekreasi Perbaikan lingkungan hidup Menunjang Kehidupan Penduduk Kegiatan kemasyarakatan Bantuan untuk bencana alam dll Gambar 2.3 Fungsi Pelabuhan Laporan Akhir II - 5
6 Tatanan kepelabuhan nasional merupakan sistem kepelabuhanan secara nasional menggambarkan perencanaan kepelabuhanan berdasarkan kawasan ekonomi, geografi, dan keunggulan komparatif wilayah serta kondisi alam. Tatanan kepelabuhan nasional memuat peran, fungsi, jenis, hierarki pelabuhan, rencana induk pelabuhan nasional,dan lokasi pelabuhan. Pelabuhan adalah suatu kawasan yang mempunyai infrastruktur (sarana dan prasarana) dalam menunjang kegiatan operasional. Infrastruktur tersebut merupakan fasilitas yang harus ada pada suatu pelabuhan untuk mendukung operasional atau usaha pelabuhan. Infrastuktur atau fasilitas pelabuhan terdiri dari fasilitas pokok (sarana) dan fasilitas penunjang (prasarana). Pembagian ini berdasarkan atas kepentingan terhadap kegiatan pelabuhan itu sendiri. Definisi yang tercantum dalam PP No. 61 / 2009 tentang Kepelabuhanan menjelaskan bahwa, pertama, pelabuhan utama adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan dalam negeri dan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/ atau barang serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antar provinsi. Kedua, pelabuhan pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/ atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antar provinsi. D. PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN YANG TERKAIT DENGAN PENYUSUNAN KRITERIA DI BIDANG PELAYARAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran dengan jelas ditegaskan bahwa negara mempunyai hak penguasaan atas penyelenggaraan pelayaran yang perwujudannya meliputi aspek pengaturan, pengendalian, dan pengawasan. Oleh karena itu, dalam Bab I Pembinaan pasal 5 ayat (3) Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran yang ditegaskan bahwa Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi penetapan kebijakan umum dan teknis, antara lain, penentuan norma, standar, pedoman, kriteria, perencanaan, dan prosedur termasuk persyaratan keselamatan dan keamanan pelayaran serta perizinan. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai dasar hukum yang digunakan untuk penyusunan masing-masing kriteria. Laporan Akhir II - 6
7 1. Kriteria pelabuhan yang dapat diusahakan secara komersial dan non komersial a. UU NO. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran Dalam UU No. 17 tahun 208 pasal 1 butir 16, pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi. b. PP 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan Dalam pasal 6 ayat 3 PP No. 61 tahun 2009 tentang kepelabuhanan disebutkan bahwa secara hirarkhi, pelabuhan laut terdiri dari pelabuhan utama, pelabuhan pengumpul dan pelabuhan pengumpan. Sebagaimana dijelaskan dalam pasal 10 ayat 2, bahwa rencana lokasi pelabuhan yang akan dibangun harus sesuai dengan: 1) rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi, dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota; 2) potensi dan perkembangan sosial ekonomi wilayah; 3) potensi sumber daya alam; dan 4) perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional. Sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 20 ayat 1 bahwa setiap pelabuhan wajib memiliki Rencana Induk Pelabuhan. Selanjutnya dalam Pasal 21 bahwa Rencana Induk Pelabuhan laut meliputi rencana peruntukan wilayah daratan dan perairan. Rencana peruntukan wilayah daratan dan perairan tersebut disusun berdasarkan kriteria kebutuhan fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. Pasal 22 ayat 2 menyebutkan bahwa fasilitas pokok untuk wilayah daratan meliputi: 1) dermaga; 2) gudang lini 1; 3) lapangan penumpukan lini 1; Laporan Akhir II - 7
8 4) terminal penumpang; 5) terminal peti kemas; 6) terminal ro-ro; 7) fasilitas penampungan dan pengolahan limbah; 8) fasilitas bunker; 9) fasilitas pemadam kebakaran; 10) fasilitas gudang untuk Bahan/Barang Berbahaya dan Beracun (B3); dan 11) fasilitas pemeliharaan dan perbaikan peralatan dan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran (SBNP). Fasilitas penunjang wilayah daratan meliputi: 1) kawasan perkantoran; 2) fasilitas pos dan telekomunikasi; 3) fasilitas pariwisata dan perhotelan; 4) instalasi air bersih, listrik, dan telekomunikasi; 5) jaringan jalan dan rel kereta api; 6) jaringan air limbah, drainase, dan sampah; 7) areal pengembangan pelabuhan; 8) tempat tunggu kendaraan bermotor; 9) kawasan perdagangan; 10) kawasan industri; dan 11) fasilitas umum lainnya. Fasilitas pokok dan fasilias penunjang wilayah perairan dijelaskan dalam pasal 23 PP No. 61 tahun Fasilitas pokok wilayah perairan meliputi: 1) alur-pelayaran; 2) perairan tempat labuh; 3) kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar dan olah gerak kapal; 4) perairan tempat alih muat kapal; 5) perairan untuk kapal yang mengangkut Bahan/Barang Berbahaya dan Beracun (B3); 6) perairan untuk kegiatan karantina; 7) perairan alur penghubung intra pelabuhan; 8) perairan pandu; dan 9) perairan untuk kapal pemerintah Fasilitas penunjang untuk wilayah perairan meliputi: 1) perairan untuk pengembangan pelabuhan jangka panjang; 2) perairan untuk fasilitas pembangunan dan pemeliharaan kapal; Laporan Akhir II - 8
9 3) perairan tempat uji coba kapal (percobaan berlayar); 4) perairan tempat kapal mati; 5) perairan untuk keperluan darurat; dan 6) perairan untuk kegiatan kepariwisataan dan perhotelan. Pasal 97 ayat 1 bahwa pengoperasian pelabuhan dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia operasional sesuai dengan frekuensi kunjungan kapal, bongkar muat barang, dan naik turun penumpang. c. KP.414 Tahun 2013 Tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional isi kepelabuhanan Indonesia yang dapat merefleksikan perannya secara multi-dimensi adalah Sistem kepelabuhanan yang efisien, kompetitif dan responsif yang mendukung perdagangan internasional dan domestik serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan wilayah. UU Pelayaran No. 17 tahun 2008 menetapkan bahwa Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) disusun sebagai kerangka kebijakan untuk memfasilitasi tercapainya visi tersebut. RIPN akan menjadi acuan bagi pembangunan kepelabuhanan di Indonesia. Di dalam RIPN juga terdapat prediksi lalulintas pelabuhan, kebutuhan pengembangan fisik pelabuhan, kebutuhan investasi dan strategi pendanaan, program modernisasi pelabuhan dan integrasinya dengan pembangunan ekonomi dalam kerangka sistem transportasi nasional. Dalam Pasal 3 rancangan tatanan kepelabuhanan nasional bahwa: 1) Lokasi pelabuhan merupakan wilayah daratan dan perairan tertentu yang meliputi Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKp). 2) Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan terdiri atas: a) Wilayah daratan yang digunakan untuk kegiatan fasilitas pokok dan fasilitas penunjang; dan; b) Wilayah perairan yang digunakan untuk kegiatan alur pelayaran, tempat labuh, tempat Laporan Akhir II - 9
10 alih muatan antar kapal, kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar dan olah gerak kapal, kegiatan pemanduan, tempat perbaikan kapal, dan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan. 3) Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan merupakan perairan pelabuhan diluar Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan yang digunakan untuk alur pelayaran dari dan ke pelabuhan, keperluan keadaan darurat, pengembangan pelabuhan jangka panjang, penempatan kapal mati, percobaan berlayar, kegiatan pemanduan, fasilitas pembangunan dan pemeliharaan kapal. 4) Rencana lokasi pelabuhan yang akan dibangun harus sesuai dengan: a) Rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang propinsi dan tata ruang wilayah kabupaten/kota; b) Potensi dan perkembangan sosial ekonomi wilayah; c) Potensi sumber daya alam dan; d) Perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional. 5) Penggunaan wilayah daratan dan perairan tertentu sebagai lokasi pelabuhan ditetapkan oleh Menteri atas dasar pengajuan permohonan dari Pemerintah atau pemerintah daerah. Pasal 6 tentang Hierarki Pelabuhan Laut, bahwa pelabuhan Laut terdiri dari 3 (tiga) hierarki yaitu: 1) Pelabuhan Utama yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/ atau barang; 2) Pelabuhan Pengumpul yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah menengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/ atau barang; 3) Pelabuhan Pengumpan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan atau/ barang. Laporan Akhir II - 10
11 Pasal 7 bahwa Rencana pembangunan pelabuhan secara nasional menggunakan pendekatan klaster, yaitu berdasarkan pengelompokan pelabuhan yang secara geografis berdekatan dan secara operasional saling terkait. Pelabuhan dahulu hanya merupakan suatu tepian dari lautan yang sangat luas di mana kapal-kapal dan perahuperahu bersandar dan membuang jangkar untuk melakukan pekerjaan membongkar dan memuat barangbarang, serta pekerjaan-pekerjaan lainnya. Kemudian sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi, pelabuhan yang pada jaman dahulu sederhana berkembang menjadi suatu daerah atau lingkungan yang cukup luas yang perlu perhatian dari pemerintah dimana pelabuhan itu berada. Pelabuhan yang telah dikelola terdapat berbagai fasilitas yang diperlukan guna menyelenggarakan pemuatan dan pembongkaran barang dari dan ke kapal sesuai dengan bentuk atau desain kapal untuk pelayanan kegiatan embarkasi dan debarkasi penumpang, barang dan hewan. Pengertian secara umum, Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang. Ditinjau dari sub sistem angkutan (Transport), maka pelabuhan adalah salah satu simpul dari mata rantai kelancaran angkutan muatan laut dan darat. Jadi secara umum pelabuhan adalah suatu daerah perairan yang terlindung terhadap badai/ombak/arus, sehingga kapal dapat berputar (turning basin), bersandar/membuang sauh,sedemikian rupa sehingga bongkar muat atas barang dan perpindahan penumpang dapat dilaksanakan; guna mendukung fungsi-fungsi tersebut dibangun dermaga (piers or wharves), jalan, gudang, fasilitas penerangan, telekomunikasi dan sebagainya, sehingga fungsi pemindahan muatan dari/ke kapal yang bersandar di Laporan Akhir II - 11
12 pelabuhan menuju pelabuhan selanjutnya dapat dilaksanakan. Secara teknis pelabuhan adalah salah satu bagian dari Ilmu Bangunan Maritim, dimana padanya dimungkinkan kapal-kapal berlabuh atau bersandar dan kemudian dilakukan bongkar muat. Klasifikasi pelabuhan ditinjau dari pemungutan jasa-jasa: 1) Pelabuhan yang diusahakan, yaitu pelabuhan dalam binaan Pemerintah yang sesuai kondisi, kemampuan dan pengembangan potensinya, diusahakan menurut azas hukum perusahaan. 2) Pelabuhan yang tidak diusahakan, yaitu pelabuhan dalam pembinaan Pemerintah yang sesuai kondisi kemampuan dan pengembangan potensinya masih menonjol sifat "overheid-zorg". 3) Pelabuhan otonom, yaitu pelabuhan yang diserahkan wewenangnya untuk mengatur diri sendiri. Bila ditinjau dari segi pengusahaanya maka arti pelabuhan adalah : 1) Pelabuhan yang diusahakan Pelabuhan yang diusahakan, yaitu pelabuhan yang sengaja diselenggarakan untuk memberikan fasilitas-fasilitas yang diperlukan oleh kapal yang memasuki pelabuhan untuk melakukan kegiatan bongkar muat dan kegiatan lainnya. Pelabuhan semacam ini tentu saja dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang untuk pemakaian oleh kapal dan muatannya, dikenakan pembayaranpembayaran tertentu 2) Pelabuhan yang tidak diusahakan, yaitu pelabuhan yang sekedar hanya merupakan tempat kapal/ perahu dan tanpa fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pelabuhan. Pelabuhan yang berstatus komersial adalah pelabuhan besar yang saat ini dikelola oleh Pelabuhan Indonesia, sedangkan status nonkomersial berlaku untuk pelabuhan skala kecil. Pemerintah akan selalu mengevaluasi perkembangan dari pelabuhan berskala kecil atau non komersial. Dalam hal ini, jika dinilai telah memenuhi syarat,pemerintah akan menetapkan sebuah pelabuhan nonkomersial menjadi pelabuhan komersial. Pelabuhan Laporan Akhir II - 12
13 nonkomersial banyak terdapat di wilayah-wilayah terpencil, seperti di kawasan timur Indonesia. Ke depan, pemerintah diwajibkan untuk selalu memetakan pelabuhan-pelabuhan nonkomersial, untuk selanjutnya dikomersialkan. Dari 758 pelabuhan umum yang terdapat di Indonesia, 112 adalah pelabuhan komersial dan 646 pelabuhan non komersial (Pelindo). Dari 112 pelabuhan komersial yang ada 25 diantaranya merupakan pelabuhan strategis. Dari 25 pelabuhan yang dianggap strategis tersebut 4 pelabuhan merupakan pelabuhan utama yang dikategorikan sebagai Gate Way Port, 14 pelabuhan sebagai Regional Collector Port, termasuk di dalamnya Pelabuhan Sorong yang berada di bawah pengelolaan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, sedang sisanya merupakan Trunk Port. Oleh sebab itu, maka perlu disusun suatu kriteria pelabuhan yang diusahakan secara komersial maupun non komersial. Adapun persyaratan menuju pelabuhan komersil, bahwa pelabuhan harus dikelola langsung oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP). Badan yang memiliki kompetensi di bidang kepelabuhan ini, perlu pula dilengkapi izin usaha dan operasional yang dikeluarkan langsung oleh Menteri Perhubungan Laut. Selain itu, BUP diharuskan berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah atau Perseroan Terbatas (PT) di bidang kepelabuhanan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah (Perda). Disamping itu, masih ada persyaratan administratif, BUP harus memiliki NPWP dan keterangan domisili perusahaan, memiliki akte pendirian perusahaan di bidang kepelabuhanan, menguasai sarana dan prasarana fasilitas pelabuhan (surat tanah), memiliki Sumber daya Manusia (SDM) di bidang kepelabuhanan yang bersertifikat serta memiliki proposal rencana kegiatan. Sarana dan prasarana siap secara teknis keselamatan dan operasional. Dari sisi persyaratan teknis, dermaga pelabuhan harus dilengkapi dolphin (tempat sandar kapal). Pelabuhan non komersial merupakan pelabuhan lokal yang berskala kecil, biasanya terletak di daerah terpencil. Laporan Akhir II - 13
14 Dalam pasal 6 PP 61 Tahun 2009 tentang kepelabuhanan, bahwa pelabuhan lokal yang merupakan pelabuhan pengumpan sekunder ditetapkan dengan memperhatikan: 1) Kebijakan pemerintah yang menunjang pusat pertumbuhan ekonomi; 2) Kabupaten/Kota dan pemerataan serta meningkatkan pembangunan Kabupaten/Kota; 3) Berfungsi untuk melayani penumpang dan barang antar Kecamatan dalam Kabupaten/Kota terhadap kebutuhan modal transportasi laut dan/atau perairannya; 4) Memiliki kondisi teknis pelabuhan yang terlindung dari gelombang dengan luas daratan dan perairan tertentu; 5) olume kegiatan bongkar muat. Tabel 2.1. Kriteria pelabuhan yang dapat diusahakan secara komersial No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Komersial 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas dermaga - Ukuran lebih besar dari yang eksisting - Alat bongkar muat dengan kapasitas besar - Memiliki peralatan bongkar muat sesuai dengan jenis muatan kapal - Memiliki jalan untuk lalu lintas kendaraan pengangkut dan penumpang yang sangat lebar. - Sistim pengamanan yang ketat 2. Kriteria tingkat 1 : Memiliki Gudang - Memiliki gudang yang khusus untuk setiap jenis muatan - Memiliki gudang terbuka - Memiliki gudang tertutup - Pengamanan gudang 3. Kriteria tingkat 1 : Memiliki Lapangan Penumpukan - Memiliki ukuran minimal untuk lapangan penumpukan curah Non Laporan Akhir II - 14
15 No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Komersial - Memiliki ukuran minimal untuk lapangan penumpukan kontainer - Fasilitas lampu penerangan - Pengamanan - Pemagaran - Memiliki Pos jaga 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki terminal penumpang - Memiliki tempat tunggu yang nyaman dan ber ac - Memiliki tempat masuk dan keluar yang tertata rapih dan teratur untuk masuk keluar penumpang - Memiliki tempat tunggu khusus (lounge) - Memiliki tempat pembelian tiket - Memiliki pengamanan yang baik 5. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas pemadam kebakaran - Memiliki kendaraan pemadam kebakaran yang ukuran paling besar - Memiliki kendaraan pemadam kebakaran ukuran kecil - Memilki ambulance - Mempunyai personil pemadam kebakaran yang terlatih - Sistim komunikasi keadaan darurat apabila terjadi kebakaran 6. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas bunker - Memililki bunker yang terpisah antara kepentingan umum dengan kepentingan khusus - Memiliki ukuran yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan, termasuk cadangan dalam jangka waktu 1 bulan. - Sistem pengamanan pada bunker - Pengaturan pelayanan bongkar muat 7. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas gudang untuk barang berbahaya dan beracun Non Laporan Akhir II - 15
16 No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Komersial - Lokasi tersendiri dan khusus Jarak kurang lebih 3 mill dari tepi pantai - Sistim pengamanan daerah B3 - Monitoring daerah B3 8. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas pemeliharaan dan perbaikan peralatan SBNP - Memiliki workshop khusus dan lengkap - Memiliki lapangan tempat peletakan SBNP - Berada di dalam pelabuhan 9. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kawasan perkantoran - Kawasan perkantoran satu atap - Berada di dalam kawasan pelabuhan - Ukuran kantor yang besar - Memiliki taman dan pepohonan - Keamanan terpadu 10. Kriteria tingkat 1 : Memiliki instalasi air bersih, listrik dan perhotelan - Memiliki instalasi pembangkit air tawar (jenis Reverse Osmosis) - Memiliki instalasi pembangkit ari tawar (jenis Fresh water generator) - Mempunyai gardu listrik PLN khusus pelabuhan - Memiliki generator listrik kapasitas besar untuk seluruh kawasan pelabuhan - Memiliki hotel yang dikelola oleh pelabuhan 11. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas umum lainnya - Food Court - Rumah Sakit - Tempat ibadah - Taman 12. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kolam pelabuhan untuk sandar dan olah gerak kapal Non Laporan Akhir II - 16
17 No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Komersial - Ukuran kolam pelabuhan minimal 2 x LOA kapal yang diijinkan - Memiliki kedalaman minimal sesuai draft kapal yang diijinkan - Ukuran tempat sandar minimal 2 x LOA kapal yang bersandar - Memiliki kedalaman minimal sesuai draft kapal yang diijinkan 13. Kriteria tingkat 1 : Dikelola oleh badan usaha pelabuhan yang memiliki kompetensi di bidang kepelabuhanan - Badan usaha adalah perusahaan minimal dari Perusahaan terbatas (PT) - Memiliki SDM yang bersertifikat untuk melakukan kegiatan pelabuhan - Memiliki pengalaman pengaturan kepelabuhanan sekurang-kurangnya 5 tahun, minimal pada pelabuhan yang setara dengan pelabuhan yang akan dikelola. - Memiliki ijin badan usaha yang sesuai dengan kegiatan usahanya dan berhubungan dengan kegiatan yang dikelolanya. 14. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas telekomunikasi - Telepon umum dan kemampuannya untuk interlokal dan internasional - Pelayanan Faxcimile umum - Pelayanan Internet (hot spot) 15. Kriteria tingkat 1 : Didukung oleh SDM di bidang kepelabuhanan yang bersertifikat - Minimal dari pendidikan sekolah pelayaran yang terakreditasi - Memiliki sertifikat dengan pendidikan training yang diselenggarakan oleh badan pelatihan yang terakreditasi Non Laporan Akhir II - 17
18 No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Komersial - Memiliki senior expert minimal 1 orang dan Junior jumlahnya sesuai kebutuhan dalam mengelola setiap kegiatan pelabuhan - Setiap 2 tahun melakukan training, drilling dan exercise dengan bidang yang dimiliki oleh SDM tersebut Non Tabel 2.2. No. Kriteria pelabuhan yang dapat diusahakan secara non komersial Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Non Komersial 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas tambat - Untuk ukuran kapal sesuai dengan ukuran pelabuhan - Fasilitas tambat selalu dalam kondisi terawat - Mudah untuk melakukan penambatan - Perlengkapan tambat sesuai spesifikasi standar keselamatan kapal 2. - Memiliki prosedur pengangkutan penumpang dan barang - Melayani route kecamatan dala kabupaten/kota - Fasilitas pusat informasi untuk pelayanan tiket penumpang dan barang - Memiliki tempat khusus naik turun penumpang dan barang untuk tujuan antar kecamatan dan kabupaten/kota - Melayani penumpang yang cacat 3. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kondisi perairan yang terlindung dari gelombang - Memiliki breakwater - Ketinggian breakwater minimal 2 kali dari tinggi gelombang - Konstruksi penahan gelombang sesuai dengan keadaan pelabuhan - Memiliki fasilitas lego jangkar Non Laporan Akhir II - 18
19 No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Non Komersial - Memiliki perangkat Pemantauan gelombang 4. Kriteria tingkat 1 : olume kegiatan bongkar muat berskala kecil - Memiliki pelayanan bongkar muat dengan ukuran kecil - Memiliki sarana dan prasarana bongkar muat - Memiliki SDM khusus untuk menangani kegiatan ini - Memiliki prosedur bongkar muat berskala kecil 5. Kriteria tingkat 1 : Tidak dilalui jalur pelayaran transportasi laut reguler - Mempunyai jalur pelayaran transportasi tersendiri - Mempunyai tanda SBNP tersendiri - Memiliki pandu khusus - Adanya pengawasan lalu lintas pelayaran yang khusus 6. Kriteria tingkat 1 : Kedalaman minimal pelabuhan -1,5 Mlws - Tidak memiliki gelombang yang melebihi syarat kapal saat berada pada kolam pelabuhan maupun daerah sandar - Pemberian tanda kedalaman pada daerah pelabuhan - Arus laut yang direduksi kecepatannya melalui konstruksi tertentu - Monitoring terhadap sedimentasi 7. Kriteria tingkat 1 : Berperan sebagai tempat pelayanan penumpang di daerah terpencil, terisolasi, perbatasan, daerah terbatas yang hanya didukung oleh moda transportasi laut - Ketersediaan alur menuju kedaerah terpencil, terisolasi, perbatasan dan daerah terbatas - Ketersediaan olah gerak kapal Non Laporan Akhir II - 19
20 No. Kriteria Pelabuhan Yang Dapat Diusahakan Secara Non Komersial - Area pelabuhan untuk naik turun penumpang dan bongkar muat barang - Ketersediaan SBNP - Ketersediaan Telekomunikasi Non 2. Kriteria trayek angkutan laut dan lintas penyeberangan Meliputi : a. Kriteria trayek angkutan laut b. Kriteria lintas penyeberangan Serta dilandasi oleh beberapa peraturan-peraturan sebagai berikut : 1) UU No. 17 Tahun 2008 Dalam Bab I tentang Ketentuan Umum disebutkan definisi trayek, yaitu rute atau lintasan pelayanan angkutan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Pasal 2 butir (g) : pelayaran diselenggarakan berdasarkan asas keterpaduan; Pasal 9 a) Kegiatan angkutan laut dalam negeri disusun dan dilaksanakan secara terpadu, baik intra-maupun antarmoda yang merupakan satu kesatuan sistem transportasi nasional. b) Kegiatan angkutan laut dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan trayek tetap dan teratur (liner) serta dapat dilengkapi dengan trayek tidak tetap dan tidak teratur (tramper). c) Kegiatan angkutan laut dalam negeri yang melayani trayek tetap dan teratur dilakukan dalam jaringan trayek. d) Jaringan trayek tetap dan teratur angkutan laut dalam negeri disusun dengan memperhatikan: (1) pengembangan pusat industri, perdagangan, dan (2) pariwisata; (3) pengembangan wilayah dan/atau daerah; Laporan Akhir II - 20
21 (4) rencana umum tata ruang; (5) keterpaduan intradanantarmoda transportasi; dan (6) perwujudan Wawasan Nusantara. e) Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan bersama oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan asosiasi perusahaan angkutan laut nasional dengan memperhatikan masukan asosiasi pengguna jasa angkutan laut. f) Jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Menteri. g) Pengoperasian kapal pada jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dengan mempertimbangkan: (1) kelaiklautan kapal; (2) menggunakan kapal berbendera Indonesia dan diawaki oleh warga negara Indonesia; (3) keseimbangan permintaan dan tersedianya ruangan; (4) kondisi alur dan fasilitas pelabuhan yang disinggahi; (5) tipe dan ukuran kapal sesuai dengan kebutuhan. h) Pengoperasian kapal pada trayek tidak tetap dan tidak teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dan wajib dilaporkan kepada Pemerintah. Pasal 11 a) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia dan/atau kapal asing. b) Kegiatan angkutan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan agar perusahaan angkutan laut nasional memperoleh pangsa muatan yang wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. c) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang termasuk angkutan laut lintas batas dapat dilakukan dengan trayek tetap dan teratur serta trayek tidak tetap dan tidak teratur. Laporan Akhir II - 21
22 Pasal 22 ayat 2 butir t : Penetapan lintas angkutan penyeberangan dilakukan dengan mempertimbangkan jaringan trayek angkutan laut, sehingga mencapai optimalisasi keterpaduan angkutan antar dan intramoda. Pasal : Angkutan perairan dapat merupakan bagian dari angkutan multimoda, dan dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang dilaksanakan antara penyedia jasa angkutan perairan dan badan usaha angkutan multimoda dan penyedia jasa moda lainnya. Pasal 68 butir c: Pelabuhan memiliki peran sebagai tempat kegiatan alih moda transportasi. Pasal 96 ayat 2: Pembangunan pelabuhan laut harus memenuhi persyaratan teknis kepelabuhanan, kelestarian lingkungan dan memperhatikan keterpaduan intra dan antarmoda transportasi, 2) PP 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan Dalam Pasal 6 disebutkan bahwa kegiatan angkutan laut dalam negeri yang melayani trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria: a) menyinggahi beberapa pelabuhan secara tetap dan teratur dengan berjadwal; dan b) kapal yang dioperasikan merupakan kapal penumpang, kapal peti kemas, kapal barang umum, atau kapal Ro-Ro dengan pola trayek untuk masing- masing jenis kapal. Pasal 62 ayat 1 PP 20 Tahun 2010: Kegiatan angkutan penyeberangan di dalam negeri dilaksanakan dengan menggunakan trayek tetap dan teratur dalam lintas penyeberangan. Laporan Akhir II - 22
23 Pasal 62 ayat 2 : Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh: a) Menteri, untuk lintas penyeberangan antarprovinsi; b) gubernur, untuk lintas penyeberangan antar kabupaten/kota; dan c) bupati/walikota, untuk lintas penyeberangan dalam kabupaten/kota. Pasal 62 ayat 3 : Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam menetapkan lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mempertimbangkan: a) pengembangan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan; b) fungsi sebagai jembatan; c) hubungan antara dua pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan, antara pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan dan terminal penyeberangan, dan antara dua terminal penyeberangan dengan jarak tertentu; d) tidak mengangkut barang yang diturunkan dari kendaraan pengangkutnya; e) rencana tata ruang wilayah; dan f) jaringan trayek angkutan laut sehingga dapat mencapai optimalisasi keterpaduan angkutan intradan antarmoda. Pasal 62 ayat (4): Penetapan lintas penyeberangan selain mempertimbangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memenuhi persyaratan: a) sesuai dengan rencana induk pelabuhan nasional; b) adanya kebutuhan angkutan; c) rencana dan/atau ketersediaan terminal penyeberangan atau pelabuhan; d) ketersediaan kapal penyeberangan dengan spesifikasi teknis kapal sesuai fasilitas pelabuhan pada lintas yang akan dilayani; dan e) potensi perekonomian daerah. Pasal 62 ayat (5) : Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk seluruh wilayah Republik Indonesia, digambarkan dalam peta lintas penyeberangan dan diumumkan oleh Menteri. Laporan Akhir II - 23
24 Pasal 71: Kegiatan pelayaran-perintis yang dilakukan di daerah yang masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditentukan berdasarkan kriteria: a) belum dilayani oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau atau angkutanpenyeberangan yang beroperasi secara tetap dan teratur; b) secara komersial belum menguntungkan; atau c) tingkat pendapatan perkapita penduduknya masih rendah. 3) Nomor PM. 26 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (5) Lintas Penyeberangan adalah suatu alur perairan dilaut, selat, teluk, sungai dan/atau danau yang ditetapkan sebagai Lintas Penyeberangan. Bab II Angkutan Pasal 2 a) Penetapan Lintas Penyeberangan dilakukan dengan memperhatikan pengembangan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang telah ada maupun yang direncanakan dan tersusun dalam kesatuan tatanan transportasi nasional. b) Lintas Penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk menghubungkan simpul pada jaringan jalan dan/ atau jaringan jalur kereta api. Pasal 3 a) Berdasarkan fungsi Lintas Penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Lintas Penyeberangan digolongkan: (1) lintas penyeberangan antar negara; (2) lintas penyeberangan antar provinsi; (3) lintas penyeberangan antar kabupaten /kota dalam provinsi; dan (4) lintas penyeberangan dalam kabupaten / kota. Laporan Akhir II - 24
25 Pasal 5 ayat (2) Peta Lintas Penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan : a) inventarisasi lintas; b) pembuatan peta lintas; dan c) pengesahan peta lintas. Pasal 6 ayat (2) Penyusunan rencana penetapan Lintas Penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi secara nasional. Pasal 7 ayat (1) Penetapan Lintas Penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan berdasarkan pertimbangan : a) pengembangan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang terputus oleh laut, selat, teluk, sungai dan /atau danau; b) melayani lintas dengan tetap dan teratur berdasarkan jadwal yang ditetapkan; c) berfungsi sebagai jembatan bergerak; d) hubungan antara dua pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan, antara pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan dan terminal penyeberangan dengan jarak tertentu; e) tidak mengangkut barang yang diturunkan dari kendaraan pengangkutnya; f) rencana tata ruang wilayah; dan g) jaringan trayek angkutan laut sehingga dapat mencapai optimalisasi keterpaduan angkutan intra antarmoda. Pasal 8 a) Penetapan Lintas penyeberangan selain mempertimbangkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7, harus memenuhi persyaratan: (1) sesuai dengan rencana induk pelabuhan nasional; (2) adanya kebutuhan angkutan (demand); (3) rencana dan/atau ketersediaan terminal penyeberangan atau pelabuhan; (4) ketersediaan kapal (supply) dengan spesifikasi teknis kapal sesuai fasilitas pelabuhan pada lintas yang akan dilayani; dan (5) potensi perekonomian daerah. Laporan Akhir II - 25
26 b) Setelah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditentukan spesifikasi teknis Lintas Penyeberangan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi mengenai: (1) kondisi daerah pelayaran; (2) perkiraan kapasitas lintas; (3) kemampuan pelayanan alur; dan (4) spesifikasi teknis kapal dan pelabuhan. 4) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 33 Tahun 2003 tentang Pemberlakuan Amandement SOLAS 1974 tentang Pengamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan (International Ships and Port Facility Sacurity / ISPS Code) di wilayah Indonesia 5) Amandement SOLAS 1974, Amandement BAB (Safety Of Navigation) R.19- Carriage of AIS 6) Amandement Bab XI (Maritime Safety), XI-1 Peningkatan Keselamatan Maritim, R.3 mengenai ID Number dan R.5 mengenai CSR dan XI-2 Aturan baru mengenai Keselamatan Maritim, aturan baru tentang keamanan kapal dan Fasilitas Pelabuhan (ISPS Code) yang terdiri dari Part A mengenai Ketentuan Mandatory dan Part B mengenai Petunjuk dan Tindakan Mandatory). Tabel 2.3 Kriteria trayek angkutan laut No. Kriteria Trayek Angkutan Laut 1. Kriteria tingkat 1 : Tidak dilakukan dalam jaringan trayek tertentu - Memiliki trayek tersendiri - Memiliki standar minimal pelayanan - Memiliki pengaturan waktu keberangkatan dan tiba - Memiliki penataan trayek untuk tujuan tertentu 2. Kriteria tingkat 1 : Rute dilakukan berdasarkan permintaan pengirim barang - Mempunyai pelayanan rute pengiriman barang dengan tujuan yang dapat dipilih - Pelayanan 24 jam - Ketepatan waktu Non Laporan Akhir II - 26
27 No. Kriteria Trayek Angkutan Laut - Penyediaan pelayanan pengangkutan barang setiap waktu pengiriman sesuai permintaan 3. Kriteria tingkat 1 : Dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional - Memilki ruang lingkup usaha sesuai dengan kebutuhan pekerjaan ini - Mempunyai pengalaman pekerjaan oleh perusahaan minimal 5 tahun - Lokasi perusahaan berada didaerah pelabuhan - Kinerja perusahaan dalam kondisi baik 4. Kriteria tingkat 1 : Kegiatan dilaporkan kepada Menteri setiap 3 bulan - Adanya data base untuk setiap laporan - Format laporan yang seragam dan informatif - Selalu online dalam update data - Komunikasi teratur dari penyelenggara kegiatan dengan penghubung yang akan membawa data ke Menteri 5. Kriteria tingkat 1 : Tidak menyinggahi pelabuhan secara teratur dan berjadwal - Berfungsi sebagai jembatan penyeberangan yang bergerak - Mempunyai kebebasan berlabuh yang tidak secara teratur dan tidak berjadwal - Kemampuan menyelenggarakan trayek sesuai permintaan 6. Kriteria tingkat 1 : Tidak mengangkut penumpang - Khusus pengangkutan barang - Kecepatan bongkar muat - Memiliki area penumpukan barang - Pengawasan barang yang diangkut dan terhadap non barang Non Laporan Akhir II - 27
28 No. Kriteria Trayek Angkutan Laut 7. Kriteria tingkat 1 : Trayek tidak tetap dan tidak teratur hanya dapat mengangkut muatan barang curah kering dan curah cair, barang sejenis, atau barang tidak sejenis tetapi untuk menunjang kegiatan tertentu. Ketentuan ini tidak berlaku bagi pelayaran rakyat. - Pengelompokan Jenis muatan - Kemampuan menangani jenis muatan - Memiliki Sistem prosedur penanganan muatan - Dapat menentukan pelabuhan yang dapat disinggahi dari jenis muatan tertentu. 8. Kriteria tingkat 1 : Muatan pada trayek tidak tetap dan tidak teratur wajib dilengkapi dengan syaratsyarat perjanjian pengangkutan yang bersifat tetap dan berlaku umum. - Memiliki format syarat-syarat perjanjian pengangkutan yang bersifat tetap dan berlaku umum secara seragam - Kemampuan mendata barang yang diangkut dan dituangkan secara cepat kedalam surat perjanjian - Mempunyai informasi tertulis mengenai proses keluarnya perjanjian pengangkutan Non Tabel 2.4 Kriteria lintas penyeberangan No. Kriteria Lintas Penyeberangan 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki jaringan trayek - Memiliki trayek tersendiri - Memiliki standar minimal pelayanan - Memiliki pengaturan waktu keberangkatan dan tiba Non Laporan Akhir II - 28
29 No. Kriteria Lintas Penyeberangan - Memiliki penataan trayek untuk tujuan tertentu - Menetapkan trayek tetap dan teratur 2. Kriteria tingkat 1 : Kewenangan dalam menetapkan trayek tetap dan teratur - Untuk lintas penyeberangan antar provinsi yang ditetapkan oleh Menteri - Untuk lintas penyeberangan antar kabupaten/kota yang ditetapkan oleh gubernur - Untuk lintas penyeberangan dalam kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota - Mempunyai pelayanan rute dengan jarak tertentu dan memiliki peta lintas - Memiliki database lintas lewat inventarisasi - Tidak mengangkut barang yang diturunkan dari kendaraan pengangkutnya - Pelayanan 24 jam - Ketepatan waktu 3. Kriteria tingkat 1 : Kewenangan pemerintah pusat dan daerah dalam menangani dan mendukung terselenggaranya lintas penyebrangan - Pengembangan jaringan jalan dan/ atau jaringan jalur kereta api - Fungsi sebagai jembatan - Menentukan dan menetapkan daerah pelabuhan yang akan dijadikan tempat untuk melayani angkutan pelabuhan - Memiliki dan menyesuaikan dengan tata ruang wilayah dan menyesuaikan dengan rencana induk pelabuhan nasional - Memiliki perencanaan dan penerapan keterpaduan angkutan intra dan antarmoda 4. Kriteria tingkat 1 : Kegiatan dilaporkan kepada Menteri setiap 3 bulan - Adanya data base untuk setiap laporan - Format laporan yang seragam dan informatif Non Laporan Akhir II - 29
30 No. Kriteria Lintas Penyeberangan - Selalu online dalam update data - Komunikasi teratur dari penyelenggara kegiatan dengan penghubung yang akan membawa data ke Menteri 5. Kriteria tingkat 1 : Fasilitas moda lintas penyeberangan - Menyediakan kapal dengan spesifikasi teknis kapal sesuai pelabuhan - Kapal yang dapat digunakan memiliki kelaik an dan kelayakan laut - Memiliki kenyamanan dalam ruang penumpang - Memiliki perangkat keselamatan - Kecepatan kapal yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan - Proses bongkar muat kendaraan dan penumpang yang memadai - Ketersediaan terminal penyeberangan atau pelabuhan - Ketersediaan fasilitas terminal penyeberangan atau pelabuhan seperti untuk bongkar muat kendaraaan dan penumpang, ruang tunggu, tempat pembelian tiket yang nyaman dan teratur serta bersih - Memiliki perangkat informasi keberangkatan dan kedatangan yang memudahkan para penumpang untuk memantau - Pengamanan atas kapal dan terminal yang memenuhi standar minimal keamanan. - Tidak mengangkut barang yang diturunkan dari kendaraan, prinsip angkutan penyeberangan yang tidak mengangkut barang lepas - Menjadi jaringan trayek angkutan laut untuk mencapai optimalisasi keterpaduan angkutan antar dan intermodal. Non Laporan Akhir II - 30
31 3. Kriteria pelabuhan yang dapat dioperasikan 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu a. PP 61 Tahun 2009 tentang kepelabuhanan Dalam Pasal 97 ayat (1) dijelaskan bahwa pengoperasian pelabuhan dilakukan sesuai dengan frekuensi kunjungan kapal, bongkar muat barang, dan naik turun penumpang. Selanjutnya pada pasal (2) dijelaskan pula bahwa pengoperasian pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat ditingkatkan secara terus menerus selama 24 (dua puluh empat) jam dalam 1 (satu) hari atau selama waktu tertentu sesuai kebutuhan. Selanjunya dalam ayat 3 dijelaskan, bahwa peningkatan pengoperasian pelabuhan menjadi pelabuhan yang beroperasi selama 24 jam dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a) Adanya peningkatan frekuensi kunjungan kapal, bongkar muat barang, dan naik turun penumpang; b) Tersedianya fasilitas keselamatan pelayaran, kepelabuhanan, dan lalu lintas angkutan laut. Pada Pasal 98 ayat (3) disebutkan bahwa pengajuan izin pengoperasian pelabuhan sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 97 ayat (2) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) Kesiapan kondisi alur; b) Kesiapan pelayanan pemanduan bagi perairan pelabuhan yang sudah ditetapkan sebagai perairan wajib pandu; c) Kesiapan fasilitas pelabuhan; d) Kesiapan gudang dan/atau fasilitas lain di luar pelabuhan; e) Kesiapan keamanan dan ketertiban; f) Kesiapan sumber daya manusia operasional sesuai kebutuhan; g) Kesiapan tenaga kerja bongkar muat dan naik turun penumpang atau kendaraan; h) Kesiapan sarana transportasi darat; i) Rekomendasi dari syahbandar pada pelabuhan setempat. b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 504/PMK.04/2009 Tentang Pelayanan Kepabeanan 24 (Dua Puluh Empat) Jam Sehari Dan 7 (Tujuh) Hari Seminggu Pada Kantor Pabean Di Pelabuhan Tertentu Laporan Akhir II - 31
32 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 504/PMK.04/2009 menetapkan pelayanan kepabeanan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu pada 4 (empat) kantor pabean di pelabuhan tertentu, yaitu : 1) Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok; 2) Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan; 3) Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak; 4) Kantor pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A2 Makassar. Selain menetapkan 4 (empat) lokasi kantor pelayanan bea dan cukai yang beroperasi selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, Surat Keputusan ini juga menetapkan beberapa hal, yaitu : 1) Jam kerja kantor pabean di pelabuhan tertentu dalam rangka pelayanan kepabeanan; 2) Penugasan pejabat/pegawai dengan giliran kerja (shift) dan/atau kerja lembur; 3) Pelimpahan tugas dan wewenang kepala kantor pabean; 4) Pelimpahan penyelesaian pelayanan kepabeanan yang beluim dapat diselesaikan. Pengoperasian pelabuhan 24/7 perlu didukung oleh : 1) Ketersediaan dan kesiapan kondisi alur selama 24/7 2) Ketersediaan sarana bantu navigasi pelayaran selama 24/7 3) Ketersediaan telekomunikasi pelayaran selama 24/7 4) Ketersediaan jasa pemanduan meliputi kapal pandu, kapal tunda, dan kapal kepil selama 24/7 5) Ketersediaan pelayanan meteorologi selama 24/7 6) Ketersediaan pelayanan CIQ selama 24/7 7) Ketersediaan fasilitas tambat peti kemas yang dioperasikan selama 24/7 8) Ketersediaan gudang dan lapangan penumpukan yang dioperasikan selama 24/7 9) Kesiapan SDM operasional sesuai kebutuhan selama 24/7 10) Kesiapan TKBM selama 24/7 11) Kesiapan sarana transportasi darat selama 24/7 12) Ketersediaan fasilitas listrik, air, telepon dan telekomunikasi selama 24/7 Laporan Akhir II - 32
33 13) Ketersediaan fasilitas perbankan selama 24/7 14) Kesiapan keamanan dan ketertiban selama 24/7 Tabel 2.5. Kriteria pelabuhan yang dapat dioperasikan 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu Kriteria Pelabuhan yang dapat No. dioperasikan 24 Jam Dalam Sehari dan 7 Hari Dalam seminggu 1. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan dan kesiapan kondisi alur selama 24/7 - Harus memiliki alur eksisting yang mampu menangani arus lalu lintas pada alur masuk dan keluar - Memiliki kedalaman alur yang sesuai dengan kapasitas kemampuan pelabuhan menerima kapal yang masuk - Memiliki sarana bantu navigasi yang memadai - Monitoring sepanjang alur terhadap sedimentasi dan kerangka kapal akibat kandas, adanya konstruksi bawah laut serta sampah-sampah - Pelayanan Pandu 2. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan dan kesiapan pelayanan pemanduan selama 24/7 - Jumlah personil Pandu untuk pelayanan 24 jam - Setiap Pandu memiliki sertifikat keahlian dibidang pandu yang terakreditasi - Sarana telekomunikasi untuk pelayanan Pemanduan - Tersedianya Shift jaga Pandu untuk pelayanan Pemanduan - Pengaturan terhadap kapal yang datang dan yang sedang sandar untuk bongkar muat penumpang atau barang - Memiliki kantor pengawasan pelayanan pandu di pelabuhan 3. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan sarana bantu navigasi pelayaran selama 24/7 - Merupakan perlengkapan standar pelabuhan Non Laporan Akhir II - 33
34 Kriteria Pelabuhan yang dapat No. dioperasikan 24 Jam Dalam Sehari dan 7 Hari Dalam seminggu - Sarana bantu navigasi dalam keadaan baik dan beroperasi - Penempatan sesuai titik koordinat pada rencana induk pelabuhan yang sudah disetujui oleh Distrik Navigasi (Disnav) - Perawatan sarana bantu navigasi - Memiliki bengkel perbaikan sarana bantu navigasi dipelabuhan - Kemampuan beroperasi sarana bantu navigasi dengan kegiatan rutinitasnya selama 24/7 - Memiliki kantor pengawasan sarana bantu navigasi di pelabuhan 4. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan telekomunikasi pelayaran selama 24/7 - Memiliki pembangkit listrik yang mampu menangani perangkat telekomunikasi pada saat digunakan dalam kegiatan rutinitasnya - Radio Telekomunikasi memiliki kehandalan yang tinggi dalam penggunaannya - Memiliki cadangan radio telekomunikasi - Melakukan perawatan terhadap radio komunikasi - Operator radio yang memiliki sertifikat radio - Memiliki chanel khusus untuk telekomunikasi - Lokasi pusat radio telekomunikasi berada dipelabuhan 5. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan pelayanan meteorology selama 24/7 - Memiliki pembangkit listrik yang mampu menangani perangkat jaringan pada saat digunakan dalam kegiatan rutinitasnya - Memiliki jaringan radio untuk pelayanan meteorology - Memiliki jaringan faxcimile untuk pelayanan meteorology - Meimiliki jaringan telepon untuk pelayanan meteorology - Memiliki jaringan internet untuk pelayanan meteorology Non Laporan Akhir II - 34
35 Kriteria Pelabuhan yang dapat No. dioperasikan 24 Jam Dalam Sehari dan 7 Hari Dalam seminggu - Memiliki jaringan satelit untuk pelayanan meteorology - Memiliki kantor pelayanan meteorology di pelabuhan 6. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan pelayanan bea cukai, imigrasi dan karantina selama 24/7 - Jumlah personil bea cukai, imigrasi dan karantina yang memadai selama pelayanan 24/7 - Memiliki shift jaga waktu operasi dalam selang beberapa jam - Koordinasi dengan pelabuhan saat kedatangan maupun keberangkatan kapal dari pelabuhan - Memiliki kantor di pelabuhan - Penyediaan perangkat pindai seperti X- Ray Scanner, metal detector dll. - Memiliki kapal patroli dan pelayanan dilaut untuk kondisi tertentu 7. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan fasilitas tambat peti kemas yang dioperasikan selama 24/7 - Memiliki areal bongkar muat di dermaga selama 24/7 - Kemampuan pengaturan sandar kapal untuk bongkar muat, apabila dermaga tersebut melayani segala jenis bongkar muat muatan barang selama 24/7 - Ketersediaan alat bongkar muat container seperti Crane khusus yang fix selama 24/7 - Ketersedian alat bongkar muat container mobile selama 24/7 8. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan gudang dan lapangan penumpukan yang dioperasikan selama 24/7 - Luasan tersedia eksisting sesuai rencana induk pelabuhan - Daya tampung yang besar - Lampu penerangan yang memadai - Sistem penataan letak barang Non Laporan Akhir II - 35
36 Kriteria Pelabuhan yang dapat No. dioperasikan 24 Jam Dalam Sehari dan 7 Hari Dalam seminggu - entilasi udara yang baik bagi gudang dan penerangan - Penerangan bagi gudang yang memadai - Pengamanan yang ketat - Penerangan bagi lapangan penumpukan - Pagar keliling - Pos penjagaan 9. Kriteria tingkat 1 : Kesiapan SDM operasional di pelabuhan sesuai kebutuhan selama 24/7 - Jumlah personil yang diperlukan selama operasi - Tersedianya shift jaga pada saat operasi kegiatan berlangsung - Koordinasi yang baik antar pimpinan dan bawahan yang bertugas - Memiliki laporan kegiatan baik kedatangan dan keberangkatan kapal - Pengamanan Pelabuhan yang ketat - Monitoring kendaraan yang keluar masuk ke pelabuhan - Monitoring orang yang keluar masuk pelabuhan 10. Kriteria tingkat 1 : Kesiapan tenaga kerja bongkar muat selama 24/7 - Jumlah personil yang dibutuhkan untuk pelaksanaan bongkar muat selama 24/7 - Shift jaga tenaga kerja bongkar muat - Operator kendaraan untuk bongkar muat - Kantor tenaga kerja bongkar muat 11. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan sarana transportasi darat untuk menunjang kegiatan kepelabuhanan selama 24/7 - Disesuaikan dengan kondisi besar kecilnya dan berat muatan - Disesuaikan dengan kapasitas penumpang yang dapat diangkut didalam pelabuhan - Untuk barang digunakan Truk Container, Truk bak, truk box dll - Untuk penumpang digunakan bus Non Laporan Akhir II - 36
37 Kriteria Pelabuhan yang dapat No. dioperasikan 24 Jam Dalam Sehari dan 7 Hari Dalam seminggu 12. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan fasilitas perbankan di pelabuhan selama 24/7 - Memiliki penunjuk arah menuju ke Bank disuatu Pelabuhan - Minimal pelayanan ATM dari beberapa bank - Keamanan di ruangan ATM yang terjamin - Kantor Cabang Bank tertentu - Kantor Cabang Bank tertentu melayani pengambilan, pemasukan, pengiriman dan penukaran uang - Kantor Cabang Bank tertentu memiliki pelayanan ke customer disesuaikan dengan tingkat kesibukan kunjungan ke bank suatu pelabuhan, termasuk ruang tunggu yang nyaman - Keamanan proses transaksi di kantor cabang tersebut 13. Kriteria tingkat 1 : Kesiapan petugas keamanan dan ketertiban selama 24/7 - Jumlah personil pengamanan yang mencukupi - Memiliki penggantian Shift penjagaan - Setiap personilnya telah mengikuti latihan PAM dan bersertifikat - Paham pada proses pengamanan pelabuhan - Memiliki SOP Pengamanan - Memiliki PFSP untuk Pelabuhan Internasional 14. Kriteria tingkat 1: Pengadaan aspek non teknis operasional seperti penyediaan Gudang / depo diluar pelabuhan yang dibuka selama 24/7 - Penyelenggara pengadaan memiliki perijinan usaha - Penyelenggara pengadaan memiliki kerja sama dengan pelabuhan - Memiliki ketentuan luas yang layak digunakan untuk gudang. Non Laporan Akhir II - 37
38 No. Kriteria Pelabuhan yang dapat dioperasikan 24 Jam Dalam Sehari dan 7 Hari Dalam seminggu - Memiliki kriteria gudang tertutup dan terbuka - Memiliki keamanan yang memadai - Mempunyai jarak yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan max 10 km. - Dilengkapi peralatan bongkar muat - Mempunyai moda transportasi pengangkutan dari gudang/ depo menuju ke pelabuhan Non 4. Kriteria terminal yang dapat melayani angkutan peti kemas, angkutan curah cair, curah kering, kapal penumpang dan kapal Ro-Ro a. UU No. 17 Tahun 2008 Pasal 90 ayat 3 butir d, bahwa salah satu penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang adalah penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas. Pasal 20 : Terminal adalah fasilitas pelabuhan yang terdiri atas kolam sandar dan tempat kapal bersandar atau tambat, tempat penumpukan, tempat menunggu dan naik turun penumpang, dan/atau tempat bongkar muat barang. Pasal 90 : 1) Kegiatan pengusahaan di pelabuhan terdiri atas penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan dan jasa terkait dengan kepelabuhanan. 2) Penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang. 3) Penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas: a) penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk bertambat; b) penyediaan dan/atau pelayanan pengisian bahan bakar dan pelayanan air bersih; Laporan Akhir II - 38
39 c) penyediaan dan/atau pelayanan fasilitas naik turun penumpang dan/atau kendaraan; d) penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas; e) penyediaan dan/atau pelayanan jasa gudang dan tempat penimbunan barang, alat bongkar muat, serta peralatan pelabuhan; f) penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal peti kemas, curah cair, curah kering, dan Ro- Ro; g) penyediaan dan/atau pelayanan jasa bongkar muat barang; h) penyediaan dan/atau pelayanan pusat distribusi dan konsolidasi barang; dan/atau i) penyediaan dan/atau pelayanan jasa penundaan kapal. b. Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan Pasal 99 Pelabuhan laut dapat ditingkatkan kemampuan pengoperasian fasilitas pelabuhan dari fasilitas untuk melayani barang umum (general cargo) menjadi untuk melayani angkutan peti kemas dan/atau angkutan curah cair atau curah kering. Pasal 100 1) Penetapan peningkatan kemampuan pengoperasian fasilitas pelabuhan untuk melayani peti kemas dan/atau angkutan curah atau curah kering sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ditetapkan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan. 2) Persyaratan untuk melayani angkutan peti kemas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) memiliki sistem dan prosedur pelayanan; b) memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai; c) kesiapan fasilitas tambat permanen untuk kapal generasi pertama; d) tersedianya peralatan penanganan bongkar muat peti kemas yang terpasang dan yang bergerak (container crane); Laporan Akhir II - 39
40 e) lapangan penumpukan (container yard) dan gudang container freight station sesuai kebutuhan; f) keandalan sistem operasi menggunakan jaringan informasi on line baik internal maupun eksternal; g) volume kargo yang memadai. 3) Persyaratan untuk melayani angkutan curah cair dan/atau curah kering sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) memiliki sistem dan prosedur pelayanan b) memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai; c) kesiapan fasilitas tambat permanen sesuai dengan jenis kapal; d) tersedianya peralatan penanganan bongkar muat curah; e) kedalaman perairan yang memadai; dan f) keandalan sistem operasi menggunakan jaringan informasi on line baik internal maupun eksternal. c. KM 54 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut Pasal 22 disebutkan bahwa pelabuhan laut dapat ditingkatkan kemampuan pengoperasian fasilitas pelabuhan dari fasilitas melayani barang secara konvensional menjadi fasilitas pelabuhan untuk melayani peti kemas dan angkutan curah cair maupun curah kering. Pasal 23 ayat 2 menjelaskan kriteria fasilitas pelabuhan dari fasilitas melayani barang secara konvensional menjadi fasilitas pelabuhan untuk melayani peti kemas: 1) Fasilitas yang terdapat di terminal penumpang secara Memiliki sistem dan prosedur pelayanan; 2) memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai; 3) Kesiapan fasilitas tambat permanen dengan panjang minimal 100 meter dan kedalaman minimal -5 mlws; 4) Tersedianya peralatan penanganan bongkar muat peti kemas yang terpasang dan yang bergerak antara lain 1 (satu) unit gantry crane dan peralatan penunjang yang memadai; Laporan Akhir II - 40
41 5) Lapangan penumpukan minimal seluas 2 Ha dan gudang CFS sesuai kebutuhan; 6) Kehandalan sistem operasi menggunakan jaringan informasi on line baik internal maupun eksternal; 7) Pelabuhan telah dioperasikan 24 jam; 8) olume kargo sekurang-kurangnya telah mencapai TEU s. Fasilitas yang terdapat di terminal penumpang secara pokok dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu: 1) Fasilitas pelayanan dan penumpang kapal Daerah kedatangan atau keberangkatan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. a) Fasilitas parkir untuk mobil, sepeda motor (roda 2), dan pejalan kaki. b) Fasilitas untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, misal halte dan taxi area c) Loket penjualan tiket dan cek bagasi d) Loket kesehatan (karantina) e) Fasilitas pengambilan bagasi f) Ruang untuk pergerakan penumpang g) Ruang tunggu dan istirahat h) Fasilitas penunjang pelayanan, seperti telepon umum dan restoran. i) Fasilitas informasi jadwal dan rute perjalanan j) Fasilitas untuk pengantar dan penjemput k) Fasilitas penumpang keberangkatan seperti fasilitas penghubung(mobil, banberjalan). 2) Fasilitas pengelola terminal a) Kantor untuk personil pengelola b) Kantor untuk personil imigrasi dan bea cukai c) Kantor untuk personil kesehatan dan karantina d) Kantor untuk personil keamanan. Berdasarkan SNI mengenai Persyaratan Termnal Penumpang di Pelabuhan Laut,Terminal penumpang terdiri dari terminal penumpang domestik. Gedung terminal penumpang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1) Tata ruang yang menjaminkelancaran arus naik turun penumpang 2) Sirkulasi udara dan cahaya yang cukup 3) Kemudahan perpindahan penumpang antarmoda 4) Dilengkapi dengan tanda tanda petunjuk dan tanda tanda grafis Laporan Akhir II - 41
42 5) Perbandingan yang digunakan untuk luas gedung terminal ialah 1,2 m2/orang 6) Secara umum dengan mempertimbangkan efisiensi perencanaan, pembangunan dan pengoperasiannya, ukuran luas terminal dibedakan menjadi : a) Terminal besar ukuran 2000 m2 dan 4000 m2 b) Terminal sedang ukuran 500 m2 dan 1000 m2 c) Terminal kecil ukuran 300 m2 7) Luas gedung terminal dan luas lapangan parkir diatur dengan perbandingan1:2 8) Perbandingan pada fasilitas parkir yang terdiri dari jalan lingkungan, 9) Tempat parkir dan pertamanan diatur sebagai 1:1:0,5 10) Kegiatan angkutan penumpang dengan kendaraan darat sedapat mungkin langsung ke jalan akses yang ada. d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 33 Tahun 2003 tentang Pemberlakuan Amandemen SOLAS 1974 tentang Pengamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan (International Ships and Port Facility Sacurity / ISPS Code) di wilayah Indonesia e. Amandement SOLAS 1974, Amandement BAB (Safety Of Navigation) R.19- Carriage of AIS f. Amandement Bab XI (Maritime Safety), XI-1 Peninkatan Keselamatan Maritim, R.3 mengenai ID Number dan R.5 mengenai CSR dan XI-2 Aturan baru mengenai Keselamatan Maritim, aturan baru tentang keamanan kapal dan Fasilitas Pelabuhan (ISPS Code) yang terdiri dari Part A mengenai Ketentuan Mandatory dan Part B mengenai Petunjuk dan Tindakan Mandatory) Tabel 2.6. Kriteria terminal yang dapat melayani angkutan peti kemas. No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Angkutan Peti Kemas 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki system dan prosedur pelayanan Non Laporan Akhir II - 42
43 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Angkutan Peti Kemas - Bentuk sistim dan prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis - Untuk setiap bagian pelayanan memiliki prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis. - Memiliki buku saku dari system prosedur yang merupakan ringkasan dari dokumen tertulis. - Sosialisasi sistim dan prosedur pelayanan - Simulasi sistim dan prosedur pelayanan 2. Kriteria tingkat 1 : Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai - Jumlah personil yang diperlukan dapat dipenuhi - Kualitas personil dalam menangani angkutan peti kemas berupa sertifikat keahlian. - Memiliki shift penggantian petugas jaga untuk melayani angkutan peti kemas - Memiliki kantor personil pelayanan angkutan peti kemas 3. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kesiapan fasilitas tambat permanen untuk kapal Peti Kemas - Memiliki tempat sandar khusus kapal peti kemas - Alat bongkar muat yang permanen - Operator bongkar muat kontainer yang terlatih dan bersertifikat - Memiliki peralatan tambat yang sesuai dengan jenis kapal peti kemas 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki peralatan penanganan bongkar muat peti kemas yang terpasang dan bergerak - Sistim peralatan yang handal dalam masalah bongkar muat - Kapasitas alat bongkar muat peti kemas yang memadai - Peralatan penanganan bongkar muat selalu dilakukan perawatan - Memiliki operator yang terlatih dan bersertifikat. 5. Kriteria tingkat 1 : Memiliki lapangan penumpukan dan gudang CFS sesuai kebutuhan Non Laporan Akhir II - 43
44 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Angkutan Peti Kemas - Berada di area pelabuhan - Memiliki luas yang sesuai dengan rencana induk pelabuhan - Tersedianya fasilitas penerangan pada malam hari - Pemagaran sekeliling lapangan penumpukan - Pengamanan lapangan penumpukan - Mempunyai pos penjagaan 6. Kriteria tingkat 1 : Memiliki keandalan system operasi menggunakan jaringan informasi online baik internal maupun eksternal - Tersedianya jaringan network komputer internal - Mempunyai jaringan network komputer external berupa saluran internet dari salah satu provider - Memiliki website pada internet sebagai pusat informasi dan komunikasi - Teruji keandalan system operasi jaringan 7. Kriteria tingkat 1 : Memiliki volume penampungan peti kemas yang memadai - Memiliki luasan dan ketinggian maksimum untuk menumpuk kontainer pada area penumpukan sesuai jumlah tumpukan yang diperbolehkan untuk container - Kemudahan dalam pemindahan kontainer dari satu tempat ke tempat lain - Akses dari dermaga ke lapangan penumpukan berupa jalan aspal atau coran semen dan memiliki ketahanan beban yang diijinkan 8 Tersedianya alur masuk kapal dengan kedalaman tertentu - Monitoring kegiatan lalu lintas kapal didaerah tersebut- Menjadwalkan waktu inspeksi kedalam air dalam jangka waktu tertentu Non Laporan Akhir II - 44
45 Tabel 2.7. Kriteria terminal yang dapat melayani angkutan curah cair / curah kering No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Angkutan Curah Cair/Curah Kering 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki system dan prosedur pelayanan - Bentuk sistim dan prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis - Untuk setiap bagian pelayanan memiliki prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis. - Memiliki buku saku dari system prosedur yang merupakan ringkasan dari dokumen tertulis. - Sosialisasi sistim dan prosedur pelayanan - Simulasi sistim dan prosedur pelayanan 2. Kriteria tingkat 1 : Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai - Jumlah personil yang diperlukan dapat dipenuhi - Kualitas personil dalam menangani angkutan curah cair/kering berupa sertifikat keahlian. - Memiliki shift penggantian petugas jaga untuk melayani angkutan curah cair/kering - Memiliki kantor personil pelayanan angkutan curah cair/kering 3. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kesiapan fasilitas tambat permanen yang sesuai untuk jenis kapal yang mengangkut curah cair/curah kering - Memiliki tempat sandar khusus kapal curah cair/kering - Alat bongkar muat yang permanen - Operator bongkar muat curah cair/kering yang terlatih dan bersertifikat - Memiliki peralatan tambat yang sesuai dengan jenis kapal curah cair/kering 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki peralatan penanganan bongkar muat curah. - Sistim peralatan yang handal dalam masalah bongkar muat - Kapasitas alat bongkar muat peti kemas yang memadai Non Laporan Akhir II - 45
46 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Angkutan Curah Cair/Curah Kering - Peralatan penanganan bongkar muat selalu dilakukan perawatan - Memiliki operator yang terlatih dan bersertifikat. 5. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kedalaman perairan yang memadai untuk sandar kapal - Memiliki layout data kedalaman air untuk sandar kapal - Monitoring kedalaman berkala, untuk mengetahui perlu atau tidak pengerukan apabila terjadi sedimentasi - Pelayanan ukuran kapal yang masuk berdasarkan kedalaman sandar pelabuhan 6. Kriteria tingkat 1 : Memiliki keandalan system operasi menggunakan jaringan informasi online baik internal maupun eksternal - Tersedianya jaringan network komputer internal - Mempunyai jaringan network komputer external berupa saluran internet dari salah satu provider - Memiliki website pada internet sebagai pusat informasi dan komunikasi - Teruji keandalan system operasi jaringan Non Tabel 2.8. Kriteria terminal yang dapat melayani Kapal Penumpang No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Kapal Penumpang 1 Kriteria tingkat 1 : Memiliki system dan prosedur pelayanan - Bentuk sistim dan prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis - Untuk setiap bagian pelayanan memiliki prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis. - Memiliki buku saku dari system prosedur yang merupakan ringkasan dari dokumen tertulis. - Sosialisasi sistim dan prosedur pelayanan - Simulasi sistim dan prosedur pelayanan Non Laporan Akhir II - 46
47 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Kapal Penumpang 2 Kriteria tingkat 1 : Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai - Jumlah personil yang diperlukan dapat dipenuhi - Kualitas personil dalam menangani angkutan penumpang berupa sertifikat keahlian. - Memiliki shift penggantian petugas jaga untuk melayani angkutan penumpang - Memiliki kantor personil pelayanan angkutan penumpang 3 Kriteria tingkat 1 : Memiliki kesiapan fasilitas tambat permanen untuk kapal Penumpang - Memiliki tempat sandar khusus kapal penumpang - Alat bongkar muat yang permanen - Operator bongkar muat dan naik turun penumpang yang terlatih dan bersertifikat - Memiliki peralatan tambat yang sesuai dengan jenis kapal penumpang. 4 Kriteria tingkat 1 : Memiliki peralatan penanganan turun naik penumpang - Sistim peralatan yang handal dalam masalah bongkar muat - Kapasitas alat bongkar muat dan turun naik penumpang yang memadai - Peralatan penanganan bongkar muat selalu dilakukan perawatan - Memiliki operator yang terlatih dan bersertifikat. 5 Kriteria tingkat 1 : Memiliki kedalaman perairan yang memadai untuk sandar kapal - Memiliki layout data kedalaman air untuk sandar kapal - Monitoring kedalaman berkala, untuk mengetahui perlu atau tidak pengerukan apabila terjadi sedimentasi - Pelayanan ukuran kapal yang masuk berdasarkan kedalaman sandar pelabuhan Non Laporan Akhir II - 47
48 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Kapal Penumpang 6 Kriteria tingkat 1 : Memiliki keandalan system operasi menggunakan jaringan informasi online baik internal maupun eksternal - System operasi yang digunakan dibuat oleh perusahaan yang terkenal dan mempunyai kinerja yang baik - Dapat melakukan operasi sepanjang proses pekerjaan dengan pekerjaan input dan output data yang mempunyai akses cepat. - Dapat menangani kegiatan input,proses data maupun output data secara bersamaan dalam jaringan - Mampu menyimpan data untuk kegiatan 5 tahun - System jaringan dapat melakukan update system secara otomatis melalui jaringan internet. - Memiliki struktur pelayanan informasi yang dapat dimodifikasi melalui system operasi yang digunakan - Sanggup melakukan tindakan keputusan pada saat operator memasukan data untuk suatu kasus tertentu - Dapat menampilkan sistem prosedur semua kegiatan dan mampu mengingatkan dengan alarm pada computer apabila terjadi perubahan yang ekstrim dari suatu data input atau data yang sudah expire - Melakukan penjualan tiket dengan bantuan system operasi 7 Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas ruang tunggu, keberangkatan dan kedatangan yang memadai - Ruangan memiliki ukuran standar untuk dapat menunggu dengan nyaman - Dilengkapi dengan informasi kedatangan dan keberangkatan, berupa display monitor komputer atau televisi - Memiliki mini kantin - Pelayanan pembelian tiket dan tempat transit yang memadai - Memiliki toilet tersendiri - Mempunyai uangan ibadah Non Laporan Akhir II - 48
49 Tabel 2.9. Kriteria terminal yang dapat melayani Kapal Ro Ro No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Kapal Ro Ro 1 Kriteria tingkat 1 : Memiliki system dan prosedur pelayanan - Bentuk sistim dan prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis - Untuk setiap bagian pelayanan memiliki prosedur pelayanan dalam bentuk dokumen tertulis. - Memiliki buku saku dari system prosedur yang merupakan ringkasan dari dokumen tertulis. - Sosialisasi sistim dan prosedur pelayanan - Simulasi sistim dan prosedur pelayanan 2 Kriteria tingkat 1 : Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai - Jumlah personil yang diperlukan dapat dipenuhi - Kualitas personil dalam menangani angkutan kendaraan dan penumpang berupa sertifikat keahlian. - Memiliki shift penggantian petugas jaga untuk melayani angkutan kendaraan dan penumpang - Memiliki kantor personil pelayanan angkutan kendaraan dan penumpang 3 Kriteria tingkat 1 : Memiliki kesiapan fasilitas tambat permanen untuk kapal ro-ro -Memiliki tempat sandar khusus kapal ro-ro - Alat bongkar muat yang permanen - Operator bongkar muat ro-ro yang terlatih dan bersertifikat - Memiliki peralatan tambat yang sesuai dengan jenis kapal ro ro 4 Kriteria tingkat 1 : Memiliki peralatan penanganan turun naik penumpang dan kendaraan - Sistim peralatan yang handal dalam masalah turun naik penumpang dan barang - Kapasitas alat bongkar muat dan turun naik penumpang yang memadai - Peralatan penanganan bongkar muat selalu dilakukan perawatan Non Laporan Akhir II - 49
50 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Kapal Ro Ro - Memiliki operator yang terlatih dan bersertifikat. 5 Kriteria tingkat 1 : Memiliki kedalaman perairan yang memadai untuk sandar kapal - Memiliki layout data kedalaman air untuk sandar kapal - Monitoring kedalaman berkala, untuk mengetahui perlu atau tidak pengerukan apabila terjadi sedimentasi - Pelayanan ukuran kapal yang masuk berdasarkan kedalaman sandar pelabuhan 6 Kriteria tingkat 1 : Memiliki keandalan system operasi menggunakan jaringan informasi online baik internal maupun eksternal - System operasi yang digunakan dibuat oleh perusahaan yang terkenal dan mempunyai kinerja yang baik - Dapat melakukan operasi sepanjang proses pekerjaan dengan pekerjaan input dan output data yang mempunyai akses cepat. - Dapat menangani kegiatan input,proses data maupun output data secara bersamaan dalam jaringan - Mampu menyimpan data untuk kegiatan 5 tahun - System jaringan dapat melakukan update system secara otomatis melalui jaringan internet. - Memiliki struktur pelayanan informasi yang dapat dimodifikasi melalui system operasi yang digunakan - Sanggup melakukan tindakan keputusan pada saat operator memasukan data untuk suatu kasus tertentu - Dapat menampilkan sistem prosedur semua kegiatan dan mampu mengingatkan dengan alarm pada computer apabila terjadi perubahan yang ekstrim dari suatu data input atau data yang sudah expire - Melakukan penjualan tiket dengan bantuan system operasi Non Laporan Akhir II - 50
51 No. Kriteria Terminal Yang Dapat Melayani Kapal Ro Ro 7 Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas ruang tunggu, keberangkatan dan kedatangan yang memadai - Ruangan memiliki ukuran standar untuk dapat menunggu dengan nyaman - Dilengkapi dengan informasi kedatangan dan keberangkatan, berupa display monitor komputer atau televisi - Memiliki mini kantin - Pelayanan pembelian tiket dan tempat transit yang memadai - Memiliki toilet tersendiri - Mempunyai ruangan ibadah 8 Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas parkir dan tempat antrian kendaraan saat akan masuk atau keluar Kapal - Ketersedian area parkir dan tempat antrian kendaraan dengan ukuran yang memadai - Memiliki rencana induk untuk pengembangan Ketersediaan area parkir dan tempat antrian yang diukur berdasarkan lonjakan penumpang - Ketahanan beban jalan terhadap berbagai macam kendaraan, terutama kendaraan besar yang mengangkut beban yang sangat berat - Mempunyai tempat istirahat berupa ruangan beratap dan sederhana untuk penumpang atau para pengemudi Non 5. Kriteria wilayah tertentu di daratan (dry port) yang dapat berfungsi sebagai pelabuhan; a. UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran Dalam UU No, 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, pasal 77 menyebutkan bahwa suatu wilayah tertentu di daratan atau di perairan dapat ditetapkan oleh Menteri menjadi lokasi yang berfungsi sebagai pelabuhan, sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota serta memenuhi persyaratan kelayakan teknis dan lingkungan. Laporan Akhir II - 51
52 Dalam Pasal 74 UU No. 17 Tahun 2008 disebutkan bahwa 1) Rencana peruntukan wilayah daratan berdasar pada kriteria kebutuhan: fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. 2) Rencana peruntukan wilayah perairan berdasar pada kriteria kebutuhan: fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. b. PP 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan Pasal 17 : 1) Penggunaan wilayah daratan dan perairan tertentu sebagai lokasi pelabuhan ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan Rencana Induk Pelabuhan Nasional. 2) Lokasi pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan Rencana Induk Pelabuhan serta Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan. 3) Dalam penetapan oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a) titik koordinat geografis lokasi pelabuhan; b) nama lokasi pelabuhan; dan c) letak wilayah administratif. Pasal 18 1) Lokasi pelabuhan ditetapkan oleh Menteri berdasarkan permohonan dari Pemerintah atau pemerintah daerah. 2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi persyaratan yang terdiri atas: a) Rencana Induk Pelabuhan Nasional; b) rencana tata ruang wilayah provinsi; c) rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota; d) rencana Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan; e) hasil studi kelayakan mengenai: (1) kelayakan teknis; (2) kelayakan ekonomi; (3) kelayakan lingkungan; (4) pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial daerah setempat; (5) keterpaduan intra-dan antarmoda; (6) adanya aksesibilitas terhadap hinterland (7) keamanan dan keselamatan pelayaran; Laporan Akhir II - 52
53 (8) pertahanan dan keamanan. f) rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota. Dalam bagian Kelima tentang Penetapan Lokasi, Pembangunan dan Pengoperasian Wilayah Tertentu di Daratan Yang Berfungsi Sebagai Pelabuhan, khususnya pada pasal 105 dan 106 dijelaskan sebagai berikut: Pasal 105: 1) Suatu wilayah tertentu di daratan dapat ditetapkan sebagai lokasi yang berfungsi sebagai pelabuhan berdasarkan permohonan. 2) Permohonan penetapan wilayah tertentu di daratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh penyelenggara pelabuhan utama yang akan menjadi pelabuhan induknya kepada Menteri. Pasal 106 ayat 1: Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105 ayat (2), Menteri dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterima permohonan melakukan penelitian terhadap: 1) ketersediaan jalur yang menghubungkan ke pelabuhan laut yang terbuka untuk perdagangan luar negeri; 2) potensi wilayah di bidang produksi dan perdagangan yang telah dikembangkan; dan 3) kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah provinsi dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. Pasal 107: 1) Pembangunan wilayah tertentu di daratan yang telah ditetapkan sebagai lokasi yang berfungsi sebagai pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) dapat dilakukan setelah mendapat izin. 2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh penyelenggara pelabuhan utama yang menjadi pelabuhan induknya kepada Menteri. 3) Pengajuan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan: a) memiliki izin penetapan wilayah tertentu di daratan sebagai lokasi yang berfungsi sebagai pelabuhan dari Menteri; Laporan Akhir II - 53
54 b) menguasai tanah dengan luas tertentu sebagai Daerah Lingkungan Kerja; dan c) memiliki prasarana dan sarana sehingga dapat berfungsi sebagai pelabuhan yang berlokasi di daratan. 4) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri melakukan penelitian atas persyaratan permohonan pembangunan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterima permohonan secara lengkap. 5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) belum terpenuhi, Menteri mengembalikan permohonan kepada penyelenggara pelabuhan untuk melengkapi persyaratan. 6) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat diajukan kembali kepada Menteri setelah persyaratan dilengkapi. 7) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (6) telah terpenuhi, Menteri memberikan izin kepada penyelenggara pelabuhan utama yang menjadi pelabuhan induknya untuk melaksanakan pembangunan wilayah tertentu di daratan yang berfungsi sebagai pelabuhan. Pasal 108 1) Pengoperasian pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (7) dilakukan setelah diperolehnya izin. 2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh penyelenggara pelabuhan utama yang menjadi pelabuhan induknya kepada Menteri. 3) Pengajuan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi persyaratan: a) pembangunan pelabuhan telah selesai dilaksanakan sesuai dengan izin pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (7); b) keamanan, ketertiban, dan keselamatan pelayaran; c) tersedianya pelaksana kegiatan kepelabuhanan; Laporan Akhir II - 54
55 d) memiliki sistem dan prosedur pelayanan; dan e. tersedianya sumber daya manusia di bidang teknis pengoperasian pelabuhan yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat. Tabel Kriteria Wilayah tertentu di Daratan (dry port) Yang dapat Berfungsi Sebagai Pelabuhan Kriteria Wilayah tertentu di Daratan No. (dry port) Yang dapat Berfungsi Sebagai Pelabuhan 1. Kriteria tingkat 1 : Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota - Memiliki lay out tata ruang wilayah propinsi, rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota update - Memiliki rencana induk pengembangan - Memiliki dokumen pertanahan, status tanah merupakan hak milik - Memiliki dokumen perijinan - Memiliki koordinat lokasi di daratan 2. Kriteria tingkat 1 : Memenuhi persyaratan kelayakan teknis dan lingkungan - Memiliki dokumen UKP/UPL atau AMDAL - Teruji dan terukur secara visual - Penataan area dry port dan dampaknya terhadap lingkungan - Memiliki saluran pembuangan air yang lancar 3. Kriteria tingkat 1 : Memperhatikan rencana induk pelabuhan nasional - Memiliki lay out rencana induk pelabuhan nasional - Memiliki rencana induk dry port - Memahami rencana induk pelabuhan nasional - Monitoring setiap perubahan tahun dan informasi perubahan fasilitas prasarana maupun sarana sesuai rencana induk nasional Detail Laporan Akhir II - 55
56 Kriteria Wilayah tertentu di Daratan No. (dry port) Yang dapat Berfungsi Sebagai Pelabuhan 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki tanah sebagai Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan - Memiliki rencana induk pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi pelabuhan dan zonasi daerah lingkungan kerja serta daerah lingkungan kepentingan pelabuhan - Memiliki luasan daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan pelabuhan yang memadai sesuai peruntukannya 5. Kriteria tingkat 1 : Memenuhi persyaratan kelayakan ekonomi - Lokasi merupakan tempat dilakukan kegiatan perekonomian - Keteraturan pemasukan dan pengeluaran keuangan dari sistem yang ada didalam area kegiatan - Lokasi pelabuhan ataupun dry port selalu dalam keadaan aktif dengan kegiatan perekonomian - Keamanan yang memadai 6. Kriteria tingkat 1 : Mendukung pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial daerah setempat - Lokasi merupakan tempat dilakukan kegiatan perekonomian - Memiliki aktifitas dalam dan luar pelabuhan ataupun dry port - Selalu memiiliki dampak pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial daerah setempat - Prospek yang sebelumnya sudah diadakan studi kelayakan memiliki kesesuaian dengan perkembangan yang ada 7. Kriteria tingkat 1 : Memiliki aksesibilitas terhadap hinterland pelabuhan - Sumber daya manusia dari pelabuhan beberapa personil diperoleh dari daerah sekitanya. - Adanya dana CSR Detail Laporan Akhir II - 56
57 Kriteria Wilayah tertentu di Daratan No. (dry port) Yang dapat Berfungsi Sebagai Pelabuhan - Diperbolehkannya melalui perijinan resmi, masyarakat sekitar untuk berjualan - Memberikan sosialisasi mengenai keamanan pelabuhan yang bersifat nasional maupun internasional jika complay dengan ISPS Code - Mengadakan kegiatan sosial, keagamaan pada hari-hari raya agama 8. Kriteria tingkat 1 : Didukung oleh keterpaduan intra dan antar moda - Memiliki jaringan intra dan antar moda - Keterpaduan jaringan intra dan antar moda berkelanjutan - Informasi pergerakan intra dan antar moda yang aktif - Memiliki klasifikasi jenis, tipe intra dan antra moda - Intra dan antar moda diusahakan oleh perusahaan yang bergerak disalah satu moda - Manajemen keterpaduan intra dan antar moda yang terstruktur 9. Kriteria tingkat 1 : Mendapat rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota - Memiliki ijin usaha yang dasarnya adalah dari rekomendasi gubenur dan bupati/walikota - Dokumen yang memiliki data online, sehingga mudah untuk dilihat dari segi legalitasnya. - Memiliki dasar dan tujuan penggunaan dry port - Memiliki studi kelayakan yang menjadikan diperolehnya rekomendasi dari gubernur 10. Kriteria tingkat 1 : Daerah hinterlandnya merupakan wilayah di bidang produksi dan perdagangan yang telah dikembangkan Detail Laporan Akhir II - 57
58 No. Kriteria Wilayah tertentu di Daratan (dry port) Yang dapat Berfungsi Sebagai Pelabuhan - Dasar perencanaan awal dari dry port didasarkan pada daerah hinterland yang merupakan wilayah di bidang produksi dan perdagangan - Wilayah dibidang produksi dan perdagangan meliputi barang-barang yang memiliki kebutuhan akan angkutan untuk distribusi nasional dan ekspor - Produksi dan perdagangan memiliki tingkat aktifitas pergerakan moda yang aktif - Ketergantungan menggunakan pegerakan intra moda dan antar moda Detail 6. Kriteria terminal khusus yang terbuka untuk perdagangan luar negeri a. UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran Pasal 102 ayat 1 UU no. 17 Tahun 2008 menyebutkan bahwa untuk menunjang kegiatan tertentu di luar Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan dapat dibangun terminal khusus. Pasal 103: Terminal khusus sebagaimana dimaksud dalam pasal 102 ayat 1 ditetapkan menjadi bagian dari pelabuhan terdekat, wajib memiliki DLKr dan DLKP, ditempatkan instansi pemerintah yang melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran serta instansi yang melaksanakan fungsi pemerintahan sesuai kebutuhan. Pasal 104 ayat 1: Terminal khusus hanya dapat dibangun dan dioperasikan dalam hal: 1) Pelabuhan terdekat tidak dapat menampung kegiatan pokok tersebut 2) Berdasarkan pertimbangan ekonomis dan teknis operasional akan lebih efektif dan efisien serta lebih menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran apabila membangun dan mengoperasikan terminal khusus. Laporan Akhir II - 58
59 Pasal 104 ayat 2: Untuk membangun dan mengoperasikan terminal khusus wajib dipenuhi persyaratan teknis kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran, dan kelestarian lingkungan dengan izin dari menteri. Pasal 111 ayat 3 : Terminal khusus tertentu dapat digunakan untuk melakukan kegiatan perdagangan luar negeri. Selanjutnya dalam ayat 4 disebutkan bahwa terminal khusus tertentu wajib memenuhi persyaratan: 1) administrasi; 2) ekonomi; 3) keselamatan dan keamanan pelayaran; 4) teknis fasilitas kepelabuhanan; 5) Fasilitas kantor dan peralatan penunjang bagi instansi pemegang fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran, instansi bea cukai, imigrasi dan karantina; 6) Jenis komoditi khusus. b. PP 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan Pasal 8 Pelabuhan khusus nasional/internasional ditetapkan dengan kriteria: 1) bobot kapal 3000 DWT atau lebih; 2) panjang dermaga 70M atau lebih; 3) kedalaman di depan dermaga 5 M LWS atau lebih; 4) menangani pelayanan barang-barang berbahaya dan beracun (B3); 5) melayani kegiatan pelayanan lintas Propinsi dan Internasional. Pasal 149 1) Untuk menunjang kelancaran perdagangan luar negeri pelabuhan utama dan terminal khusus tertentu dapat ditetapkan sebagai pelabuhan yang terbuka bagi perdagangan luar negeri. 2) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas pertimbangan: Laporan Akhir II - 59
60 a) pertumbuhan dan pengembangan ekonomi nasional; b) kepentingan perdagangan internasional; c) kepentingan pengembangan kemampuan angkutan laut nasional; d) posisi geografis yang terletak pada lintasan pelayaran internasional; e) Tatanan Kepelabuhanan Nasional yang diwujudkan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional; f) fasilitas pelabuhan; g) keamanan dan kedaulatan negara; dan h) kepentingan nasional lainnya. c. PM.No 51 Tahun 2011 tentang Terminal Khusus Dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri Terminal Khusus adalah terminal yang terletak di luar Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian dari pelabuhan terdekat untuk melayani kepentingan sendiri sesuai dengan usaha pokoknya. Terminal Untuk Kepentingan Sendiri adalah terminal yang terletak di dalam Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang merupakan bagian dari pelabuhan untuk melayani kepentingan sendiri Pasal 33 1) Untuk menunjang kelancaran perdagangan luar negeri, terminal khusus yang dibangun dan dioperasikan untuk menunjang kegiatan usaha yang hasil produksinya untuk diekspor dapat ditetapkan sebagai terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar negeri. 2) Penetapan terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas pertimbangan: a) pertumbuhan dan pengembangan ekonomi nasional; b) kepentingan perdagangan internasional; c) kepentingan pengembangan kemampuan angkutan laut nasional; Laporan Akhir II - 60
61 d) posisi geografis yang terletak pada lintasan pelayaran internasional; e) Tatanan Kepelabuhanan Nasional yang diwujudkan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional; f) fasilitas terminal khusus; g) keamanan dan kedaulatan negara; dan h) kepentingan nasional lainnya. 3) Penetapan terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) dilakukan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan. 4) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi: a) aspek administrasi: (1) rekomendasi dari gubernur, bupati/walikota; dan (2) rekomendasi dari pejabat pemegang fungsi keselamatan pelayaran di pelabuhan. b) aspek ekonomi: (1) menunjang industri tertentu; (2) arus barang minimal ton/tahun; dan (3) arus barang ekspor minimal ton/tahun. c) aspek keselamatan dan keamanan pelayaran: (1) kedalaman perairan minimal -6 meter L WS; (2) luas kolam cukup untuk olah gerak minimal 3 (tiga) unit kapal; (3) Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran; (4) stasiun radio operasi pantai; (5) prasarana, sarana dan sumber daya manusia pandu bagi terminal khusus yang perairannya telah ditetapkan sebagai perairan wajib pandu; dan (6) kapal patroli apabila dibutuhkan. d) aspek teknis fasilitas kepelabuhanan: (1) dermaga beton permanen minimal l (satu) tambatan; (2) gudang tertutup; (3) peralatan bongkar muat; (4) PMK1 (satu) unit; Laporan Akhir II - 61
62 (5) fasilitas bunker, dan (6) fasilitas pencegahan pencemaran. e) fasilitas kantor dan peralatan penunjang bagi instansi pemegang fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran, instansi bea cukai, imigrasi, dan karantina; dan f) jenis komoditas khusus. d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 33 Tahun 2003 tentang Pemberlakuan Amandemen SOLAS 1974 tentang Pengamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan (International Ships and Port Facility Sacurity / ISPS Code) di wilayah Indonesia e. Amandement SOLAS 1974, Amandement BAB (Safety Of Navigation) R.19- Carriage of AIS f. Amandement Bab XI (Maritime Safety), XI-1 Peningkatan Keselamatan Maritim, R.3 mengenai ID Number dan R.5 mengenai CSR dan XI-2 Aturan baru mengenai Keselamatan Maritim, aturan baru tentang keamanan kapal dan Fasilitas Pelabuhan (ISPS Code) yang terdiri dari Part A mengenai Ketentuan Mandatory dan Part B mengenai Petunjuk dan Tindakan Mandatory) Tabel Kriteria terminal khusus yang terbuka untuk perdagangan luar negeri No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri A. ASPEK ADMINISTRASI 1. Kriteria tingkat 1 : Memperoleh rekomendasi dari gubernur, bupati/walikota - Memiliki ijin usaha yang dasarnya adalah dari rekomendasi gubenur dan bupati/walikota - Dokumen yang memiliki data online, sehingga mudah untuk dilihat dari segi legalitasnya. - Memiliki dasar dan tujuan penggunaan dryport - Memiliki studi kelayakan yang menjadikan diperolehnya rekomendasi dari gubernur - Memiliki Amdal dalam usaha perlindungan lingkungan - Memiliki kesesuaian dengan peruntukan lahan Detail Laporan Akhir II - 62
63 No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri 2. Kriteria tingkat 1 : Memperoleh rekomendasi dari pejabat pemegang fungsi keselamatan pelayaran di pelabuhan - Memiliki dokumen pengajuan dan kelengkapannya guna memperoleh rekomendasi dari pejabat pemegang fungsi keselamatan pelayaran di pelabuhan. - Mempunyai bukti fisik sarana dan prasana pelabuhan - Dokumen rekomendasi ditampilkan dalam website sebagai informasi legalitas - Dokumen rekomendasi ditampilkan diruang tamu, kantor dan pertemuan B. ASPEK EKONOMI 1. Kriteria tingkat 1 : Menunjang industri tertentu - Fasilitator akses perdagangan ke dalam dan luar negeri - Meningkatkan pertumbuhan industri utama dan penunjang - Meningkatkan daya saing industri dalam hal distribusi hasil industri - Meningkatkan efesiensi industri dalam hal pengadaan barang 2. Kriteria tingkat 1 : Mendukung pertumbuhan dan pengembangan ekonomi nasional - Sebagai rantai transportasi distribusi barang nasional dan internasional - Mampu mendistribusikan barang dalam skala besar Penunjang peningkatan efesiensi distribusi barang nasional - Penggerak ekonomi nasional dalam hal distribusi barang 3. Kriteria tingkat 1 : Melayani kegiatan lintas batas provinsi dan internasional - Terkait dengan sistem transportasi lokal dalam distribusi barang Detail Laporan Akhir II - 63
64 No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri - Mampu mengakomodir distribusi jenis barang hasil industri dan alam - Mempunyai kesesuaian terminal khusus dengan hasil industri/ barang antar propinsi dan internasional - Lokasi terminal khusus terletak pada posisi yang strategis 4. Kriteria tingkat 1 : Mampu melayani arus barang di terminal khusus minimal ton per tahun - Ketersediaan dan kehandalan fasilitas untuk pelayanan terhadap kapal - Terminal khusus yang dapat mengakomodir tipe dan besaran kapal - Pelayanan pelabuhan dapat beroperasi selama 24 jam - Pelabuhan mempunyai kemampuan untuk melakukan keselamatan dan keamanan terhadap kapal 5. Kriteria tingkat 1 : Melayani arus barang ekspor minimal ton/tahun - Ketersediaan dan kehandalan fasilitas untuk pelayanan terhadap kapal - Terminal khusus yang dapat mengakomodir tipe dan besaran kapal - Pelayanan pelabuhan dapat beroperasi selama 24 jam - Pelabuhan mempunyai kemampuan untuk melakukan keselamatan dan keamanan terhadap kapal 6. Kriteria tingkat 1 : Posisi terminal khusus secara geografis terletak pada lintasan pelayaran internasional - Perencanaan lokasi pelabuhan pada daerah yang geografis - Perencanaan tipe dan besaran pelabuhan terkait dengan lintasan pelayaran - Perencanaan fasilitas pelabuhan dalam mendukung operasional pelabuhan - Perencanaan SDM dan SOP pelayanan terhadap kapal dan barang Detail Laporan Akhir II - 64
65 No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri C. ASPEK KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kedalaman dermaga minimal -6 mlws - Memiliki dermaga tidak dalam lokasi yang mempunyai sedimentasi tinggi - Memiliki perencanaan untuk menjaga kedalaman perairan di dermaga - Memiliki fasilitas dan peralatan untuk menjaga kedalaman perairan - Memiliki SDM dan SOP dalam menjaga kedalaman perairan 2. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kolam pelabuhan yang cukup untuk olah gerak kapal minimal 3 unit kapal - Pelabuhan memiliki perencanaan DLKr yang cukup untuk olah gerak kapal - Pelabuhan memiliki sarana dan fasilitas yang baik untuk olah gerak kapal - Memiliki kedalaman yang cukup untuk olah gerak kapal - Memiliki SDM, SOP dan standard terkait kolam pelabuhan 3. Kriteria tingkat 1 : Ketersediaan SBNP dan SROP - Memiliki kecukupan, kehandalan dan jenis SBNP & SROP - Memiliki SDM, SOP dan standar terkait SBNP & SROP - Memiliki perencanaan penggunaan dan penggantian SBNP & SROP - Memiliki perencanaan perawatan SBNP & SROP 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki prasarana, sarana dan SDM pandu bagi terminal khusus yang perairannya telah ditetapkan sebagai perairan wajib pandu - Memiliki kecukupan, kehandalan dan besar HP kapal pandu - Memiliki SDM, SOP dan standar terkait kapal pandu Detail Laporan Akhir II - 65
66 No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri - Memiliki perencanaan penggunaan dan penggantian kapal pandu - Memiliki perencanaan perawatan kapal pandu 5. Kriteria tingkat 1 : Mampu melayani bobot kapal 3000 DWT atau lebih - Memiliki dermaga yang mampu melayani kapal 3000 DWT atau lebih - Memiliki sarana pelabuhan (gudang, alat bongkar muat dll) yang memadai - Memiliki SDM, SOP untuk pelayanan kapal 3000 DWT atau lebih - Memiliki fasilitas keselamatan dan keamanan untuk kapal 3000 DWT atau lebih 6. Kriteria tingkat 1 : Memiliki kapal patroli - Memiliki kecukupan, kehandalan dan jenis kapal patroli - Memiliki SDM terlatih untuk kapal patroli - Memiliki perencanaan pengadaan, perawatan dan penggantian kapal patroli - SOP dan standard kapal patroli - Memiliki sistim pengamanan yang tercukupi dari arah laut dengan kapal patroli 7. Kriteria tingkat 1 : Memiliki SOP pengamanan - SOP pengamanan dibuat sesuai standar internasional - SOP pengamanan mencakup seluruh kegiatan pengamanan pelabuhan - SOP pengamanan mencakup hanya kegiatan utama pengamanan pelabuhan - SOP pengamanan perlu dilakukan masukan dari seluruh pihak terkait dan memperhatikan kearifan lokal - SOP pengamanan perlu dilakukan peninjauan secara berkala 8. Kriteria tingkat 1 : Complay ISPS Code - Memiliki sarana dan prasarana pelabuhan sesuai dengan ISPS Code - Memiliki SDM yang mencukupi dan terlatih sesuai dengan ISPS Code Detail Laporan Akhir II - 66
67 No. D Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri - Memiliki SOP pengamanan sesuai dengan ISPS Code - Melakukan pembaruan dan pelatihan SDM secara kontinyu sesuai ISPS Code ASPEK TEKNIS FASILITAS KEPELABUHANAN 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki dermaga beton permanen minimal satu tambatan dengan panjang minimal 70 meter - Panjang dermaga dirancang untuk mampu melayani kapal sesuai norma standar pelayanan - Jumlah tambatan yang ada dapat melayani kapal tambat pada pelabuhan - Kolam dermaga harus dapat mengkomodir olah gerak kapal - Kedalam kolam dermaga dapat dimasuki oleh kapal dengan ukuran min 3000 DWT - Fasilitas Dermaga harus dapat sesuai dengan jenis muatan kapal - Fasilitas keselaamatan pelaayaran terdapat pada dermaga tersebut 2. Kriteria tingkat 1 : Mampu menangani barang-barang berbahaya dan beracun (B3) - Pelabuhan memiliki fasilitas dan sarana penanganan barang berbahaya dan beracun - Pelabuhan memiiki SDM yang terlatih dan mencukupi dalam penanganan barang berbahaya dan beracun - Pelabuhan memiliki SOP dan standar dalam penanganan barang berbahaya dan beracun - Pelabuhan memiliki fasilitas penampungan barang berbahaya dan beracun 3. Kriteria tingkat 1 : Memiliki peralatan bongkar muat - Jumlah peralatan bongkar muat harus memenuhi standar pelayanan - Jenis peralatan bongkar muat harus memenuhi standar pelayanan - Kesesuaian peralatan bongkar muat dengan jenis muatan - Memiliki SDM yang bersertifikasi Detail Laporan Akhir II - 67
68 No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri - Memiliki SOP dalam operasional peralatan bongkar muat 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas pencegahan pencemaran - Fasilitas pencegahan pencemaran harus sesuai dengan jenis pencemaran dari muatan dan kapal - Jumlah fasilitas pencegahan pencemaran mampu menangani pencemaran yang terjadi - Lokasi fasilitas pencegahan pencemaran dirancang strategis - Memiliki SOP penanggulangan pencemaran di pelabuhan - Memiliki SDM yang bersertifikasi 5 Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas gudang tertutup - Kapasitas gudang tertutup dapat menampung seluruh muatan - Lokasi gudang tertutup dapat diakses mudah oleh alat transportasi - Fasilitas gudang tertutup dilengkapi dengan fasilitas pemadam kebakaran dan dilengkapi fasilitas keamanan - Memiliki SOP dalam operasionalnya - Jenis gudang tertutup di pelabuhan sesuai dengan jenis muatan - Fasilitas gudang tertutup harus dimiliki oleh pelabuhan 6. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas bunker - Fasilitas bunker wajib dimiliki oleh pelabuhan - Fasilitas bunker dapat ditangani oleh pihak lain diluar pelabuhan - Kapasitas bunker dapat melayani kebutuhan kapal - Jenis BBM disediakan untuk seluruh kebutuhan - Memiliki SDM sesuai kompetensinya - Memiliki SOP fasilitas bunker di pelabuhan E ASPEK LAIN 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki fasilitas kantor dan peralatan penunjang bagi instansi pemegang fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran, instansi Detail Laporan Akhir II - 68
69 No. Kriteria Terminal Khusus Yang Terbuka Untuk Perdagangan Luar Negeri Detail bea cukai, imigrasi, dan karantina; - Tersedia kantor dan penunjang pelayanan pelabuhan - Memiliki SDM yang memiliki kompetensi untuk setiap pelayanan - Tersedia fasilitas penunjang pelayanan pelabuhan - Memiliki SOP untuk setiap pelayanan pelabuhan 2. Kriteria tingkat 1 : Menangani jenis komoditi khusus - Terminal khusus dirancang dan dapat mengakomodir jenis muatan khuus - Memiliki fasilitas dan peralatan untuk pelayanan kapal dan komoditi khusus - Memiliki lokasi/ area untuk penyimpanan komoditi khusus - Memiliki SDM dan SOP untuk penanganan komoditi khusus 7. Kriteria alur pelayaran yang dapat dikomersilkan a. UU no 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran Alur-Pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar, dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari. Badan Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, atau badan hukum Indonesia yang khusus didirikan untuk pelayaran Pasal 102 1) Untuk menunjang kegiatan tertentu di luar DaerahLingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan dapat dibangun terminal khusus. 2) Untuk menunjang kegiatan tertentu di dalam Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan dapat dibangun terminal untuk kepentingan sendiri. Laporan Akhir II - 69
70 Pasal 103 Terminal khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102ayat (1): 1) ditetapkan menjadi bagian dari pelabuhan terdekat; 2) wajib memiliki Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan tertentu; dan 3) ditempatkan instansi Pemerintah yang melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran, serta instansi yang melaksanakan fungsi pemerintahan sesuai dengan kebutuhan. Pasal 104 1) Terminal khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102 ayat (1) hanya dapat dibangun dan dioperasikan dalam hal: a) pelabuhan terdekat tidak dapat menampung kegiatan pokok tersebut; dan b) berdasarkan pertimbangan ekonomis dan teknis operasional akan lebih efektif dan efisien serta lebih menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran apabila membangun dan mengoperasikan terminal khusus. 2) Untuk membangun dan mengoperasikan terminal khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dipenuhi persyaratan teknis kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran, dan kelestarian lingkungan dengan izin dari Menteri. 3) Izin pengoperasian terminal khusus diberikan untuk jangka waktu maksimal 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan berdasarkanundang-undang ini. Dalam pasal 187 ayat 1 disebutkan bahwa alur dan perlintasan terdiri atas: 1) alur-pelayaran di laut; dan 2) alur-pelayaran sungai dan danau. Pasal 187 ayat (2) : Alur-pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk pelayaran serta diumumkan oleh instansi yang berwenang. Laporan Akhir II - 70
71 Pasal 188 1) Penyelenggaraan alur-pelayaran dilaksanakan oleh Pemerintah. 2) Badan usaha dapat diikut sertakan dalam sebagian penyelenggaraan alur-pelayaran. 3) Untuk penyelenggaraan alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah wajib menetapkan alur pelayaran, menetapkan system rute, menetapkan tata cara berlalu lintas dan menetapkan daerah labuh kapal sesuai dengan kepentingannya. Pasal 189: 1) Untuk membangun dan memelihara alur-pelayaran dan kepentingan lainnya dilakukan pekerjaan pengerukan dengan memenuhi persyaratan teknis. 2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) keselamatan berlayar; b) kelestarian lingkungan; c) tata ruang perairan; dan d) tata pengairan untuk pekerjaan di sungai dan danau. Pasal 190 1) Untuk kepentingan keselamatan dan kelancaran berlayarpada perairan tertentu, Pemerintah menetapkan system rute yang meliputi: a) skema pemisah lalu lintas di laut; b) rute dua arah; c) garis haluan yang dianjurkan; d) rute air dalam; e) daerah yang harus dihindari; f) daerah lalu lintas pedalaman; dan g) daerah kewaspadaan. 2) Penetapan sistem rute sebagaimana dimaksud pada ayat(1) didasarkan pada: a) kondisi alur-pelayaran; dan b) pertimbangan kepadatan lalu lintas. 3) Sistem rute sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harusdicantumkan dalam peta laut dan buku petunjukpelayarandan diumumkan oleh instansi yangberwenang. Laporan Akhir II - 71
72 Pasal 191 Tata cara berlalu lintas di perairan dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 192 Setiap alur- pelayaran wajib dilengkapi dengan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi- Pelayaran. b. PP No 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian Alur-Pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman,lebar, dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari. Alur dan Perlintasan adalah bagian dari perairan yang dapat dilayari sesuai dimensi/spesifikasi kapal di laut,sungai, dan danau. Pasal 6 1) Penyelenggaraan alur-pelayaran dilaksanakan oleh Pemerintah. 2) Penyelenggaraan alur-pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat(1) meliputi perencanaan, pembangunan,pengoperasian, pemeliharaan, dan pengawasan. 3) Badan usaha dapat diikutsertakan dalam pembangunan,pengoperasian, dan pemeliharaan alur-pelayaran yang menuju ke terminal khusus yang dikelola oleh badan usaha. 4) Penyelenggaraan alur-pelayaran oleh badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan setelah mendapat izin dari Menteri. c. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 68 Tahun 2011 tentang Alur Pelayaran di Laut Alur-Pelayaran di Laut adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari kapal angkutan laut. Laporan Akhir II - 72
73 Pasal 4: Penyelenggaraan alur-pelayaran di laut dilakukan untuk : 1) ketertiban lalu lintas kapal; 2) memonitor pergerakan kapal; 3) mengarahkan pergerakan kapal; dan 4) pelaksanaan hak lintas damai kapal-kapal asing. Pasal 5: 1) Penyelenggaraan alur-pelayaran di laut dilaksanakan oleh Pemerintah. 2) Penyelenggaraan alur-pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) perencanaan; b) pembangunan; c) pengoperasian; d) pemeliharaan; dan e) pengawasan. Pasal 6: 1) Kegiatan perencanaan alur-pe1ayaran di laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2)huruf a meliputi : a) rencana pembangunan alur-pelayaran di laut; b) penataan alur-pelayaran di laut. 2) Rencana pembangunan alur-pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disusun berdasarkan: a) Rencana Induk Peabuhan Nasional; b) perkembangan dimensi kapal dan jenis kapal; c) kepadatan lalu lintas; d) kondisi geografis;dan e) efisiensi jarak pelayaran. 3) Penataan alur-pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan untuk: ketertiban lalu lintas kapal; a) keselamatan dan keamanan bernavigasi; dan b) perlindungan lingkungan maritim. Pasal 7 : Pada kegiatan perencanaan alur-pe1ayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Laporan Akhir II - 73
74 1) penataan jalur-jalur sempit; 2) titik mati (point of no return); 3) lebar alur satu arah; 4) lebar dalam belokan-belokan alur; 5) lebar alur dua arah; 6) daerah olah gerak. Pasal 8: Pada penataan jalur-jalur sempit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a garis mengemudi lurus yang ditandai cukup dengan kepanjangan minimal 5 (lima) kali panjang kapal terbesar pada kedua ujung jalur. Pasal 9: Pada titik mati (point of no return) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b. meliputi : 1) penyediaan jalur-jalur darurat ke luar alur, khususnya bagi alur- alur yang panjang dan lalu lintas padat. 2) jarak antara "titik mati" ke pintu masuk pelabuhan untuk kapal-kapal besar dibuat sependek mungkin. Pasal 18: 1) Badan usaha dapat diikutsertakan dalam pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan alurpelayaran di laut yang menuju ke terminal khusus yang dikelola oleh badan usaha. 2) Penyelenggaraan alur-pe1ayaran di laut oleh badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah mendapat izin dari Menteri. Tabel 2.12.Kriteria alur pelayaran yang dapat dikomersilkan No. Kriteria Alur Pelayaran Yang Dapat Dikomersilkan 1. Kriteria tingkat 1 : Penataan jalur-jalur sempit Non Laporan Akhir II - 74
75 No. Kriteria Alur Pelayaran Yang Dapat Dikomersilkan - Memiliki potensi pergerakan moda transportasi laut - Lokasi pelabuhan memiliki akses untuk dilakukan pergerakan moda transportasi laut - Lokasi pelabuhan mempunyai akses sebagai tempat pergerakan roda ekonomi - Lokasi pelabuhan sebagai tempat utama pemindahan barang cair atau curah - Dilengkapi dengan sarana bantu navigasi dan telekomunikasi pelayaran - Perlindungan lingkungan maritim - Pemahaman kondisi jalur dan penyesuaian terhadap belokan-belokan alur - Memenuhi syarat kedalaman, lebar, bebas hambatan, aman dan selamat untuk dilayari - Memiliki ijin operasional - Memiliki Pandu 2. Kriteria tingkat 1 : Daerah olah gerak kapal - Memenuhi syarat kedalaman, lebar, bebas hambatan, aman dan selamat untuk dilayari - Ukuran dan lokasi mengikuti perencanaan pelabuhan pada rencana induk - Monitoring kedalaman terhadap sedimentasi dan adanya kerangka kapal - Gelombang dan arus perairan pelabuhan yang tenang 3. Kriteria tingkat 1 : Penyediaan jalur darurat ke luar alur - Memenuhi syarat kedalaman, lebar, bebas hambatan, aman dan selamat untuk jalur darurat ke luar alur - Ukuran dan lokasi mengikuti perencanaan pelabuhan pada rencana induk - Monitoring kedalaman terhadap sedimentasi dan adanya kerangka kapal Non Laporan Akhir II - 75
76 No. Kriteria Alur Pelayaran Yang Dapat Dikomersilkan - Gelombang dan arus perairan pelabuhan yang tenang 4. Kriteria tingkat 1 : Pemeriksaan kedalaman alur - Memiliki prosedur pemeriksaan kedalaman alur - Mempunyai peralatan untuk mengukur kedalaman yang akurat - SDM yang terlatih dan memiliki sertifikat - Memiliki lay out kedalaman eksisting 5. Kriteria tingkat 1 : Pengadaan pengerukan alur - Memiliki prosedur pemeriksaan kedalaman alur - Mempunyai peralatan untuk pengerukan alur - SDM yang terlatih dan memiliki sertifikat - Memiliki keandalan peralatan keruk untuk alur 6. Kriteria tingkat 1 : Pemeliharaan rambu rambu navigasi - Memiliki lay out dan koordinat peletakan sarana bantu navigasi - Mempunyai bentuk standar sarana rambu navigasi - Memiliki jumlah sarana bantu sesuai ketentuan untuk kondisi suatu pelabuhan - Monitoring sarana bantu navigasi dan perawatannya - Memiliki bengkel untuk perbaikan sarana bantu navigasi 7. Kriteria tingkat 1 : Pengadaan pembersihan alur laut akibat kapal karam atau bangunan laut lainnya - Memiliki layout pelabuhan - Monitoring keadaan alur - Mempunyai perangkat untuk melakukan pembersihan alur Non Laporan Akhir II - 76
77 No. Kriteria Alur Pelayaran Yang Dapat Dikomersilkan - SDM yang mampu mengatasi keadaan alur - Memiliki prosedur pelaksanaan pembersihan alur 8. Kriteria tingkat 1 : Penyediaan alat monitoring perubahan kedalaman alur dan penyelam - Selalu tersedia dan siap digunakan saat operasi - Perangkat dikategorikan handal dan memiliki keakuratan pengukuran - SDM yang terlatih dan memiliki sertifikat untuk mengoperasikan perangkat - SDM penyelam merupakan orang yang terlatih dan bersertifikat menangani segala kondisi didaerah alur 9. Kriteria tingkat 1 : Memiliki koordinat lokasi - Memiliki layout alur - Koordinat yang digunakan adalah koordinat geografis - Memiliki toleransi koordinat yang tergantung dari jenis GPS yang digunakan - Data keberadan alur ditampillkan dalam website sebagai legalitas keberadaan lokasi Non 8. Kriteria badan usaha yang dapat bergerak di bidang pencucian tangki kapal a. UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran tidak mengatur secara khusus mengenai badan usaha yang dapat bergerak di bidang pencucian tangki kapal. Namun demikian UU No 17 Tahun 2008 megatur mengenai penyelenggaraan perlindungan maritim. Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim dilakukan melalui pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal; serta pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan. Laporan Akhir II - 77
78 Pasal 226 UU 17 Tahun 2008 (1) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim dilakukan oleh pemerintah (2) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: a) Pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal; dan b) Pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan 3) Selain pencegahan dan penanggulangan sebagaimana pada ayat (2) perlindungan lingkungan maritim juga dilakukan terhadap: a. Pembuangan limbah di perairan; dan b. Penutuhan kapal b. PP No 21 Tahun 2010 Tentang Perlindungan lingkungan maritim Tangki kapal adalah ruangan terutup yang merupakan bagian darikonstruksi tetap kapal yang dipergunakan untuk menempatkan atau mengangkut cairan dalam bentuk curah termasuk tangki samping (wing tank), tangki bahan bakar (fuel tank), tangki tengah (center tank), tangki air balas (water ballast tank) atau tangki dasar ganda (double bottom tank), tangki endap (slop tank) tangki minyak kotor (sludge tank), dan tangki dalam (deep tank), tangki bilga (bilge tank), dan tanki yang dipergunakan untuk memuat bahan cair beracun secara curah. Pasal 16 : 1) Pencucian tangki kapal dapat dilakukan oleh: a) Awak kapal b) Badan usaha yang bergerak di bidang pencucian tangki kapal (3) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b wajib memiliki izin usaha dan izin kerja. (4) Izin usaha sebagaimana dimaksud apda ayat (3) diberikan oleh Menteri setelah memeuhi persyaratan: a) Administrasi (1) Akte Pendirian perusahaan (2) Nomor pokok wajib pajak (3) Surat keterangan domisili Laporan Akhir II - 78
79 b) Teknis (1) Memiliki tenaga pencuci tangki kapal yang berpengalaman paling sedikit 2 (dua) orang (2) Memiliki atau menguasai peralatan dan perlengkapan pencucian tangki kapal yang terdiri atas: (a) Pompa cairan (b) Blower (c) Kompresor udara (d) Detektor gas (e) Pakaian tahan api dan perlengkapannya (f) Masker gas (g) Lampu pengaman (h) Sepatu karet (i) Peralatan pemadam kebakaran jinjing (j) Alat pelokalisir minyak (k) Bahan penyerap (l) Cairan pengurai minyak (m) Kapal kerja (n) Sarana penampung limbah c. KM 4 tahun 2005 tentang Pencegahan pencemaran dari kapal Pasal 22 1) Pembersihan tangki kapal yang tidak dilakukan oleh awak kapal harus dilaksanakan oleh badan usaha yang bergerak di bidang pembersihan tangki kapal yang memenuhi persyaratan 2) Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: a) Memiliki Surat Ijin Usaha Pendirian Perusahaan (SIUP) dari instansi terkait b) Rekomendasi peralatan tanki cleaning dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup c) Memiliki tenaga pembersih tanki yang berpengalaman sebanyak 2 orang d) Memiliki dan/atau menguasai perlengkapan pembersihan tangki yang terdiri atas: (1) Pompa cairan 2 unit (2) Blower 2 unit (3) Kompresor udara 2 unit Laporan Akhir II - 79
80 (4) Detektor gas 2 unit (5) Pakaian tahan api dan perlengkapannya 2 unit (6) Masker gas 2 unit (7) Lampu pengaman 5 unit (8) Penyemprot air (butterworth) 2 unit (9) Sepatu karet 10 unit (10) Peralatan pemadam kebakaran jinjing 2 unit e) Memiliki dan/atau menguasai peralatan penanggulangan pencemaran, yakni oil boom, dispersant dan absorbent. f) Memiliki dan/atau menguasai 1 (satu) unit kapal tunda g) Memiliki dan/atau menguasai 1 (satu) unit tongkang penampung d. MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition 1997 yang memuat peraturan : 1) International Convention for the Prevention of Pollution from Ships Mengatur kewajiban dan tanggung jawab Negaranegara anggota yang sudah meratifikasi konvensi tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh Negara anggotanya seperti Indonesia, memasukkan isi konvensi-konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang-undangan Nasional. 2) Protocol of 1978 Merupakan peraturan tambahan Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP) bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kapal tanker dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di dalam Annex konvensi. Laporan Akhir II - 80
81 Karena itu peraturan dalam MARPOL Convention 1973 dan Protocol 1978 harus dibaca dan diinterprestasikan sebagai satu kesatuan peraturan. Protocol of 1978, juga memuat peraturan mengenai : a) Protocol I Kewajiban untuk melaporkan kecelakaan yang melibatkan barang beracun dan berbahaya. Peraturan mengenai kewajiban semua pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara anggota diminta untuk membuat petunjuk untuk membuat laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan petunjuk yang dimuat dalam Annex Protocol I. Sesuai Article II MARPOL 73/78 Article III Contents of report laporan tersebut harus memuat keterangan : (1) Mengenai identifikasi kapal yang terlibat melakukan pencemaran. (2) Waktu, tempat dan jenis kejadian (3) Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah (4) Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan Nahkoda atau perorangan yang bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi pada kapal wajib untuk segera melaporkan tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai petunjuk dalam Protocol dimaksud. b) Protocol II mengenai Arbitrasi Berdasarkan Article 10 setlement of dispute. Dalam Protocol II diberikan petunjuk menyelesaikan perselisihan antara dua atau lebih Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi konvensi. Apabila perundingan antara pihak-pihak yang berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, salah satu dari Laporan Akhir II - 81
82 mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan petunjuk dalam Protocol II konvensi. Selanjutnya peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut oleh berbagai jenis bahan pencemar dari kapal dibahas daam Annex I s/d MARPOL 73/78, berdasarkan jenis masing-masing bahan pencemar sebagai berikut : Annex I Pencemaran oleh minyak Mulai berlaku 2 Oktober 1983 Annex II Pencemaran oleh Cairan Beracun (Nuxious Substances) dalam bentuk Curah ulai berlaku 6 April 1987 Annex III Pencemaran oleh barang Berbahaya (Hamful Sub-Stances) dalam bentuk Terbungkus Mulai berlaku 1 Juli 1991 Annex I Pencemaran dari kotor Manusia /hewan (Sewage) diberlakukan 27 September 2003 Annex Pencemaran Sampah Mulai berlaku 31 Desember 1988 Annex I Pencemaran udara belum diberlakukan Peraturan MARPOL Convention 73/78 yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, baru Annex I dan Annex II, dengan Keppres No. 46 tahun TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA ANGGOTA MARPOL 73/78 (1) Menyetujui MARPOL 73/78 Pemerintah suatu negara (2) Memberlakukan Annexexes I dan II Administrasi hukum / maritim (3) Memberlakukan optimal Annexes dan melaksanakan Administrasi hukum / maritim. Laporan Akhir II - 82
83 (4) Melarang pelanggaran Administrasi hukum / maritim (5) Membuat sanksi Administrasi hukum / maritim (6) Membuat petunjuk untuk bekerja administrasi maritim (7) Memberitahu Negara-negara yang bersangkutan administrasi maritim. (8) Memberitahu IMO Administration maritim (9) Memeriksa kapal Administrasi maritim (10) Memonitor pelaksanaan Administrasi maritim (11) Menghindari penahanan kapal Administrasi kapal (12) Laporan kecelakaan Administrasi maritim / hukum (13) Menyediakan laporan dokumen ke IMO (Article 11) Administrasi maritim (14) Memeriksa kerusakan kapal yang menyebabkan pencemaran dan melaporkannya Administrasi maritim. (15) Menyediakan fasilitas penampungan yang sesuai peraturan Administrasi maritim. e. Peraturan Menteri No. 13 tentang ganti kerugian akibat pencemaran dan/ atau kerusakan lingkungan hidup. Pasal 4 Peraturan Menteri ini bertujuan memberikan pedoman bagi para pihak yang terlibat dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup untuk mencapai kesepakatan dalam melakukan penghitungan dan pembayaran ganti kerugian serta untuk melaksanakan tindakan tertentu akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Pasal 3 Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang Laporan Akhir II - 83
84 lain atau masyarakat dan/atau lingkungan hidup atau negara wajib: 1) melakukan tindakan tertentu; dan/atau 2) membayar ganti kerugian. Pasal 4 Kewajiban melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi: 1) pencegahan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; 2) penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;dan/atau 3) pemulihan fungsi lingkungan hidup. Pasal 5 1) Kerugian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b meliputi: a) kerugian karena tidak dilaksanakannya kewajiban pengolahan air limbah, emisi, dan/atau pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun; b) kerugian untuk pengganti biaya penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemulihan lingkungan hidup; c) kerugian untuk pengganti biaya verifikasi pengaduan, inventarisasi sengketa lingkungan, dan biaya pengawasan pembayaran ganti kerugian dan pelaksanaan tindakan tertentu; d) kerugian akibat hilangnya keanekaragaman hayati dan menurunnya fungsi lingkungan hidup; dan/atau e) kerugian masyarakat akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. 2) Kerugian akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan menjadi kerugian yang: a) bersifat tetap; dan b) bersifat tidak tetap. Laporan Akhir II - 84
85 (3) Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai denganhuruf d merupakan kerugian yang bersifat tetap. (4) Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan kerugian yang bersifat tidak tetap. Tabel Kriteria badan usaha yang dapat bergerak di bidang pencucian tangki kapal Kriteria Badan Usaha Yang Dapat No. Bergerak Di Bidang Pencucian Tangki Kapal 1. Kriteria tingkat 1 : Memiliki Surat Ijin Usaha Pendirian Perusahaan (SIUP) dari instansi terkait - Memenuhi persyaratan tenaga kerja yang bersertifikat dan terlatih - Perusahaan nasional, NPWP dan mempunyai kantor - Memenuhi persyaratan peralatan pencucian tank - Memenuhi persyaratan memiliki penyimpanan sementara - Memenuhi persyaratan memiliki SOP pencucian tangki - Memenuhi persyaratan memiliki SOP dan peralatan penanggulangan bencana 2. Kriteria tingkat 1 : Mendapat Rekomendasi peralatan tanki cleaning dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup - Memenuhi persyaratan memiliki amdal - Memenuhi persyaratan pengolahan limbah - Memenuhi persyaratan kompetensi tenaga kerja - Memenuhi persyaratan peralatan pencucian tangki - Memenuhi persyaratan memiliki SOP pencucian tangki 3. Kriteria tingkat 1 : Memiliki tenaga pembersih tanki yang berpengalaman sebanyak 2 orang Non legal Laporan Akhir II - 85
86 Kriteria Badan Usaha Yang Dapat No. Bergerak Di Bidang Pencucian Tangki Kapal - Tenaga pembersih tangki memiliki sertifikasi kompetensi dari lembaga berwenang - Jumlah tenaga kerja harus sesuai dengan volume pekerjaan yang dilakukan - Tenaga pembersih dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang memadai dalam proses pencucian tangki - Secara periodik pekerja melakukan drilling terhadap kecelakaan pekerjaan - Seluruh pekerja memahami resiko pekerjaan yang terjadi - Dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja - Tatacara pekerjaan diatur dalam SOP 4. Kriteria tingkat 1 : Memiliki dan/atau menguasai perlengkapan pembersihan tangki minimal: - Perlengkapan keselamatan pekerja tersedia dalam jumlah cukup dan tersedia dengan kondisi baik - Perlengkapan pembersihan tangki tersedia dalam jumlah cukup dan tersedia dengan baik - Perlengkapan pembersihan tangki harus sesuai dengan jenis limbah yang terdapat pada tangki - Limbah harus dilakukan pengolahan sebelum dibuang kelaut - Lokasi pembuangan limbah mengikuti aturan yang telah ditetapkan instansi berwenang - Penggunaan peralatan mengikuti SOP yang dibuat - Perlengkapan ukur limbah mempunyai sertifikasi kelaikan dan keakuratan dalam pengukuran 5. Kriteria tingkat 1 : Memiliki dan/atau menguasai peralatan penanggulangan pencemaran, yakni oil boom, dispersant dan absorbent. - Perusahaan pencucian tangki kapal memiliki atau sewa peralatan Non legal Laporan Akhir II - 86
87 Kriteria Badan Usaha Yang Dapat No. Bergerak Di Bidang Pencucian Tangki Kapal penanggulangan bencana dibuktikan dengan dokumen resmi - Memiliki tempat penampungan limbah, baik milik sendiri maupun sewa dibuktikan dengan dokumen resmi - Memiliki peralatan pendukung untuk penanggulangan bencana - Peralatan dilengkapi dengan manual SOP dan manual - Memiliki SDM yang mempunyai kwalifikasi dalam penanganan penanggulangan bencana - Memiliki SDM yang mempunyai kwalifikasi penggunaan peralatan dan bahan untuk penanggulangan bencana 6. Kriteria tingkat 1 : Memiliki dan/atau menguasai 1 (satu) unit kapal tunda - - Perusahaan pencucian tangki kapal memiliki atau sewa berupa kapal tunda untuk penanggulangan bencana dibuktikan dengan dokumen resmi - Memiliki kapal tunda dengan daya mesin yang sesuai dengan kebutuhan - Kapal tunda harus dalam keadaan laik laut - Memiliki SDM yang mempunyai kwalifikasi dalam penanganan kapal tunda - Penggunaan kapal tunda dilengkapi dengan SOP dan manual book - Kapal tunda dilengkapi dengan peralatan keselamatan dan keamanan untuk penanggulangan bencana - Memiliki SDM untuk menangani/ operator kapal tunda 7. - Kriteria tingkat 1 : - Memiliki dan/atau menguasai 1 (satu) unit tongkang penampung (sarana penampung limbah) - Penguasaan tongkang dibuktikan dengan surat kepemilikan atau penyewaan - Kapasitas tongkang harus dapat menampung limbah yang dihasilkan Non legal Laporan Akhir II - 87
88 Kriteria Badan Usaha Yang Dapat No. Bergerak Di Bidang Pencucian Tangki Kapal - Tongkang yang digunakan harus dalam keadaan laik laut - Tongkang yang digunakan dilengkapi dengan peralatan pengolah limbah - Tongkang dilengkapi dengan SOP untuk tatacara pekerjaan - Tongkang diawaki oleh awak yang mempunyai kompetensi dan bersertifikasi 8. Kriteria tingkat 1 : Memahami AMDAL dan pencegahan penggunaan bahan pencucian yang berbahaya - Memiliki tenaga ahli dengan sertifikasi amdal/ penanganan limbah dari instansi berwenang - Memiliki tenaga ahli dengan sertifikasi menguasai peralatan dan bahan untuk pencucian tangki - Dilakukan safety induction dan drilling secara periodik terhadap karyawan perusahaan pencuci tangki kapal - Memiliki SOP dalam melakukan pekerjaan pencucian tangki kapal - Karyawan memiliki pengetahuan mengenai pekerjaan, bahaya yang terjadi dan penggunaan peralatan & bahan pencucian tangki kapal 9, Kriteria tingkat 1 : Memiliki Sertifikasi ahli pencucian tangki kapal dan K3 - Memiliki tenaga ahli dengan sertifikasi K3 dari instansi berwenang - Memiliki tenaga ahli dengan sertifikasi pencucian tangki kapal dari instansi berwenang - Memiliki tenaga ahli dengan sertifikasi amdal/ penanganan limbah dari nstansi berwenang - Memiliki tenaga ahli dengan sertifikasi menguasai peralatan dan bahan untuk pencucian tangki - Perusahaan jasa pencucian tangki kapal harus dilengkapi dengan tenaga ahli yang mempunyai sertifikasi Non legal Laporan Akhir II - 88
89 Kriteria Badan Usaha Yang Dapat No. Bergerak Di Bidang Pencucian Tangki Kapal 10. Kriteria tingkat 1 : Memahami lokasi pencucian tangki kapal yang direkomendasikan - Lokasi pencucian tangki kapal ditentukan dengan izin dari instansi berwenang - Lokasi pencucian tangki kapal tidak mengganggu alur pelayaran - Lokasi pencucian tangki kapal tidak boleh mengganggu lingkungan alam sekitarnya - Lokasi pencucian tangki kapal mempunyai tinggi gelombang dan kekuatan angin yang kecil - Lokasi pencucian tangki kapal dilengkapi dengan fasilitas penyimpan limbah - Lokasi pencucian tangki kapal dilengkapi peralatan pengolah limbah - Lokasi pencucian dilengkapi tanda-tanda khusus - Lokasi pencucian dilengkapi dengan SOP 11. Kriteria tingkat 1 : Memahami dan mengetahui cara pembuangan kerak atau lumpur - Lokasi pembuangan kerak atau lumpur sesuai dengan lokasi yang ditentukan instansi berwenang - Memiliki amdal untuk pembuangan kerak atau lumpur untuk volume tertentu - Mendapat izin dari instansi berwenang untuk pembuangan kerak atau lumpur - Mempunyai SOP untuk tatacara pembuangan kerak atau lumpur - Membuat laporan untuk pembuangan kerak atau lumpur - Memiliki tenaga kerja yang cukup dan mempunyai keahlian yang bersertifikasi Non legal Laporan Akhir II - 89
90 9. Kriteria lokasi perairan yang dapat ditetapkan sebagai pembuangan limbah dari kapal di laut a. UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim dilakukan melalui pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal; serta pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan. Dalam ayat 3 pasal 226 dijelaskan bahwa perlindungan lingkungan maritime juga dilakukan terhadap pembuangan limbah di perairan dan penutuhan kapal. Dalam pasal 235 ayat 1 dijelaskan bawah setiap pelabuhan wajib memenuhi persyaratan peralatan penanggulangan pencemaran sesuai dengan besaran dan jenis kegiatan. Dalam ayat 2 disebutkan bahwa setiap pelabuhan wajib memenuhi persyaratan bahan penanggulangan pencemaran sesuai dengan besaran dan jenis kegiatan. Untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran, maka diperlukan reception facilities di beberapa pelabuhan. Pasal 236 menjelaskan bahwa Otoritas Pelabuhan, Unit Penyelenggara Pelabuhan, Badan Usaha Pelabuhan,dan pengelola terminal khusus wajib menanggulangi pencemaran yang diakibatkan oleh pengoperasian pelabuhan. Pasal 237 ayat 1 menyebutkan bahwa untuk menampung limbah yang berasal dari kapal di pelabuhan, Otoritas Pelabuhan, Unit Penyelenggara Pelabuhan, Badan Usaha Pelabuhan, dan Pengelola Terminal Khusus wajib dan bertanggung jawab menyediakan fasilitas penampungan limbah. Pasal 239 ayat 1 disebutkan bahwa pembuangan limbah di perairan hanya dapat dilakukan pada loksi tertentu yang ditetapkan oleh Menteri dan memenuhi persyaratan tertentu. b. PP No. 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan Sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 59, bahwa untuk menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan di pelabuhan (menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan di Pelabuhan) dan menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan di Pelabuhan, Otoritas Pelabuhan Laporan Akhir II - 90
91 dan Unit Penyelenggara Pelabuhan dalam setiap penyelenggaraan kegiatan di pelabuhan harus melakukan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan. c. PP No. 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim. Dalam pasal 1 dijelaskan bahwa penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan adalah segala tindakan yang dilakukan secara cepat, tepat dan terpadu serta terkoordinasi untuk mengendalikan, mengurangi, dan membersihkan tumpahan minyak atau bahan cair beracun dari pelabuhan ke periaran untuk meminimalisasi kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan laut. Pasal 33: 1) Pembuangan limbah di perairan hanya dapat dilakukan pada lokasi tertentu yang ditetapkan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan. 2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperbolehkan di alur pelayarn, kawasan lindung, kawasan suaka alam, taman nasional, taman wisata alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, sempadan pantai, kawasan terumbu karang, kawasan mangrove, kawasan perikanan dan budidaya, kawasan pemukiman dan daerah lain yang sensitif terhadap pencemaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan d. Peraturan Menteri Perhubungan No. 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan dan Reklamasi Pasal 1 dijelaskan mengenai definisi pengerukan dan reklamasi. Pengerukan adalah pekerjaan mengubah bentuk dasar perairan untuk mencapai kedalaman dan lebar yang dikehendaki atau untuk mengambil material dasar perairan yang dipergunakan untuk keperluan tertentu. Reklamasi adalah pekerjaan timbunan di perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai dan/atau kontur kedalaman perairan. Daerah buang adalah lokasi yang digunakan untuk tempat penimbunan hasil kerja keruk. Laporan Akhir II - 91
92 Dalam pasal 5 ayat 5 Permenhub No. 52 Tahun 2011: Lokasi pembuangan hasil keruk (dumping area) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dengan persyaratan tidak diperbolehkan di: 1) alur-pelayaran; 2) kawasan lindung; 3) kawasan suaka alam; 4) taman nasional; 5) taman wisata alam; 6) kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan; 7) sempadan pantai; 8) kawasan terumbu karang; 9) kawasan mangrove; 10) kawasan perikanan dan budidaya; 11) kawasan pemukiman; dan 12) daerah lain yang sensitif terhadap pencemaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 6: 1) Lokasi pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf d dilakukan melalui kajian yang paling sedikit memuat penjelasan: a) lokasi pembuangan telah memenuhi ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5 ayat (5); b) kedalaman lebih dari 20 (dua puluh) meter Lws; c) jarak dari garis pantai lebih dari 12 (dua belas) Mil. 2) Lokasi pembuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf d dilakukan studi lingkungan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. e. MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition 1997 yang memuat peraturan : 1) International Convention for the Prevention of Pollution from Ships Mengatur kewajiban dan tanggung jawab Negaranegara anggota yang sudah meratifikasi konvensi tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan Laporan Akhir II - 92
93 berbahaya dari kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh Negara anggotanya seperti Indonesia, memasukkan isi konvensi-konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang-undangan Nasional. 2) Protocol of 1978 Merupakan peraturan tambahan Tanker Safety and PollutionPrevention (TSPP) bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kapal tanker dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di dalam Annex konvensi. Karena itu peraturan dalam MARPOL Convention 1973 dan Protocol 1978 harus dibaca dan diinterprestasikan sebagai satu kesatuan peraturan. Protocol of 1978, juga memuat peraturan mengenai : a) Protocol I Kewajiban untuk melaporkan kecelakaan yang melibatkan barang beracun dan berbahaya. Peraturan mengenai kewajiban semua pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara anggota diminta untuk membuat petunjuk untuk membuat laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan petunjuk yang dimuat dalam Annex Protocol I. Sesuai Article II MARPOL 73/78 Article III Contents of report laporan tersebut harus memuat keterangan : (1) Mengenai identifikasi kapal yang terlibat melakukan pencemaran. (2) Waktu, tempat dan jenis kejadian (3) Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah Laporan Akhir II - 93
94 (4) Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan Nahkoda atau perorangan yang bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi pada kapal wajib untuk segera melaporkan tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai petunjuk dalam Protocol dimaksud. b) Protocol II mengenai Arbitrasi Berdasarkan Article 10 setlement of dispute. Dalam Protocol II diberikan petunjuk menyelesaikan perselisihan antara dua atau lebih Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi konvensi. Apabila perundingan antara pihak-pihak yang berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, salah satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan petunjuk dalam Protocol II konvensi. Selanjutnya peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut oleh berbagai jenis bahan pencemar dari kapal dibahas daam Annex I s/d MARPOL 73/78, berdasarkan jenis masing-masing bahan pencemar sebagai berikut : Annex I Pencemaran oleh minyak Mulai berlaku 2 Oktober 1983 Annex II Pencemaran oleh Cairan Beracun (Nuxious Substances) dalam bentuk Curah.Mulai berlaku 6 April 1987 Annex III Pencemaran oleh barang Berbahaya (Hamful Sub-Stances) dalam bentuk Terbungkus Mulai berlaku 1 Juli 1991 Annex I Pencemaran dari kotor Manusia /hewan (Sewage) diberlakukan 27 September 2003 Laporan Akhir II - 94
95 Annex Pencemaran Sampah Mulai berlaku 31 Desember 1988 Annex I Pencemaran udara belum diberlakukan Peraturan MARPOL Convention 73/78 yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, baru Annex I dan Annex II, dengan Keppres No. 46 tahun TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA ANGGOTA MARPOL 73/78 (1) Menyetujui MARPOL 73/78 Pemerintah suatu negara (2) Memberlakukan Annexexes I dan II Administrasi hukum / maritim (3) Memberlakukan optimal Annexes dan melaksanakan Administrasi hukum / maritim. (4) Melarang pelanggaran Administrasi hukum / maritim (5) Membuat sanksi Administrasi hukum / maritim (6) Membuat petunjuk untuk bekerja administrasi maritim (7) Memberitahu Negara-negara yang bersangkutan administrasi maritim. (8) Memberitahu IMO Administration maritim (9) Memeriksa kapal Administrasi maritim (10) Memonitor pelaksanaan Administrasi maritim (11) Menghindari penahanan kapal Administrasi kapal (12) Laporan kecelakaan Administrasi maritim / hukum (13) Menyediakan laporan dokumen ke IMO (Article 11) Administrasi maritim (14) Memeriksa kerusakan kapal yang menyebabkan pencemaran dan melaporkannya Administrasi maritim. (15) Menyediakan fasilitas penampungan yang sesuai peraturan Administrasi maritim. Laporan Akhir II - 95
96 f. Peraturan Menteri No. 13 tentang ganti kerugian akibat pencemaran dan/ atau kerusakan lingkungan hidup. Pasal 4 Peraturan Menteri ini bertujuan memberikan pedoman bagi para pihak yang terlibat dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup untuk mencapai kesepakatan dalam melakukan penghitungan dan pembayaran ganti kerugian serta untuk melaksanakan tindakan tertentu akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Pasal 3 Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau masyarakat dan/atau lingkungan hidup atau negara wajib: 1) melakukan tindakan tertentu; dan/atau 2) membayar ganti kerugian. Pasal 4 Kewajiban melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi: 1) pencegahan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; 2) penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;dan/atau 3) pemulihan fungsi lingkungan hidup. Pasal 5 1) Kerugian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3huruf b meliputi: a) kerugian karena tidak dilaksanakannya kewajiban pengolahan air limbah, emisi, dan/atau pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun; b) kerugian untuk pengganti biaya penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemulihan lingkungan hidup; Laporan Akhir II - 96
97 c) kerugian untuk pengganti biaya verifikasi pengaduan, inventarisasi sengketa lingkungan, dan biaya pengawasan pembayaran ganti kerugian dan pelaksanaan tindakan tertentu; d) kerugian akibat hilangnya keanekaragaman hayati dan menurunnya fungsi lingkungan hidup; dan/atau e) kerugian masyarakat akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. 2) Kerugian akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan menjadi kerugianyang: a) bersifat tetap; dan b) bersifat tidak tetap. 3) Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf d merupakan kerugian yang bersifat tetap. 4) Kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakankerugian yang bersifat tidak tetap. Tabel Kriteria lokasi perairan yang dapat ditetapkan sebagai pembuangan limbah dari kapal di laut Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut 1. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di alur pelayaran - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP Detail Laporan Akhir II - 97
98 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 2. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di kawasan lindung - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 3. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di kawasan suaka alam atau taman nasional - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya Detail Laporan Akhir II - 98
99 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 4. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di taman wisata alam - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 5. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan Detail Laporan Akhir II - 99
100 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 6. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di sempadan pantai - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 7. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di kawasan terumbu karang - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan Detail Laporan Akhir II - 100
101 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut 8. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di kawasan mangrove - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 9. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada di kawasan perikanan dan budidaya - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan Detail Laporan Akhir II - 101
102 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut 10. Kriteria tingkat 1 : Kedalaman lebih dari 20 mlws - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 11. Kriteria tingkat 1 : Jarak dari garis pantai lebih dari 12 mil - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan Detail Laporan Akhir II - 102
103 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut 12. Kriteria tingkat 1 : Memiliki koordinat lokasi area pembuangan limbah - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 13. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada pada gelombang dan arus laut yang ekstrim - - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan Detail Laporan Akhir II - 103
104 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Ditetapkan Sebagai Pembuangan Limbah Dari Kapal Di Laut Kriteria tingkat 1 : - Memiliki area lego jangkar kapal saat membuang limbah - - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan 15. Kriteria tingkat 1 : Memiliki tanda lokasi pembuangan limbah - Lokasi pembuangan diatur dalam lokasi yang telah ditentukan - Lokasi pembuangan aman bagi keselamatan pelayaran, manusia dan kerusakan alam - Jenis limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Banyaknya limbah yang dapat dibuang diatur dengan peraturan - Perijinan dan pelaporan diperlukan untuk pembuangan limbah - Pengawasan lokasi pembuangan limbah diatur dengan SOP - Penetapan instansi pengawas dan wewenangnya - Penetapan ambang mutu lingkungan dilokasi pembuangan - Penyediaan fasilitas dan SDM dalam penganggulangan kerusakan lingkungan Detail Laporan Akhir II - 104
105 10. Kriteria lokasi perairan yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan atau instalasi di laut. Kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air termasuk ke dalam aspek kenavigasian untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Dasar hukum penyusunan kriteria badan usaha yang dapat melakukan kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air dapat diuraikan sebagai berikut. a. UU No. 17 Tahun 2008 Pada pasal 1 butir 55 UU No. 17 tahun 2008 disebutkan bahwa salvage adalah pekerjaan untuk memberikan pertolongan terhadap kapal dan/atau muatannya yang mengalami kecelakaan kapal atau dalam keadaan bahaya di perairan termasuk mengangkat kerangka kapal atau rintangan bawah air atau benda lainnya. Sedangkan pasal 1 butir 51 menyebutkan bahwa pekerjaan Bawah Air adalah pekerjaan yang berhubungan dengan instalasi, konstruksi, atau kapal yang dilakukan di bawah air dan/atau pekerjaan di bawah air yang bersifat khusus, yaitu penggunaan peralatan bawah air yang dioperasikan dari permukaan air. Sesuai dengan UU No. 17 tahun 2008 tentang pelayaran pasal 204 ayat 1 bahwa kegiatan salvage dilakukan terhadap kerangka kapal dan/atau muatannya yang mengalami kecelakaan atau tenggelam. Selanjutnya dalam ayat 2 disebutkan bahwa setiap kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air harus memperoleh izin dan memenuhi persyaratan teknis keselamatan dan keamanan pelayaran dari Menteri. Oleh sebab itu diperlukan kriteria badan usaha yang dapat melakukan kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air, karena menyangkut masalah perlindungan lingkungan maritim. b. PP No. 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian Pasal 1 butir 25 Salvage adalah pekerjaan untuk memberikan pertolongan terhadap kapal dan/atau muatannya yang mengalami kecelakaan kapal atau dalam keadaan bahaya di perairan termasuk mengangkat kerangka atau rintangan bawah air atau benda lainnya. Sedangkan butir 26: Pekerjaan Bawah Air adalah pekerjaan yang berhubungan dengan instalasi, konstruksi, atau kapal yang dilakukan di bawah air dan/atau pekerjaan di bawah air yang bersifat khusus, yaitu penggunaan peralatan bawah air yang dioperasikan dari permukaan air. Pasal 1 butir 27 :Badan Usaha adalah Laporan Akhir II - 105
106 badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan hukum Indonesia yang khusus didirikan untuk pelayaran. Pasal 126 ayat 1 : Kegiatan salvage dilakukan terhadap kerangka kapal dan/atau muatannya yang mengalami kecelakaan atau tenggelam. Pasal 126 ayat 2 Pelaksanaan kegiatan salvage harus memenuhi persyaratan teknis yang meliputi metode kerja,. kelengkapan peralatan dan tenaga kerja. Pasal 128 ayat 1 : Kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air hanya dapat dilakukan oleh badan usaha yang khusus didirikan untuk kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air. Pasal 128 ayat 2 dan 3 : Badan usaha untuk kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air wajib memiliki izin usaha dan izin usaha diberikan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi: 1) akte pendirian perusahaan; 2) Nomor Pokok Wajib Pajak; dan 3) surat keterangan domisili. Persyaratan teknis: 1) memiliki tenaga penyelam yang bersertifikat; 2) memiliki paling sedikit 1 (satu) unit kapal kerja; 3) memiliki peralatan kerja, paling sedikit berupa peralatan scuba, peralatan potong, dan peralatan penyelaman. Pasal 92 1) Dalam perairan dapat dibangun bangunan atau instalasi selain untuk keperluan alur-pelayaran. 2) Bangunan atau instalasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit harus memenuhi persyaratan: a) penempatan, pemendaman, dan penandaan; b) tidak menimbulkan kerusakan terhadap bangunan atau instalasi Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran dan fasilitas Telekomunikasi-Pelayaran; Laporan Akhir II - 106
107 c) memperhatikan ruang bebas dalam pembangunan jembatan; d) memperhatikan koridor pemasangan kabel laut dan pipa bawah laut; dan e) berada di luar perairan wajib pandu. 3) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pemilik bangunan atau instalasi wajib menempatkan sejumlah uang di bank Pemerintah sebagai jaminan untuk menggantikan biaya pembongkaran bangunan atau instalasi yang tidak digunakan lagi oleh pemilik yang besarannya ditetapkan oleh Menteri. 4) Membangun, memindahkan, dan/atau membongkar bangunan atau instalasi yang berada di perairan harus mendapat izin dari Menteri. Pasal 94 1) Pada setiap bangunan atau instalasi di laut wajib dipasang Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran. 2) Pemasangan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemilik bangunan setelah mendapat persetujuan dari Menteri. 3) Menteri menetapkan zona keamanan dan keselamatan berlayar pada setiap bangunan atau instalasi. 4) Lokasi bangunan atau instalasi, spesifikasi Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran, dan zona keamanan dan keselamatan berlayar diumumkan dengan mencantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk pelayaran serta disiarkan melalui stasiun radio pantai. Pasal 96 1) Bangunan atau instalasi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (2) atau yang tidak digunakan wajib dibongkar. 2) Pembongkaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemilik bangunan atau instalasi paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak dinyatakan tidak memenuhi syarat atau tidak digunakan lagi. Laporan Akhir II - 107
108 c. Permenhub No. 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan dan Reklamasi Pasal 1 butir 7 didefinsikan bangunan atau isntalasi adalah setiap konstruksi baik berada di atas dan/atau di bawah permukaan perairan. d. Permenhub No. PM 68 Tahun 2011 tentang Alur Pelayarn di Laut Dalam Bab II dijelaskan mengenai bangunan atau instalasi di perairan. Pasal 39: 1) Dalam perairan dapat dibangun bangunan atau instalasi selain untuk keperluan alur-pelayaran. 2) Bangunan atau instalasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) jembatan; b) pipa; c) kabel. 3) Bangunan atau instalasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit wajib memenuhi persyaratan: a) penempatan, pemendaman, dan penandaan; b) tidak menimbulkan kerusakan terhadap bangunan atau instalasi Sarana Bantu Navigasi- Pelayaran dan fasilitas Telekomunikasi- Pelayaran; c) memperhatikan ruang bebas dalam pembangunan jembatan; d) memperhatikan koridor pemasangan kabel laut dan pipa bawah laut; dan e) berada di luar perairan wajib pandu. 4) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pemilik bangunan atau instalasi wajib menempatkan sejumlah uang di bank Pemerintah sebagai jaminan untuk menggantikan biaya pembongkaran bangunan atau instalasi yang tidak digunakan lagi oleh pemilik yang besarannya ditetapkan oleh Direktur Jenderal. 5) Membangun, memindahkan, dan/ atau membongkar bangunan atau instalasi yang berada di perairan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mendapat izin dari Direktur Jenderal. Laporan Akhir II - 108
109 e. MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition 1997 yang memuat peraturan : 1) International Convention for the Prevention of Pollution from Ships Mengatur kewajiban dan tanggung jawab Negaranegara anggota yang sudah meratifikasi konvensi tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh Negara anggotanya seperti Indonesia, memasukkan isi konvensi-konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang-undangan Nasional. 2) Protocol of 1978 Merupakan peraturan tambahan Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP) bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kapal tanker dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di dalam Annex konvensi. Karena itu peraturan dalam MARPOL Convention 1973 dan Protocol 1978 harus dibaca dan diinterprestasikan sebagai satu kesatuan peraturan. Protocol of 1978, juga memuat peraturan mengenai : a) Protocol I Kewajiban untuk melaporkan kecelakaan yang melibatkan barang beracun dan berbahaya. Peraturan mengenai kewajiban semua pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara anggota diminta untuk membuat petunjuk untuk membuat laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan petunjuk yang dimuat dalam Annex Protocol I. Sesuai Article II MARPOL 73/78 Article III Contents of report laporan tersebut harus memuat keterangan : Laporan Akhir II - 109
110 (1) Mengenai identifikasi kapal yang terlibat melakukan pencemaran. (2) Waktu, tempat dan jenis kejadian (3) Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah (4) Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan Nahkoda atau perorangan yang bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi pada kapal wajib untuk segera melaporkan tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai petunjuk dalam Protocol dimaksud. b) Protocol II mengenai Arbitrasi Berdasarkan Article 10 setlement of dispute. Dalam Protocol II diberikan petunjuk menyelesaikan perselisihan antara dua atau lebih Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi konvensi. Apabila perundingan antara pihak-pihak yang berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, salah satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan petunjuk dalam Protocol II konvensi. Selanjutnya peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut oleh berbagai jenis bahan pencemar dari kapal dibahas daam Annex I s/d MARPOL 73/78, berdasarkan jenis masing-masing bahan pencemar sebagai berikut : Annex I Pencemaran oleh minyak Mulai berlaku 2 Oktober 1983 Annex II Pencemaran oleh Cairan Beracun (Nuxious Substances) dalam bentuk Curah.Mulai berlaku 6 April 1987 Annex III Pencemaran oleh barang Berbahaya (Hamful Sub-Stances) dalam bentuk Terbungkus Mulai berlaku 1 Juli 1991 Laporan Akhir II - 110
111 Annex I Pencemaran dari kotor Manusia /hewan (Sewage) diberlakukan 27 September 2003 Annex Pencemaran Sampah Mulai berlaku 31 Desember 1988 Annex I Pencemaran udara belum diberlakukan Peraturan MARPOL Convention 73/78 yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, baru Annex I dan Annex II, dengan Keppres No. 46 tahun TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA ANGGOTA MARPOL 73/78 (1) Menyetujui MARPOL 73/78 Pemerintah suatu negara Memberlakukan Annexexes I dan II Administrasi hukum / maritim (2) Memberlakukan optimal Annexes dan melaksanakan Administrasi hukum / maritim. (3) Melarang pelanggaran Administrasi hukum / maritim (4) Membuat sanksi Administrasi hukum / maritim (5) Membuat petunjuk untuk bekerja administrasi maritim (6) Memberitahu Negara-negara yang bersangkutan administrasi maritim. (7) Memberitahu IMO Administration maritim (8) Memeriksa kapal Administrasi maritim (9) Memonitor pelaksanaan Administrasi maritim (10) Menghindari penahanan kapal Administrasi kapal (11) Laporan kecelakaan Administrasi maritim / hukum (12) Menyediakan laporan dokumen ke IMO (Article 11) Administrasi maritim (13) Memeriksa kerusakan kapal yang menyebabkan pencemaran dan melaporkannya Administrasi maritim. Laporan Akhir II - 111
112 (14) Menyediakan fasilitas penampungan yang sesuai peraturan Administrasi maritim. Tabel Kriteria lokasi perairan yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan atau instalasi di laut. Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Dimanfaatkan Untuk Bangunan Atau instalasi Di Laut 1. Kriteria tingkat 1 : Memenuhi persyaratan penempatan, pemendaman dan penandaan - Memiliki layout pelabuhan - Memiliki koordinat lokasi yang telah ditetapkan - Memiliki bentuk peta kontur dasar laut - Mempunyai struktur lapisan tanah dasar laut yang sesuai dengan standar konstruksi yang diijinkan - Mempunyai gelombang dan arus yang memenuhi syarat untuk bangunan atau instalasi di laut 2. Kriteria tingkat 1 : Tidak menimbulkan kerusakan terhadap bangunan atau instalasi SBNP dan fasilitas telekomunikasi pelayaran. - Bangunan dan instalasi di laut pada saat peletakannya harus dilakukan survey dan kajian - Memperhatikan kondisi perairan baik gelombang dan arus laut yang terjadi. - Bentuk konstruksi yang kuat dan tidak mengganggu bangunan, instalasi SBNP dan fasilitas telekomunikasi pelayaran - Memiliki pengaman apabila terjadi pergeseran karena gelombang atau arus - Memiliki jadwal dan pelaksanaan perawatan - Mempunyai tanda sinyal pada bangunan atau instlasi bawah air 3. Kriteria tingkat 1 : Memperhatikan ruang bebas dalam pembangunan jembatan - Memiliki Studi kelayakan Non legal Laporan Akhir II - 112
113 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Dimanfaatkan Untuk Bangunan Atau instalasi Di Laut - Mempunyai layout daerah yang akan dibangun jembatan - Mempunyai alternative peletakan jembatan - Memilki gambar konstruksi 4. Kriteria tingkat 1 : Memperhatikan koridor pemasangan kabel laut dan pipa bawah laut - Mempunyai layout pemasangan kabel laut dan pipa bawah laut - Mempunyai gambar konstruksi - Spesifikasi material dan prilaku material - Penahan pergerakan kabel dan pipa bawah laut - Penandaan letak koridor maupun kabel laut dan pipa bawah laut 5. Kriteria tingkat 1 : Berada di luar perairan wajib pandu - Memiliki layout pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi - Secara visual dapat terlihat posisi kabel dan pipa lewat tanda peletakan 6. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada dalam alur pelayaran - Memiliki layout pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi - Secara visual dapat terlihat posisi kabel dan pipa lewat tanda peletakan 7. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada dalam lingkungan perairan pelabuhan - Memiliki layout pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi - Secara visual dapat terlihat posisi kabel dan pipa lewat tanda peletakan 8. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada pada daerah rawan gelombang dan arus laut yang ekstrim. ` - Memiliki layout pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi Non legal Laporan Akhir II - 113
114 Kriteria Lokasi Perairan Yang Dapat No. Dimanfaatkan Untuk Bangunan Atau instalasi Di Laut - Secara visual dapat terlihat posisi kabel dan pipa lewat tanda peletakan 9. Kriteria tingkat 1 : Tidak berada pada daerah terumbu karang yang dilestarikan - Memiliki layout pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi - Secara visual dapat terlihat posisi kabel dan pipa lewat --tanda peletakan 10. Kriteria tingkat 1 : Memiliki koordinat lokasi pembangunan - Memiliki layout pelabuhan - Mempunyai koordinat lokasi - Secara visual dapat terlihat posisi kabel dan pipa lewat tanda peletakan Non legal E. HASIL STUDI TERDAHULU 1. Studi Kriteria di Bidang Transportasi Laut, tahun 2009 Studi ini menghasilkan 5 (lima) rancangan kriteria sebagai berikut: a. Rancangan Kriteria Daerah Yang Layak Dilayani Oleh Pelayaran Perintis dan Penempatan Kapal Yang Sesuai; b. Rancangan Kriteria Hirarkhi Pelabuhan Laut (Utama, Pengumpul dan Pengumpan); c. Rancangan Kriteria Pembentukan Pangkalan dan Kelas Penjaga Laut dan Pantai (Sea And Coast Guard) serta kompetensi Sumber daya Manusianya (Human Resources); d. Rancangan Kriteria Pembentukan dan Kelas Distrik Navigasi dan kompetensi Sumberdaya manusianya (Human Resources); e. Rancangan Kriteria kelas Syahbandar dan Standar Kompetensi Sumber daya manusianya (Human Resources); Hasil studi adalah rancangan standar tersebut dapat disusun menjadi 7 rancangan standar yang diajukan kepada Badan Standardisasi Nasional untuk disyahkan sebagai Standar Nasional Indonesia di Bidang Laporan Akhir II - 114
115 Transportasi Laut. Tujuh (7) rancangan standar yang dapat disusun tersebut, antara lain sebagai berikut. 1) Sistem dan Prosedur Kedatangan dan Keberangkatan Kapal; 2) Sistem dan Prosedur Pengawasan Perijinan Memuat Barang Di Atas Deck; 3) Sistem dan Prosedur Pendaftaran Kapal; 4) Sistem dan Prosedur Kepelautan/Penyijilan; 5) Sistem dan Prosedur Sertifikasi Keselamatan Kapal; 6) Sistem dan Prosedur Sertifikasi Pembangunan dan Pengoperasian Pelabuhan; 7) Sistem dan Prosedur Penanganan Kecelakaan Kapal. Pelaksanaan beberapa sistem dan prosedur di bidang transportasi laut memerlukan adanya koordinasi dan harmonisasi antar unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. 2. Studi Penetapan Kriteria di Bidang Transportasi Laut, Tahun 2010 Hasil yang diharapkan dari studi ini adalah tersusunnya 10 (sepuluh) rancangan penetapan kriteria di bidang transportasi laut. Hasil studi adalah 10 (sepuluh) rancangan kriteria di bidang transportasi laut, yaitu : a. Kriteria klasifikasi pelayanan pelabuhan; b. Kriteria trayek tetap dan teratur dan tidak tetap dan tidak teratur; c. Kriteria lokasi pelabuhan utama hub internasional; d. Kriteria lokasi pelabuhan utama internasional; e. Kriteria lokasi pelabuhan pengumpul; f. Kriteria lokasi pelabuhan pengumpan regional; g. Kriteria lokasi pelabuhan pengumpan lokal; h. Kriteria pemeriksa dan penguji keselamatan dan keamanan kapal; i. Kriteria daerah pelayaran kapal pelayaran rakyat; j. Kriteria SDM kepala/pimpinan otoritas pelabuhan. 3. Studi penyusunan kriteria di bidang pelayaran, 2012 Pada tahun 2012, Puslitbang Perhubungan Laut bekerja sama dengan PT. Arenco Centra juga melakukan yang menghasilkan 10 konsep kriteria sebagai berikut: Laporan Akhir II - 115
116 a. Kriteria pelabuhan utama yang berfungsi sebagai pelabuhan hub internasional adalah sebagai berikut: 1) Kedekatan dengan jalur pelayaran internasional dan nasional, karena setiap pelabuhan akan berkembang berdasarkan faktor kedekatan terhadap jalur pelayaran baik nasional (ALKI) dan jalur pelayaran Internasional; 2) Ketersediaan fasilitas pendukung yang memadai, dengan panjang dermaga minimal 350 meter atau yang dapat melayani kapal dengan panjang diatas 200 meter, kedalaman minimal 14 MLWS, luas penumpukan minimal 15 hektar dan alat bongkar muat yang memadai; 3) Kegiatan utama pelabuhan, yakni melayani angkutan peti kemas nasional dan internasional serta volume bongkar muat yang ditangani diatas 34 juta ton; 4) Pelabuhan harus comply terhadap ISPS Code; 5) Mempertimbangkan MP3EI; 6) Mempertimbangan Rencana Induk kepelabuhanan nasional, dan aspirasi daerah; 7) Memiliki akses ke sistem jaringan transportasi primer. b. Kriteria pelabuhan utama yang berfungsi sebagai pelabuhan internasional adalah sebagai berikut: 1) Kedekatan dengan jalur pelayaran internasional dan nasional, karena setiap pelabuhan akan berkembang berdasarkan faktor kedekatan terhadap jalur pelayaran baik nasional (ALKI) dan jalur pelayaran Internasional; 2) Ketersediaan fasilitas pendukung yang memadai, dengan panjang dermaga minimal 250 meter atau yang dapat melayani kapal dengan panjang diatas 200 meter, kedalaman minimal 11 s/d 14 MLWS, luas penumpukan minimal 10 hektar dan alat bongkar muat yang memadai; 3) Kegiatan utama pelabuhan, yakni melayani angkutan peti kemas nasional dan internasional serta volume kegiatan bongkar muat yang dilayani antara 25 juta ton s/d 34 juta ton; 4) Pelabuhan harus comply terhadap ISPS Code; 5) Mempertimbangkan MP3EI; 6) Mempertimbangan Rencana Induk kepelabuhanan nasional, dan aspirasi daerah; Laporan Akhir II - 116
117 7) Memiliki akses ke sistem jaringan transportasi primer. c. Kriteria pelabuhan yang berfungsi sebagai pelabuhan pengumpul adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan utama pelabuhan adalah sebagai pengumpan agkutan peti kemas nasional dan volume bongkar muat yang ditanganinya berkisar antara 17 juta ton hingga 25 juta ton; 2) Memiliki fasilitas pendukung, yakni memiliki dermaga dengan panjang minimal 150 meter dan dapat melayani kapal dengan panjang antara 156 s/d 209 meter serta draft kolam pelabuhan antara 5 MLWS s/d 8 MLWS; 3) Lokasi pelabuhan dekat dengan jalur pelayaran nasional; 4) Memiliki akses ke sistem jaringan jalan kolektor; 5) Pengembangan pelabuhan mempertimbangkan aspirasi Pemerintah Daerah. d. Kriteria pelabuhan yang berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan regional sama halnya dengan pelabuhan pengumpul, tetapi dibedakan oleh ukuran parameternya, sebagai berikut: 1) Kegiatan utama pelabuhan adalah sebagai pengumpan pelabuhan utama dan pengumpul serta volume bongkar muat yang ditangani antara 8 juta hingga 17 juta ton; 2) Pelabuhan tersebut harus didukung oleh fasilitas yang memadai yang dapat melayani kapal dengan ukuran panjang antara 103 hingga 156 meter serta draft kolam pelabuhan antara 5 MLWS s/d 8 MLWS; 3) Lokasi pelabuhan dekat dengan jalur pelayaran antara pulau; 4) Memiliki akses ke jaringan transportasi yang bersifat kolektor; 5) Mempertimbangkan aspirasi daerah. e. Kriteria pelabuhan yang berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan lokal adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan utama pelabuhan pengumpan lokal adalah melayani kebutuhan masyarakat disekitarnya dengan volume bongkar muat yang ditangani sangat rendah, yakni kurang dari 8 juta ton. Laporan Akhir II - 117
118 2) Memiliki fasilitas pendukungnya yang tidak terlalu besar, karena pelabuhan pengumpan lokal cukup menyediakan dermaga yang melayani kapal dengan panjang kurang dari 103 meter dan kedalaman kolam kurang dari -5 MLWS. 3) Berada pada lokasi yang tidak dilalui oleh pelayaran reguler kecuali keperintisan; 4) Memiliki akses ke jaringan transportasi lokal; 5) Mempertimbangkan aspirasi daerah. f. Kriteria badan usaha yang melakukan kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air secara teknis adalah: 1) Memiliki SDM penyelam yang kompeten, profesional dan dibuktikan dengan sertifikat dengan jumlah minimal 4 orang penyelam dalam satu tim dan 1 orang tenaga ahli di bidang pekerjaan bawah air; 2) Menguasai metode kerja pelaksanaan salvage dan pekerjaan bawah air yang dibuktikan dengan sertifikat; 3) Memiliki peralatan kerja, yang terdiri dari 1 set peralatan selam, 3 set peralatan scuba, 1 kompresor selam, 2 set peralatan survei, 2 set peralatan las bawah air, 2 set peralatan potong bawah air dan 1 set alat pneumatic, yang memenuhi standar nasional atau internasional; 4) Memiliki minimal 1 unit kapal kerja. g. Kriteria perusahaan yang dapat menyelenggarakan SROP (Stasiun Radio Operasi Pantai) dan TS (essel Traffic Services) harus memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi meliputi Akte Pendirian Perusahaan, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), surat keterangan domisili perusahaan, izin usaha pokok dari instansi yang berwenang serta surat keterangan laik operasi dari Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika h. Kriteria perusahaan yang dapat menyelenggarakan SROP secara teknis adalah: 1) Memiliki SDM yang berkompeten yang dibuktikan dengan sertifikat keahlian serta SDM yang sehat jasmani dan rohani; 2) Memiliki peralatan sesuai dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan; Laporan Akhir II - 118
119 3) Melampirkan dokumen teknis tentang denah rencana lokasi SROP serta gambar instalasi SROP. i. Kriteria perusahaan yang dapat menyelenggarakan TS adalah sebagai berikut: 1) Memiliki SDM yang kompeten dengan pendidikan minimum SMA jurusan IPA atau SMK jurusan elektro serta SDM berpendidikan ANT III, aktif berbahasa Inggris, mampu mengoperasikan TS serta sehat jasmani dan rohani; 2) Memiliki peralatan yang sesuai dengan spesifikasi, andal dan memadai; 3) Melampirkan dokumen hasil survei mengenai gambar dan lokasi instalasi TS. j. Kriteria perairan pandu kelas I adalah sebagai berikut: 1) Jumlah gerakan kapal per hari lebih dari 11 kapal; 2) Ukuran kapal yang dilayani lebih dari GT; 3) Panjang kapal lebih dari 150 meter; 4) Draft kapal lebih dari 9 meter; 5) Jenis kapal yang dilayani adalah tanker dan kapal curah cair; 6) Jenis muatan yang dibawa kapal dominan merupakan barang berbahaya dan barang curah cair; 7) Panjang alur perairan lebih dari 80 mil; 8) Banyaknya tikungan adalah lebih besar atau sama dengan 15; 9) Lebar alur perairan lebih kecil atau sama dengan 250 meter; 10) Kedalaman perairan kurang dari 7 MLWS; 11) Rintangan berupa kerangka, kabel laut, karang, batu, gosong, pasir atau lumpur; 12) Kecepatan arus lebih besar atau sama dengan 8 knot; 13) Kecepatan angin lebih besar atau sama dengan 19 knot; 14) Tinggi ombak lebih dari 2,4 meter; 15) Ketebalan kabut mencapai 80%; 16) Jenis tambatan adalah mouring bouy dan dermaga apung; 17) Kecukupan dan keandalan SBNP antara 10 s/d 30%. Laporan Akhir II - 119
120 k. Kriteria perairan pandu kelas II dari sisi internal adalah sebagai berikut: 1) Jumlah gerakan kapal per hari antara 8-11 kapal; 2) Ukuran kapal yang dilayani antara s/d GT; 3) Panjang kapal yang dilayani 100 s/d 150 dari meter; 4) Draft kapal antara 7 9 meter; 5) Jenis kapal yang dilayani adalah kapal container; 6) Jenis muatan yang dibawa kapal dominan adalah container; 7) Panjang alur perairan >60 s/d 80 mil; 8) Banyaknya tikungan 11 s/d 14; 9) Lebar alur perairan >250 s/d 350 meter; 10) Kedalaman perairan >7 s/d 11 MLWS; 11) Rintangan berupa arus pusar, dan lumpur; 12) Kecepatan arus 6 s/d 7 knot; 13) Kecepatan angin 13 s/d 18 knot; 14) Tinggi ombak lebih dari 1>1,9 s/d 2,4 meter; 15) Ketebalan kabut mencapai antara 60 s/d 70%; 16) Jenis tambatan adalah breast dolphin, konstruksi kayu; 17) Kecukupan dan keandalan SBNP 40% s/d 50%. l. Kriteria perairan pandu kelas III adalah sebagai berikut: 1) Jumlah gerakan kapal per hari antara 4-7 kapal; 2) Ukuran kapal yang dilayani antara s/d < GT; 3) Panjang kapal yang dilayani 70 s/d <100 meter; 4) Draft kapal 5 s/d 7 meter; 5) Jenis kapal yang dilayani adalah kapal penumpang; 6) Jenis muatan yang dibawa kapal dominan adalah penumpang; 7) Panjang alur perairan >40 s/d 60 mil; 8) Banyaknya tikungan 7 s/d 10; 9) Lebar alur perairan > 350 s/d 450 meter; 10) Kedalaman perairan >11 s/d 13 MLWS; 11) Rintangan berupa tonggak dan sero terapung; 12) Kecepatan arus 4 s/d 5 knot; 13) Kecepatan angin 8 s/d 12 knot; 14) Tinggi ombak >1,5 s/d 1,9 meter; 15) Ketebalan kabut 40 s/d 50%; 16) Jenis tambatan adalah beton atau baja; 17) Kecukupan dan keandalan SBNP 60 s/d 70%. Laporan Akhir II - 120
121 m. Kriteria perairan pandu luar biasa adalah sebagai berikut: 1) Jumlah gerakan kapal per hari antara 1-3 kapal. 2) Ukuran kapal yang dilayani < GT. 3) Panjang kapal yang dilayani <70 meter. 4) Draft kapal <5 meter. 5) Jenis kapal yang dilayani adalah kapal general cargo. 6) Jenis muatan yang dibawa kapal dominan adalah barang umum dan curah kering. 7) Panjang alur perairan 10 s/d 40 mil. 8) Banyaknya tikungan maksimum 6. 9) Lebar alur perairan di atas 450 meter. 10) Kedalaman perairan lebih dari 13 MLWS. 11) Rintangan berupa jaring kapal ikan, sampa/kotoran dan kapal ikan. 12) Kecepatan maksimum 3 knot. 13) Kecepatan angin maksimum 7 knot. 14) Tinggi ombak maksimum 1,5 meter. 15) Ketebalan kabut maksimum 30%. 16) Jenis tambatan adalah beton atau baja. 17) Kecukupan dan keandalan minimum 80%. n. Persyaratan sarana dan prasarana yang harus dimiliki pelabuhan Tabel Persyaratan Sarana dan Prasarana Pada Pelabuhan No Sarana dan Prasarana Kelas I Kelas II Kelas III 1. Jumlah Kapal Tunda Minimal 2 unit dengan jumlah daya minimal 4000 DK 2 unit minimal 1600 DK 1 unit minimal 800 DK 2. Jumlah Kapal Pandu min 2 unit, kecepatan min 12 knots Min 1 unit kecepatan min 10 knot Min 1 unit kecepatan min 7 knot 3. Jumlah Kapal Kepil Min 2 unit, kecepatan min 7 knots Min 1 unit, kecepatan min 7 knots Min 1 unit, kecepatan min 7 knots Laporan Akhir II - 121
122 No 4. Sarana dan Prasarana Stasiun pandu/menara pengawas/kantor Kelas I Kelas II Kelas III 350 m 2 200s/d 300 m s/d 200 m 2 5. HF handy talky Sesuai jumlah personil pandu Sesuai jumlah personil pandu Sesuai jumlah personil pandu 6. Baju renang (life jacket) Sesuai jumlah personil pandu Sesuai jumlah personil pandu Sesuai jumlah personil pandu 7. Kendaraan dan rumah Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan Sesuai kebutuhan o. Kriteria pelabuhan yang wajib dilengkapi dengan reception facilities secara spesifik adalah sebagai berikut: 1) Semua pelabuhan, terminal dan dermaga dimana minyak mentah dimuat ke dalam tanker minyak yang mana tanker tersebut mempunyai prioritas untuk segera melakukan ballast tidak lebih dari 72 jam atau lego jangkar pada perairan pelabuhan (DLKR dan atau DLKP) atau yang menempuh perjalanan minimal 1200 mil laut. 2) Semua pelabuhan, terminal dan dermaga di mana minyak selain minyak mentah curah dimuat pada tingkat rata-rata lebih dari 1000 metrik ton perhari. 3) Semua pelabuhan, terminal dan dermaga yang mempunyai halaman untuk perbaikan kapal atau fasilitas tank cleaning dan atau jenis pengusahaan tank cleaning. 4) Semua pelabuhan, terminal dan dermaga yang menangani kapal-kapal harus di lengkapi pula dengan tangki sludge. 5) Semua pelabuhan yang berhubungan dengan air kotor berminyak dan jenis-jenis residu lainnya, yang tidak dapat dibuang sesuai ketentuan peraturan 9 Annex I MARPOL 73/78 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Laporan Akhir II - 122
123 6) Semua pelabuhan untuk pemuatan kargo curah dan yang berhubungan dengan residu minyak yang tidak dapat dibuang sesuai dengan ketentuan peraturan 9 Annex I MARPOL 73/78 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7) Pelabuhan, terminal dan dermaga perbaikan kapal yang melakukan kegiatan perbaikan dan pembersihan tangki kapal tanker pengangkut bahan kimia. p. Daerah pelayaran untuk kapal pelayaran rakyat kurang dari GT 7 adalah: 1) Daerah pelayaran untuk membuka keterisolasian. 2) Daerah yang aksesibilitasnya sulit untuk dijangkau kapal berukuran lebih besar lagi. 3) Daerah yang menghubungkan antar pulau. 4) Daerah pelayaran pada gugusan pulau-pulau kecil. q. Kriteria Lokasi Penempatan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran 1) Berada pada lokasi bangunan tertentu, di darat maupun di perairan, berdasarkan pertimbangan teknis kenavigasian; 2) Lokasi penempatan SBNP tidak berada di alur pelayaran; 3) Mempertimbangkan kondisi geologis; 4) Lokasi SBNP harus bebas dari bangunan dan pepohonan; 5) Harus mempertimbangkan hasil survei verifikasi data lapangan. r. Kriteria Terminal Peti Kemas adalah sebagai berikut: 1) Berada di tempat atau daerah yang memiliki potensi di bidang produksi dan perdagangan yang telah dikembangkan 2) Pelabuhan telah dioperasikan 24 jam 3) Memiliki fasilitas dermaga dan lapangan penumpukan yang memadai (dapat disandari kapal generasi ke-4), yakni dengan panjang dermaga minimal 350 meter, lebar apron minimal 8 meter, kedalaman minimal -11 MLWS dan lapangan penumpukan minimal 6 hektar. 4) Comply terhadap ISPS Code 5) Memiliki peralatan bongkar muat yang modern, yakni minimal 4 container crane (CC) dengan kapasitas 40 ton, transtainer (TT) dengan kapasitas Laporan Akhir II - 123
124 minimal 35 ton dengan perbandingan 1 unit CC dilayani oleh 3 TT, straddle carrier dengan kapasitas 30 s/d 35 ton dengan perbandingan 1 unit CC dilayani oleh 3-5 straddle carrier, forklift, reach stacker, side loader, head truck dan chasis. 6) Arus peti kemas minimal TEUS per tahun 7) Memiliki kemudahan akses untuk jalan raya, jalan kereta api dan bandara. 8) Didukung oleh SDM yang berkualitas dan teknologi informasi. s. Kriteria Terminal Konvensional Peti Kemas adalah sebagai berikut: 1) Memiliki sistem dan prosedur pelayanan untuk penanganan peti kemas 2) Memiliki fasilitas tambat permanen yang dapat disandari kapal peti kemas minimal generasi pertama, yakni 1700 TEUS. (Saat ini, kapal ini merupakan kapal kontainer domestik terbesar di Indonesia). 3) Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai. 4) Menyediakan peralatan bongkar muat peti kemas, antara lain mobile crane, ship gear, top loader, reach stacker, head truck/trailer sesuai kebutuhan. 5) Lapangan penumpukan minimal m 2 dan gudang CFS sesuai kebutuhan. 6) Didukung oleh sistem informasi dengan jaringan on line. 7) Memiliki volume cargo yang memadai, minimal 2000 TEUS. 4. Konektivitas Transportasi dalam Sislognas dan MP3EI Percepatan pembangunan infrastruktur transportasi menjadi kunci sukses implementasi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Setidaknya ada tiga hal yang perlu mendapat kejelasan terlebih dahulu agar infrastruktur transportasi bisa secepatnya dibangun dengan kualitas yang prima. Pertama, kawasan pertumbuhan atau wilayah yang menjadi sentra kegiatan ekonomi sesuai fokus yang ditetapkan untuk setiap koridor pembangunan dalam MP3EI. Peta wilayah ini harus dikukuhkan dengan sebuah tata ruang yang baik dan masterplan pembangunan masing- masing wilayah. Tata ruang Laporan Akhir II - 124
125 menjadi basis pembuatan masterplan setiap provinsi. Hanya dengan tata ruang dan masterplan yang baik, berbagai target dalam MP3EI bisa dicapai. Kedua, menetapkan moda transportasi yang tepat untuk menunjang percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Untuk Jawa, moda transportasi yang tepat adalah kereta api dan jalan raya untuk transportasi darat. Demikian pula Sumatera, wilayah yang juga padat penduduk. Sedangkan Kalimantan dan pulau lainnya yang jarang penduduk, jalan raya adalah prioritas dibanding kereta api. 5. Konektivitas Global Indonesia sebagai Negara Maritim dengan total panjang garis pantai seluas kilometer terbentang sepanjang Samudera India, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Samudera Pasifik, Laut Arafura, Laut Timor, dan wilaya kecil lainnya. Melekat dengan kepulauan Indonesia terdapat beberapa alur laut yang berbobot strategis ekonomi dan militer global, yaitu Selat Malaka (yang merupakan SLoC), Selat Sunda (ALKI 1), Selat Lombok dan Selat Makasar (ALKI 2), dan Selat Ombai Wetar (ALKI 3), sebagian besar pelayaran dunia melewati dan memanfaatkan alur-alur tersebut sebagai jalur pelayarannya. MP3EI mengedepankan upaya memaksimalkan pemanfaatan SloC maupun ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) tersebut diatas. Indonesia bisa meraih banyak keuntungan dari modalitas maritim untuk mengakselerasikan pertumbuhan di berbagai kawasan di Indonesia (khususnya Kawasan Timur Indonesia), membangun daya saing maritim, serta meningkatkan ketahanan dan kedaulatan ekonomi nasional. Untuk memperoleh manfaat dari posisi strategis nasional, upaya percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia perlumemanfaatkan keberadaan SLoC dan ALKI sebagai jalur laut bagi pelayaran internasional. Dalam rangka penguatan konektivitas nasional yang memperhatikan posisi geo-strategis regional dan global, perlu ditetapkan pintu gerbang konektivitas global yang memanfaatkan secara optimal keberadaan SloC dan ALKI tersebut diatas sebagai modalitas utama percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Konsepsi tersebut akan menjadi tulang punggung yang membentuk postur konektivitas nasional dan sekaligus diharapkan berfungsi Laporan Akhir II - 125
126 menjadi instrumen pendorong dan penarik keseimbangn ekonomi wilayah, yang tidak hanya dapat mendorong kegiatan ekonomi yang lebih merata ke seluruh wilayah Indonesia, tetapi dapat juga menciptakan membangun kemandirian dan daya saing ekonomi nasional yang solid. Gambar dibawah memperlihatkan konsep pintu gerbang pelabuhan dan bandar udara dimasa depan. Gambar 2.4. Konektivitas Global Pelabuhan dan Bandar Udara 6. Kebijakan Penguatan Konektivitas Maksud dan tujuan penguatan konektivitas nasional adalah sebagai berikut: a. Menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi utama untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan, bukan keseragaman, melalui inter-modal supply chains systems. b. Mempeluas pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan aksesibilitas dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke wilayah belakangnya (hinterland) Laporan Akhir II - 126
127 c. Menyebarkan manfaat pembangunan secara luas (pertumbuhan yang inklusif dan keadilan) melalui peningkatan konektivitas dan pelayanan dasar ke daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan dalam rangka pemerataan pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diintegrasikan beberapa komponen konektivitas yang saling berhubungan kedalam satu perencanaan terpadu. Beberapa komponen dimaksud merupakan pembentuk postur konektivitas secara nasional, yang meliputi: a. Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS); b. Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS) c. Pengembangan Wilayah (RPJMN dan RTRWN) d. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT) Rencana dari masing-masing komponen tersebut telah selesai disusun, namun dilakukan secara terpisah. Oleh karena itu, penguatan konektivitas nasional berupaya untuk mengintegrasikan keempat komponen tersebut. Tabel dibawah ini memperlihatkan keempat komponen penguatan konektivitas tersebut. Tabel Komponen Konektivitas Laporan Akhir II - 127
128 7. Rencana Aksi MP3EI isi Indonesia 2025, yakni mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan Pencapaian visi dilakukan dengan rencana aksi dari MP3EI dengan mempertimbangkan koridor ekonomi Indonesia dan konektivitas untuk seluruh koridor tersebut dengan memperhatikan sistim logistik nasional yang didukung oleh iptek dan inovasi. Keterkaitan antara MP3EI dan Sislognas terlihat pada gambar berikut ini. Gambar 2.5. Sislognas dan MP3EI Laporan Akhir II - 128
129 Peluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi (MP3EI) terdapat ada 3 (tiga) strategi pokok, dimana strategi tersebut adalah: a. Strategi pertama adalah pengembangan potensi melalui 6 koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi BUMN, Swasta Nasional dan FDI dalam skala besar di 22 kegiatan ekonomi utama. Penyelesaian berbagai hambatan akan diarahkan pada kegiatan ekonomi utama sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan realisasi investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi di 6 koridor ekonomi. Berdasarkan potensi yang ada, maka sebaran sektor fokus dan kegiatan utama di setiap koridor ekonomi, diantaranya sebagai berikut, yakni Gambar 2.6. Peta Koridor Ekonomi Indonesia Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai negara yang terdiri atas ribuan pulau dan terletak di antara dua benua dan dua samudera, wilayah kepulauan indonesia memiliki sebuah konstelasi yang unik dan tiap kepuluan besarnya memiliki peran strategis masing-masing yang ke depannya akan menjadi pilar Laporan Akhir II - 129
130 utama untuk mencapai visi Indonesia Dengan memperhitungkan berbagai potensi dan peran strategis masingmasing pulau besar dan sesuai dengan letak dan kedudukan geografis masing-masing pulau, telah ditetapkan 6 (enam) koridor ekonomi seperti yang terdapat dalam gambar diatas. a. Koridor Ekonomi Sumatera, memiliki tema pembangunan sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional, seperti: Kelapa Sawit, Karet, Batubara, Besi-Baja dan JSS. b. Koridor Ekonomi Jawa, memiliki tema pembangunan sebagai pendorong industri dan jasa nasional, seperti: Industri Makanan Minuman, Tekstil, Permesinan, Transportasi, Perkapalan, Alutsista, Telematika, Perbankan dan Jasa Keuangan serta Metropolitan Jadebotabek. c. Koridor Ekonomi Kalimantan, memiliki tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang & lumbung energi nasional, seperti: Kelapa Sawit, Batubara, Alumina/Bauksit, Migas, Perkayuan dan Besi-Baja. d. Koridor Ekonomi Sulawesi, memiliki tema pembangunan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanaian, perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional, seperti: Pertanian Pangan, Kakao, Perikanan, Nikel, dan Migas. e. Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara, memiliki tema pembangunan sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional, seperti: Pariwisata, Peternakan dan Perikanan. f. Koridor Ekonomi Papua- Maluku, memiliki tema pembangunan sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi dan pertambangan nasional, seperti: Food Estate, Tembaga, Peternakan, Perikanan, Migas dan Nikel. Pengembangan MP3EI berfokus pada 8 (delapan) program utama, yaitu: pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, telematika dan pengembangan kawasan strategis. Program utama dalam 6 (enam) koridor yang termuat pada MP3EI dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Laporan Akhir II - 130
131 Tabel Program Utama dalam 6 (enam ) Koridor Kedelapan program utama tersebut terdiri dari 22 kegiatan ekonomi utama yang disesuaikan dengan potensi dan nilai strategisnya masing-masing di koridor yang bersangkutan. Berikut ini adalah pemetaan untuk kegiataan-kegiatan ekonomi utama dari masing-masing koridor. Untuk mendukung pengembangan kegiatan ekonomi utama, telah diindikasikan nilai investasi yang akan dilakukan di keenam koridor ekonomi tersebut sebesar sekitar IDR Trilliun. Dari jumlah tersebut, Pemerintah akan berkontribusi sekitar 10% dalam bentuk pembangunan ifrastruktur dasar, seperti jalan, pelabuhan laut, pelabuhan udara serta rel kereta api dan pembangkit listrik. Sedangkan sisanya diupayakan akan dipenuhi dari swasta maupun BUMN dan campuran. Laporan Akhir II - 131
132 b. Strategi kedua memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional untuk merevitalisasi kinerja sektor riil. Untuk itu akan ditetapkan jadwal penyelesaian masalah peraturan nasional dan infrastruktur utama nasional. Menurut laporan Menko Perekonomian, berdasarkan hasil diskusi dengan para pemangku kepentingan, khususnya dunia usaha, teridentifikasi sejumlah regulasi dan perijinan yang memerlukan debottlenecking yang meliputi, penyelesaian peraturan pelaksanaan undang-undang, menghilangkan tumpang tindih antar peraturan yang sudah ada baik ditingkat pusat dan daerah, maupun antara sektor/lembaga, merevisi atau menerbitkan peraturan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung strategi MP3EI (seperti Bea keluar beberapa komoditi), memberikan insentif kepada kegiatan-kegiatan utama yang sesuai dengan strategi MP3EI, mempercepat dan menyederhanakan proses serta memberikan kepastian perijinan. Sementara elemen utama dari strategi kedua adalah, menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan utama untuk memaksimalkan pertumbuhan berdasarkan prinsip keterpaduan, bukan keseragaman. Memperluas pertumbuhan dengan menghubungkan daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan melalui inter-modal supply chain systems. Menghubungkan daerah terpencil dengan infrastruktur & pelayanan dasar dalam menyebarkan manfaat pembangunan secara luas. c. Strategi ketiga Pengembangan Center of Excellence di setiap koridor ekonomi. Dalam hal ini akan didorong pengembangan SDM dan IPTEK sesuai kebutuhan peningkatan daya saing. Percepatan transformasi inovasi dalam ekonomi yang dilakukan melalui pengembangan modal manusia berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi secara terencana dan sistematis. Memasukkan unsur Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan berbagai upaya transformasi inovasi dalam kegiatan ekonomi. Sedangkan inisiatif strateginya, revitalisasi Puspitek sebagai Science andtechnologypark. Pengembangan Industrial Park, pembentukan klaster inovasi daerah untuk pemerataan pertumbuhan. Pengembangan industri strategis pendukung konektivitas, penguatan aktor inovasi (SDM dan Inovasi). MP3EI merupakan dokumen Laporan Akhir II - 132
133 rencana pembangunan dimana arahnya tidak pernah bergeser, tetap berpatokan pada isi Indonesia Yakni mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan. 8. Pembangunan Konektivitas Maritim di Indonesia Dalam sistim transportasi, diperlukan adanya armada dan pelabuhan yang baik. Ukurannya disesuaikan dengan keperluan, lalu lintas penduduk dan angkutan barang. Di setiap pulau besar, perlu sejumlah pelabuhan besar bertaraf internasional. Perlu kebijakan agar kapal barang dari berbagai pelabuhan besar tidak perlu harus ke Tanjung Priok lebih dahulu, melainkan bisa langsung ke luar negeri. Di Sumatera dan Kalimantan perlu ada pelabuhan eksporimpor CPO, produk perkebunan, dan produk pertambangan Semua pelabuhan besar saat ini, termasuk Tanjung Priok, dibangun 25 tahun lalu. Jika tidak segera diperluas dan dipermodern, pelabuhan Indonesia akan semakin ketinggalan. Malaysia kini memiliki sejumlah pelabuhan besar dan canggih yang melebihi Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Secara umum, infrastruktur trasportasi di negeri jiran itu jauh lebih baik dibanding Indonesia. Tidak itu saja, pemerintah mesti menambah armada kapal untuk mengantisipasi kenaikan jumlah penumpang antar pulau, khususnya Indonesia Timur. Kegiatan semuanya ini membutuhkan dana besar. Dalam 14 tahun ke depan, kebutuhan dana infrastruktur Rp triliun atau lebih dari Rp 115 triliun per tahun. Swasta, dalam dan luar negeri, diimbau ikut terlibat lewat public private partnership (PPP). Namun, perlu modul model PPP untuk setiap moda transportasi yang bisa dijadikan rujukan. Pihak swasta pun tertarik untuk berpartisipasi. Bagi swasta, keterlibaan pemerintah dalam setiap proyek infrastruktur transportasi adalah jaminan. Hal ini ada keterkaitan soal pembebasan lahan. Selain penyertaan pemerintah dan swasta, perusahaan yang membangun infrastruktur transportasi bisa menjual obligasi kepada masyarakat Indonesia. Belajar dari negara lain, penjualan obligasi untuk pembangunan infrastruktur transportasi mendapat dukungan penuh masyarakat. Dalam sistem logistik nasional untuk moda transportasi laut, telah dibentuk sesuai dengan yang tercantum dalam MP3EI, Laporan Akhir II - 133
134 dengan adanya pelabuhan yang berskala internasional sebagai koneksi jaringan global sementara untuk jaringan lokal dan nasional telah ditentukan sesuai dengan arahan yang terdapat dalam Sislognas dan MP3EI. Gambar dibawah memperlihatkan jaringan sistem logistik lokal, nasional dan internasional. Gambar 2.7. Jaringan Sistem Logistik Lokal, Nasional dan Internasional 9. Capaian Sislognas Tahap I ( ) Sedangkan capaian yang akan dicapai dalam Sislognaas Tahap I sampai dengan tahun 2015 adalah sebagai berikut: a. Penetapan dan pengembangan pelabuhan hub international di Kuala Tanjung dan Bitung, dan Pelabuhan Udara Internasional di Jakarta, Kuala Namu dan Makassar. Laporan Akhir II - 134
135 b. Terbangunnya Pelabuhan Kalibaru sebagai perluasan Pelabuhan Tanjung Priok. c. Beroperasinya short sea shipping di jalur Pantura dan Jalintim Sumatera d. Peningkatan peran kargo kereta api di Jawa dan Sumatera e. Pembangunan sistim otomasi dan informasi logistik nasional yang terintegrasi secara elektronik (INALOG) f. Peningkatan kapasitas angkut armada kapal perintis dan nasional untuk transportasi penumpang dan kargo di kawasan Indonesia Timur g. Peningkatan ketersediaan, kualitas dan kapasitas angkutan laut antar pulau melalui pemberdayaan pelayaran nasional dan pelayaran rakyat h. Terbangunnya logistic center untuk melayani consolidated container bagi LCL cargo ekxportir UKM i. Beroperasinya model sistem 24/7 kargo udara di Bandara Soekarno Hatta j. Terwujudnya beberapa penyedia jasa logistik nasional sebagai pemain logistik kelas dunia k. Revitalisasi BUMN Niaga sebagai tradng house komoditas pokok dan strategis serta komoditas unggulan ekspor l. Meningkatnya peran BUMN dalam logistik pedesaan m. Terselenggaranya sistem pendidikan dan pelatihan profesi logistik nasional yang berstandar internasional n. Terwujudnya pusat distribusi regional komoditas pokok dan strategis pada setiap koridor ekonomi. o. Sinkronnya regulasi dan kebijakan yang mendorong efesiensi kegiatan ekspor impor. p. Penetapan tarif pelayanan jasa logistik dengan denominasi Rupiah q. Efektifnya pengoperasian Dry Port. Terlihat dalam pencapaian pada tahap ini, khususnya untuk moda transportasi laut adalah pembangunan pelabuhan hub internasional di Kuala Tanjung dan Kuala Bitung, Pembangunan Pelabuhan Kalibaru sebagai perluasan Pelabuhan Tanjung Priok, beroperasinya short sea shipping pada jalur Pantura Pulau Jawa dan jalur Jalintim Pulau Sumatera, Peningkatan kapasitas dan kualitas armada perintis, angkutan pulau dan pemberdayaan pelayaran nasional dan pelayaran rakyat, serta efektifnya pengoperasian dry port. Laporan Akhir II - 135
136 10. Pembangunan Pelabuhan di Indonesia Pembangunan pelabuhan di Indonesia dalam rangka MP3EI sampai dengan tahun 2030, dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel Pembangunan Pelabuhan di Indonesia dalam rangka MP3EI Wilayah Daftar Pelabuhan Propinsi NAD, Propinsi Sumatera Utara dan Propinsi Kepulauan Riau Belawan/ Kuala Tanjung, Dumai, Teluk Bayur, Pekanbaru, Batam, Pembuangan, Sibolga, Aceh, Bintan dan Teluk Tapang. Propinsi Sumatera Selatan Palembang, Panjang, Jambi, Bengkulu, Teluk Semangka serta bangka Belitung. Kalimantan Barat Pontianak dan Teluk Air Kalimantan Timur - Selatan Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin serta Sangkulirang. Sulawesi Selatan - Tengah Makasar, Pare-Pare, serta Luwuk dan sekitarnya Jawa Tanjung Priok dan sekitarnya, Tanjung Perak dan Sekitarnya, Tanjung Emas, Pelabuhan Ratu, Balongan/Cirebon, Cilacap, Jepara serta 13 lokasi lainnya Bali Nusa Tenggara Tanah Ampo Wilayah Timur Lainnya Bitung, Jayapura, Merauke, Amon, Sorong dan Halmahera Sumber: Kementerian Perhubungan Laporan Akhir II - 136
137 11. Pembagunan Industri Perkapalan Sebagai negara maritim yang mempunyai wilayah perairan yang cukup luas, Indonesia tentunya memerlukan sarana transportasi kapal untuk menjangkau pulau-pulau-pulau dan menghubungkan daratan yang satu ke daratan yang lainnya. Disinilah peran kapal sangat dibutuhkan, tidak hanya sebagai sarana transportasi penumpang dan barang, namun juga untuk mendukung sistem pertahanan di wilayah perairan Indonesia. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, industri perkapalan di Indonesia menunjukan perkembangan yang cukup baik. Pada bulan Maret 2010, Indonesia telah memiliki armada sebanyak unit kapal atau 11,95 juta Gross Tonnage atau meningkat sebanyak unit kapal atau 54,1 persen dibandingkan dengan bulan Maret 2005 yang hanya memiliki unit kapal atau 5,67 Gross Tonnage. Peningkatan ini merupakan dampak dari diberlakukannya asas cabotage yaitu angkutan dalam negeri 100 persen diangkut oleh Kapal Berbendera Indonesia seperti yang tertuang dalam Inpres No. 5 Tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional. Dalam skala nasional, tantangan utama yang dihadapi oleh industri perkapalan adalah meningkatkan kapasitas industri galangan kapal nasional dalam membuat kapal. Hal ini merupakan konsekuensi dari diberlakukannya asa cabotage yang dinilai oleh sejumlah kalangan terlalu cepat dan kurang sejalan dengan kemampuan industri dalam negeri untuk membuat kapal. Dalam skala internasional, tantangan utama yang dihadapi adalah meningkatkan peranan Indonesia dalam pembangunan kapal dunia. Gambar dibawah memperlihatkan peningkatan unit kapal dari tahun 2005 sampai dengan tahun Laporan Akhir II - 137
138 Gambar 2.8. Peningkatan Kapasitas Unit Kapal Strategi yang dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut berupa: a. Peningkatan pendayagunaan kapal hasil produksi dalam negeri b. Peningkatan kapasitas dan kemampuan industri perkapalan c. Pengembangan industri pendukung perkapalan, berupa komponen dan peralatan perkapalan d. Peningkatan dukungan sektor perbankan terhadap industri perkapalan. Regulasi dan kebijakan untuk dapat mendukung pengembangan kegiatan ekonomi utama perkapalan di Pulau Jawa, sama halnya dengan Pulau Sumatera, diperlukan dukungan regulasi terkait sebagai berikut: a. Meningkatkan jumlah dan kemampuan industri galangan kapal nasional dalam pembangunan kapal sampai dengan kapasitas DWT, sementara galangan kapal yang memiliki fasilitas produksi berupa building berth/ graving dock yang mampu membangun atau mereparasi kapal sampai dengan kapasitas DWT diarahkan pengembangannya di luar Jawa dan Sumatera. Laporan Akhir II - 138
139 b. Memberikan prioritas bagi pembuatan dan perbaikan di dalam negeri untuk kapal-kapal dibawah DWT c. Meninjau kembali Kepres No. 22 Tahun 1998 tentang impor kapal niaga dan kapal ikan dalam keadaan baru dan bukan baru, dalam rangka pendayagunaan industri galangan kapal nasional beserta industri pendukungnya. d. Memberikan prioritas bagi pembuatan kapal-kapal penunjang eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas yang sudah mampu dibuat di dalam negeri, kecuali untuk jenis kapal tipe C. e. Menetapkan tingkat suku bunga dan kolateral yang wajar untuk pinjaman dari bank komersial serta pemberian pinjaman lunak yang di fasilitasi oleh Pemerintah f. Melakukan penataan dukungan finansial yang kuat dari sejumlah lembaga keuangan di dalam negeri untuk pembiayaan produksi pengadaan kapal nasional dalam rangka memenuhi ketentuan asas cabotage g. Menata ulang kebijakan pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari hulu hingga hilir di industri perkapalan dalam rangka memangkas ongkoas produksi h. Menata ulang kebijakan penetapan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM DPT) bagi industri perkapalan, dimana BM DPT hanya ditujukan bagi komponenperkapalan yang belum diproduksi di Indonesia. Konektivitas infrastruktur, sebagai upaya pengembangan industri perkapalan di Pulau Jawa memerlukan konektivitas infrastruktur berupa: a. Pembangunan dermaga, fasilitas break water, jalur akses utama dan jalur akses terminal pada pelabuhan-pelabuhan yang dimanfaatkan untuk kegiatan industri perkapalan b. Penyediaan pembangkit tenaga listrik c. Penyediaan instalasi pengolahan air bersih dan fasilitas pengolahan limbah Sementara untuk penguatan SDM dan IPTEK, dilakukan upaya pengembangan kegiatan ekonomi utama perkapalan perlu juga didukung oleh pengembangan SDM dan IPTEK, berupa: a. Peningkatan kemampuan SDM perkapalan dalam membuat desain kapal melalui pembangunan sekolah khusus di bidang perkapalan untuk meningkatkan kemampuan produksi industri shaft, propellers, steering gear, deck machinery di dalam negeri. b. Pengembangan pendidikan untuk menunjang peningkatan kemampuan industri bahan baku komponen kapal Laporan Akhir II - 139
140 c. Peningkatan fasilitas yang dimiliki oleh laboratorium uji perkapalan agar sesuai dengan standar International Maritime Organization (IMO) d. Pengadaan pelatihan secara periodik yang ditujukan kepada tenaga kerja di industri perkapalan 12. Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut Pelayaran merupakan bagian dari sarana transportasi laut sebagaimana amanat Undang-Undang No.17 Tahun 2008 menjadi suatu yang sangat strategis bagi wawasan nasional serta menjadi sarana vital yang menunjang tujuan persatuan dan kesatuan nasional. Pelayaran atau angkutan laut merupakan bagian dari transportasi yang tidak dapat dipisahkan dengan bagian dari sarana transportasi lainnya dengan kemampuan untuk menghadapi perubahan ke depan, mempunyai karakteristik karena mampu melakukan pengangkutan secara massal. Dapat menghubungkan dan menjangkau wilayah satu dengan yang lainnya melalui perairan, sehingga mempunyai potensi kuat untuk dikembangkan dan peranannya baik nasional aupun internasional sehingga mampu mendorong dan menunjang pembangunan nasional demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan mandat Pancasila serta Undang - Undang Dasar Angkutan Laut Pengertian angkutan laut dalam Pasal 1 Kepmen 33 Tahun 2001, adalah: Angkutan laut adalah setiap kegiatan angkutan dengan menggunakan kapal untuk mengangkut penumpang, barang dan atau hewan dalam satu perjalanan atau lebih dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan laut. Jenis angkutan laut dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, Bab II Pasal 2, meliputi: (a) angkutan laut dalam negeri; (b) Angkutan Laut Luar Negeri; (c) Pelayaran rakyat; (d) Angkutan laut khusus dan (e) Angkutan laut perintis. Untuk angkutan laut dalam negeri seperti yang diatur dalam Bab II Pasal 3 Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, adalah: (a) Oleh perusahaan angkutan laut nasional; (b) Dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia dan (c) Untuk Laporan Akhir II - 140
141 menghubungkan pelabuhan laut antar pulau atau angkutan laut lepas pantai di wilayah perairan Indonesia. 14. Perusahaan Angkutan Laut Nasional Sedangkan perusahaan pelayaran nasional, menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, Pasal 1 angka 7: Perusahaan Angkutan Laut Nasional adalah perusahaan angkutan laut berbadan hukum Indonesia (Indonesian national shipping company) yang melakukan kegiatan angkutan laut di dalam wilayah perairan Indonesia dan atau dari dan ke pelabuhan di luar negeri. Perusahaan angkutan laut nasional dapat berupa badan hukum yang keseluruhan sahamnya dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI) atau badan hukum Indonesia maupun dalam bentuk kerjasama dengan asing (PMA/joint venture) asalkan telah memenuhi persyaratan yang diatur dalam UU nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut khususnya dalam Pasal 20 serta peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan: Pasal 20 km 33 tahun 2001: a. Perusahaan angkutan laut nasional atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia dapat melakukan kerjasama dengan perusahaan angkutan laut asing atau badan hukum asing atau warga negara asing dalam bentuk (usaha patungan joint venture) dengan membentuk satu perusahaan angkutan laut nasional. b. Perusahaan angkutan laut patungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memiliki kapal berbendera Indonesia yang laik laut sekurang-kurangnya 1 (satu) unit ukuran GT.5000 (lima ribu). c. Ketentuan persyaratan untuk memperoleh izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 butir a,c,d,e dan f berlaku pula terhadap persyaratan pendirian perusahaan angkutan laut yang melakukan usaha patungan (joint venture). Laporan Akhir II - 141
142 15. Perusahaan Angkutan Laut Asing Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, Pasal 1 angka 8: Perusahaan Angkutan Laut Asing adalah perusahaan angkutan laut berbadan hukum asing (foreign shipping company) yang kapal-kapalnya melakukan kegiatan angkutan laut ke dan dari pelabuhan Indonesia. Sedangkan menurut UU RI No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran: Pasal 11, ayat 4 dan 5 UU no 17 Tahun 2008: a. Perusahaan angkutan laut asing hanya dapat melakukan kegiatan angkutan laut ke dan dari pelabuhan Indonesia yang terbuka bagi perdagangan luar negeri dan wajib menunjuk perusahaan nasional sebagai agen umum. b. Perusahaan angkutan laut asing yang melakukan kegiatan angkutan laut ke atau dari pelabuhan Indonesia yang terbuka untuk perdagangan luar negeri secara berkesinambungan dapat menunjuk perwakilannya di Indonesia. 16. Kapal Berbendera Indonesia Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, Pasal 1 angka 11:Kapal Berbendera Indonesia adalah kapal yang memiliki kebangsaan Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.menurut Pasal 158 UU nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran: a. Kapal yang telah diukur dan mendapat Surat Ukur dapat didaftarkan di Indonesia oleh pemilik kepada Pejabat Pendaftar dan Pencatat Balik Nama Kapal yang ditetapkan oleh Menteri. b. Kapal yang dapat didaftar di Indonesia yaitu: c. kapal dengan ukuran tonase kotor sekurang-kurangnya GT 7 (tujuh GrossTonnage); d. kapal milik warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia; dan e. kapal milik badan hukum Indonesia yang merupakan usaha patungan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh warga negara Indonesia. f. Pendaftaran kapal dilakukan dengan pembuatan akta pendaftaran dan dicatat dalam daftar kapal Indonesia. Laporan Akhir II - 142
143 g. Sebagai bukti kapal telah terdaftar, kepada pemilik diberikan grosse akta pendaftaran kapal yang berfungsi pula sebagai bukti hak milik atas kapal yang telah didaftar. h. Pada kapal yang telah didaftar wajib dipasang Tanda Pendaftaran. 17. Izin usaha angkutan laut untuk perusahaan nasional Persyaratan untuk mendapatkan izin usaha angkutan laut nacional secara umum dapat dilihat pada pasal 29 UU RI No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yaitu: Pasal 29 UU nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran: a. Untuk mendapatkan izin usaha angkutan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) badan usaha wajib memiliki kapal berbendera Indonesia dengan ukuran sekurangkurangnya GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage). b. Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan kerja sama dengan perusahaan angkutan laut asing atau badan hukum asing atau warga negara asing dalam bentuk usaha patungan (joint venture) dengan membentuk perusahaan angkutan laut yang memiliki kapal berbendera Indonesia sekurang-kurangnya 1 (satu) unit kapal dengan ukuran GT 5000 (lima ribu Gross Tonnage) dan diawaki oleh awak berkewarganegaraan Indonesia. Persayaratan khusus dan tata cara untuk mendapatkan izin usaha pelayaran diatur dalam KM nomor 33 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut khususnya pada Bab III. 18. Izin usaha angkutan laut untuk perusahaan Asing Sesuai Pasal 45 Kepmenhub No. KM 33 Tahun 2001, bahwa: Perusahaan angkutan laut asing yang kapalnya melakukan kegiatan angkutan laut ke dan dari pelabuhan Indonesia yang terbuka untuk perdagangan luar negeri wajib menunjuk perusahaan angkutan laut nasional yang memenuhi persyaratan sebagai agen umum. Perusahaan angkutan laut nasional yang dapat ditunjuk sebagai agen umum diwajibkan: a. Menyampaikan PKKA kepada Dirjen Hubla Laporan Akhir II - 143
144 b. Menyampaikan pemberitahuan status trayek tetap dan teratur atau liner dan tidak teratur c. Mengurus kepentingan kapal yang diageni selama berada di Pelabuhan Indonesia d. Bertanggung jawab terhadap penyelesaian semua tagihan yang berkaitan dengan kegiatan kapal keagenannya selama berada di Pelabuhan Indonesia e. Menyampaikan laporan kegiatan kapal-kapal keagenan secara berkala. Untuk kapal asing yng digunakan untuk angkutan laut dalam negeri wajib dioperasikan oleh perusahaan angkutan laut nasional dengan diberikan dispensasi syarat bendera (DSB). Pengunaan PKKA dan DSB dapat dilihat pada gambar dibawah ini. 19. Pemberitahuan Keagenan Kapal Asing (PKKA) Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut, Pasal 50:PPKA adalah Pemberitahuan Keagenan Kapal Asing. Kewajiban penggunaan PPKA untuk kapal asing diatur sesuai dengan Pasal 5 ayat 2 KM 33 tahun 2001, yang berbunyi sebagai berikut: Penggunaan kapal asing untuk angkutan laut dalam negeri sebagaimana dimaksud pada pasal 4 ayat (1), sebelum dioperasikan oleh perusahaan angkutan laut nasional selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kerja wajib dilaporkan dan diterima Direktur Jenderal menurut contoh pada lampiran I Keputusan ini, untuk selanjutnya dapat diberikan kelonggaran syarat bendera (dispensasi) menurut contoh pada Lampiran II Keputusan ini. Kapal asing yang tidak memenuhi persyaratan PPKA ini dilarang beroperasi di wilayah perairan Indonesia dan tidak diberikan pelayanan di pelabuhan Indonesia. Laporan Akhir II - 144
145 Gambar 2.9. Izin Kapal Asing Dengan Pemberitahuan Keagenan Kapal Asing (PKKA) Gambar Izin Kapal Asing Dengan Dispensasi Syarat Bendera (DSB). Laporan Akhir II - 145
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan beserta studi literatur terhadap ke-10 kriteria yang dibahas dalam studi ini, maka selanjutnya diuraikan mengenai hasil analisis
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: PP 70-1996 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 127, 2001 Perhubungan.Pelabuhan.Otonomi Daerah.Pemerintah Daerah.Tarif Pelayanan. (Penjelasan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan
RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,
Menimbang RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN, : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2009 tentang Kepelabuhanan telah diatur ketentuan
PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN LAMONGAN
SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN LAMONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAMONGAN, Menimbang : a.
2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan L
No.394, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Terminal Khusus. Terminal untuk Kepentingan Sendiri. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 20 TAHUN 2017 TENTANG
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Kriteria Pelabuhan yang Dapat Diusahakan Secara Komersial dan Non Komersial a. Kriteria Pelabuhan yang Dapat Diusahakan Secara Komersial 1) Memiliki fasilitas
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, telah diatur
Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan
Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 70 TAHUN 1996 (70/1996) Tanggal : 4 DESEMBER 1996 (JAKARTA) Sumber : LN 1996/107; TLN PRESIDEN
TATANAN KEPELABUHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 MENTERI PERHUBUNGAN,
TATANAN KEPELABUHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan, dalam
2016, No kepelabuhanan, perlu dilakukan penyempurnaan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan L
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1867, 2016 KEMENHUB. Pelabuhan Laut. Penyelenggaraan. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 146 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PM 51 TAHUN 2015 TENT ANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PM 51 TAHUN 2015 TENT ANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON
LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR : 45 TAHUN : 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN DI KOTA CILEGON DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CILEGON,
PERATURAN PEMERINTAH R.I. NOMOR 69 TAHUN 2001 TANGGAL 17 OKTOBER 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH R.I. NOMOR 69 TAHUN 2001 TANGGAL 17 OKTOBER 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN UMUM Pelabuhan sebagai salah satu unsur dalam penyelenggaraan pelayaran memiliki peranan yang sangat penting
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 1999 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 1999 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa angkutan di perairan selain mempunyai peranan yang strategis dalam
RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN
RANCANGAN KRITERIA KLASIFIKASI PELAYANAN PELABUHAN LAMPIRAN 1 i DAFTAR ISI 1. Ruang Lingkup 2. Acuan 3. Istilah dan Definisi 4. Persyaratan 4.1. Kriteria dan Variabel Penilaian Pelabuhan 4.2. Pengelompokan
Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KETAPANG dan BUPATI KETAPANG MEMUTUSKAN :
1 BUPATI KETAPANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KETAPANG NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN KEPELABUHANAN, ANGKUTAN SUNGAI, DAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BUPATI BANGKA TENGAH
BUPATI BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang : a. bahwa
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 1999 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 1999 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa angkutan di perairan selain mempunyai peranan yang strategis dalam
BUPATI ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang BUPATI ALOR, : a. bahwa pelabuhan mempunyai peran
PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 10 TAHUN 2007 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN INDRAMAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 10 TAHUN 2007 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN INDRAMAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 84 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN LINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM. 84 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN LINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, Membaca : 1. surat
KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM
KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM NOMOR: KP 99 TAHUN 2017 NOMOR: 156/SPJ/KA/l 1/2017 TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan
PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI BERDASARKAN SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL
PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI BERDASARKAN SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL http://images.hukumonline.com I. PENDAHULUAN Laut adalah ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan
LEMBARAN DAERAH K E P E L A B U H A N A N KABUPATEN CILACAP NOMOR 26 TAHUN 2003 SERI D NOMOR 21
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 26 TAHUN 2003 SERI D NOMOR 21 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 1 TAHUN 2003 TENTANG K E P E L A B U H A N A N DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CILACAP,
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1523, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Angkutan Laut. Penyelenggaraan. Pengusahaan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 93 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
Pesawat Polonia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara maritim sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia, tidak bisa dibantah bahwa pelabuhan menjadi cukup penting dalam membantu peningkatan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1046, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Kebandarudaraan. Nasional. Tatanan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM 69 TAHUN 2013 TENTANG TATANAN KEBANDARUDARAAN NASIONAL
PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG KEPELABUHANAN DI KOTA PANGKALPINANG
PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 09 TAHUN 2005 TENTANG KEPELABUHANAN DI KOTA PANGKALPINANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PANGKALPINANG, Menimbang : a.
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 9 TAHUN 2004 KEPELABUHANAN DAN IZIN KEPELABUHANAN
SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 9 TAHUN 2004 TENTANG KEPELABUHANAN DAN IZIN KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan
PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP DIREKTORAT PELABUHAN PERIKANAN PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN SYAHBANDAR DI PELABUHAN PERIKANAN Memiliki kompetensi
KRITERIA HIERARKI PELABUHAN
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT DIREKTORAT DAN PENGERUKAN HIERARKI BATAM, 26 JANUARI 2012 BERDASARKAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 TENTANG TATANAN KEAN
RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA LOKASI PELABUHAN UTAMA HUB INTERNASIONAL
PENETAPAN KRITERIA LOKASI PELABUHAN UTAMA HUB INTERNASIONAL LAMPIRAN 3 i DAFTAR ISI 1. Ruang Lingkup 2. Acuan 3. Istilah dan Definisi 4. Persyaratan 4.1. Persyaratan Utama 4.2. Bobot setiap aspek Kriteria
BAB I PENDAHULUAN. serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Pelabuhan merupakan tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu
2012, No.71 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Kebandarudaraan adalah segala sesuatu yang berkaita
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2012 LINGKUNGAN HIDUP. Bandar Udara. Pembangunan. Pelestarian. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5295) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 104 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN PENYEBERANGAN
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 104 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1879, 2014 KEMENHUB. Pelabuhan. Terminal. Khusus. Kepentingan Sendiri. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 73 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1298, 2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pelabuhan Tegal. Jawa Tengah. Rencana Induk. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 89 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
2 Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Lemb
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.216, 2015 KEMENHUB. Penyelenggara Pelabuhan. Pelabuhan. Komersial. Peningkatan Fungsi. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 23 TAHUN 2015 TENTANG
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 24 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pelabuhan merupakan sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Perkembangan pelabuhan
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 52 Tahun 2004 TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG LALU LINTAS ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG LALU LINTAS ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARITO SELATAN, Menimbang : a. bahwa
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1522,2013 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Pelabuhan Makassar. Sulawesi Selatan. Rencana Induk. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 92 TAHUN 2013 TENTANG
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002 Tentang PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. Bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan telah
PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN BELITUNG
PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG KEPELABUHANAN DI KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG, Menimbang : a. bahwa
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN
PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG T E R M I N A L DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDOl\IESIA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDOl\IESIA PERATURAN MENTER! PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 146 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR PM 51 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN
KEBIJAKAN PEMANFAATAN PELABUHAN PERIKANAN
KEBIJAKAN PEMANFAATAN PELABUHAN PERIKANAN DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 28 APRIL 2015 NAMA DOSEN BAGIAN : : THOMAS NUGROHO, S.Pi,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanakan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan
PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 14 TAHUN 2004 TENTANG KEPELABUHANAN KOTA BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,
PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 14 TAHUN 2004 TENTANG KEPELABUHANAN KOTA BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menunjang pelaksanaan
BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Perusahaan PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero) selanjutnya disingkat Pelindo IV merupakan bagian dari transformasi sebuah perusahaan yang dimiliki pemerintah,
RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA LOKASI PELABUHAN PENGUMPAN REGIONAL
PENETAPAN KRITERIA LOKASI PELABUHAN PENGUMPAN REGIONAL LAMPIRAN 6 i DAFTAR ISI 1. Ruang Lingkup 2. Acuan 3. Istilah dan Definisi 4. Persyaratan 4.1. Persyaratan Utama 4.2. Bobot Aspek-Aspek Kriteria Pelabuhan
FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL;
FUNGSI PELABUHAN P P NOMOR 69 TAHUN 2001 SIMPUL DALAM JARINGAN TRANSPORTASI; PINTU GERBANG KEGIATAN PEREKONOMIAN DAERAH, NASIONAL DAN INTERNASIONAL; TEMPAT KEGIATAN ALIH MODA TRANSPORTASI; PENUNJANG KEGIATAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN [LN 2008/64, TLN 4846]
UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN [LN 2008/64, TLN 4846] BAB XIX KETENTUAN PIDANA Pasal 284 Setiap orang yang mengoperasikan kapal asing untuk mengangkut penumpang dan/atau barang antarpulau
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA
MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan mengenai pengerukan dan reklamasi sebagaimana diatur dalam Pasal 102 dan Pasal 107 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun
G U B E R N U R L A M P U N G
G U B E R N U R L A M P U N G KEPUTUSAN GUBERNUR LAMPUNG NOMOR 36 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHAN DI PROPINSI LAMPUNG GUBERNUR LAMPUNG, : Menimbang : a. Bahwa sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
1 of 23 08/07/2009 22:34 Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum Dan HAM Teks tidak dalam format asli. Kembali mencabut: PP 71-1996 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 128,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa transportasi mempunyai peranan penting dalam
PROFILE PELABUHAN PARIWISATA TANAH AMPO
PROFILE PELABUHAN PARIWISATA TANAH AMPO 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Terminal Kapal Pesiar Tanah Ampo Kabupaten Karangasem dengan sebutan "Pearl from East Bali" merupakan tujuan wisata ketiga setelah
PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 104 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN PENYEBERANGAN
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 104 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN PENYEBERANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 276, 2015 KEMENHUB. Penumpang. Angkatan Laut. Pelayanan. Standar. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 37 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR PELAYANAN
Studi Master Plan Pelabuhan Bungkutoko di Kendari KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Buku Laporan ini disusun oleh Konsultan PT. Kreasi Pola Utama untuk pekerjaan Studi Penyusunan Master Plan Pelabuhan Bungkutoko di Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Laporan ini adalah
2016, No Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran N
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.413, 2016 KEMENHUB. Penumpang dan Angkutan Penyeberangan. Daftar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 25 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR
Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut.
Badan Litbang Perhubungan telah menyusun kegiatan penelitian yang dibiayai dari anggaran pembangunan tahun 2010 sebagai berikut. A. KEGIATAN POKOK 1. Studi Besar a. Sektoral/Sekretariat 1) Studi Kelayakan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Standar Pelayanan Berdasarkan PM 37 Tahun 2015 Standar Pelayanan Minimum adalah suatu tolak ukur minimal yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa transportasi mempunyai peranan
BERITA NEGARA. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Kepelabuhan. Perikanan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
No.440, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Kepelabuhan. Perikanan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2012 TENTANG
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2012 TENTANG KEPELABUHANAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Menimbang PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2012 TENTANG KEPELABUHANAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
4 PERUMUSAN KRITERIA INTERNATIONAL HUB PORT. Definisi dan Persyaratan Hub Port
43 4 PERUMUSAN KRITERIA INTERNATIONAL HUB PORT Definisi dan Persyaratan Hub Port Berdasarkan undang-undang nomor 17 tahun 2008 mengenai pelayaran pasal 72 ayat 2, pelabuhan laut secara hierarki terbagi
GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2017 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN REMBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 69 TAHUN 2017 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN REMBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
PERATURAN MENTER. PERHUBUNGAN NOMOR: KM 11 TAHUN 2010 TENTANG TATANAN KEBANDARUDARAAN NASIONAL
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBUK INDONESIA PERATURAN MENTER. PERHUBUNGAN NOMOR: KM 11 TAHUN 2010 TENTANG TATANAN KEBANDARUDARAAN NASIONAL Menimbang: a. bahwa dalam Pasal 200 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 66 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERHUBUNGAN, INFORMASI DAN KOMUNIKASI PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang
BAB 5 ANALISIS DAN EVALUASI
BAB 5 ANALISIS DAN EVALUASI Kriteria ini memberikan ketentuan ukuran sebagai dasar penilaian atau penetapan sepuluh Rancangan Kriteria di Bidang Transportasi Laut, yaitu : (i) Kriteria Klasifikasi Pelayanan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1983 TENTANG PEMBINAAN KEPELABUHANAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1983 TENTANG PEMBINAAN KEPELABUHANAN Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menunjang perekonomian nasional, Peraturan Pemerintah
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa transportasi mempunyai peranan penting dan strategis
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. METODE PENGUMPULAN DATA 1. Kebutuhan Data Sekunder Inventarisasi data sekunder, meliputi aspek-aspek transportasi laut dalam bentuk peraturan-peraturan seperti Undang-undang,Peraturan
PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PENYEBERANGAN SINABANG KABUPATEN SIMEULUE
PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PENYEBERANGAN SINABANG KABUPATEN SIMEULUE DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa berdasarkan
MANAJEMEN PELABUHAN DAN REALISASI EKSPOR IMPOR
MANAJEMEN PELABUHAN DAN REALISASI EKSPOR IMPOR ADMINISTRATOR PELABUHAN Oleh : Mochammad Agus Afrianto (115020200111056) JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA Administrator
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,
PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pasal 41 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace dicabut: UU 17-2008 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 98, 1992 (PERHUBUNGAN. Laut. Prasarana. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik
- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG
- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN BANDAR UDARA ABDULRACHMAN SALEH MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR
